LIFE
By Jiyeoon
PROLOG
Cast :
Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun
Kim Kibum as Kim Kibum
Kim Ryeowook as Kim Ryeowook
And other (Cast akan bertambah seiring cerita)
Genre : Friendship/Brothership
WARNING :
IF YOU DONT LIKE, YOU SHOULD NOT READ. THE CAST ARE BELONG THEM SELF, BUT THIS STORY IS MINE. NO PLAGIAT, MURNI IDE SAYA. NO BASH, REVIEW AFTER READ. Dont copy paste without my permission.
SUMMARY :
Kisah 3 remaja dengan latar belakang yang berbeda, mempunyai kisah dan masa lalu yang menyedihkan. Ketiganya hanya ingin merasakan apa itu bahagia sampai takdir menyatukan mereka menjadi sahabat. Namun bagaimana jika orang-orang dimasa lalu mereka muncul dan mulai mengusik kebahagiaan yang sudah mereka bangun?
CHAPTER 1
*LIFE*
Malam ini begitu dingin, suhu udara yang mencapai 5 drajat membuat jaket baseball yang dikenakan Kibum tak mampu melindungi tubuhnya dari dinginnya udara saat ini. Dibanding menggerutu, ia lebih memilih untuk terus mempercepat langkahnya melewati gang sempit yang terletak di pinggiran kota Busan itu agar cepat sampai kerumah.
Beberapa langkah lagi ia sampai dirumah, langkahnya terhenti ketika melihat beberapa orang dengan pakaian hitam tengah berdiri dan berusaha mendobrak pintu kayu lapuk rumah sewaannya itu. Walaupun tidak terlalu jelas, tapi Kibum dapat menghitung setidaknya ada 4 orang didepan rumah kecil itu.
Kibum menghela nafas lelah, raut wajahnya datar, namun sungguh anak 16 tahun itu benar-benar merasa lelah. Dalam perjalanan ia terus menginginkan tidur nyenyak setelah bekerja paruh waktu di tiga tempat sehari penuh saat sampai rumah, namun sepertinya itu tidak bisa dilakukannya sekarang.
Dengan berat hati Kibum mengeluarkan amplop kecil dari saku celananya. Menatapnya sesaat, lalu secara bergantian menatap 4 orang itu dan rumah kecilnya.
"Cih, sepertinya aku benar-benar harus menunda mendaftar senior high school tahun ini." gumamnya datar, namun beberapa detik kemudian ekspresi mengejek terlihat diwajah datarnya. Lagi-lagi seperti ini, sampai kapan ia terus seperti ini?
Kibum melangkah tanpa takut mendatangi 4 orang dengan tubuh yang jauh lebih besar darinya itu. Ia menyodorkan amplop yang digenggamnya tadi ke salah satu orang.
"Pergilah. Ini yang kalian cari bukan? Aku rasa itu cukup." Ucap Kibum singkat ketika melihat raut bingung orang didepannya.
Orang itu menarik kasar amplop yang disodorkan Kibum. Memeriksa berapa lembar uang yang ada didalamnya, beberapa saat orang itu tertawa keras, membuat Kibum mengeryitkan keningnya bingung.
"Cih, anak kecil. Dimana pemilik rumah ini eoh?"
Kibum tanpa sadar mendengus kesal mendengar kalimat 'anak kecil' dari orang dihadapannya ini. "Appa tidak ada. Itu uang untuk membayar hutangnya. Kalian pasti penagih hutang judi appa bukan? Pergilah aku ingin tidur." Akhirnya kalimat panjang dikeluarkan oleh anak 16 tahun itu, sepertinya ia mulai kesal berurusan lama-lama dengan 4 ahjussi bertubuh besar dihadapannya. Kibum tidak berbohong, appanya memang pasti tidak ada, malam seperti ini biasanya sang ayah berada di tempat orang-orang bermain judi.
"Eoh, kau anaknya? Waw, berita bagus untuk bos. Lihatlah anak ini manis bukan?" salah satu dari mereka berseru keras.
"Ya, akupun tak yakin ayahnya mampu membayar 30 juta won itu dalam seminggu. Malang sekali nasib anak ini, haha."
Dan akhirnya Kibum membulatkan matanya, tak banyak ekspresi, namun matanya yang melotot itu menandakan ia benar-benar terkejut. 50 juta won? Apa ia salah dengar? Ayahnya memang sering berjudi, sering kali Kibum menggunakan gaji bulanannya untuk membayar hutang judi ayahnya itu, tapi tadi orang-orang ini menyebut 50 juta won?
Ah Kibum merutuk kelambatannya dalam berpikir kali ini, mungkin ia lelah. Orang-orang yang baisa menagih hutang judi ayahnya biasanya berpakaian preman dengan tatto dimana-mana. Tapi orang-orang dihadapannya ini berpakaian rapi layaknya bodyguard, pasti kali ini lebih besar dari hutang judi. Mana mungkin ayahnya berjudi sampai sabanyak itu, biasanya Kibum akan membayar paling banyak satu juta won.
"50 juta won. Appa.." gumam Kibum tanpa sadar.
"Ya 50 juta won." Orang itu membenarkan. Ia mengibaskan amplop yang diberikan Kibum tadi didepan wajah anak itu seolah meremehkannya. "Dan ini baru 500 ribu won, bahkan belum 5% anak kecil."
"Sebaiknya kau cari appamu itu dan cepat suruh appamu itu untuk membayar hutangnya, ia hanya punya satu minggu. Kami akan datang lagi besok." Salah satu dari mereka berucap sembari menepuk bahu Kibum cukup keras, setelahnya mereka berlalu meninggalkan remaja 16 tahun yang masih berdiri termenung, tidak ada ekspresi jelas yang tergambar diwajah anak itu.
Kibum bahkan tak mendengarkan dengan jelas ucapan mereka, Kibum masih terkejut. 50 juta won? Dari mana ayahnya akan mendapat uang sebanyak itu? Dan untuk apa ayahnya berhutang sebanyak itu?
Kibum tak ingat lagi tentang keinginanya untuk tidur seperti orang mati dirumah sepanjang perjalan tadi. 50 juta won terus terbayang di otak cerdasnya. Dengan lemas melangkah masuk kedalam rumah kecilna, berjalan menuju dapur, berniat meneguk air putih agar setidaknya pikirannya bisa lebih tenang.
Sampai sebuah objek diatas meja makan menghentikan langkahnya menuju lemari pendingin. Kibum dengan cepat melangkah mengambil sebuah kertas putih yang terlipat diatas meja kayu.
Kibum bukan orang yang naif, ia bisa membayangkan dan memperkirakan apa yang mungkin ayahnya lakukan, dengan gemetar Kibum membuka surat itu, membaca kata perkata tulisan sang ayah yang tidak terlalu rapih.
Baru beberapa detik membaca Kibum sudah merosot jatuh terduduk dilantai dingin itu, ia mengepalkan tangannya marah bersamaan dengan air mata keluar dari bola mata indahnya. 'aku ditinggalkan lagi.' Dalam hati Kibum meringis. "Appa.." gumam Kibum lelah.
"Appa Wae?" Kibum akhirnya berteriak marah, ia meremas kasar surat ditangannya. Kibum akhirnya menangis, tidak banyak air mata, namun setidaknya setetes air yang keluar dari kedua bola mata hitam itu telah menggambarkan bagaimana seorang Kim Kibum sangat lelah menanggung ini. Bukan, bukan karena hutang, lebih dari itu, Kibum benci ditinggalkan.
.
.
.
"As a representative of my friends Class, i want to say goodbye to our beloved school, and our beloved teachers. We will always remember this school. The last, I hope we always be more and more diligent in studying, and reaching for our highest dreams and goals. Thank very much for your attention.." Remaja 15 tahun itu mengakhiri pidatonya dengan senyum manis dan membungkuk sopan sesaat, membuat beberapa siswi perempuan dari berbagai negara yang tengah menontonya dari bangku penonton merona merah melihat wajah tampan cenderung manis itu.
Cho Kyuhyun, putra bungsu keluarga Cho yang memiliki dapartement store terbesar di asia berpusat di Beijing. Seolah mewarisi kepandaian sang ayah, ia adalah peraih nilai ujian tertinggi di salah satu junior high school bertaraf international di Beijing tahun ini. Karena itu, ia diberi kehormatan untuk memberikan pidato mewakili 1000 lulusan di upacara perpisahan sekolah. Ia terus memberikan senyum terbaiknya ketika orang-orang mulai bertepuk tangan menunjukkan kekagumannya kepada dirinya.
Dari atas panggung itu ia mengamati dengan seksama bangku yang tersedia untuk wali murid. 'Aboji sedang di Amerika, apa hyung tidak mau datang? Aku kan sudah menaruh surat itu dikamarnya.' tidak menemukan siapapun, dalam hati ia hanya bisa meringis perih.
Dengan terus menunjukkan senyum palsunya, ia turun dari panggung itu, beberapa temannya yang berasal dari berbagai negara mulai menghampiri dan mengucapkan selamat atas prestasi akhir yang diraihnya disekolah ini. Akhir? Ya sebelumnya Cho Kyuhyun sudah begitu sering menduduki peringkat satu di sekolah itu, belum lagi medali-medali yang ia sumbangkan ke sekolah ini.
"Congratulation Kyuhyun." James, salah satu temanya yang bermata biru, berambut pirang khas orang inggris mengucapkan selamat pertama kali.
"Thanks dude." Kyuhyun memang seperti itu, inilah dirinya yang sebenarnya ketika berada didekat orang yang dekat dengannya.
"Which school you choose to continue dude?" Takuya, kali ini siswa tampan yang berasal dari Jepang itu bertanya.
"Dont know, have no plan about it now. We have 3 months left before register senior high school right?" Kyuhyun menjawab acuh.
"Yes, but.. Hello Kyuhyun, you are smartest friend I ever had, I didnt believe how could people like you didnt had plan about it." Kali ini gadis cantik dengan name tag Victoria di seragamnya berucap logis.
Kyuhyun mengangkat bahu acuh mendengar ucapan logis Victoria, gadis asli China yang cukup dekat dengannya. Kyuhyun memang friendly, ia punya cukup punya banyak teman disekolah ini.
4 orang itu kembali mengobrol bersama sambil menuju ke bangku penonton. Seolah tak begitu perduli dengan berbagai tatapan kagum dari orang-orang disekitar mereka, ah lebih tepatnya tatapan kagum itu mereka berikan kepada Kyuhyun, bukan hanya siswa, tapi juga beberapa wali murid yang menghadiri acara perpisahan itu.
Kyuhyun menyadarinya, tatapan kagum mereka, bisikan kagum mereka akan dirinya, Kyuhyun senang mendengar itu, namun di satu sisi ia merasa sedih akan hal itu. Orang-orang lain memandangnya kagum, mengucapkan selamat kepadanya, sementara mereka, orang-orang yang diinginkan Kyuhyun hadir diacara ini tidak pernah sekalipun menatapnya bangga. Salahkan Kyuhyun yang terlalu naif berharap Hyung sulungnya sudi menggantikan sang ayah menemaninya di hari penting ini. Kyuhyun sudah berusaha, melakukan terbaik, menjadi anak dengan sikap patuh penuh sopan santun, namun itu sepertinya tidak cukup, tidak akan pernah cukup.
Sebuah tepukan pelan dibahunya menghentikan tawa Kyuhyun bersama teman-temannya. Ahjussi Lee, salah satu pelayan dirumahnya yang juga berasal dari korea sudah berdiri dibelakangnya sekarang, membuat Kyuhyun sedikit heran karena seingatnya ia tak berangkat dengan supir tadi pagi, ia dijemput oleh Takuya.
"Maaf Tuan Muda, tadi saya sudah memberitahu Tuan Jungsoo, tapi ia tidak menanggapi. Nyonya juga masih di Jepang saat ini. Apakah tidak apa jika saya yang menggantikan mereka?" tanya Ahjussi Lee sendu kearah Kyuhyun, ia pun bersedih melihat Tuan kecilnya ini sedikit berbeda dari yang lain.
"Tidak perlu, acaranya sudah hampir selesai ahjussi. Kita pulang saja sekarang. Terimakasih sudah datang." Kyuhyun menjawab sopan, Kyuhyun anak sopan bahkan kepada pelayan sekalipun. Kyuhyun berdiri dan mulai berjalan meninggalkan 3 temannya yang dari awal tak mengerti apa yang Kyuhyun perbicangkan dengan sang pelayan.
"Kyuhyun, where you wanna go?" James menghentikan langkahnya.
"Eoh, I think I must be leaving now. Sorry." Kyuhyun menjawab tidak enak.
"Yak, how could you...auch" belum selesai Takuya mengomel, Victoria telah menginjak kasar kakinya.
"Its Okey Kyuhyun, You looks so tired today. Go home and take a rest."
Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan pengertian dari Victoria, gadis itu memang selalu mengerti, ia juga tahu bagaimana kehidupannya dirumah mewah itu. Kyuhyun pun menyadari ada rasa yang dimiliki Victoria kepadanya, namun apa daya Kyuhyun hanya menganggapnya teman, tidak lebih, Kyuhyun sudah memiliki banyak hal untuk dipikirkan diusia muda dibanding memikirkan cinta-cinta anak remaja.
.
.
Dalam perjalanan menuju rumah Kyuhyun hanya terus memandang kearah jendela, menatap gedung-gedung pencakar langit di sepanjang ibukota China itu, ia meringis mengingat hari ini, sekali lagi dalam hidupnya, ia sendiri di moment bahagia yang tidak mudah ia capai.
Saat sampai di rumah mewah itu, Kyuhyun langsung memilih mendudukkan tubuhnya di atas sofa empuk diruang tengah, menyalakan telivisi untuk sekedar menghilangkan penatnya.
Baru lima menit duduk santai di sofa itu, seseorang mengalihkan perhatiannya dari acara tv.
"Aku ingin menonton acara olahraga."
"Ah, ini remotnya Donghae Hyung." Kyuhyun memberikan remot yang tadi digenggamnya dengan sopan kearah kakaknya. Ya, Cho Donghae, Putra kedua keluarga Cho.
Setelehnya tak ada percakapan diantara mereka, Donghae asik menonton dan Kyuhyun yang diam dan kikuk tak melakukan apapun.
"Eomma akan pualng malam ini, kau tidurlah dihotel." Ucap Donghae singkat dan acuh.
"Ah, Ne." Kyuhyun hanya mengangguk patuh, selalu seperti ini, ia tak berani bertanya dan tak berhak protes. Kyuhyun anak yang patuh, ingat itu.
"Tidak ada yang tidur di hotel malam ini."
.
.
TBC
Ryeowook chapter depan ya. Hehe, ini mereka belum ketemu, aku mau gambarin masalah mereka satu persatu dulu.
Mind to Review this chapter?
