"I bet you don't understand what i'm just saying, do you?"

Dia memiringkan kepalanya kesamping. Dinaikkan alisnya dan mata bulatnya mengerjap lucu. Bertingkah seakan benar-benar tak mengerti.

Aku menatapnya terdiam. Menemukan anak sekecil ini meringkuk kedinginan di taman yang diselimui tebalnya salju, dan alih-alih menangis sambil menggigil ia malahan tersenyum. Seketika itu juga aku mengernyit ngeri. Anak aneh.

"N-nugu ceyo?"

"What?"

Ia berbicara dalam bahasa asing. Bagaimana aku bisa mengerti? Tapi ... aku tak bisa meninggalkannya begitu saja di tengah hujan salju seperti ini.

.

.

.

Babysitting The Bunny Boy

Fiction Girl Trapped

Kyumin fanfiction

Disclaimer:

I own nothing but the story

Beware of the typo(s) and the wrong grammar

Don't like, don't read

.

.

.

enJOY

.

.

.


1 tahun kemudian

.

"Kyu hyung-ah!"

"Mwo?!"

"Ppalli!"

Kyuhyun mengacak surainya frustasi medengar teriakan imut yang diteriakkan dari arah dapur. Paginya selalu seperti ini, rusuh. Entah kenapa kebiasaannya tidur pagi sulit dihilangkan, sehingga ia sering bangun kesiangan. Salahkan game bodoh bernama starcraft itu.

"Makanya ... 'kan cudah Minnie bilang jangan main game telus, Hyung! Lihat, Hyung jadi bulu-bulu ceperti ini 'kan?" ujar seorang anak—berumur sekitar lima setengah tahun—yang sedang merapikan meja makan. Ia menggosok meja makan sambil terus mengoceh, mengomeli hyungnya. Sedangkan yang diomeli hanya memutar bola matanya jengah.

Kyuhyun melangkah terburu-buru ke rak sepatu, dan langsung terkejut melihat sepatunya menghilang. "Yak! Minnie, mana sepatuku?!"

"Minnie cuci!"

"Mwo?!"

.

Kyuhyun menatap sepatunya yang di jemur di pingggir jendela di ruang cuci dengan geram. Bukan kesal pada sepatunya, tapi pada bocah pelaku pencucian sepatunya. Dengan ini ia harus menggunakan sepatunya yang masih sedikit basah. Great!

"Sudah kubilang biar aku saja yang mencucinya! Dia bodoh atau bagaimana sih?!" ujar Kyuhyun menggeram. Rasanya ibarat balon yang tekanan udaranya mulai melebihi kapasitas maksimal ... dan hendak meledak.

"Tapi ... memang aku yang harus membeli sepatu lagi. Ah, sudahlah kali ini bocah itu kumaafkan."

Ia kembali ke ruang depan dan menemukan Sungmin sedang merapikan ruang TV. 'Rajin sekali dia.' batinnya sambil menggeleng heran pada sosok mungil yang sedang menyusun koran dan majalah. Kalau melihat yang seperti ini, selalu saja niat Kyuhyun untuk memarahi Sungmin memudar begitu saja.

"Min, aku pergi dulu ne?" ijin Kyuhyun. Sungmin hanya mengangguk tanpa menoleh. Entah kenapa ia selalu begitu setiap Kyuhyun hendak berangkat.

"Hati-hati ya, Hyung." ujarnya pelan masih enggan menatap lawan bicaranya. Entahlah, rasanya Sungmin selalu resah saat Kyuhyun hendak berangkat di pagi hari.

"Ne. Aku pergi dulu."

.

Sungmin menatap pintu yang tertutup seiring menghilangnya suara dan sosok Kyu hyung-nya. Ia menghela napas berat. Tidak rela, eoh? Setelah itu ditatapnya jam dinding yang digantung di dinding di atas TV di ruangan itu.

"Jam tujuh lewat ... cepuluh?" ujarnya sambil menghitung titik-titik menit dengan jari mungilnya. "Mwo? Lebih dali cepuluh ... eotteohkke? Minnie hanya bica belhitung campai cepuluh..." ujarnya sambil merentangkan tangan ke depan dengan wajah sedih yang sangat luar biasa imut.

Tak larut dalam kesedihannya yang hanya bisa berhitung hingga angka sepuluh, Sungmin melanjutkan kerjanya—bersih-bersih apartemen Kyuhyun. Setelah merapikan ruang TV, ia beranjak ke kamar hyungnya sambil menarik sebuah keranjang yang diikat ke tali. Sesampainya dikamar itu, Ia naik ke kasur Kyuhyun yang sangat besar menururtnya dan merapikan tempat tidur hyungnya dengan susah payah. Jika kalian lihat, mungkin tak serapi pekerjaan kalian.

But, what can you expect from the baby?

Ia mau dan BISA membantu saja sudah suatu anugerah. Setidakya begituah menurut Kyuhyun.

Setelah selesai dengan kasur besar itu, Sungmin turun dari kasur dengan melompat. Ia lalu berdecak heran melihat baju-baju berserakan di sekelilingnya. "Kyu hyung tampan, tapi jorok." ujarnya polos. Tangan mungilnya memunguti pakaian-pakaian itu, sesekali mengernyit ketika mendapati pakaian dalam hyungnya yang juga berserakan. Untung ini Sungmin yang melihatnya, coba kalian bayangkan jika yeojachingu Kyuhyun yang melihatnya? Ckck.

Dan untung saja ia tak memiliki yeojachingu.

Sungmin meletakkan pakaian kotor itu di keranjang yang ditariknya tadi. Ternyata itu fungsinya. Setelah itu ia beranjak ke kamarnya dan mengambil pakaian kotornya sendiri, menggabungkannya dalam keranjang dan menyeretnya ke ruang cuci. Ia mengambil kursi kecil di sudut ruangan dan menariknya ke samping mesin cuci. Diambilnya sebuah pencapit di rak di atas mesin cuci. Ia membuka penutup mesin cuci, lalu mencapit satu persatu pakaian dan memasukkannya ke dalam tabung mesin cuci. Setelah semuanya selesai, ia menuang detergent dan pewangi merangkap pelembut pakaian ke tepatnya di dalam tabung mesin cuci. "Satu sendok." ucapnya pelan saat enuangkan detergent. Ditutupnya penutup mesin cuci itu dan menekan tombol operasinya.

"Cha, celecai! Cekalang waktunya mengepel."

Yah, nampaknya waktu bebersih Sungmin akan berjalan panjang. Jadi, kita tinggalkan saja bocah imut ini dengan pekerjaannya, dan kita beranjak ke pemilik apartemen ini yang sekarang sedang berada di sekolahnya.

.

Kyuhyun mengetuk-ngetuk pulpennya ke kepala. Sesekali menggerakkanya dalam rangka mencoret-coret udara. Bibirnya sedikit terbuka sambil menggumamkan sesuatu. Matanya menutup dan alisnya bertautan seakan sedang memikirkan sesuatu.

"Fried oil!" pekiknya sambil membuka mata dan mengacungkan pulpennya ke langit.

BRAK

"Mr. Cho!"

Seketika itu juga, kelas menjadi hening.

"What do you think you're doing in my class, huh?!" bentak guru yang sedang mengajar di depan kelas sambil menggebrak meja. Ia merasa terganggu dengan teriakan Kyuhyun yang tiba-tiba. Seisi kelas menunduk, menegang ketakutan. Dan Kyuhyun hanya bisa meminta maaf sambil menunduk dalam-dalam. Namun guru itu tak melepas Kyuhyun begitu saja, "Meet me after school for an additional assignment, Mr. Cho!" ujarnya, lalu kembali mengajar di depan kelas. Dan Kyuhyun hanya bisa menghela napas dengan berat.

Life so tough, baby.

.

Jam menunjukkan pukul tiga siang. Artinya seluruh kegiatan hari ini telah selesai. Penghuni dari tiap kelas menghambur keluar, tak terkecuali Kyuhyun. Namun Kyuhyun tidak berjalan mengarah ke luar gedung sekolah.

Tok tok

Kini ia berdiri di depan pintu kayu yang bertuliskan nama guru pemilik ruangan tersebut, dan mengetuk. Oh, such a manners, Mr Cho.

Ia menunggu hingga sebuah suara berseru menyilakan dirinya masuk. "Come in."

Kyuhyun membuka pintu itu, "Excuse me, Sir."

"Oh, you. Sit, Mr. Cho." perintah Mr. Casey, guru Biologinya. Kyuhyun melangkah masuk dan duduk di kursi depan meja guru killernya itu, yang memakai kacamata dan menguncir rapi rambutnya—yang kelewat panjang untuk seorang namja—kebelakang.

Kyuhyun memperhatikan meja gururunya yang kelihatan sangat ramai. Ada lebih dari lima pigura disana, dan seluruhnya memuat foto seekor kucing berwarna abu-abu dengan mata kuningnya yang membulat sempurna. Tanpa sadar ia tersenyum. Ralat. Hampir terkekeh.

"What are you smiling at, Cho?" tegur Mr. Casey saat dilihatnya Kyuhyun hendak cengangas-cengenges.

"N-nothing, Sir." Jawab Kyuhyun sambil merapatkan kedua rahangnya.

"So, this is your assignment." ujar Mr. Casey sambil memberikan sebundel kertas—yang kira-kira setebal lima senti—kehadapan Kyuhyun.

"Oh really, Sir?!" Kyuhyun menatap tugas tambahannya dengan shock.

"Yeah," ujar gurunya sambil terkekeh. "I know you can finish it better and faster than everybody else."

Kyuhyun merengut di hadapan guru—yang katanya—killer tersebut. "You're always this mean, Hyung."

.

"Hey, Marcus!" sapa seseorang sambil menepuk bahu Kyuhyun saat ia hendak berjalan keluar gedung sekolah.

"What?" sahut Kyuhyun jengah. Ternyata ia masih kesal karena mendapat tugas tambahan.

"How can you out of that room and still alive like this, huh?"

'I hope I just die there.'

"You're so awesome!" seru orang itu lagi.

"Whatever." Kyuhyun berkata dingin tanpa menoleh pada sahabatnya yang masih dengan setia mengikutinya ke parkiran. Ia tahu jika ia diikuti, sayangnya dia sedang tidak ingin diganggu. Bahkan oleh sahabatnya. Maka dari itu, ia berbalik dan menatap sosok yang mengikutinya. "What do you want, Max?!" tukasnya kesal.

Sosok yang dipanggil dengan sebutan Max tadi mengernyit. "Is it about household needs?" tanya Max. Rasanya ia mencium permasalahan rumah tangga sahabatnya saat ia mengingat bahwa sekarang adalah pekan di akhir bulan.

Seketika itu juga Kyuhyun menatapnya tajam. "Don't say it like I'm a kind of housewife!" tukasnya kesal.

"Okay, okay ... chill out, mommy Kyu." ceplos Max membuat Kyu menjitaknya keras. Max pun meringis mengusap kepalanya yang terasa ngilu.

Ya memang setiap harinya Kyuhyun selalu memikirkan sesuatu seperti menu makan malamnya dan Sungmin, lalu bahan makanan, alat mandi, pakaian, dan kebutuhan hidup lainnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tinggal berdua dengan seorang bocah yang menjadi tanggung jawabnya.

Unless you guys wanna see him die in hungry.

Kyuhyun bergidik, merinding memikirkannya.

"So, how is that bunny doing?"

"He's doing just great." jawab Kyuhyun singkat.

'Too great indeed.' batinnya.

"Hey, Marcus ... can I go to your place?" tanya Max.

"What for?" tanya Kyuhyun balik sambil menatap Max dengan penuh selidik.

"Just ... hang out?" jawab Max sambil mengedikkan bahu.

"I'm busy." Balas Kyuhyun datar.

Max tertawa meremehkan, "Tsk, not with you, Cho. With Bunny Min of course." Jawabnya. Hey, ia jarang bertemu dengan bocah kelinci tersebut bukan. Dan sekarang dia merindukannya.

"No, he has to study. He also busy." Dan ini dia jawaban seorang Cho yang super protektif soal kepemilikan. Setidaknya dia lah yang merawat Sungmin setahun belakangan ini, bukan? Jadi Sungmin miliknya. Ya, begitu mungkin pikirnya.

"Then I'll teach him." Dan ternyata Max masih belum menyerah meskipun ia tahu bahwa Kyuhyun tak mengijinkannya secara halus. Tapi ia merindukan bocah manis itu. mau bagaimana lagi, bukan?

Dan Kyuhyun pun berpikir. Kalau ada Max yang mengurus Sungmin sementara ia bisa mengerjakan tugas tambahannya sedikit atau lebih banyak ... ya lumayanlah.

"Come on, can I? Can I? Can I? Pleassse?" pinta Max lagi.

"Do as you like." Jawabnya final. Bukan ide yang buruk juga.

"Yeah, that's my bro!" seru Max sambil merangkul bahu sahabatnya.

.

"Aku pulang."

Kyuhyun berseru ke dalam apartemennya. Berharap seseorang akan menyambutnya dengan sebuah pelukan, seperti biasanya. Namun harapan sekedar harapan. Apartemennya sunyi bagai tak berpenghuni.

"Yo, Cho. Where's Sungmin?"

"Sssh!" cerca Kyuhyun menyuruh Max untuk diam.

"Min? Apa kau di dalam?" panggil Kyuhyun. Rasanya ia pernah mengalami hal ini beberapa minggu yang lalu.

'Apa dia membuat masalah lagi?' batin Kyuhyun bertanya.

Kyuhyun melangkah ke kamar Sungmin. Kamar itu kosong. Terakhir kali yang diingat Kyuhyun saat kejadian mirip seperti ini terjadi, Sungmin bersembunyi di kolong kasurnya.

SRAK

Disibaknya seprai kasur Sungmin yang menjuntai hingga menyentuh lantai dan mengerutkan dahinya ketika tak menemukan apapun di kolong kasur tersebut.

"Hey, Cho. He's in your room." panggil Max.

"What is he doing?" tanya Kyuhyun sambil menghampiri kamarnya.

"Sleep."

"Well, what's you're gonna do then?" tanya Kyuhyun, mengingat sahabatnya ini datang untuk bermain dengan Sungmin. Sambil menunggu jawaban, ia memindahkan Sungmin yang tertidur di lantai—sambil memegang pensil—ke kasurnya. Dipungutnya buku milik Sungmin yang berisikan hasil latihan menulis abjad.

'proses pembelajarannya meningkat.' Pikirnya saat melihat tulisan bocah yang tertidur manis di atas kasurnya bertambah jelas dan rapi.

"Are you just asking me to leave politely, Mr. Cho?"

Kyuhyun hanya menjawab dengan kedikkan dibahunya.

"But I'm still not gonna leaving, you know?" ujar Max sambil nyengir kuda.

"Yea, I know." Jawab Kyuhyun datar sambil menghampiri kulkas. Diambilnya sebotol air dingin dan menenggaknya hingga setengah. "And I've told you ... do as you like."

"Yeay!"

.

Maka mereka berakhir dengan Kyuhyun mengerjakan tugasnya sendiri di kamar. Sedangkan Max bermain game di ruang TV—sambil sesekali meneriakkan kemenangannya.

"EOMMAAAAAAAA!"

Kyuhyun dan Max sama-sama tersentak dari kegiatan masing-masing. Dan dalam sedetik Kyuhyun membalikkan badannya menatap sosok mungil yang berbaring di atas kasurnya.

"HUWAAAANNNGG— EOMMAAAAAA— APPAAAAAA—!" sosok mungil itu berteriak nyaring, dan bisa dipastikan teriakan itu akan terdengar oleh para tetangga.

Seketika itu juga Kyuhyun menghampiri Sungmin yang mengigau, berteriak dengan kencangnya. Begitu juga dengan Max, "Hey, Kyu. Is he okay?" tanyanya.

"Sssht, Min ... ireona." panggil Kyu dengan lembut.

"What do you think he's dreaming about?" tanya Max lagi.

"I'm not really sure." jawabnya berbohong. Oh, sudah sekitar satu setengah tahun ia tinggal dengan bocah ini. Dan hal ini sudah tidak aneh lagi. "Minnie ... ppalli ireona." panggilnya lagi dengan lembut sambil menggoyang-goyangkan tubuh mungil yang sekarang malah menangis dalam tidurnya. "Sssht, uljima baby..."

Cup

Kyuhyun mengecup kening sang bunny, selama kurang lebih dua detik. Dan seketika itu juga Max melotot horror.

PLAK

"FOR GOD SAKE, HE'S JUST A BABY, YOU PERVERT!" pekik Max sambil menggeplak kepala Kyuhyun dari belakang. Baginya itu keterlaluan. Hei, jika itu hanya kecupan antar adik dan kakak semata, durasinya tak akan sampai dua detik! Itu berlebihan.

"WHAT?! YOU'RE THE MOST PERVERT! NOT ME! SO JUST SHUT YOUR MOUTH!" hardik Kyuhyun. Memang kenapa? Ia biasa melakukannya dengan Sungmin, mencium kening. Tak lebih.

"Eeuuunngh..."

Kyuhyun dan Max menoleh serentak.

"Kyu hyung?"

Kyuhyun membantu Sungmin duduk. "Max, could you bring me a glass of water, please?" pinta Kyuhyun sesopan mungkin. Sebenarnya Max tak suka di suruh, apalagi itu Kyuhyun. Namun ia tahu, bahwa itu untuk namja mungil yang baru saja terbangun.

Sepeninggal Max, Kyuhyun langsung duduk di samping Sungmin yang terdiam, dan memeluknya dengan lembut.

"Hyung ... eomma dan appa ... meleka tidur, ya? Tadi Min panggil eomma dan appa, tapi meleka nggak mau bangun, Hyung." cerita Sungmin. Ia mengeratkan genggamannya di baju Kyuhyun. Dapat diyakini baju Kyuhyun sudah lecek akibat tangan mungil itu.

Ia tidak terisak, tidak juga mengalirkan air mata. Namun Kyuhyun dapat merasakan detak jantung dari tubuh dalam pelukannya berdetak dengan keras, membuat Kyuhyun menahan napasnya sendiri.

Sudah setahun lebih sejak ia mengurus bocah ini, dan setahun lebih pula tak ada kabar dari pihak kepolisian. Berkali-kali ia berniat mengunjungi kantor polisi tepat pertama kali ia membawa Sungmin, namun entah bagaimana ia yakin permintaannya tak akan ditanggapi. Ia merasa bagai pecundang yang menyerah sebelum berperang.

Namun rasanya ada perasaan lain seperti ...

'Sungmin senang tinggal di sini, bukan?'

'Dia tidak pernah meminta pulang, bukan?'

'Jadi dia baik-baik saja, 'kan?'

Kyuhyun menoleh ke arah pintu kamarnya dan melihat sesosok manusia memasuki kamarnya.

"Here," ujar Max saat ia tiba dengan segelas air.

"Thanks." ujar Kyu, ia tersenyum dengan tulus.

.

Saat Sungmin bangun, Max langsung mengajaknya bermain. Sungmin yang memang jiwanya masih anak-anak tentu saja senang diajak bermain. Dan dnegan cepat meninggalkan pelukan hangat Kyuhyun hanya untuk berpaling pada Max.

"Aku dibuang begitu saja..." gumam Kyu sambil menatap tajam kepergian dua bocah berbeda ukuran tubuh itu. "Lihat saja kau, kelinci gembul!" Kyuhyun mengutuk. Oh, boy...

.

.

.

to be continnued—


HOW IS IT?

Mengecewakan? Semoga nggak.

Sebelum baca review, saya lupa lagi masuk bulan ramadhan ... dan berpikir buat bikin rate M? Saya merasa bodoh, sangat. Rasanya mau jedotin kepala ke panci panas. /GAK/

Mianhae ... *deep bow*

Jadi ya bulan ini mungkin rate-nya masih T. Alhamdulillah ya buat yang menunaikan ibadah puasa ... jadi nggak forbidden ff ini. Wkwk XD

Dan terima kasih buat yang mau memberi tanggapan untuk ff ini. Dan maaf kalo lama buat publish new chap-nya.

Dan ...

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

... bagi yang menjalankan.