Always In My Heart (REMAKE)

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

OCs

CHANBAEK (GS)

School Life. Romance, Hurt/Comfort

Summary: Baekhyun berharap ia bisa bertemu kembali dengan pemilik kalung-yang sekarang dipakainya- yang menjadi cinta pertamanya. teman-temannya bilang itu konyol, tapi Baekhyun tak peduli. ia yakin bahwa perasaannya ini tidaklah main-main dan mereka akan bertemu kembali.

DON'T LIKE DON'T READ

Chapter 2

''rumah putih, gerbang hitam tinggi. Hmm..'' gumam seorang yeoja yang tengah memperhatikan deretan rumah di seberang halte tempatnya berdiri sambil menaruh telunjuk lentiknya di dagu.

''ah, Itu dia..!'' pekiknya ketika netranya menemukan sebuah rumah yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan namja pemilik payung yang ada di genggaman tangan kirinya. Tangannya yang satu lagi ia masukan ke dalam saku mantelnya dan menggenggam sebuah kalung yang tersimpan di sakunya. Ya, kalung berbandul 'S' yang ia yakini milik namja tersebut. Tidak sulit menemukan rumah dengan ciri-ciri tersebut karena di antara deretan rumah di depan halte ini hanya satu yang ber-cat putih dan memiliki gerbang tinggi berwarna hitam.

Ia mengeratkan mantelnya. Menghalau cuaca dingin yang menusuk hingga tulang karena ini masih musim penghujan dan tubuhnya sangat tidak bersahabat dengan cuaca dingin. Ia pun menyebrang jalan di depannya dan bergegas mendekati gerbang rumah tersebut.

Rumah di hadapannya ini memiliki dua lantai. Halamannya luas dengan beberapa tanaman hias dan rumput yang dipangkas rapi. Jarak antara gerbang dan pintu depan rumah cukup jauh tapi si yeoja masih bisa memperhatikan visual rumah tersebut, karena demi apa rumah tersebut cukup besar dan megah. Dari situ si yeoja sudah dapat menebak bahwa pemilik rumah ini termasuk keluarga 'berada'.

Tiba-tiba ia merasa gugup sendiri memikirkan dirinya akan bertemu kembali dengan si namja pemilik payung.

''astaga, kenapa aku merasa gugup'' ucapnya sambil menepuk nepuk dadanya karena jantungnya yang berdetak tidak beraturan.

''apa karena aku akan bertemu lagi dengan namja tampan itu?'' tanyanya kepada dirinya sendiri. Setelah tersadar atas apa yang diucapkannya barusan, yeoja itu menepuk mulutnya pelan dan merutuki ucapannya sendiri.

''apa-apaan kau, Byun Baekhyun! Baru saja kau bilang dia tampan?'' yeoja bernama Baekhyun itu masih bermonolog. ''tapi dia memang tampan, sih, meski agak gendut hehe'' ucapnya lagi. Tanpa diperintah tiba-tiba pikirannya memvisualkan sosok namja pemilik payung tersebut membuatnya menyunggingkan senyuman manis dan lambat-laun tercetak rona samar di pipinya.

''astaga.. astaga.. Byun Baekhyun..! Keumanhae..!'' dia mengomel kepada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya. Beberapa pejalan kaki yang melewatinya menatapnya dengan tatapan aneh, dia hanya membalas dengan senyuman kikuk merasa malu.

Ia pun menghembuskan nafas pelan sebelum kemudian tangannya terangkat untuk menekan bel.

Ting tong...

Sekali. Tak ada respon.

Ting tong..

Dua kali. Masih tidak ada tanda-tanda orang yang merespon.

''baiklah, sekali lagi'' Baekhyun menghembuskan nafasnya lagi dan kembali menekan bel. Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari intercom yang bertengger di tembok samping gerbang.

''siapa?'' tanya seseorang dibalik intercom tersebut.

''a-anyeonghaseo.. choneun Baekhyun imnida'' jawab Baekhyun agak kaku.

''cari siapa?'' tanya suara di seberang.

''i-itu..'' Baekhyun bingung karena ia tidak tahu nama namja yang meminjamkan payung kepadanya. ''s-saya ingin mengembalikan payung yang saya pinjam''.

Sampai beberapa menit tidak ada jawaban dari seberang. Baekhyun menunggu dengan menggerak-gerakan kakinya untuk menghilangkan dingin. Hingga suara di seberang mempersilakannya masuk diikuti terbukanya gerbang tinggi di hadapannya.

Baekhyun berjalan mendekat ke pintu depan rumah yang perlahan terbuka dan menampilkan sosok yeoja paruh baya yang berbadan sedikit gemuk.

''anyeonghaseo..'' Baekhyun menyapa sambil sedikit membungkukkan badannya. ''saya ingin mengembalikan payung'' lanjutnya sambil menunjukkan payung di tangannya.

''maaf, saya rasa kami tidak memiliki payung yang seperti itu, agassi'' ujar yeoja paruh baya tersebut.

Baekhyun terdiam sejenak.

''hmm.. tempo hari seorang namja meminjamkan payung kepada saya dan saat saya tanya alamatnya agar saya bisa mengembalikan payung ini dia bilang di sini rumahnya''. tidak persis seperti itu sih, tapi Baekhyun yakin ini rumah yang benar karena di lingkungan ini hanya rumah ini yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan sang namja.

''namja? Di sini tidak ada namja. Saya tinggal bersama kedua putri saya sedangkan suami saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Jadi tidak ada namja, kecuali satpam kami dan tukang kebun yang datang seminggu sekali. Mungkin salah satu dari mereka?'' tanga yeoja paruh baya itu.

Baekhyun merasa bingung. Namja tampan yang meminjamkan payung tempo hari itu jelas masih muda. Kira-kira seumuran dengannya.

''aniya, ahjuma. Namja itu seumuran dengan saya'' sanggah Baekhyun. Yeoja paruh baya itu mengerutkan dahi, ekspresi wajahnya jelas menunjukkan bahwa dirinya tak mengerti. Membuat Baekhyun semakin bingung.

''kapan kau meminjam payung itu, agassi?''

''mm.. seminggu yang lalu, ahjuma'' jawab Baekhyun sedikit meringis malu.

''ah... pantas saja'' seru yeoja paruh baya itu seolah mendapat pencerahan. Baekhyun mengernyit tak mengerti.

''begini agassi, saya baru pindah ke rumah ini tiga hari yang lalu. Saya ingat penghuni sebelumnya memang memiliki seorang putra seumuran agassi. Mungkin namja itu yang meminjamkan payung kepadamu. Tapi sekarang dia sudah tidak tinggal di sini lagi.

Bahu Baekhyun merosot lemah. Pupus sudah harapannya untuk bertemu kembali dengan sang malaikat penolong.

''maaf.. apa ahjuma tahu mereka pindah kemana?'' tanya Baekhyun penuh harap.

''sayang sekali agassi.. saya tidak tahu'' ujar yeoja paruh baya itu prihatin memandang raut penuh kekecewaan di wajah cantik Baekhyun.

Baekhyun menghembuskan nafas kecewa.

''begitu.. baiklah, terima kasih ahjuma. Maaf sudah mengganggu waktu Anda'' ujar Baekhyun merasa tidak enak.

''eyy.. gwaenchana agassi.. tidak perlu sungkan. Datanglah untuk berkunjung lagi. Saya rasa putri tertua saya seumuran denganmu. Mungkin kalian bisa berteman baik'' jawab yeoja paruh baya itu.

''ah ne. Saya pasti akan berkunjung lagi. Rumah saya tidak terlalu jauh kok dari sini. Baiklah ahjuma, saya pamit. Sekali lagi terima kasih banyak. Permisi" ujar Baekhyun sambil membungkukkan badannya.

''ne, hati-hati'' pesan yeoja paruh baya itu sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

Baekhyun balas tersenyum kemudian membalikkan badan keluar dari pekarangan rumah megah tersebut.

.

.

.

Bulan bersinar tidak terlalu terang karena tertutupi awan hitam mengingat saat ini masih musim penghujan. Udara dingin pun terasa sangat menusuk sehingga kebanyakan orang memilih untuk diam di rumah masing-masing, menghangatkan diri dalam balutan selimut dan penghangat ruangan maupun perapian. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 9 malam.

Sebagian rumah sudah mematikan lampunya, pertanda penghuninya telah mulai mengarungi alam mimpi. Sebagian lagi masih tetap menyalakan lampu untuk tetap melanjutkan kegiatan masing-masing. Salah satunya adalah kamar gadis cantik bernama Byun Baekhyun.

Baekhyun tengah duduk di depan meja belajarnya. Ia masih berkutat dengan buku-buku berisi berbagai macam soal mengingat bahwa seminggu lagi dirinya akan mengikuti tes masuk salah satu JHS favorit di Seoul. Alisnya berkerut, ekspresinya serius, sesekali bibirnya mengerucut imut ketika menjumpai soal yang sedikit sulit menurutnya. Meski akhirnya ia selalu bisa memecahkan soal tersebut.

Baekhyun adalah gadis yang cerdas. Selain mahir dalam hal akademik-kecuali pelajaran sejarah-, dia juga pandai bermain beberapa alat musik seperti gitar dan piano. Keindahan suaranya tak perlu dipertanyakan lagi, entah berapa piala dan piagam penghargaan yang dimilikinya dari suaranya tersebut. Tidak terlalu mengherankan karena suara emasnya tersebut ia dapatkan dari sang ibu yang merupakan mantan penyanyi dan musisi yang cukup terkenal di masanya.

Baekhyun adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak laki-lakinya bernama Byun Baekbeom yang sekarang tengah mengenyam pendidikan semester 5 di Kyunghee University jurusan bisnis agar bisa meneruskan ayahnya kelak, dan adik laki-lakinya bernama Byun taehyung yang masih berumur 7 tahun. Ya, Baekhyun adalah satu-satunya putri keluarga Byun. Ayahnya seorang pengusaha tekstil yang tidak terlalu besar, tapi lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena keluarga Byun hidup sederhana.

Jam sudah menunjukkan angka 10.30. Baekhyun menutup bukunya dan menggerak-gerakkan kepala dan tangannya untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku akibat duduk di meja belajar selama kurang lebih dua jam. Ia membereskan buku dan alat tulisnya dan menyimpan ke tempat masing-masing agar terlihat rapi sampai atensinya tersita pada sebuah kalung yang ia simpan dalam sebuah kotak aksesoris yang terbuat kaca di sudut kanan meja belajar. Ia buka kotak itu, dan meraih kalung itu ke dalam genggamannya. Diperhatikannya baik-baik kalung yang ada di genggamannya itu.

''nomu yeppeo..(cantik sekali)'' gumamnya.

''bagaimana caraku mengembalikanmu kepada pemilikmu?'' ia bertanya sambil menatap kalung itu. Tentu saja ia tidak mendapatkan jawaban. Tatapannya menyendu kecewa teringat kegagalannya untuk bertemu kembali dengan namja pemilik kalung di tangannya.

''andai hari itu aku tidak sakit dan langsung mengembalikan payung dan kalung ini, aku pasti sudah bertemu kembali dengannya dan mengetahui namanya'' keluhnya. Ia menghembuskan nafas pelan yang sarat akan kekecewaan

Flashback

Ketika sampai di rumah, Baekhyun disambut oleh omelan dari ibunya karena pulang dengan keadaan basah kuyup. Ya, meski memakai payung, kita tahu bahwa sebelum mendapatkan payung itu Baekhyun telah lebih dulu berlari menerobos derasnya hujan, belum lagi berbicara dengan namja pemilik payung itu juga di bawah guyuran hujan selama beberapa menit. Alhasil ya berakhirlah dengan Baekhyun yang pulang dengan keadaan basah kuyup.

Setelah menyimpan payung dan melepaskan sepatunya yang basah, Baekhyun bergegas masuk ke kamar mandi lantai bawah dekat dapur. Tidak mungkin ia pergi ke kamar mandi kamarnya di lantai dua karena akan mengotori lantai.

Setelah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian yang nyaman, Baekhyun meminum teh hangat yang dibuatkan ibunya agar dirinya tidak terserang demam. Setelah itu ia pun mengistirahatkan dirinya karena kepalanya terasa sedikit pusing. Harapannya, semoga ketika ia bangun nanti rasa pusing itu hilang dan dia bisa menemui namja pemilik payung itu esok hari.

. . .

Nyatanya harapan hanyalah harapan. Malam itu Baekhyun demam, suhu badannya tinggi. Dan keadaan itu berkelanjutan hingga tiga hari lamanya sehingga Baekhyun belum bisa mengembalikan payung dan kalung kepada pemiliknya. Pernah di hari ketiga ketika demamnya mulai sedikit membaik ia berniat memaksakan diri untuk menemui namja itu. Tapi tentu saja niat itu ditentang keras oleh keluarganya-terutama ibunya.

''nanti demammu malah jadi parah lagi, Baekkie. Sudah nanti saja jika sudah sembuh. Toh rumahnya juga tidak terlalu jauh. Lagi pula payung itu tidak seberapa, mungkin di rumahnya juga ada banyak. Tidak perlu terburu-buru apalagi sampai mengorbankan diri sendiri'' omel Heechul-ibu Baekhyun hari itu.

''bukan payungnya yang lebih penting, eomma.. tapi kalungnya. Bagaimana kalau dia kebingungan mencari kalung ini?'' tanya Baekhyun sambil merengek.

''pokoknya eomma tidak mengizinkan. Lekas kembali ke kamarmu!'' final ibunya.

Baekhyun pun kembali ke kamarnya dengan langkah lunglai. Merasa kecewa dan juga badannya yang memang masih lemas. Jika eommanya sudah berkata tegas begitu, tidak ada yang bisa dilakukan selain menurut.

''huh.. badan lemas gitu mau keluyuran segala, dasar.'' gerutu ibu Baekhyun sambil menggelengkan kepala.

. . .

Di hari keempat Baekhyun sudah benar-benar pulih, tapi ia masih belum bisa menemui namja itu. Baekhyun disibukkan dengan persiapan acara perpisahan di sekolahnya yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Baekhyun baru saja lulus SD dan akan segera mendaftarkan diri ke jenjang JHS. Selama tiga minggu ini ia memang disibukkan oleh persiapan acara perpisahan tersebut bersama teman-teman seangkatannya. Sore ketika Baekhyun pulang kehujanan pun ia baru pulang dari pertemuan bersama teman-temannya untuk membicarakan tentang acara tersebut.

Karena beberapa hari yang lalu Baekhyun absen dan tidak mengikuti latihan serta persiapan lainnya dikarenakan sakit, maka dua hari ini waktunya benar-benar tersita untuk menyukseskan acara tersebut. Dan kerja keras Baekhyun dan teman-temannya tersebut membuahkan hasil yang memuaskan, acara tersebut sangat sukses dan Baekhyun dinobatkan sebagai lulusan terbaik seangkatannya.

Sehari setelah kelulusan, Baekhyun bangun pagi-pagi sekali karena merasa antusias untuk menemui namja pemilik payung itu. Bahkan ia sampai bingung harus memakai pakaian seperti apa agar penampilannya terlihat bagus di depan sang namja. Baekhyun juga merasa bingung dengan dirinya sendiri kenapa harus sepusing itu.

Akhirnya setelah membereskan kamarnya, sarapan, membersihkan diri dan menata penampilannya, ia berpamitan kepada sang ibu dan sang adik (karena ayahnya bekerja dan kakaknya kuliah). Sang ibu yang tau kemana tujuan putri cantiknya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat Baekhyun yang begitu semangat.

Namun ternyata Baekhyun terlambat. Karena namja yang ingin ditemuinya nyatanya sudah tidak tinggal di rumah yang ia kunjungi hari ini.

Kembali kepada Baekhyun yang bermonolog di kamarnya.

''baiklah, aku akan memakaimu sampai pemilikmu ditemukan'' putusnya.

Baekhyun pun memasang kalung tersebut di lehernya lalu beranjak mendekati cermin di meja riasnya.

''cocok juga ya, ternyata aku cukup cantik memakai kalung ini'' ujarnya narsis sambil terkikik pelan.

''kalungnya yang cantik, kamunya tetep aja jelek'' tiba-tiba sebuah suara bariton mengalun dari ambang pintu.

''astaga, Oppa! Bikin kaget saja!'' pekik Baekhyun sambil menaruh tangannya di dada.

''kebiasaan deh ngomong sendiri.. jangan dibiasain Baek.. entar kalo dibawa ke lingkungan luar kamu disangka orang gila'' ujar Baekbeom. Baekhyun mengerucutkan bibirnya membuat Baekbeom gemas dan mencubit pipinya.

''sakit, Oppa!'' protes Baekhyun sambil melepaskan tangan Baekbeom dari pipinya.

''kamu imut sih, haha.. kenapa belum tidur? Udah larut juga'' Baekbeom mengusap surai Baekhyun.

''aku baru selesai belajar buat tes minggu depan'' jawab Baekhyun.

''ya sudah, sekarang lekaslah tidur. Sudah malam. Arrasso?'' perintah Baekbeom.

''ne, Oppa'' jawab Baekhyun. Baekbeom mengusak pelan poni Baekhyun kemudian keluar kamar. Baekhyun pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang queensize nya dan mulai memejamkan mata menuju alam mimpi sambil sebelah tangannya menggenggam bandul kalung yang tergantung indah di leher jenjangnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hallo aku kembali bawa chapter 2.

Setelah memberanikan diri ngepublish chapter 1 kemarin, ternyata ada juga yang respon. Terima kasih kepada yang sudah membaca ff ini, apalagi yang review, follow/fav. Jeongmal gamsahamnida..

Belum ada chanbaek moment-nya ya hehe.. dengan sangat menyesal aku beritahukan bahwa itu masih agak lama hiks..

Ini novel aslinya keren banget, yang baca pasti baper. Tapi maaf kalo aku gak bisa menyampaikan cerita ini dengan baik seperti novel aslinya. Karena novelnya gak ada, dan aku masih baru banget dalam hal tulis-menulis. Makanya aku minta masukannya dari reader-nim sekalian, karena aku tahu sebagian dari reader-nim adalah author yang udah lebih dulu terjun(?) di dunia tulis-menulis.

So, gimana chapter 2 ini?

RnR juseyo...

Oh iya, bagi yang punya ig silakan follow ig-ku: baekhill_byun

Selamat malam minggu.. hihi

Regards, Hill ;)