Hallo Minna-san..

Ohayou, Konnichiwa, Konbanwa..

Saya kembali lagi dengan cerita lanjutan yang pertama pastinya dengan pairing yang tetap. Saya tidak dapat memastikan ini cerita sampai chapter berapa, yang jelas saya akan melanjutkan ini fanfic jika my brain memberikan ide.

Di fanfic ini saya akan memberikan pertanyaan. Jika ada diantara para readers satu saja yang jawabannya benar, maka saya akan membeli lemon.. INGAT‼ MEMBELIKAN LEMON (readers sweatdrop). Jika tidak ada, maka readers harus berusaha menjawabnya karena pertanyaan ini dapat membuat readers memecahkan masalah yang telah Hinata alami.

.

.

#_#

.

.

Disclaimer of Masashi Kishimoto

Pairing pastinya NaruHina

Rated : M lebih dominan Romance

Warning : cerita OOC, abal, berantakan, GeJe, jauh dari kata sempurna.

.

.

#_#

.

.

HAPPY READING ‰

Summary: Bagaimana reaksi Hinata setelah diberi salam semanis itu oleh Naruto yang seorang playboy. Apakah Hinata membalas salamnya atau malah mengabaikannya dan bagaimana reaksi Sakura yang mengetahui semuanya tentang Hinata, sahabatnya.

.

#_#

.

Chapter 2

Suasana koridor yang tadinya ramai sekarang menjadi sepi senyap. Tak ada yang berani memecahkan keheningan. Hanya sesekali sekelompok burung melewati atap koridor sambil bernyanyi(?) dan hal itu tidak berpengaruh banyak. Sudah hampir lima menit setelah insiden seorang playboy kelas kakap memberikan salam manis kepada seorang gadis yang hemat akan kata – kata. Hinata yang diberi salam semanis itu hanya memandang tajam Naruto sedangkan yang ditatap membalas tatapannya.

.

#_#

.

"Ehem!" kata seorang guru berambut merah.

"Eh! Kurenai sensei. Ohayou gozaimasu.." kata Sakura.

Kurenai sensei hanya membalas salam Sakura dengan anggukan. Mendengar salam yang diberikan Sakura kepada salah satu guru SMAN 8 Konoha High School suasana sedikit kembali seperti semula. Ingat! Sedikit.

"Kalau boleh sensei kasih saran, sebaiknya acara pandang memandang dilanjutkan nanti saat jam istirahat dan kalian harus segera ke kelas masing – masing karena bel sudah berbunyi semenit yang lalu."

Mendengar suara Kurenai sensei sontak membuat Naruto dan Hinata memalingkan wajahnya. Ternyata dari tadi Naruto dan Hinata saling pandang – memandang tanpa menyadari kehadiran Kurenai sensei. Kurenai sensei meninggalkan mereka begitu saja.

Merasa tidak enak dengan atmosfer disekitar, Sakura mengajak Hinata untuk segera ke kelas. Berusaha agar atmosfer perang tidak terjadi.

"Hi..Hinata, sebaiknya kita langsung menuju ke kelas. Kalau kita disini terus bisa – bisa kita telat masuk kelas. Kau tak mau kan kita dihukum." Bujuk Sakura.

"Hn, menjijikkan sekali." Ujar Hinata yang tak memperdulikan ajakan Sakura sama sekali.

Semua yang ada disana tercengang(?) dengan apa yang baru saja Hinata katakan. Apalagi Sakura, dia sudah seperti orang yang kebakaran jenggotnya.

.

#_#

.

^_^ Sakura P.O.V ^_^

'Apa benar barusan kata – kata yang keluar dari mulut Hinata? Aku tak menyangka dia akan membalas sapaan Naruto walaupun bukan dengan salam melainkan dengan kata – kata. Hal tersebut membuatku tak percaya bahwa Hinata akan membalas sapaan seorang cowok. Sejak kapan Hinata berusaha melupakan peristiwa tersebut. Oh Hinata‼ betapa beratnya menjadi dirimu. Naruto, aku yakin kau tak mengetahui kalau Hinata membalas sapaanmu!'

Aku menatap Naruto dan Hinata bergantian. Aku merasakan ada yang mengganjal pada diri Naruto. Ya, dia menyeringai mendapat jawaban dari Hinata.

^_^ End Sakura P.O.V ^_^

.

#_#

.

"Hah! Kau sebenarnya membalas salamku atau menghinaku. Kalau kau ingin membalasnya tak usah pakai acara menghina segala. Aku sungguh tak percaya kau membalasnya." Ujar Naruto.

"Bukan urusanmu" jawab Hinata.

"Kau memang gadis yang hemat akan kata – kata ya?"

"Ups,, aku tidak yakin kau masih gadis atau sudah menjadi wanita?" sambung Naruto yang disela – sela perkataannya mengandung hinaan.

"Hn" respon Hinata.

"Aku pastikan kau akan menyesal telah mahal akan kata – kata terhadapku. Aku juga akan membuatmu banyak mengeluarkan kata – kata manis yang ada dalam dirimu itu." Ucap Naruto percaya diri.

"Aku tak peduli" jawab Hinata sekenanya.

.

#_#

.

^_^ Sakura P.O.V ^_^

'Apa? Naruto mengetahui bahwa Hinata membalas salamnya. Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto? Apa dia mengetahui tentang Hinata, lalu siapa yang sudah memberikan informasi tentang Hinata kepada Naruto? Apakah Naruto sudah mengetahui semuanya tentang Hinata? Lalu apa yang akan Naruto lakukan pada Hinata? Akankah hal buruk terjadi pada diri Hinata?'

Ya, semua pertanyaan itulah yang membuatku pusing tujuh keliling. Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu barang satu kalipun. Hinata yang mendengar jawaban Naruto, dia meninggalkanku Naruto, dan yang lainnya menuju kelas. 'Oh Tuhan, betapa kejamnya sahabatku ini?' Akupun yang masih menyimpan berbagai macam pertanyaan tak menghiraukan Hinata dan tetap berusaha menjawab semua pertanyaan itu.

^_^ End Sakura P.O.V ^_^

.

#_#

.

"Hai Sakura, temanmu sudah pergi tuh, apa kau tidak mau menyusulnya?" kata Naruto membuyarkan lamunan Sakura.

"Ah! Aku akan segera menyusulnya," ujar Sakura terbata – bata.

"Tapi sebelumnya, aku minta maaf atas perlakuaan Hinata yang tadi. Mungkin hal itu di luar kesadarannya. Naruto, maukah kau memaafkannya? Oya satu lagi aku ucapkan selamat datang kembali ke sekolah ini," Sakura membungkukkan badannya.

"Hai, arigatou!" jawab Naruto.

.

#_#

.

Sakura tersenyum bertanda menanggapi jawaban Naruto dan segera meninggalkannya yang para gadisnya(?) untuk mengejar Hinata yang sudah jauh di depan mata. Untuk menyamakan langkahnya dengan Hinata, Sakura berlari. Setelah berada di samping Hinata, Sakura mengurangi kecepatan berlarinya.

"Kenapa kau tidak mengajakku? Apa kau marah?"

"Kau tak perlu meminta maaf kepada si kuning itu!" Hinata yang tak mempedulikan pertanyaan Sakura, malah memberikan pernyataan yang menyakitkan bagi Sakura.

"Bukannya begitu, tapi…." Perkataan Sakura terpotong oleh Hinata.

"Aku tak suka seseorang membela aku walaupun dia adalah sahabatku. Itu artinya kau sama saja memperlihatkan kelemahanku."

"Hi..Hinata, maafkan aku. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku sungguh menyesal. Aku hanya ingin mereka tidak beranggapan yang negatif tentangmu?" Sakura yang menyesal hanya dapat menundukkan kepalanya.

"Berjanjilah kau tak akan mengulangi hal tersebut untuk kedua kalinya."

"Iya aku janji, tapi kau juga harus berjanji akan melupakan peristiwa itu?"

"Iya aku janji."

.

#_#

.

Tanpa mereka berdua sadari, seseorang mendengar semua yang mereka bicarakan. Orang tersebut hanya dapat tersenyum. Senyuman yang beda dari sebelumnya.

"Ternyata mereka berdua mempunyai janji. Aku juga berjanji suatu saat akan membuatmu melupakan peristiwa itu. Aku tak ingin kau mengingatnya lagi, apalagi kalau sampai orang yang aku sayangi dan cintai trauma." Ujar orang tersebut dengan nada pelan.

"Aku terpaksa meminta bantuan DIA demi menghilangkan trauma yang ada pada diri Hinata. Hinata, maafkanlah aku." Katanya dengan penuh nada penyesalan.

.

#_#

.

Hinata dan Sakura tiba di kelas. Suasana kelas yang akan mereka tempati selama 1 tahun ke depan sangatlah ramai beda dengan suasana kelas yang lainnya. Hinata langsung memasuki ruang kelas tersebut dan seketika itu juga ruang kelas sepi. Semua mata tertuju pada sosok kedua gadis yang baru memasuki ruangan.

"Jadi tahun ini kita satu kelas dengan si gadis yang hemat akan kata – kata itu?" Tanya seorang gadis berambut merah memakai kacamata tebal.

"Sepertinya begitu sih Karin?" jawab seorang teman disampingnya.

"Apa dia bisa diandalkan? Dia kan hemat akan kata – katanya?" ucap Karin yang cercaan panghinaan dalam kalimatnya.

"Oya Suigetsu. Katanya Hinata itu anak orang kaya ya? Rumornya Hinata anak dari orang yang membangun sekolah ini." Sambung Karin.

"Katanya juga ada dua perusahaan yang membangunnya, bukan cuma orang tua Hinata saja" jawab Suigetsu.

"Entahlah! Dunia ini bagaikan panggung sandiwara. Nanti pasti akan tau kebenarnya?" Juugo menengahi yang menyadari tatapan membunuh dari Sakura.

Hinata yang mendengar pergunjingan tersebut hanya dapat terseyum, membayangkan masa – masa indah bersama ketiga teman kecilnya. Sedangkan Sakura jangan ditanya lagi, siapapun pasti akan marah jika sahabatnya menjadi bahan pergunjingan di depan kita.

"HAI KALIAN!" Sakura menggerebak bangku tempat Karin dan Suigetsu duduk.

"Apa nona miskin?" Tanya Karin tanpa dosa.

"KALIAN…..!" geram Sakura yang bara apinya sudah masuki level Neraka.

"Saku-chan janji kita?" Hinata menenangkan Sakura dengan mengingatkan perjanjian yang beberapa menit lalu mereka ucapkan.

Hinata memang tak mengatakan secara detail, tapi itu sudah membuat Sakura mengerti.

"Maafkan aku Hime," sesal Sakura.

"Hn"

Tanpa banyak bicara lagi Hinata melewati mereka begitu saja. Sakura yang hatinya masih panas terpaksa mengikuti Hinata. Sekali – kali Sakura menoleh ke arah Karin dan kedua temannya. Setelah kejadian barusan, kelas kembali ramai.

"Hinata, untung saja kita tidak telat," ujar Sakura.

"Telat"
"Tapi kan gurunya belum tiba?" Sakura cemberut.
"Oya, kau mau duduk dimana?" Tanya Sakura.

"Pojok belakang dekat jendela," jawab Hinata sekenanya.

"Aku duduk di bangku depanmu ya?" Sakura memasang puppy eyes.

"Terserah"

"Asek, tapi suatu saat nanti ketika ulangan Matematika aku kasih tau jawabannya ya cuma Matematika kok, boleh ya?"
"Hn"

Setelah menentukan bangku yang akan mereka duduki, mereka berjalan menuju bangku masing – masing. Ternyata Hinata duduk sendirian. Sakura tak perlu tau alasan Hinata memilih bangku tersebut karena Sakura sudah mengetahui semua hal tentang Hinata secara detail. Mereka berdua telah berbagi masalah. Semua yang mereka alami, tidak ada satupun yang Hinata maupun Sakura tidak ketahui. Hinata dan Sakura segera duduk dibangku masing – masing. Sakura tak menyadari kalau bangku di sebelah kirinya telah ada seseorang yang sudah menempatinya. Sakura baru menyadari kalau di sebelahnya telah ada seseorang yang menempati ketika orang tersebut mendongakkan kepalanya sesaat untuk memperhatikan sekitarnya dan kembali meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya.

.

#_#

.

Hinata memandang keluar jendela mengharap ada objek yang menarik perhatiannya. Sakura yang mulai tadi bingung akan tingkah sahabatnya, memberanikan diri bertanya pada Hinata.

"mmm.. Ano.. Hime, apa yang kamu perhatikan?"

"Tidak ada"

"Oya Hinata, apa kau tidak merasa curiga?"

"Apa?" Tanya Hinata yang masih memandang ke luar jendela.

"Sudah hampir setengah jam pelajaran, gurunya belum datang. Aku merasa kalau guru kita kali ini adalah…"

"Oji-san"

"Yah begitulah," ujar Sakura lemas.

"Kenapa?"

"Aku tak bisa membayangkan bagaimana tingkahnya saat mengetahui kau adalah muridnya. Bukankah dia guru pertama kita, berarti sudah jelas dia juga menjadi wali kelas kita. Kau juga mungkin saja akan selalu diawasi setiap saat sama seperti dulu waktu kelas VIII." Jelas Sakura.

"Bukannya itu bagus!" jawab Hinata sekenanya yang dari tadi tak mengalihkan pandangannya dari luar jendela.

"Iya juga sih, tapi bukankah itu membuatmu merasa tidak bebas?" Tanya Sakura.

"Itu kan dulu sekarang tidak"_Hinata promosi Iklan *dirasengan Naruto.

.

#_#

.

Tak beberapa lama pintu kelas berderit menandakan seseorang memasuki ruang kelas tersebut. Seorang laki – laki paruh baya dengan pakaian formalnya berdiri di depan kelas. Ya, dialah guru sekaligus wali kelas XII-IPA 1, Hatake Kakashi yang selalu memakai masker dan terkenal keterlambatannya memasuki kelas dengan berbagai alasan. Jangan disangka murid yang diajar Kakashi tidak pintar, justru sebaliknya. Seperti yang dia lakukan saat ini.

.

#_#

.

"Ohayou minna. Maaf sensei hari ini telat‼"

"Ohhhhhhh" jawab semuanya. Kakashi hanya sweatdrop.

"Alasannya karena tadi masih dipanggil Tsunade-sama"

"Bilang saja mau buat alasan" omel Ino.

"Sekarang ini bukan alasan, tadi….. Eh‼ Hime-chan ada di kelas ini juga ya? Wah! Tambah seru nih‼" perkataan Kakashi yang tadi sempat terpotong karena melihat Hinata. Semua yang ada di dalam kelas bingung akan perkataan senseinya itu.

"Dasar" gumam Hinata yang pandangannya masih mengarah ke luar jendela, tapi pendengarannya berada di dalam kelas.

"Baiklah, kali ini sensei akan memberitahukan dua hal ditambah satu yang sangat penting. Jadi sensei harap kalian jangan ada yang berkomentar sebelum sensei selesai bicara."

"Hai sensei" jawab semuanya kecuali Hinata dan seseorang yang ada disebelah Sakura.

.

#_#

.

Kakashi mulai berpidato_*sok pidato segala, uwaaaaa, authors di pindah ke dunia lain sama Kakashi dengan mangekyou sharingan*

"Pengumuman pertama. Sekarang kalian dibebaskan untuk saling mengenal, ya walaupun sensei tau kalian sudah saling kenal. Tapi syaratnya kalian dilarang keras mengganggu kelas lain yang memulai mata pelajaran. Paham‼"

"Hai sensei"

"Bagus, pengumuman kedua. Karena kalian dibebaskan dalam pelajaran, berarti saya juga akan membebaskan kalian dalam pelajaran."

"Pengumuman yang ketiga…" perkataan Kakashi terpotong karena Ino mengangkat tangannya.

"Iya, ada apa Ino?" Tanya Kakashi.

"Apa sensei serius dengan pengumuman kedua?"

"Emang saya kelihatan tidak serius ya?" Tanya balik Kakashi.

"Ya sudah kalau begitu, pengumuman kedua saya…"

"Iie sensei" kata semuanya secara serempak. _sama seperti waktu paduan suara disekolah authors. Melihat itu, Kakashi hanya tersenyum tepatnya menyeringai sambil sekali – kali bola matanya melirik Hinata.

"Pengumuman ketiga. Sekolah kita kedatangan murid baru dan dia akan menempati ruang kelas ini. Jadi sensei harap kalian dapat berteman baik dengannya. Tapi kalian tak perlu berteman baik dengannya, karena dia sudah pernah menjadi teman kalian. Dengan begini ketiga pengumuman belum sepenuhnya selesai."

"Haaahhhh‼" semuanya sweatdrop mendengar kalimat terakhir senseinya.

"Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, murid baru silahkan masuk‼" perintah Kakashi, tapi yang diperintah tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

"Kalau begitu, kita tunggu saja dia datang. Mungkin dia lagi di ruang kepala sekolah," ujar Kakashi.

Mendengar pengumuman ketiga senseinya, semua yang ada di kelas saling menerka – nerka siapa sosok murid baru tersebut yang pernah menjadi teman mereka. Hal tersebut menambah penasaran ketika hampir 10 menit murid baru tak kunjung tiba.

.

#_#

.

^_^ Hinata P.O.V ^_^

Aku tersentak saat bola mataku menangkap sebuah objek yang langka. Aku melihat seorang cowok dengan rambut orange pirangnya tersenyum hangat ke sosok yang berjalan disebelahnya. Aku merasa sangat familiar dengan sosok tersebut, tapi siapa?. Rambut yang berwarna merah bata, mata emeralandnya, tapi siapa? Dimana aku bertemu dengannya? Ah, aku memang lemah dalam urusan mengingat seseorang. Bola mataku membelalak tak percaya apa yang baru saja aku. Cowok itu melihat ke arahku dan tersenyum. Wajah dan senyuman itu membuatku yakin kalau dia adalah Gaara, Sabaku no Gaara, tunangan Matsuri-chan.

Akupun bertanya – tanya dalam hati, Apakah hubungan mereka berdua sebatas teman atau…? Tidak, kalau mereka teman, Naruto tak akan tersenyum selembut tadi, kalaupun rekan kerja, kenapa Naruto tidak menampakkan wajah seriusnya melainkan dia tersenyum dan tertawa bahagia. Semua pertanyaan yang ada dibenakku tak mendapatkan jawaban. Aku terus memperhatikan mereka sampai mereka hilang di pertigaan koridor. Sebelum mereka menghilang, aku melihat Gaara kembali tersenyum padaku.

^_^ End Hinata P.O.V ^_^

.

#_#

.

^_^ Sakura P.O.V ^_^

Aku mulai bosan berada di dalam kelas ini. Aku tak perlu memikirkan siapa yang menjadi murid baru karena yang menjadi ketua pendataan siswa baru. Jadi tentu saja aku tahu secara pasti biodata murid baru ini. Aku tak punya teman ubercerita. Memang ada Hinata, tapi mana mungkin dia mau disaat seperti ini. Malahan aku yang ditolak mentah – mentah.

"Apa – apaan nih cowok, tidur seenaknya di kelas. Kalau diperhatikan baik – baik, nih cowok ganteng juga, tapi sayangnya dia suka tidur. Bagaimana kalau suatu saat aku kencan dengan dia, pasti aku ditinggal tidur.. ‼ ahhh.. apa – apaan aku ini, dasar Sakura bodoh."

Tanpa diduga tangan cowok disebelahku yang tadinya di atas meja jatuh terjuntai tepat di atas pahaku. Tangan itu mulai meraba – raba kulit pahaku yang memang terekspos karena panjang rok sekolah ukurannya 17 cm dari pinggang.

"hnnh"

Sial, kenapa aku mendesah. Tidak, aku tidak boleh mendesah bisa – bisa semuanya tahu apa yang telah cowok ini lakukan. Apalagi aku tidak mau membangunkan dia. Aku harus segera menyingkirkan tangan ini. Setelah berusaha mati – matian, akhirnya tangan tadi kembali berada di atas meja. Aku saat ini berada dibelakang cowok tadi untuk membenahi dia agar dapat tidur nyenyak, tanpa sengaja aku menyentuhkan payudaraku yang ukurannya dibilang "wow" tapi tak se"wow" milik Hinata. Cowok tadi langsung menggerakkan punggungnya. Sontak saja wajahku memerah.

"Haruno-san, ada apa?" Tanya sensei.

"Ah‼ tidak ada apa – apa sensei" jawabku dengan wajah memerah.

"Kalau sakit, segera ke UKS" saran sensei.

"Hai, sensei"

Setelah merasa cowok ini nyenyak, aku kembali duduk. Oya, kenapa dari tadi Hinata melihat kearah luar jendela ya? Memangnya ada objek yang menarik? Tunggu dulu, kenapa wajah Hinata begitu lembut, apa dia sudah kembali seperti dulu? Atau ini hanya fatamorgana? Mana mungkin ada fatamorgana di dalam kelas!.

^_^ End Hinata P.O.V ^_^

.

#_#

.

Sakura bernafas lega karena cowok disampingnya tidak bangun. Tanpa Sakura sadari, cowok yang ada disebelahnya menyeringai.

BRAAAAKKK

Suara pintu yang terbuka dengan tidak elitnya. Menampakkan seseorang pemuda tampan.

"Gomen minna-san, Gomenasai sensei. Tadi saya masih berada di ruang Tsunade-sama." Ujar orang tersebut dengan nafas yang terengah – engah.

"Hah‼" semua sweatdrop melihat siapa yang datang.

"Sen..sensei.. jangan bilang kalau DIA murid baru yang kita tunggu – tunggu selama 30 menit" Kiba meyakinkan tatapan senseinya.

"Hah~ DIA memang murid barunya, bukankah tadi sensei sudah bilang kalau kalian semua mengenalnya? Karena kau sudah datang, cepat perkenalkan dirimu agar saya bisa menuntaskan pengumuman yang tertunda." Perintah Kakashi. _semuanya sweatdrop.

"Hajimemashite, watashi wa Naruto Namikaze desu. Douzo tomodachi."

"Douzo" jawab semuanya kecuali Hinata.

.

#_#

.

Cowok sebelah Sakura yang tadinya bergelut manja dengan mimpinya seketika membuka kedua bola mata onyxnya karena mendengar suara yang dia kenal. Melihat cowok disebelahnya bangun, wajah Sakura langsung berubah warna merah.

"Baik, pengumuman terakhir karena kalian saya beri kebebasan, maka kalian harus mengerjakan paket matematika halaman 20. Kerjakan semuanya secara berkelompok.

"Haah‼ sensei serius menyuruh kami mengerjakan 100 soal dalam waktu satu hari?" Tanya Sakura.

"Iya, kalian kerjakan secara berkelompok dan besok harus selesai."

"Tapi…" perkataan Sakura terpotong.

"Tidak ada alas an, besok soal yang berjumlah 100 harus selesai. Baik, kalau begini, pengumuman sensei telah tuntas. Apa ada yang ditanyakan?"

Semuanya bungkam. Yang ada dalam pikiran mereka hanya satu yaitu apa kita bisa mengerjakan 100 soal dalam waktu satu hari? Mendapati muridnya diam, dia lalu berlalu dan pergi meninggalkan kelas tersebut. Semua yang ada disana masih diam membisu. Tak ada yang memulai memecahkan kesunyian tersebut.

.

.

#_#

.

.

%TBC%

Balesan review

Maaf readers saya buat ceritanya pendek lagi tapi tentang saja suatu saat aku buat yang panjang sekali, sepanjang rel kereta api :D *smile devil*

Oya, untuk lemonnya nanti saat mereka (NaruHina dan SasuSaku) berpacaran, tapi tidak akan saya ceritakan secara langsung. Saya akan membuat pemanasan dulu, nanti saat waktunya tiba baru saya buat full lemon.

Jika para readers tidak sabar, maka diharapkan membeli lemon di supermarket terdekat tanpa harus menunggu saya. :p _dilempar tempat sampah supermarket sama readers.

Bagi para readers yang membaca fic chapter 2 saya ini, saya punya pertanyaan. "SIAPA ORANG YANG TELAH MENDENGARKAN SEMUA PEMBICARAAN HINATA DAN SAKURA?"

Bagi yang bisa silahkan dijawab, atau yang lagi iseng juga gak papa ikutan jawab. Mungkin saja jawabannya benar. :p

Oke.. dewa mata‼

R

E

V

I

E

W