Satu jam lebih empat puluh lima menit.
Dan Baekhyun terlihat masih enggan untuk menyudahi kegiatan berbersih diri. Tak henti ia menggosok kuat sekujur tubuhnya hingga kemerahan, justru memperparah bercak-bercak merah yang tadinya ingin ia hilangkan.
Berulang kali sang ibu memanggilnya dari luar pintu agar ia cepat keluar, namun Baekhyun mengindahkannya. Bahkan ia berencana untuk membersihkan diri seharian, atau mungkin seminggu hingga ia merasa tubuhnya sudah benar-benar bersih. Bagi Baekhyun, sabun merk paling berkualitas pun tak mampu membersihkan tubuhnya. Ia merasa begitu 'kotor', bukan dalam artian sebenarnya.
"Chanyeol...chanyeol..ngghh"
Plak!
Baekhyun menepuk belahan bibirnya sendiri. "Dasar mulut sialan!" gerutunya ketika teringat kejadian memalukan tadi malam. Sambil terus berceloteh, ia melanjutkan kembali menyabuni tubuhnya, yang entah sudah kesekian kali ia lakukan.
"Dadaku...perutku...sudah tidak suci lagi huweee..." Baekhyun mendramatisir ketika mendapati bercak-bercak merah yang sedikit lebih banyak di area pucuk dadanya dan di dekat pusarnya. Lalu disaat jemarinya yang penuh busa semakin bergerak ke bawah, Baekhyun menangis sejadi-jadinya.
Sambil terisak Baekhyun memukuli kedua pahanya, yang semalam telah lancang mengapit erat sebuah kepala di tengahnya. Mungkin bukan hanya pahanya saja yang bereaksi di luar akal sehatnya, karena faktanya mulai dari mulut hingga ujung kakinya serempak mengkhianati akal sehat Baekhyun, dan membiarkan sosok makhluk jadian-jadian itu menandai setiap inci tubuhnya semalam.
Chanyeol hanya menggunakan lidah dan jemarinya saja, Baekhyun sudah menggelepar seperti ikan. Bagaimana dengan sesuatu yang lebih besar?
Ah, sayang sekali lelaki itu tiba-tiba menghilang begitu saja ketika Baekhyun bahkan sudah membuka lebar kedua pahanya.
Plak!
Lagi-lagi Baekhyun memukul kepalanya sendiri sebelum pikirannya meliar lebih lanjut. Demi apapun Baekhyun adalah si anak polos yang baru berumur 16 tahun, tidak pernah melakukan onani, hanya pernah menonton film dewasa satu kali, itu juga karena dipaksa oleh temannya. Bahkan ketika mendapat mimpi basah untuk pertama kalinya, Baekhyun meraung-raung pada ibunya di pagi hari.
Entah apa yang terjadi pada tubuhnya semalam. Entah karena iblis sialan itu telah menyhir dirinya, atau memang hormon remajanya yang bergejolak menggebu-gebu. Yang jelas saat ini Baekhyun telah bersikukuh tidak akan keluar dari kamar mandi sampai-
"BYUN BAEKHYUN! CEPAT KELUAR ATAU MONGRYONG MENJADI SANTAPAN PAGIMU!"
Well...Baekhyun masih sayang pada anjingnya omong-omong.
.
.
.
Myungie & Byun Jaehyunee Proudly Present
...
Amor Vincit omnia
...
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Kasper
.
.
.
Pada dasarnya, Baekhyun memang seorang anak manis, menuruti apa yang diperintahkan oleh orang tuanya dan memiliki prestasi yang membanggakan di sekolah. Nilai-nilai ujian yang ia dapatkan di setiap mata pelajaran selalu menempati posisi teratas, hingga membuatnya mendapat kesempatan untuk mengikuti kelas percepatan di SMA.
Semasa hidupnya, lelaki manis ini tidak pernah sekalipun terlibat urusan percintaan. Ia cukup tahu diri akan parasnya yang manis dan bentuk tubuhnya yang mungil, yang mungkin tidak akan disukai oleh para wanita pada umumnya.
Namun pada suatu hari, ketika Baekhyun baru saja resmi berstatus sebagai siswa SMA, saat itulah pertama kalinya ia memiliki perasaan kagum pada seseorang. Seorang lelaki tepatnya.
Sialnya...sosok itulah yang membuat segala kejadian naas ini bermula.
Di penghujung bulan yang lalu, saat itu, Baekhyun baru saja berhasil membujuk penjaga sekolahnya untuk membuka kembali gerbang untuknya. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari menuju lorong kelasnya, mengingat sesaat lagi ujian praktek seni akan segera dimulai. Hanya tinggal 10 langkah lagi Baekhyun akan mencapai pintu kelasnya, sampai pada langkah ketiga-
"Permisi?"
-suara yang terdengar tak asing baginya, membuat langkahnya terhenti dan membalik tubuhnya kemudian.
"Siswa kelas tiga 'kan?"
Entah karena sinar matahari yang sedang terik-teriknya atau ia yang terlalu berlebihan, tapi sungguh demi apapun, lelaki di depannya ini benar-benar bersinar terang di matanya. Bahkan saking silaunya, Baekhyun tak lagi melihat kehadiran seorang guru yang telah masuk ke dalam kelasnya.
Lelaki itu mendekat satu langkah pada Baekhyun, dengan mengulas sebuah senyuman ramah. "Aku Kim Tae Woo, atau mungkin biasanya mereka memanggilku Kasper. Aku satu tingkat diatasmu dulu, kau ingat aku?"
Tentu saja!
Rasanya Baekhyun ingin meneriaki itu kuat-kuat. Mana mungkin ia melupakan kakak kelas yang telah dipujanya diam-diam sejak ia masuk SMA dulu.
"I-iya s-sunbae, aku ingat. A-ada perlu apa sunbae kemari? Eh-mm-maksudku...aish bodohnya akuu..." Baekhyun merutuki dirinya yang terdengar nampak ingin tahu. Ia merunduk malu, berharap bisa mengubur dirinya dalam lantai yang sedang ia pijak. Berbicara dengan benar saja ia tidak sanggup.
Bagaikan alunan dari surga, seperti itulah Baekhyun menganggap kekehan geli yang sedang didengarnya saat ini. Ia mengangkat wajahnya kembali, disambut oleh usakan lembut di kepalanya. "Kau ini lucu sekali sih Baek. Tidak berubah seperti dulu" Kasper mencubit gemas pipi Baekhyun.
Pipinya yang dicubit, tapi justru hatinya yang berdenyut panas.
Tidak berubah seperti dulu. Apakah itu artinya seniornya ini pernah memperhatikan dirinya dulu? Dan..jika tidak salah...apakah ia baru saja menyebut namanya?!
Saat SMA dulu Kasper termasuk murid populer di sekolah. Ia memiliki bakat yang baik dalam bidang seni, terutama dalam hal menari. Tak jarang ia mengikuti berbagai perlombaan menari, dan selalu berhasil membawa pulang piala yang berjejer di lemari sekolah.
Meski ia sering disibukkan dengan perlombaan, nyatanya nilai ujiannya selalu berakhir sangat memuaskan. Itulah yang membuat sosok Kasper disayangi oleh para guru dan memiliki banyak sekali teman di sekitarnya. Tentunya tidak ketinggalan, para pemujanya yang bergerombol di sekitarnya seperti kumpulan lalat.
Maka tidak heran ketika mendapati Kasper mengetahui namanya, Baekhyun serasa ingin terbang ke langit ketujuh. Sebab di masa sekolah dulu, jangan harap bisa mengobrol berdua dengannya, Kasper tahu Baekhyun hidup di muka bumi saja sudah bagus.
"Umm..Baek. Bisa kau temani aku ke ruang guru? Banyak ruangan yang dipindah sejak sekolah direnovasi, dan aku tidak punya waktu jika mencarinya sendiri" pinta Kasper sambil mengusap asal surai hitamnya. Tampan sekali, pikir Baekhyun. "Ehm tapi kalau kau tidak bisa, aku akan mencari sen-"
"Bisa! Aku bisa! Emm..m-maksudku aku bisa mengantarkan sunbae" cicit Baekhyun malu-malu dan lagi-lagi merundukkan wajahnya yang memerah matang. Sama seperti sebelumnya, Kasper terkekeh geli melihat tingkah Baekhyun. Namun kali ini bukan usapan di rambutnya yang diterima Baekhyun.
Melainkan genggaman erat di jemarinya.
Baekhyun mematung, tak mampu membantah dan membiarkan dirinya ditarik begitu saja oleh Kasper. Dalam hati ia bersumpah, pulang sekolah nanti tidak akan mencuci tangan kanannya.
"Baek, sepertinya aku butuh bantuanmu sekali lagi" ucap Kasper ketika mereka telah tiba di ruang guru. Baekhyun sedikit mendongak, memandang penuh tanya pada lelaki itu "Ya sunbae? Katakan saja" tanya Baekhyun. Kasper menoleh, menyeringai dengan satu alisnya yang terangkat.
"Bagaimana dengan makan siang bersamaku?"
Oh.
Seseorang tolong sadarkan Baekhyun saat ini.
...
Benar adanya, ketika pepatah mengatakan kesedihan akan datang setelah kebahagiaan. Sebab itulah yang sedang terjadi pada Baekhyun saat ini.
Acara makan siangnya dengan Kasper gagal, lalu ia diceramahi gurunya habis-habisan, melewatkan ujian praktiknya, tidak boleh pulang cepat, dan yang lebih mengenaskan...Baekhyun tidak bisa melihat Kasper yang sedang melakukan pengenalan universitas di kelasnya.
Baekhyun menghela nafas putus asa. Setidaknya ia masih diizinkan untuk mengikuti ujian susulan, meski karena alasan itu ia harus pulang sampai sore dan melewatkan kehadiran Kasper di kelasnya tadi.
Suasana sekolah sudah nampak lengang ketika Baekhyun baru saja menyelesaikan ujian susulannya di ruang guru. Dalam langkahnya menuju gerbang sekolah, mau tak mau Baekhyun harus melewati ruang kelasnya. Bibirnya mengerucut kesal, membayangkan betapa beruntungnya teman-teman sekelasnya tadi bisa bercengkerama dengan Kasper selama dua jam penuh.
Mengingat itu membuat ia mengacak-acak surainya kesal, dan melampiaskan emosinya dengan menendang-nendang kotak sampah di dekatnya. Namun naas...nampaknya Baekhyun tidak melihat genangan air dibalik kotak tersebut dan-
Brukk!
-bokong Baekhyun mendapat ciuman panas dari lantai sekolahnya.
Ia menggeram dengan mata berkaca-kaca, memukuli lantai sembari menatap nyalang ke arah langit. "Aarghh Sial! Apa lagi yang akan terjadi hah?! Hujan badai? Petir? Aku siap-"
Dhuarr!
Sudah jatuh, hampir tersambar petir.
Baekhyun terisak sejadi-jadinya, mengalahkan suara gelegar halilintar dan derasnya hujan yang sedang membasahi bumi sore ini. Ia menarik kakinya menempel dada, kemudian menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan yang bertumpu di dengkulnya.
Seiring berjalannya waktu, Baekhyun mulai merenung untuk meratapi nasib naasnya hari ini. Dimulai dari pagi hari ketika ia nyaris diusir oleh penjaga gerbang, sampai pada ponselnya yang mati dan tidak bisa menghubungi supirnya untuk menjemputnya pulang saat ini.
Tapi setidaknya, dari semua kesialan yang menimpanya...ada satu hal yang tak'kan Baekhyun sesali.
Ketika untuk pertama kalinya ia berkesempatan untuk berbicara dengan Kasper, meski itu terjadi hanya dalam waktu yang singkat saja.
Ah. Kasper. Mengingat lelaki itu membuat sudut bibirnya perlahan mulai terangkat. Baekhyun sedang asik-asiknya mengulas kembali memorinya dengan Kasper, ketika tiba-tiba dirasanya sebuah tepukan lembut di pucuk kepalanya. Ia mengangkat wajahnya untuk mendongak, dan langsung disambut usapan halus di kedua matanya, menghapus air mata yang siap menggenangi pipinya
"Ada apa hum? Mahasiswa itu harus kuat dan tidak boleh banyak menangis lho" ucap lelaki yang sejak tadi mengawang di pikiran Baekhyun, masih sambil mengusap pipi gembilnya. Sementara si mungil mendengus kesal, tidak jadi terpesona atas tindakan gentle kakak kelasnya ini.
"Aku masih siswa SMA! Dan memangnya ada yang salah dengan menangis?" Ucap Baekhyun tidak terima.
Kasper hanya terkekeh sebagai jawaban, kemudian berjongkok di depan Baekhyun. " Jangan marah begitu, ayo pulang! Atau mau kugendong sampai parkiran?" Ia tersenyum geli, sedang Baekhyun mulai bangkit dengan bibirnya yang mengerucut. Si mungil jalan terlebih dulu menuju parkiran, meninggalkan lelaki tampan yang sedang tersenyum lebar di belakangnya.
"Motorku terpakir sebelah sini omong-omong" sahut Kasper dari kejauhan.
Sial. Baekhyun menghentakkan kakinya kesal, mengumpati dirinya dalam hati sebelum memutar tubuhnya. Dengan wajah merunduk ia melangkah menuju tempat dimana motor lelaki itu terparkir, bersama sang pemilik yang sudah menunggunya dengan seringai angkuhnya.
"Apa lagi?!" Ketus Baekhyun ketika si tampan tidak kunjung menaiki motornya.
"Lihat mataku kalau sedang bicara" sentak Kasper dingin, membuat Baekhyun lantas segera mendongakkan kepalanya. Sesaat keduanya saling bertukar pandang, sampai jemari Kasper terangkat menahan dagu Baekhyun disaat pandangan si manis ingin berpaling.
"Ada apa lagi sunbaee~~?" Baekhyun sedikit merengek dengan bibir menjebik. Masa bodoh dengan 'image'nya yang mungkin terlihat kekanakkan di mata Kasper. Baekhyun hanya ingin cepat pulang dan menulis di buku diarynya.
"Kau ingin pulang 'kan?" Baekhyun mengangguk cepat sebagai jawaban. Kasper tertawa pelan, sembari mencubit kedua pipi Baekhyun. "Tersenyum dulu dan kita langsung pulang" tawar Kasper, dengan sebelah alisnya yang terangkat menantang Baekhyun. Ketika dilihatnya samar-samar Baekhyun mulai menarik sudut bibirnya, Kasper pun menghadiahinya usakan di kepala si mungil.
...
Hening mendominasi keduanya ketika dalam perjalanan. Belum ada suara yang terdengar, selain helaan nafas dari kedua insan yang sibuk dengan fikirannya masing-masing.
"Baek." Kasper akhirnya memulai pembicaraan. Karena suara kendaraan yang cukup ramai di jalanan, sedikit malu Baekhyun mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ya sunbae" jawabnya.
"Kemana kau akan melanjutkan study mu? Kau tidak ada saat aku mempromosikan universitasku tadi"
Itu karena kau bodoh! batin Baekhyun.
"Ah, itu..tadi aku ketinggalan ujian, jadi harus mengikuti ujian susulan di ruang guru hehe" sangkal Baekhyun, lalu bernafas lega melihat Kasper mengangguk paham. "Mengenai perkuliahan, aku masih belum tahu ingin meneruskan kemana. Memangnya kalau sunbae mengambil jurusan apa? Siapa tahu aku tertarik"
Bohong. Padahal baru saja dua hari yang lalu Baekhyun merengek pada ibunya agar diizinkan kuliah di jurusan sastra.
"Sejarah."
Baekhyun mengernyit dalam. "Huh? Kenapa? Aku kira sunbae memilih jurusan seni untuk melanjutkan bakat menarimu" tanyanya heboh, membuat Kasper terkekeh mendengarnya. Ia menurunkan laju kecepatan motornya, dan sedikit membawa punggungnya mundur ke belakang.
"Sejarah itu penuh misteri, dan aku suka itu. Menceritakan bagaimana kehidupan berasal dan hitam putih kehidupan lampau, tanpa bisa sepenuhnya kita yakini kebenarannya. Tapi lebih dari itu...karena sejarah kita bisa merefleksikan kehidupan lalu, agar apa yang telah terjadi dulu...tidak akan terulang kemudian"
Baekhyun termangu, dan sedikit tergugah akan penjelasan Kasper. Haruskah ia mendaftar di jurusan yang sama?
Terlalu larut dalam pikirannya, Baekhyun tak sadar bahwa motor yang ia tumpangi sudah berhenti di depan pagar rumahnya. "Kita sudah sampai Baek." ucap Kasper, membuyarkan Baekhyun dari lamunannya.
Si mungil ini segera turun dari motor, memberikan helm yang ia pakai pada pemiliknya. "Emh..Terima kasih sunbae" cicit Baekhyun sambil melirik Kasper malu-malu.
Kasper hanya tersenyum santai, kemudian menghidupkan kembali mesin motornya. Sebelum ia melajukan motornya, Kasper membuka kaca helmnya sejenak.
"Kutunggu kau memakai almamater yang sama denganku Baek!"
Baekhyun lantas langsung berlari ke dalam rumahnya, mencari keberadaan sang ibu. Dengan usaha merajuk dan mengancam tidak mau makan seharian...
Baekhyun pun diizinkan untuk mengubah jurusan yang ia inginkan.
...
Terhitung sudah sebulan semenjak Baekhyun terakhir kali bertemu Kasper saat itu. Hari-hari Baekhyun kini disibukkan dengan belajar tiap harinya, untuk mempersiapkan seleksi ujian masuk universitas negeri. Sejak sebulan lalu, ia sudah menetapkan untuk memilih jurusan sejarah di Korea University, universitas dan jurusan yang sama pula dengan kakak kelas tampannya.
Besok adalah hari dimana ujiannya akan berlangsung, dan hari ini Baekhyun berencana untuk mengunjungi calon universitasnya untuk melihat lokasi tempat duduknya besok. Sejak pagi ia sibuk mematut diri pada cermin, ingin memaksimalkan penampilannya untuk berjaga-jaga jika bertemu sang pujaan hati di kampusnya.
Pukul sebelas siang, Baekhyun sudah tiba di lokasi tujuan dengan diantar oleh sang supir. Suasana cukup ramai di pelataran kampus, mengingat banyaknya siswa seperti dirinya yang ingin melihat ruangan tempat ujian. Baekhyun melanjutkan langkahnya, menuju gedung jurusan yang dipilihnya.
Gaya bangunan kuno segera memasuki pandangan Baekhyun ketika ia sampai di tempat yang dituju. Berbeda dengan suasana di depan tadi, di dalam sini tidaklah terlalu ramai. Hanya tampak berberapa siswa saja yang mencari ruangan seperti dirinya, dan sisanya didominasi oleh para mahasiswa yang mendiami di setiap sisi bangunan.
Entah mengapa Baekhyun memiliki suatu firasat, hingga membuatnya mulai merapikan penampilannya. Dan seperti mendapat hujan emas, tidak lama Baekhyun berjalan, sosok pujaan hatinya nampak sedang bercengkerama bersama teman-temannya tak jauh dari posisi Baekhyun berdiri.
Oh. Bukan hujan emas, nampaknya durian runtuh lebih tepat untuknya saat ini.
Ketika samar-samar terlihat seorang gadis cantik sedang bersender nyaman di pundak kakak kelas kesayangannya, dengan tangan lentiknya yang mengalung indah di lengan Kasper.
Langkah Baekhyun terhenti begitu saja melihatnya. Ia sudah bertekad akan menghampiri kedua orang di depannya, disaat Kasper terlebih dulu melihat dirinya dan setengah berlari menghampiri Baekhyun.
"Baekhyun? Kau benar-benar memilih ilmu sejarah?" tanya Kasper bersemangat namun sedikit tak percaya.
Baekhyun mengangguk singkat, kemudian mengedikkan bahunya. "Entahlah...sepertinya minatku hilang begitu saja" ucapnya ketus, mengacuhkan kernyitan bingung dari lelaki di depannya. Diam-diam Baekhyun melirik sosok gadis tadi, yang ternyata sedang melihat ke arahnya juga, memberikan senyuman ramah nan manis.
Sial sekali, pikirnya.
Tak mau berlama-lama disini, Baekhyun perlahan melangkah mundur, berniat meninggalkan Kasper. "Kurasa aku harus mencari ruangan ujianku. Permisi sunbae" pamit Baekhyun, kemudian memutar tubuhnya untuk melanjutkan perjalanannya.
"T-tunggu Baek!" panggil Kasper tiba-tiba, menghentikan Baekhyun yang baru menapak 5 langkah. Baekhyun hanya menoleh, tidak sepenuhnya memutar tubuhnya. "Ada apa?" jawabnya masih terkesan ketus.
Kasper menggelengkan kepala melihat sikap Baekhyun, namun memilih untuk tak ambil pusing. "Semoga berhasil untuk besok, dan..."
"Dan?" tanya Baekhyun tak sabaran.
Kasper menoleh ke belakang sesaat, sepertinya melirik si gadis yang bersamanya tadi. Ketika ia kembali membawa pandangannya pada Baekhyun, senyuman hangat serta tatapan dalam ditunjukkan padanya untuk si mungil.
"...dan gadis itu bukan kekasihku Baek..."
Baekhyun tersentak, tak menyangka Kasper begitu peka akan apa yang ia rasakan. Terlalu malu akan itu, Baekhyun pun memutuskan lari secepat mungkin meninggalkan Kasper yang terkekeh geli di belakang sana.
Setelah 5 menit berlari tanpa tujuan, Baekhyun yang hampir kehabisan pasokan udara pun menghentikan langkahnya. Sambil menetralkan deru nafasnya, Baekhyun mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Dan saat itulah ia yakin bahwa ia sudah berlari terlalu jauh, hingga akhirnya terdampar di bagian terujung dari area jurusan ini.
Baekhyun celingak celinguk kesana kemari, mencari seseorang untuk ditanyai mengenai arah jalan keluar. Namun nihil...tidak satupun makhluk hidup yang terlihat disini. Ia pun meneruskan langkahnya, hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu berukuran megah, karena tidak ada jalan lagi setelahnya.
Jemari lentiknya mengetuk pelan pintu itu, nyatanya lantas membuat pintu itu terbuka lebar. Adalah deretan lemari-lemari buku yang tersusun rapi di dalam ruangan itu, dan Baekhyun menebak ruangan yang sedang ia masuki ini adalah perpustakaan.
Sedikit takut Baekhyun menapaki langkahnya, karena demi apapun suasana disini begitu lengang tanpa adanya satupun tanda-tanda kehidulan, ditambah lagi kondisi penerangannya yang cukup remang.
Kertas karton berwarna biru yang ditempel pada whiteboard di dekat Baekhyun, membuat ia berhenti sejenak dan tertarik untuk membaca tulisan yang tertera di sana.
Arkeolog kembali berhasil menerjemahkan dua teks Yunani Kuno yang ditulis pada daun papirus. Teks tersebut berisikan mantra kuno untuk memanggil dewa-dewi dan dipakai sebagai permohonan untuk mendapatkan cinta dan kekuasaan.
Untuk penjelasan lebih jelas dan bentuk salinan teksnya, dapat dilihat pada bagian Sejarah Yunani.
Hah. Terdengar konyol di masa modern seperti ini, pikirnya. Baekhyun mendengus pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala, kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Puluhan lemari buku yang menjulang tinggi, kini tepat berada di hadapan Baekhyun. Berbagai deretan buku satu-persatu t'lah ia lewati, mulai dari Sejarah Korea, Kebudaayan dan Seni, Roma, Mesir Kuno, Yunani Kuno, dan...tunggu sebentar. Entah mengapa tulisan di kertas karton tadi tiba-tiba terngiang di kepala Baekhyun. Hingga tidak disadarinya, bahwa tungkai mungilnya kini telah memasuki deretan buku-buku sejarah tentang Yunani Kuno.
Mata sipitnya tengah menyusuri deretan buku-buku tersebut, mencari salinan teks seperti yang dijelaskan di karton biru tadi. Baekhyun bersumpah ia hanya penasaran akan bentuknya, bukan karena mantra cinta yang tertera di dalamnya. Tapi...tidak ada salahnya mencoba membacanya bukan? Baekhyun pun terkikik geli atas pemikirannya sendiri.
Menit demi menit telah terlewati, namun Baekhyun tak kunjung menemukan apapun. Langkahnya kini telah sampai di deretan buku 'Mitologi Yunani', yang merupakan lemari buku terakhir dari bagian Yunani Kuno. Namun sampai di lemari terakhir pun, Baekhyun masih tidak menemukan apa yang dicarinya. Ia berdecak kesal, sebelum memutuskan untuk memutar kembali langkahnya menuju pintu keluar.
'Asal Usul Dewa-Dewi' , 'Kisah Hidup Dewa Zeus', dan berbagai buku mitologi lainnya tengah Baekhyun lewati saat ini. Sedikit banyak Baekhyun telah mempelajarinya, mengingat jurusan yang diambilnya berkaitan dengan hal-hal tersebut. Langkah Baekhyun terhenti begitu saja, tepat di depan salah satu buku Mitologi Yunani. Buku yang berjudul...
Bangkitnya Hathor dan Pandora.
Tetapi jika ditelisik lebih lanjut, bukan karena buku itu Baekhyun menghentikan langkahnya. Melainkan karena sebuah meja di dekat sudut lemari, tepatnya pada sebuah buku usang yang berada di atasnya.
Demi Tuhan. Baekhyun telah melewati meja itu dua kali, dan tidak pernah ada buku diatasnya sejak tadi.
Bukannya lari keluar perpustakaan, Baekhyun lantas melangkah mendekati meja tersebut. Ia mencoba berpikir positif, mungkin ada seseorang yang baru saja meletakkan buku itu disana, dan Baekhyun bisa bertanya pada orang itu tentang arah menuju pintu gerbang universitas. Ya...semoga saja.
"Permisi? Adakah orang disana? Pemilik buku ini mungkin, halo?" Baekhyun menyahut keras, namun tidak ada jawaban. Ia kemudian mengalihkan pandangannya, terfokus pada buku di depannya. Adalah sebuah buku usang, bersampul hitam pekat yang sudah tertutupi debu di setiap sisi.
Thanathos. Satu-satunya tulisan yang tertera di sampul buku tersebut. Baekhyun mengetahui tokoh dewa tersebut, yakni lambang kematian dalam damai, yang dicirikan oleh seorang pria tua berjanggut putih dengan paras bijaknya. Sedikit tertarik akan itu, Baekhyun mulai membuka lembaran buku tersebut.
Aksara-aksara Yunani kuno yang sulit dimengerti, menghiasi di setiap lembaran buku tersebut. Dengan pengetahuan ala kadar yang Baekhyun miliki, ia mencoba membaca kalimat-kalimat tersebut sebisanya.
"Thánatos tha sas dósei óles tis dipunya gia tin agápi tou. Dósei itu memberikan, laluagápi itu apa yah..hmm sepertinya.." Baekhyun berpikir keras, berusaha mengingat kosakata yang telah ia pelajari. " ...cinta? Jadi Thanathos memberikan cinta? Apakah buku ini yang dimaksud di katon biru tadi?" gumam Baekhyun, kembali teringat akan penemuan mantra cinta dan kekuasaan yang tadi sempat dibacanya.
Hal itu membuatnya semakin bersemangat membuka lembaran-lembaran berikutnya. Hingga atensinya kemudian tertarik pada satu halaman penuh yang tertulis aksara yunani. Entah firasat darimana, Baekhyun merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik rentetan panjang kalimat kuno tersebut. Maka atas dasar feeling yang mengetuk benaknya, Baekhyun pun mulai membacanya dengan lantang.
"Thanathos. Egó eímai o opoíos eínai i moíra gia séna. Egó eímai pou mou édose ti thysía sas. I, i opoía eínai paroúsa me ti morfí tou néou mou. Egó, o opoíos írthe gia na xekleidósete tin poiní sas. Se Zeuz Theó proséfchomai, afíste aftó to kleidí gia na anoíxei, as mazí, akóma kai an den ypárchei pléon i paliá mnímis eínai apothikevména se aftó. Dióti akómi kai an ta ekatommýria ton aiónon échei perásei, to níma tis moíras kaneís den boreí na válei éna télos se..."
Hening.
Pada menit kelima, Baekhyun benar-benar merasa konyol dan dibodohi. Tidak ada satupun perubahan yang terjadi ataupun keanehan yang menghampiri, ketika Baekhyun telah susah payah merapal mantra hingga bibirnya mengering.
Sambil menggumam kesal ia menutup kembali buku tersebut, dan saat itulah...seekor kupu-kupu hinggap di jemarinya. Lalu datang seekor kembali, dua ekor, disusul tiga ekor setelahnya, yang sama-sama berterbangan dari arah belakang. Merasa penasaran akan datangnya kupu-kupu tersebut, Baekhyun pun memutar tubuhnya ke belakang dan-
"Kau yang memanggil-"
"-WHAAAA!" Baekhyun terkejut bukan main, hingga membuatnya jatuh terduduk di lantai. Sambil mengaduh kesakitan, ia mendongakkan kepalanya, lalu menatap tajam pada sosok lelaki di depannya. "Siapa kau?! Mengagetkan saja huh!" ketus Baekhyun.
Diam-diam mata puppynya mencermati sosok di depannya dari atas ke bawah. Parasnya terbilang luar biasa tampan, meski berlawanan dengan jubah compang camping berwarna hitam yang melingkupi sekujur tubuhnya. Kulitnya putih bersih, bahkan cenderung terlalu pucat untuk seorang manusia. Maka sebab itu, Baekhyun bernafas lega ketika melihat kedua kaki lelaki itu menapak di lantai.
"Kau tidak tahu siapa diriku?" tanya lelaki itu dan Baekhyun mengedikkan bahunya sembari menggeleng yakin. Sosok berjubah hitam tersebut menggumam samar, kemudian menundukkan kepalanya sejajar dengan Baekhyun. "Aku adalah sesuatu yang tertera pada buku yang kau genggam" ucapnya sambil menunjuk pada buku usang tadi.
Baekhyun mengerjakan matanya bingung, lantas melihat kembali pada sampul bukunya. Ia terkekeh setelahnya dan memberikan pandangan meremehkan pada sosok lelaki di depannya.
"Ya..ya..kau Thanathos dan aku Pandora. Apakah kita sedang berlatih drama disini? Tapi kau kurang tua untuk peranmu itu, bung" sindir Baekhyun sambil mendengus kecil, melewatkan perubahan ekspresi pada lelaki itu ketika dirinya menyebut Pandora. Pria berjubah hitam itu menarik kembali tubuhnya menegak, geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Baekhyun.
"Dosa besarku memang belum terampuni, hingga Zeus menurunkan bocah bodoh seperti ini untuk membuka segelku. Sangat disayangkan" gumamnya pelan, namun masih dapat dengan jelas didengar oleh Baekhyun.
"Apa kau bilang?! Kau mengataiku bodoh?!" pekik Baekhyun tak terima. Si mungil ini berdiri dengan cepat, menatap nyalang pada lelaki yang sialnya begitu tinggi itu. "Dengar ya! Aku siswa terpintar di sekolahku dan satu-satunya yang bodoh disini adalah kau..kau...ASTAGA KAU BENAR-BENAR THANATHOS!" Baekhyun memekik dengan hebohnya,
Ketika lelaki di depannya telah merentangkan kedua sayap kokohnya, melayang tinggi dengan ribuan kupu-kupu hitam yang mengelilingi, sebagaimana menjadi ciri khas sosok Dewa Kematian tersebut.
Ia melayang lebih rendah kemudian, mendekati Baekhyun yang masih menganga melihat wujudnya. Jemarinya yang dingin terjulur mengapit dagu Baekhyun, mengunci pandangan antar keduanya. "Ingin bukti lebih lanjut? Bagaimana dengan ini?"
Sesaat Baekhyun tak benar memahami apa maksud ucapannya, sampai akhirnya ia merasakan kakinya tidak lagi menyentuh lantai perpustakaan. Dewa tampan itu tengah membawa tubuhnya melayang!
Melihat wajah Baekhyun yang memucat dan tubuhnya yang gemetar, memberikan kesenangan tersendiri bagi sang dewa. Hitung-hitung untuk memberi pelajaran pada si kecil atas sikap buruknya tadi. Tangan Thanathos merambat menuju pinggang Baekhyun, membawa lelaki itu melayang cepat menembus atap. Namun yang terjadi-
"Wohooooo! Lakukan lagi ayo lakukaaann! Ayolah dewa lebih tinggi lagi yaa hihihihi~~"
-Baekhyun memekik penuh kegirangan. Tampangnya kali ini tak ubahnya seperti bocah lima tahun yang diberikan hadiah seember es krim vanilla. Merasa gagal mengerjai si mungil, Thanathos lantas menurunkan keduanya di atap perpustakaan.
"Yaah! Kenapa berhenti? Ayolah..ayolahh sekali lagi saja ya ya ya ya?" bujuk Baekhyun, memasang tampang imutnya sebaik mungkin. Sesungguhnya Thanathos sama sekali tak terpengaruh akan itu, namun tiba-tiba ia mengangguk setuju, dengan niat busuk yang sudah tersusun di kepalanya.
"AAAAAAA!" Thanathos menyeringai puas, melihat lelaki mungil itu memekik ketakutan. Ia benar mengabulkan permintaan lelaki itu, namun membuatnya melayang dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Tidak sampai satu menit kemudian...
"Yeaay! Yuhuuuu! Menyenangkan sekali bisa melayang hahahaahaha" Baekhyun kembali memekik kegirangan. Kaki-kakinya menendang di udara, sambil melambai-lambai seperti orang bodoh pada si dewa. Melihat itu membuat Thanathos perlahan ikut tertawa dan menngembalikan posisi Baekhyun dengan benar.
"Sudah puas?" tanya Thanathos ketika Baekhyun telah menapak kembali di sampingnya. Si mungil tak lantas menjawab, memilih mengatur nafasnya terlebih dulu. "Puas sekali! Terima kasih sudah mengizinkan aku...t-tunggu sebentar!" tiba-tiba Baekhyun menjadi gugup dan beringsut mundur.
"Ada apa hey?" Thanathos mengernyit sambil melayang mendekati Baekhyun yang terus melangkah mundur.
"J-jangan mendekat! K-kau 'kan dewa kematian!" sahut Baekhyun.
"Ya, benar. Lalu?" tanya Thanathos bingung.
"A-apakah ini saatnya aku mati? A-apakah karena itu kau tiba-tiba datang?" Baekhyun bertanya dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba ia teringat pada ibunya, ayahnya, mongryongnya, Kasper..ah Baekhyun belum siap untuk mati sekarang.
Untuk sesaat Thantahos hanya terdiam, mencerna lebih jelas kata-kata yang terlontar olehnya. Seakan mendapat benang merahnya, Thanathos menggeleng kepala dan dengan cepat menarik pergelangan tangan Baekhyun agar mendekat.
"Kau sungguh tidak tahu akan buku ini?" Thanathos menunjuk pada buku yang Baekhyun genggam, sementara si manis menggeleng cepat. Si dewa kematian berdecak kesal, namun mencoba sabar menghadapi lelaki tersebut. "Dengar bocah manis, aku pun tidak tahu rangkaian kalimat tepatnya yang tertera dari buku ini. Tapi yang jelas...apa yang telah kau ucapkan, membuka sesuatu yang jutaan abad lamanya telah mengikat jiwaku. Begitulah caraku bangkit. Mengerti?"
Baekhyun termangu sesaat, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Takut-takut ia mengangkat wajahnya, menatap malu pada si dewa. "Apakah ini seperti lampu aladin? Kau akan mengabulkan permintaanku karena telah melepasmu?" tanyanya polos.
Thanathos geleng-geleng kepala mendengarnya, namun memilih untuk mengacuhkannya. "Ya..ya..anggap saja sesukamu" jawabnya asal. Tak diduga, Baekhyun tersenyum berbinar akan jawabannya, lalu mengambil sebelah tangan Thanathos untuk digenggamnya.
"Jadi kau benar-benar akan mengabulkan permintaanku? Aku boleh meminta apa saja?" tanya Baekhyun bersemangat. Sedang sang dewa menutup matanya, meredam keinginan untuk memakan bocah ini hidup-hidup.
"Hmm, tapi ada yang harus dibayarkan atas permintaanmu itu" jawab Thanathos seadanya, dalam hati berjanji untuk memikirkan apa kiranya yang harus dibayarkan oleh bocah ini kelak. Yang pasti sesuatu yang tidak disukai si mungil tentunya.
Baekhyun menggangguk cepat dan tepuk tangan kegirangan. "Yeay baiklah baiklah, aku akan membayarnya nanti. Jadi bisakah aku menyebutkan permohonanku?" tanyanya dengan pancaran mata penuh harap, dibalas dengan anggukan singkat dari sang dewa.
Ia mulai berpikir dalam-dalam, kiranya apa yang akan dimintanya pada dewa. Apakah meminta tubuhnya lebih tinggi? Ataukah abs kotak-kotak yang mengisi perut buncitnya? Baekhyun terkekeh atas pikiran konyolnya itu, dan kembali memusatkan pikirannya.
Namun seberapa keras ia berpikir.
Hanya ada satu sosok yang terus terbayang dalam benaknya.
Baekhyun mengangguk mantap, kemudian menatap Thanathos sembari mengulas senyuman manis.
"Bisakah kau membuat seseorang jatuh cinta padaku?"
Dan seperti itulah asal mula keduanya bertemu. Sebagaimana pula kesialan mulai menimpa hari-hari Baekhyun.
Serta menjadi alasan dibalik bercak-bercak kemerahan yang tertinggal di sekujur tubuh Baekhyun.
.
.
.
Di senin pagi yang cerah ini, Baekhyun bersama puluhan mahasiswa baru Jurusan Sejarah lainnya, sudah berbaris rapi di halaman depan gedung jurusan. Disaat yang lain fokus mendengarkan senior di depan yang sedang megabsen, Baekhyun justru nampak asik dengan lamunannya.
Pikirannya melayang pada Thanathos, yang sudah tiga hari ini menghilang setelah meninggalkan dirinya yang tergeletak polos tanpa benang saat itu, dan belum menampakkan diri hingga detik ini.
Entahlah, ia pun tah tahu dan tak mau tahu alasannya.
"Kim Myungsoo?"
Sahutan keras dari senior di depan barisan, membuat Baekhyun kembali dari lamunannya, dan memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan.
"Byun Baekhyun"
"Hadir" jawab Baekhyun, kemudian bergeser ke arah yang ditunjukkan oleh seniornya.
"Park Chanyeol"
Baekhyun yang sedang tekantuk-kantuk, sampai terjaga kembali mendengar nama itu diucapkan. Otaknya memutar cepat, berusaha mengingat dimana kiranya ia pernah mendengar nama ini.
"Say my name...Park Chanyeol..."
Deg! Apakah Park Chanyeol yang disebutkan tadi sama dengan yang-
"Maaf aku terlambat"
Baekhyun menoleh dengan cepat, dan memandang horor pada pemilik suara husky yang baru saja hadir di barisan. Ia menganga tak elitnya, melihat sosok Thanathos begitu manusiawi, dengan almamater biru dan jeans belel yang melingkupi tubuhnya.
"Kau ini mahasiswa baru sudah terlambat. Sudah sana berdiri di samping Byun Baekhyun!" perintah si senior dan tanpa pikir panjang Chanyeol segera mengambil posisi yang diperintahkan.
Merasa ditatap begitu intens dari lelaki di sampingnya, Chanyeol geleng-geleng kepala. "Berkedip Byun" sahutnya, sedang si mungil nampak sedikit kelabakan. Baekhyun sedikit menggeserkan tubuhnya ke kiri, mendekat pada Chanyeol.
"Kau Thanathos? Atau Park Chanyeol sungguhan?" tanya Baekhyun dengan berbisik.
Sedikit jengah, Chanyeol memutar matanya. "Tentu saja aku Park Chanyeol..." Ia juga berbisik, mendekatkan bibirnya pada telinga Baekhyun. "...sosok yang memberikan sesuatu berwarna kemerahan dibalik bajumu..." bisiknya dengan nada sensual.
Baekhyun mendengus pelan, kemudian menarik tubuhnya kembali pada posisi awal. Sudah dipastikan itu Thanathos, yang entah bagaimana memilih nama Park Chanyeol sebagai nama lainnya.
"Dimana sayap dan kupu-kupumu?" tanya Baekhyun masih penasaran.
Chanyeol menoleh sesaat, kemudian menepuk-nepuk punggungnya. "Ada, kulipat di balik baju. Dan kupu-kupuku kutinggalkan di apartemenku" jelasnya.
Baekhyun termangu mencerna jawaban yang baru saja ia dengar. Baru saja tidak bertemu tiga hari, lelaki itu sudah memiliki apartemen dan berbagai barang lainnya milik manusia. Nampaknya sepulang kuliah nanti Baekhyun akan menginterogasinya. Baru saja Baekhyun hendak bertanya kembali, pekikan penuh emosi terdengar dari depan sana.
"Kau ini sudah datang terlambat, tidak pakai atribut mahasiswa baru! Merasa paling hebat hah?!" hardik si senior pada seorang mahasiswi baru. Gadis itu merunduk takut, dengan kedua tangannya yang saling bertaut gemetar.
"M-maafkan aku s-subae. Aku benar-benar minta maaf, aku belum membayar lunas uang masuk universitas j-jadi aku belum mendapat almamater.." cicitnya dengan air mata yang mulai berlinang.
Si senior justru berdecih remeh, tidak terpengaruh akan isakan si gadis. "Omong kosong! Kuberi kau hukuman untuk membersihkan seluruh gedung yang ada di jurusan ini. Sekarang!" perintahnya tanpa ampun. Si gadis terisak makin hebat dan gemetar. "T-tapi sunbae aku-"
"-biar aku saja"
Baik si senior, si gadis dan mahasiswa lainnya kini terpusat pada Baekhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping sang gadis. Sebagian menatapnya haru, sedang sebagian lain mendengus remeh atas tindakan sok pahlawannya, termasuk Chanyeol.
"Maaf sunbae bukan bermaksud melawan, aku rasa gadis ini sedang tidak baik dan aku bersedia untuk menggantikan hukumannya. Mohon izinkan saya" ucap Baekhyun sopan. Ia menoleh sesaat pada si gadis, dan keduanya kini menunggu keputusan si senior.
"Baiklah. Cepat lakukan sekarang!" perintah si senior, dan tak berlama-lama Baekhyun pun segera berlari menuju ruang kebersihan. Dari barisannya, Chanyeol hanya memutar mata dan terkekeh meremehkan melihat Baekhyun. Namun sialnya-
"Hey kau yang tertawa! Pergi dan bantu temanmu sekarang!"
Chanyeol bersumpah akan mengambil jiwa Baekhyun sesegera mungkin.
...
Di sebuah gedung yang cukup lengang, nampak dua lelaki berbeda tinggi badan sedang berdiri di depannya. Yang tinggi bersender di tembok dengan telunjuk terangkat menghempaskan dedaunan, sedang yang lebih pendek sedang menyapu tumpukan daun sambil bersenandung ria. Si mungil berhenti sejenak, menoleh pada si tinggi di belakangnya.
Whuss! Tumpukan dedaunan terhempas ke wajahnya, sesaat ketika Baekhyun baru saja membuka mulutnya. Dengan sabar ia menyingkirkan daun yang menutupi matanya, lalu disambut oleh tatapan tajam dari lelaki di depannya.
"Diam. Cepat selesaikan. Anggap aku tidak ada" Chanyeol mengeja penuh penekanan, kentara sekali lelaki itu menahan emosi.
Baekhyun mendengus dan memilih untuk menyapu kembali. "Dasar payah. Aku 'kan hanya ingin melindungi gadis tersebut. Memangnya salah?" sahut Baekhyun tidak terima.
"Apa gunanya melindungi bila itu juga menyakitimu...menyulitkan orang lain di sisimu" gumam Chanyeol, kemudian memejamkan matanya. Merasakan sesuatu yang tiba-tiba berdenyut di area dadanya.
Ia termenung...menyadari bahwa 'hati nurani' yang diberikan Zeus masih tersimpan di tubuhnya hingga kini. Dan ketika tadi ia mendengar sesuatu tentang melindungi dan yang berkaitan tentang itu, membuat memori lamanya mulai tergali.
"Bilang saja kau tidak bisa menyapu atau kau tidakmmhh!" Kalimat Baekhyun terpotong ketika jemari dingin Chanyeol membungkam mulutnya. Dengan jarak sedekat ini, Baekhyun sedikit bergidik melihat netra abu-abu yang menajam itu.
"Diam atau aku akan menyumpal mulutmu dengan sesuatu yang lebih besar di bawah sana, tak peduli meski kau belum mencapai umur 17 tahun" ancam Chanyeol sambil menyeringai, kemudian mendekati telinga Baekhyun untuk berbisik. "Jutaan abad aku sudah terkurung...dan coba pikirkan seperti apa aku akan menyentuhmu kelak Baekhyun..." bisiknya halus, menyempatkan menggigit cuping telinga si mungil.
Melihat Baekhyun hanya diam mematung, Chanyeol pun terkekeh puas sembari meneruskan langkahnya. Hingga pada langkah ketiga, Baekhyun mengucapkan sesuatu yang fatal,
"Kasar sekali. Pantas saja Dewi Hathor meninggalkanmu. Kau tidak sebanding dengannya tahu"
Mungkin. Niat Baekhyun hanya ingin bercanda dan membalas ucapan mengesalkan Chanyeol. Tapi tidak dengan yang lain. Tidak dengan segala rasa sakit yang telah dilewati jutaan tahun lamanya.
Brukk!
"Uhuk! Uhukk! Le-lepahk-skan akh-akuh" susah payah Baekhyun berbicara maupun bernafas. Jemari Chanyeol terlalu kuat mencengkeram lehernya, dan ia yakin sesaat lagi jiwanya benar-benar akan pergi bersama lelaki itu. Baekhyun memukul-mukul lengan Chanyeol namun lelaki itu nampak bergeming, bahkan mencekiknya semakin erat. Merasa usahanya hanya sia-sia, Baekhyun pun menatap Chanyeol dengan matanya yang berkaca-kaca.
"C-chanyeol...b-bolehkah aku uhukk m-meminta waktu hkk s-sebentar?"
"Sebelum kau melaksanakan tugasmu...bisakah aku meminta waktu sedikit lagi?"
Sial. Mengapa bayangan Hathor di hari itu harus menguar kembali disaat seperti ini. Meski tanganya masih mencengkeram erat di leher Baekhyun, Chanyeol memejamkan kembali matanya, membiarkan potongan memori lamanya berputar di kepalanya.
"Terima kasih..."
"Terima kasih..." wajah Baekhyun mulai memerah, dengan kedua matanya yang menyayu. Namun ia masih bersikeras untuk berbicara pada lelaki itu.
"...aku hanya ingin melihat wajahmu sedikit lebih lama"
"...aku hanya ingin me-HAAH! Uhuuk Uhuuk!" Baekhyun bernafas bak orang kesetanan, ketika akhirnya Chanyeol melepaskan cekikannya. Sambil mengais udara sebanyak-banyaknya ia menoleh takut pada Chanyeol yang masih menatap tajam dirinya. Ia melangkah mundur ketika sang dewa itu mendekati dirinya kembali.
"Jangan mengujiku untuk melawan tata aturan semesta. Aku pernah melakukannya sekali...dan tidak sukit bagiku untuk yang kedua kalinya Byun..."
Dengan mengucap kalimat sarat ancaman itu, Chanyeol pun menghilang setelahnya. Meninggalkan Baekhyun yang mulai menyadari akan kesalahannya.
.
.
.
Di tempat yang berbeda, tak jauh dari tempat Chanyeol dan Baekhyun berada, nampak seorang pria dan wanita sedang membicarakan sesuatu yang cukup serius. Terlihat dari sang gadis yang berulang kali menghela nafasnya, sedang si lelaki terus mengusap kasar surainya.
"Andai saja kotak itu tidak terbuka, tidak akan seperti ini jadinya. Ini salahku" ucap si gadis sambil merunduk, sarat akan kesedihan. Yang lelaki memutar tubuhnya, kemudian menepuk pelan pundak gadis tersebut.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi, yang penting saat ini aku sudah menemukan sosoknya" ucap si lelaki sembari tersenyum teduh. Si gadis mengangguk paham, ikut mematri sebuah senyuman gembira mendengar ucapannya.
"Tapi kau sudah memastikannya bukan? Maksudku..ini sudah jutaan tahun lamanya.." cicit si gadis, tiba-tiba merasa pesimis.
Berbeda dengan gadis tersebut, yang lelaki justru mengangguk penuh keyakinan. "Tentu saja. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku sudah tahu bahwa-" ucapannya terhenti seketika, membuat si gadis mengernyit bingung. "Ada apa?" tanya si gadis.
Namun yang lelaki tak menggubris pertanyaan si gadis, memilih melangkahkan tubuhnya ke belakang. "Kau yang disana! Keluarlah!" sahut lelaki itu, membuat gadis di sebelahnya lantas langsung berdiri.
"Keluarlah!...THanathos..."
Tidak sampai satu menit, satu sudut bibir si lelaki terangkat ke atas, mendapati sosok yang dipanggilnya tadi mulai menunjukkan batang hidungnya. Tak mau kalah, Chanyeol juga melangkah angkuh dengan seringai andalannya, ditambah kupu-kupu hitam yang entah sejak kapan mulai berdatangan mengitari tubuhnya.
"Lama tidak jumpa sobatku, Horus. Ah... atau haruskah aku memanggilmu..." Chanyeol terkekeh meremehkan, kemudian mengambil satu langkah tepat di hadapan lelaki itu.
"...Kasper..."
TBC
Byun Jaehyunee :
Annyeong semua, kami membawakan chap kedua untuk sang Amor /yeaay/ sebenernya ini ajang untuk klarifikasi sih hehe, melihat review chap pertama kemarin tentang masalah ff ini dan yaps ini sebenernya ff collaborasi kami yang pertama (saya dan Myungie) jadi buat yang bingung kenapa ini di post di dua akun, itu karena kita sengaja untuk mempromosikan ff baru ini karena seterusnya ini akan diupdate dengan akun ku atau Byun Jaehyunee /muehehehe/ terima kasih untuk yang sudah menyempatkan membaca dan meninggalkan jejak, itu sebagai suatu semangat juga buat kita. Segitu aja dulu, sampe ketemu lagi yaaa. Oh satu lagi, semoga cerita kami tidak mengecewakan, paypay
Myungie : Jangan menebak dari awal :)
