Dahulu kala ada seorang pangeran tampan yang terlahir di negara besar bernama Negeri Uchiha. Pangeran yang merupakan putra kedua dari Kaisar Fugaku dan Ratu Mikoto—pasangan yang berkuasa pada era itu. Namun sayangnya Ratu Mikoto yang anggun meninggal dunia ketika melahirkan putra keduanya.

Kerajaan berduka—seluruh rakyat Negeri Uchiha berduka di tengah kehadiran Sang Pangeran Tampan. Hingga kebahagiaan dan suka cita nyaris tidak ada untuk menyambut kelahiran pangeran itu. Justru duka dan tangislah yang menyertai kehadiran Pangeran Uchiha.

Kemudian di tengah duka itu, Negeri Uchiha yang tengah lemah di serang oleh Negeri Senju—negara tetangga musuh bebuyutan mereka. Benteng perbatasan Negeri Uchiha ditaklukan membuat daerah kekuasaan Uchiha terancam. Namun nasib baik ternyata masih sedikit berpihak pada Negeri Uchiha. Dengan minimnya prajurit dan semangat yang nyaris mati karena kematian pemimpin mereka, seorang jendral perang bernama Orochimaru berhasil merebut kembali benteng perbatasan dan memukul mundur pasukan Senju.

Namun, perang selalu menorehkan luka. Banyak prajurit mati dan rakyat bersedih karena kehilangan anggota keluarga mereka yang merupakan tentara. Itu adalah masa-masa tersulit di era kekuasaan Kaisar Fugaku. Di mana kesedihan demi kesedihan datang. Kematian Ratu Mikoto, perang dengan Negeri Senju, krisis ekonomi akibat pasca perang, dan kelaparan yang melanda seluruh rakyat. Semuanya beruntun datang berurutan.

Kemudian, suka cita kelahiran pangeran kedua itu pun sirna dan tidak berbekas. Justru rakyat menilai kelahiran pangeran tampan itu adalah bencana bagi mereka. Karena sejak pengaran itu lahir tidak ada hal baik yang terjadi. Kematian. Perang. Kelaparan. Pangeran tak berdosa itu menjadi pelampiasan penderitaan rakyat atas kemalangan yang terjadi di era Fugaku.

Kemudian desas-desus yang bermula dari rakyat sampai ke istana tentang mala petaka akibat kelahiran pangeran kedua. Kaisar tentu tidak tinggal diam dan mencoba menenangkan hati rakyat dengan kebijaksanaannya. Rakyat mengerti dan deas-desus itu menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan di masa depan. Namun, anggapan publik tetaplah sama—pangeran kedua adalah pembawa malapetaka menjadi rahasia publik. Tidak ada yang bicara tapi seluruh rakyat Negeri Uchiha mengetahuinya.

Pangeran tampan yang dikutuk itu menjadi lengenda tersembunyi dan diceritakan sebagai dongeng nyata oleh orang tua kepada anak-anak mereka di Negeri Uchiha. Membuat pangeran yang tidak mengetahui apa salahnya itu dibenci oleh seluruh rakyat bahkan hampir seluruh penghuni istana.

"Baa-chan! Siapa nama pangeran yang dikutuk itu?" ini adalah hal yang paling sering anak-anak rakyat tanyakan pada nenek mereka yang memang lebih pandai mendongeng dibanding para kakek-kakek.

Kemudian setiap nenek yang sedang menceritakan lengenda mala petaka itu akan memejamkan matanya dan mengehela nafas—

"Uchiha—"

"—Sasuke"

X

Uqqielf_Unfortunately Not You

X

Unfortunately Not You

Chapter 1

"Misfortune Prince"

By : Uqqielf.

Cast : Sasuke Uchiha & Naruto Uzumaki.

Support Cast : Menma, Itachi, Utakata, Orochimaru, Fugaku, Shikaku, Kabuto, Mikoto.

Summary : Mengerti apa itu dicinta dan mencintai adalah hal yang terlambat disadari Sasuke./Sebuah ingatan masa lalu./"Terima kasih, Naruto."/"Aku mencintaimu."/ SasuNaru! ItaSasu! UtaNaru!

Genre : Angst/Fantasy.

Rate : Teen.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto || Unfortunately Not You © Uqqielf.

Warning : Boy X Boy, Alternative Universe, Male Pregnant, Typos, Gak Jelas, tidak sesuai EYD, Out Of Chara, dll.

STORY START!

STORY START!

STORY START!

Uchiha Sasuke duduk sendirian di teras belakang Paviliun Noukon—paviliun tempatnya tinggal. Suasana di tempat ini begitu indah dengan pohon sakura yang tengah mekar mengelilingi halaman paviliun. Sesekali angin bertiup dan menerbangkan kelopak-kelopak sakura yang bergguguran, menyuguh pemandangan indah bagi penghuninya.

Namun, Uchiha Sasuke tak bergeming menatap keindahan di pandang matanya. Raut wajahnya datar menatap kelopak-kelopak sakura yang berguguran seperti salju pink. Tidak ada ketertarikan untuk mengangumi bunga-bunga itu sekarang. Sasuke hanya sesekali mengerjapkan matanya ketika angin membelai surai hitam mengkilatnya. Sasuke bahkan tak menghiraukan kelopak-kelopak sakura yang berguguran dan beberapa mendarat di yukata berwarna biru tua yang dia pakai.

Uchiha Sasuke hanya sedang menikmati kesendiriannya. Setidaknya itulah yang bisa disimpulkan dari raut tampannya yang jarang berekspresi dan menunjukkan apa yang tengah ia pikirkan.

Pluk!

Sasuke mendongak merasakan sesuatu baru saja mendarat di atas kepalanya. Kemudian mata onyx Sasuke menangkap sosok seseorang dengan yukata merah tua berada di belakangnya dan tengah mengacak lembut rambutnya yang melawan gravitasi.

"Nii-san," Sasuke mengulas senyum menatap kehadiran pemuda yang jauh lebih tinggi darinya itu.

"Kenapa kau selalu melamun seperti itu, Sasuke?" pemuda dengan dua keripu—garis air mata yang kentara di kedua sisi hidungnya yang tak lain adalah Uchiha Itachi itu mendudukkan tubuhnya di sebelah Sasuke.

"Hanya menikmati hanami." Sasuke menatap bunga sakura yang berguguran di hadapannya. "Kenapa Nii-san mengunjungiku?" kali ini Si Pangeran Tampan menoleh ke kiri di mana kakaknya berada.

"Untuk menemanimu menikmati hanami." Pemuda yang rambutnya dikucir satu itu sukses membuat semburat merah di kedua pipi adiknya yang tengah menatap samping wajahnya. "Apa aku begitu tampan?" merasa dipandangi sejak tadi, Itachi membuat Sasuke tersentak dan segera memalingkan wajahnya.

Kini giliran Itachi yang menoleh ke arah Sasuke. Menyunggingkan senyum—Putra Mahkota Uchiha itu memperhatikan raut wajah adiknya dari samping. Mengulurkan tangan—Itachi meraih wajah Sasuke dan menangkup pipi semulus porselen itu agar menatap ke arahnya.

Semburat merah kembali menghiasi pipi putih Sasuke ketika menatap manik obsidian kakaknya. "Ni-nii-san." Dengan sangat jelas ada yang berbeda dari sekedar tatapan kakak-beradik di antara keturunan Uchiha ini.

"Aishiteruyo, Sasuke." Uchiha Sasuke terdiam ketika ia merasakan hembusan nafas hangat Itachi menerpa wajahnya. Tinggal beberapa centi hingga dua wajah tampan itu kehilangan jarak tapi Sasuke menahan pundak Itachi agar berhenti tepat beberapa centi di depannya.

Tanpa sempat mengerjapkan mata—Sasuke menatap manik gelap kakaknya yang sangat dekat. Tenggorokkannya terasa tercekat—Pangeran Uchiha ini yakin betul bahwa sosok tampan di hadapannya ini adalah kakaknya, saudara kandungnya. Tapi kalimat Itachi membuat Sasuke mulai kacau.

"Aishiterumo, Nii-san." Tidak ada yang memahami dengan sempurna hati kedua manusia. Termasuk kedua saudara yang tengah menyatukan bibir mereka dan tenggelam dalam ciuman lembut diiringi hanami.

X

Uqqielf_Misfortune Prince

X

Sejak kecil aku tidak memahami apa itu kasih sayang, apalagi cinta. Aku sangat mengerti bahwa keberadaanku adalah kebencian bagi orang-orang di sekitarku dan kebencian juga menyelimuti diriku—dan membuatku kesepian.

Namun aku beruntung karena mempunyai seorang kakak yang begitu menyayangiku. Itu adalah kali pertama aku merasakan apa itu kasih sayang dan cinta. Meski mungkin bukan kasih sayang dan cinta yang bagus karena aku mencintai kakak kandungku sendiri.

"Aku mencintaimu. Bahkan sampai detik ini—

"—aku masih mencintaimu."

X

Uqqielf_Misfortune Prince

X

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak masa krisis Negeri Uchiha. Kini keadaan negeri dengan lambang kipas merah putih ini telah kembali stabil. Bahkan bisa dikatakan, sekarang Negeri Uchiha adalah negara terkaya dari lima negara besar Dinasti Konoha—mengalahkan negara-negara besar tetangganya seperti Hyuuga, Sarutobi, Uzumaki, bahkan Senju.

Dan kaisar yang telah membawa kemakmuran itu sepertinya tengah menuju akhir era-nya. Di usianya yang baru setengah abad lebih, Kaisar yang dulu gagah kini terbaring di ranjang megahnya. Tubuhnya sudah tidak segagah dahulu ditambah kesedihan atas kematian Ratu Mikoto yang ternyata masih saja membekas di ingatannya.

"Uhuk-uhuk-uhuk~"

"Fugaku-sama!" Seorang tabib laki-laki berambut abu-abu segera menghampiri dan mendudukkan tubuh Si Kaisar.

"Daijobuka? Anda harus segera meminum ini, Fugaku-sama." Dengan raut khawatir pemuda yang rambutnya dikucir itu meminumkan semangkuk ramuan obat.

"Kabuto, panggilkan—uhuk—tolong panggilkan—uhuk—penasehat istana—uhuk-uhuk—kemari." Dengan masih terbatuk karena penyakit yang dideritanya, Kaisar Fugaku memberikan perintah pada tabib itu.

"Wakarimashita." Tabib istana bernama Kabuto itu mengangguk mengerti dan segera keluar dari kamar Kaisar Fugaku. Tidak lama kemudian tabib yang merupakan kepercayaan kaisar itu kembali dengan seorang laki-laki paruh baya berambut hitam yang dikucir tinggi.

"Ada apa Yang Mulia Kaisar memanggilku?" Sekarang pria berambut hitam itu tengah duduk berhadapan dengan Kaisar Fugaku yang duduk bersandar di ranjangnya.

"Aku merasa—uhuk—penyakitku—uhuk-uhuk—makin parah—uhuk-uhuk-uhuk"

"Fugaku-sama!" Kabuto kembali memekik khawatir dan segera membantu Kaisar Fugaku duduk bersandar kembali di ranjangnya. Sesekali tabib itu mengusap punggung Kaisar agar batuk kronis itu sedikit reda.

"Fugaku-sama—" Penasehat kerajaan bernama Shikaku itu sama khawatirnya dengan tabib bernama Kabuto. Kesehatan Kaisar memang memburuk akhir-akhir ini.

"Shikaku—uhuk—aku ingin—uhuk-uhuk—agar Itachi—uhuk-uhuk-uhuk—" Kaisar itu melengkungkan punggungnya ke depan, batuknya terlalu menyiksa jika dikompromi untuk berbicara.

"Fugaku-sama, Anda masih belum terlalu stabil untuk berbicara banyak seka—"

"Aku baik-baik saja, Kabuto—" Kaisar Fugaku memotong kalimat Si Tabib yang tengah membantunya kembali menyandar ke ranjang. Kabuto segera mengambil semangkuk ramuan dan meminumkannya pada Si Kaisar. Sekarang Kaisar Fugaku menghela nafas—dia merasakan tenggorokkannya lebih lega sekarang.

"Aku ingin mengadakan pemilihan pendamping untuk Itachi." Kali ini Kaisar menyelesaikan kalimatnya dengan lancar.

"Fugaku-sama, maksud Anda—" Shikaku mengantung kalimatnya.

"Ya. Aku ingin Itachi menikah sebelum dia naik takhta." Kaisar melanjutkan kalimat Shikaku.

BRAK!

Tiba-tiba saja pintu kamar Kaisar Fugaku didobrak secara tidak sopan oleh seseorang. Tiga orang yang berada di kamar itu sontak menoleh ke arah pemuda yang tak lain adalah Putra Mahkota Uchiha.

"Tou-chan! Aku menolak perayaan Morau no Hi untukku! Aku belum ingin menikah!" Putra Mahkota yang dikenal begitu dewasa dan sopan itu kini berkilat marah setelah tak sengaja mendengar pembicaraan ayahnya. Dengan nada dingin Putra Mahkota Uchiha itu menolak.

"Itachi. Jaga sikapmu." Kaisar Fugaku berkata dengan nada tegas meski kondisinya tengah sakit. Sementara dua orang lain di ruangan itu tidak berniat ikut andil dalam percakapan ayah-dan-anak yang sepertinya akan beradu argumen.

Menghela nafas—Putra Mahkota Uchiha memejamkan matanya mencoba meredam emosi. Entah kenapa dia sangat tidak setuju dengan rencana ayahnya untuk mencarikannya pendamping.

"Bagaimanapun, aku tidak ingin ada perayaan Morau no Hi untukku!" Kali ini emosi Itachi sedikit mereda meski masih dengan penekanan di tiap kalimatnya.

"Shikaku, Kabuto. Kalian boleh keluar sekarang." Fugaku tak ingin citra Itachi yang selama ini baik menjadi rusak hanya karena emosionalnya yang jarang sekali terjadi ini. Dua orang bawahan itu segera keluar meninggalkan ayah-anak itu berdua.

Sejenak kesunyian melanda Itachi dan Fugaku pasca dua orang tadi pergi. Itachi masih mencoba mengontrol emosinya sementara Fugaku menatap putra sulungnya itu dengan tatapan tajam.

"Katakan apa alasanmu menolak perayaan Morau no Hi, Itachi." Fugaku berkata dengan tegas—tidak suka dengan putranya yang mendadak emosional.

"Aku sudah memiliki pendamping yang aku inginkan. Tou-chan." Fugaku yang sudah beralih duduk di kursi kamar dan berhadapan dengan Itachi tersenyum tipis. Jika itu alasannya maka tidak salah jika Itachi menolak perayaan Morau no Hi—budaya Negeri Uchiha sejenis perjodohan.

"Souka. Seharusnya kau mengatakannya lebih awal, Itachi." Fugaku sedikit lega. "Jadi siapa orang yang ingin kau jadikan pendamping?" Fugaku mencoba mendengarkan dengan seksama.

"Uchiha—"

"—Sasuke"

JDERRR!

PLAK!

Bak tersambar petir, Fugaku tidak pernah menyangka putra sulung yang ia banggakan akan mengatakan hal gila seperti ini. Dan Itachi memalingkan wajahnya ketika tamparan pedas ayahnya mendarat dengan sempurna di pipinya.

"DIA ADIKMU! KAU SUDAH TIDAK WARAS?!" Fugaku memaki Itachi saking emosinya, entah kekuatan dari mana Kaisar yang tengah sakit itu bisa berteriak begitu marah. Sementara Itachi memejamkan matanya merasakan nyeri—bukan hanya di pipinya tapi juga di hatinya.

"Aku mencintai Sasuke. Tou-chan." Dengan nada dingin Itachi tetap mengutarakan isi hatinya. Hal yang justru membuat ayahnya seperti tersengat listrik. Namun, kaisar yang bijaksana itu mencoba meredam emosinya agar tak menampar putra kesayangannya lagi.

"Kau akan menikah dalam waktu dekat. Tidak peduli siapa yang kau cintai. Perayaan Morau no Hi akan membuat pikiranmu jernih. Sebulan dari sekarang, pikirkan itu baik-baik. Itachi." Fugaku tidak peduli dengan wajah menunduk anaknya sejak ia tampar. Dia terlalu marah—bukan—dia sangat marah. Fugaku mungkin bisa memahami kalau Itachi sangat menyayangi adiknya karena ibu mereka meninggal ketika Sasuke lahir. Tapi perasaan Itachi terlalu jauh, dia tidak akan membiarkan dua anakknya berbagi ranjang yang sama.

X

Uqqielf_Misfortune Prince

X

Mungkin seharusnya aku tidak menyetujui permintaannya saat itu. Mengunjungi Tou-chan yang tengah sakit di hari itu sepertinya bukanlah ide yang bagus. Andai aku tahu dari awal akan mendengar hal seperti ini, aku akan memilih langsung kembali ke Paviliun Noukon dibanding menunggu di depan pintu kamar Kaisar.

Kenapa? Kenapa aku dengan bodohnya memiliki perasaan terkutuk ini? Padahal sejak awal aku tahu hubungan sedarah tidaklah mungkin untuk kami berdua. Pada akhirnya aku, Uchiha Sasuke yang tak pernah menampakkan ekspresinya ini merasa sakit hati. Kami tidak direstui, sudah sangat jelas. Dan aku merasakan kebencian itu lagi.

X

Uqqielf_Misfortune Prince

X

Uchiha Sasuke duduk di bawah pohon maple ketika siang hari sedang terik-teriknya. Sekedar menikmati angin dan udara musim semi yang harum karena bunga-bunga di dekatnya tengah bermekaran dan serbuk polen mereka diterbangkan oleh angin.

Menatap bangunan besar yang agak jauh di depannya—Sasuke mengerjap beberapa kali. Tempat itu adalah sekolah khusus bangsawan di Negeri Uchiha. Dan tempat itu juga merupakan tempat Sasuke belajar.

Sebagai putra seorang kaisar, belajar di sekolah khusus bangsawan menjadi hal yang sangat aneh. Karena Itachi bahkan tak pernah belajar di tempat seperti ini—Putra Mahkota mempunyai guru privat dari sarjana terbaik sekolah khusus bangsawan. Hingga tak perlu repot-repot datang ke sekolah hampir setiap hari.

Tapi hal itu tidak terlalu dipermasalahkan Sasuke. Sejak kecil Sasuke paham perbedaan dia dan kakaknya. Itachi Putra Mahkota Uchiha yang dibanggakan Fugaku—sedangkan dia? Sasuke hanya Pangeran Uchiha yang tidak beruntung.

"Pssttt...pssstttt..." Sasuke tersadar dari lamunanya ketika suara mendesis itu ia dengar. Melirik ke kanan dan ke kiri, Sasuke mencoba mencari tahu di mana asal suara itu.

'Apa ada ular?' Inner Sasuke waspada.

"Pssttt...pstttt...Sasuke!" bukan—itu bukan ular. Sasuke mendongak ketika menyadari suara mendesis itu berasal dari atas. Sasuke membelalakkan matanya ketika menatap seseorang sedang jongkok di atas dahan pohon maple dengan cengiran bodoh.

"Bantu aku turun!" anak yang nampak seumuran dengan Sasuke itu meminta. Sementara Sasuke menautkan alisnya—dia tidak kenal dengan bocah berkulit tan itu. "Yak! Teme! Kenapa kau diam saja! Ulurkan tanganmu padaku agar aku bisa turun!" anak berambut pirang itu benar-benar sok akrab—pikir Sasuke.

Bocah pirang itu melambai-lambaikkan tangannya—berharap Sasuke segera mengulurkan tangannya dan membantunya turun dari dahan pohon. Oh ayolah, bocah itu juga murid sekolah khusus bangsawan ini. Bocah hiperaktif yang sok memanjat pohon maple namun tidak tahu caranya turun karena memanjat terlalu tinggi.

Sasuke cuma menatap bocah di atasnya itu yang nampak berusaha menggapai tubuhnya yang masih duduk di bawah pohon maple. Sasuke sama sekali tak minat mengulurkan tangannya dan malah mengabaikan Si Pirang bodoh itu lalu menatap ke arah lain. Hingga—

KRAK!

Bunyi ranting yang sepertinya patah. Sasuke refleks mendongak was-was namun sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi—

BRUK!

Benda bodoh itu menimpa tubuh Sasuke yang tak lain adalah bocah pirang yang tergelincir dari dahan maple karena dahan tempatnya berpijak tadi hampir patah. Sukses dua orang itu saling bertindihan dengan posisi punggung Sasuke yang mencium tanah.

Mengernyit nyeri, Sasuke menatap Si Bodoh yang tengah menduduki perutnya setelah jatuh dengan tidak elit.

"Menyingkir dari sana!" Sasuke segera mendorong tubuh kecil si pirang yang duduk di atasnya—membuat bocah tan itu terjungkal ke belakang dan pantatnya mencium tanah. Sasuke langsung bangkit berdiri dan segera menepuk-nepuk yukata biru tuanya—membersihkan tanah yang mungkin menempel sewaktu dia jatuh tadi.

"Lengan bajumu yang sebelah sini juga kotor—" Entah sejak kapan Si Pirang sudah bangun dan ikut menepuk-nepuk lengan yukata Sasuke yang bercap tanah. Sasuke memicingkan mata—tidak suka ada yang menyentuhnya tanpa permisi. Sasuke menepis tangan tan itu dari lengan bajunya dan membersihkan sisa tanah yang menempel di lengan bajunya sendiri.

"Heihei, jangan menunjukkan wajah sombongmu itu di hadapanku. Kalau kau membantuku turun tadi, aku kan tidak harus menimpamu." Bocah pirang itu bicara tanpa rasa berdosa setelah menimpa tubuh orang lain.

Sasuke tak bergeming. Dia sekarang ingat siapa anak di depannya ini—teman sekelasnya. Anak baru yang masuk sebulan lalu ke sekolah khusus bangsawan, entah namanya siapa namun anak ini adalah anak yang mendapatkan nilai tes pengujian paling buruk minggu ini di sekolah khusus bangsawan.

"Naruto," Si Pirang mengalihkan tatapannya dari Sasuke dan menatap ke belakang Sasuke di mana seseorang tengah berjalan mendekati mereka. Membalikkan badan, Sasuke ikut menatap orang yang datang itu—pemuda dengan yukata biru muda—salah satu murid di sekolah ini.

"Hoy! Utakata! Kau mencariku? Hehehe." Sasuke mengernyit—sepertinya pemuda dengan poni coklat yang menutupi sebelah wajahnya mengenal Si Bodoh di dekatnya.

'Naruto?'

Yah, Sasuke memang tidak terlalu hapal siapa saja teman sekelasnya—atau tepatnya tidak peduli siapa saja teman sekelasnya.

"Ck. Kau selalu merepotkan, Naruto. Dan—" Pemuda dengan manik keemasan itu beralih menatap Sasuke begitu dia sampai. "—aku tidak menyangka kau berteman dengan Pangeran Uchiha ini." Utakata tersenyum tipis.

"Hehehe." Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Teman? Kami bahkan tak akrab—pikir Sasuke begitu mendengar kalimat Utakata.

"Hm. Sasuke-sama sepertinya kami harus pergi dulu, aku dan Naruto ada urusan. Sampai jumpa." Utakata menggandeng tangan Naruto, hendak membawanya pergi.

"Ano-sa. Utakata, kenapa kita tak ajak Sasuke sekalian ke Ichiraku Ramen hm?" Naruto menahan tangan Utakata yang hendak membawanya pergi. Sasuke mengernyit menatap dua orang di depannya. Apa mereka itu sepasang kekasih?—inner Sasuke ketika melihat keakraban di depannya, jika sekedar teman Utakata tak harus menggandengnya seperti itu kan? Err—seperti takut Naruto lari darinya.

"Yo! Sasuke! Kau mau ikut?" kalimat Naruto membuat Sasuke kembali ke alam nyata. Sasuke kembali menatap dua orang di depannya, tampang Naruto dengan cengiran bodohnya dan—Utakata yang mengernyit tidak suka.

"Tidak. Aku harus pulang." Sasuke juga memang tak berniat menggangu sepasang kekasih itu dan dia juga harus segera pulang karena jam pelajaran sudah habis. Sasuke membalikkan tubuhnya dan segera berlalu meninggalkan dua teman sekelasnya itu.

"Hm, sayang sekali dia tak mau ikut ya." Sasuke yang berjalan menjauh pelan masih bisa mendengar keluhan Naruto.

"Sudahlah. Dia tipe anti-sosial. Jja Naruto." Sasuke terus melangkahkan kakinya meski mendengar kalimat tidak enak Utakata.

"Hah. Aku baru saja jatuh dari pohon, kakiku sakit. Gendong ya?" Sasuke melirik dan memperlambat langkahnya begitu mendengar kalimat Naruto.

"Ck. Kau selalu merepotkan, Naruto." Sasuke bisa menangkap bayangan Utakata yang menggendong Naruto meski hanya sekilas.

"Hehehe. Yosh! Ayo ke Ichirakuuu!" Dan suara mereka perlahan menghilang dengan makin jauhnya langkah Sasuke.

Menghela nafas—Sasuke merasa sedikit iri dengan apa yang baru ditangkap ekor matanya.

"Nii-san..." Gumam Sasuke yang hanya di dengar oleh angin.

X

Uqqielf_Misfortune Prince

X

Mungkin kalau takdirku bukan Pangeran Uchiha. Aku bisa leluasa menyukai Nii-san. Seperti pasangan kekasih kebanyakan. Hari itu, hari setelah aku tahu semuanya tidak mungkin. Ku akui aku lelah memikirkannya. Kepalaku terasa berat, aku bahkan malas kembali pulang ke istana.

Kenapa semua hal dalam hidupku tak ada yang berjalan dengan baik? Aku tidak pernah meminta apapun, tidak juga menginginkan apapun. Ck, apa legenda itu memang nyata?

Pengeran yang malang.

X

Uqqielf_Misfortune Prince

X

.

.

A/n : Hola minna-san (/^^)/

Ini dia chapter pertama dengan sub-judul "Misfortune Prince" atau—Pangeran yang Malang. Hmmm, terima kasih untuk yg review di prolog super gaje FF ini \^^/

Bagaimana pendapat minna-san tentang chapter satu ini? Yah, di sini Naruto emang masi jadi tokoh yang tidak terlalu—err—dominan. Dan malah Itachi lebih mendominasi. Dan juga pair utama FF ini juga belum muncul sama sekali hehehe ^^V ditambah genre utama yang Angst dan Fantasynya belum berasa XD #getok author ^^V

Malah apa itu ya? ItaSasu dan UtaNaru? What? Oke mungkin minna-san ada yang emosi atau berunek-unek ria ketika membacanya ^^

Gomenasai. Silahkan sampaikan sepatah dua patah kata di kolom review. Baik itu pujian, kesan, saran, pertanyaan, kritikan, unek2, bahkan kalau ada yg mau flame, protes, bashing, menghina dan sejenisnya saya terima dengan senang hati. ^^

Jangan di pendam, nanti jadi penyakit /? #whuat

###Backstage Artist

Naruto : ahahaha! Teme jadi uke! Good job thor! #ketawa nista

Sasuke : #nyipitin mata

Utakata : apa aku merebut ukemu? Kkk~ #terkekeh

Sasuke : #tautin alis

Itachi : daijobu, otouto. Aniki akan selalu menyayangimu #peluk Sasuke yang dibully

Sasuke : #mendengus sebal

Naruto+ Utakata : Wahahahahaha! Cocok! #ngakak guling2

Sasuke : AMATERASU! #bakar semua orang termasuk author

Semua : #Gosong /?

Yosh sayonara di chapter depannn~

Big Thanks To :LNaruSasu ,Ineedtohateyou, Neko Twins Kagamine, Shiroi Fuyu, Arum Junnie, kyujaena, kazekageashainuzukaasharoyani, Zyzi taw, ai.

And buat yang nanya dan lain2 :

Ineedtohateyou, Naru disembunyikan author /? #plak

Shiroi Fuyu, salam kenal juga ^^