WARNING!

This fiction contains murderous bloody scenes, inappropriate words and actions, and much of content is science-fantasy-based

Yaoi, slight!straight

.

.

.


BAB 1

Revolves of The Theories


.

.

.

Dongeng lawas berkisah tentang penganut eksorsisme yang memburu bangsa vampir, sebenarnya tidak sebatas dongeng dan tak hanya ada dalam dunia perfilman maupun tulisan fiksi. Masa-masa terkelam itu hadir beberapa ratus tahun lalu, tidak kurang dari seratus eksorsis melakukan praktik pengusiran roh jahat, terkhusus pada vampir. Kemudian hal itu surut, dan kini periode tersebut tergantikan oleh persoalan baru yang berbahaya, yang sama mengerikan dan fatalnya.

Arakan mutan.

Virus CH55 yang diperoleh dari mutan berpenyakit itu memiliki struktur tubuh kompleks dengan selubung ekor minimalis. Serabut ekor melimpah dan ukuran genom yang lebih besar dibandingkan Pandoravirus itu sempat memicu keterkejutan. Pada dasarnya, virus CH55 sama seperti spesimen unikum lainnya. Baru ditemui, sangat perdana.

Jongdae memanfaatkan virus tersebut untuk menjadi mutagen, dirinya ingin memberikan tampilan fisik tak seperti biasanya pada mutan. Anomali fisik sebagai intensi utama; seperti kulit yang menyerupai bunglon, berubahnya pigmen rambut, dan kelainan bodi serupa. Karena ciri fisik yang dipandang tidak normal itu tak pula menyingkirkan kenyataan bahwa ada peluang untuk menunjang kemampuan para mutannya.

Banyak manusia mutan menyimpan kekuatan alam sadar yang luar biasa. Layaknya kue di dalam stoples, kemampuan tersebut enggan ditunjukkan apabila tak dibutuhkan. Hal tersebut akan memancing ketakjuban dari puluhan pasang mata. Dan Jongdae sudah mempunyai solusinya, bukan begitu?

Sebab mutan hanya manusia sebagaimana pada dasarnya, mereka tidak dan tak pernah tunduk pada manusia lain—itu sebuah pelecehan, mereka bukan budak. Tetapi sebaliknya, kesetiaan pada penciptanya adalah harga mati. Pada atasannya dan pada pengasuh sekaligus penemunya, Jongdae.

Manusia mutan memiliki hak untuk hidup setara dengan manusia lain. Sayangnya hak asasi mutan tidak lagi terlalu diperdebatkan semenjak kasus pembunuhan dan orang hilang semakin marak terjadi. Manusia memvonis vampir sebagai tersangka.

Tidak seorang pun yang rela secara mendadak dipertemukan dengan vampir dalam medan perang. Begitu pula dengan manusia mutan. Tetapi di tangan Jongdae, melalui caranya sendiri—yang tak sebegitu transparan dari pandangan publik dan hukum, aturan di dalam kepala mutan dapat ditata sedemikian rupa agar melenceng dari jalur yang semestinya.

Dan jauh di luar sana, mutan lain yang bertahan di kediamannya telah lama menyimpan begitu banyak rasa. Bersimpati atas apa yang kaumnya alami.

Tetapi Jongdae bersumpah, para mutan lain yang saat ini menyembunyikan diri—mereka akan berjalan di nasib yang sama pada akhirnya, dengan alibi demi memperjuangkan takdir manusia.


.

.

.


Poena, 2023 AD

Ini kali pertama Luhan diterjunkan langsung dalam pemburuan.

Setelah melewati masa pelatihan selama satu tahun, akhir tahun 2023 merupakan awal buku hariannya yang menegangkan dimulai. Tidak, tampaknya itu sebuah kesalahan. Luhan tidak ingat ada istilah tersebut, tidak ada kata menegangkan di dalam kepalanya. Yang ada hanya nekat, pantang menyerah, patuh, dan terorganisasi.

Fortress 2 atau yang akrab diucapkan dengan sandi nama F2, menggambarkan area pertahanan Luhan.

Area pertahanan dibagi menjadi tiga, dan semakin tinggi bilangannya, pula semakin nyata kontak fisik dengan target pencarian.

Ditemani dengan dua teman mutan lainnya, Luhan bertugas menjaga markas sementara waktunya. Markas yang dimaksud ialah alat transportasi di lapangan, dan transportasi itu kembali jika skedul pemburuan berakhir. Mereka akan kembali ke markas utama apabila durasi pemburuan dihentikan, atau ketiga mutan pada fortress tiga—yang secara langsung melakukan penyisiran di zona perkotaan ataupun desa dan hutan, dapat kembali dengan selamat, atau tanpa nyawa.

F2, unit 2, sektor 47; merupakan identitas Luhan.

Unit 2 menunjukkan titel kelompok permanen mutan yang diluncurkan. Kelompok di mana Luhan bekerjasama dengan tujuh anggota di dalamnya sejak awal pelatihan hingga selama ia hidup untuk mengabdi pada keamanan manusia.

Sementara sektor 47 adalah kode wilayah saat Luhan pertama kali ditemukan.

Luhan ditemukan di jalanan kota Beijing, kemudian direkrut dan dibawa ke kota Poena untuk uji eksperimental.

Menuju ke alam bebas dan tak tahu mengenai keberadaan vampir yang sesungguhnya, yang boleh jadi hadir layaknya pencuri, Luhan berpikir agak khawatir dengan situasi itu dan berharap markas sementaranya tidak kedatangan tamu tanpa nyawa tersebut.

"Apa kau tegang, Luhan?"

Menoleh, Luhan melihat pria bertubuh tidak lebih tinggi darinya. Bibirnya tampak mengeluarkan senyuman, Luhan tidak tahu ada ledekan melikut dalam senyuman itu. "Tidak. Kau sendiri, apa kau tegang?"

Baekhyun tertawa. Sama kondisinya, ia tidak tahu bahwa Luhan sedikit menipunya. "Tidak juga. Kita sudah dilatih, ini akan menjadi pengalaman yang begitu luar biasa bagi kita."

"Ya, luar biasa, setidaknya jika kita selamat malam ini."

Baekhyun kembali terkekeh, melayangkan pukulan pada punggung Luhan maksud berguyon, dan berakhir mengaduh merasakan tulang jarinya mengenai logam di punggung Luhan. Ia merutuk, dan senyum tipis Luhan tumpah, mengejek.

Handy talkie tiap mutan unit dua berbunyi. Junmyeon berbicara di sana, memberi perintah—ini saatnya mereka meluncur ke lokasi.

Mobil tunggal anti peluru itu diisi dengan prototipe komunikasi termodifikasi dan enam manusia mutan, termasuk Luhan di dalamnya. Kelompoknya berangkat dari markas utama menuju pelosok Poena yang lokasinya cukup jauh. Poena ialah kota dengan kepadatan penduduk layaknya Hongkong namun mempunyai iklim dingin serta intensitas hujan yang tinggi—dan Junmyeon, sebagai pemimpin kelompok, tetap bertahan di markas yang baru saja Luhan tinggalkan. Menjadi informan berdasarkan pencitraan gelombang deteksi.

Gemerlap lampu perumahan dan kendaraan berlalu lalang menyurut digantikan pepohonan hijau yang menjulang tinggi. Udara terasa semakin sejuk dan di beberapa titik kawasan tanpa penduduk, hawa tersebut berubah menjadi lembap. Bulir-bulir embun berujung menempel pada kaca mobil yang mereka tumpangi.

Para mutan dengan terpaksa menekan rasa gelisah yang mulai tumbuh di dalam hati, sebagian besar waktu kebersamaan itu diisi oleh atmosfer sunyi.

"Unit dua," handy talkie keenam mutan secara serentak berbunyi. Beberapa mutan yang menyadari bunyi kompak tersebut memutuskan untuk mengecilkan volume alat komunikasi yang dipegangnya, bertujuan untuk membiarkan satu alat saja yang berbunyi. "Jarak tersisa dua puluh meter ke depan, kemudian belok kanan, dan posisikan markas."

Mobil yang dikendarai Stephanie Hwang, gadis mutan yang surainya bernuansa merah bara eksentrik itu pada akhirnya berhenti di lahan berumput. Suasana luar gelap. Setidaknya seperti itu jika kedua mata Baekhyun tidak berfungsi lagi.

Luhan membuka akses keluar-masuk mobil pada bagian ekor. Tiga mutan pemburu, di antaranya; Kyungsoo, Kwangsoo, dan Bogum turun di sela menarik kokang pistol yang dikeluarkan beberapa menit lalu.

"Terus perbaharui situasi, oke?"

Kyungsoo, salah satu mutan dengan struktur rangka silikon karbida yang telah disempurnakan agar tahan terhadap suhu dan tekanan rendah itu bersuara. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan gentar. Tidak kurang dari satu kali Luhan takjub mengenai logam yang ditanam di dalam tubuh pria berbahu cukup lebar tersebut, dan tidak pernah berhenti bertanya dalam hati mengapa bisa.

Luhan mengangguk singkat, Baekhyun memberi isyarat 'OK' dengan jarinya.

Lalu ketiganya pergi. Bertaruh nyawa.

Sembari menghela napas, Luhan mendengar suara langkah kaki regunya itu perlahan menipis dan akhirnya sirna ditelan kegelapan. Selepas menarik kokang pistol, ia keluar dari mobil. Mengamati situasi sementara Tiffany dan Baekhyun berada di dalam untuk memantau radar.

Zona dua berjarak tiga meter dari Kendaraan Utilitas Sport yang jendelanya dilapisi polikarbonat, anti peluru dan ledakan dari amunisi berat. Hanya dalam jarak minim tersebut wewenang ikut campur melenyapkan klan vampir diperbolehkan. Tak ada alasan bagi mereka untuk menginjakkan kaki di luar dari batas itu, tetapi ada berbagai alasan supaya mereka tetap tinggal. Salah satunya, agar seluruh komunikasi dengan markas utama dapat terus disinyalir aman.

Sensor tubuh Luhan menantikan adanya pergerakan dan perubahan lintas angin. Namun beberapa menit terlewati, markasnya aman.

Menunggu adalah sesuatu yang tidak Luhan gemari. Dan penantian di kondisi ini membawa dampak buruk, ia berharap waktunya akan segera berakhir. Atau paling tidak, tiga kawannya itu cepat kembali membawa kabar baik.

Demi mengikis rasa bosan, Luhan mengamati daun-daun merah yang terserampang di bawah kakinya. Dengan perlahan dedaunan itu bergerak kecil, kemudian naik ke atas dengan pola berputar.

Tiffany baru saja tiba di belakang tubuhnya, namun hal tersebut sama sekali tidak menjadi distraksi—gadis itu menggumamkan kata-kata takjub. Membuat Luhan ikut terhibur mengetahuinya.

Fokus Luhan retak ketika handy talkie miliknya menggerisik. Daun yang berputar mengudara itu terbang tak beraturan dan kembali jatuh mendarat di tanah rerumputan. Seperti dugaannya, suara Kim Junmyeon menyapa indra pendengar.

"Siaga markas. Arah jam lima, tiga objek tak dikenali."

Dari dalam mobil, Baekhyun memberi konfirmasi terhadap kabar itu. Luhan menyadari sesuatu di dalam dirinya mulai resah.

"Astaga..." Tiffany rupanya menyuarakan kecemasannya lebih dahulu. Gadis itu mempersiapkan kokang, Luhan bersamanya perlahan berjalan mundur, ke bagian belakang mobil. Mencari keamanan.

Sensor Luhan bergerak memperingati.

"Delapan meter lagi, arah jam lima."

Luhan tahu, Luhan sudah tahu. Suara Junmyeon hanya membuatnya semakin risau.

Terdengar lirih suara di dalam kegelapan. Bayangan-bayangan hitam dengan cepat melintasi ranting pepohonan. Gerakan gesit itu tak luput dari pengamatan cerdik Tiffany.

"Dua," katanya berbisik. "Aku tidak melihat yang ke-tiga."

Tubuh Luhan hampir menghimpit wanita di baliknya, namun tiba-tiba kegelapan itu menghilang.

Suara rumput diinjak membuyarkan Luhan, gadis mutan yang luar biasa gesit dalam hal gerak pertahanan tersebut rupanya meninggalkan Luhan di belakang mobil, dalam keadaan sendirian—gadis itu berpindah ke arah mobil bagian samping.

Ia mendengar dua buah bunyi letusan dari arah kanan, meyakini Tiffany yang melepaskannya, tetapi dirinya tidak mengganggap hal itu sangat berarti.

Ini bukan kali pertama ia bertemu pandang dengan seorang vampir. Dirinya sudah pernah membunuh beberapa dari protokol pelatihan yang telah dilewatinya setahun belakangan. Namun untuk kali ini, ia tak bisa berkutik. Intuisi yang lebih dari dua kali memberi peringatan itu nyatanya roboh oleh tatapan dingin nan singkat dari sepasang mata sang vampir.

Vampir ke-tiga.

Bila rupa mampu membunuh, sebenarnya itu sudah dilakukan oleh makhluk tersebut.

Pistol laras pendek Luhan perlahan naik, mengarah pada pelipis pria tidak bernyawa di balik sebuah pohon perkasa itu, tetapi matanya justru berkhianat. Luhan menangkap sebuah obolos[1] yang terkalung di leher pria vampir tersebut. Dahinya mengerut. Lalu dengan cermat menyimpulkan bahwa perak tidak berpengaruh besar terhadap ras vampir.

Pria vampir yang diamati Luhan tiba-tiba dihampiri seorang wanita berambut gelombang berwarna perunggu yang panjangnya mencapai pinggul. Jika Luhan tidak salah, itu sudah vampir ke-empat. Dia tidak bisa melihat wajahnya secara jelas, hanya siluet yang tergambar begitu lugas. Tetapi sekurang-kurangnya, ia mampu mendapati sebuah anggukan yang tampak dari si wanita.

Kemudian, mereka berdua berlari pergi. Begitu ringan seperti bayangan.


.

.

.


Luhan sedang melihat cairan merah yang lebih pekat dibandingkan darah segar makhluk hidup di bawah tangannya, tetapi tidak merasakan kehangatan di sana.

Vampir di bawahnya itu merupakan bagian dari pelatihan para mutan, ia terkulai dengan luka menganga di bagian leher—pisau Luhan masih tenggelam pada bagian tersebut.

Napasnya terengah-engah, matanya mengamati darah bersuhu dingin yang masih meleleh keluar, kemudian ia menekan lebih dalam dengan maksud mencegah adanya koagulasi. Butuh sedikit kekuatan hingga material keras di dalamnya terasa putus. Dan kepala itu jatuh.

Terpisah dari badannya.

Luhan menarik belatinya yang berbahan perak, lalu kembali menikamnya tepat di dada sebelah kiri sang vampir. Ketika Luhan mengangkat bilah pisaunya, ia menyaksikan bekas robekan di bagian pipi vampir itu pulih dengan cepat. Regenerasi ekspres.

Lalu ia tercenung.

Reka ulang kejadian kemarin malam telah memengaruhinya. Ia tak mendapatkan tidur yang nyaman sebab setiap saat dirinya mencoba untuk menutup mata, kilasan tersebut akan hadir mengiringi phosphene[2] penglihatannya.

Siapa pun itu, yang melontarkan teori bahwa vampir sangat tidak toleran dengan perak—telah membuayainya, dan mungkin membodohi semua manusia di muka bumi.

Ia pikir hal-hal yang terucap dari mulut para ilmuwan telah cukup untuk dipahami dan disiasati. Tetapi nyatanya salah.

Seorang vampir malam itu sudah menepis teori itu melalui kalung yang ia gunakan.

Sesudah puas nuraninya dengan satu vampir yang telah dibinasakan, dia memutuskan untuk pulang, bukan ke rumah karena ia sendiri tak tahu di mana rumahnya dulu, melainkan ke markas utama.

.

.

.

Luhan mengharapkan pemburuan selanjutnya. Barangkali pemburuan itu dapat menggembleng mental bantainya. Keberanian yang ciut telah ia alami dan dirinya tidak senang akan hal tersebut. Bagaimana bisa pandangan vampir itu seakan-akan menyuntik bius seluruh tubuhnya? Jika saja ia berani menarik pelatuk metalnya, dirinya mungkin bisa berbangga diri. Jika saja.

Maka dari itu, ia menginginkan kejadian malam tersebut diputar ulang dan sekembalinya dari jenggala hijau, harapannya memang terwujud.

Junmyeon, pria berkulit cemerlang dan tata gigi sangat rapi yang berpengaruh langsung terhadap bentuk senyumnya itu berbicara.

"Pertahanan dua akan turun ke lokasi yang sama siang ini," katanya.

Luhan suka. Ketar-ketir juga.

Lalu Tiffany, gadis yang tak membutuhkan waktu lama berpikir untuk mengutarakan pendapatnya tersebut segera mendesah sebagai respons. Dari reaksinya, Luhan dapat mengerti kegundahan yang melandanya. Keempat vampir kemarin malam hanya melintas dan gadis itu tampak sangat membencinya berkat hasil nol yang mereka peroleh.

"Mereka tidak suka jika mendengar keluhanmu tersuara, Stephanie. Para agresor butuh waktu untuk pulih. Sisi baiknya kalian akan terbiasa apabila terjadi hal-hal yang tak dikehendaki," Junmyeon memberi jeda, matanya menyorot wajah Baekhyun, "secara tidak terduga."

"Jika hanya bertiga, aku sangat yakin kami akan pulang dengan jasad," Tiffany menggumam, sengaja tidak memperkuat bunyinya, agar Junmyeon tidak mendengar. Namun Luhan, pun Baekhyun dapat mendengarnya.

Mungkin Luhan memiliki pemikiran dan suasana hati yang selaras dengannya. Kurang percaya diri, acap kali hanyut dalam rasa cemas. Tetapi ia tak juga ingin melepaskan kesempatan ini. Rasa penasaran di dalam jiwanya tidak disangka menjadi begitu besar. Sekali lagi, itu disebabkan oleh kejadian kemarin malam.

Secara sederhana, Luhan hanya berpikir terdapat fakta lain yang masih menjadi misteri di luar sana, dan hal itu akan terbongkar kebenarannya.

Mereka sudah diracuni oleh doktrin yang salah mengenai perak. Doktrin itu telah dipatenkan dalam benak, dan sekarang Luhan mempertanyakan kebenarannya. Ia tidak mau lagi ada teori lain tak berdasar yang bisa mempermainkan mereka.

Meskipun sesungguhnya, Luhan tidak berjanji akan melakukan pemberitaan dengan segala yang ia ketahui tentang ras tak bernyawa tersebut, sebagai materi didaktiknya.

.

.

.

Pada hari itu juga, sebelum rembulan dengan cahayanya bak argentum siap menyingsing malam, komando Junmyeon terlebih dulu dilaksanakan. Kendaraan roda empat yang sudah menunjang sumber energi hibrid, yang kali ini masih dikendarai Tiffany, berhenti di pinggiran jalan sempit natural yang muncul akibat sering dilewati.

Luhan mengamati, ada bekas ban mobil yang sama di sebelah sana. Bersenandika dalam hati bahwa mereka berhenti tidak terlalu jauh dari spot pemberhentian markas yang lalu.

Kemudian potongan memori ketika lelaki vampir itu memandangnya penuh dengan teka-teki kembali melintas di benaknya.

Merasakan adanya guncangan akibat penginjakan pedal rem, Baekhyun melepas kacamata ungunya. Pengisi daya bagi kemampuannya yang unik.

Kemampuan pria itu berkaitan dengan cahaya. Bukanlah lunakinesis, melainkan hanya optic blasts.

Retina peka cahaya dari Baekhyun tak menangkap spektrum yang diterima secara wajar. Pupil akan mengecil saat menerima cahaya yang berlebihan, namun Baekhyun tidak. Cahaya tersebut akan disimpan, dan digunakan kembali dalam bentuk cahaya polikromatik ketika dibutuhkan.

Peristiwa ledakan optik pada matanya ini mengubah lensa menjadi wadah penampung cahaya, dan sinar itu akan dipantulkan kembali ke luar dalam bentuk gelombang elektromagnetik transversal.

Seperti lampu baterai atau lebih familier disebut dengan lampu senter, tetapi alat penglihat Baekhyun berbeda. Sudut deviasi cahaya yang besar menjadikan berkas sinar tersebut berpendar secara luas, tak terfokus pada titik datar yang tetap.

Seperti mata kucing dalam kegelapan akibat tersedianya tapetum lucidum di balik retina. Menyala.

Kendatipun tampak spesial, Baekhyun tidak secara langsung dianjurkan untuk melakukan kontak fisik dengan para vampir. Karena kemampuannya hanya berhenti di sana. Cahaya dan—cahaya.

Beberapa detik senyap terlewati. Menjelang yang ke-satu menit, Luhan melihat Tiffany mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun sambil merapikan surai yang merona ahmar. "Baek, kau di sini, atau aku yang tinggal?"

Baekhyun tertegun. Lalu bersiap membuka mulutnya, sudah tahu apa yang harus menjadi jawaban—ia tentu ingin memenggal kepala vampir dan menghujam jantungnya, namun belum sempat menjawab, handy talkie berbunyi.

Junmyeon.

"Baekhyun tetap bertahan pada zona dua," ucapnya di sana. "Segera laksanakan penyisiran sebelum senja."

Itu telah menjawab pertanyaan Tiffany.

Pria dengan rambut keperakan itu menelan rasa kecewa, ia berpaling dengan cepat, malu mendengarnya. Lalu saat mata hijau terangnya bertemu pandang dengan tatapan dan senyuman tipis Luhan yang meneduhkan, ia tahu dirinya memang tidak sepenuhnya cocok di posisi agresor.

Luhan merenggut senjata api laras pendeknya, lalu menarik kokang, tidak berbeda dengan apa yang Tiffany lakukan. Seusainya, mereka turun. Tidak menyadari bahwa Baekhyun memberi senyum ringan yang menyiratkan kepahitan. Berharap mereka akan kembali dengan berita kemenangan. Sementara dirinya yang ia rasa hanya agak berguna, menunggu di sini dengan mengenaskan.

Satu kali menarik napas panjang, tetapi kekhawatirannya masih tersangkut di pangkal tenggorokan. Dua kali melakukan hal yang sama, Luhan mengetahui rasa khawatir itu ternyata tak akan pernah luntur. Walau cahaya matahari tidak mampu menerobos rindangnya daun pohon di atas sana, cahaya masih memadai.

Sensor di balik tubuhnya tidak pula menunjukkan tanda bahaya, tetapi itu bahkan tak kuasa menenangkan batinnya.

Seperti berlatih tenis setiap saat dan melakukan pertandingan bersahaja antar teman. Akan lain rasanya apabila digiring dalam lapangan turnamen.

Ia tak lagi mendengar langkah kaki temannya di belakang, Luhan terbuai dalam kewaspadaan. Kakinya bergerak hanya menurut kehendak akal.

Di mana aroma keresahan itu ada, Luhan nekat menghampiri. Akan tetapi, dirinya tahu kondisi di sekitarnya sedang baik-baik saja.

Menit berjalan, yang tak terasa telah digantikan oleh jam. Ini tidak membuahkan hasil, bahkan Luhan sudah memasukkan kembali pistolnya ke dalam holster yang mengikat paha dan pinggangnya. Tiffany mencoba mengeluarkan kalimat pembicaraan yang jenaka, namun kelihatannya ketegangan dan selera humor tidak pernah selaras.

Suara lirih sebagaimana ranting patah dari kejauhan yang muncul secara tiba-tiba membangkitkan seonggok rasa keingintahuan dan curiga. Tiba-tiba Luhan mengubah arah perjalanan, menuju sumber suara, dan Tiffany kebingungan di belakangnya.

"Unit dua, segera kembali ke markas."

Jangan sekarang, Luhan membatin. Bermaksud tidak mengindahkan perintah absolut yang berasal dari handy talkie-nya itu.

"Kalian akan keluar dari zona terpantau." Luhan mengabaikannya, kakinya menguntai langkah semakin jauh. "Kuulangi lagi, ini area berbahaya, kalian akan lepas dari..." suara Junmyeon sudah pada final, terputus. Artinya, mereka benar-benar telah berada di luar zona aman.

"Luhan... ayo kembali," ajaknya, gadis itu terlihat khawatir dan sudah hampir membulatkan tekad untuk kembali. Namun kakinya yang tinggi tetap mengekori langkah Luhan lantaran pria itu tampak enggan berhenti, seperti ditulikan. "Luhan..."

Luhan mendesis, memintanya supaya diam. Sensor di belakang tubuhnya bergerak pelan, ia tahu ada yang tidak beres di sini. Satu, dua. Tidak, bukan dua. Tiga? Bukan—empat!

"Tiff, segera mendekat ke arahku," perintahnya, tetapi suara debam dan erangan pelan lebih dulu didengar.

Tiffany menerima serangan melempem dari arah belakang. Terjatuh, senjatanya terlempar ke arah samping, dan Luhan merunduk ke arah kerabat kerjanya—terkejut kelincahan partnernya mampu diludahkan dengan mentah.

Temannya itu meringis, kondisinya masih cukup prima. Luhan mendengar bunyi-bunyian yang mendekat lalu membanting seseorang yang tengah berlari ke arahnya tanpa menyentuh—dengan psikokinesisnya. Ketika Luhan membalik badan, ia tidak sepenuhnya terkejut menemukan empat pria vampir yang dua di antaranya menunjukkan iris berwarna cerah. Seperti dugaannya.

Vampir-vampir ini berkeliaran di siang hari. Sepertinya kini ada teori yang membodohinya, lagi.

Terlalu fokus pada mayat hidup di depannya dan atensi yang terbagi dua lantaran tangannya diam-diam berusaha meraih pistol dari dalam holster-nya, Luhan tidak menyadari bahaya mengancam dari arah belakang. Dan dengan satu tarikan pada lengannya, dirinya terlempar ke arah samping, terjerumus pada tumpukan dedaunan kering, dan untuk sesaat berguling hingga daun-daun cokelat itu menempel di tubuhnya.

Luhan mengangkat pandangannya, pria yang baru saja melemparnya tersebut menghampiri dan seringai kemenangan melekat di bibirnya.

Dia sudah terjebak. Rangkanya seakan patah, terlebih dengan lengannya yang baru saja ditarik. Dalam situasi urgen, suhu panas berputar-putar di dalam perut Luhan. Dengan pikirannya ia mencoba berkonsentrasi, membayangkan ukuran tangannya membesar lebih cepat dan membogem perut si vampir.

Tepat saat itu juga, pria bertaring tersebut terbanting jauh ke belakang seakan-akan benda besar baru saja menghantamnya.

Luhan ingin kembali bangkit, tetapi ia merasakan pijakannya kosong. Ia refleks berpegangan pada tanah.

Sial, dia mendapatkan tempat mendarat yang tidak tepat.

Massa tubuh tak melawan arah gravitasi. Tanpa terduga Luhan terguling ke bawah dengan cepat, melintasi dataran miring yang penuh ranting kering siap dibakar. Jauh dan menyakitkan. Sepintas menyadari bahwa hari semakin gelap. Ia mendengar sepasang tembakan peluru mengudara, dan Tiffany meneriakkan namanya.

Benda subtil asing dari tanah-tanahan masuk ke bagian vital mata, pada akhirnya Luhan hanya bisa berpejam, lalu berdoa agar tubuhnya tetap selamat setelah menghantam objek-objek yang tak diketahuinya. Hingga punggungnya menabrak batu besar.

Lalu ia berhenti berguling.

.

.

.

.

.


To Be Continued


.

.

.

.

.

[1] Obolos [KB, Yunani]: koin perak Yunani kuno. Digunakan untuk roh orang mati sebagai 'harga' supaya dapat sampai di dunia bawah

[2] Phosphene [KB, Yunani]: cahaya-cahaya abstrak yang dapat dilihat saat menutup mata

Maafkan bila ada typo(s), faktor human error.

Jikalau ada yang menantikan momen Sehun dan Luhan, sepertinya satu-dua pembaca tau di mana mereka akan bertemu kembali *grin*

Kalau penasaran sama tokoh-tokoh manusia serigala yang mungkin batang idungnya belum muncul di sini, dan campur tangannya bagaimana, silakan tebak-tebak beruntung dulu. Hehehe.

Apabila terdapat sisi-sisi denial dalam subjek bawaan fiksi ini (mengenai vampir yang ternyata tahan terhadap cahaya matahari, atau tahan terhadap perak, dsb.), ingat saja bahwa temanya adalah fantasy. Toh seluruh pernyataan yang sudah beredar belum tentu definit.

Pun seandainya ada kesalahan, mohon dikoreksi (bisa lewat kolom komentar maupun direct message atau PM). Karena pada beberapa bagian ilmu sains di sini aku bisa saja lupa, dan kalaupun sudah aku konfirmasi kebenarannya melalui berbagai sumber, mungkin ada perbedaan ideologi di antara kita. Eak.

Maklum, bukan saintis pro. Bukan juga saintis kontra /lah. Hehehe. Pret.

Semoga suka, ya.

520!