Disclaimer :: Masashi Kishimoto

Pair :: Sasuke. U & Hinata. H, slight others

AU

::. The Dark Fairy .::

#2 Crime: She is a Liar


Langkah kaki di bawah pelita temaram menelusuri sebuah jalan setapak yang berada di sela pertokoan ramai. Sebuah gang sempit yang mendustai penglihatan setiap umat manusia.

Bagi siapapun yang mengarahkan kelerengnya, maka terseretlah ia dalam fatamorgana hasil rekayasa Hyuuga yang penuh tipu daya.

Sisi kiri dan kanan gang tersebut hanyalah berjejerkan bangunan pertokoan, namun bila kau memiliki saja setitik keingintahuan yang mendalam dan mencoba menginspeksi secara otentik, maka di balik pertokoan itu, tepatnya di penghujung gang, kalian akan menemukan sebuah tabir yang terkuak.

Di sanalah Hyuuga anggun bernama Hinata bertempat. Pemilik helaian sulur indigo itu memang sengaja memakari khayalak dari kediaman serupa kastil tersebut.

Pertokoan yang tak kalah menjulang membuat kediaman Hyuuga tersamarkan dengan sempurna di balik beton-beton kokoh di sana.

Tak lupa, kontribusi dari pepohonan yang mencakar langit ikut meramaikan muslihat yang terpicik.

Inilah alasan mengapa seorang nona sepertinya tidak menaiki kencana laksana sang puteri.

Alasan selingan, karena Hinata ingin hidup serupa dengan gadis biasa lainnya yang gemar mampir ke toko sepulang sekolah atau sekadar menghirup udara bebas di jalanan.

Sementara bagi para pengunjung berelasi yang hendak singgah dengan kendaraan pribadi diharuskan memutari gang tersebut, tepatnya pergi hotel yang dikelola salah satu kerabat Hyuuga. Di lobby hotel tersebut mereka akan menemukan fakta menarik tentang proyek subway rahasia yang terhubung dengan kediaman Hyuuga.

Dimana mereka hanya perlu meletakkan bukti akurat yang menjadi ciri khas manusia sejak dilahirkan. Sidik jari pada mesin pemindai, dan lantai di lobby hotel akan terangkat, menampakkan terowongan panjang di dalamnya.


Dua lavender menatap lurus melewati pepohonan demi pepohonan pinus yang tak fariknya dengan kloning hutan.

Usai berjalan hingga lima belas menit, kristal padang lavender itu dapat menjumpai pagar setinggi sepuluh meter yang luar biasa panjang mengelilingi lahan Hyuuga terselundup.

Ibu jari Hinata terangkat dan mendarat di pusat mesin pemindai yang tertutup semak belukar di bawah pagar. Tak lama, gerbang selebar delapan meter terbuka.

Di sinilah bangunan luar biasa megah terpampang dengan eloknya. Kediaman belakang Hyuuga yang lalu ditatapnya dengan bulir kesenduan.

Luka yang petang tadi ia peroleh serta kediamannya selalu membuat ia teringat akan sosok sang ibu yang dahulu tak jenuh menyertainya.


Hinata mungil tak bedanya dengan kini, gemar menjadi bulan-bulanan para siswi yang iri dengki dengan anugerah yang ia dapat.

Seperti halnya hari ini, helaian indigo sebahunya kuyup oleh siraman air beberapa saat yang lalu. Di dahinya terdapat benjolan yang disinyalir akibat terkena lemparan batu. Tak lupa dengan sebelah kakinya yang terpincang-pincang karena terjatuh dari tangga ketiga di gedung sekolah.

Isak memenuhi pintu utama bagian belakang Hyuuga, yang tentu saja sontak membuat seorang wanita bertubuh kurus berjalan tergopoh-gopoh.

"Hina-chan?"

Sapaan dari seorang wanita berserabut indigo panjang menambah isak tangis Hinata.

Jemari mungilnya meraih siluet ringkih sang Ibu.

"Kau dijahili lagi?"

Hanya ada anggukkan sebagai ganti jawaban. Sang Ibu tersenyum getir sembari mengelus lembut puncak kepala Hyuuga kecilnya.

Seorang bocah tak lama kemudian bergegas menyusul masuk ke dalam, ia membungkukkan badan begitu berada tepat di hadapan Sang Bibi.

"Maafkan aku, Bi. Aku tadi bermain bola bersama teman-temanku sehingga terlambat menolong Hina-chan," sirat menyesal terpantul dari lavender kecil.

Hyuuga semampai mengulurkan jemarinya untuk menelusuri helai coklat lembut milik sang bocah.

Kini, dalam dekapan sang wanita ada dua orang bocah yang suatu saat ia yakini harus menjalankan skenario Yang Kuasa sebagai penerus keluarga Hyuuga yang gelap.

Kembali, senyum getir terjumpai dari bibir sang wanita.


Visualisasi Hinata menanar ketika kepingan kenangan mengisi alam delusifnya. Tak lama, ia menyadari sesosok pemuda berjas kelabu yang telah menanti kedatangannya sembari bersandar pada tiang pintu.

Neji, begitu ia dipanggil, menetralisir pautan langkah antar dua tubuh.

Tangannya telaten mengeksplorasi buntalan kapas di pipi Hinata yang menyelebungi luka di baliknya.

"Lagi? Kau yang sekarang tidak patut menjadi korban keganasan rekan-rekanmu, seharusnya."

Hinata mendongak, menunjukkan ekspresi tanpa haru biru ataupun lara—hanya ada kehambaran.

"Lantas aku harus membunuh mereka? Bodoh."

Tawa kecil yang meluncur dari sang sepupu membuat Hinata bertanya heran.

Namun, sekejap tawa itu hilang tergantikan serangkum ingatan. Neji menarik pundak Hinata, membisikkan suatu informasi hangat dengan pancaran mata yang sarat akan keseriusan.

Sang Lavender demikian, sirat keseriusan berpadu dengan sirat kekecewaan pasca mencerna informasi yang disampaikan.

"Kumpulkan para wakil cabang organisasi, sekarang! Kita adakan rapat dadakan, Taube," Hinata mendesis memberi perintah.


Sang ketua yang berada di pusat meja panjang dalam ruangan berasitektur Eropa klasik mengedarkan lavender tajam yang terintip dari celah tangan yang memangku wajahnya.

Neji, sang sepupu ber-codename Taube, setia di sisi kiri sementara Tokuma di sisi kanannya.

Seragam Konoha Koukou kini telah tergantikan selapis jas dan celana berwarna hitam pekat. Serabut indigo yang biasa ia gerai pun kini terikat satu di bagian puncak kepala belakangnya. Mengekspos leher jenjang yang menggoda.

"Baiklah," Hinata membuka suara, "Langsung saja, ekor organisasi kita telah tercium utusan aparat hukum."

DEG!

Aura tegang mengubah mimik dari anggota direksi rapat. Menghantarkan sebuah seringaian yang tersampir sempurna di balik tangan Hinata.

Kaki mungilnya terlepas dari kenyamanan sofa dan melangkah menuju almari kuno di sudut ruangan.

Tangan Hinata terulur ke dalam almari, dan kembali tarik ulur dengan menggenggam sesuatu.

Sebilah katana.

Jemarinya dengan lincah membuka sarung katana sementara lidahnya terjulur sedikit, mengecap dingin logam katana miliknya di pangkal lidah.

Katana yang telah lama ia tanggalkan setelah berkolaborasi dengan senjata api, namun kini akan kembali ia gunakan sebagai penghargaan atas jasa yang dihaturkan sang korban.

"Tak perlu basa-basi yang percuma," ia menghentakkan kembali sepasang kakinya, memutari kursi para bawahan yang telan ludah atas kengerian yang diedarkan dari aura Lavender.

"Ada kata-kata terakhir... Tokuma?"

Sosok yang ditunjuk dengan katana sekejap dipenuhi rasa gusar yang teramat dalam.

"Ta-tapi, Lavender-sama," Tokuma terlihat panik dan mencoba membela diri.

Sayang, sorot dingin nan datar yang terarah padanya tak juga melumer, "Tidak menuruti perintah dengan membuang korban di semak belukar, membiarkan tetes darah kering membekas di lokasi kejadian, dan mengabaikan instruksi untuk melepas seluruh perhiasan korban sebagai dalih bahwa peristiwa tersebut murni perampokan—apa yang hendak kau tampik, eh?"

Sang puteri kegelapan telah bersiap dengan mantera pembunuh yang dijelmakan menjadi sebilah katana yang hendak menyilet arteri.

Menyadari kondisinya yang laksana tikus terjepit memaksa Tokuma untuk berusaha menghalau beberapa pria yang gencar memberi penawanan.

Pistol keluar dari persimpanan dalam saku jasnya, teracung tak tentu arah kepada direksi rapat.

"Ja-jangan mendekat!" Teriak Tokuma kacau.

Anggota direksi ikut larut dalam chaos. Mereka mengeluarkan senjata api dari saku jas masing-masing yang keseluruhan mengarah pada Tokuma.

Kekalutan menggerogoti jiwa sang bawahan teraktualitas dari Lavender, membuatnya menembakkan timah panas secara membabi buta.

Dor! Dor! Dor!

"BIARKAN AKU LEWAT!"

Beberapa anggota direksi terkena peluru di bagian bahu dan kaki.

Neji mendelik pada sosok pemuda yang kini ia pandang dengan sirat jejap.

Tak ada niatan ikut campur—menghalangi atau menjadi sekutu yang laksana tikus.

Ia hanya menikmati tontonan ini hingga sang tokoh utama mengirim sang korban pada halte hidupnya.

Membiarkan Lavender melampiaskan kekecewaannya akan kredibilitas kosong dari Tokuma.

Hinata melajukan pesat kedua kakinya sembari berbisik samar, "Naif!"

Siluet Lavender lalu berpijak pada meja rapat sebelum akhirnya melambung ke udara dengan katana yang teracung menyapa sang tikus.

BRETTT!

Suara daging terkoyak membahana seiring dengan darah yang memancar deras.

Empat fragmen organ tubuh terhempas ke lantai, sementara bola mata sang korban sendiri kini tampak terbelalak seolah hendak mencuat keluar.

Tubuh yang bercerai-berai menderaskan darah segar layaknya semian kelopak mawar.

Katana yang beberapa saat lalu memenggal anatomi Tokuma kini kembali pada sarungnya, usai digesek sekejap mata oleh tisu guna mengenyahkan bercak darah yang beresidu.

"Itu balasan yang kurasa setimpal dengan kecerobohanmu, du bist wirklich dumm," singkat, lisan meluncur mulus tanpa gagap dengan dingin dari mulut Sang Peri Tersesat.

Sepasang bola senada lavender pudar bergerak memandang satu persatu bawahan yang masih syok akan kejadian barusan.

Terlihat dari gerak tubuh mereka yang setengahnya masih mengurut dada.

Pemilik gelar Lavender melangkah tegap mengindahkan gelimangan organ yang berserakan di ruang rapat. Beserta Neji di sisi kiri, ia lekas meninggalkan ruangan yang penuh sesak akan amis yang mengudara.

Neji melirik dua pria bawahan yang sontak menegakkan tubuh mereka.

"Bereskan bangkai itu, Asuma, Kotetsu! Jangan lupa, lanjutkan rapat tanpa kami. Kita harus merancang platform baru sesegera mungkin!"

"Baik, Taube-san!"

Setelahnya, sang kakak sepupu mengekor di balik tubuh mungil Lavender, menyisakan berpasang-pasang mata yang tak ubahnya dari kengerian.

Meski pencabik nyawa telah tinggal, namun nuansa mencekam tetap bergumul di udara. Kengerian yang serupa dengan turunnya Emperor.


Hinata merebahkan diri di sofa kamar tidurnya. Ia dilanda penat berlebih.

Entah apa yang harus ia lakukan jika organisasinya sampai dibekuk aparat.

Kabur, ataukah mengenyahkan mereka?

Opsi manapun terdengar buruk di telinga Hinata.

Malam yang hening selepas Neji kembali ke kamarnya sendiri. Pemilik serabut indigo panjang yang kini telah berganti pakaian dengan gaun tidur obsidian tak melakukan banyak hal kecuali membaringkan diri di ranjang dengan posisi menelungkup.

Matanya kemudian tertuju pada sebuah kotak kayu usang di meja yang terletak berdampingan dengan ranjang. Perlahan, ia meraih kotak kayu tersebut. Namun, na'as, bukan mendarat di empuknya ranjang, kotak kayu tersebut meluncur jatuh ke atas lantai.

PRAKKK!

Lavender membulat. Dengan tergesa ia menggapai kotak kayu yang kini terbelah menjadi dua bagian dan remuk di bagian atas.

Getir terpancar dari lensa yang kini berkaca, tangannya mendekap erat benda tersebut, erat.

Helai demi helai indigo terjatuh menutupi air muka yang tengah ditampilkan sang Hyuuga.

"Kh..."


Tengah malam yang sunyi, tanpa penerangan dari angkasa.

Entah dorongan apa yang menghantarkan gadis manis bernama Hinata itu untuk berkeliaran di luar kediamannya tanpa tersulut rasa takut sama-sekali.

Gaun tidur yang baru ia kenakan beberapa menit terpaksa kembali berganti dengan gaun selutut berwarna gading dan cardigan panjang berwarna coklat muda dengan aksen renda di sepanjang jalur kancing bagian depan.

Sesekali, gadis pemberani itu mengatupkan sebelah tangannya di mulut, membagi hawa panas nafasnya ke telapak tangan yang mendingin.

Dimana toko pemugaran benda antik, ya? Hinata bergumam kebingungan sembari mengedarkan matanya.

Ia telah berjalan cukup jauh namun nihil menemukan toko yang dimaksud. Jangankan toko tersebut, toko-toko lainpun telah tutup tralis di malam sunyi macam begini.

Namun, Hinata dengan ketekakannya tetap bertekad untuk memugarkan benda kesayangannya itu saat ini juga. Bila tidak, ia akan tetap terjaga hingga pagi menjelang.

"Kau?"

Sebait kata dari notasi alto bariton menyergap telinga Hinata, membuat gadis itu memalingkan wajah untuk mempertemukan elok parasnya dengan rupawan paras sang pemuda.

"A-anda," Hinata berucap dengan ragu, "y-yang telah menolong saya s-sore tadi b-bukan?"

"Hn. Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Sebelah alis sang raven terangkat. Menandai keheranannya.

Hinata terdiam cukup lama, hingga diunjukkan olehnya sebuah kotak yang terlihat tak layak.

Usang dan terbelah.

"Begitu, ya."

Pemuda berlensa oniks menunjuk jalanan lengang di depan dengan dagunya, "Ikut aku, aku punya kenalan yang bisa membantumu memperbaiki benda itu."

"B-baik, terima kasih!" Sang Hyuuga membungkukkan tubuh sebelum mengikuti gerak langkah pemuda tampan di depannya.


Lavender tampak berbinar pasca mendapati kotak kayu kesayangannya telah berhasil diperbaiki.

Belum lagi, kotak kayu yang sebenarnya kotak musik itu telah kembali memutar denting demi denting notasi balok dari Canon in D'Major.

Pahatan sepasang kekasih di dalamnya berputar bersamaan dengan irama musik yang terlantun.

"T-terima kasih banyak—"

"Suigetsu," interupsi sang pemuda berserabut perak.

Hinata melengkungan sebusur senyuman di wajah manisnya, kembali, ia mendekap erat kotak kayu tersebut sembari berujar perlahan, "Terima kasih, Suigetsu-san."


"A-Anda t-tak perlu mengantarkanku ke rumah," Hinata masih berusaha mencegah niatan baik sang raven yang detik sebelumnya memproklamirkan diri untuk mengantar Hinata hingga kediamannya.

Sungguh, niatan yang sang raven anggap maslahat itu begitu invers dengan apa yang ada dalam benak sang gadis. Itu malapetaka baginya.

Ia tak pernah membawa serta siapapun menuju kediaman Hyuuga, ia tak mau jati dirinya terungkap begitu saja, tentu saja.

"Panggil aku Sasuke. Siapa namamu?" Sang pemuda mengabaikan Hinata dengan permohonannya.

"H-Hinata."

"Hinata, biarkan aku mengantarmu pulang, oke? Kau tahu kasus pembunuhan tengah malam begitu marak dibicarakan. Aku tak ingin koran lokal memuat wacana tentang pembunuhanmu, esok hari."

"T-tapi—" gigi Hinata menggigir bibir bawahnya, sekelebat kilat. Nyaris saja ia menjadi pelaku yang membongkar rahasia keluarganya sendiri.

Tapi, aku adalah ketua organisasinya. Jadi, tentu saja hal tersebut tidak akan menimpaku...

"Baiklah," Hinata menyerah, "k-kau boleh mengantarku pulang, S-sasuke-san."

Seringaian tak kasat mata terkembang mewarnai ekspresi yang semula datar dari paras Sasuke. Namun, kembali ia benarkan ekspresinya tatkala lavender Hinata hendak memergoki.


Tak ada perbincangan di antara dua insan. Sama halnya dengan saat Hinata berada di bawah atap tempat bernaungnya sang pemuda oniks.

Hanya ada desir angin yang membelai berjumput rambut milik Hinata dan Sasuke.

Setibanya di dekat pertokoan yang menghimpit jalan masuk menuju kediaman Hyuuga, Hinata menghentikan langkahnya, dan hal tersebut diikuti oleh Sasuke.

"S-sudah sampai," Hinata menunduk.

"Ng? Ini rumahmu?" Sasuke menunjuk sebuah toko yang telah tutup, dengan penerangan yang padam.

Sang Hyuuga tak berani menukas maupun berkomentar lebih jauh. Ia memilih diam, berharap pemuda di hadapannya ini pengertian dengan membiarkannya masuk ke dalam rumah dalam tenang.

Bersyukur, doa yang ia panjatkan rupanya terkabul.

"Baiklah, aku pamit dulu. Hati-hatilah di jalan, dan...," Sasuke menggantungkan kalimatnya, membuat Lavender keheranan sehingga memiringkan kepalanya.

"Dan?"

TEP!

Telapak tangan kekar mendarat lembut di kepala Hinata, mengusapnya secara berangsur.

Kehangatan yang ia rasakan saat ini benar-benar mengingatkannya akan sosok sang Ibu. Sosok yang sanggup menanggulangi gejolak kepedihannya.

"Sampai bertemu esok hari, Hinata," Sasuke berbalik dan berjalan pergi.

Di belakangnya, Hinata mematung. Mencoba menajamkan ingatan akan perkataan yang Sasuke lontarkan, barusan.

"Sampai bertemu esok hari?" maksudnya apa?

To Be Continued


Note*

Taube :: Merpati dalam bahasa Jerman. Karena ane rasa Si Neji cocok sama jenis merpati

Katana :: Sejenis pedang yang biasanya samurai pakai

Untuk codename, yang berhak menyandangnya cuma para atasan alias Hinata, keluarganya, dan Neji. Buat Hyuuga lain atau bawahan, gak berlaku codename