rayi's note: awalnya aku berniat buat nyebut semua nama dalam nama kecil (biar rapi aja karena kita 'kan manggilnya kaya Karma, Nagisa, gitu gitu). Tapi karena aku rasa nggak semua terbiasa, mulai chapter ini beberapa tokoh akan dipanggil dengan nama keluarga yah! Btw ada kesalahan teknis (grgr terlalu fokus ke si doi merah), Kayano itu matanya hazel.


based on Yuusei Matsui's assclass

Snapchat
ditulis oleh rayi cendana


Kala itu pertengahan Desember, maka seperti pada umumnya, malam akan tiba lebih cepat. Jam menunjukan pukul setengah empat dan matahari sudah condong ke arah barat. Walaupun tampaknya masih ada cukup waktu sebelum sang surya menenggelamkan diri dibalik garis kaki langit, angin musim dingin sudah berderu menerobos pepohonan. Gersikan dedaunan terdengar lebih keras di dalam keheningan.

"G-game start?" Nagisa membaca tulisan di garis abu video itu. Suaranya memecah bisu diantara mereka. "I-itu Snapchat Asano-kun? Darimana kau. . ."

Ritsu menggaruk pipinya tanda ragu. "Asano-kun mengirimkannya ke akunku. Disertai pesan kalau aku harus menunjukannya pada Karma-kun," gadis itu menjelaskan, lalu menghela nafas panjang. "Yah, kuakui saat menemukan akun-nya kemarin aku memang sekalian mengirimkan friend request."

Hah, kau bercanda, Ritsu. Untuk apa kau nge-add akun orang seperti Gakushuu Asano. Apa pula isi Snapchatnya? Selain Isogai yang dulu tidak sengaja kepencet, tidak ada anak kelas 3-E lain yang berteman dengan si pirang itu. Jangankan di social media, di real life aja ogah. Yah, tapi saat ini topik tersebut tidak penting.

"Ja-jadi intinya," ucap Kanzaki terbata-bata. "Karma-kun harus, um, mengejar Okuda-san dengan petunjuk video-video Snapchat Asano-kun?"

"WAH INI NIH! TANTANGAN PERANG, KARMA! CEPAT KEJAR MEREKA!" Maehara bersorak dengan semangat kemerdekaan disertai pekikan nyaring Nakamura.

"Tapi mereka ada dimana?" kalimat Chiba kontan menghentikan kehebohan mereka.

Diam.

"Bagaimana kalau Ritsu mencarinya?" Sugino angkat bicara.

Gadis dua dimensi itu menghela nafas lagi. "Sudah kucoba tapi aku masih kurang yakin karena banyak tempat yang mirip dengan video itu. Melacak lewat CCTV hanya akan membuang waktu karena tidak ada posisi yang pasti."

"Kau harus bertindak cepat," Itona gantian menatap Karma dengan serius. "Kalau menunggu Ritsu menelusur data satu persatu, mereka keburu berpindah tempat."

Karma mengangguk, mendekatkan dirinya ke layar LCD. "Ritsu, bisa kau ulang videonya?"

Video pendek itu diputar ulang (sepertinya setelah data video itu di-download karena Snapchat seharusnya tidak bisa putar ulang). Ritsu membuatnya lebih lambat dari versi aslinya supaya keduabelas murid itu dapat mencermati dengan lebih teliti.

Pentunjuknya memang terbilang sangat minim. Keramaian, zebra cross, Manami yang membelakangi kamera, dan diding kaca. Ada ratusan perempatan dengan zebra cross di Tokyo. Semuanya dilauti manusia, terutama saat rush hour.

"Tunggu!" Kayano nyaris berteriak. Semua terlonjak kaget, melontarkan perhatian mereka ke gadis mungil itu. Ritsu segera menjeda video yang sudah diputar enam kali tersebut tepat pada detik kedua. "Coba kalian lihat diujung kiri!"

Semua mata menuju ke seorang wanita dengan rambut coklat yang tengah berjalan di tengah keramaian. Tapi bukan wanita itu yang dimaksud. Jari ramping Kayano menunjuk ke plastik bawaannya. Plastik dengan ukuran cukup besar berwarna putih dengan tulisan merah. H&M.

"SHIBUYA!" jeritan Okano memdengingkan telinga. "SHIBUYA CROSSING, OH TUHAN. AKU SUDAH TEBAK ITU TAPI TIDAK YAKIN."

Sebenarnya ada banyak H&M di sekitar sini. Tapi untungnya banyak dari mereka terletak di dalam department store. Dengan penyebrangan jalan yang padat seperti itu, pastilah tak salah lagi itu Shibuya Crossing, yang toko H&Mnya mempunyai outlet tersendiri. Dinding kaca di detik kelima pastilah Shibuya 109 MEN'S.

Tidak menduga kasus seperti ini akan menimpanya, Karma menggeram. Cengkraman pada kepalan tangannya mengeras hingga kulitnya memutih. Sinar matanya menggertak. Aura yang keluar darinya membuat bulu kuduk berdiri.

Karena jurus andalannya adalah provokasi dan sarkasme, Karma itu banyak bicara. Kalau dia diam, uh, yah begitulah. Dulu, waktu si Taiga Okajima membuat error Nintendo 3DS miliknya sehingga data game Legend of Zelda otomatis ter-reset, Karma diam. Diam dalam amarah. Entah apa yang ia lakukan setelah itu sampai Okajima nangis tiga hari berturut-turut dan nggak mau masuk sekolah. Belakangan Karasuma-sensei turun tangan.

Itu gara-gara Nintendo. Tapi ini, ini menyangkut Manami Okuda.

"Bagaimana cara kita mengejar mereka?" tanya cowok itu dalam satu tarikan nafas setelah 'ditenangkan' oleh Nagisa dan Isogai.

Kelompok kecil tersebut sempat tertegun mendengar kata 'kita' keluar dari mulut Karma. Tapi pertanyaannya lebih penting. Bagaimana? Shibuya tidak jauh, tapi bukan berarti dekat. Kereta JR terdengar absurd mengingat berlangsungnya rush hour.

Pasti ada jalan lain.

Mereka adalah pembunuh yang terlatih untuk mengassasinasi makhluk tidak jelas bertubuh gurita dengan kecepatan mach 20 yang saat ini sedang menonton Arsenal vs Chelsea di belahan bumi bagian barat. Pasti ada hal yang telah mereka pelajari dan bisa dimanfaatkan dalam insiden ini. Sesuatu yang mereka kuasai, yang menjadi makanan mereka sehari-hari.

"PARKOUR!"


Tidak, tidak mungkin ketemu. Shibuya itu luas, nggak luas banget sih, tapi banyak spot yang bisa dikunjungi, banyak peluang kemana kedua insan itu pergi. Hanya dengan Shibuya Crossing saja tidak cukup. Tentu saja keduanya telah pergi saat murid-murid 3-E itu sampai disana, meninggalkan mereka tanpa petunjuk sedikitpun.

Sekarang Tim Karmanami (begitulah mereka menyebut kelompok beranggota dua belas orang itu) berada di sebelah pintu masuk Shibuya 109 MEN'S, tepat diseberang zebra cross raksasa kebanggaan distrik tersebut. Rush hour masih berlangsung, baik di stasiun maupun di bulevar, dan akan terus bertambah liar seraya klimaksnya mendekat.

"Sekarang. . . apa?" Terasaka mengangkat satu alis, menyusun perkataannya dengan sangat hati-hati.

Semua langsung memandang ke arah Karma. Si surai merah itu terlihat sedang berpikir dengan tenang. Ya, sepertinya seorang Karma Akabane telah kembali menjadi dirinya yang semula.

"Apa mungkin mereka pergi belanja?" ia bertanya lebih kepada dirinya sendiri.

Nagisa mengeluarkan ponselnya yang entah kenapa terus bergetar di sakunya. Mobile Ritsu langsung muncul begitu perangkat itu dinyalakan. "Ritsu!" Ia terkesiap sepintas. "Ada apa? Kau dapat sesuatu lagi?"

Ritsu mengangguk. Sedetik kemudian semua ponsel milik anggota tim pencari itu berbunyi, menerima transfer data dari sang autonomous. Sebuah video pendek Snapchat.

Detik-detik pertama terlihat lantai putih, lalu rak dengan lipatan-lipatan kain seperti scarf? Selanjutnya muncul Manami, lagi-lagi membelakangi kamera. Ia masih mengenakan mantel hitam, dan syal lavender seperti saat di sekolah tadi. Dia berdiri diantara rak gantungan baju-baju berwarna gelap.

"Mencari sesuatu?" suara Gakushuu Asano terdengar.

Gadis berkacamata itu berbalik dan video selesai. Lima detik. Kali ini tidak ada tulisan apa-apa.

"Dari pencahayaannya sepertinya lampu fluorescent," Itona berkomentar. "Mereka di dalam toko."

Nakamura mendecak lidah. "Ada ratusan toko baju di Shibuya ini, dan semuanya juga lagi menjual winter collection."

"Mungkin benar katamu, Kar. Mereka sedang belanja?" ungkap Kayano dengan intonasi lebih seperti bertanya. "Kalau baju untuk perempuan tidak mungkin di sini, tapi di Shibuya 109 yang ada di pertigaan satu lagi."

"Tapi di Marui juga lagi ramai sejak christmas discount," Okano ikut berkontribusi. "Selain itu ada grand opening cafè baru. Kemarin aku kesana."

"Aah, ternyata benar. Aku melihatmu makan shortcake sepiring sendirian. Sebentar lagi 'kan libur musim dingin. Memangnya kau tidak takut gendut? Apa tahun baru nanti kau berniat pergi ke kuil dengan menggelinding?"

"Maehara, sayangi nyawamu."

"Sudah kuduga kita harus berpencar," Isogai mengembalikan ponselnya ke saku lalu berbalik ke Karma. "Kau yang tentukan."

Karma memicingkan matanya ke gedung Shibuya 109 yang bediri kokoh di ujung jalan. Ada sedikit keraguan kalau gadis yang dia cari berada disana. Memang lebih baik mereka berpencar.

Dan ini keputusannya.

Shibuya 109: Nakamura dan Kayano, karena kesini tiap minggu, mereka sudah hafal mati denah mall besar itu. Karma masuk ke tim ini.

Shibuya 109 MEN'S: Isogai dan Maehara, jaga-jaga siapa tahu si pirang mau beli baju.

Marui department store: Okano dan Kanzaki. Kanzaki memang bukan pasangan yang terbaik untuk Okano, tapi setidaknya lebih baik daripada Maehara. Demi keamanan gedung tak berdosa itu.

Shibuya crossing, stasiun, dan sekitaran Hachikou: Itona dan Chiba, dengan kemampuan mainan helikopter Itona dan mata sniper Chiba, mencari orang pasti gampang.

Sepanjang jalan Bunkamura: Terasaka dan Sugino.

"Wah udah kayak Detective Conan gitu ya kita!"

"Anggota kita kebanyakan, bego. Nyari orang udah kayak mau tawuran."

"Waduh, aku bolos Encoll lagi."

"Weh pinjam handphone dong! Mau kasih tau emak di rumah kalau pulang telat."

"Eh aku belom shalat ashar."

"Kita selesai kira-kira jam berapa?"

"Chiba, aku pulang nebeng ya."

"UDAH WOY NGOMUL MULU KAYAK DEADPOOL KALIAN SEMUA BURUAN BUBAR!"

"YAK, SPECIAL STRATEGY TO SNATCH OKUDA MANAMI FROM THE ARROGANT BASTARD DILAKSANAKAN!"

"Norak, Nakamura."

Semua ini memang terdengar gila, mugkin ANTV banget, walaupun masih kalah sama Uttaran. Tapi benar, inilah yang terjadi. Mungkin semua ini akan lebih mudah bila mereka meminta bantuan sang guru kelas, Korosensei. Dengan penciuman sakti dan kecepatan roketnya, Manami akan langsung ditemukan tanpa banyak nananini.

Tidak.

Karma Akabane akan merebut kembali gadis miliknya itu sendiri, apapun yang terjadi.


rayi's note: Terima kasih reviewnya! Third snap 3 sebenarnya udah jadi juga sih, tinggal tunggu untuk diupload sesegera mungkin. Mungkin chapter ini memang lebih plain dari sebelumnya, tapi janji chapter berikutnya bakal lebih menegangkan! Btw, mungkin kita akan keliling tokyo sedikit di cerita ini.

thoughts on this chapter? you get all my thanks for the fave and follow!