oooo
oo
Timeless
© fumiyo92
A Hunhan Fanfiction
oo
CHAPTER 1
oooo
.
.
Oh Sehun.
Siapa yang tidak mengenal pemuda itu.
Seisi sekolah pasti mengetahui tentangnya.
Tubuh tinggi serta kulit putihnya membuat banyak wanita menginginkannya untuk menjadi kekasih mereka. Tidak lupa dengan rambut coklatnya yang selalu terlihat halus dan rahangnya yang tajam, menambah kesan cool yang menempel pada dirinya.
Ia adalah seorang ulzzang yang banyak disukai oleh para wanita baik di sekolah maupun di luar sekolah. Selain wajahnya yang sangat tampan, dia juga terkenal sebagai murid yang pandai. Namun, dibalik kelebihan-kelebihan yang dimilikinya hanya ada satu kekurangan dari pria itu.
Dia adalah seorang anti sosial.
Dia adalah seseorang yang sangat cuek dan tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Wajahnya yang minim ekspresi juga membuat beberapa orang sering menganggapnya sebagai orang yang sombong dan tidak tahu bagaimana caranya untuk mengekspresikan dirinya. Walaupun dengan sifatnya yang seperti itu, masih banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihnya. Mereka bahkan membuat sebuah fans club khusus bagi siswi-siswi yang menyukai seorang Oh Sehun.
Sebenarnya, Sehun yang dulu sangat berbeda sekali dengan Sehun yang sekarang. Dahulu sekali saat Sehun masih anak-anak, ia merupakan seorang anak yang periang. Dia pandai bergaul dengan orang lain dan sangat ramah. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui sifat Sehun sebelumnya, yaitu orang tuanya serta dua orang teman dekatnya sejak ia masih SD, Jongin dan Chanyeol.
Sebuah kontrak kerja yang ditandatangani oleh ayahnya mengubah kehidupan keluarga mereka. Keluarga Oh yang dulunya merupakan keluarga terpandang karena bisnis yang mereka miliki, terlibat hutang dengan sang pemilik kontrak sehingga membuat mereka menjadi jatuh miskin.
Namun, bukan itu yang merubah sifat Sehun kecil.
Sifatnya mulai berubah saat seorang teman ayahnya, Tuan Kim, menyuruhnya untuk bekerja sebagai salah seorang 'asisten' pribadinya. Sehun diminta untuk membantunya menghancurkan beberapa pesaing bisnis Tuan Kim bahkan tidak jarang tangannya harus bersimbah darah karena pekerjaannya itu.
Sudah 8 tahun sejak hari itu.
Hari pertama ia dilatih untuk menjadi asisten pribadi Tuan Kim.
Kini, Sehun kecil telah berubah menjadi pemuda 18 tahun yang sangat tampan.
Entah sudah berapa orang yang harus ia bereskan demi memuluskan rencana bos-nya itu. Entah berapa keluarga yang harus dihancurkannya demi keserakahan sang bos.
Semua orang, bahkan orang tua dan kedua teman dekatnya, tidak mengetahui apapun mengenai pekerjaannya itu. Yang orang tuanya ketahui adalah bahwa Tuan Kim merupakan seorang pria baik yang rela mengangkat Sehun sebagai anaknya dan mau menyekolahkannya kembali. Ia juga mempekerjakan Sehun sebagai pegawainya agar ia dapat membantu ayahnya untuk melunasi semua hutangnya dan merintis kembali bisnisnya yang sudah hancur lebur.
Tidak ada yang tahu pekerjaan seperti apa yang harus Sehun lakukan untuk melunasi semua hutang ayahnya itu.
.
ooo
.
"Sehun-ah!" suara teriakan itu membuat Sehun menghentikan langkah kakinya. Ia membalikan tubuhnya dan menatap dingin kepada dua orang yang sedang melambaikan tangan kearahnya. "Kau ikut tidak?" Tanya Jongin saat mereka sudah berdiri di depannya.
"Baekhyun mengajak kita untuk pergi bersama sepulang sekolah. Kau ingin ikut? Aku, Jongin dan Kyungsoo juga ikut" jelas Chanyeol tanpa menunggu jawaban dari Sehun.
"Aku sibuk" jawabnya singkat.
"Ayolah! Sudah lama sekali kita tidak pergi bersama. Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Sekali-kali kau harus pergi bersenang-senang bersama dengan kami" seru Chanyeol sambil melancarkan jurus puppy eyes-nya dan langsung membuat Jongin memutar kepalanya. Sungguh, tatapan Chanyeol sekarang terlihat begitu mengerikan di mata Jongin.
"Kalian saja yang pergi. Aku masih harus mengerjakan sesuatu"
"Hanya makan saja! Please~~~"rajuk Chanyeol masih dengan jurusnya itu.
Sehun hanya menatap keduanya dengan pandangan malas kemudian berjalan meninggalkan mereka. Ia harus segera kembali ke kediaman Tuan Kim. Beberapa menit lalu, ia menerima telepon dari bos-nya itu untuk segera kembali karena ada hal penting yang harus didiskusikan. Ia sudah mengetahui maksud ucapan Tuan Kim tersebut. Diskusi bersamanya selalu berakhir dengan sebuah misi untuk menghancurkan pesaing bisnis bos-nya itu.
"Yah! Salahmu kan!"
"Kenapa salahku?!"
"Puppy eyes gagalmu itu yang membuatnya pergi!"
"Dia saja yang––"
Sehun masih dapat mendengar suara teriakan Jongin yang terus saja menyalahkan Chanyeol. Ia ingin sekali berbalik dan kembali kepada kedua temannya itu namun, langkahnya semakin cepat saat ia merasakan hanphone-nya bergetar. Rupanya sang bos sudah tidak sabar untuk berdiskusi dengannya.
"Ya" ucapnya sambil mengangkat telepon itu, "Saya akan sampai dalam 20 menit"
.
ooo
.
"Tuan muda Oh" ucap salah seorang pelayan sambil membungkukkan badannya, "Tuan Kim sudah menunggu anda di ruang kerjanya" pelayan itu kembali membungkukkan badannya saat Sehun berjalan melewati dirinya.
Sehun terus berjalan di lorong-lorong rumah kediaman Tuan Kim. Ia sudah menghapal denah rumah ini di luar kepala bahkan ia juga mengetahui ruangan rahasia yang bahkan pelayan di rumah ini pun tidak tahu. Ruangan dimana Tuan Kim selalu menyusun semua rencananya untuk menghancurkan pesaing bisnisnya bersama dengan beberapa anak buahnya, termasuk Sehun.
Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya dan menghela nafas panjang. Perjalanan tadi cukup menguras energinya. Bagaimana tidak, biasanya ia membutuhkan waktu 45 menit untuk tiba di rumah ini namun hari ini, ia harus memotong waktu itu menjadi 20 menit. Jangan tanyakan Sehun mengapa ia bisa sampai di rumah ini dengan waktu yang begitu singkat karena ia juga sudah melupakan semuanya.
Ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan sebelum mengetuk pintu besar yang ada di hadapannya. "Masuk"
Sehun membuka pintu itu dengan perlahan. Ia berjalan masuk ketika Tuan Kim mempersilakannya untuk masuk. Sehun berdiri di depan meja kerja Tuan Kim dan menatap pria berusia 56 tahun itu. "Anda mencari saya?" ucapnya setelah beberapa saat.
"Duduklah sebentar" Tuan Kim menunjuk kursi yang berada di samping Sehun dan pemuda itu pun langsung menuruti perintah bos-nya itu, "Kita tidak akan membahas hal ini disini. Aku akan langsung membawamu ke tempatnya. Tapi… istirahatlah sebentar. Aku tahu jarak sekolahmu dengan rumahku ini cukup jauh. 20 menit merupakan hal yang luar biasa. Aku bangga padamu, Oh Sehun. Kau memang orang yang pantas untuk melakukan misi kali ini" ucap pria itu dengan seringai khasnya.
Pernyataan itu membuat Sehun sedikit mengerutkan keningnya tidak mengerti. Namun, ia tetap berusaha menampilkan wajah datarnya. Sedikit saja kau menampilkan emosi di hadapan pria ini, maka bisa-bisa kau menyesal seumur hidup. Pria ini bisa saja membunuhmu kali ini juga. Apalagi jika kau membantah dan menghianatinya, maka jangan harap kau bisa hidup karena detik selanjutnya kau bisa terkapar tidak bernyawa di tangannya. Sehun sudah mengetahui hal itu sejak ia masih kecil. Sudah berapa orang pegawai yang mencoba untuk keluar dari jeratan Tuan Kim namun tidak selamat. Darah mereka selalu membasahi tangan pria tua itu yang menjadikannya sebagai peringatan bagi pegawainya yang lain agar tidak menghianatinya.
Kau pikir pria itu gila?
Tentu saja.
Orang waras macam apa yang mengusapkan darah orang yang baru saja di bunuhnya ke wajah seluruh 'pegawainya' dan tertawa dengan terbahak-bahak saat melihat wajah mereka yang penuh dengan darah.
Jika kau menganggap orang itu waras maka kau lah yang harus pergi ke dokter jiwa dan memeriksakan dirimu sekarang juga karena mungkin saja kau juga gila seperti pria tua itu.
"Kita berangkat sekarang" ucap Tuan Kim 5 menit kemudian. Sehun segera bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti Tuan Kim berjalan keluar ruangannya.
Mobil mewah berwarna gelap milik Tuan Kim telah bersiap di depan pintu saat mereka baru saja keluar. Sang supir segera membukakan pintu untuk atasannya itu dan melajukan mobil mewah itu ke alamat yang sudah diberikan oleh sang bos sebelumnya.
Perjalanan menuju tempat yang disebutkan oleh Tuan Kim itu dipenuhi oleh keheningan diantara penghuni mobil. Tidak ada yang beniat untuk membuka mulutnya dan berbicara untuk sekedar memecah keheningan di antara mereka.
Membutuhkan waktu 45 menit bagi mereka untuk sampai di tempat tujuan mereka, sebuah kompleks perumahan mewah di daerah Pyeongchang. Mobil yang mereka kendarai terus melaju di antara rumah-rumah mewah yang berada di sana hingga sang supir menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak kalah mewah dengan rumah di sekitarnya. Rumah bercat putih itu terlihat mencolok dengan jendela yang cukup besar di pinggir pintu masuknya. Pagar rumahnya pun tidak terlalu tinggi seperti rumah lainnya sehingga membuat pejalan kaki dapat melihat halaman rumah tersebut yang dipenuhi oleh berbagai bunga yang sedang bermekaran.
"Oh Sehun" Mendengar suara Tuan Kim yang memanggilnya, Sehun segera mangalihkan pandangan matanya ke arah sang bos yang masih saja menatap rumah itu dengan seringai khasnya. "Kau lihat gadis yang sedang menyiram bunga itu?"
Kali ini Sehun mengalihkan pandangannya kepada gadis yang sedang merawat satu pot bunga mawar merah dengan sangat telaten. Rambut coklatnya ia ikat agar tidak mengganggu pekerjaannya. Sebuah apron berwarna biru muda melindunginya dari tanah yang mungkin saja dapat mengotori pakaian gadis itu. Sehun mengerutkan keningnya bingung. Apa hubungannya gadis yang sedang merawat bunga itu dengan misinya kali ini?
"Dia adalah putri tunggal dari keluarga Lu, keluarga yang baru saja pindah dari China beberapa minggu yang lalu. Perusahaan ayahnya baru saja merebut tender besar dari perusahaanku. Aku ingin kau membereskannya"
Sehun terus menatap gadis itu dengan teliti berusaha mencari alasan mengapa bosnya ini memintanya untuk membereskan gadis ini bukan ayahnya yang sudah membuat perusahaan Tuan Kim sedikit merugi akibat kehilangan tender itu. Sehun kembali berpikir keras sebelum akhirnya ia menjilat bibir bawahnya. Bukankah tadi Tuan Kim mengatakan bahwa gadis itu adalah putri tunggal dari keluarga Lu? Pantas saja… seorang ayah pasti akan hancur jika melihat putrinya mati iya kan? Walaupun memang tidak biasanya Tuan Kim mengusik keluarga pesaing yang menghalangi jalannya. Biasanya ia menyuruh pegawainya untuk langsung menghabisi orang-orang yang menghalanginya tapi untuk kali ini Sehun sedikit mengasihani gadis itu. Sepertinya tuan Kim sangat marah dan gadis itu harus menjadi korban dari kemarahannya itu.
"Kapan anda ingin melihat tubuh kakunya?" ucap Sehun. Sungguh, berurusan dengan seorang gadis adalah hal yang sangat mudah dan Sehun yakin, ia dapat menyelesaikan tugasnya dengan sangat cepat.
"Aku tidak ingin kau membunuhnya. Misimu kali ini adalah buat gadis itu jatuh cinta padamu kemudian hancurkan dia!" ucapnya dengan penuh penekanan, "Aku ingin ayahnya melihat penderitaan yang dialami oleh putri tercintanya itu sebelum kau membunuhnya"
.
ooo
.
Sehun berjalan dengan santai menuju kelasnya. Lorong sekolah yang dilewatinya masih terlihat sepi karena memang hari ini Sehun sengaja pergi pagi-pagi sekali. Ia ingat saat ia datang setelah sekolah mulai ramai, teriakan gadis-gadis di sekitarnya membuat telinganya sakit dan lampu flash kamera mereka juga sangat mengganggu dirinya. Ia bahkan harus berusaha dengan sangat keras untuk mencari cara agar gadis-gadis itu meninggalkannya.
Terkadang hal ini membuatnya heran. Sehun bukan seorang pemain film atau bahkan anggota boyband di Negara ini tapi mengapa gadis-gadis ini tidak mau meninggalkannya? Tidakkah mereka mempunyai pekerjaan lain selain menunggu kedatangan Sehun di depan sekolah dan mengiriminya surat cinta setiap hari?
Sehun segera mendudukkan dirinya di kursinya dan menghela nafas lega. Akhirnya, hari ini ia bisa terhindar dari kejaran gadis-gadis itu. Mungkin datang pagi-pagi sekali merupakan cara yang cukup tepat untuk menyelamatkan mata dan telinganya. Sehun mengotak-atik ponselnya kemudian mendengarkan lagu melalui earphone yang kini sudah dipakainya. Matanya tertutup saat merasakan semilir angin pagi yang membelai wajahnya.
DING
Matanya terbuka dengan perlahan saat mendengar suara ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Jongin.
From: Kim Jongin.
Message: Yah pemalas! Aku tahu kau pasti belum bangun. Aku dan Chanyeol akan datang ke rumahmu sekarang. Kami tidak mau tahu pokoknya kita harus berangkat bersama hari ini! Anggap saja sebagai balasan karena kau tidak ikut pergi bersama kami kemarin.
Sehun menghela nafasnya berat. Ia memang sedikit merasa bersalah karena sudah meninggalkan kedua temannya itu kemarin tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya sudah menunggu dan ia tidak dapat menghindari pekerjaannya itu. Bermain bersama dengan kedua temannya itu bisa ia lakukan nanti setelah semua pekerjaannya selesai. Walaupun Sehun masih belum tahu kapan hari itu akan datang.
To: Kim Jongin.
Message: Aku sudah di sekolah bodoh!
Sehun kembali menutup matanya saat mendengar lagu yang sedang diputarnya. Sekilas, senyum kecil dapat terlihat di wajahnya saat kilasan-kilasan masa kecilnya bermain di kepalanya. Ia sungguh-sungguh merindukan masa itu. Masa dimana mereka bertiga selalu bermain bersama, masa dimana ayahnya belum terlibat hutang yang membuat perusahaannya bangkrut… masa dimana dirinya belum terjerumus ke dalam pekerjaan kotor ini. Masa dimana dirinya dapat tertawa bahagia bersama dengan kedua temannya.
DING
From: Kim Jongin.
Message: Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh! Siapa yang kau katakan bodoh hah?! Chanyeol yang paling bodoh diantara kita bertiga!
DING
From: Park Chanyeol.
Message: Jongin yang lebih bodoh diantara kita bertiga! Bukan aku! Kau ingat saat ia menangis karena es krimnya jatuh? Wajahnya terlihat sangat bodoh waktu itu!
Sehun sedikit terkekeh saat membaca pesan dari kedua sahabatnya itu. Mereka adalah sedikit orang yang bisa memunculkan sedikit ekspresi di wajah datar seorang Oh Sehun. Well, mungkin hanya mereka berdua yang bisa membuat Sehun sedikit santai dan sedikit berekspresi seperti ini. Ia kembali mengetikkan beberapa kata di ponselnya itu sebelum ia kembali menutup matanya dan menikmati lagu yang masih berputar dari ponselnya itu.
To: Kim Jongin, Park Chanyeol.
Message: Kalian berdua sama-sama bodoh!
DING
From: Kim Jongin.
Message: Aku dan Chanyeol sepakat bahwa kau lah yang paling bodoh diantara kita! Titik. Kami tidak mau tahu pokoknya hari ini kita harus pulang bersama! Tidak ada alasan! Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita pergi bersama. Jika perlu, aku akan mengikatmu dan menyuruh Chanyeol untuk menyeret tubuhmu agar kau pulang bersama dengan kami. Jangan kabur bodoh!
Sehun kembali menghela nafasnya. Sepertinya hari ini ia harus membiarkan kedua orang itu berbuat sesuka mereka. Well, ia juga tidak berniat untuk kabur dari kedua orang bodoh itu.
.
ooo
.
Tepat pukul jam 8 pagi, bel tanda masuk sekolah berbunyi dengan sangat nyaring di seluruh penjuru sekolah menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Sehun masih duduk dengan santai di kursinya, sesekali membalas pesan dari Jongin dan Chanyeol yang mengatakan bahwa mereka akan sedikit terlambat hari ini karena bus yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok di tengah jalan. Sangat beruntung Sehun tidak berangkat bersama mereka pagi ini atau dia akan terlambat bersama dengan kedua temannya itu. Hukuman di sekolah ini cukup berat bagi siswa yang terlambat, pengurangan poin yang mereka dapatkan ketika ulangan dan mereka juga harus menerima hukuman fisik dari guru yang sedang piket seperti push up dan lari yang pastinya sangat menguras tenaga mereka.
Jongin dan Chanyeol baru masuk ke dalam kelas saat jam pelajaran kedua berlangsung. Kondisi mereka berdua sungguh memprihatinkan. Rambut dan pakaian yang sedikit berantakan akibat hukuman fisik yang diberikan oleh sang guru piket. Melihat keadaan keduanya yang begitu memperihatinkan, Park Seonsaengnim mengurungkan niatnya untuk kembali menghukum keduanya. "Segera duduk di kursi kalian masing-masing!" ucapnya tegas.
Chanyeol dan Jongin segera berjalan menuju bangku mereka yang berada di sebelah bangku Sehun. Mereka baru saja akan duduk ketika suara Sehun menghentikan pergerakan mereka, "Kalian terlihat sangat bodoh" ucapnya pelan namun cukup keras sehingga Chanyeol dan Jongin dapat mendengarnya.
"Kim Jongin! Park Chanyeol! Kalian akan duduk di bangku kalian atau berdiri di depan kelas!"
"Ne seonsaengnim!" ucap mereka sambil terburu-buru duduk di bangku mereka. 'Sialan kau Oh Sehun' gerutu mereka dalam hati.
Pelajaran kimia yang diterangkan oleh Park seonsaengnim membuat beberapa siswa tumbang. Beberapa siswa di dalam kelas itu terlihat tertidur saat Park seonsaengnim kembali menjelaskan materi ajarnya. Beberapa siswa lagi terus saja melirik jam dinding yang di pajang di depan kelas dan menggerutu mengapa jarum jam bergerak lama sekali. Mereka ingin cepat-cepat keluar dari neraka yang dibuat oleh Park seonsaengnim.
Sehun menatap guru di hadapannya dengan malas. Ia sudah menguasai materi ini, terima kasih kepada otaknya yang sangat cepat dalam menyerap informasi baru. Melihat gurunya itu terus menerangkan materi yang sama berulang kali membuatnya merasa bosan. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atik ponselnya itu, setidaknya game dalam ponselnya ini lebih menyenangkan daripada mendengar ocehan gurunya itu.
"Sel elektrokimia tersusun atas dua elektroda, yaitu anoda dan katoda. Pada anoda terjadi reaksi oksidasi, sedangkan pada katoda terjadi reaksi reduksi. Secara garis besar, sel elektrokimia dapat digolongkan menjadi sel Galvani dan sel Elektrosis. Sel Galvani adalah––"
TOK TOK
Suara ketukan pintu membuat Sehun mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang masih digenggamnya. Park seonsaengnim segera membuka pintu itu dan keluar dari ruangan, membuat beberapa murid bernafas lega karena mereka tidak harus mendengarkan ocehannya. 5 menit kemudian, Park seonsaengnim kembali masuk ke dalam ruangan bersama dengan seorang gadis yang mengikutinya dari belakang.
Gadis itu begitu familiar di mata Sehun. Tentu saja, Sehun baru saja melihat gadis itu kemarin siang dan ia tidak mungkin melupakan target dari misinya kali ini. Penampilannya kini sungguh berbeda dengan kemarin. Rambut coklatnya yang kemarin diikat kini dibiarkan terurai melewati bahunya. Sebuah bando berwarna pink bertengger dengan manis di atas kepala gadis itu.
"Anak-anak, hari ini kalian mendapatkan teman baru yang baru saja pindah dari China. Kau, silahkan perkenalkan dirimu"
Gadis itu tersenyum manis sebelum membungkukkan badannya, "Hallo… namaku Lu Mei. Senang berkenalan dengan kalian semua" ucapnya masih dengan senyum manis yang terkembang di wajahnya.
"Dia cantik sekali" Sehun mengalihkan pandangannya kepada Jongin yang berbisik kepadanya, "Tapi sayang… aku sudah memiliki Kyungsoo. Untukmu sajalah" Sehun hanya memutarkan matanya saat mendengar ucapan Jongin tersebut.
"Oh Sehun!" suara keras Park Seonsaengnim membuatnya kembali menatap ke depan kelas, "Aku memanggilmu dari tadi. Angkat tanganmu!" Sehun segera mengangkat tangannya sesuai dengan permintaan guru itu, sedikit kesal karena guru itu membentaknya tadi. Tapi… jika kau melihatnya saat ini, tidak terlihat rasa kesal di wajah tampannya. Hanya wajah datar tanpa emosi apapun… ekspresi khas seorang Oh Sehun. "Kau sudah mengetahuinya kan? Sekarang duduk di bangkumu! Aku akan meneruskan pelajaran hari ini!"
Gadis itu segera menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kursi kosong yang berada di samping Sehun. Ia mendudukkan diri di kursi itu dan mengulurkan tangannya kepada pemuda di sampingnya, "Hallo… kau Oh Sehun kan? Perkenalkan aku Lu Mei tapi kau bisa memanggilku Lumei. Semoga kita bisa menjadi teman sebangku yang baik ya" ucapnya ramah. Senyum manis itu masih mengembang di wajah cantiknya.
Sehun menatap tangan gadis itu yang masih menunggu uluran tangannya. "Hn" ucapnya singkat sebelum kembali memperhatikan Park seonsaengnim yang masih setia berceramah di depan kelas.
Melihat reaksi Sehun yang seperti itu membuat Lumei mengerucutkan bibirnya. Ia tidak menyangka bahwa teman sebangkunya merupakan sesorang yang sangat tidak asik untuk diajak bicara. Bahkan ia tidak mau membalas jabatan tangannya!
Tanpa gadis itu ketahui, Sehun sebenarnya memperhatikan gerak-geriknya itu. Sebuah seriangaian kecil terpajang di wajah tampannya. Well, sepertinya Sehun tidak perlu susah-susah mencari gadis itu. Kelinci buruannya telah datang dengan sendirinya.
Sepertinya, misi kali ini akan sangat mudah baginya.
.
TBC
Author Q&A:
Q: Lanjut!
A: Ini udah dilanjut kok. Semoga pada suka yaa sama ceritanya.
Q: Luhan tetep namja kan?
A: Iyaaa tenang aja, Luhannya tetep laki-laki kok hehehe.
Q: Lumei kakaknya Luhan?
A: Iya, Lumei itu kakak kembarnya Luhan.
Q: Bikin happy ending.
A: Buat yang ini, kita liat aja nanti okay? hehehe
Q: Disini Luhannya kembar?
A: Iya. Lumei kakaknya, Luhan adiknya.
.
ooo
.
Author Note:
akhirnya aku bisa nge-post chapter ini juga hehehe
moment Hunhan yang di the lost planet rehearsal bikin aku semangat buat bikin chapter ini sampe jam setengah 3 pagi! hehehe the power of Hunhan moment!
makasih buat readers semua yang udah bersedia baca chapter ini dan udah bersedia nge-review di chapter teaser kemarin. Review kalian juga bikin aku semangat buat ngelanjutin fanfic ini :D
aku tunggu review-nya untuk chapter ini yaaa kritik dan saran juga boleh.
kalo kalian punya pertanyaan juga boleh langsung ditanyain, ntar aku bahas di author Q&A selanjutnya.
mungkin sekian dari aku untuk chapter ini.
Oh iya. Aku mau ngucapin selamat berpuasa buat teman-teman semuanya yang sedang menjalankan. Mohon maaf kalo selama ini ada kata-kata dari aku yang kurang berkenan di hati kalian semua.
sampai jumpa di chapter depan!
see yaa!
(wave hand and vanish like a ninja)
Special Thanks:
junia angel 58, lisnana1, BaekLuluDeer, irna lee 96, overdosebcsexo, Chocoolatee, zoldyk, dan saY You
