Di bawah langit kelabu yang menyembunyikan sinar terik sang surya, gadis berambut merah muda itu melangkah secepat mungkin menuju kafe dengan bangunan yang didominasi dengan warna hitam dan putih seraya membawa sebuah tas kertas di satu tangan serta memegang secarik tisu dengan tangan lainnya.

Langkah kaki gadis itu terhenti sejenak ketika melihat kafe bertuliskan 'Leise' dan ia segera mengatur nafasnya yang sedikit tersengal akibat berjalan dengan setengah berlari.

Lagi-lagi angin dingin kembali menerpa tubuh Sakura dan hidungnya terasa gatal sehingga ia segera menutup hidung dan bibirnya dengan secarik tisu serta bersin.

Sakura berpikir jika keberadaan dirinya yang masih belum sepenuhnya sembuh dari sinus di sebuah kafe yang berkonsep keheningan adalah sebuah kesalahan. Barangkali ia akan bersin berkali-kali atau bahkan harus mengeluarkan suara yang menganggu karena harus membuang lendir di hidungnya.

Tetapi ia tak memiliki pilihan selain datang ke kafe siang ini. Sudah hampir seminggu sejak kali terakhir ia bertemu dengan Sasuke dan ia merasa harus segera mengembalikan coat milik lelaki itu.

Sepanjang hidupnya, Sakura tak pernah mengira jika ia akan berkesempatan mengenakan sebuah produk fesyen buatan desainer terkenal. Ia yang lahir dan tumbuh di keluarga yang biasa-biasa saja bahkan tak pernah tahu berapa harga pakaian buatan desainer terkenal berskala global hingga ia menerima coat yang dipinjamkan padanya malam itu.

Karena itulah Sakura memutuskan untuk segera mengembalikan coat itu setelah tubuhnya sudah cukup kuat untuk berpergian. Ia tak ingin sang pemilik pakaian merasa khawatir bahwa Sakura akan kabur tanpa mengembalikan pakaian yang dipinjamkan padanya, lagipula ia juga merasa terbebani menyimpan sebuah benda mahal milik orang lain yang tak akan sanggup ia beli seandainya ia diharuskan membeli benda itu.

Sakura segera memasuki kafe dan manik emerald-nya berusaha mencari sosok Sasuke. Ketika pandangannya bersua dengan lelaki itu, ia segera mengangkat sudut bibirnya sedikit sebelum melangkah menuju sudut favoritnya.

Gadis berambut merah muda itu mengangkat tas kertas yang ia bawa dan sedikit meremas isinya tanpa membuka stapler yang menutup tas itu, memastikan bahwa dirinya yang pelupa telah memasukkan dua bungkus biskuit rasa tomat yang kebetulan dibelinya saat sedang promo buy one get one di supermarket sebagai ucapan terima kasih.

Sang pelayan berambut pirang yang melayani Sakura pada kunjungan terakhirnya segera menghampiri Sakura dengan membawakan buku menu serta secarik kertas dan pena serta meletakkannya di atas meja.

Sakura menatap ke luar melalui jendela besar di kafe itu, mengamati tetesan air yang mulai berjatuhan membasahi bumi dan menimbulkan suara hujan yang merambat masuk ke dalam kafe yang seharusnya hening. Tampaknya ia akan berada di kafe dalam waktu yang lama, setidaknya hingga hujan reda sehingga ia bisa kembali tanpa harus kehujanan dan membuat sinusnya semakin parah.

Sakura segera mengangkat pena dan menulis pesan.

Aku pesan satu risotto, earl grey cake dan green tea latte.

Lalu, bisakah aku menitipkan barang untuk temanmu yang bernama Sasuke? Katakan padanya kalau aku mengembalikan coat yang dipinjam waktu itu.

Lelaki berambut pirang itu menatap pesan yang dituliskan Sakura dan terkesiap sesaat. Ia bahkan tak tahu kalau temannya yang tak pernah tampak tertarik dengan wanita manapun bisa meminjamkan sesuatu pada wanita yang ditemuinya entah dimana.

Sudut bibir lelaki itu terangkat membentuk seringaian jahil. Ia harus membahas ini pada Sasuke setelah kafe tutup nanti.

Lelaki pirang itu segera meninggalkan meja Sakura setelah menyerahkan tas kertas serta melangkah dengan hati ringan dan memberikan nota pesanan itu pada koki di dapur setelah merobek pesan tambahan yang dituliskan Sakura.

Ia segera menghampiri Sasuke dan menepuk lengan lelaki itu serta menyeringai jahil dan menyerahkan kantung kertas yang diberikan Sakura.

Sasuke menerima kantung kertas itu dengan sedikit keheranan dan Naruto segera menggerakkan kedua tangannya, berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat.

'Gadis berambut merah muda itu mengembalikan coatmu.'

Sasuke hanya mengangguk dan menerima kantung kertas itu. Ia menduga bahwa konversasi akan berakhir sehingga ia berniat menanyakan apa pesanan gadis itu, tetapi Naruto kembali menggerakkan tangannya.

'Wah, wah. Tak kusangka temanku yang seperti es batu ini bisa bersikap baik pada wanita. Jangan-jangan kau tertarik padanya.'

Sasuke mendengus pada lelaki berambut pirang yang mengaku-ngaku sebagai temannya itu. Bagaimana mungkin ia tertarik pada seseorang yang bahkan tak ia ketahui namanya? Jika ia bisa jatuh cinta semudah itu pada orang lain, mungkin ia akan mencintai seluruh wanita yang pernah ditemuinya.

Saat itu Sasuke hanya merasa iba sekaligus sedikit terganggu mendengar suara bersin yang tak kunjung berhenti ketika ia berkunjung ke supermarket. Ketika ia menyadari gadis itu sedang sakit dan memakai pakaian yang terlalu tipis serta tampaknya tak bisa pulang karena hujan, ia secara refleks menghampiri gadis itu dan meminjamkan coat yang sedang ia pakai.

'Kau sudah gila, dobe. Apa pesanannya?'

Naruto tersenyum tipis dan melirik Sakura yang sedang mengetik dengan komputer jinjingnya dan berhenti sejenak untuk bersin.

'Green tea latte, risotto dan earl grey cake. Tampaknya gadis itu tergila-gila dengan earl grey cake buatanmu hingga selalu memesannya setiap kali datang.'

Sasuke tak menjawab perkataan Naruto dan ia segera menunduk untuk meletakkan tas kertas itu di dalam almari yang berada di bawah meja. Tetapi terdengar suara plastik yang aneh ketika ia berusaha melipat tas kertas itu sehingga ia merasa penasaran dan berniat membuka isinya.

Atensi Sasuke tertuju pada secarik kertas yang disatukan dengan tas kertas itu dan ia segera membaca pesan itu.


Terima kasih untuk pinjaman coatnya. Maaf aku baru bisa mengembalikan sekarang karena aku sedang sakit. Aku juga sudah mencuci coatnya, jadi kau tidak perlu mencuci lagi.

Oh ya, aku juga membelikan biskuit sebagai ucapan terima kasih. Kuharap kau suka.

- Sakura


Sasuke merasa heran dengan alasan gadis itu memberitahukan namanya meski ia tak harus melakukannya. Namun ia segera menghiraukannya dan membuka isi tas kertas itu.

Pupil sewarna batu onyx milik lelaki itu sedikit terbelalak ketika melihat isinya. Ia tak tahu bagaimana bisa gadis itu membelikan biskuit tomat yang merupakan kesukaannya.

Sasuke segera meletakkan tas kertas ke dalam lemari dan bersiap untuk membuat latte pesanan gadis itu. Tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat sebelum ia mengulumnya begitu menyadarinya.

.

.

Sakura memijat pelipisnya dan mendesah pelan. Entah kenapa otaknya seolah tak sudi untuk berkoordinasi saat ini. Ia begitu ingin menyelesaikan bab terakhir novel yang hendak dikirimkan pada penerbit langganannya, tetapi tak ada sedikitpun gambaran mengenai diksi maupun scene yang tepat.

Gadis itu berniat menutup laptop-nya dan segera kembali ke rumah. Ia berencana untuk beristirahat hingga sembuh dan berharap inspirasi akan datang dengan sendirinya. Namun rintik hujan masih tak jenuh untuk berguguran membasahi bumi.

Sakura memutuskan menghabiskan suapan terakhir risotto pesanannya dengan rasa yang membuat mood-nya meningkat meski ia sedang terjebak di dalam kafe saat ini. Olahan nasi itu memiliki rasa yang creamy dan keju yang sangat terasa di setiap gigitan serta terdapat potongan daging salmon yang lembut dan gurih.

Ia begitu menikmati kelezatan risotto itu hingga ia tak peduli jika kue pesanannya bahkan belum disajikan meski biasanya ia begitu menantikan rasa kue itu. Dan ketika Naruto menghampirinya, ia sempat tergoda untuk memesan risotto porsi kedua, namun mengurungkan niat karena ia tak akan sanggup menghabiskannya.

Naruto meletakkan piring berisi earl grey cake pesanan Sakura serta sebuah piring dengan sepotong kue yang terdiri dari beberapa lapis dengan berbagai gradasi warna biru dengan pinggiran berupa coklat putih dengan corak ombak berwarna biru laut serta krim berwarna biru muda di atasnya.

Gadis merah muda itu mengernyitkan dahi saat Naruto meletakkan piring berisi kue asing itu di atasnya. Ia berpikir jika Naruto salah memberikan pesanan sehingga ia berniat mengeluarkan secarik kertas dan pena di atas meja untuk meminta sang pelayan mengambil kue itu kembali. Namun lelaki itu memberikan secarik kertas dan meninggalkan meja.

Sakura terheran-heran dengan tindakan Naruto dan ia segera membuka kertas yang terlipat menjadi empat lipatan serta membaca pesannya.


Terima kasih untuk biskuit tomatnya. Aku sangat menyukainya.

Kue di atas mejamu merupakan kue terbaru kreasiku, Ocean Mint Velvet. Aku berencana menjualnya bulan depan. Tolong berikan kritik dan saranmu.

- Sasuke


Sakura menatap kue yang berada di hadapannya. Sejujurnya kue itu memiliki bentuk yang unik dan ia tak pernah melihatnya di manapun sebelumnya. Seandainya Sasuke tak mengatakan kalau kue tersebut adalah kreasinya, maka ia tak akan pernah mengira jika Sasuke adalah orang yang membuat kue tersebut.

Rasanya sulit membayangkan jika orang seperti Sasuke adalah seorang pembuat cake, terlebih dengan penampilannya yang terkesan cuek dan seolah tak peduli dengan hal-hal yang memerlukan kesabaran dan kreatifitas seperti membuat kue.

Sepertinya kini Sakura harus belajar untuk tak menilai seseorang berdasarkan penampilan. Terkadang penampilan dapat memberikan kesan yang berbeda jauh dengan apa yang sesungguhnya dimiliki oleh orang tersebut.

Sensasi rasa dingin yang bercampur dengan rasa krim seketika memenuhi indera pengecap Sakura ketika ia mencicipi kue itu untuk pertama kalinya. Ketimbang rasa manis, kue itu malah memiliki rasa mint yang kuat dengan sedikit rasa manis yang berasal dari coklat putih di pinggir kue.

Meskipun terdapat krim rasa mint yang lumayan banyak, anehnya kue tersebut sama sekali tidak membuat mual atau meninggalkan after taste yang terasa kurang enak di mulut.

Selain itu, kue tersebut cukup moist dan lembut sehingga membuat cita rasa kue secara keseluruhan terasa lezat.

Sakura melirik Sasuke yang sedang membuat kopi pesanan pelanggang lain sebelum memutuskan menuliskan pesan di atas kertas.


Sepertinya aku akan menjadi pelanggan pertama kue buatanmu, haha ...

Walaupun rasa mint di kue ini begitu dominan dan mungkin terlalu kuat untuk sebagian orang, aku malah menyukainya. Rasanya begitu segar dan teksturnya pun lembut.

Terima kasih untuk kue nya.

-Sakura


Sakura segera melipat kertas itu dan kembali menikmati kue pemberian Sasuke. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan visual dan kelezatan kue buatan lelaki itu.

-TBC-


Author's Note :


Sebetulnya, earl grey cake di karya ini terinspirasi dari kue yang kucoba di salah satu kafe belum lama ini. Bahkan foto kue dan minuman green tea latte yang kupesan waktu itu kujadikan sebagai cover karya ini di wattpad.

Untuk chapter selanjutnya kemungkinan akan kuperbanyak porsi cerita dengan sudut pandang Sasuke agar tidak terlalu monoton.