Aku gak tau harus bilang apa.. Tolong jangan mengubah pikiran kalian tentang Kanda setelah baca story-ku ini..(termasuk chapter sebelumnya)
Summary: Apakah kalian tau siapa Kanda sebenarnya? Mungkin seperti ini.. I don't need any flamers.. R&R please..
Warning:Dark-Kanda? OOC? Haha.. Katsura Hoshino-sensei ngebuat Kanda sebagai tipe yang misterius dan tak bisa ditebak.. Jadi entah ini di sebut OOC atau tidak.. Tapi, kalau kalian tersinggung, silahkan katakan dengan sopan.. Saya tak akan menyalahkan..
Disclaimer: I don't own-man. It belongs to Katsura Hoshino-sensei who likes to torture her fans with hiatus..
Setelah kejadian dimana mereka saling membuka topeng , masing-masing perasaan diantara mereka bertambah.. Yang membawa mereka menjadi sepasang kekasih. Tapi mereka tau, kalau perasaan terlarang ini akan membawa mereka ke kepedihan yang lain..
†+++++++†
-Allen POV-
Beberapa tahun setelah kejadian itu.. Kami menyembunyikan hubungan kami dari publik. Vatikan tak akan menyukai kalau prajurit mereka mengenal cinta. Setelah innocence memilih kami, takdir kami di atur untuk menjadi prajurit tangguh dan hidup untuk menghancurkan akuma, hanya itu..
Tapi akhir-akhir ini Kanda tak pernah menyapaku. Biasanya kami menjalankan misi bersama dan tentu saja kami memanfaatkan itu untuk membuat kontak lebih dalam. Tapi Kanda menghilang, dia tidak pernah ada..
Sampai suatu hari akhirnya Kanda muncul. Aku melihatnya akan masuk kekamar, tentu saja aku menyapanya, "Kanda!!"
Dia tidak menjawab, aneh sekali.. Tidak ada orang disini dan dia hanya terdiam di tempat tanpa mau membalas sapaanku..
"Moyashi, nanti malam kita ada misi, jadi bersiaplah.."
Kanda pun masuk ke kamarnya..
†+++++++†
"Kenapa kita gak pakai Ark aja? Malah naik kereta.. dan kenapa gak ada finder?", tanya Allen.
"Komui memerintahkan kita untuk naik kereta dan ini cuma misi kecil. Kita gak butuh finder..", jawab Kanda.
'Hari ini Kanda terlihat berbeda, mukanya tidak terlihat masam. Begitu tenang dan damai. Apa mood-nya lagi bagus yah?', pikir Allen.
"Kamu mau ke gerbong makan?", tanya Kanda.
'Wow.. itu suatu kejutan..'
Kanda dan Allen berjalan ke gerbong makan dalam diam. Sampai di sana mereka mendapati arsitektur gerbong itu bernuansa Jepang. Kereta yang mereka naiki benar-benar elit. Mereka duduk di meja paling pojok.
"Kalian mau pesan apa?", seorang pelayan menghampiri mereka.
"Ada soba gak?", tanya Allen membuat Kanda kaget.
"Tentu, kalau tuan yang ini?", pelayan itu menoleh ke Kanda.
"Gak, aku gak pesen..", pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa gak pesen? Kamu kan yang ngajak ke sini?", tanya Allen.
"Sejak kapan kamu suka soba?", Kanda tak memperdulikan pertanyaan Allen.
"Sejak kapan aku gak suka makanan?", pertanyaan Allen adalah jawaban, "Lagipula, kalau aku gak nemu makanan, mungkin aku bisa makan kamu hidup-hidup."
Untuk pertama kalinya dalam hidup Allen, Dia melihat figur yang sempurna. Scene yang begitu berharga dalam hidupnya. Tak akan pernah lepas dari ingatannya. Kanda tertawa lepas dan begitu tulus di depannya..
"Hahahaha.. konyol!", Kanda yang tersenyum sesaat membuat hidup Allen lebih berharga..
Simpanlah kebahagiaan itu Allen..
†+++++++†
"Kanda, dimana innocencenya?", Allen berjalan di belakang Kanda. Mereka memasuki sebuah hutan. Kanda yang sekarang terlihat begitu serius, bahkan aura membunuh yang tadi sempat musnah muncul lagi dan lebih menekan. Padahal tadi Kanda begitu baik.. Apa tadi itu bingkisan kecil dari tuhan?
Mereka sampai di sebuah danau yang luas. Cahaya bulan bergelimang di atas gelombang tenang danau. Airnya memainkan instrumen kesunyian yang menyentuh..
"Kanda..?"
"Allen Walker!! Aktifkan innocencemu!", tiba-tiba Kanda menarik mugen dari sarungnya. Dia mengaktifkan innocencenya dan mengacungkannya ke arah Allen, kekasihnya sendiri.
"Kanda?! Apa maksudmu! Kita harus cari innocence-..", kata-kata Allen terpotong.
"Gak ada innocence di sini. Dari awal ini misiku, bukan misimu.."
"Kanda.. jangan bilang..", tubuh Allen bergetar ditempat, jatungnya berdetak cepat, dadanya terasa panas.
"Hari ini, aku bakal memenuhi janji kita.."
Deg deg..
Hati Allen serasa dipukul. Untuk beberapa saat dia merasa tak bisa bernafas. Sulit untuknya mengerti, namun dia harus, "Berarti central..?"
"Ya, aku diperintahkan untuk membunuhmu.."
Kanda benar-benar memenuhi janjinya.. Dia mengacungkan mugen ke arah Allen.. Tanpa ekspresi, beku, dingin. Sama seperti yang pernah di ucapkannya..
Hari ini telah tiba..
Dan aku sudah siap..
Air mata Allen menetes perlahan.. Memantulkan sinar bulan yang iba kepadanya. Sunggus ironis sekali untuk mati di tangan seseorang yang kita cintai. Tapi ini adalah takdir yang diberikan innocence.. mau tak mau..
"Allen! Aktifkan crown clown-mu! Sekarang!!", teriak Kanda.
"Kenapa!!! Kenapa aku harus mengaktifkan innocenceku! Sesuai janji, kamu bisa membunuhku sekarang! Aku.. gak bakal ngelawan..", air mata Allen meleleh lebih deras..
"Che, aku sudah memenuhi janjiku kan? Aku disini, dengan niad membunuhmu. Tapi kalau HQ menemukanmu mati tanpa tanda-tanda perlawanan, pasti mereka akan curiga!"
"Masuk diakal..", Allen tersenyum tipis diantara tangisannya. Perlahan dia berjalan maju.. tidak peduli dengan mugen yang ada didepan tubuhnya.. Lalu di memeluk Kanda."Biar kutebak, saat bertarung nanti, kamu bakal mengalah dan ngebiarin aku bunuh kamu. Terus kamu suruh aku lari disini.. menjauh dari Order.. Iya kan?"
Mata Kanda melebar keget. Bukan kaget karena Allen memeluknya, melainkan kaget karena seakan Allen bisa membaca pikrannya. Kanda membalas pelukan Allen."Aku gak bisa ngebiarin hidupmu yang tak adil, Allen.."
Kanda memanggil namanya seperti bulu lembut yang berbisik, namun tak dapat menghentikan air mata yang mengalir..
"Kalau gitu kita bisa lari berdua Kanda.."
"Aku juga berpikir seperti itu.. Tapi, dengan jumlah dua exorcist yang kabur, mereka akan mengejar kita dengan kekuatan yang lebih besar. Dan kamu tau tentang ini Allen, tinggal dua kelopak lotus lagi sampai waktu hidupku habis. Aku tak mungkin bisa melindungimu lebih lama.. Lari berdua terlalu beresiko untukmu.."
"Kalau begitu kita bisa mati bersama.."
Kalian tahu? Kanda sama sekali tak mengubah ekspresinya menjadi keget atau marah.. Dia malah tersenyum kecil..,"Memang itu yang kupikirkan.."
Kanda mengangkat dagu Allen untuk memandang kedua mata silver yang berair itu. Tangan lain mendekap pinggang Allen sambil memegang mugen. Dia mencium Allen perlahan.. lembut dan penuh arti.. Untuk yang terakhir kalinya..
Allen kembali membenamkan wajahnya ke dada Kanda. Sementara Kanda mulai mengangkat tangan yang menggengam mugen, digantikan tangan yang lain. Dengan masih memeluk Allen, Kanda mengarahkan mugen ke punggung Allen.. Dengan itu, dia bisa menusuk Allen dan dirinya sendiri..
"Selamat tinggal Kanda.."
"Shh.. salah baka moyashi, kita bakal ketemu lagi nanti.."
"... sampai jumpa.."
Flamer? Pasrah deh.. silahkan.. Aku cuma pengen bawa sesuatu yang baru ke fanfic Indo.. Kuharap kalian suka.. karena aku tidak.. berat buatku untuk nulis cerita yang explicit tentang kematian.. =D
See ya on my next stories..
