Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Hidup Mahasiswa! © Bergfrue

Warning: Bahasa tidak baku, Bahasa Gaul, OoC (mungkin?), dan kegalauan dan kenistaan tertebar di sana-sini.

Hanya sekedar hiburan, tidak bermaksud menyinggung siapapun juga atau menciptakan kontroversi.

Saya tidak mendapatkan imbalan materi apapun dengan mempublish fiksi nista ini.

::::::::

Jadi mahasiswa itu banyaaaaaakkkk banget artinya. Banyaaaakkkk banget suka-dukanya. Dan banyaaaaaakkkk banget kegalauan dan kenistaannya (?). Hhhh… bersyukurlah kalian yang masih berada pada jenjang SMA, SMP, SD, apalagi TK.

::::::::

Abis semua kelas kelar, mau ngapain?

Salah satu kelas Jurusan Ilmu Politik baru aja kelar beberapa menit yang lalu. Mahasiswa pada berhamburan keluar kelas bahkan saat Dosen masih sibuk mematikan laptopnya di dalam kelas. Terlihat tiga wajah yang cukup familiar, yang juga tengah berjalan bersama keluar dari kelas tersebut. Satu berambut pirang dan punya aura macho, dan dua pemuda sisanya berambut lebih gelap dan punya aura maho—becanda.

"Ah, akhirnya selesai juga," ujar si maho—bukan—si Heracles, sembari menguap lebar-lebar. Wajahnya itu tampak mengantuk 24/7. Dia bisa datang kuliah sebelum kelas berakhir aja udah syukur.

"Yep!" ujar si Shadik, pemuda keturunan konglomerat Arab—tipikal mahasiswa tajir, konglomerat, dan idaman setiap semua wanita yang berpikir realistis akan masa depan, "Gila, ngebosenin banget. Capek pantat gue buat duduk doang selama dua jam dengerin Dosen ngedongeng!" keluhnya dengan keluhan yang sama yang ia ucapkan setiap selesai di tiap kelas yang diikutinya.

Sedangkan pemuda yang satu, yang tampak lebih alim, hanya menghela napas. Terkadang ia berpikir bahwa apakah wajahnya bisa tampak tua di usia muda karena ia yang rajin dengerin keluhan tiap hari dari teman-temannya.

"Abis ini kalian mau ngapain? Ada kuliah, ga?" tanya Ludwig—pemuda alim (?) tersebut.

"Ga ada. Hari ini kuliahku 'kan cuma satu barusan doang," ujar Heracles dengan malas-malasan. Abisnya, kuliah cuma satu doang, mata kuliah pilihan, sistem pengajarannya dosennya "ngedongeng" mulu.

"Trus, jadinya? Lu mau kemana?" tanya Shadik kepo.

"Pulang."

"Hah! Ga seru!" hina Shadik ngehina banget, "Ikutan UKM (1) ato apa gitu, kek. Dari dulu gue ajak gabung ke UKM Kerohanian ga mauuu," kata Shadik dengan nada nyalahin bercampur nyukurin.

"Emang habis ini kau akan kemana, Shadik?" tanya Ludwig mencegah agar percekcokan yang kesekian kalinya, ga terjadi pada dua sahabatnya itu. Bukannya apa, malu cing! Mana Shadik kalau tengkar teriaknya bisa kedengar sampe fakultas sebelah…

"Gue? Ya UKM kerohanian lah!" kata Shadik. Yap, gitu-gitu doi anggota UKM Kerohanian yang kebanyakan emang anaknya alim-alim. Entahlah, entah kenapa Shadik termasuk pengecualian jika melihat dari omongan dan sikap sehari-harinya…

"Aku habis ini mau ke rapat angkatan," kata Ludwig sembari menghela napas ketika memikirkan tugasnya yang berat di usia semuda ini (halah). Ngurus teman seangkatan, mending kalau nurut-nurut. Orang semua tingkahnya kayak preman semua.

"Hahaha! Lucu ya, kita sahabatan, tetapi tujuan hidup kita berbeda-beda. Kupu-kupu," Shadik nunjuk Heracles, "Kura-kura," doi nunjuk Ludwig, "dan Kuda-kuda," terakhir, doi nunjuk batang hidungnya sendiri.

Yap.

Di kalangan akademisi kampus atau universitas, mahasiswa diklasifikasikan dalam tiga Kingdom besar. Siapapun mahasiswanya, dia pasti termasuk ke dalam salah satu dari tipe berikut ini:

Kupu-kupu: kuliah-pulang-kuliah-pulang—tipe mahasiswa amfibi: hidup dalam dua dunia saja, yakni kampus dan rumah/kos-kosan. Artinya, tiap abis kuliah atau kelas beres, maka langsung cus ke rumah atau kosan tersayang. Kalaupun pas abis kuliah ga langsung pulang, paling-paling buat kerja kelompok atau nyari buku di perpus. Itupun jika keadaaan sangat terpaksa.

Kura-Kura: Kuliah rapat-kuliah rapat—Tipe mahasiswa yang pekerja keras dan tipikal pemimpin masa depan. Kebalikan dengan Kingdom Kupu-Kupu, mahasiswa tipe ini justru kadang lupa rumah. Lha abisnya kalau ada rapat bisa sampai berjam-jam. Bisa juga ninggal kuliah demi rapat. Entah itu rapat beneran atau cuma nongkrong di sekretariat organisasi buat ngadem dan ngehindari kuliah.

Kuda-kuda: Kuliah dakwah-kuliah dakwah. Mirip dengan mahasiswa jenis sebelumnya. Bedanya, sebutan ini bersifat eksekutif buat anak-anak anggota Unit Kerohanian. Biasalah, mereka kalau rapat, sering kali dikatain, "Mau dakwah lo?" oleh anak-anak yang sok asyik dan sok ga ada kerjaan.

Kunang-Kunang: Kuliah nangkring- kuliah nangkring. Ini Kingdom yang levelnya rata-rata lah ama Kingdom kupu-kupu: sama-sama diharamkan oleh para Dosen ataupun Rektor. Abis kuliah, para kunang-kunang emang ga langsung pulang, tapi nyasar ke berbagai tempat yang hanya dia dan Tuhan tahu apa. Kantinlah. Tempat wifi lah. Mall lah. Bahkan tak mustahil jika mereka nyasar ke warung kopi sambil minum kopi dan duduk angkat kaki. Intinya, sama-sama ga produktif.

Nah, lu masuk kingdom mana? :3

:::::::

Masih jaman, ya, belajar jauh-jauh hari sebelum ujian?

Ceritanya, dua minggu yang lalu si Raja Awesome alias Gilbert, si mahasiswa awesome dari Fakultas Hukum yang awesome, mendapat ultimatum (?) dari salah satu dosen mata kuliah, bahwa akan ada kuis dua minggu kemudian. Bukan kuis biasa, bro, abisnya kata tuh dosen, nilai kuis ini akan mengisi 60 persen dari total nilai mata kuliah itu selama satu semester.

Absurd? Gila? Aneh? Sinting? Udah biasa mah, kata-kata itu didapatkan si Dosen.

Nah, sebagai pengenyam pendidikan, wajar dong kalau Gilbert diwajibkan belajar?

1. Dua Minggu Sebelum Ujian

A. Gilbert semasa SD: *nyatet di buku tugas bahwa akan ada ujian 2 minggu lagi. Buku tugas disampul dan ditempel kertas kecil putih di pojok atas atau bawah, berisi keterangan identitas Gilbert. Tulisan rapih, bersih, pake penggaris pula agar tulisan rata kanan-kiri* Aku harus ingat ujian ini!

B. Gilbert Semasa SMP: Ujian yah… Hhhhh *menghela napas dan nyatet di buku tugas yang tidak tersampul, tapi cover masih rapi. Tulisan udah mulai bergelombang dikit kayak tanda rambu 'jalan licin'*

C. Gilbert Semasa SMA: Ah! Paan! Ulangan mulu! *banting buku tugas yang udah ga bersampul, cover lecek dan ada bekas lipatan, dan isinya penuh tulisan yang bahkan dipandangan mata normal, akan tampak seperti pandangan mata minus akut* Oi, bro! Lu ingetin gue ya. Gue suka lupaan sih!

D. Gilbert Semasa Kuliah: *omongan dosen masuk telinga kanan dan ga sampai gendang telinga kanan, mental dari telinga kanan lagi* Hhhh… eh, Liz. Lu ada kenalan cewek cantik dan seksi, ga? *nutup buku tulis satu dan lecek yang isinya minim tulisan. Kalaupun ada, tulisan dokter manapun pasti jauh lebih inferior dari tulisan Gilbert*

2. 10 Hari Sebelum Ujian

A. Gilbert semasa SD: Ah iya, ada ulangan 10 hari lagi! *natap buku tugas yang rapih* Nyicil belajar ah.

B. Gilbert Semasa SMP: *lagi ngerjain tugas lain*

C. Gilbert Semasa SMA: *buka buku catatan 20 sentimeter di depan wajah. Mata menyipit. Dahi mengerut. Mulut setengah membuka* Emang kita mau ujian, ya?

D. Gilbert Semasa Kuliah: *ada teman nanya, udah belajar apa belom?* Makan tuh belajar! *sambil pasang muka ga biasa dan sinis banget*

3. 5 Hari sebelum Ujian

A. Gilbert semasa SD: Ulangi lagi ah, apa yang udah kupelajari! Biar makin hapal.

B. Gilbert Semasa SMP: Oh ya, akan ada ulangan. Belajar ah~ *buka buku*

C. Gilbert Semasa SMA: *baru baca satu kalimat udah pusing, tutup buku lagi* Smsan ama Liz ah!

D. Gilbert Semasa Kuliah: Elu musti kontak orangnya, mau apa ga isi acara kita. Dan panitia konsumsi, tolong segera kasih anggaran. Tinggal kepanitiaan elu doang nih yang belom! Dan oi sekretaris 2, jangan magabut ya! Emang gue ga tahu lu suka eksploitasi partner lu!

4. 2 Hari Sebelum Ujian

A. Gilbert semasa SD: Mama, coba kasih aku pertanyaan dan aku jawab!

B. Gilbert Semasa SMP: Baca ulang lagi ah.

C. Gilbert Semasa SMA: *baca serius sambil kening mengkerut* artinya apa sih….

D. Gilbert Semasa Kuliah: *ditanya lagi temen soal udah belajar apa belum?* Hah?

5. 1 Hari menjelang Ujian

A. Gilbert semasa SD: Aku udah siap!

B. Gilbert Semasa SMP: *masih nge-review*

C. Gilbert Semasa SMA: *baru seriusan belajar*

D. Gilbert Semasa Kuliah: Eh Sob, lu ada bahan buat ujian besok ga? Buku kek, PDF kek, apa kek! *baru nyari bacaan*

5. 8 jam menjelang Ujian

A. Gilbert semasa SD: *udah tidur nyenyak*

B. Gilbert Semasa SMP: *tidur dengan perasaan nerves*

C. Gilbert Semasa SMA: *nyiapin contekan*

D. Gilbert Semasa Kuliah: *GO Sistem Kebut Setengah Malam + baca skimming!*

6. 10 Menit Sebelum Ujian

A. Gilbert semasa SD: *berdoa*

B. Gilbert Semasa SMP: *review*

C. Gilbert Semasa SMA: *simpen contekan di dalam kaus kaki*

D. Gilbert Semasa Kuliah: Oi, Sob! *mengerling* Aku padamu, yak!

::::::

Cuman anak TK dan SD yang rebutan bangku depan saat ada kelas

Melangkahkan kaki ke kampus, Alfred merasa bahwa sepertiga nyawanya masih ngumpul dan berantakan di tempat tidur. Ngantuk banget! Secara, si Arthur kampret rekannya di BEM, memaksanya untuk segera menyelesaikan Laporan Pertanggung Jawaban dalam semalam saat itu juga. Jadi, tak heran jika kini Alfred jalan setengah merem. Andai aja kuliah ini tidak 3 SKS, paling-paling dia tadi bangun Cuma buat sms temannya buat nandatangani absen dia.

Mana jarak kampus-kosnya lumayan jauh pulak!

Ponselnya yang ia taruh di saku celana, bergetar, tanda sms masuk. Doi segera mengeluarkan benda kesayangan yang baru ia beli sebulan lalu: maklum, smartphone android keluaran terbaru. Itu kan lagi nge-trend di kalangan anak yang ngaku gaul sekarang.

Buru-buru ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetik satu pesan untuk satu temannya yang juga mengikuti kuliah yang sekarang diikutinya.

To: Arthur

Nitip bangku ya. Di belakang-belakang aja.

Maklum aja, duduk di baris belakang itu membawa banyak berkah. Pertama, elu bisa tidur saat kuliahnya sudah berada dalam tahap "boring banget ampe bikin orang murtad jadi tobat". Kedua, elu bisa ngehindari pertanyaan dari Dosen yang iseng ngelempar pertanyaan secara random. Hal ini karena para Dosen iseng itu biasanya nyari mangsa mahasiswa-mahasiswa yang duduk di depan, ato duduk di dekat Beliau berdiri ngasih lecturing. Mending kalau bisa jawab dan dapet pandangan dan ungkapan kagum. Kalau Cuma bisa bengong layaknya kebo bego'? Dan ketiga, saat ujian, duduk baris belakang itu menjadi kayak tempat VVIP bagi mahasiswa yang emang udah punya budaya belajar dengan sistem SKS atau SKLJ (Sistem Kebut Lima Jam).

Alfred datang di kelas dan emang, doi udah dapat jatah tempat duduk yang disediakan Arthur, temannya, yang datang lebih dulu. Mereka duduk di deret kedua paling belakang.

Tak lama, Pak Dosen datang. Tipe Dosen disiplin dan tepat waktu nih. Mahasiswa juga sebagian besar sudah duduk anteng di kelas. Siap menerima lecturing 2 jam lebih dan menipiskan pantat mereka gegara banyak duduk di kursi. Tetapi, alih-alih langsung memulai pelajaran, si Dosen hanya berdiri dan menghela napas besar seolah-olah ia tiba-tiba kena cobaan Tuhan yang tak kuasa dia emban.

"Ini ngapain duduknya kayak gini?" ucap Beliau, meski lirih, namun cukup membuat was-was. Iyalah, nilai dan ijin mengikuti kuliah kan jadi hak prerogatif Yang Mulia Maha Dosen.

"Ayo, baris depan pada diisi atau kuliah tidak akan saya mulai," lanjut Beliau.

Dan memang, nyaris tiga baris terdepan kosong melompong. Baris-baris berikutnya ada yang isi, tapi ga banyak. Tapi baris paling belakang tuh, udah kayak gerbong kereta ekonomi aja yang pada desak-desakan, terutama oleh para mahasiswa laki-laki.

"Ayo, yang belakang maju dan duduk di depan."

Nah ini. Selain menjadi seat VVIP, baris belakang bisa ngasih lu kesialan. Terutama jika dalam kuliah Dosen kayak gini.

Intinya, jika elu mau duduk di baris belakang, maka baris depan pasti akan kosong. Dan UJUNG-UJUNGNYA, pasti elu yang duduk di belakang juga yang disuruh ngisi bangku baris depan yang kosong.

Dan siap-siap: 1) pasang ekspresi minat dan fokus pada lecturing, 2) tahan uap kantuk, 3) siap-siap brainstorming kalau-kalau kena apes dapat pertanyaan.

::::::

Thanks. Review ya, Sob?