Hai! Author kembali lagi! Ahahah~ tumben update kilat~ XD

Yosh! Banyak yang tidak tahu anime Kuroshitsuji, ya? Tenang, disini saya cuma menggunakan tema 'butler iblis' yang ada di anime Kuroshitsuji. Yah, kalo jalan cerita sih beda, kok! (sepertinya)

Dan, banyak yang bilang ceritanya kurang jelas. Well, yang chapter sebelumnya kan cuma prolog^^ So, disini pasti (kuharap) akan lebih jelas.

Yosh, bacot sampe sini dulu! Happy Reading!


Orange Butler

Oleh : ariadneLacie

.

BLEACH

Oleh : Tite Kubo

.

Kuroshitsuji

Oleh : Yana Toboso


Chapter 1

"The Contract."


Rukia's PoV

Dasar Ichigo sialan! Gara-gara dia ngeliatin aku kemarin, aku kan jadi ga konsen belajar! Aaargh! Ujian… ujian… masa sih, pemimpin perusahaan cake terkenal di dunia, yang mempunyai profesi sampingan sebagai pianis handal, gagal dalam ujian? Memalukan sekali, kan?

Oke, tenang, Rukia. Tenang. Hmmm… mari kita lihat soal yang lain dulu… Coklat. Apakah nama Negara pengkonsumsi coklat terbanyak? Eh? Apa ya? Aduh… kok bisa-bisanya sih aku lupa? Ichigo… Ichigo… tolong aku!

End of Rukia's PoV


Normal PoV

Disaat Rukia sedang pusing dalam mengerjakan soal ujian 'sejarah kuliner'-nya, tiba-tiba ia melihat sekelebat bayangan menyelinap masuk. Dan, bayangan itu segera berubah menjadi sosok yang sangat ia kenal. Sosok Ichigo Kurosaki.

Ichigo dengan tatapan yang lembut memandang Rukia. Ia pun beralih dari memandang Rukia ke kertas ujian Rukia yang masih kosong banyak.

"Wah, wah, nona, bukankah kemarin nona sudah seharian mengurung diri di kamar? Kenapa ujiannya tidak bisa?" kata Ichigo sambil tersenyum meremehkan.

Rukia hanya diam saja. Ia malas memandang wajah Ichigo sekarang. Ia sudah tahu tampang seperti apa yang Ichigo pasang sekarang. Meremehkan. Mengejek. Merendahkan. Cih, dasar iblis!

"Biar kubantu mengerjakannya nona, untuk soal yang 'negara pengkonsumsi coklat terbanyak', jawabannya Swiss, nona," kata Ichigo. Rukia mau tidak mau langsung mengisi jawaban sesuai yang Ichigo katakan.

"Baiklah… untuk soal yang ini…"


"Bagaimana ujiannya, nona?" tanya Ichigo dalam perjalanan pulangnya dengan Rukia.

"Cih, kau mengejekku? Yah, aku sih optimis. Lagipula sebagian besar jawabannya kan diberitahu kau!" kata Rukia kesal. Ia pun memalingkan wajahnya dan memilih untuk melihat keluar jendela mobil. Ichigo hanya terkekeh kecil.

"Oh ya, kok tadi kau tidak terlihat sih, oleh teman-teman dan guruku?" tanya Rukia. Karena sedikit kesal, ia lebih memilih untuk tidak memandang Ichigo. "Dan, kok kau tahu aku sedang membutuhkan bantuan? Padahal, seharusnya kan tadi kau sedang mengurus pekerjaan di rumah."

"Anda lupa ya? Saya ini kan, iblis," kata Ichigo santai. "Hmm… terkadang saya bisa membuat wujud saya terlihat dan tidak, loh. Yah, tapi itu juga tidak bisa terlalu sering. Karena hal seperti itu agak menguras tenaga saya."

"Humm… lalu?" kali ini Rukia melirik Ichigo sedikit. Dilihatnya Ichigo masih tetap melihat lurus ke depan. Konsentrasi pada jalan raya.

"Oh, itu. Tentu saja, karena hukum kontrak. Kita terikat kontrak sebagai butler dan tuan, tepatnya iblis dan manusia. Dan, jika anda memanggil saya, atau membutuhkan bantuan saya, saya pasti akan segera berada di sisi anda. Anda lupa?" jelas Ichigo.

"Bukan berarti kau bisa membaca pikiranku, kan?" tanya Rukia.

"Tentu tidak. Saya… hanya bisa menebak. Itu saja," kata Ichigo.

Rukia berbalik dan menatap Ichigo tajam. Hmmm… sepertinya ia harus lebih waspada sekarang.

"Ada apa?" tanya Ichigo, membalas tatapan tajam Rukia dengan tatapan lembut yang dapat membuat siapapun tenang. Rukia agak tersentak dengan tatapn Ichigo itu, ia pun segera memalingkan wajahnya.

"Tidak…" dan, seketika itu juga Rukia kembali ke saat pertama kali ia bertemu dengan Ichigo. Bertemu dengan iblis itu. Iblis yang menyelamatkannya dari kesendirian, sekaligus memberikan bencana terbesar untuknya.


Flash Back (Semua flash back adalah Rukia's PoV)

Tiga bulan yang lalu...

14 January 2010

Jam sudah menunjukan pukul 05.55 sore. Meskipun matahari masih bersinar remang-remang, tetapi Kota Karakura sudah tidak mendapat sinar matahari lagi. Langitnya sudah tertutup oleh awan hitam yang tebal, dan mulai mengeluarkan rintik-rintik air. Makin lama makin deras. Di tengah hujan yang semakin deras itu, aku tengah berdiam diri di tengah sebuah lapangan luas.

Namaku Rukia Kuchiki. Adik dari Hisana Kuchiki, dan mempunyai seorang kakak ipar bernama Byakuya , perusahaan cake kak Byakuya bangkrut. Dan... yang membuatku dendam padanya... dia... dia ternyata menjualku! Karena itu terpaksa aku kabur dari rumahku yang megah itu kemari. Meskipun hujan, dan sudah hampir malam, daripada aku diam di rumah yang berbahaya itu!

Kurasakan badanku sudah basah kuyup. Wajahku juga pasti terlihat pucat karena kedinginan. Tetapi aku tetap diam disini. Padahal banyak petir yang mulai menyambar. Sungguh tempat yang berbahaya untuk berdiam diri.

Dan, disaat aku itu melihat ke langit. Tepat disaat sebuah petir menggelegar. Hendak menyambarku yang berada di tengah lapangan itu. Tapi, tidak apa-apa. Mungkin kau memang berniat mati dari awal? Dan, aku pun merasa semuanya menjadi putih.

.

"Jiwa yang rapuh, tetapi kuat. Kenapa kau berniat membunuh dirimu semudah itu?"

.

Aneh. Aku tidak merasakan sakit. Tetapi aku malah merasakan badanku sudah tidak teguyur hujan lagi. Dan, aku mendengar sebuah suara yang aneh... terkesan berat dan menyeramkan.

"Buka matamu, dan lihatlah aku."

Aku pun memberanikan diri untuk membuka mata. Kulihat sesosok pria berbadan atletis memayungiku dengan payung hitam. Ia memakai jubah hitam, dan memakai tudung. Sehingga membuat wajahnya tidak terlalu terlihat. Matanya berkilat menyeramkan di balik tudungnya itu.

"Siapa?" tanyaku. "Kau menolongku? Kenapa?"

Pria itu membuka tudungnya dan memperlihatkan wajahnya. Matanya berwarna coklat, sedangkan rambutnya jabrik... dan berwarna oranye. Meskipun ia terlihat agak menyeramkan, tetapi rambutnya itu membuaku ingin tertawa. Tetapi aku mengurungkan niatku karena wajah tampan pria tersebut memperlihatkan sebuah seringai yang menyeramkan.

"Aku menolongmu... karena aku tidak ingin kau mati. Tetapi kau jangan salah paham... aku menolongmu juga karena ada maksud lain..."

Aku terdiam sejenak. 'Ia berniat membunuhku?' pikirku. Dan, seakan dapat membaca pikiranku, pria tersebut menjawab.

"Ya, aku berniat membunuhmu."

Mataku membulat seketika. Wajahku pasti terlihat mengeras. Itu karena kaget. Tetapi akhirnya aku berhasil mengontrol diri dan memperlihatkan ekspresiku yang biasa dan dingin. "Silahkan." Pria itu pun menyeringai mantap.

"Kau... benar-benar jiwa yang menarik. Hmm... yah, tadinya aku ingin langsung membunuh... tidak. Memakan jiwamu. Tapi, aku urungkan niatku itu..."

"Baiklah, sebenarnya kau ini apa?" tanyaku.

"Iblis."

Setelah pria itu mengucapkan satu kata tersebut, petir menggelegar kembali. Membuat mata coklat si pria itu berkilat menyeramkan. Sesaat, aku merasa bahwa mata pria itu berubah warna menjadi merah.

"Lalu?" tanyaku. Aku merasa tertarik akan apa yang akan dilakukan pria yang mengaku sebagai iblis itu.

"Mungkin kau ingin... menjalin kontrak denganku..."

"Kontrak?"

"Ya, karena aku lebih menyukai jiwa yang matang dan berkualitas daripada jiwa mentahan yang murahan. Tetapi, jika kau mengecewakanku di tengah kontrak kita, maka aku akan langsung... melahapmu."

"Menarik. Apa syaratnya?"

"Tentukan batas waktu kontraknya. Dan, batas waktu kontraknya adalah ketika aku mengabulkan permintaanmu. Kau bebas memilih satu permintaan, dan, aku akan mengabulkannnya. Atau membantumu mengabulkannya. Apakah itu cukup jelas?"

"Tentu. Baiklah... aku Rukia Kuchiki. Namamu?"

"Ichigo Kurosaki."

"Baiklah, Ichigo Kurosaki. Jadilah... pelayan setiaku. Temani aku sampai aku... sampai kau merasa bahwa jiwaku sudah benar-benar pantas."

"Tidak ada permintaan yang lebih spesifik? Seperti... membalaskan dendam? Aku tahu, kau sangat benci pada kakakmu, Byakuya Kuchiki, kan?"

Aku terdiam sejenak. Nii-sama? Aku tidak membencinya. Hanya saja... aku kecewa padanya. "Tidak. Aku... mungkin aku akan memikirkannya dulu. Lagipula, jika kau memang pelayan pribadiku, kau akan mematuhi segala perintahku, kan? Termasuk membalaskan dendamku."

Ichigo menyeringai. Dan, kali ini aku melihat dengan sangat jelas. Matanya berkilat dan berwarna merah pekat. Gigi-giginya terlihat menjadi lebih tajammenyerupai gigi taring. Kulihat sepasang sayap berwarna hitam muncul dari balik punggungnya. Payung hitam yang ia pegang pun berubah menjadi sebuah pedang panjang berwarna hitam pekat. Ia pun menyodorkan tangan kanannya padaku. "Baiklah, Rukia Kuchiki. Mulai sekarang, kita terikat dengan sebuah kontrak."

Dengan agak ragu aku pun mengangkat tanganku. Tapi akhirnya aku mengusir keraguanku tersebut dan menjabat tangan Ichigo dengan mantap. "Tentu, Ichigo Kurosaki."

Dan, aku tidak percaya akan apa yang kulakukan setelah aku menjalin kontrak dengan Ichigo.

End of Flashback (End of Rukia's PoV)


"Ichigo, kau masih ingat disaat pertama kali kita bertemu?" tanya Rukia sambil menatap lekat wajah Ichigo. Ichigo pun segera menghentikan mobilnya. Kebetulan mereka sudah sampai di depan pintu rumah.

"Tentu saja, ada apa?" tanya Ichigo sambil membuka pintu mobil. Ia pun keluar dan bergegas melangkah menuju pintu yang satunya. Lalu ia membukakannya untuk Rukia.

"Kau... aku... kapan aku akan... 'mati'?" tanya Rukia. Nada bicaranya terdengar agak aneh saat ia mengatakan 'mati'. Sepertinya kata itu mengandung arti lain, dan Ichigo menyadari itu.

"Tenang saja, nona. Sampai saat ini, anda belum pernah mengecewakan saya," kata Ichigo sambil memegang tangan Rukia, dan membantunya keluar dari mobil. Rukia hanya terdiam mendengar jawaban Ichigo tersebut.

"Kenapa? Memangnya, apa yang dapat membuatku mengecewakanmmu?" tanya Rukia.

"Hmmm... itu tergantung. Lagipula, jika saya beritahu anda, pasti ini tidak akan menarik lagi, kan?" kata Ichigo. "Daripada itu, sampai sekarang saya masih penasaran. Kenapa anda tidak memerintahkan saya untuk membunuh kakak anda, Byakuya Kuchiki? Anda malah memerintahkan saya untuk membangun kembali perusahaan kakak anda yang sudah bangkrut."

Rukia pun berjalan menuju pintu rumahnya yang tingginya jauh melebihi dirinya. Dibukanya pintu itu perlahan, dan dilihatnya ruang tamunya yang luas. Dengan berbagai lukisan yang dipajang di dinding. Rukia tersenyum tipis memandang lukisan-lukisan tersebut. Itu adalah lukisan kakaknya, Byakuya Kuchiki. "Kalau aku mengatakannya, ini tidak akan jadi menarik lagi, kan?"

Ichigo agak kaget saat mendengar jawaban Rukia. Ia tidak menyangka kata-katanya sendiri akan dikembalikan oleh 'nona'-nya tersebut. "Very well, ini menjadi semakin menarik saja, my lady."


To Be Continued


Oo...la! Dan, selesailah chapter 1 uwoo~ anyway, ini masih kayak prolog ga sih? Ko aku susah banget ya bedain yang begituan aja? Maklum... author agak sedih gara-gara... NILAI UAS MATH AUTHOR 75! Aaaah! Yah, tapi ternyata lumayan banyak yang dibawah 75 juga^^''

Oye, thanks for the reviews, ya! Searaki Icchy, Dee, Kyu9, ruki-darklight17, aRaRaNcHa, Chancha-Flower, Wi3nter, Hime Licious, Ruki Yagami, Jee-ya Zettyra.


Dan, ini balesan review yang belum sempet dibales di PM, ataupun yang gak login! ^^

Dee : Iyak, Ichi iblis XD ahaha makasih udah bilang keren^^ yosh, ini udah update!

Hime Licious : Heee... makasih udah bilang ceritaku keren! #tangisanbahagia Wahahaha~ Ichi kan multi-talent, dia bisa jadi apa aja asal keren XDd UlquiHime? Hee? Wah, saya emang ada niat bakalan masukin Ulqui ke cerita ini, tapi ga tau bakalan jadi UlquiHime atau ngga XD Tunggu saja ya~

Ruki Yagami : Bukan setan, iblis #samaaja! ga pa-pa kok. meskipun ga tau juga, di fic ini nanti pasti bakalan dijelasin detail-detailnya^^ yosh, ni udah update!

Jee-ya Zettyra : XD makasih udah nyaranin buat keep^^ bakalan ak keep kok, karena sepertinya lumayan banyak yg suka cerita ini XD heee~ ak bikin versi IchiRuki juga karena kupikir bakalan keren~ yah, semoga fic ini emang keren yak~ #narsisgila #salah #coret

Maafkan jika ada kesalahan penulisan pen-name, ya! author udah agak ngantuk! DX


Oke, bingung mau ngomong apa lagi. So... review, please? Maafkan segala kecacatan dan ketidak jelasan dalam cerita ini! Author hanyalah makhluk Tuhan yang tidak berdaya!