The Almighty's Weakness

Naruto Masashi Kishimoto

Warning: Possibly out-of-character, typos, the fuck with this shit? Why so serious?

.

.

.

Di saat Hinata melangkahkan kakinya ke dapur, matanya langsung melotot lebar. Bagaimana tidak, kondisi di sana sudah separah kamar yang ditawarkan Sasuke padanya. Piring kotor menumpuk, tempat sampah penuh, dan meja makan berantakan. Ia tahu kalau pria memang tidak apik, tapi kakak sepupunya saja tidak separah ini. Hinata menulis catatan mental untuk merapihkan semua kekacauan ini nanti, setelah membuat makan malam―dan tambahan; tidak semua laki-laki tampan berkelakuan setampan wajahnya. Intinya, Sasuke jorok.

Dibukanya kulkas di sudut ruangan, dan lagi-lagi terkejut dibuatnya. Kalau dapur sungguhlah penuh dengan sampah-sampah berserakan, kulkas ini justru kosong melompong, sampai-sampai Hinata tidak menemukan botol berisi air satupun. Jika Hinata sudah mengalami disfungsi otak karena sambutan menyenangkan dari si tuan rumah barusan, ia sudah berteriak dan membereskan barang-barangnya ke dalam kulkas ini saja, daripada harus menyesuaikan diri di dalam gudang atau tidur di atas sofa. Berterimakasihlah pada mentalnya yang sekuat baja karena latihan ketat dari ayahnya.

Hinata tidak mau berpikir kalau ia yang harus mengisi kulkas ini, tapi setelah ia membalikkan badan dan menatap Sasuke yang sudah berada tak jauh di belakangnya, menyilangkan tangan di depan dada sambil bersandar di dinding, senyum menyebalkan itu masih terpasang, Hinata tahu kalau memang dirinya lah yang harus melakukan itu sekarang juga.

"A-aku pe-pergi keluar sebentar, Sa-Sasuke-kun."

"Kau mau ke mana?" Sasuke menautkan alisnya ke atas, berpura-pura tidak mengerti dengan pernyataan Hinata.

Hinata mengambil jaket yang lebih tebal dari dalam tasnya, menjawab, "K-ke minimarket di seberang."

"Kau ingin membeli makanan instan?" Sasuke mendengus tak suka. Hinata berjengit melihat pria itu melayangkan tatapan jijik terhadapnya. Padahal, memang itu yang sejak awal Sasuke ingin beli sedari tadi. Makanan yang mudah dibuat, sering diiklankan di televisi, dan tidak sehat jika dikonsumsi berlebih. "Kenapa tidak beli daging atau sayur-sayuran di supermarket yang buka 24 jam itu?"

"Ta-tapi itu jauh, Sasuke-kun. Se-sekarang sudah ha-hampir jam sembilan."

Pria berambut hitam itu mendekatinya, bercakak pinggang di depannya, masih dengan ekspresi yang dipertahankan, hanya sedikit tambahan raut wajah mengejek. "Memangnya kau apa? Anak kecil?" tanyanya. Dilihatnya Hinata menggeleng lemah. "Ini rumahku, aku yang punya aturan di sini. Kalau tuan rumah ini ingin makan selain makanan instan, maka kau akan membuatnya."

"Ta-tapi―"

"Tidak mematuhi perintah berarti kau siap melangkah keluar dengan membawa barang-barangmu. Mengerti?"

Hinata tidak mengangguk. Hinata tidak mau mengangguk, begini-begini ia juga bisa keras kepala.

"Sana pergi, cepat! Aku lapar."

Hinata mengagguk.

Gadis berambut sepinggang itu langsung berlari keluar saat mendengar bentakan Sasuke. Ia meraih dompetnya dan memakai sepatunya. Sebelum membuka pintu dan menghilang, Hinata menyempatkan diri berbalik badan, menatap Sasuke yang sudah kembali terpaku pada tayangan di televisi. "Pi-pintunya ja-jangan dikunci, Sasuke-kun." Ia mendengar Sasuke bergumam tak jelas di sana. Setidaknya, Hinata tahu kalau Sasuke tidak akan mengabaikannya lagi seperti tadi. Hinata boleh baik hati, tapi jelas-jelas ia tidak bodoh. Ia tahu Sasuke sengaja membiarkannya menunggu di luar, walau kata ketiduran memang terdengar logis dan dapat diterima akal. Tetap saja, lima jam? Gila memang Sasuke itu.

.

.

.

"I-ini... terkunci?"

Hinata ingin menjerit dan menendang pintu di hadapannya. Ia baru saja pulang dari supermarket dan membelikan apa yang Sasuke minta. Di perjalanan pulangnya, ia sempat berkelahi (untung Neji pernah mengajarinya gerakan karate dasar agar Hinata dapat melindungi diri kalau kakak sepupunya itu tidak ada) dengan sekumpulan pria mabuk yang mencegatnya saat memotong jalan melewati gang kecil. Hinata juga bahkan harus berlari dari anjing yang mengejarnya karena bau daging di kantong belanjaannya. Sekarang apa? Sasuke menguncinya di luar lagi? Belum cukupkah kesialan yang ia terima hari ini?

Rasanya Hinata ingin mengadu pada mendiang ibunya. Menceritakan kekejaman yang Sasuke timpakan terhadapnya. Tapi, Hinata bukan anak kecil. Ia sudah mengaku pada Sasuke kalau ia bukanlah anak manja yang takut keluar malam sendirian. Menunggu lima jam lagi tidak terlalu terdengar mengerikan sepertinya. Mungkin?

"Sa-Sasuke-kun?" Hinata mengetuk pintu apartemen itu. "Sasuke-kun?" Ia memencet bel tiga kali berturut-turut. "Sasuke-kun!" Hinata berteriak sambil menahan tangis. Ini ajaib. Belum pernah Hinata mengeluarkan suara selantang itu. Ia merasakan adrenalinnya terpacu saat menjerit tadi. Perasaan apa yang membuat jantungnya berdesir ini? Darah-darah di dalamnya seakan mengakselerasi kecepatan penuh mengelilingi tubuhnya. Mungkin ia akan lebih sering berteriak kalau rasanya semenyenangkan ini. Pantas Sakura selalu terlihat bahagia.

Tiba-tiba, pintu terbuka, memperlihatkan Sasuke yang merengut tak suka. Hinata ingin bertanya pada pria di hadapannya, apa ia punya ekspresi lain selain raut muka yang seakan meminta diludahi? Tapi, Hinata menelan pertanyaannya dalam-dalam. Ia tidak mau Sasuke memarahinya lagi. Sudah untung dibukakan pintu.

"Sudah pulang?" tanya Sasuke acuh tak acuh.

Hinata mengangguk kecil, sesekali sesenggukan menahan tangis. Ia tahu Sasuke di balik pintu sedari tadi, tertawa iblis seakan dirinya antagonis seperti dalam serial drama mingguan di televisi, menunggu Hinata, sang protagonis yang selalu tertindas bagai bawang putih menangis dan memohon-mohon. Sedangkan Sasuke adalah bawang merahnya―tidak, Sasuke adalah bawang merah yang diulek bersama empat puluh buah cabai. Pedas!

"A-aku buatkan makan malam dulu."

"Hn."

Melalui sudut matanya, Sasuke mengikuti gerak-gerik Hinata. Bagaimana sang gadis menyimpan jaketnya di sandaran sofa sebelum menyibukkan diri di dalam dapur. Ia akui, Hinata berubah banyak. Rambutnya sudah panjang, badannya juga semakin bebentuk―sebagai lelaki normal, Sasuke pasti memperhatikan beberapa bagian tertentu dahulu. Yang masih sama mungkin sifat pemalu dan kikuknya―jangan lupakan rasa takutnya pada kecoak juga. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Terakhir melihat Hinata, kalau tidak salah saat pengumuman kelulusan SMP. Karena Sasuke memutuskan untuk melanjutkan SMA di sekolah khusus anak laki-laki, sejak itulah ia tidak pernah melihat Hinata lagi.

Dari dulu, Sasuke sering menjahili Hinata. Ada kepuasan tersendiri jika ia bisa membuat gadis itu menangis. Ia senang saat Hinata memohon-mohon agar Sasuke mengembalikan mainannya, atau berhenti menakut-nakutinya. Tapi, sejujurnya, ia tidak mau bertemu Hinata lagi. Itu adalah alasan pertama kenapa ia menolak mentah-mentah perintah ibunya untuk menyediakan ruangan kosong bagi gadis itu menetap sementara.

Sasuke ingat jelas, ia bisa mendeskripsikan secara detail dan berurutan kenapa ia begitu tidak mau menemui gadis ini, kenapa ia ingin saat kelulusan SMP dulu adalah pertemuan mereka yang terakhir. Dan Sasuke membenci mengakui kalau ia tidak dapat menghapus semuanya. Ia tidak dapat melupakan apa yang telah ia perbuat pada gadis tersebut.

Tanpa Sasuke sadari, ia sudah berjalan perlahan mendekati teman sejak kecilnya itu. Tangannya bergerak ingin menyentuh surai halus yang terlihat lembut dan memanjakan indra perabanya, ingin merasakan telapaknya menyusuri tiap helai-helai yang menyangkut di sela-sela jari jemarinya, ingin menyesap wangi manis yang menyeruak dan nakal menggoda penciumannya, ingin―

"A-aw!"

Sasuke sontak menarik paksa tangannya yang tertahan di udara. Disembunyikan lengannya itu di belakang punggung sambil sedikit merutuki kelengahannya. Ia sedikit mengintip melalui pundak gadis itu dan melihat Hinata sedang memijat pelan jarinya yang mengeluarkan darah. Pisau dapur tergeletak tak tersentuh untuk beberapa saat selama Hinata membersihkan noda darah di wastafel.

Mendengus kesal, Sasuke menarik Hinata agar menghadap ke arahnya, mendesis, "Selalu ceroboh!" sementara tangannya yang bebas berusaha meraih kotak obat yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Dengan hati-hati, pemuda jangkung itu menempelkan plester pada telunjuk yang terluka. Berusaha tidak menekan jari ramping itu terlalu kencang. Tanpa sadar, Sasuke menahan napasnya sendiri. Pantas, terasa ada yang sesak sedari tadi.

Setelah selesai, Sasuke mengadahkan kepalanya sedikit, dan langsung bertemu pandang dengan sepasang iris lavender yang membesar, membuat mata sang gadis semakin bulat.

Perlahan, pipi bundar nan padat yang pucat berubah pekat, mengingatkan Sasuke akan roti kukus yang biasa ia konsumsi sebagai panganan ringan saat siang. Sasuke penasaran, kalau digigit, apa legit cokelat akan ikut melebur keluar? Meleleh di atas lidahnya yang meradiasi panas? Kendati rasa manis dibencinya, ia tak menyangkal jika itu candu dan sungguh adiktif.

Mencoba sedikit, tidak apa-apa, kan?

"Sa-Sasu―"

Suara Hinata tercekat saat Sasuke memajukan wajahnya ke arahnya. Ia ingin memalingkan kepalanya, tapi kedua manik obsidian itu seakan menghipnotis segala pergerakannya. Sasuke kan bukan pesulap―setidaknya, itu yang Hinata ingat terakhir kali.

Semakin lama, jarak keduanya semakin menipis. Deru napas hangat saling menerpa wajah satu sama lain. Ujung hidung Sasuke sudah hampir menyentuh ujung hidung Hinata. Mengetahui hal itu, Hinata menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba Sasuke menjauhkan kepalanya dan―

JDUAKH!

"A-aw! Sa-sakit!"

Hinata meringis. Sekonyong-konyong, ia menyentuh keningnya yang perih karena hentakan dadakan yang Sasuke lakukan.

"Rasakan! Makanya, cepat-cepat pergi dari sini!" Sasuke langsung menghilang ke dalam kamarnya sendiri. Langkahnya agak diburu dan―kalau Hinata tidak salah lihat, selayang pandang ia mendapati warna merah menjalar sampai telinga Sasuke.

Hinata bergidik. Sasuke? Malu? Dua kata yang tak dapat disandingkan bersebelahan, kecuali ada tambahan lain seperti 'tidak tahu' di antara Sasuke dan malu. Itu Hinata baru bisa percaya.

Ngomong-ngomong, sakit, tahu!

Sasuke itu kepalanya batu atau beton, sih?!

"Sasuke-kun aneh," bisik Hinata pada dirinya sendiri. Ah, biasanya juga memang aneh.

Hinata kembali menyibukkan diri dengan daging sapi yang sempat terabaikan. Diirisnya tipis-tipis daging di atas talenan, lebih berhati-hati karena ia tak mau kejadian barusan terulang. Matanya boleh fokus pada pisau yang ia pegang, tapi Hinata merasa saat ini pikirannya sedang mengambang, terapung dalam lautan memori yang dalam, berusaha berenang ke tepian mencari kotak harta yang terpendam.

Jauh, jauh, semakin jauh, dan Hinata tenggelam. Kakinya mendadak tertarik ke bawah, bersamaan dengan nyeri yang ia rasakan di keningnya.

Jari yang terbalut plester diangkat untuk menyentuh pedih yang menyiksa. Ini bukan bagian di mana Sasuke menghentakkan tulang tengkoraknya yang keras itu ke arahnya, melainkan tempat di mana ia merasakan berbagai macam perasaan yang bercampur menjadi satu.

Sesak dan perih mendominasi.

Hinata tak tahu kalau sakitnya bisa muncul kembali. Padahal, selama ia belum bertemu pemuda raven itu, Hinata tak merasakan ada masalah apa-apa. Baru ketika Sasuke menatapnya begitu ... intens, seakan menggali matanya lebih dalam, berusaha menerjemahkan gerak maniknya yang tak mau diam―gelisah, Hinata diserang sakit yang teramat, bagai luka lama yang dibubuhi garam.

Matanya ditutup erat, berusaha melupakan pening yang meradang. Setelah beberapa saat, Hinata merasa tenang seperti sedia kala.

Aku tidak mau mengingat itu.

.

.

.

Sasuke berbohong kalau ia tak tergoda dengan santapan di meja makan, lagipula harga dirinya sudah menyegel air liur yang mati-matian ditahan di dalam mulut. Wangi daging sapi menguar dari mangkuk biru polos yang biasanya terisi ramen murahan. Bahkan, nasi putih saja terlihat sangat menggiurkan.

Seumur ia hidup di apartemennya sendirian, belum sekalipun makanan rumahan tersedia begitu apik dan lengkap. Lidah Sasuke merasa dimanja malam ini.

Sasuke melahap hidangannya dalam diam, begitu pula gadis bersurai indigo di hadapannya. Mereka cukup mengerti tata krama saat jamuan berlangsung, maka tak ada suara gaduh percuma yang mengusik kenikmatan.

Di sela-sela kegiatannya mengunyah, Sasuke melihat bekas merah tepat di tengah kening Hinata yang poninya agak tersibak. Oh, gara-gara yang tadi.

Sejujurnya, Sasuke tak tahu apa yang baru saja merasukinya sampai lengah berbuat begitu pada Hinata. Untung saja kesadarannya muncul di saat yang tepat. Kalau tidak, Sasuke tak tahu harus berkomentar apa. Hinata terlihat sangat ... menggoda. Hidung yang menggemaskan untuk dijawil. Pipi yang seakan berteriak meminta dicubiti. Belum lagi bibir mungil yang berisi itu terlihat merah merekah apalagi setelah digigiti berkali-kali karena kebiasaannya saat gugup.

Laki-laki normal mana yang tak meneguk ludah melihat sosok Hyuuga Hinata? Sasuke bukanlah pengecualian. Tapi, ia mengecualikan dirinya sendiri karena gadis yang dimaksud adalah Hinata, teman saat kecilnya dulu, orang yang paling tidak ingin ia temui.

Manik onyx Sasuke berhenti di kening bagian kanan milik Hinata. Ada perasaan sesak tiap kali ia melihatnya. Tanpa tahu sopan santun, sumpit yang baru saja ia masukkan ke dalam mulut untuk menyuapi potongan wortel tadi menunjuk ke arah yang menjadi objek perhatiannya.

"Kena?" tanyanya tanpa basa-basi.

Hinata terdiam sejenak, berusaha menyaring pertanyaan mendadak dan tidak jelas milik Sasuke. Saat tahu ke mana mata Sasuke memusat, Hinata mengerjapkan matanya berulang kali sebelum menjawab, "Ti-tidak. Su-sungguh, tidak kena, kok. La-lagipula, sudah tidak apa-apa... sudah lama."

"Oh."

Hening kembali merajai sudut ruangan sampai kedua manusia di dalam menghabiskan makan malamnya. Sasuke beranjak duluan, meninggalkan piring dan mangkuk tergeletak begitu saja di atas meja.

"Kau tidur di mana?" Sasuke bertanya sambil melangkah ke arah kamarnya.

"S-sofa, Sasuke-kun," Hinata menjawab dengan suara agak dikeraskan.

"Hn."

Gadis itu melihat Sasuke lagi-lagi menghilang, meski hanya sekejap dan kembali dengan sebuah bantal dan selimut. Hinata melayangkan senyum tanda terima kasih. Siapa sangka Sasuke bisa semanis ini.

"Ingat, Hinata, kau cari apartemen baru dan sebisa mungkin cepat-cepat tinggalkan rumahku!"

Yah, walau hanya beberapa detik sebelum sifat menyebalkannya kembali lagi.

"I-iya, a-aku akan me-mencoba mencarinya nanti."

"Jangan nanti, sekarang!"

"I-iya!"

.

.

.

Hinata berusaha menutup matanya rapat-rapat. Ini bahkan belum tengah malam, tetapi suara dengkuran Sasuke sudah membuat Hinata tetap terjaga. Ia sekarang sedang berbaring di atas sofa yang cukup membuat punggungnya merintih tak karuan dan tidak nyaman―belum lagi suara mengerikan yang berasal dari kamar Sasuke hanya memperparah keadaan.

Tangannya bergerak berusaha melindungi telinga dari suara berisik yang mengganggu. Namun, semakin lama, justru suaranya semakin menusuk pendengaran. Seakan-akan ingin membuat Hinata meledak―dan ya, memang berhasil. Karena saat ini Hinata benar-benar merasa kesal. Sasuke sengaja melakukannya agar ia tak bisa tidur nyenyak.

Kekanakan! Tidak berubah!

"Sa-Sasuke-kun?" Hinata mengetuk pintu kamar Sasuke berulang kali. "Bi-bisa kecilkan suaranya tidak?" mohonnya dengan nada memelas.

Tapi, suara di dalam justru menjadi lebih menggila. Itu tidak terdengar seperti suara dengkuran manusia lagi. Seakan-akan seekor singa sedang mengaum di sana. Sasuke tak mungkin diam-diam memelihara singa, kan? Setidaknya pertanyaan di atas terdengar lebih ... normal dibandingkan pikiran Hinata tentang Sasuke yang tiba-tiba bermetamorfosis menjadi seekor singa dan hampir membuat gadis itu ingin membenturkan kepala ke dinding agar mendadak amnesia.

Hinata memberanikan diri membuka pintu kamar Sasuke. Apapun itu, harus dihentikan. Bisa tak tidur semalaman ia nanti kalau diteruskan. Ternyata, pintu kamar Sasuke terbuka. Hinata penasaran, apa Sasuke tak takut diapa-apakan olehnya sampai tidak mengunci kamarnya sendiri? Mungkin Sasuke hanya yakin kalau Hinata tak mungkin punya niatan sekotor itu, dan Hinata senang kalau memang itu alasannya.

Saat Hinata sudah membiasakan matanya dengan kegelapan di dalam ruangan pribadi Sasuke, ia benar-benar dikejutkan dengan pemandangan yang disediakan di depan. Bayangkan! Uchiha Sasuke sedang tertidur lelap di atas kasur berkapasitas dua orang, dililit selimut tebal dan nyaman (berbeda dengan selimut yang lebih tipis yang Hinata pinjam darinya), memeluk bantal, dan jangan lupakan headphone yang terpasang manis di kepala. Sementara di atas meja tak jauh dari tempat tidur, Hinata melihat DVD Player menyala dan memainkan suara-suara yang mengusiknya sedari tadi.

Oh, sungguh―benar-benar keterlaluan! Itu membuat Hinata marah. Pertama kali dalam hidupnya, Hinata ingin sekali membekap Sasuke dengan bantal sampai tewas. Tapi tentu saja, semua hanya berputar di pikirannya. Karena itu tidak mungkin Hinata lakukan. Memotong ayam mati utuh menjadi potongan yang lebih kecil untuk dijadikan sup saja hati Hinata masih mencelos, apalagi mencincang daging Sasuke yang berpotensi menyerangnya balik.

Berjingkat agar tak membangunkan Sasuke yang tertidur nyenyak, Hinata berusaha mematikan kaset yang berputar. Ia tersenyum puas saat usahanya berhasil. Namun, ketika baru saja badannya berbalik untuk kembali, sebuah tangan dingin mencengkram erat pergelangannya dan membuatnya hampir menjerit.

"Kau," suara mendesis seperti ular membuat tengkuk dan bulu kuduk Hinata menegang. "Kau pikir apa yang kau lakukan di kamarku, hah?!"

"A-aku h-ha-hanya me-me-mema-mematikan i-itu s-saja... su-sungguh!"

Sasuke di belakangnya mendengus. Siapa yang harusnya marah, sih? Hinata kan jadi bingung sendiri.

"Pertama, kau berani masuk ke kamarku," Sasuke memaksa Hinata menghadapnya, hanya untuk ditunjukkan wajah ketakutan milik gadis di hadapannya. "Kedua, kau menyentuhku!"

"Sa-Sasuke-kun yang menarikku duluan."

Sasuke langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik punggungnya.

"Ketiga, cepat keluar dari sini dan cari tempat tinggal baru!"

Diteriaki begitu, sontak membuat Hinata melompat dan berlari kembali ke atas sofa. Ia buru-buru membungkus tubuhnya dengan selimut. Hinata tahu, Sasuke sangat membencinya, sama seperti ia membenci Sasuke. Jadi wajar, kalau Sasuke sangat ingin ia segera mengangkat kakinya dan melangkah keluar dari sini. Dan Hinata, meskipun kesal, ingin juga cepat-cepat lenyap dari jarak pandang Sasuke. Sayang, Neji belum mengabarinya apapun tentang apartemen lain, meskipun beberapa jam baru terlewat. Mungkin, mereka harus terbiasa dengan presensi masing-masing untuk beberapa waktu lagi. Semoga saja besok Hinata dapat mengemas barang-barangnya dengan bahagia tanpa ada kekecewaan terbesit sia-sia.

.

.

.

TBC

(A/N: Maaf kalau chapter ini mengecewakan dan membosankan. Karena sejak awal, saya pengen bikin slow-build relationship. Nggak mau buru-buru mereka jadian *aduh spoiler -u-

sasuhina69, wkwkwk iya, Ukey emang jahil. Mukanya aja petakilan *tewas dichidori* Makasih review-nya!

hikarishe, semoga tetap seru sampai ke sananya ;u; Tenang aja, bakal diselesain kok... paling bertahun-tahun. Ehehehe... bohong. Sumpah. Makasih review-nya!

lovely sasuhina, dari sebelum lahir juga udah nakal. Pas masih di dalem perut hobi banget narik ari-ari sampe maen lompat tali pake itu. Wkwkwk. Ukey bukan buta hati... dia emang nggak punya hati :| Hahaha. Makasih review-nya!

An Nisa Maharani, arigachuu udah suka *hugs* Iya, bakal selalu diusahain, kok. Saya juga excited sendiri bikin cerita ini. Makasih review-nya!

Shionna Akasuna, ini belum seberapa kekejamannya. Dia sebenernya lebih keji dari ini wkwkwk. Makasih review-nya!

NurmalaPrieska, yeeey, ini kelanjutannya! Jangan bosen ya bacanyaaa. Makasih review-nya!

hina hime, dia bakal lebih sadis lagi nanti mwahahaha. Makasih review-nya!

Wanda Grenada, nanti nggak akan kok, Hinata bakal jadi kuat, bakal kebal sama amukannya Sasuke wkwkwk. Makasih review-nya.

HachiBee, hwaaaa! Kita manggilnya sama, Ukey! XD wkwkwk. Tenang, dia nggak akan gitu selamanya... dan saya juga nggak tega ngebuli Hinata terus-terusan ;u; Makasih review-nya!

Pikajun, panggil nju aja, saya bukan thor, apalagi captain america XD Iya, Ukey emang jelek! Jelek banget! Pokoknya jeleek! *tewas* Dia tertutup karena suatu alasan yang hanya dia sendiri yang tahu, biarlah semua terkuak nanti bersama waktu *sok misterius* Makasih review-nya!

BlaZe Velvet, ini kelanjutannyaaaa! Semoga tetap terhibuuur, yaa! Arigachuu lohh udah bilang lucu, padahal nggak niat, udah kebiasaan aja gitu ;u; Makasih review-nya!

Shoeen, hehehe, emang pengennya alurnya emang nggak cepet-cepet, sih. Soalnya kagok nulisnya wkwkwk. Arigachuu iihh, udah manggil saya nju juga aiiiih *hugs* Makasih review-nya!

HipHipHuraHura, huaaa saya bukan thooor ;u; Panggil nju ajaa~ Tenang kok, tenang, masih banyak dere(?) Sasuke yang lain yang nanti bakal muncul wkwkwk. Makasih review-nya!

-nju)