#2 - Karamatsu
(Wajah)
Karamatsu Matsuno, anak kedua dari enam bersaudara ini dikenal sebagai orang yang menyakitkan.
Memakai kacamata hitam di malam hari, memiliki kaus dengan gambar wajahnya, suka mengucap kata-kata bagai pemain lakon.
Oh, juga hobinya memegang cermin dan menatap bayangannya. Terkadang Karamatsu melatih kata-katanya sambil bercermin, terkadang berpose macam-macam, dan terkadang hanya tersenyum dalam diam.
Kakak maupun adik-adiknya sudah tidak lagi menghiraukan hobinya yang satu itu. Kalau Karamatsu memegang cermin, mereka paling-paling hanya mendengus dan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
Karamatsu meraih cermin dari lemarinya, menghela napas sebentar, lalu mendudukkan dirinya di sofa. Kedua matanya kini menatap bayangan yang ada di dalam cermin itu.
Ia melirik Choromatsu, yang sedang membaca majalah tak jauh darinya, kemudian kembali mengalihkan pandangan ke cerminnya.
Ia menatap wajah si pembawa berita di televisi, kemudian wajah Osomatsu yang sedang menonton, dan kembali ke cermin di hadapannya.
Karamatsu masih tidak mengerti.
Mengapa semua terlihat sama?
Dari dulu ia memandang cermin, memandang wajahnya, memandang wajah teman sekelasnya, memandang orang yang lalu lalang di jalan. Semua sama.
Mengapa ia tidak dapat mengenali wajah orang lain?
Dia kira hal ini hanya mimpi, dan suatu saat ketika ia kembali menatap cermin itu, semua akan terlihat berbeda.
Namun hari ini pun sama.
Semua wajah masih sama di matanya.
(Alasan dia menatap cermin setiap hari hanyalah untuk berharap bahwa mungkin, mungkin saja, dia dapat membedakan wajahnya dengan wajah orang lain. Namun sepertinya harapan itu tidak datang-datang, tidak jadi kenyataan.)
a/n: kalau ada yang bingung, di sini maksudnya Karamatsu menderita prospagnosia atau buta wajah, jadi dia tidak bisa membedakan wajah-wajah orang lain maupun dirinya sendiri.
