Tanya Jawab:
Q: Apa nanti Naruto ada Jungernaut Drive
P: Tidak ada
Q: Vongola Gear dan Sacred itu beda gak thor:
P: Pertanyaan salah. Seharusnya Vongola Ring, dan Sacred Gear. Alasannya, Vongola Gear adalah bagian dari Vongola Ring, seperti Boosted Gear adalah bagian dari Sacred Gear. Untuk perbedaan, itu akan terjawab dalam Chaper 4.
.
Alasan pengulangan karena saya salah dalam kalimat saat Naruto mengaktifkan Vongola Gear. Seharusnya Vongola Ring: Vongola Gear Fire Sky Dragon Active, bukan Vongola Gear Fire Sky Dragon Active. Kenapa begitu? Itu akan terjawab di Chapter 4. Untuk Chapter ini perubahan dalam pertarungan Mizuki, dan perubahan yang sangat jelas di Chapter 3 nanti.
Ingat ini perbaikan bukan perubahan.
.
Disclamer:
Saya tidak mengakui seluruh char yang saya pakai dalam fic ini.
NarutoDxD: Vongola Prince
Genre: Action, Adventure, Demon, Fantasy, Romance.
Pairing: Naruto x Souna x MiniHarem
Warning: Gaje, Abal, Typo, StrongNaru!, HaremNaru!, NotCanon.
.
Summary: Dia hanyalah seorang anak jalanan yang hidup sebatang kara yang tidak tau siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi dibalik itu dimenyimpan kekuatan yang tidak bisa dia kendalikan, kekuatan yang disegel dengan 3 bagian agar tidak lepas kontrol. Hingga dia menjadi menjadi Iblis Clan Sitri, dan membuang kehidupan jalanannya, karena tugasnya sekarang bukanlah seperti dulu lagi yang simpel, melindungi King-nya, dengan kekuatan yang akan dia kendalikan dengan sepenuhnya, itulah tugasnya saat ini.
.
Human Talk:
"percakapan biasa."
"membatin."
'pikiran.'
"monster/naga/Youkai dalam wujud binatang."
"monster/naga/Youkai dalam wujud binatang membantin."
'pikiran monster/naga/Youkai dalam wujud binatang.'
[Sacred Gear/Vongola Ring atau semacamnya.]
[Teknik.]
.
Chapter 2: Raja Harem Keturnan Vongola
.
"Jadi apa yang ingin kalian tanyakan, pada ku?" Naruto duduk disofa yang berada diruang OSIS, dengan menatap teman-temannya yang memandangnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Naruto sendiri yakin mereka semua memiliki pertanyaan kepadanya karena dia menggunakan kekuatan Vongola Ring.
[Ah aku tidak mau ikut masalah ini. Kau urus sendiri masalah ini, Ouji-Sama.]
"Eh... Paradox apa yang kau katakan? Aku tidak mungkin mengurus masalah ini sendiri." Naruto menatap terkejut Vongola Ring-nya. Menjawab puluhan pertanyaan dari Anggota OSIS memanglah hal yang mudah, tapi untuk membuat mereka mengerti, Naruto tidak mungkin menjelaskan semuanya sendiri.
[Lalu? Kau seorang Ouji, penerus langsung Keluarga Vongola. Memang ada yang salah?]
"Tentu saja." Naruto menatap kesal Vongola Ring-nya. "Aku memang seorang Ouji, tapi aku baru mengetahui itu dari mu. Dan tidak mungkinkan seseorang yang belum terlatih menjadi Ouji, harus menjadi penurus keluarga selanjutnya?" Naruto tidak habis pikir dengan Naga yang mengaku sebagai Ryuuzora no Hono. Menyuruhnya menjadi seorang penurus yang bahkan menjadi seorang Pangeran belum berhasil, apa itu mungkin? Jawabannya tentu saja tidak, Naruto sangat yakin itu.
[Huh... baiklah aku akan membantu mu, Naruto. Tapi harus ingat, cepat atau lambat kau akan menjadi Penurus Keluarga Vongola. Jadi kau harus belajar menjadi seorang Raja mulai dari sekarang. Apa kau paham?]
"Ha'i, Ha'i." Balas Naruto malas. Kembali menatap Souna, dan yang lainnya, yang Naruto yakini sudah menyiapakan banyak pertanyaan, Naruto tersenyum tipis. "Jadi apa pertanyaan kalian? Semuanya akan aku jawab jika aku mengathui jawabannya." Ujar Naruto tenang.
"Semuanya yang kau ketahui, beritau pada kami, dan jelaskan semuanya dengan Detail, Naruto!" perintah Souna tegas, dan tidak dapat diganggu gugat, karena jika Naruto tidak menurutinya, bersiaplah untuk merasakan kesakitan yang lebih sakit dari sesuatu yang disebut sangat sakit.
.
"Souka jadi begitu." Souna mengangguk mengerti. Dari awal Souna sudah menduga kalau Naruto bukanlah seseorang yang tidak memiliki potensi. Mengkonsumsi 2 Pawn Mutation, yang harganya sama dengan 8 Pawn biasa, hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang memiliki Potensi besar, seperti Hyoudou Issei, Pawn dari Rias yang mengkonsumsi 8 Pawn, yang memiliki Sacred Gear Boosted Gear, yang dikatakan sebagai Sekiryuutei. Jika halnya begitu, maka Souna yakin, kekuatan Naruo tidak kalah kuatnya dengan Issei.
"Aku tidak menyangka kau seorang Ouji, Naruto." Saji menatap sahabatnya dengan kagum. Seseorang yang dia kenal sebagai anak bermasalah sebelum direngkarnasi Souna, ternyata adalah seorang Ouji, sungguh dunia ini sangat banyak Misteri, itulah yang Saji pikirkan.
"Tapi tadi ada yang tidak aku mengerti..." Momo Hanakai, gadis berambut perak yang merupakan salah satu anggota OSIS memegang dagunya. "Kalau kau memang pernah lepas kendali akan kekuatan mu? Apa yang memotivasi mu hingga membuat mu melepaskan Segel Pertama, Naru-kun?" tanya Momo.
"Aku sendiri tidak begitu ingat." Pandangan Naruto menajam. "Dan yang aku ingat adalah, Malam Hari, 10 sampai 20 pasukan bersayap. Menggunakan Sihir. Hanya itu yang aku ingat dengan jelas." Naruto tidak begitu ingat dengan kejadian yang sudah hampir 6 bulan berlalu, yaitu saat dia lepas kendali akan kekuatannya. Dirinya tidak bisa mengingat lebih lanjut, karena setiap dia mencoba mengingat ada sesuatu seperti tembok yang menghalangi penglihatan ingatannya.
"Da-Tenshi kah? Atau Iblis?" tanya Souna penasaran dengan sosok yang menyerang Naruto hingga memuat sang Vongola Ouji-sama itu melepaskan Segel Pertama secara tidak sengaja hingga akhirnya dikendalikan sendiri oleh kekuatannya.
"Entah aku sendiri tidak tau." Balas Naruto tenang. Pemilik dari Vongola Gear Fire Sky Dragon itu berdiri dari sofa yang dia duduki. "Kalau begitu aku pulang dulu. Ada banyak tugas Sekolah yang belum aku selesaikan." Uajrnya tenang. Vongola Ouji-sama yang saat ini adalah seseorang yang malas untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah, walaupun dia seseorang yang pintar, bahkan nilainya selalu menyaingi Kaichou-nya, yang satu kelas dengannya, 3-A, tapi karena sifat malasnya itu, dan selalu berkelahi dia mendapatkan pandangan buruk dari Guru-Guru Sekolahnya.
"Aku akan mengantar mu." Souna berdiri dari tempat yang dia duduki. Pemuda blonde dihadapannya memang bisa dikatakan sekarang tidak seperti dulu lagi yang tidak bisa menjaga diri, tapi Souna tetap kawatir padanya, entah alasan apa yang membuatnya begitu kawatir, Souna sendiri tidak tau itu.
Naruto tersenyum tipis. "Tidak perlu Kaichou. Kau lebih baik beristirahat untuk besok. Aku yakin Misi yang akan diberikan Serafall-sama tidak akan semudah yang kalian pikirkan, walaupun dia menyayangi Adiknya, tapi itu tidak menutupi tugasnya sebagai seorang Maou, untuk melindungi Underworld." Dirinya tidak tau Misi apa yang diberikan oleh sang Maou yang mendapat gelar Leviathan yang meruapakan Onee-sama dari Kingnya, tapi dia masih mengingat denga jelas perkataan Maou Leviathan itu
'Misi ini tidaklah susuah, tapi juga tidak mudah. Untuk Perage Rias mungkin ini Misi yang mudah karena mereka memiliki Sekiryuutei, tapi berbeda dengan mu yang hanya memiliki Pemegang Sacred Gaer Vitra yang dapat diandalakan selain Tsubaki-Chan, selain itu ini juga latihan untuk Perage mu agar kalian dapat berkembang, terlebih untuk Naru-Chan, aku ingin kau berkembang dan tidak memalukan nama Sitri, Naru-Chan.'
Dalam pikirnya masih teringat dengan jelas kata-kata yang dikeluarkan oleh Maou tersebut, dan karena itu tidak menutupi kemungkinan kalau Misi yang akan mereka kerjakan akan sedikit sulit, mungkin juga sulit, yang jelas Naruto yakin Misi itu akan jauh berbeda dengan gambaran yang berada di bayangan teman-temannya.
"Tapi..."
Dia memejamkan matanya sesaat. "Aku sudah katakan tidak perlu Kaichou. Kau lebih baik Istirahat, kau tidak perlu menghawatirkan aku. Karena aku adalah Ouji, orang yang akan menjadi Raja suatu saat nanti, dan tidak mungkin aku mati sebegitu mudahnya sebelum memiliki keturunan drai mu Kaichou, untuk mewarisi Tahta Vongola selanjutnya."
[Seseorang yang bodoh sedang bergaya kayaknya Ouji sesungguhnya. Aku sungguh tidak percaya kau mengatakan itu, Naruto.]
"Diam kau, Baka-Dragon, kau merusak momen ku." Balas Naruto kesal dengan memandang kesal Vongola Ring-nya. Naruto berjalan meuju pintu keluar. "Kalau begitu aku pergi dulu, sampai bertemu besok, Minna, Kaichou." Pamit sang Vongola Ouji-sama dengan melambaikan tangannya.
"Baka... hati-hati" guman Souna dengan wajah merona tipis yang dia tundukan agar tidak a mengathuinya selain dirinya, karena baginya orang melihat sifatnya yang satu ini sangat memalukan baginya.
XxX
Pria dengan rambut putih, memiliki tanda garis merah dibawah matanya, memakai yukata biru muda, berdiri dari kursinya. "Waktunya kita bergerak, Decimo, sudah membangkitkan kekuatannya." Ujar pria tersebut datar.
"Ha'i, Taichou." Balas Tiga orang dibelakangnya, dengan nada santai, yang mengikuti langkah pria tersebut.
XxX
[Naruto apa kau merasakannya?]
"Ya aku merasakannya." Balas Naruto pelan agar tidak terlalu didengar. Sebagai seseorang yang direngkarnasi menjadi Iblis, merasakan energy Supernatural disekitarnya bukanlah hal yang susah. "Tapi kali ini sedikit berbeda, dia bukan, Da-Tenshi, ataupun Iblis liar." Lanjutnya pelan.
[Ya kau benar. Yang kali ini adalah Youkai. Aku tidak menyangka ada seorang Youkai yang berkeliaran disekitar sini.]
"Mungkin dia mencari mangsa, mengingat energy Sihirnya yang sangat lemah, dia pasti tidak mendapatkan mangsa untuknya." Naruto bisa merasakan energy Sihir yang dia rasakan kali ini sangatlah lemah, bahkan untuk seukuran Youkai-pun. Naruto berhenti melangkah. "Sebaiknya kau keluar!" Ujar Naruto, tidak lebih tepatnya perintah Naruto dengan nada tegas.
"Hoho, seorang Iblis rendahan berani juga mengatakan itu padaku." Pria berambut perak, dengan tubuh yang sangat besar, memakai jaket kulit berwarna hitam, dengan celana panjang hitam, serta alas kaki berupa sandal jepit, menatap Naruto dengan seringainya. "Perkenalkan nama ku, Mizuki, orang yang akan menghabisi nyawa mu, Iblis rendahan." Mizuki memperkenalkan dirinya dengan nada arogan.
"Kalau begitu lakukanlah kalau kau memang bisa, Youkai-san." Balas Naruto, dengan melirik Mizuki yang berdiri dibelakangnya. Sebenarnya dia sama sekali tidak ada niatan untuk bertarung, tapi tidak ada salahnya juga, mengingat dia belum mengetes kekuatannya yang sudah dia bisa kendalikan walaupun dengan bantuan Paradox.
"Kalau begitu baiklah." Perlahan-lahan tubuh Mizuki berubah menjadi seekor Harimau. Perubahan Harimau yang telah sempurna, Mizuki meloncat kearah Naruto dengan cepat. "Bersiaplah, Iblis rendahan!"
Tap!
"Sebaiknya kau yang bersiap-siap, Youkai-san." Naruto menangkap kepala Harimau Mizuki, dengan tubuh yang masih memebelakanginya. Melepas tangkapannya, Naruto memutar tubuhnya 180 derajat, dengan kaki yang dia ayunkan pada perut Harimau Mizuki, yang sukses mengenai Youkai Harimau itu.
Buakh!
Tubuh Youkai Harimau yang menjadi lawan Vongola Ouji-sama membentur tanah dengan keras. "Breseng kau, Iblis rendahan!" ujar Mizuki geram, dengan menggeretakan dua gigi taringnya.
"Seekor Harimau, sepertinya aku terlalu banyak berharap pada mu, Youkai-san." Balas Naruto santai. Dirinya berharap, Mizuki bisa menjadi lawan pertama untuk Vongola Ring-nya, tapi nyatanya tidak. Seekor Harimau, tanpa menjadi Iblis sekalipun, Naruto dapat menaklukannya, bahkan dengan tangan kosong.
"Beraninya kau!" Mizuki menciptakan sebuah bola berwarna merah dimulutnya. "Matilah kau!" teriak Mizuki, dengan menembakan bola dimulutnya yang berubah menjadi sebuah laser, yang mengarah pada Naruto dengan cepat.
Duar!
Youkai Harimau lawan Vongola Ouji-sama tersenyum dalam wujud Harimau-nya, melihat Naruto terkena dengan telak tembakannya. "Mattaku... aku sungguh kecewa pada mu." Mata Harimau Mizuki melebar ketika melihat Naruto masih berdiri sempurna dengan kedua tangannya dilapisi oleh Vongola Gear yang telah diaktifkan. "Aku memang terkejut kau mempunyai Sihir, tapi tidak sampai yang aku harapkan kau terlalu lemah, Youkai-san." Naruto membuka mata Safiirnya yang dipadukan dengan light-orange, serta kobaran kecil api orange muncul didahinya.
[Vongola Ring: Vongola Gear Fire Sky Dragon: Active.]
"Bersiaplah Mizuki." Naruto dengan kecepatan tinggi mendorong tubuhnya dengan api ditangannya. Tangan Vongola Ouji-sama itu menangkap kepala Harimau Mizuki. "Seragan balasan." Naruto membawa Mizuki kelangit. Memutar tubuhnya salto beberapa kali dilangit, Naruto melempar Mizuki ketanah dengan keras.
Buakh!
Mizuki dengan keras menghantam tanah. "Ini untuk penutupan, Mizuki." Naruto melakukan style meninju dari udara. Api ditangan kanan Naruto mulai membesar sedikit. Vongola Ouji-sama yang berada diudara itu, dengan cepat menembakan Api ditangannya pada Mizuki.
[Burning Axel.]
Kobaran Api ditangan kanan Naruto yang awalnya sebesar kepalan tangan mulai membesar sebesar bola basket. Mizuki yang masih cukup jauh dengan bola itu mandi keringat, karena panasnya menyaingi panasnya dari Matahari. "Tidak!" teriak Mizuki.
Duar!
Mizuki dengan telak menghantam bola Api Naruto, hingga tubuh Harimau Mizuki terbakar menjadi abu yang sudah berterabangan. Pemuda blonde keturunan Vongola itu kembali menapakan kakinya ditanah. Kedua tangannya menonaktifkan Vongola Gear. "Sepertinya aku terlalu berlebihan." Batin Naruto swadrop, melihat taman yang tadinya sangat indah, menjadi kacau karena pertarungannya dengan Mizuki.
XxX
"Tadaima." Salam Naruto, dengan membuka pintu, walaupun dia yakin tidak akan ada yang menjawab. Tinggal seorang diri di Apartemen kecil yang terlihat kusam didekat hutan, memiliki harga yang sangat murah, tentu saja siapa yang akan menjawab salamnya, terlebih lagi Apartemennya cukup jauh dari peradaban manusia karena didekat hutan.
"Okaeri, Naruto." Naruto terkejut, matanya menatap tidak percaya, tas yang dia gemgam jatuh kelantai melihat Gadis yang berdiri didepannya, dengan memakai T-Shirts putih polos, rok ungu diatas lutut, dan mendapat nilai plus dengan celemak berwarna putih yang dia gunakan.
"Kaichou, apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto yang masih terkejut melihat Souna berada di Apartemennya, terlbih lagi bagaimana dia masuk Apartemennya tanpa kunci. "Dan bagaimana kau bisa masuk kesini?" lanjut bertanya.
"Tentu saja dengan Sihir. Sihir teleportasi dapat menuju tempat manapun bukan? Bukan hal yang mustahil untuk masuk kemari tanpa kunci." Balas Souna tersenyum. "Sebaiknya kita makan dulu, aku telah menyiapkan Kare. Dan simpan pertanyaan mu nanti setelah mandi nanti, Naruto. Apa kau mengerti? "Lanjut Souna, dengan mencondongkan centong kuah ditangannya kearah Naruto.
"Ha'i, Kaichou." Ujar Naruto malas yang tidak berniat membantah perkataan Kaichou-nya, karena takut akan kemarahan dari sang penurus keluarga Sitri tersebut.
.
"Jadi bisa kau beritau kenapa kau berada disini, Kaichou?" tanya Naruto, yang duduk didepan Souna, dengan meja bundar membatasi mereka. Bisa dikatakan Naruto merasa sangat tidak enak membiarkan Penurus keluarga Sitri duduk dilantai dengan karpet sebagai alas mereka, Naruto yakin, Souna lebih suka duduk diatas bangku empuk dengan bantal dibelakangnya.
"Aku akan tinggal disini mulai sekarang." Balas Souna tenang. Didekati oleh seseorang selama 2 bulan, ditambah dia pria yang baik, pintar, ahli bela diri, mahir dalam menggunakan seluruh alat musik, serta seorang yang dapat melakukan semua kegiatan bidang olahraga, siapa yang tidak akan menyukai Pria yang bisa disebut 'Perfect' tersebut jika terus didekati, yah walaupun dia seseorang yang tidak mampu, Souna sama sekali tidak masalah, karena Souna menyukai pria didepannya bukan karena harta, tapi perasaannya yang sangat tulus mencintainya.
"Apa? Kau tidak bercanda? Kau memiliki Ruangan sendiri di Ruang OSIS bukan, yang jauh lebih baik dari Apartemen ku?" Naruto masih tidak percaya dengan kalimat yang dilontarkan oleh Souna. Sejujurnya dia senang akan tinggal satu atap dengan gadis berkacamata merah didepannya, tapi dia juga merasa kasihan, karena Souna yang selalu hidup lebih, mulai sekarang akan hidup kurang jika tinggal bersama dengannya.
"Lalu? Ada masalah dengan itu, Ou-Ji-sa-ma?" tanya Souna menekan kalimat Ouji-sama dengan menatap tajam, Vongola Ouji-Sama didepannya itu. Dia sangat tidak suka dengan sifat Naruto yang satu ini, walaupun bisa dikatakan seseorang yang bermasalah, tapi dia selalu merendahkan dirinya sendiri, lebih rendah dari apa yang sebenarnya, Souna sangat tidak suka dengan itu. Bahkan kuping Souna pernah mendengar dari salah satu Peragenya kalau Naruto rela dihajar oleh laki-laki disekolahnya karena mendekatinya tanpa melawan sedikitpun, karena dia tidak mau menyebabkan masalah untuk dirinya.
"Tapi..."
"Kau tau, aku tidak suka penolakan. Sekali aku bilang, berarti kau harus menuruti. Apa kau mengerti, Naruto?" ptotong Souna yang terlihat cukup kesal, karena pria didepannya seperti menolak kehadirannyat tinggal di Apartemen tersebut, walaupun sejujurnya Souna tidak tau, kalau Naruto merasa senang.
"Hah..." Naruto menghela nafas pelan. "Baiklah, Kaichou." Lanjut Naruto pasrah yang sudah tidak dapat membantah kalimat Kaichou-nya. "Tapi, kau akan tidur dimana? Aku hanya mempunyai satu tempat tidur?" tanya Naruto yang bingung akan tempat tidur Souna, karena dirinya hanya mempunyai satu kasur, walaupun cukup untuk 2 orang.
"Kita akan satu tempat tidur." Balas Souna tanpa ragu sedikitpun. Souna tidak ingin, Naruto menjauh darinya, menjadi kuat, Souna yakin kekuatan Naruto akan terus berkembang, dan perlahan-lahan tidak membutuhkan bantuannya lagi, Souna tidak ingin itu. Seorang Pangeran yang akan mewarisi Tahta Raja, pasti akan banyak dikelilingi wanita, dan mulai melupakaannya secara perlahan-lahan, Souna juga tidak ingin itu terjadi, maka dari itu dia mulai menggambil langkah untuk menggambil sepenuhnya Vongola Ouji-sama itu.
"Tapi..."
"Kalau kau tidak suka, kau bisa tidur dilantai." Balas Souna dingin. Souna berdiri, dan melagkahkan kakinya menuju Kamar Tidur Naruto.
"Are kenapa aku harus tidur dilantai? Inikah Apartemen ku." batin Naruto bertanya-tanya.
XxX
"Ada apa dengan mu, Naruto? Wajah mu pucat." Tanya Saji. Sejak memasuki ruang OSIS ada yang aneh dengan sahabatnya itu, terutama ketika dia tertidur disofa degan menyandarkan tubuhnya, karena tidak biasanya Naruto tertidur disekolah, terlebih lagi di ruang OSIS, belum lagi kantung matanya yang terlihat sangat berat.
Naruto menatap Saji lemas. "Aku tidak apa Saji." Vongola Ouji-Sama saat ini bisa dikatakan sangat ngantuk, dan lelah. Alasan pertama karena dia tidur dengan Souna yang membuatnya tidak bisa tidur, dan Alasan kedua, Souna tertidur dengan memluknya tanpa sehelai benangpun berada ditubuhnya, sungguh Naruto sama sekali tidak bisa tidur merasakan Oppai dari Souna yang menempel dipunggungnya semalaman.
"Kalau begitu baguslah." Saji tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi. Dia bukannya tidak mempedulikan sahabatnya itu, hanya saja dia tidak mau terseret kedalam masalah Naruto yang nanti akan sangat merepotkan.
"Naruto apa kau baik-baik saja?" Tsubaki berjalan kearah Naruto dengan pandangan kawatir. Tidak biasanya Fukukaichou itu melihat Naruto seperti seorang mayat hidup. Aneh, mungkin itu yang dipikirkan Tsubaki melihat Naruto yang sangat berbeda dari biasanya.
"Aku baik-baik saja Fukukaichou, tidak perlu menghawatirkan aku." Balas Naruto lemas. Dirinya sama sekali tidak memiliki tenaga, dan stamina untuk terus membuka matanya. Mungkin dia sudah tertidur di ruang OSIS, tapi itu hanya 1-2 jam saja, dan waktu yang sesingkat itu sama sekali tidak membuat sang Vongola Ouji-Sama itu puas dalam tidurnya.
"Benarkah?" Tsubaki menempelkan dahinya pada dahi Naruto, yang membuat pemuda blonde itu memerah padam. Menjauhkan dahinya, Tsubaki tersenyum. "Kau sedikit panas, Naruto." Tsubaki kembali berdiri dari sofa yang dia duduki. "Aku akan menggambilkan obat, kau tunggu disini, Naruto." Lanjut Quen dari Souna.
"Apa kau ingin makan sesuatu, Naru-Kun?" Momo, bersama dengan Ruruko Nimura, yang meruapakan Pawn dari Souna datang dari dapur yang berada di ruang OSIS. "Kami telah membuat beberapa Pan Cake, jika kau mau aku akan membawakannya, Naru-Kun," Ujar sang pemilik rambut perak dengan lembut.
"Arigatou, Momo-chan, kalau begitu, tolong ya." Balas Naruto lembut diserta senyum tipis. Sebagai seorang pria, dirinya tidak bisa menolak tawaran dari Momo, terlbih lagi sifatnya yang lembut, yang mau tidak mau, harus mau.
"Untuk mu, juga ada , Saji." Ruruko tersyum manis kearah sahabat Vongola Ouji-Sama , yang duduk disamping Naruto. Mereka menyiapkan Pan Cake cukup banyak untuk dua orang itu, mengingat mereka berdua memiliki nafsu makan yang cukup berlebihan.
"Arigatou, Ruruko-chan." Wajah Ruruko memerah melihat senyum Saji, yang baginya begitu menawan. Ruruko tidak mengerti kenapa dia bisa jatuh cinta dengan pemuda mesum yang memiliki Sacred Gear Vitra tersebut.
"Are Ruruko-chan, kau menggambil Start terlebih dahulu." Tsubasa Yura, gadis berambut biru, berjalan kearaj Saji, dan Ruruko yang berdekatan.
"Aku tidak menggambil Start terlebih dahulu, Tsubasa-Senpai."
"Lalu apa namanya jika kau mencuri kesempatan ketika aku tidak ada."
"Mereka mulai lagi." Batin Saji sweadrop.
"Naruto ini obatnya." Tsubaki berjalan kearah Naruto, dengan mambawa obat-obatan yang dia ambil dari kotak Obat. Dia tidak begitu Naruto mengalami sakit apa, maka dari itu dia membawa semua Obat yang berada di kotak Obat ruang OSIS.
"Tidak, Naru-kun akan memakan Pan Cake ku dulu!" teriak Momo tidak terima karena Naruto akan menerima yang diberikan Tsubaki lebih dulu, bukan miliknya.
"Tidak bisa begitu. Naruto sedang sakit, kita harus mengobatinya terlebih dahulu, Momo."
"Tidak boleh. Naruto-kun, harus makan Pan Cake ku dulu."
"Kalian berdua hentikan." Tsubaki, dan Momo mengalihkan pandangan mereka, pada Souna yang berdiri dari kursinya. "Naruto tidak akan mminum Obat dari Tsubaki, atau memakan Pan Cake dari Momo, karena untuk hari ini dia akan menjadi milik ku seutuhnya." Ujar Souna tegas.
"Eh... tidak bisa Kaichou, Naru-Kun bukanlah barang!"
"Ya benar apa yang dikatakan Momo. Kau tidsk boleh memonopoli, Naruto, Kaichou."
"Hah? Kenapa begitu? Naruto adalah milik ku."
[Salah satu hal mutlak untuk keturunan Vongola adalah dicintai banyak gadis, memiliki banyak gadis, dan akan melindungi mereka. Aku tidak menyangka kau juga termasuk, Naruto.]
"Kenapa aku harus masuk masalah merepotkan seperti ini." Batin Naruto swadrop, dengan matanya memandag perdebatan dari 3 gadis yang mencoba memonopoli dirinya.
.
To Be Continued
.
Sampai beretmu 3 hari lagi.
.
Mohon Review
.
