Malam belum terlalu larut untuk makan malam. Naruto yang saat itu tengah berperang melawan tumpukan benda berwarna putih yang telah ternodai oleh tinta hitam yang siap untuk ia setujui atau ia tolak. Ya, Dokumen. Monster dokumen.

Dalam satu dokumen itu terdapat tumpukan kertas yang tidaklah sedikit. Sementara itu di mejanya terdapat tumpukan dokumen. Dapat dibayangkan berapa tumpukan benda berwarna putih yang telah ternodai oleh tinta hitam yang menunggu untuk dibaca oleh sang pemimpin desa.

Dalam hati Naruto mengutuk kesal terhadap pekerjaan membosankan ini. Dan ia merasa iri dengan Tsunade – yang sudah ia anggap sebagai ibunya, dan Tsunade dengan senang hati menerima hal tersebut – yang saat ini telah menyelesaikan masa jabatannya. Dan dapat Naruto bayangkan, kini ibu – angkatnya – itu tengah asyik minum sake.

Ditempat lain,,

"Uhuk..." Tsunade yang saat ini tengah minum sake yang ditemani Shizune tersedak secara misterius.

"A-ada apa Nona Tsunade?" Tanya Shizune gugup. Tidak biasanya, Tsunade tersedak minuman kesukaannya.

"Sial. Sepertinya bocah menyebalkan itu tengah membicarakan hal buruk tentangku. Awas saja, kalau aku ke Konoha. Akan aku hajar habis dia." Gerutu Tsunade ditengah alam mabuknya.

Shizune hanya berkeringat dingin mendengar gerutuan Tsunade. Ia tahu siapa 'bocah menyebalkan' yang dimaksud Tsunade. Shizune hanya berharap bocah itu selalu terhindar untuk bertemu dengan Tsunade.

Kembali ke tempat Naruto,,

Naruto yang saat ini tengah kalut dengan tumpukan dokumen dan laporan hanya bisa membatin. Tunggu aku Hinata-chan. Batin Naruto miris.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Adventure, Fantasy

Rate : T

Warning : OOC, Semi-AU, Beberapa hal tidak ada dalam Canon, Don't Like Don't Read, Peringatan tentang umur pemain :

Naruto N : 27 Tahun

Naruto U (Flashback) : 12-13 Tahun

Hinata N : 27 Tahun

The Hope © Ru Unni Nisa

Present...

Gelap. Naruto dapat melihat suasana rumahnya sudah gelap. Ia merutuki kesialannya yang hari ini mendapat banyak sekali dokumen dan laporan untuk ia selesaikan. Hingga akhirnya ia tidak bisa makan malam bersama keluarga. Naruto dapat menebak, semua keluarganya pasti sudah terlelap.

Hal pertama yang ia lakukan ketika sudah masuk ke dalam rumah adalah kamar kedua anak kembarnya. Dengan perlahan, Naruto memasuki kamar bernuansa anak – anak. Didalam kamar tersebut terdapat dua tempat tidur anak – anak.

Dinding sebelah kiri berwarna ungu lavender yang merupakan warna kesukaan anak perempuannya, Yui Namikaze. Sedangkan dinding sebelah kanan berwarna biru langit yang merupakan daerah kekuasan anak laki – laki pertamanya, Hiroto Namikaze.

Untuk yang pertama, Naruto menuju tempat tidur Hiroto. "Oyasumi, Hiroto. Maaf, ayah tidak bisa makan malam bersamamu dan adikmu." Dan dengan bisikan itu, Naruto mencium kening anak itu dan segera menghampiri anak perempuannya.

Setelah melakukan hal yang sama, Naruto segera menuju kamar si bungsu ceria, Kaito Namikaze dengan perlahan. Naruto segera melakukan hal yang sama dengan kedua anaknya yang lain. Ia segera menuju kamarnya dengan istrinya.

Dan betapa terkejutnya, Naruto ditengah perjalanannya menuju kamar yang harus melewati meja makan. Naruto melihat Hinata yang tengah tertidur di meja makan dengan beberapa makanan.

Naruto tersenyum. Sepertinya Hinata menunggunya hingga larut dan akhirnya tertidur dengan posisi yang tidak sehat seperti ini.

"Hinata-chan." Panggil Naruto pelan. Dan ia sedikit menggoyang – goyangkan bahu istrinya itu.

Dan seperti terkena sentakan, tubuh Hinata langsung bergerak tegak. "Na-Naruto-kun. Naruto-kun sudah pulang?" Tanya Hinata yang masih mengantuk.

Dengan tersenyum, Naruto menjawab. "Tadaima, Hinata-chan."

Hinata yang melihat Naruto tersenyum dan mendengar sapaan itu, merona. Dengan gugup, Hinata menjawab. "O-Okaerinasai, Naruto-kun." Hinata berusaha menghilangkan kegugupannya. "Na-Naruto-kun pasti lelah. Na-Naruto-kun ingin mandi dengan air panas dulu apa makan malam?" Tanya Hinata.

Naruto berfikir sejenak. "Ehm, menurut Hinata-chan. Mana yang lebih dulu?" Naruto sebenarnya lapar, namun tak dapat dipungkiri ia juga lelah dan ingin menyegarkan tubuhnya.

"Le-lebih baik, Naruto-kun mandi dulu. Tunggulah disini Naruto-kun. A-aku akan menyiapkan air panasnya dulu." Izin Hinata.

"Arigatou, Hinata." Balas Naruto. Dan ketika Naruto ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Ia melihat sebuah toples 'harapannya' di atas meja makan. Sepertinya Hinata menunggunya untuk menceritakan harapannya tersebut.

Naruto tersenyum, ia mungkin masih bisa menceritakan sebuah harapannya. Karena kerja kerasnya hari ini, dan semua tumpukan monster itu telah tiada untuk hari ini. Besar kemungkinan, besok tugas yang ia kerjakan lebih sedikit dari hari ini.

Setelah dipanggil oleh Hinata untuk mandi, Naruto segera beranjak memasuki kamar mandi yang sudah ada air panas yang menunggunya untuk digunakan.

.

.

Setelah selesai mandi dan memakai piyama, Naruto melihat Hinata telah selesai memanaskan makanan untuknya.

"Hinata-chan." Panggil Naruto seraya duduk berhadapan dengan Hinata di meja makan.

"Na-Naruto-kun sudah selesai mandi? A-aku sudah memanaskan makanannya." Ujar Hinata.

"Arigatou, Hinata-chan. Ayo duduklah. Temani aku makan." Pinta Naruto seraya menarik lembut tangan Hinata agar duduk disebelahnya.

Dengan gerakan kaku karena gugup, Hinata menuruti permintaan Naruto. Dengan tenang Naruto memakan makanan yang telah disiapkan Hinata. Tak dapat dipungkiri lagi, perutnya benar – benar lapar. Otaknya kelelahan menerima tugas seberat itu dan menerima informasi dari beberapa bunshin-nya yang membantunya untuk menyelesaikan tugas Hokage.

"Hinata-chan masih mau menungguku?" Pertanyaan tiba – tiba Naruto sukses membuat lamunan Hinata buyar.

Hinata langsung menolehkan pandangannya pada sang suami yang telah selesai makan. Namun sejujurnya ia masih bingung dengan pertanyaan Naruto barusan. "A-aku tidak mengerti apa yang Naruto-kun tanyakan."

Naruto terkikik pelan. "Ah, sudahlah. Lupakan saja." Nauro seraya berdiri. "Lagipula, kau sudah melupakan apa yang kau inginkan seperti tadi pagi." Naruto segera melenggang menuju kamarnya.

"Eh? Na-Naruto-kun ingin menceritakan hal itu?" Tanya Hinata yang baru saja tersadar dari lamunannya.

Naruto menunjukan senyum lebar khasnya. "Ya, kalau Hina-chan ingin mendengarnya. Aku menunggumu di kamar, Hina-chan." Dengan itu Naruto menghilang dari pandangan Hinata.

Sejurus kemudian, Hinata yang mengerti maksud dari Naruto. Segera membereskan alat makan yang digunakan Naruto agar ia segera menyusul suaminya menuju kamar.

.

.

"Kita mulai dari mana Hina-chan?" Tanya Naruto ambigu ketika Hinata sudah berada di kamar mereka. Dan saat ini mereka tengah duduk di tempat tidur menghadap satu sama lain.

"Te-terserah Naruto-kun saja." Jawab Hinata malu – malu. Mengingat posisi ini entah bagaimana, ia membayangkan sesuatu yang aneh.

"Hum...baiklah. Hina-chan yang memilih, ya. Ayo tutup matamu dan ambil salah satu kertas ini." Naruto menunjuk pada toples yang sama sekali tidak penuh dengan kertas. Mungkin hanya kurang dari 10? Entahlah, Hinata tidak bisa menghitun kertas bertumpuk itu. "Um...Hinata, malam ini hanya satu saja. Sudah terlalu malam. Nanti kamu bisa terlambat bangun besok." Peringat Naruto.

Hinata mengangguk mantap. Meskipun 1 setidaknya, ia mengetahui satu hal tentang Naruto. Hinata menutup matanya dan memasukkan tangan mungilnya kedalam toples tersebut dan mengambil salah satunya. Ia merasa mengambil yang paling dasar, eh?

"Buka dan bacalah, Hina-chan." Titah Naruto lembut.

Hinata membuka matanya dan membuka sebuah gulungan kecil yang sepertinya sudah sangat lama. Terlihat, kertas itu sudah menguning. Dengan perlahan Hinata membukanya. Alis Hinata mengerut melihat tulisan diatas kertas itu.

Tulisan itu benar – benar tulisan anak – anak. Tidak beraturan dan sama sekali tidak rapi. Tidak sama seperti milliknya ketika masih kecil, rapi dan bagus. Hinata tercekat mendengar analisisnya sendiri. Mengkinkah, tulisan itu merupakan tulisan ketika Naruto masih kecil.

Hinata sedikit melirik kearah Naruto yang masih menunggu suara yang keluar dari Hinata. Merasa tidak enak melihat suaminya lama menunggu. Hinata segera membacakannya. Walaupun dengan alis yang masih mengerut dan menajamkan mata agar bisa membaca dengan baik.

Aku ingin memiliki rumah orang tua.

Dahi Hinata mengerut menyamai alisnya setelah ia membaca tulisan aneh bin ajaib tersebut. Hinata sama sekali tidak mengerti. Akan lebih masuk akal jika tulisan ini berbunyi, Aku ingin memiliki rumahku sendiri. Ya, itu sepertinya masuk akal. Tapis sepertinya Hinata lupa saat ini ia tengah membaca kenginginan milik siapa.

Keinginan milik Naruto Namikaze. Seorang ninja penuh kejutan. Untuk itu seharusnya Hinata tidak heran mengalami hal ini. Lamunan Hinata langsung buyar begitu mendengar suaminya tengah tertawa – lebih tepatnya mengejek.

Hinata berkedut kesal. Ditengah kebingungannya seperti ini, kenapa suaminya justru tertwa mengejeknya. Hampir saja Hinata mengeluarkan jutsu Hakke Kusho jika saja Naruto tidak meminta maaf padanya.

"Aduh, Hina-chan. Apa kau tahu? Wajahmu benar – benar lucu ketika melihat dan membaca kertas itu." Naruto mulai mengendalikan tawanya. Hinata merona mendengar penjelasan dari Naruto.

Hingga akhirnya Naruto berhenti tertawa dan mulai memasang posisi berfikir. "Ah, ya. Aku ingat kapan aku menulis permohonan itu. Ketika aku berumur sekitar 12 tahun. Tepatnya sebelum menerima Hitai Ate dari Iruka-sensei setelah kelulusanku sebagai Genin." Ujar Naruto menjawab pertanyaan entah milik siapa.

Hinata memiringkan kepalanya, ia masih tidak mengerti dengan hubungan permohonan dalam kertas itu dan jawaban Naruto. Mengerti dengan ketidakpahaman Hinata, Naruto milai menjelaskannya.

"Begini. Ketika suasana akademi sedang senangnya karena banyak sekali orang tua yang bangga kepada anaknya. Mereka..." Naruto memulai ceritanya.

FLASHBACK : On

Siang hari yang cerah itu benar – benar membantu penduduk Konoha yang berbahagia. Semua orang tua yang berkumpul untuk menjemput anak mereka yang telah lulus dari ujian Genin. Tak jarang beberapa diantara mereka sengaja membesar – besarkan sang anak agar terdengar sangat hebat. Namun, sebagian lainnya memilih untuk pulang dan merayakannya di rumah.

"Hei, lihat. Aku dengar anak sial itu tidak lulus ujian." Bisik salah satu warga ke warga lainnya. Mereka menatap sinis pada seorang anak berambut pirang yang saat ini tengah duduk di ayunan di bawah pohon yang cukup jauh dari mereka.

"Benar. Keputusan yang tepat. Anak seperti itu tidak pantas menjadi Shinobi Konoha."

"Iya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Konoha jika anak itu menjadi Shinobi."

"Ya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia masih memiliki orang tua. Mereka pasti akan sangat malu dan sia – sia melahirkannya."

"Tentu saja itu tidak akan terjadi, lagipula. Dia'kan..."

"Ssht... Ini di akademi. Kalau Hokage-sama mendengarnya. Kita akan mendapat hukuman." Seseorang menyahut mengintrupsi salah seorang yang hampir saja membeberkan aturan yang dilarang untuk disebutkan. Namun wajib diketahui.

Sontak mereka terdiam, melihat anak yang mereka bicarakan itu sudah tidak ada lagi di ayunan bawah pohon. Dan hanya meninggalkan ayunan yang masih bergerak pelan karena dorongan angin yang cukup kuat menghembus.

Naruto berjalan perlahan menuju apatemennya. Entah bagaimana, dadanya terasa sakit. Padahal ia sedang tidak sakit. Sejenak ia memukul dadanya untuk sedikit mengurangi rasa sakit ini.

Naruto berlari, tidak memperdulikan penglihatannya yang mulai kabur karena air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Ia bahkan tidak lagi meminta maaf pada penduduk yang tidak sengaja ia tabrak karena berlari.

Hanya satu keinginannya, ia ingin pulang keapartemennya yang dingin.

BRAK...

Naruto sedikit membanting pintu. Dengan pelan dan ragu, Naruto melangkah memasuki kamarnya. "Ta-tadaima!" Naruto berteriak ragu. Ia memejamkan matanya, berharap akan ada yang menjawabnya.

Beberapa menit berlalu dengan hening. Naruto menghembuskan nafas lelah. Ia sudah tahu ini, setiap kali ia pulang, tidak akan ada yang menjawab salamnya. Naruto semakin menutup matanya erat menahan air mata yang sedari tadi menahannya.

Tubuhnya merosot jatuh terduduk di depan pintu yang masih terbuka. Kedua tangannya menutup wajahnya. Kedua bahunya bergetar tak beraturan. Naik dan turun. Ia sendiri dapat mendengar suara isakannya.

Sungguh, ia tidak ingin menjadi cengeng seperti ini. Seperti anak perempuan yang menangis karena orang tuanya tidak membelikan sebuah pita atau anak – anak yang meronta ingin dibelikan mainan.

Tapi, apa yang terjadi hari ini benar – benar membuatnya sudah tidak tahan lagi. Ia yang sudah gagal menghadapi ujian. Mendapat prasangka kalau Iruka-sensei membencinya. Para penduduk Konoha yang terus memanasi – manasinya.

Ia membutuhkan sandaran. Bagaimanapun, ia hanya seorang anak laki – laki berumur 12 tahun yang masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan orang tua dan orang – orang disekitarnya. Bukannya hujatan dan makian yang semakin membuatnya down.

Dadanya semakin sakit ketika ia harus mendapati rumahnya dalam keadaan kosong. Tidak seperti rumah 'teman – temannya' yang hangat dan ramai. Bahkan tidak ada yang menjawab sapaan selamat datang untuknya.

Hell, Naruto benar – benar iri dengan mereka. Naruto meringkuk pelan dalam kesepaiannya ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin apa yang dikatakan salah satu penduduk Konoha itu benar. Jika saja Naruto masih memiliki orang tua, mungkin mereka akan sangat kecewa dengan Naruto yang sama sekali tidak memiliki potensi untuk menjadi ninja.

Ia tidak mungkin mengatakan itu semua pada Hokage, karena selama ini hanya Hokage-lah yang mau mengurusinya, meskipun tidak setiap hari. Tapi hal itu sudah cukup. Ia hanya perlu memendam perasaan sakit dan kecewanya terhadap diri sendiri. Tidak perlu ada orang lain yang tahu. Ya, hanya dirinya, cukup dirinya.

Masih dengan nafas terengah – engah setelah menangis terlalu lama. Naruto berdiri, menutup pintu dan berjalan menuju meja belajarnya yang berada disamping tempat tidurnya. Ia mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu disana.

Aku ingin memiliki rumah orang tua.

Ia dengan cepat menggulungnya. Dan memasukannya kedalam toples yang sudah ia cap sebagai 'Celengan Pemupuk Harapan' dirinya. Setelah kembali menyembunyikannya, Naruto tersenyum.

Dalam hatinya. Meskipun – seandainya ada – orang tuanya akan kecewa karena Naruto tidak lolos ujian. Naruto akan terus berusaha agar orang tuanya mau membanggakan dirinya. Seperti orang tua lain yang membanggakan anaknya sendiri.

Itulah harapannya hari ini dan ia akan mewujudkannya suatu hari.

FLASHBACK :Off

Hinata dapat merasakan sebuah tangan kekar yang tegar namun rapuh didalam itu mengapus air matanya yang mengalir dipipinya.

"Kenapa kau menangis, Hina-chan?" Alis Naruto berkerut melihat sang istri yang saat ini tengah terisak dipelukannya. Apa ada yang salah dengan ceritanya? Apa yang Naruto ceritakan benar adanya. Tidak ada yang ia lebihkan dan ia hilangkan. Tapi kenapa Hinata merespon seperti ini?

"Ma-maafkan aku, Na-Naruto-kun. Tidak aku sangka, dulu Naruto-kun merasakan sakit seperti itu." Naruto dapat merasakan suara lembut istrinya bergetar. Naruto dengan sabar mengelus punggung Hinata dan sesekali mengecup puncak kepala istrinya.

"Tidak apa – apa, Hina-chan. Apa kau ingin mendengar lanjutannya?" Tanya Naruto, terus menenangkan Hinata. Dapat Naruto rasakan Hinata mengangguk pelan.

"Ehm... Setelah itu aku mendapat tawaran dari Mizuki-sensei untuk mengambil jutsu terlarang agar bisa lolos dari ujian sekali lagi. Namun, sayangnya aku tertangkap Iruka-sensei ketika sedang mempraktekkan jutsu itu. Iruka-sensei dan Mizuki-sensei bertarung, pada saat itu aku mendapati fakta bahwa sebenarnya Iruka-sensei membenci diriku seperti penduduk Konoha yang tidak menginginkan diriku dan fakta berikutnya adalah aku seorang Monster Jinchuriki Kyuubi." Hal itu sukses membuat Hinata segera melepas dekapannya.

"Naruto-kun bukanlah monster. Naruto-kun adalah Naruto-kun." Hinata menggelengkan kepalanya, ia bahkan lupa kalau ia tidak lagi bicara gugup.

Naruto tersenyum lembut mendengarnya. Ia kembali menarik lembut lengan Hinata dan kembali mendekap Hinata. Agar dirinya merasakan ketenangan yang merasukinya. "Dari situ pula, aku tahu Iruka-sensei tak sepenuhnya membenciku. Ia memahami diriku yang merindukan orang tua, Hina-chan." Tanpa sadar Naruto mempererat pelukannya.

"La-Lalu bagaimana dengan harapan Naruto-kun? Apakah Naruto-kun mendapatnya?" Tanya Hinata yang tidak dapat ia pungkiri ia merasa penasaran.

"Tentu saja, Hina-chan. Bahkan saat itu juga."

"Eh?" Hinata mendongakan kepalanya bingung. "Saat itu? Bukankah harapan Naruto-kun adalah memiliki rumah orang tua?"

Naruto terkekeh pelan. "Itu bukan rumah yang sebenarnya Hina-chan. Kalau yang kau maksud adalah Namikaze mansion, itu adalah salah besar." Hinata merona mendengarnya, ia sudah salah tebak.

Naruto mendorong pelan bahu Hinata, sehingga kini mata mereka saling bertemu. "Yang aku maksud adalah kehangatan mereka, kehadiran mereka dan kasih sayang mereka. Saat itu aku langsung memeluk Iruka-sensei dan menyadari kehangatannya dan aku langsung menganggap Iruka-sensei adalah kakakku, Hina-chan."

Naruto menarik nafasnya pelan. Ia kembali tersenyum. "Selama 14 tahun ini, aku mendapat seorang ibu dan ayah, Hina-chan. Mereka adalah Tsunade-baacan dan Jiraiya-erosannin." Naruto berkata dengan santainya.

"Dan masih ada Hiroto, Yui, Kaito dan..." Naruto menambah jeda. "Ada dirimu Hinata-chan."

Hinata merona mendengarnya apalagi, ketika Naruto memanggilnya sama seperti ketika mereka belum menikah. Dan itu sukses membuat membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Naruto menguap. Ia melihat kearah jam dinding dan melihat waktu menunjukan pukul 1 dini hari. Ia segera membaringkan tubuh Hinata disamping tubuhnya. Naruto benar – benar mengantuk sekarang. Ia benar – benar kelelahan.

"Tidurlah Hina-chan. Nanti kau bisa bangun terlambat." Pinta Naruto.

"Na-Naruto-kun. A-aku pasti akan menjadi tempat bersandar untukmu." Hinata berbicara dengan wajah yang merona.

Naruto kembali terkekeh pelan. "Aku percaya padamu, Hina-chan. Oyasuminasai."

"Oyasuminasai, Naruto-kun." Bisik Hinata ketika ia melihat suaminya telah terlelap karena kelelahan. Hinata ikut memejamkan matanya. Tidak ingin bangun terlambat besok.

Aku janji, Naruto-kun. Percayalah.

To Be Continued

Author Note:

Unni :Yosh! Chapter 2 Update!

Ian : Hn.

Unni : Gyaa... Ian-chan akhirnya masuk sekolah.

Ian : Urusai, Unni! (Tutup telinga)

Unni : Hehe... Yosh! Saatnyamengucapkan terima kasih kepada para readers-san yang sudah mau membacafic milik Unni ini dan yang sudah me-review. Arigatou Gozaimasu (Membungkuk). Ayo, Ian-chan kita harus selesaikan makalah IPA dulu.

Ian : Ugh, aku bosan sekelompok denganmu.

Unni : Gyaa...Ian-chan jahat!

Ian : Ok, biarkan Unni meratapi nasibnya dulu. Kami pamit, ya. Ian harap para readers mau memberikan komentar tentang kesalahan Unni di fic ini.

Jaa~~