Ini adalah hari kedua para murid bersekolah pada tahun ajaran baru.

"GHAES!"

Satu kelas menoleh ke arah Taiga Kagami yang datang dengan wajah cukup pucat di ambang pintu kelas.

"ADA KABAR GAK GEMBIRA!"

"Kulit manggis, kini ada ekstraknya~ Eh―gak gembira gimana maksudnya?" Shin Izuki yang tadi menanggapi seruan Taiga dengan tag line iklan sebuah produk, kini menyadari bahwa ada yang salah. Pun dengan teman-temannya yang langsung menoleh.

"Sebenernya...," ia melirik ke kanan. Satsuki sedang berjalan menuju kelas dan baru saja kembali dari mading depan ruang guru sambil membawa peralatan tulis.

Kelas XI MIA 2 sudah berdebar, menantikan kabar yang hendak disampaikan.

"Nanti ajalah sama Momoi soalnya dia yang lebih tau."

Hening.

Hari ini Taiga berhasil menghindar dari lemparan gunting, namun kepalanya menjadi korban lemparan sapu oleh Kazuna.

..

..

..

Kelas 11

..

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Friendship, General, Romance (seiring berkembangnya jalan cerita)

T+ for bahasa

Warning: sangat OOC, typos, Indonesian!AU, bahasa tidak baku dan kasar, genderbend, straight, Bokushi!Aka.

A/N: 1) Latar di Indonesia dengan keseharian anak SMA pada umumnya. 2) Beberapa terinspirasi dari kisah nyata yang sedikit diremake. 3) Berhubung ini di Indonesia, saya bingung apa nama panggilannya juga harus pakai suffiks (ex: Akashi-kun, Momoi-san; kayak di canon aja pokoknya). Saran? :')

..

..

..

Jadwal Pelajaran


"Jadi guys," Satsuki berdiri di depan papan tulis sambil mendekap buku yang ia bawa. "Gue mau nyatet jadwal pelajaran selama satu semester, dan ini katanya udah fix!"

Semua murid tahu kalau Satsuki gemetar menyebut kata fix.

"Oke, lanjut," kata Shigehiko.

Jadwal pelajaran XI MIA 2

"Err―" aduh, Satsuki sendiri ragu hendak menuliskannya atau tidak.

Senin

Upacara bendera

Sejarah―

"Aduh firasat gue kok ga enak ya ssu." ―Ryouko Kise, bersama beberapa murid yang sebenarnya sangat anti dengan pelajaran ini.

Senin

Upacara bendera

Sejarah: Araki Masako―

"HUANJER BU ARAKI LAGI!"

"Eh syalan ya―!"

"Kamvret―!"

Sekadar informasi, Bu Araki Masako ini adalah salah satu guru veteran SMA Teikou yang mengajar sebagai guru sejarah dan selalu memberikan tekanan pada murid-muridnya. Beliau juga tidak segan-segan untuk memberi banyak tugas dan menyindir murid yang dianggap tidak menyenangkan untuknya. Tidak ada murid yang berani mencari masalah dengannya―bahkan Seijuurou dan guru-guru muda saja segan.

Dosa apa mereka sehingga harus dihadapkan dengan guru killer tersebut pada hari pertama setelah libur, dan pelajaran pertama pula.

"Dikira dia bakal berhenti ngajar terus pindah ke Inggris sana. Jauh-jauh lah sono ke Inggris asdfghjkl!"

"Parah ya, rumornya bilang 'taun depan udah ga ngajar lagi karena mau ngundurin diri terus nemenin mantunya!' Udah tiga taun ada gosip kek gitu, malah ada terus tuh guru!"

"Moi, mata lu picek kali."

Sebuah penggaris berukuran lima puluh sentimeter melayang ke arah Shougo Haizaki. Pelakunya tak lain adalah Momoi yang menyerukan, "sembarangan ya lu!" di depan kelas sana.

Senin

Upacara bendera

Sejarah: Bu Araki Masako

Istirahat

B. Inggris: Bu Alexandra Garcia

Istirahat

Matematika: Pak Nash Gold Jr.

"Duh, ngebul lah jam terakhir MTK," komentar Koutarou Hayama.

"Tapi masih mending Pak Nash, nanodayo. Kata kakak kelas beliau cara ngajarnya enak." Shintarou menimpali.

Selasa

Penjas: Pak Aida Kagetora

Ekonomi: Pak Katsunori Harasawa

Istirahat

PKn: Pak Genta Takeuchi

Istirahat

B. Jepang: Pak Shirogane Eiji

B. Indo: Pak Shirogane Kozou

"Aman, aman. Seenggaknya hari Selasa ini longgar." Kali ini Shigehiko yang berkata.

Rabu

Kimia: Pak Naoto Sanada

Fisika: Pak Kiyoshi Teppei

Istirahat

B. Jepang: Pak Shirogane Eiji

Istirahat

B. Indo: Pak Shirogane Kozou

Matematika: Pak Nash Gold Jr.

"Parah habis Kimia langsung Fisika. Ngebul, ngebul tuh otak!"

"Seenggaknya habis kedua mapel itu kita bisa napas."

Hening. Satsuki sampai berhenti menulis sesaat.

Kamis

Biologi: Pak Yoshinori Susa

Istirahat

B. Inggris: Bu Alexandra Gracia

Matematika: Pak Nash Gold Jr.

Istirahat

Kimia: Pak Naoto Sanada

"Fifty fifty lah," komentar singkat Sousuke Wakamatsu yang disetujui para murid di kelas itu.

Jum'at

Fisika: Pak Kiyoshi Teppei

Biologi: Pak Yoshinori Susa

Istirahat

Seni Budaya: Pak Masaaki Nakatani

Berhubung jam sekolah hari Jum'at sangat singkat, maka hanya ada tiga pelajaran yang mengisi. Sabtu adalah hari libur yang wajib dan hanya diisi oleh ekstrakurikuler.

"Udah ya, catet semua!" Perintah Satsuki yang langsung duduk kembali di bangkunya.

"Ck." Daiki Aomine berdecak. Teman sebangkunya melirik. "Mine-chin napa?"

Buku tulis ditutup kasar. Daiki bersandar dan kedua tangannya bersilang di belakang menumpu kepala. "Males aja, masa hari pertama langsung ketemu sama guru killer itu sih, malesin banget elah."

Daiki punya masa lalu kelam berhubungan dengan mata pelajaran sejarah. Ia mangkir ketika ada uji praktik presentasi perorangan bersama beberapa temannya yang lain, sehingga nilai yang tertera pada rapornya adalah 70―di bawah KKM yang seharusnya adalah 75. Bahkan tugas presentasi itu masih saja ditagih sampai ia kelas 11, karena adalah hal yang kurang patut jika ada siswa dengan nilai rapor di bawah KKM―alias bermasalah. Begitupun dengan beberapa siswa kelas XI MIA 2 yang pada masa itu melakukan hal serupa.

"Ya mau gimana. Ini udah disetujuin kepsek," komentar Seijuurou yang duduk di depan pemuda tan itu. Ia menyampingkan bangku agar memudahkan dirinya untuk mengobrol dengan pasangan Daiki-Atsushi Murasakibara yang duduk di belakangnya. Pun dengan Shintarou yang bergabung dalam percakapan tersebut.

"Gua setuju. Ara-chin emang ngerepotin banget nee~" Pemuda ungu yang tingginya menjulang (disinyalir kelebihan kalsium sejak kecil dan membuat Seijuurou sangat iri dalam hati) itu menyetujui. Shintarou menghela napas.

"Palingan disuruh buat kelompok lagi, nanodayo. Tapi kalau gak salah ada murid dari kelas lain yang dapet nilai delapan tiga disaat seangkatan anak kelas sepuluh MIA nilainya tujuh delapan semua. Ga tau siapa."

Kening Seijuurou sedikit berkerut; mengingat-ingat. Kalau tidak salah, memang ada informasi seperti itu. Ia diberitahu langsung oleh sumbernya; Bu Araki sendiri. "Tetsu... na," ujarnya pelan, dan membuat atensi ketiga pemuda itu terfokus pada dirinya.

"Tetsuna Kuroko," ulang Seijuurou. "Tuh anaknya." Ia mengendikkan kepala kepada seorang gadis baby blue yang sedang asyik mengobrol dengan teman sebangku dan satu gadis lainnya.

Mata ketiganya mengikuti arah tersebut.

"Super banget tuh anak," komentar Daiki. Shintarou dan Atsushi mengangguk tanda setuju. Hanya beberapa murid yang termasuk dalam kategori spesial Bu Araki, dan Tetsuna menjadi satu-satunya murid yang spesial karena selalu melakukan tugasnya dengan sempurna sementara beberapa murid lain yang tergolong dikhususkan olehnya mendapat nilai rata-rata 80.

"Bisa dibilang―"

"―pawangnya Ara-chin nee~"

"... bener banget."

"Yah." Seijuurou bangkit dari tempatnya dan beranjak. "Mau buang sampah dulu."

..

..

..

"Terus, terus kemarin Kak Chihiro...,"

Tetsuna sedikit antusias mengikuti pembicaraan antara Shigehiko dan Kouko mengenai kakak sepupunya, Chihiro Mayuzumi yang berada di kelas 12 dan satu sekolah dengannya. Namun pandangannya teralihkan pada Seijuurou yang sepertinya sedang membuang sampah, tiba-tiba menjadi sedikit tegang. Kedua matanya menyipit; berusaha mendapatkan fokus dan mencuri dengar percakapan di luar. Namun apa daya, kelas mereka masih ramai oleh obrolan dan canda para murid.

Siluet seseorang yang sedang berbicara dengan Seijuurou di koridor itu akhirnya terbongkar. Tetsuna sweatdrop. 'Duh.'

Tak lama, Seijuurou masuk sambil mengetuk papan tulis berulang kali. "Woy, diem."

Seluruh penghuni XI MIA 2 patuh, namun ada beberapa yang bergumam tanya, "apaan sih?"

Pemuda crimson itu berdehem. "Jangan rame. Kelas sebelah lagi perkenalan sama Bu Araki."

Hening.

Hening.

Hening.

Hen―

"UDAH MASUK AJA TUH GURU?!"

"LAH LAH LAH NAPSU AMAT SI IBU UDAH NGAJAR AJA."

"WADU―"

BRAK!

"BISA DIEM GAK SIH?! PUNYA MULUT TUH DIJAGA!"

Hening lagi. Seijuurou bahkan sampai berjengit ketika pedang kendo kesayangan Bu Araki yang sering dibawa kemana-mana, kini digunakan untuk memukul daun pintu kelas XI MIA 2.

"Dasar ya kalian, mulut sampah semua! Kamu juga, Seijuurou!" Kini moncongnya diarahkan pada sang ketua kelas yang tengah stay cool. "Dasar KM gak becus!"

Selesai memaki kelas XI MIA 2, Bu Araki pergi ke kelas XI MIA 1, jadwal mengajarnya hari ini.

Hening.

"Tuh kan, dibilang juga apa. Gue mau kasih tau Bu Araki udah ngancem kalo kelas kita berisik, dia bakal nyamperin langsung. Respon lu semua dodol sih, gue jadi kena omel kan."

Si ketua murid mencak-mencak sendiri dalam keheningan kelas yang masih bungkam akibat omelan Bu Araki tadi.

..

..

..

[END]


..

[A/N]

No bashing chara ya. Saya pakai Araki Masako (pelatih Yosen) di sini karena- entah, ngerasa dapet aja feelnya kalau dibandingkan sama guru cowok lain. Berhubung jadi agak ribet kalau digenderbend, jadi saya pakai chara asli aja. Dan untuk konsep guru killer se-SMA Teikou a.k.a Bu Araki ini, sedikit mirip sama salah satu guru di SMA saya- cuma dibedain aja beliau ngajar mapel apa dan beberapa tugas-tugasnya. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menjelekkan karakter Araki Masako di ff ini, karena kalau sekolah tanpa adanya guru yang dikenal paling galak itu, kehidupan SMA ga akan berwarna. Iya kan? ;) /heh