Warning: AU,Gaje, ancur,typo
Rated: T
Disclaimer: MASASHI KISHIMOTO

Makasih Buat yang review.. ( Akira Nathanael Redfield , Yukori Kazaqi, LaChocho Latte , Evil Smirk of the Black Swan)^^ . Ah Gomen. Soal pairing.. masih dirahasiakan, jadi silahkan tebak-tebak sendiri ya, hehe. Tapi nanti chap demi chap pasti ada clue kok biar ketebak pairingnya..Oke deh, gak usah banyak ngomong. Check-it-dot! ^^V

UNTIL THE END
Chapter 2

"Aku pulang.."

"Sakura? Dari mana saja kau?! Jam segini baru sampai rumah tanpa memberi kabar! Kau tau, Ibu khawatir nak.."
Sakura tersenyum masam. Kena lagi! Ini sudah yang ke 5 kalinya dia dimarahi oleh ibunya seperti ini. Sakura tau bahwa ia juga salah karena selalu pulang terlambat tanpa memberi kabar. Tapi mau bagaimana lagi? Sakura jarang membawa ponselnya ke sekolah. Dia lebih suka jika langsung bertemu bila ada yang ingin dibicarakan.

"Ya sudah, cepat sana mandi! Bajumu kotor dan bau.."
Sakura segera berlari kecil menuju ke kamarnya. Tapi saat sampai di kamarnya, dia justru mendekati tempat tidurnya. Sakura merebahkan tubuhnya di kasur. Memandang langit-langit kamar Sakura yang berwarna merah muda. Sakura tersenyum. Dia tidak tau kenapa. Sakura seakan merasa, hari ini adalah hari yang terindah. Padahal sebelumnya Sakura tak pernah sebahagia ini. Sakura teringat kejadian beberapa waktu lalu, saat ia dan kedua sahabatnya hampir tertabrak. Pemuda itu. Rambut Midnight-blue-raven, mata onyx, berparas tampan, tubuh atletis. Benar-benar sempurna! Apakah aku jatuh cinta? Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kami bahkan baru bertemu dan tidak saling mengenal. Aneh jika tiba-tiba dia jatuh cinta pada laki-laki itu pada pandangan pertama. Ingat Sakura! Dia hampir saja menabrakmu!

"Arghhh..."
Sakura mengacak rambutnya frustasi. Wajah itu selalu menghantuinya. Sakura beranjak dari kasurnya. Dia mengambil handuk yang tergantung di pojok kamarnya.

Mungkin dengan mandi dia dapat menjernihkan pikirannya dari wajah pemuda itu. Sakura tidak boleh gegabah dengan perasaannya. Dia tidak ingin mencintai orang yang salah. Itulah mengapa Sakura menutup rapat perasaannya, sehingga banyak korban penolakan.

Sakura menghidupkan shower. Tangan kanannya mengadah kearah air yang disemprotkan. Dingin. Sakura merenung. Apa selama ini dia juga dingin terhadap laki-laki? Apa ini saat yang tepat untuk membuka hatinya kepada seseorang yang tidak dia kenal?

Sakura memegang dadanya. Detak jantungnya normal. Sakura mengerutkan dahinya. Normal? Setahu Sakura, jika orang sedang jatuh cinta, detak jantungnya berdegup dengan kencang. Lalu ini perasaan apa? Apakah ini ada di dalam kamus tanda-tanda orang sedang jatuh cinta?

"SAKURAAA! KAU SEDANG APA? KENAPA LAMA SEKALI?! CEPAT TURUN! MAKAN MALAM SUDAH SIAPP!"
Suara lengkingan ibunya menyadarkan Sakura dari renungannya.

"IYAAA...SEBENTAR LAGI BU!"
Sakura segera membilas tubuhnya. Jika ibunya sudah berteriak seperti itu maka tidak jalan keluar. Lupakan kejadian tadi Sakura! Kenapa dia harus repot memikirkan lelaki itu? Belum tentu lelaki itu memikirkannya. Sakura memukul kepalanya sedikit keras.

"Aauu..!"
Sakura memijit pelipisnya. Sakit. Tadi ia tidak memukul terlalu keraskan? Kenapa kepalanya bisa terasa berat dan berputar-putar? Sakura memegang kepalanya. Mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya sudah terasa lebih ringan. Ternyata pukulannya benar-benar mematikan. Pantas saat ia marah, teman-temannya menjauhi Sakura. Takut jika mereka kena pukul.

Sakura mencoba mengingat-ingat nama keluarga dan sahabatnya. Dia takut bernasib buruk seperti korbannya. Walaupun hanya amnesia ringan, tapi bagaimanapun juga ia tidak mau melupakan kenangan terindahnya bersama orang-orang terdekatnya.

Sakura melilitkan handuk di tubuhnya, kemudian melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian.

X_X

Seorang pemuda berambut nanas sedang berbaring memandang langit. Langit malam ini begitu cerah. Tak ada awan sedikitpun yang terlihat disana. Sehingga memperlihatkan bintang-bintang yang berkelap-kelip dengan indahnya.

Mata pemuda itu tak lepas dari sebuah bintang yang bersinar paling terang. Bahkan semilir angin malam hari yang dingin tak dihiraukannya. Tangan yang tadi ada di belakang kepalannya, sekarang telah terbebas dan bergerak keatas. Mencoba untuk memegang bintang itu. Walaupun itu sangat mustahil untuknya.

Pemuda itu tersenyum. 'Temari-chan, apa disana kau baik-baik saja?'.

"Dia akan baik-baik saja Shikamaru, justru dia yang akan bertanya seperti itu kepadamu"
Shikamaru mendongak keatas. Sebuah cengiran khas Naruto menyambutnya. Shikamaru tersenyum tipis kemudian bangkit dari posisinya.

"Lagi-lagi kau memandang bintang yang bersinar terang itu. Apa kau tidak bosan Shikamaru?"

TUKK

Naruto menggerutu tidak jelas sambil memegangi kepalanya. Menatap sosok pemuda sebayanya dengan tajam. Namun itu tidak berpengaruh untuk pemuda itu.

Shikamaru menghela nafas melihat kedua temannya saling melempar deathglare. Dia benci keadaan seperti ini. Benar-benar merepotkan.

"Kenapa kalian datang kesini?"
Naruto menoleh. Menghentikan pertarungannnya dengan Sasuke.

"Aku bosan berada di rumah. Aku ingin malam ini kita bersenang-senang. Kau taukan apa yang kumaksud Shikamaru? Lagipula ini malam minggu"

"Hn, dan itu sangat merepotkan. Apa minggu lalu kau belum puas makan ramen di restaurant Ichiraku?"
Naruto menggeleng.

"Belum, kemarin paman Teuchi bilang jika Ichiraku membuka cabang di mall Akatsuki" Shikamaru lagi-lagi menghela nafas. Sungguh! Demi apapun, hari ini begitu merepotkan!

"Terserah kau saja"
Shikamaru kemudian berjalan menuju garasi mobilnya.

Naruto menatap Shikamaru sekilas. Kedua alisnya bertaut. Seolah heran dengan perubahan sikap Shikamaru.

Sasuke yang mengetahui perubahan ekspresi pada Naruto. Bingung. Awalnya dia mengira itu sebuah acting bodoh keluaran baru. Namun melihat tangannya yang terkepal kuat dia mulai curiga. Ia segera mengikuti arah pandang pemuda berambut blonde itu. Shikamaru.

Hn, ternyata itu. Sebenarnya Sasuke juga menyadari hal sama dengan Naruto. Sikap Shikamaru menjadi dingin sejak di tinggal Temari. Sasuke memang berwajah datar, namun melihat Shikamaru belum bisa melupakan Temari, ia jadi sedikit khawatir. Bagaimanapun merekakan teman.

Naruto melambai-lambaikan tangannya di hadapan Sasuke.

"Sasuke!"
Sasuke tersentak. Namun beberapa detik kemudian, wajahnya kembali datar.

"Hn, Ada apa?"

"Kau sedang memikirkan apa?"

"Tidak" - "Bukan sesuatu yang penting"
Bukan sesuatu yang penting? Teman macam apa dia ini?

"Oh, kalau begitu cepat ambil mobilmu, Shikamaru sudah menunggu kita di depan"

"Hn, lalu kau?"

"Mobilku sudah kembali dari bengkel tadi sore"

"Oh"

"Yosh! Kita berangkat!"
Naruto dan Sasuke meninggalkan taman belakang di rumah Shikamaru. Tak lama setelah mereka bertiga meninggalkan taman itu, angin bertiup cukup kencang. Membuat daun-daun yang telah menguning jatuh ke kolam ikan. Menciptakan riak air, dan memantulkan gambaran bintang yang terlihat lebih besar dan lebih terang dibanding bintang yang lain.

X_X

"Ino-Pig! mau apa kau memanggilku malam-malam seperti ini?"
Sakura mengeratkan cardigan putih yang melekat di tubuhnya karena sakura hanya mengenakan tanktop dan celana jeans yang tingginya diatas lutut. Sekitar 10 cm.

"I-Iya Ino-chan, a-apa ada y-yang penting?"
Ino menarik tangan Hinata dan Sakura untuk mendekat.

"Hari ini aku mendapat uang tambahan dari ayahku. Bagaimana kalau kita gunakan untuk belanja? Sudah lama aku tidak berbelanja baju dan lain-lain. Masalah uang,nanti aku saja yang membayar"
Sakura menimang-nimang, mungkin dengan cara seperti ini ia dapat menghilangkan pikiran yang menghantuinya. Senyum Sakura mengembang. Benar juga! Lagi pula ini gratis. Apa salahnya?

"Aku setuju! Akhir-akhir ini aku stress, mungkin aku bisa refreshing sejenak. Bagaimana denganmu Hinata-chan?"

"Hmm.. B-Baiklah, mungkin k-kita bertiga m-memang butuh refreshing. M-Mengingat kejadian t-tadi siang di s-sekolah"

"Hah! Kejadian tadi siang di sekolah? Maksudmu waktu kita hampir tertabrak! Kau juga tidak bisa melupakan kejadian itu Hinata-chan?"
Ino berteriak histeris. Memekakkan telinga Sakura dan Hinata.

"PIG! Kecilkan suaramu! Kau bisa membuat gendang telingaku dan Hinata pecah!"
Ino terkekeh pelan.

"Maaf, tadi itu tindakan refleks. Habis aku juga tidak bisa melupakan kejadian tadi siang"
Jadi, kedua sahabatnya tidak bisa melupakannya juga. Sakura mendengus. Jangan-jangan 2 laki-laki itu menggunakan jasa paranormal.

"Ino, kenapa kau tidak bisa melupakan kejadian tadi? Maksudku apa yang menarik di kejadian tadi sampai kau tidak bisa melupakannya?"
Ucap Sakura memulai penyelidikannya. Mungkin saja Ino juga dihantui oleh laki-laki bermata onyx. Walaupun Ino sudah bilang dia akan tetap pada pilihan pertamanya.

"Mobil! Mobilnya! Benar-benar keren! Kalau tidak salah nama mobilnya, emm lamb-lamborghini ! Kyaa benar-benar keren!"
Ino bilang apa? Mobil? Jadi dia tidak bisa melupakan kejadian tadi hanya karena mobilnya? Sakura memanyunkan bibirnya. Salah duga.

"Kalau kau Hinata?"
Hinata mendadak blushing dan salah tingkah. Di rapikan poninya yang jelas-jelas sudah rapi sejak tadi.

"Ah, h-hanya sebuah m-mata"
Sakura dan Ino berpandangan. Sebuah mata, apa artinya?

"M-Maksudku pemuda b-bermata blue sapphire"

"blue sapphire ya? aian. Ayo Forehead! Hinata-chan!"
Sakura dan HKurasa itu adalah warna mata yang bagus! "
Hinata mengangguk kaku. Wajahnya belum berubah. Masih merah.

"Ahh bukankah dia pria berambut pirang yang bertingkah tidak bertanggung jawab itu?"

"I-iya"

"Ohh.. Tapi dia cukup tampan juga kok. Bukankah dia bilang dia tidak ingin menurunkan pamor? Itu artinya dia cukup digilai para fangirl. Sebaiknya kita lanjutkan nanti di cafe. Tanganku sudah gatal untuk memilih pakaian. Ayo Forehead! Hinata-chan!

Sakura dan Hinata mengangguk. Mereka berjalan menuju mall terdekat. Rumah mereka bertiga memang dekat kota. Jadi tidak perlu repot menggunakan mobil pribadi mereka masing-masing.

X_X

3 jam telah berlalu, Seorang gadis berambut panjang bermata lavender mengelap keringat yang keluar menggunakan telapak tangannya. Sesekali tangannya memijit kakinya. Dia benar-benar lelah. Bagaimana tidak! 3 jam dia habiskan untuk mengikuti temannya yang berputar-putar di mall.

Sakura mendekati Hinata. Menyodorkan minuman dingin. Sebenarnya dia juga tidak kuat. Namun jika dia menolak dia akan menyia-nyiakan kesempatan. Hari ini ada banyak discount.

Sakura duduk di samping Hinata. Memejamkan matanya sejenak.

"Hinata?"

"Hm? I-Iya?"

"Kenapa kau bisa terbayang pemuda bermata blue sapphire itu? Bukankah dia terlihat bodoh?"
Hinata menundukkan kepalanya lalu tersenyum.

"K-Karena mata i-itu terlihat i-indah, s-seperti warna l-langit yang c-cerah dan k-kalau dilihat sepertinya d-dia orang yang s-selalu ceria"
Sakura hanya mengangguk-nganggukan kepalanya tanda mengerti.

"Lalu apa yang kau rasakan saat membayangkan pemuda itu?"

"Ah, a-anu i-itu, entahlah S-Sakura-chan. M-mungkin sama s-seperti orang l-lain. Detak j-jantung berdegup k-kencang"
Lagi-lagi Sakura hanya mengangguk-ngangguk. Tidak tau dia mengerti atau tidak.

"Hinata-chan ada yang mau kutanyakan"
Suara Sakura mendadak serius. Hinata mengangkat kepalanya. Aneh, tak biasanya Sakura seperti ini. Sakura menggeser duduknya, agar lebih dekat dengan Hinata. Sakura mulai mendekatkan bibirnya ketelinga Hinata. Baru saja Sakura membuka mulutnya. Ada sebuah suara yang mengejutkannya.

"Lihat! Mereka lesbi!"
Sakura tersentak kaget. Matanya sukses membulat. Urat-urat di dahinya terlihat. Tangannya terkepal. Dia benar-benar marah. Segera saja Sakura membalikkan badannya dan memukul orang yang mengatainya tadi.

DUAAGHHH

Orang itu merintih kesakitan. Dia terpental kurang lebih 1 meter. Pengunjung yang melihat kejadian itu bergidik ngeri. Sakura tertawa. Lebih tepatnya evil laugh.

"RASAKAN ITU! KURASA PUKULAN TADI PANTAS UNTUK ORANG SEPERTIMU!"
Sakura mendekati orang itu. Dia ingin memukul orang itu lagi. Namun belum sempat ia melemparkan pukulannya, takdir sudah berkata lain.

PRIITTTTT

Sakura menengok kearah suara yang melengking tersebut. Gawat! Satpam penjaga mall! Sakura mematung! Dia sudah melakukan pelanggaran!

Sakura mulai melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit. Tidak lucu jika ia tertangkap di mall. Namun sekali lagi perlu di tegaskan! Takdir berkata lain. Tangannya di pegang oleh satpam itu.

"Sebaiknya anda ikut kami ke pos"
Sakura terdiam. Dia akhirnya pasrah. Toh ini memang salahnya telah memukul orang di mall. Namun orang itu juga salah karena mengejeknya. Siapa suruh dia berkata seperti itu.

"Forehead! Apa yang kau lakukan? Kau memukul orang lagi ya?"
Samar-samar Sakura mendengar suara Ino yang berteriak. Sakura mendengus kesal. Dia kesini berniat untuk refreshing di mall. Bukan refreshing di Pos keamanan mall.

"Permisi! Anda yang berada di sana! Sebaiknya anda ikut juga! "
Satpam itu menunjuk orang yang tadi di pukul Sakura. Dengan tertatih-tatih. Pemuda itu mengangguk dan mengikuti Sakura dan Satpam keamanan.

Hinata tertegun sejenak melihat pemuda yang sedang sekuat tenaga tidak merintih kesakitan. Pemuda itu? Bukankah dia adalah pemuda yang tadi siang?! dan warna mata itu blue sapphire ! Kenapa bisa pemuda itu ada disini?

DUG

Hinata memegang pundaknya. Ternyata ada orang yang menyenggol bahunya hingga jatuh terduduk. Hinata mendongak keatas. Melihat orang yang menyenggol bahunya. Gelap. Lampu mall menyilaukan matanya. Sehingga Hinata harus menyipitkan matanya. Tapi terlihat, orang itu mengulurkan tangannya. Dengan ragu Hinata menerima uluran tangannya.

"Maaf"
Hinata mengangguk. Suara orang yang ada di hadapannya dingin. Orang itu mendekat kearah Hinata. Menampakkan wajahnya yang tampan. Hinata sempat terdiam karena terpesona oleh ketampanannya namun saat Hinata melihat mata orang itu, hinata menutup mulutnya dengan tangan. Onyx.

Pemuda itu menyeringai kearah Hinata. Lalu sedetik kemudian pemuda itu sudah ada di sampingnya. Badannya sedikit membungkuk dan membisikan sesuatu. Sesuatu yang simple namun tegas dan cukup mengejutkan untuk didengar.

T-B-C..

Kalo masih bingung lagi-lagi maaf. Gomen.

Gimana Chap 2nya? masih bermutukah?

Saya harap kalian masih mau menuliskan saran atau komentar.
Karena saya akan tahu jika ada kesalahan.

Ya udah kalo gitu saya pamit dulu..