Sebelumnya:
Dalam perjalanan pulang, Naruto dan Issei melewati taman dan tanpa sengaja menemukan Shirō yang sedang menghadapi makhluk aneh. Diserang oleh makhluk aneh lainnya, Naruto mengeluarkan kekuatan misterius dan mengalahkan makhluk itu. Setelah itu, Shirō membawa mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Millennium
Chapter 2
Uzumaki Naruto dan Hyōdō Issei duduk dengan gugup di dalam ruang kepala sekolah di Akademi Tenma. Beberapa menit yang lalu, sahabat mereka Emiya Shirō membawa mereka ke sini agar mereka mendapatkan penjelasan mengenai apa yang mereka lihat di taman.
Ngomong-ngomong, Naruto telah mendapatkan pengobatan sebelum mendatangi ruang kepala sekolah. Naruto juga mendapatkan ceramah dan pukulan dari suster sekolah mereka, Senju Tsunade.
Pintu ruang kepala sekolah dan masuklah Shirō diikuti kepala sekolah Sarutobi Hiruzen, dan wakilnya Sirzech Gremory. Perasaan gugup Issei meningkat karena ini pertama kalinya dia berhadapan langsung dengan kepala sekolah.
Ternyata Naruto telah mengenal Hiruzen sejak lama, namun tetap saja dia menjadi gugup karena akan mendengar sesuatu yang tidak pernah diketahuinya tentang pria tua yang dianggapnya sebagai kakek.
Hiruzen duduk di kursi kepala sekolah dan menatap kedua siswa yang duduk di sofa.
"Naruto-kun, Hyōdō-kun, aku mendengar dari Emiya-kun bahwa kalian berdua… terlibat dalam suatu kejadian malam ini. Aku tahu kalian memiliki pertanyaan, jadi katakan saja padaku apa yang ingin kalian tanyakan."
Naruto dan Issei saling pandang sebelum Naruto berbicara.
"Jii-chan, tolong jelaskan pada kami semuanya."
"Kau ingin mendengar semuanya? Biar kuperingatkan bahwa apa yang akan kalian dengarkan tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Selain itu, jika kalian mengetahui tentang ini maka itu berarti kalian akan terlibat dalam sesuatu seperti ini selamanya."
Naruto dan Issei meneguk ludah mereka, "Kami siap menerima risikonya, jii-chan" balas Naruto.
Hiruzen mengangguk mengerti dan kemudian menjelaskan kepada mereka berdua apa yang harus mereka ketahui.
"Ehem, aku akan memulainya dari awal. Semuanya dimulai hampir seribu tahun yang lalu ketika dunia berada di tengah kekacauan. Pada saat itu, eksistensi yang mengaku diri mereka sebagai dewa menghukum manusia dengan berbagai malapetaka. Tidak diketahui apa yang tepatnya terjadi dalam masa kekacauan itu, namun manusia sangat menderita. Setelah kekacauan berakhir, manusia yang terlahir setelah peristiwa itu memiliki semacam kekuatan super."
"Bagaimana bisa manusia terlahir dengan kekuatan super? Apakah ini ada hubungannya dengan kekacauan yang disebabkan para dewa?"
"Itu masih menjadi misteri sampai sekarang. Masalah berdatangan ketika manusia memiliki kekuatan super. Mereka selalu diperalat dan diperbudak demi kepentingan orang lain dan bahkan juga ditakuti. Oleh karena itu, mereka yang memiliki kekuatan super bersembunyi dan catatan tentang mereka dihapus dari sejarah. Kita, manusia yang memiliki kekuatan super, masih bersembunyi sampai sekarang."
Hiruzen mengangkat satu tangannya dan secara mengejutkan, tangannya berubah menjadi tangan kera.
"Masing-masing manusia memiliki satu kekuatan super, namun ada beberapa yang langka yang dapat memiliki lebih dari satu kekuatan. Dalam suatu kasus, orang-orang yang sedarah akan memiliki kekuatan yang mirip. Kekuatanku disebut Monkey Transformation, Sirzech-san memiliki Power of Destruction, dan Emiya-kun memiliki Object Replication."
Hiruzen mengubah kembali tangannya menjadi normal lalu meniup pipa asapnya. Issei mengangkat tangannya.
"K-Kōchō, aku ingin tahu makhluk apa yang menyerang kami di taman."
"Apa yang kau lihat adalah dark spirit."
"Dark spirit?"
"Ada suatu eksitensis yang disebut spirit. Spirit adalah makhluk misterius yang diciptakan oleh para dewa untuk melindungi manusia sejak awal jaman. Mereka memiliki rupa yang berbeda-beda, ada yang menyerupai manusia, ada yang menyerupai hewan, ada yang menyerupai benda mati, dan masih banyak lagi. Bahkan para dewa yang dulu disembah manusia, termasuk dewa yang mengakibatkan malapetaka dahulu kala, mereka semua juga adalah spirits, lebih tepatnya mereka disebut divine spirits."
"Lalu apa itu dark spirit?"
"Mereka adalah spirit yang telah berubah menjadi buruk. Awalnya semua spirit ada untuk melindungi dunia, kecuali untuk divine spirit yang memiliki kewajiban untuk menuntun dan menghukum. Dark spirit melakukan yang sebaliknya, mereka hanya membawa kejahatan. Keberadaan mereka menjadi suatu ancaman kepada manusia."
"Biar kutebak, kalian membasmi mereka?"
"Ya, itu adalah tugas dan kewajiban kami sebagai pelindung manusia dari dark spirit. Kau bisa menyebut kami sebagai organisasi yang beranggotakan orang-orang berkekuatan super. Organisasi ini telah dibentuk sejak Perang Dunia Kedua karena keterlibatan dark spirits. Setiap negara di seluruh dunia memiliki cabang organisasi kami dan pusatnya berlokasi di Vatikan. Sekolah ini, Akademi Tenma, adalah markas utama untuk cabang Jepang."
"J-Jadi selama ini kami bersekolah di markas dari organisasi yang penuh dengan orang-orang berkekuatan super? Wow!"
Issei menunjukkan kekagumannya dengan mata yang berbintang-bintang. Di sampingnya, Naruto hanya bisa sweatdrop namun dia tidak bisa menyangkal bahwa dia juga terkejut dan kagum pada sekolah tersebut.
Hiruzen tersenyum melihat tingkah siswanya, lalu dia lanjut berbicara.
"Ehem, ada yang harus kalian ketahui lagi. Pada saat aku menugaskan Emiya-kun untuk melenyapkan dark spirits, ada suatu penghalang yang diciptakan di sekitar taman untuk mencegah orang-orang masuk ke dalamnya. Namun untuk suatu alasan, kalian berdua dapat melewati penghalang itu dan masuk ke dalam taman. Biasanya mereka yang berhasil melewati penghalang tersebut bukan orang biasa, melainkan orang yang memiliki kekuatan super."
"Ah, benar juga. Saat menghadapi makhluk itu, ada semacam cahaya aneh yang muncul di tanganku. Apakah itu adalah kekuatan superku?"
"Menurut penjelasan Emiya-kun, kau menciptakan sebuah pedang dari cahaya berwarna-warni yang menyerupi aurora. Aku yakin 99 persen bahwa itu adalah sebuah kekuatan super. Hanya saja ini adalah pertama kalinya aku melihat kekuatan yang seperti itu. Ada banyak kekuatan yang mirip seperti manipulasi energi dan manipulasi cahaya, namun aku tidak tahu pasti yang mana kekuatanmu. Apakah kau bisa menunjukkan kepadaku kekuatan super itu?"
"Umm, entahlah. Kekuatan itu muncul secara tiba-tiba jadi aku tidak terlalu mengerti."
"Tidak apa-apa, Naruto-kun. Jika kau mau, kau bisa meminta salah satu dari kami untuk melatihmu menggunakan kekuatanmu. Bukan hanya Naruto-kun, tapi juga Hyōdō-kun."
Naruto dan Issei terkejut dengan tawaran Hiruzen. Siapa sangka mereka akan ditawarkan untuk berlatih menggunakan kekuatan super mereka. Issei lebih terkejut lagi karena fakta bahwa dia memiliki kekuatan super juga.
"Aku sudah mengatakannya, jika kalian mengetahi tentang semua ini maka kalian mengambil risiko untuk terlibat di dalamnya. Lagipula sejak awal, orang-orang yang memiliki kekuatan super seperti kalian tidak akan bisa mendapatkan kehidupan yang normal. Dark spirit selalu menyerang manusia, namun penelitian kami membuktikan bahwa mereka lebih tertarik kepada orang-orang seperti kita. Kalian berdua tidak akan bisa hidup normal lagi, akan ada saat di mana kalian harus menghadapi dark spirit lagi."
Naruto dan Issei hanya bisa diam setelah mendapatkan penjelasan dari Hiruzen. Keduanya berpikir bahwa apa yang dikatakan Hiruzen memang benar. Entah masalah apa yang akan menimpa mereka nanti.
Tanpa sengaja mereka telah bertemu dengan dark spirit, siapa tahu hal yang sama akan terjadi lagi.
"Tapi aku tidak tahu kekuatan apa yang kumiliki."
"Kau tidak perlu khawatir, Hyōdō-kun. Tidak semua orang yang memulai latihan mereka mengetahui kekuatan yang mereka miliki. Bahkan teman kalian ini, Emiya-kun, tidak tahu apa-apa sama sekali ketika memulai latihannya."
Naruto dan Issei menatap sahabat mereka sambil memberikan seringaian. Shirō mendecih pelan namun wajahnya memerah malu.
"Jadi, apakah kalian ingin melakukannya?"
"Umm, kurasa tidak ada salahnya melatih kekuatanku, dengan begitu aku tidak perlu khawatir lagi jika makhluk itu menyerangku lagi."
"A-Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi jika Naruto akan melakukannya, kurasa aku akan melakukannya juga."
Hiruzen tersenyum senang mendengar jawaban mereka berdua. Kemudian dia mengalihkan padangannnya kepada Shirō.
"Emiya-kun."
"Y-Ya…?"
"Aku akan memberimu tugas baru. Kau akan melatih Naruto-kun dan Hyōdō-kun mulai dari sekarang."
"Mengapa harus aku?!"
"Kau adalah sahabat mereka, kau adalah orang yang paling cocok untuk melakukannya."
"T-Tapi aku tidak memiliki pengalaman menjadi guru."
"Aku tidak memintamu melatih mereka sebagai seorang guru. Aku memintamu melatih mereka sebagai seorang sahabat."
Mau tidak mau, Shirō harus menerima harus tugas barunya yaitu melatih kedua sahabatnya bagaimana cara menggunakan kekuatan super yang mereka miliki. Malam itu berakhir dengan tenang.
Pada pagi hari berikutnya, Shirō membawa Naruto dan Issei ke gunung untuk melatih mereka sesuai dengan perintah kepala sekolah. Masih belum mengetahui apa yang harus dilakukan untuk melatih mereka, Shirō menyuruh mereka untuk melakukan pemanasan.
Dia sendiri menjadi bingung apakah pemanasan memang diperlukan, tapi biarkan saja. Naruto dan Issei melakukan jogging, push-up, sit-up, back-up-
"Sudahlah! Mau sampai kapan pemanasannya?!"
Issei memberikan protesnya karena sudah terlalu lelah, dia tidak tahu apakah masih bisa melanjutkan latihannya. Naruto memiliki banyak stamina, namun dia setuju dengan Issei karena rasa tidak sabarnya.
Shirō menggaruk belakang kepalanya, "Maaf, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Jadi, kurasa cukup saja untuk pagi ini."
"Itu saja! Kita jauh-jauh datang ke sini hanya untuk itu saja?!"
Bisa dikatakan bahwa Issei sangat kecewa. Naruto memasang ekspresi tidak senang. Sedangkan Shirō selaku pelatih mereka hanya bisa meminta maaf.
Pagi hari selanjutnya, mereka bertiga pergi ke gunung lagi. Beruntung hari ini adalah hari sabtu, mereka bisa berlatih sampai siang ataupun sore. Itupun jika Issei masih memiliki cukup stamina untuk melanjutkannya.
Sama seperti sebelumnya, Shirō membuat Naruto dan Issei melakukan pemanasan sebelum memberi mereka latihan yang sebenarnya.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
Naruto bertanya setelah pemanasan, Issei terbaring di sebelahnya karena lelah.
"Aku ingat latihan macam apa yang dulu diberikan kepadaku, tapi kemarin aku tidak terlalu mengerti cara kerjanya. Biasanya sebelum ada latihan untuk mengendalikan kekuatan super, kita harus mencaritahu terlebih dahulu kekuatan super itu."
"Bukankah itu sudah jelas? Kita sudah tahu kekuatan yang kumiliki, tapi kita belum tahu apa yang Issei miliki."
"Memang benar kau telah mengetahui kekuatanmu. Masalahnya adalah apakah kau bisa mengeluarkan kekuatan itu atau tidak. Sejauh yang kuketahui, kau mengeluarkan kekuatan itu secara tidak sengaja dan kau sendiri bilang kau tidak tahu cara melakukannya. Intinya, kita bukan hanya mencaritahu kekuatan yang kalian miliki, tapi juga membuat kalian tahu cara mengeluarkannya."
"Jadi, apakah kau tahu cara membuat kekuatan kami keluar?"
"Bukan aku yang akan membuat kekuatan kalian keluar, tapi kalian sendiri yang harus mengeluarkannya. Pertama, kita akan bermeditasi."
"M-Meditasi?"
"Naruto, aku tahu kau bukan orang yang tenang, begitupun juga dengan Issei. Namun ini adalah cara yang terbaik untuk melakukannya."
"Ugh…."
Setelah itu, Naruto dan Issei terpaksa bermeditasi. Shirō yang menginginkan ketenangan juga ikut bermeditasi bersama mereka.
Baru satu menit berlalu, Naruto telah membuka sebelah matanya dan mengintip ke samping. Dia melihat Shirō yang serius bermeditasi. Kemudian pandangan Naruto bertemu dengan pandangan Issei yang juga sedang mengintip.
Keduanya kembali melirik Shirō yang masih menutup matanya. Merasa bersalah karena tidak menganggap serius latihan mereka, Naruto dan Issei melanjutkan meditasi mereka.
Di saat bersamaan, Shirō membuka matanya dan mengintip kedua sahabatnya. Di dalam hatinya, di terkejut karena Naruto dan Issei masih bermeditasi. Dia langsung merasa bodoh karena telah meragukan mereka.
'Mereka bermeditasi dengan serius sementara aku dengan berani mengintip mereka. Sebagai seorang guru, aku juga harus menganggap serius latihan ini. Maafkan aku, Issei, Naruto.'
Sepuluh menit kemudian, Naruto dan Shirō dikejutkan oleh teriakan Issei.
"Aku tidak bisa melakukan ini!"
Issei berdiri sambil berteriak ke langit, entah apakah teriakan itu bisa mencapai surga atau tidak. Mengikuti Issei, Naruto juga berdiri dan menggeram kesal. Shirō sudah menduga mereka berdua tidak akan bisa melakukan meditasi.
"Apakah tidak ada cara lain?"
"Aku tidak tahu cara selain ini. Karena ini satu-satunya yang diajarkan kepadaku agar aku bisa mengeluarkan kekuatanku."
Shirō menjawab pertanyaan Naruto dengan gelengan kepala. Dia memutar otaknya selama beberapa saat untuk mencari ide, namun pada akhirnya dia tidak menemukan apapun. Secara terpaksa mereka bertiga harus melanjutkan meditasi.
Setelah satu jam, mereka memutuskan untuk menghentikan meditasi tersebut. Jika mereka melanjutkannya lagi, bisa saja mereka akan menjadi biksu.
Latihan pada hari kedua berakhir tanpa membuahkan hasil apapun, itu jika fakta bahwa Naruto dan Issei hampir menjadi biksu tidak dihitung.
Kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melatih teman-temannya, Shirō menemui Hiruzen untuk meminta nasihat. Sarutobi Hiruzen yang dikenal dengan sebuatan "Professor" pasti memiliki ide, itulah yang dipikirkan Shirō.
Shirō mendengar, sebutan "Professor" itu diberikan kepada Hiruzen karena dia adalah orang paling jenius di Jepang dan menguasai kekuatan supernya sehingga dia satu tingkat di bawah divine spirit.
"Sebenarnya, Emiya-kun. Aku dikenal dengan sebutan itu karena dulunya aku adalah seorang profesor di sebuah universitas. Karena itulah, semua orang mengenalku dengan sebutan itu."
"Tunggu, itu adalah alasannya?!"
"Tentu saja bukan, aku hanya bercanda saja. Jadi, kau ingin aku memberimu nasihat untuk melatih Naruto-kun dan Hyōdō-kun?"
"Ya, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk melatih mereka. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya agar mereka dapat mengeluarkan kekuatan mereka. Awalnya aku membuat mereka melakukan meditasi, tapi itu tidak berhasil."
"Aku sudah menduga Naruto-kun dan Hyōdō-kun tidak akan bisa melakukan itu. Ada beberapa metode untuk membuat seseorang mengeluarkan kekuatan super, namun hampir semua itu memerlukan proses yang sangat lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Aku ingin mereka dapat menggunakan kekuatan super mereka secepat mungkin."
"Jadi, apakah ada cara yang bagus?"
"Meditasi adalah metode yang paling umum, namun ini bergantung pada masing-masing orang. Ada orang yang dapat mengeluarkan kekuatan supernya hanya dengan meditasi selama sejam, ada yang membutuhkan sehari, dan ada yang sampai berminggu-minggu. Ini adalah metode yang paling kuno, namun juga paling efektif. Jika Naruto-kun dan Hyōdō-kun tidak bisa melakukannya, maka kita harus mencoba metode yang lain. Harus kuingatkan kepadamu bahwa meskipun metode ini sangat cepat, ini juga berbahaya."
"Apapun itu, aku akan menanggung risikonya."
Hiruzen pun memberitahu Shirō metode macam apa yang dipikirkannya.
Pada hari ketiga, Shirō membawa Naruto dan Issei ke gunung lagi. Dan kali ini, Shirō telah bertekad keras untuk melatih kedua temannya. Dia akan mengikuti nasihat yang diberikan kepala sekolah.
Seperti biasa, Shirō menyuruh Naruto dan Issei untuk melakukan pemanasan. Entah mengapa pemanasan kali ini lebih berat daripada kemarin sehingga Naruto dan Issei lebih kelelahan dari sebelumnya.
"Tolong katakan kita tidak akan melakukan meditasi lagi."
"Tidak ada meditasi hari ini."
Jawaban Shirō terhadap pertanyaan Naruto membuat Naruto dan Issei senang.
Mau dibuat bagaimanapun juga, meditasi tidak cocok untuk mereka berdua. Naruto tidak tahu bahwa di dunia lain, dia adalah seorang ninja yang bermeditasi untuk mengumpulkan energi alam, tapi itu tidak ada hubungannya dengan cerita ini.
[Trace On]
Shirō mengeluarkan dua pedang kembar yang pendek, yang satu berwarna hitam dan yang satunya lagi berwarna putih. Ini adalah dua pedang yang biasa yang digunakannya untuk bertarung.
"Kuperkenalkan kepada kalian, nama kedua pedang ini adalah Kanshō dan Bakuya, juga dikenal dengan sebutan asalnya: Gān Jiàng dan Mò Yé. Ini bukan pedang yang sama yang dibuat saat zaman musim semi dan gugur di Tiongkok, ini hanya sebuah replika yang kubuat sendiri."
"Kau bisa membuat sebuah pedang?" tanya Issei yang terkejut.
"Bukan begitu. Kalian berdua telah mendengarnya dari Sarutobi-kōchō, nama dari kemampuanku adalah Object Replication. Dengan kemampuan ini, aku bisa membuat ulang sebuah objek, mulai dari bentuknya, substansinya, kelebihannya, kekurangannya, dan sejarahnya."
"Sejarahnya?" tanya Naruto kali ini.
"Sebagai contoh, jika seseorang membuat replika sebuah pedang dari pedang yang pernah ada sebelumnya, ada kemungkinan kedua pedang itu berbeda. Bayangkan saja pedang yang asli telah digunakan sering kali sehingga penggunanya telah terbiasa dengan pedang itu dan mungkin saja sudah berkarat. Berbeda dengan replikanya, meskipun itu baru, belum tentu penggunanya akan terbiasa dengan replika tersebut. Jika aku menggunakan Object Replication, aku bisa meniru sejarah dari pedang yang asli. Dengan begitu, pengguna pedang yang asli itu akan terbiasa dengan replika yang kubuat sehingga dia berpikir itu adalah pedang yang sama."
"Aku tidak terlalu mengerti, tapi itu kemampuan yang hebat" ucap Naruto yang kagum.
"Ini tidak terlalu hebat setelah kau mengetahui kelemahannya. Aku tidak bisa meniru semua sejarah yang dimiliki sebuah objek, karena aku harus mengamati objek tersebut terlebih dahulu. Kemudian aku harus mengumpulkan informasi mengenai objek tersebut dan hanya bisa membuatnya dengan informasi yang telah kukumpulkan. Dengan kata lain, semua objek yang kubuat tidak sebaik yang aslinya."
"Tolong jangan jelaskan sesuatu yang tidak kumengerti."
"Baiklah, kita akan memulai latihan hari ini. Aku sudah tahu bagaimana cara untuk membuat kalian mengeluarkan kekuatan super kalian."
"Benarkah?"
Naruto dan Issei menjadi bersemangat karena mereka berdua akhirnya bisa mengeluarkan kekuatan mereka. Sayangnya, semangat yang mereka miliki itu akan menghilang beberapa saat lagi.
"Cara ini tidak akan mudah."
"Cara macam-"
Issei tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena dia dikejutkan oleh Shirō yang berlari ke arahnya dan mengayunkan salah satu pedangnya. Issei dengan panik mundur selangkah sebelum duduk terjatuh ke belakang karena tendangan dari Shirō.
"Hei, apa yang kaulakukan?!"
"Aku sedang melatih kalian."
Shirō menjawab dengan dingin sebelum menoleh ke arah Naruto yang menatapnya dengan tidak percaya. Anak berambut merah pendek itu juga maju untuk menyerang Naruto. Tentu saja Naruto menghindar, namun dia tidak bisa mengikuti kecepatan Shirō yang di atas rata-rata.
Satu ayunan pedang Shirō membuat goresan pada punggung Naruto. Kemudian, Shirō melayangkan tendangan, namun Naruto segera menangkis tendangan itu dengan lengannya. Shirō melompat mundur ke belakang.
"Kenapa kau ini, Shirō?!"
"Sudah kubilang... aku sedang melatih kalian."
Mengatakan itu, Shirō menyerang Naruto lagi.
Naruto mungkin belum bisa mengeluarkan kekuatan supernya, namun dia sering berkelahi. Dia tidak mempelajari seni bela diri apapun, jadi kemampuan bertarung tangan kosongnya adalah kemampuan yang dibangun dari semua perkelahian yang dialaminya.
Shirō mengetahui itu, jadi dia tidak terkejut karena Naruto tampaknya dapat bertarung melawannya yang merupakan seorang pemiliki kekuatan super yang ahli. Yang tidak menguntungkan bagi Naruto adalah dia tidak memiliki senjata seperti Shirō.
Pada akhirnya, Naruto tidak bisa bertahan lama dan dijatuhkan oleh Shirō dengan luka sayatan di lengannya.
"Apa ini yang kau sebut latihan?!" seru Issei dari jauh.
"Ini adalah satu-satunya cara yang bisa kugunakan."
Shirō melanjutkan dengan menusuk sisi perut Naruto, namun Naruto memegang pergelangan tangannya. Kemudian Shirō memukul wajah Naruto berkali-kali, sementara Naruto berusaha menangkis dengan tangannya yang lain.
Issei yang marah berlari ke arah Shirō untuk menyerangnya. Shirō bereaksi dengan memukul temannya dengan keras sehingga Issei terjatuh lagi ke tanah.
Waktu berjalan cukup lama, Shirō berdiri dengan sedikit kelelahan. Naruto berlutut dengan satu kakinya. Issei adalah satu-satunya yang tidak bisa bertarung lagi karena dia sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Sepertinya aku harus benar-benar mencoba membunuh kalian."
"Apa kau sudah gila?!"
"Percayalah, Naruto. Ini satu-satunya cara."
Shirō menghadap ke arah Naruto dengan kuda-kuda bertarung. Dia akan menyerang sahabatnya sekali lagi.
"Satu-satunya cara?"
Naruto menggertakkan giginya. Dia sangat marah sekarang. Apakah yang Shirō maksud adalah dia akan memaksa mereka mengeluarkan kekuatan mereka dengan cara percobaan membunuh? Itulah yang Naruto pikirkan.
Shirō berlari maju dan menyerang Naruto lagi. Meskipun Naruto berusaha bertahan, dia tidak bisa mengimbangi kecepatan dan gaya bertarung Shirō. Di tengah pertarungan, Naruto menatap mata Shirō.
'Dia… tidak benar-benar ingin membunuhku.'
Naruto bisa melihat itu dari mata Shirō. Mereka adalah sahabat, jadi Naruto bisa mengetahuinya.
'Aku mengerti. Shirō, kau… kau berusaha untuk melakukan yang terbaik agar kami bisa menjadi lebih kuat. Kau bahkan tidak serius ingin membunuh kami.'
Naruto menghindari setiap serangan yang diberikan Shirō. Tapi dia gagal menghindari tendangan yang dilayangkan ke perutnya. Naruto mundur sambil memegang perutnya.
'Tapi melihatmu yang masih menahan diri. Aku… tidak bisa menerimanya! Aku merasa sangat lemah. Kalau seperti ini, maka kau akan selalu melindungiku!'
Shirō berlari ke arahnya dan siap melancarkan serangan selanjutnya.
'Karena itulah, aku akan menunjukkan padamu….'
Ketika Shirō mengayunkan salah satu pedangnya ke arah Naruto, Naruto tidak menghindar sama sekali. Shirō terkejut karena dia berpikir Naruto akan menghindarinya lagi, tapi dia bertambah terkejut ketika cahaya warna-warni membentuk sebuah pedang di tangan Naruto.
"Aku tidak akan kalah!"
Pedang Shirō ditangkis oleh pedang besar yang terbuat dari cahaya warna-warni. Karena pedang Naruto itu lebih besar dan ayunannya lebih kuat, Shirō terpaksa melompat mundur.
Sebuah senyuman terukir di wajah Shirō, "Akhirnya" gumamnya.
Waktu berlalu cukup lama, Naruto dan Shirō saling bertukar serangan. Pertarungan mereka yang cukup lama itu membuat keduanya kelelahan. Issei menyaksikan mereka sejak tadi dari jauh, merasa tidak bisa melakukan apapun.
Nafas Naruto memburu, tubuhnya berbasahkan keringat, dan kepalanya sedikit pusing. Dia memiliki luka sayatan di beberapa bagian tubuh.
Shirō tampak lelah jika dilihat dari tubuhnya berkeringat. Tapi Naruto tahu bahwa sahabatnya –entah apakah dia masih bisa menyebutnya begitu- tidak selelah dirinya ataupun Issei. Berbeda dengan mereka, Shirō tidak memiliki satupun luka.
"Aku tahu kau bisa melakukannya, Naruto."
"Heh, tentu saja aku bisa melakukannya."
Naruto tidak bisa bertarung lebih lama lagi, tapi Shirō masih bisa melakukannya. Memang benar Naruto memiliki stamina melebihi Shirō. Sayang sekali Naruto tidak pernah menggunakan pedang barat untuk bertarung dan dia tidak secepat Shirō.
Pengalaman Shirō yang telah menggunakan kekuatan super selama bertahun-tahun membuatnya unggul. Namun Naruto mengesankan karena bisa bertahan melawannya sampai sekarang.
Saat keduanya masih belum mengambil langkah untuk menyerang, orang yang sejak tadi pingsan akhirnya bangun. Hyōdō Issei bangun dan melihat kedua sahabatnya. Dia melihat Naruto yang sedang terluka dan langsung mengingat apa yang terjadi sebelum kehilangan kesadaran.
"Shirō, aku akan menghajarmu setelah semua ini berakhir!"
"Itu tidak mungkin, karena aku akan membunuhmu di sini."
Tampaknya Issei belum menyadari Shirō hanya berpura-pura. Jadi Shirō akan terus seperti itu agar Issei bisa mengeluarkan kekuatannya.
"Kalau begitu aku menghentikanmu dari membunuhku. Bagaimanapun juga, kau adalah temanku."
Issei menyatakan keinginannya, membuat Shirō terkejut. Naruto menyeringai kecil, dia tidak akan mengatakan kebenarannya kepada Issei. Naruto memutuskan untuk berpura-pura juga.
"Issei benar. Aku tidak tahu mengapa kau melakukan ini, tapi sebagai temanmu aku akan menghentikanmu juga."
"Teman, huh?"
Tubuh Shirō berguncang, wajahnya menunduk, Naruto dan Issei bisa mendengar suara tawa berasal darinya. Kemudian tawa kecil itu berubah menjadi besar. Shirō tertawa layaknya seorang karakter antagonis dalam sebuah cerita.
"Aku tidak pernah menganggap kalian sebagai seorang teman! Apakah kalian ingin tahu mengapa aku ingin membunuh kalian? Karena... kalian itu lemah!"
"Apa kau bilang?"
Issei menatapnya dengan tajam.
"Kau mendengarnya sendiri! Kalian berdua terlalu lemah! Mana mungkin aku ingin berteman dengan seorang pembuat masalah dan orang mesum yang tidak tahu malu! Sejujurnya, aku telah memendam perasaan ini sejak pertama kali kita bertemu... aku membenci kalian berdua."
Issei menggertakkan giginya, dia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Kalian berdua terlalu lemah."
"Hentikan..."
"Aku sangat membenci kalian, orang-orang bodoh."
"Jangan katakan..."
"Kalian tidak pernah menjadi temanku."
"Diamlah, brengsek!"
Cahaya bersinar dan tiba-tiba muncul sesuatu yang tidak diduga sama sekali. Di depan Issei, berdiri sesosok manusia, namun dia tidak benar-benar manusia.
Wujudnya adalah manusia yang menyerupai burung. Tubuhnya berwarna emas, wajahnya berwarna putih, kedua kakinya seperti kaki elang, mulutnya digantikan paruh elang dan ada sepasang sayap berbulu merah di punggungnya. Dia mengenakan sebuah makota emas.
'Perasaan ini... itu adalah spirit!' batin Shirō yang terkejut.
Naruto, Issei, dan Shirō menatap spirit itu dengan melongo. Spirit itu berbalik dan menghadap Issei. Secara mengejutkan, dia membungkukkan badannya kepada Issei. Kemudian dia berbicara dengan sopan.
"Namaku adalah Garuda, aku datang untuk menjawab panggilanmu."
"Eh?"
"Katakan padaku, siapakah musuhmu?"
"Eh?"
"Aku akan melenyapkan siapapun yang kau anggap sebagai musuhmu."
"Eeeeehhh?!"
Issei syok saat Garuda berbicara kepadanya. Dilihat dari manapun juga, makhluk di depannya ini menganggapnya sebagai orang yang telah memanggilnya. Sayangnya Issei masih belum bisa memahami hal tersebut.
Naruto dan Shirō menatap dengan syok juga. Namun mereka langsung menjadi waspada ketika Garuda menegakkan tubuh dan menatap balik ke arah mereka berdua.
"Apakah orang-orang ini adalah musuhmu? Aku akan menghancurkan mereka!"
Garuda mengepakkan sayapnya dan menatap Naruto dan Shirō. Sedangkan kedua orang yang ditatap menelan ludah mereka. Issei yang akhirnya memahami apa yang terjadi dan segera menghentikan makhluk itu.
"Tunggu dulu! Tolong jelaskan padaku bagaimana bisa aku memanggilmu?!"
"Tentu saja, sang pemanggil. Kau adalah salah satu orang yang memiliki kekuatan super, apa aku benar? Kekuatan yang kau miliki itu langka dan orang terakhir yang berhasil melakukan sesuatu seperti ini tidak ada lagi. Kau bisa memanggil bangsaku untuk melayanimu. Dalam kasus ini, kau berhasil memanggilku."
"A-Ah, begitu rupanya." Issei mengangguk mengerti.
"Jadi apakah keinginanmu, sang pemanggil?"
"B-Bisakah kau panggil aku Issei? Aku tidak nyaman dipanggil dengan sebuatan itu."
"Jika itu adalah keinginanmu, maka mulai dari saat ini juga aku akan memanggilmu dengan namamu."
"Terima kasih!"
Pada akhirnya, Shirō menjelaskan pada Naruto dan Issei bahwa dia berpura-pura ingin membunuh mereka agar mereka bisa mengeluarkan kekuatan super yang mereka miliki.
"Sialan kau, Shirō! Aku benar-benar berpikir aku akan mati!" seru Issei dengan wajah memerah.
"Itu artinya aku pandai berakting" balas Shirō.
"Tapi aku merasa lucu saat melihat Issei. Dia sangat dramatis saat bereaksi pada kata-katamu" ucap Naruto.
"Hei, apa maksudnya itu?!"
"Ah, benar juga. Kau bilang kau akan menghentikanku karena kau adalah temanku. Jika aku jadi kau, aku akan merasa malu."
"Teman macam apa kalian berdua ini?!"
Setelah latihan berakhir, mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Latihan hari itu berakhir dengan hasil yang memuaskan.
Sebelum pulang, Shirō pergi menemui Hiruzen untuk melaporkan hasil latihan hari ini. Kepala Akademi Tenma itu tersenyum puas sambil mengangguk-angguk.
"Kekuatan Hyōdō-kun sangat langka, orang terakhir yang aku tahu dapat melakukan itu sudah mati. Spirit Summoning, kemampuan untuk memanggil spirit di manapun dan kapanpun. Tapi kekuatan yang Naruto-kun miliki… aku belum pernah mendengarnya sama sekali."
"Menurutmu itu adalah kekuatan super yang baru?"
"Sepertinya begitu. Besok, bawa Naruto-kun ke sini agar aku bisa melihatnya dengan mataku sendiri."
"Akan kulakukan."
Shirō membungkuk kepada Hiruzen sebelum meninggalkan ruangan kepala sekolah. Hiruzen melihat ke luar jendelanya dan tersenyum masam.
'Naruto-kun… mulai dari hari ini, kau tidak akan bisa hidup seperti biasa lagi. Tapi aku senang kau memiliki teman-temanmu yang akan selalu membantumu. Aku takut, aku tidak akan bisa menjagamu lagi.'
To Be Continue
Superpower
Uzumaki Naruto: ?
Hyōdō Issei: Spirit Summoning (Garuda)
Emiya Shirō: Object Replication (Kanshō dan Byakuya)
Sirzech Gremory: Power of Destruction
Sarutobi Hiruzen: Monkey Transformation
Penjelasan Superpower
Monkey Transformation: Pengguna bisa mengubah tubuh atau bagian tubuhnya menjadi kera.
Object Replication: Pengguna bisa mereplika bentuk, substansi, kelebihan, kekurangan, dan sejarah sebuah objek.
Spirit Summoning: Pengguna bisa memanggil spirit.
Penjelasan Alat
Kanshō dan Byakuya: Sepasang pedang kembar yang ditempa saat zaman musim semi dan gugur di Tiongkok. Kanshō (Gān Jiàng) adalah pedang hitam dan Byakuya (Mò Yé) adalah pedang putih. Ditempa oleh penempa bernama Gān Jiàng setelah pengorbanan isterinya, Mò Yé. Emiya Shirō dapat mereplika mereka.
Penjelasan Spirit
Garuda: Makhluk menyerupai burung yang berasal dari mitologi Hindu dan Buddha. Hyōdō Issei dapat memanggilnya.
Itu dia sudah selesai chapter ini. Terima kasih bagi readers yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Ngomong-ngomong, ada beberapa kemampuan yang saya pinjam dari canon tapi ada beberapa perubahan agar disesuaikan dengan cerita.
Kekuatan super Shirō mirip dengan yang di canon yaitu Projection atau sebutan uniknya Tracing, tapi saya ubah namanya supaya mudah dimengerti menjadi Object Replication. Garuda bukan OC, saya ambil karakter ini dari seri Shin Megami Tensei, Persona, dan Devil Survivor.
See you next time!
