I'm Baaaaaaack~
Yep, maaf minna-swaaan ane baliknya lama. Cz nyari wangsit ke gunung merapi dulu sih. Jiah. Chapter 2 Update. Dan mau bilang, chapter ini panjang bgt (ada 12 halaman ). hoho *Kudu sabar bacanya*.
Dan seperti yang biasa Moist_fla-san bilang,
"SEBARKAN KEBAHAGIAAN MELALUI TULISAN"
Yaaap~.. Ane nyebarin fic ane agar bisa menghibur minna-saaan~
*Kepedean*
Oke, tak panjang tak lebar, langsung Check it out aja.. Kalo Minna-san bersedia meReview fic jelek ane ini, silakan di klik tulisan "REVIEW" dibawah, and buat komen atau saran atau ide (Boleh juga) di kotak Reviewnya.
Yohohohoho
Warning : AU, Mr. Typo, OOT, OOC, Gaje, sok roman, sok keren dan sejenisnya.
Desclaimer : Udah kubilang dari kemarin2. Oda-sensei udah ngijinin aku buat ngobrak-abrik karyanya #BUGH *Ditonjok Om Oda (lagi & lagi)*
"Tuan" Kata Sanji sembari menekur memberi hormat
Zoro hanya menatap Sanji sekilas. Lalu kembali menatap Istrinya yang sedang berdiri di depannya. Robin menutup mulut dan membelalakkan matanya shock saat mendengar wanita berambut orange itu memanggil suaminya dengan panggilan 'sayang'. Di tambah lagi saat ia menyadari tangan suaminya yang sedang merangkul pinggang ramping wanita itu. Hatinya terasa bagai ditusuk oleh ratusan jarum yang sangat tajam. Tapi Robin berusaha berpikiran positif. Ia mengesampingkan wanita itu. Dan menggapai lengan Zoro.
"Zoro.. kemana saja kau selama i…" Ucapan Robin terputus saat Zoro membuang tangannya dengan kasar dan menarik Nami bersamanya.
Robin terpaku. Ia hanya bisa diam saat Zoro berlalu disampingnya begitu saja. Sanji yang melihat ekspresi dingin tuannya itu hanya diam mengamati punggung Zoro yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangan.
"Nyonya…" Sanji khawatir melihat Robin yang sedari tadi terdiam membelakanginya.
"…."
"….."
"Setidaknya aku tahu dia baik-baik saja, ya kan Sanji?" Robin berbalik dan tersenyum getir kepada Sanji.
Sanji yang melihat senyuman palsu Robin hanya terpaku. Ia sungguh tidak menyangka istri tuannya itu begitu tabah dan besar hati. Walaupun berat, ia pun mengangguk merespon ucapan wanita di depannya itu.
"Begitulah nyonya"
.
.
Ting Tong
Bel rumah berbunyi. Robin yang kebetulan sedang duduk di sofa ruang tamu membukakan pintu sebelum pelayannya mendahului.
KREEK
Tampaklah seorang wanita paruh baya berdiri di depannya. Jantung Robin berdegup cukup kencang menyaksikan kedatangan mertuanya itu. Tumben sekali wanita berambut orange kriting itu mampir ke rumahnya. Mana lagi saat ini ia dan Zoro sedang ada masalah. Pasti akan gawat sekali kalau ia tahu Zoro tidak pulang beberapa hari ini.
"Ibu..? Si..silakan masuk bu" Robin mengajak mertuanya yang bernama Dadan itu ke dalam rumah. Lalu mempersilahkannya duduk di ruang tamu.
Dadan menatap seisi ruangan seksama.
"Mana suamimu?"
"Oh.. dia pergi ke kantor bu" Bohong Robin
"Hmm… Kau sendiri, kenapa tidak pergi mengajar?"
"Sekarang kan lagi libur bu. Minggu besok baru aku mulai mengajar lagi"
"Ooo.. oya, Kau suruhlah Zoro pulang. Ada yang ingin ibu bicarakan dengannya"
DEG
Jantung Robin seolah berhenti berdetak mendengar suruhan mertuanya barusan. Bagaimana bisa ia menyuruh Zoro pulang? Sedangkan handphone suaminya itu tidak aktif dan tidak bisa dihubungi.
"Tapi bu… mungkin Zoro sibuk. Ia tidak mungkin bisa pulang"
"Sesibuk apapun dia, kalau ibunya yang suruh ia pasti akan pulang"
"Tapi bu…"
KREEKK
Robin mengerem ucapannya saat pintu rumah terbuka lebar dan berdirilah seorang pria yang begitu familiar didepannya.
"Zoro?" Batin Robin shock
"Tuh kan, dia tidak sibuk. Makanya jangan sembarangan berasumsi" Dadan terlihat kesal kepada Robin.
"Ibu.. apa yang kau lakukan disini?" Zoro terlihat kaget dan melangkah menghampiri ibu kandungnya itu.
"Tidak.., ibu hanya merindukan kalian saja. Makanya ibu kesini"
"Oh.." Zoro mengerling Robin yang menekurkan wajahnya. Lalu duduk disebelah wanita berambut raven itu seolah tidak terjadi masalah sebelumnya.
"Aku buatkan minuman dulu" Celetuk Robin langsung berdiri dan berlalu ke dapur. Zoro hanya diam dan menatap punggung istrinya yang mulai menghilang dari pandangan.
"Zoro.. kapan kalian akan punya anak? Ibu pengen punya cucu nih"
Zoro terpaku mendengar pertanyaan dari ibunya barusan.
"Ibu sangat iri kepada teman-teman ibu yang sudah pada punya cucu. Mereka itu lucu-lucu sekali. Dan pasti akan sangat menyenangkan kalau rumahmu ini ada anak-anaknya. Tidak akan sesepi ini"
Zoro terus diam mendengar curahan hati ibunya. Ia mengepal erat tangannya. Tidak sanggup mendengar harapan kosong ibunya lagi, Zoropun bangkit dari kursi dan bersimpuh memeluk lutut ibunya.
"Zoro..? apa yang kau lakukan?"
"Maafkan aku bu… tapi.. tapi aku dan Robin tidak akan bisa mempunyai anak"
Dadan membelalakkan matanya shock.
"A..apa maksudmu?"
"Robin… Robin… dia mandul bu" Zoro menggertakkan giginya menahan tangis
"APA?"
"Kami sudah memeriksa ke dokter beberapa hari yang lalu. Dan dokter bilang kalau kami tidak akan bisa memiliki anak bu"
"Z…Zoro.." Tanpa sadar air mata Dadan membasahi pipinya. Hatinya begitu sakit mendengar pengakuan dari anak semata wayangnya itu. Sirna sudah harapannya selama ini. Ia yang sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu tidak akan bisa mewujudkan keinginannya. Ia mengusap kepala Zoro yang berada di atas lututnya. Merasa begitu kasihan kepada anak yang begitu ia cintai, ia hanya bisa menahan tangis.
"Ibu…" Robin sedikit kaget melihat pemandangan di depannya. Dadan menoleh menatap menantunya itu.
"ROBIN.. KENAPA KAU TIDAK BILANG KALAU SEBENERNYA KAU ITU MANDUL?"
PRANGG
Tanpa sadar jemari Robin melemah dan membuat cangkir teh yang ia bawa tadi pecah di lantai saat mendengar teriakan mertuanya itu. Air teh yang masih panas di dalam cangkir itu berserakan dan memercak ke kakinya. Tapi entah kenapa ia tidak merasa perih sama sekali. Karena saat ini hatinya jauh lebih perih dari kulitnya yang terbakar.
"I..ibu.." Desis Robin dengan tubuh yang bergetar hebat hendak memecah tangisnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya kepada ibu,Robin? Ibu sungguh malu sekali. harapan ini.. harapan ini.. ibu telah mengobral harapan palsu ini kepada semua orang. Ibu benar-benar malu!" Dadan tak kuasa menahan tangisnya. Para pelayan yang berada di ruangan itu hanya menunduk sedih dan berlalu menuju dapur.
"Ibu, kami baru mengetahuinya beberapa hari ini. Jadi aku belum sempat mengatakannya pada ibu"
"POKOKNYA IBU TIDAK TAHAN LAGI! IBU PULANG!"
Dadanpun langsung menyambar tasnya dan bangkit dari sofa untuk meninggalkan ruangan.
"IBU…"
BLAM
Belum sempat Robin menyelesaikan ucapannya, pintu rumah sudah tertutup rapat. Robin dan Zoro hanya terpaku pada tempat masing-masing. Suasana di ruanganpun menjadi sunyi sepi.
"…."
"Apa sekarang kau sudah puas?" Suara dingin Robin membuat Zoro yang sedang bersimpuh di depan sofa menoleh padanya.
"Apa maksudmu?"
"Tsk. Jangan berpura-pura bodoh. Kau senang kalau ibu membenciku kan? Lalu setelah itu kau bisa menikah dengan wanita jalang kemarin"
"Hei, jaga omonganmu. Aku mengatakannya karena itu harus ku katakan. Lagian suatu saat nanti ibuku akan tahu juga akan kenyataan ini"
Robin terdiam. Ia mengepal erat tangannya. Sedangkan Zoro bangkit dari lantai dan melangkah meninggalkan ruangan.
"Kenapa kau pulang?" Ucapan Robin membuat Zoro menghentikan langkahnya
"Memangnya kenapa? Ini adalah rumahku. Kenapa aku tidak boleh pulang ke rumahku sendiri?"
"Tsk. Kenapa tidak pulang ke rumah wanita simpananmu saja?"
"Huh, Kenapa? Kau cemburu?"
Robin hanya diam mengepal erat tangannya. Zoro yang melihat sikap istrinya itu hanya tersenyum sinis.
"Sudah berapa kali kau menidurinya?"
"Tsk. Kau pikir aku akan menghitungnya?"
"Jadi benar kau telah tidur dengan wanita jalang itu"
"Hei. Kuingatkan padamu ya… jangan memanggil wanitaku dengan sebutan 'Ja-lang'. Dia itu lebih baik darimu. Dia bisa memuaskanku"
"Cih.. Kalau begitu kenapa tidak kau nikahi saja dia?"
Zoro tersentak diam. Ucapan istrinya barusan benar-benar di luar dugaannya. Selama ini ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Tapi, mendengar ucapan Robin barusan, emosinya benar-benar meledak-ledak. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menatap Robin yang sedang berdiri di belakangnya.
"Tidak perlu cemas. Cepat atau lambat,.. Aku pasti akan melakukannya"
DEG
Jantung Robin seolah berhenti berdetak mendengar ucapan suaminya barusan. Bibirnya beku tak dapat berucap. Air matapun menggenangi pelupuk matanya. Tapi ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
"Tidak boleh. Tidak boleh.. aku tidak boleh terlihat lemah di depannya" Batin Robin menahan tangisnya. Sedangkan Zoro berlalu meninggalkan ruangan.
.
.
Zoro masuk ke dalam kamar dan mengganti bajunya. Setelah itu ia langsung pergi ke kantor. Setibanya di kantor, ia langsung bekerja cukup sibuk. Karena mengingat pekerjaannya yang terbengkalai selama beberapa hari ini. Sebelumnya ia memang sudah menghubungi perusahaan kalau ia akan cuti beberapa hari untuk menenangkan diri. Dan telah mengutus sekretarisnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh sekretaris itu. Tapi walaupun begitu, pekerjaannya tetap menumpuk banyak dan harus diselesaikan dengan tangannya sendiri.
Sementara Zoro sedang sibuk di ruangannya. Nami datang ke perusahaan. Ia menanyakan ruangan pria berambut hijau itu kepada Resepsionis. Sang Resepsionispun langsung menelpon ke Zoro kalau ada yang mencarinya. Mengetahui orang itu adalah Nami, Zoropun langsung memerintahkan resepsionis itu untuk mempersilakan Nami masuk.
"Terimakasih" Kata Nami kepada resepsionis itu dan segera berlalu ke ruangan Zoro yang terletak di lantai teratas.
Tok Tok Tok
"Masuk"
Mendengar suara itu Nami tersenyum dan langsung membuka pintu. Zoro menoleh ke pintu. Melihat wanita berambut orange itu berdiri di depan pintu ia tersenyum lebar dan bangkit dari kursi kerjanya.
"Bagaimana kau tahu perusahaanku?" Tanya Zoro sembari memeluk Nami
"Aku kan melihat Kartu pengenalmu,bodoh" Nami menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Zoro.
"Dasar. Kau benar-benar pintar" Zoro tersenyum sinis.
"Ya~h.. begitulah. Oea Sayang…"
"Hmm.."
"Aku ingin shopping nih. Beri aku uang dong"
"Tsk.. Kau mau uang berapa?" Gumam Zoro masih memeluk mesra selingkuhannya itu.
"Cukup lima ju…"
KREK
Ucapan Nami segera terputus saat pintu ruangan Zoro tiba-tiba terbuka. Mereka menoleh ke pintu. Dan saat menyadari sebuah sosok familiar sedang berdiri menatap mereka shock, Zoro langsung melepas pelukannya ke Nami.
"Zo..Zoro… apa yang kau lakukan?"
"I…ibu?"
.
.
"Sial. Siapa orang tua bangka itu? Berani-beraninya mengusir dan mempermalukanku di depan orang banyak! Huh" Nami mengomel-ngomel di sepanjang trotoar dengan rambut acak-acakan akibat amukan Dadan. Semua orang dipinggir jalan yang melihatnya saling berbisik dan menatapnya geli.
"APA LIAT-LIAT?" Bentak Nami yang merasa tidak nyaman. Orang-orang itu hanya tersenyum-senyum dan menjauhinya.
"Dasar!"
Ciiiiiittt
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di samping Nami. Nami yang masih mengomel-ngomel terdiam dan melihat mobil itu seksama. Menyadari siapa yang baru saja keluar dari mobil itu, ia membelalakkan matanya dan langsung lari menjauhi orang itu sekuat tenaga..
"WOI.. NAMI! BERHENTI!" Teriak orang yang keluar dari mobil sembari mengejar Nami.
.
.
"Nyonya.. kepala sekolah SMA Raftel menyuruh anda untuk pergi ke sekolah sekarang juga" Kata Sanji kepada Robin yang sedang duduk merenung di sofa ruangan tengah. Robin menatap Sanji berat, lalu ia bangkit dari sofa dan pergi ke kamar untuk mengganti pakaian.
Sanji yang melihat wajah murung Robin menelan ludah. Ia benar-benar kasihan melihat majikannya itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ia hanyalah seorang Bodyguard. Tak ada yang special. Ia memang bisa melindungi Robin dari bahaya. Tapi tidak untuk melindungi Robin dari suaminya sendiri. Karena suami Robin adalah tuannya juga.
Beberapa menit kemudian, Robinpun keluar dari kamar. Ia berlalu menuju teras dan langsung naik ke atas mobil yang telah disiapkan Sanji. Tak ketinggalan sebelumnya Sanji membuakakan pintu untuk Robin. Setelah Robin masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang, Sanjipun langsung berjalan mengitari mobil dan membuka pintu depan. Lalu duduk di kursi stir. Setelah merasa semuanya siap, Sanjipun langsung melajukan mobil ke sekolah tempat Robin mengajar.
Cukup lama diperjalanan, tapi suasana di dalam mobil hanya diam tak berpenghuni. Sanji mencuri lihat Robin dari spion depan. Dan tampaklah Robin hanya diam menundukkan kepalanya. Ia pasti sangat tertekan sekali setelah bertengkar dengan Zoro tadi. Sanji menghela nafas. Lalu kembali focus menyetir.
Setibanya di sekolah, Sanji menghentikan mobil di depan gerbang dan langsung ke luar dari mobil untuk membukakan pintu Robin. Semua murid yang ada di dekat gerbang bersorak-sorak melihat kedatangan guru Sejarah mereka yang terkenal di kalangan murid itu. Robin tersenyum kepada murid itu dan masuk ke dalam sekolah buru-buru. Para murid yang mendapat senyuman ramah Robinpun bersorak-sorak kegirangan.
Sementara itu, Sanji kembali masuk ke mobil dan pergi meninggalkan gerbang. Ya.. sebelumnya Robin telah mengatakan, kalau ia tidak ingin Sanji mengikutinya sampai ke dalam sekolah. Karena ia tidak suka terlalu dijagai. Dan takutnya nanti semua orang pada takut kepadanya. Makanya Sanji hanya di bolehkan mengikutinya sampai ke gerbang sekolah. Dan sepulang sekolah nanti, Sanji baru menjemputnya lagi. Para murid di sekolah itu sudah tahu siapa Sanji. Dan tak sedikit dari mereka yang tidak menyukainya. Dengan berbekal wajah tampan, rambut blonde, alis pelintir, gaya keren dan body bagus. Para murid di sekolah itu suka mengincarnya dan mencari perhatiannya. Tapi Sanji tidak pernah menggubrisnya. Karena ia hanya menjalankan tugas dan hanya memperhatikan majikannya seorang, Nico Robin yang begitu ia cintai.
.
.
Seperti biasa, saat Robin sedang disekolah, Sanji akan pergi ke tempat yang bagus untuk menghabiskan waktu bebasnya. Kali ini ia memilih tepian sungai Han untuk beristirahat. Tapi waktu di persimpangan empat, perhatian Sanji teralihkan pada seorang pria yang sedang menghajar seorang wanita habis-habisan. Tidak tega mendengar teriakan wanita itu, Sanjipun langsung memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan dan langsung meloncat ke luar mobil untuk menghentikan pria itu.
BUGH
Tiba-tiba Sanji menendang pria yang hendak menonjok wanita itu dengan kakinya. Sehingga membuat pria tak dikenal itu terbanting ke jalanan. Semua orang yang awalnya enggan ikut campur dengan masalah pria itu kini berkumpul dan melihat kejadian itu bergerombolan.
Pria yang tersungkur tadi bangkit dan menatap Sanji geram.
"SIAPA KAU?" Bentaknya sembari mengeluarkan pisau.
Sanji hanya diam tenang. Ia menatap pria itu tajam, focus kepada pisau di tangannya yang bersiap melukainya. Tapi begitu pisau itu diarahkan pada Sanji, Sanjipun langsung mengelak dan merebut pisau di tangan pria itu dengan mudah. Sang pria kaget dan langsung kabur dengan wajah ketakutan. Sedangkan Sanji dengan santainya melempar pisau itu jauh-jauh. Orang-orang yang melihat aksinya barusan bersorak-sorak terkagum-kagum atas keberaniannya. Sanji hanya menghela nafas. Lalu berbalik memastikan keadaan wanita yang baru saja dianiaya pria tadi. Tapi, sungguh kaget dirinya saat mengetahui siapa wanita itu.
"Kau?" Kata ke-2nya kaget
Sanji langsung berbalik dan hendak meninggalkan wanita itu. Tapi, wanita itu tidak tinggal diam dan langsung membarokade jalan Sanji.
"Terimakasih kau telah membantuku"
Sanji hanya diam dan kembali melangkah, tapi lagi-lagi wanita itu membarokade jalannya.
"Kau bodyguard istrinya Zoro kan?"
"Dan kau adalah selingkuhan tuan Zoro"
Wanita yang tak lain adalah Nami itu hanya terdiam. Sanji yang merasa muak berada di dekat wanita yang telah menghancurkan hidup majikannya itu berdecak kesal dan langsung pergi meninggalkan Nami.
"Hei, Tunggu.."
Sanji tidak mendengarkan Nami. Dan hanya berlalu dengan mobilnya.
Nami menatap mobil yang dikendarai Sanji seksama. Entah kenapa, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria berambut kuning itu. Tiba-tiba terpikirkan dibenaknya sebuah rencana. Nami tersenyum licik. Lalu mengeluarkan Handphonenya.
"Zoro.. ada yang ingin ku katakan padamu"
.
.
"Sensei, kenapa sensei mau menjadi guru disini? Padahal sensei kan kaya. Punya Bodyguard yang ganteng lagi. Ngapain juga capek-capek kerja disini?" Kata seorang murid yang bernama Luffy heran kepada Robin yang duduk disampingnya.
Robin hanya tersenyum, lalu ia mengacak-acak rambut murid kesayangannya itu.
"Karena cita-cita sensei dari kecil adalah menjadi seorang guru. Makanya begini"
"Oooh~ pantesan ya" Luffy mengangguk-angguk antara mengerti dan tidak mengerti.
"Oea sensei, pekerjaan suami sensei sebenarnya apa? Kok sensei harus pake Bodyguard segala?" Tanya murid yang satunya lagi.
Robin terdiam. Ia hendak menjawab pertanyaan murid yang bernama Vivi itu. Tapi segera batal saat sebuah mobil muncul di depannya. Dari mobil itu keluarlah Sanji.
"Maaf atas keterlambatan saya nyonya" Kata Sanji sembari merungkuk 90 derajat ke depan Robin. Robin menghela nafas. Lalu bangkit dari bangku yang terletak di depan gerbang sekolah dan menghampiri Sanji.
"Sudahlah. Aku tidak menunggu lama kok" Kata Robin tersenyum ramah.
Sanji membelalakkan matanya. Ia sungguh kaget melihat perubahan Robin yang jauh berbeda dari tadi pagi. Ini pasti karena hiburan di sekolah. Makanya ia bisa tersenyum indah seperti dulu lagi. Sanji kembali berdiri kokoh. Lalu ia berjalan ke pintu mobil dan membukakannya untuk Robin.
"Luffy-kun, Vivi-chan.."
"Ya?" Sahut Vivi & Luffy beriringan
"Besok kita lanjut ya obrolannya. Sensei pulang dulu. Bye~" Vivi & Luffy tersenyum. Lalu balas mendadahi guru mereka itu. Robin masuk ke mobil. Sedangkan Sanji menutup pintu dan berjalan ke pintu depan. Lalu ikut masuk ke mobil dan mengemudikannya meninggalkan gerbang sekolah..
Mobilpun berlalu meninggalkan Luffy & Vivi yang duduk berdua menatap kepergian sensei mereka. Vivi menghela nafas,
"Bodyguardnya sensei sangat tampan. Aku tidak bisa bernafas XD"
"Lho.. Vivi, bukannya kata Chopper-sensei orang yang tidak bisa nafas itu udah mati? Iiiii~ jangan-jangan kamu udah mati ya? Gyaaaaaaa"
Luffy langsung lari terbirit-birit meninggalkan Vivi. Sedangkan Vivi hanya bisa diam sweatdrop.
.
.
Setibanya di rumah. Robin langsung masuk ke kamar untuk mandi. Sedangkan Sanji bersiap memasukkan mobil ke garasi. Tapi ia dikejutkankan oleh kedatangan Zoro yang tiba-tiba.
"Tuan?" Sanji menunduk menunjukkan rasa hormatnya
"Sudahlah, tidak perlu seformal itu padaku"
Sanji mengangkat wajahnya menatap Zoro heran.
"Sanji, mulai besok kau tidak perlu menjadi Bodyguard Robin lagi"
Sanji kaget dan membelalakkan matanya.
"K..kenapa tuan?" Tanyanya shock
"Jangan Tanya kenapa. Yang penting, mulai besok kau akan menjadi Bodyguard Nami"
"Nami?" Sanji mengerutkan alisnya karena tidak mengenal orang bernama Nami itu. Zoro menghela nafas.
"Ya, Nami. Nami selingkuhan ku yang waktu itu bertemu dengan kalian di danau"
"A..apa?"
TBC
Makin ancur yak? Ato Gaje? Jiah.. semoga nggak terlalu buruk deh part yg ini. Hoho. Habis buatnya nggak konsen sih. Maaf ya kalau mengecewakan next chapternya reader-swaaaaan~.
Season balas review,
#nar-ice Makasih udh sempat RnR nar-san. Ini chapter 2nya udh nyahut. (Tapi suer panjang bgt ya?) wkwk
#moist fla wkwkwk
Ternyata Zoro keliatan kejam bgt ya disini? Hoho syukurlah bisa membuat emosi reader-saaaan meledak2 *Cieileh*. Oea, tenang aja Fla-san, ntar royaltinya ku bagi dgnmu (Laga penulis beneran aja) wkwk
#aquillaa Hai Nadine-chan. Makasih udh nyempet RnR yak, syukurlah ficnya sesuai dgn keinginanmu. Padahal aku juga nyari2 lho, tp nggak ketemu2, makanya buat ndiri aja. (walo ancur). Wkwk. Yep, kita sama2 pecinta ZoRo nih. Yohohoho
#Hanahime Suzuran Sabar suzu-chan. Sabar. Zoro sebenernya baik hati ramah tamah rajin menabung dan rajin tidur kq. Wkwk
wah, ternyata ane masih bnyk yg salahnya ya. Emg deh sebenarnya ane g terlalu ngarti dgn tanda baca yg bener itu gmana. Hoho. Makasih udh ingetin yak ^^
#aos Yosh, ternyata kamu nyadar ya gan kalo blueno itu seharusnya shaky?. Yep, sebenernya ane mau bikin shaky. Tapi nggak tau kenapa jari malah ngetik blueno (Efek enies lobby nih). Maaf ya jadi salah gini. Masak rambut blueno ane bilang segi? Pdhl dia kan punya rambut kyak tanduk. Wkwk. Maaf yep, ane lancing. Yohohoho
