Disclaimer: Kubo Tite-sensei
Character: IchixRuki
Author: Rukii Nightray
~Dream where you can't look for~
Part 2
Tak terasa setahun telah berlalu. SMA Karakura memasuki tahun ajaran baru yang bagi Ichigo dan kawan-kawan berarti adalah tahun keduanya. Di awal tahun ajaran ini, klub peneliti misteri memutuskan untuk mengadakan acara Hanami. Selain untuk menyambut para anggota baru, begitu juga untuk melepas kepergian para senpai yang sudah menjadi seorang daigakusei.
"Selamat jalan untuk... Rangiku-senpai... Nemu-senpai... Hisagi-senpai... Kira-senpai dan... Shiba-senpai... semoga kalian bahagia disana... hiks" ucap Orihime sambil menangis sesenggukan. Seolah-olah pidato tersebut adalah pidato kematian di depan makam mereka...
"KAMI BELUM MATI!!!" teriak mereka bersamaan.
Karena Orihime masih terus menangis dan kelihatannya tidak dapat melanjutkan pidatonya. Rukia dengan percaya diri segera berdiri di hadapan yang lain. Semuanya duduk di atas sebuah karpet bermotif bunga sakura, benar-benar serasi dengan suasana di bawah pohon sakura yang kelopak bunganya berguguran dan berterbangan di sekitar kami. Yang pasti Rukia tidak akan peduli dengan hal itu.
"Ya! Sekarang adalah sambutan dariku sebagai seorang wakil ketua! Kuucapkan selamat datang dan selamat bergabung dengan klub peneliti misteri!! Beri tepuk tangan yang meriah untuk Hitsugaya Toushiro dan Hinamori Momo!!!"
Mereka pun bertepuk tangan. Ichigo benar-benar heran dengan kedua anak kelas satu tersebut. Dari banyaknya klub ekstrakulikuler di SMA Karakura, mengapa ia harus memilih klub yang benar-benar tidak jelas ini?
"Mari kita dengarkan sambutan dari mereka berdua serta alasan mereka masuk ke dalam klub ini!!" teriak Rukia dengan suara perut bersama Usa-chan, sambil mempersilakan mereka berdua untuk berdiri di depan.
"Na, namaku, Hinamori Momo. Aku masuk ke dalam klub ini karena ada Rukia-senpai. Salam kenal" ucapnya terbata-terbata dengan wajah merah. Sepertinya ia adalah orang yang pemalu. Atau... jika ingin berpikir jahat, kata-kata 'karena ada Rukia-senpai' dapat diganti menjadi 'karena dipaksa oleh Rukia-senpai' dan wajahnya yang merah adalah karena takut melihat Rukia.
"Namaku Hitsugaya Toushiro, alasanku masuk ke klub ini karena aku ingin mencari sesuatu yang berbeda dari klub ekstrakulikuler yang lain" ucap Hitsugaya dengan wajah sedikit ketus. Kalau yang ini, Ichigo yakin tanpa perlu Rukia memaksanya ia akan masuk ke dalam klub ini. Karena satu-satunya yang ia yakini dari klub ini adalah kegiatannya yang benar-benar berbeda dari klub yang lain sehingga hal itu pasti yang dimaksudkan oleh Hitsugaya.
Tiba-tiba saja Nemu-senpai berdiri dari zabutonnya. Lihat? Zabuton? Saat hanami? Tidak salah kalau Ishida dan Rukia yang menjadi penerusnya...
"Aku akan mengatakan sebuah pengumuman penting. Sehubungan dengan Ishida-san yang akan direkrut menjadi ketua klub kyudo, maka, posisi ketua klub peneliti misteri yang kosong tersebut akan diambil oleh..." ucap Nemu-senpai dengan wajahnya yang biasa yaitu tanpa ekspresi sedikit pun. Kata-katanya terhenti, ia lalu menatap ke arah Ichigo dan Ishida bergantian. Seolah seperti sedang bertukar kode dengan Ishida. Rukia menatapnya dengan antusias. Orihime masih tidak bisa berhenti menangis. Sado di sebelahnya memegangi tissue untuk Orihime. Seolah mendapat firasat buruk, Ichigo menatap ke arah Izuru-senpai yang dianggapnya paling normal di dalam klub ini. Namun ia hanya membalas tatapan Ichigo dengan tatapan penuh rasa iba.
"...Kurosaki Ichigo"
"Yeah!!!" teriak Rukia bersemangat sambil mengangkat tinggi-tinggi Usa-chan. Kata-kata Nemu-senpai yang singkat itu membuat Ichigo mematung seketika, memikirkan bagaimana kehidupan remajanya yang tenang akan dihancurkan dalam sekejap oleh sebuah klub peneliti misteri yang aneh...
.
.
.
"Hahaha!!! Tidak seburuk itu Ichigo! Begitu juga Rukia kan putri keluarga bangsawan Kuchiki, ia pasti bisa mengontrol dirinya untuk tidak melakukan hal... yah... er... hal yang lebih gila dari kegilaan-kegilaannya selama ini!"
"Kau tidak membantu Kaien-senpai, sudah kuduga kau sama gilanya dengan Rukia" ucap Ichigo lesu. Sekarang ia sedang berjalan pulang bersama Shiba Kaien-senpai, mantan wakil ketua klub peneliti misteri. Yang lainnya pulang dengan menaiki mobil Shuhei-senpai.
"Oh ya? Mungkin karena alasan itu Kurotsuchi memilihku sebagai wakil ketua dulu. Hhahahaha"
"Aku tahu kalau peraturan di SMA kita seorang tidak boleh menjabat sebagai ketua di 2 buah klub, tapi kenapa harus aku yang dipilih?!"
"Kau mau kalau Rukia yang menjadi ketuanya?" kata-kata Kaien-senpai seketika membuat bulu kuduk Ichigo berdiri. Memikirkan betapa lebih buruk hari-harinya di klub jika Rukia yang menjadi ketuanya. Lebih baik ia tetap seperti itu.
"Segitu tidak sukanya kau dengan Rukia, Ichigo? Aku harap kau jangan hanya menilainya dari sikapnya yang eksentrik itu" ucap Kaien-senpai, nada bicaranya berubah menjadi serius.
Bukannya Ichigo tidak suka pada Rukia. Ia hanya berpikir jika di dekat Rukia dan ide-ide gilanya, Ichigo selalu ditimpa masalah. Seperti saat kejadian bola itu.
"Kalau menurutku... sikap Rukia yang seperti itu hanya untuk menutupi sesuatu, apa tadi kau tidak lihat ekspresi Rukia saat akan pulang? Ia menatap ke arah pohon sakura dengan wajah yang seolah ingin menangis"
"Ya..." jawab Ichigo pelan sambil memandang langit senja. Pemandangan itu membuat Ichigo bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan Rukia saat itu. Mengapa ia berwajah seperti itu? Tidak hanya waktu itu, tapi juga di waktu-waktu yang lain. Ichigo sering menyadarinya. Ketika yang lain sedang tidak memperhatikannya, ekspresi Rukia berubah. Baik di kelas maupun saat di ruang klub.
"Kau sadar ya? Baguslah kalau begitu setidaknya itu dapat menjadi alasanmu untuk menjaganya"
"Menjaga?" tanya Ichigo bingung dan Kaien-senpai hanya tersenyum.
Mereka terus berjalan berdua dengan pikiran masing-masing tentang Rukia. Ichigo jadi teringat lagi tentang kejadian beberapa hari yang lalu di ruang klub, saat itu hanya ada dirinya dengan Rukia...
"Kau selalu membawa-bawa boneka kelinci itu kemana-mana ya...?"
"Bukan boneka kelinci itu! Namanya Usa-chan!"
"Ya... ya... siapalah..."
"Memangnya kau merasa terganggu?!"
"Tidak... hanya saja... aneh kan... kau sudah kelas 2 SMA dan masih membawa-bawa Usa-chanmu itu kemana-mana nanti orang berpikir yang aneh-aneh tentangmu loh..."
"...Apanya yang aneh...?"
Ichigo masih ingat dengan jelas. Saat itu Rukia menjawab kata-katanya dengan tatapan yang begitu dingin dan tajam. Seolah-olah ia ingin menarik Ichigo ke dalam kesedihan dan kegelapan yang dirasakannya. Angin yang berhembus dingin dari jendela ruang klub yang terbuka menambah suasana tegang di antara mereka. Ichigo tidak menyangka jika kata-katanya itu dapat membuat Rukia berubah. Menjadi seseorang yang Ichigo tidak kenal. Saat itu, bagi Ichigo, sosok Rukia terlihat begitu tegar, sosok yang belum pernah Ichigo lihat sebelumnya. Dan entah mengapa Ichigo ingin melindunginya.
Saat itu juga, sekelebat mimpi tentang gadis kecil di bawah pohon sakura itu muncul. Hampir saja Ichigo ingin memeluk Rukia kalau saja Ishida dan Orihime tidak segera muncul. Dan dengan segera ekspresi wajah Rukia berubah. Menjadi Rukia yang biasanya.
Wajah Ichigo tiba-tiba saja memerah mengingat hal itu. Membuat Kaien di sampingnya hanya bisa tertawa kecil.
Sepanjang perjalanan di hari itu, akhirnya muncul pertanyaan besar dalam benak Ichigo. Siapa Rukia sebenarnya? Apakah Rukia hanyalah seorang gadis biasa yang mempunyai dua kepribadian? Pikiran itu terus berkecamuk dalam otak Ichigo. Dan membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang seorang Rukia...
.
.
.
Musim semi berakhir. Dan datanglah musim panas yang berarti.... ya! Liburan musim panas!. Bagi Ichigo musim panas adalah waktu yang paling mengerikan. Selain karena cuacanya yang benar-benar panas dan tugas-tugas yang menumpuk dari Ise-sensei. Hal lain adalah... karena ada kegiatan klub yang sangat menyebalkan! Tapi tentu berbeda apa yang dipikirkan Ichigo dengan yang dipikirkan anggota klub yang lain. Terutama bagi Rukia. Liburan musim panas adalah sarananya untuk bersenang-senang dan melakukan segudang ide-ide gilanya.
Di musim panas tahun lalu, klub peneliti misteri pergi ke gunung dengan tujuan melihat bintang. Namun pada akhirnya tujuan mereka berubah. Mereka berlima dan para senpai yang ikut malah tersesat di gunung, hanya karena Rukia yang ingin mengejar seekor anak beruang. Tindakan cerobohnya itu membuat Ichigo dan yang lain terpaksa harus memakan buah asing yang berbentuk seperti buah pir padahal rasanya tidak seperti buah pir.
Karena tahun ini para senpai tidak dapat ikut. Jadilah sekarang Ichigo berdiri mematung, memandang jauh warna biru yang begitu luas terhampar. Dan merasakan panas yang begitu menyengat...
"Kenapa harus ke laut sih?!"
"Jangan merengek seperti nobita, Ichigo! Memangnya kau mau kalau kita semua pergi ke gunung lagi? Mengulang tragedi yang lalu?" jawab Rukia polos sambil membantu Sado memindahkan barang dari mobil ke dalam vila.
"Memangnya itu gara-gara siapa hah?!"
"Berisik! Diam dan angkut saja barang-barangmu! Untung saja ayahku tidak keberatan meminjamkan vilanya ini kepada kalian..." gerutu Hitsugaya sambil berusaha keras mengangkat sebuah tas berwarna biru tua yang sangat besar. Sangat kelihatan usaha kerasnya itu dari raut wajahnya yang mengkerut.
"Aku kan tidak minta" balas Ichigo sambil mengangkat tas besar itu dengan tangan kanannya. Membuat Hitsugaya sedikit kesal karena Ichigo dapat mengangkatnya dengan begitu mudah.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam vila. Vila itu cukup besar dan bergaya barat kuno. Di sebelahnya masih ada sebuah vila lagi yang sama besarnya, tapi yang ini bergaya jepang kuno. Posisi kedua vila ini sangat strategis langsung menghadap ke arah laut. Sehingga suara ombak yang menggulung dapat terdengar cukup jelas. Yah... setidaknya ini lebih baik daripada tersesat di gunung, pikir Ichigo.
Hanya sebentar saja mereka beristirahat, Rukia sudah mengetuk pintu kamar mereka semua. Daripada disebut mengetuk, lebih cocok jika disebut menggedor pintu. Itu berarti tandanya, kegiatan klub pun akan segera dimulai dan tidak ada yang tahu apa itu... bahkan Ichigo yang ketuanya sekalipun.
"Aku akan memberi kalian pengumuman penting! Karena kita hanya 3 hari menginap disini, maka aku akan menyusun rencana kegiatan untuk kita selama 2 hari ke depan. Aku memberi kebebasan pada kalian untuk hari ini. HANYA UNTUK HARI INI!"
"Kau tidak keberatan kan Ichigo?"
"Ya..." jawab Ichigo pasrah sambil menghela napas panjang. Ia tahu, kalau ia melawan hanya akan menjadi perseteruan yang tidak berarti. Tentu saja dengan kemenangan ada di pihak Rukia. Ichigo tidak mau nasibnya menjadi seperti Hitsugaya. Kalah telak dengan cara yang sangat tidak terhormat. Di akhir perseteruan Rukia mengucapkan kata-kata tabu untuk Hitsugaya yaitu "Diam! Pendek!"
Begitulah...
Setelah mengatakan pengumuman yang seenaknya itu. Rukia pun segera melenggang pergi ke kamarnya, menyusun rencana-rencana gilanya. Bagi Ichigo, ini adalah saat-saat terbaiknya. Daripada harus menyakiti diri dengan berpanas-panasan di pantai bersama yang lain, ia lebih memilih tidur dengan tenang hingga besok pagi. Mengumpulkan tenaganya untuk persiapan menghadapi kegilaan Rukia yang sudah menunggunya di depan...
.
.
.
Hari 1
Pagi hari - battle volley fight!
Siang hari - istirahat + acara bebas (4 jam) setelah itu observasi di sekitar vila!
Sore hari - mencari kerang + melihat matahari terbenam
Malam hari - kimodameshi!
Hari 2
Pagi hari - persiapan untuk pulang
Siang hari - melanjutkan observasi!
Sore hari - pulang
Ganbatte! o kuchiki rukia!
Kertas karton putih besar berisi rencana-rencana gila Rukia tertempel di atas meja makan. Membuat semua anggota klub yang ingin sarapan tercengang melihatnya. Ada apa dengan otak Rukia? Mengapa ia menempelkan kertas pengumuman sebesar itu di atas meja makan? Bukannya di dinding atau di pintu kamar?
"OHAYOU!!! Hebat! Tanpa kusuruh kalian semua sudah berkumpul disini! Setelah sarapan selesai, kita akan segera melakukan kegiatan klub!"
"Rukia... ini... apa...?" tanya Ichigo pelan sambil menunjuk ke arah kertas putih besar di atas meja.
"Itu kertas!" jawab Rukia mantap membuat yang lain semakin tercengang.
"Bukan itu! Maksudku, kertas apa ini?"
"Kau benar-benar bodoh ya Ichigo?! Matamu pergi kemana?! Ini adalah rencana kegiatan kita selama 2 hari ke depan!" jawab Rukia lantang sambil menggebrak meja makan, membuat Hitsugaya tertawa terbahak. Sepertinya ia senang karena Ichigo akhirnya bernasib sama dengannya. Ternyata salah aku telah bertanya, pikir Ichigo.
Dengan wajah lesu, Ichigo pun mulai sarapan. Sepertinya waktu bebas kemarin belum cukup untuknya. Yang berwajah cerah sepertinya hanya Orihime. Dia memang tipikal orang yang selalu tersenyum di mana saja dan kapan saja. Hitsugaya juga tersenyum puas. Hinamori makan dengan wajah menunduk. Sedangkan Sado makan dengan wajah tanpa ekspresinya.
Setelah sarapan selesai. Rukia langsung menyeret tangan Ichigo ke luar vila, disusul oleh yang lainnya berlari mengikuti. Langkah Rukia yang cepat, akhirnya terhenti di depan sebuah net voli yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
"Yup" gumam Rukia yang tiba-tiba saja membuka bajunya di depan Ichigo. Membuat Ichigo terbelalak seketika.
"Hei Rukia! Hentikan! Apa yang kau lakukan?!"
"Apa?" tanya balik Rukia dengan wajah polos. Sekarang sosoknya sudah berganti menjadi seorang gadis manis dengan kaos putih yang ditengahnya ada gambar seekor kelinci, dipadu dengan celana ketat pendek berwarna biru tua. "Ti... tidak apa-apa..." jawab Ichigo terbata-bata dengan wajah memerah. Ternyata, Rukia sudah memakai baju dari awal. Firasat Ichigo benar. Ini Ichigo sebut sebagai 'tindakan gila Rukia no.1' dan Ichigo yakin, tindakan-tindakan gila ini masih akan terus berlanjut.
Setelah menunggu Orihime dan Hinamori selesai berganti pakaian. Dengan cara yang lebih normal dari Rukia tentunya. Pertandingan 'battle volley fight' pun dimulai. Orihime dan Hinamori mengenakan pakaian renang yang sangat manis, sangat cocok jika dikenakan oleh mereka berdua. Rukia berdiri di samping mereka sambil menguncir rambutnya. Bagi Ichigo hal itu terlihat sangat tidak kontras!
Hinamori yang sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Hitsugaya, tersenyum ke arah Hitsugaya. Hal itu seketika membuat wajah Hitsugaya memerah. Ichigo yang berdiri di sampingnya merasa bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk balas dendam.
"Love love bomber" ucap Ichigo tanpa melihat ke arah Hitsugaya. Hitsugaya yang mendengarnya menyadari bahwa Ichigo sedang mengejeknya dan segera membalas ucapan Ichigo sambil menatap jauh ke arah laut, seolah-olah sedang mengasihani Ichigo.
"Itu lebih baik daripada kau yang mengharap lebih saat Kuchiki-senpai melepas bajunya di depanmu"
"Ha???" ucap Ichigo dengan alis mengernyit. Hitsugaya menghela napas panjang setelah mendengar jawaban Ichigo yang bodoh itu.
"Jangan dipikirkan"
"Ah... usul Kuchiki-san memang bagus ya... buktinya Kurosaki-san dan Toushiro-kun sekarang sudah akrab..." ucap Orihime sambil tersenyum ke arah mereka berdua.
"KAMI TIDAK AKRAB!" teriak Hitsugaya mengelak. Ichigo yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hitsugaya yang masih kekanak-kanakan.
.
.
.
Pertandingan voli pun selesai dengan kemenangan di kelompok 'Usagi' yang terdiri dari Ichigo, Hinamori dan tentu saja dari nama kelompok pun sudah jelas bahwa pasti Rukia ikut di dalamnya. Oh ya, Usa-chan juga termasuk, karena Rukia bermain dengan Usa-chan yang ia ikat di pinggangnya.
Walaupun pertandingan voli sudah selesai, itu berarti bukan tanda bahwa kegiatan hari ini selesai sampai disini. Jam 2 siang, Rukia kembali menggedor-gedor pintu kamar anggota klub yang sedang tidur karena kelelahan bermain voli. Karena tahu melawan itu sia-sia, maka semua pun dengan tampang kusut bersiap-siap untuk melakukan observasi. Entah observasi macam apa yang akan dilakukan Rukia di tengah laut Izu ini...
Dengan ransel dan bawaan seadanya, Ichigo dipaksa Rukia untuk berjalan memimpin di depan. Saat Ichigo menanyakan tujuan dari observasi kali ini, Rukia menjawab dengan santai... "Menemukan keanehan yang belum pernah kita temukan!". Tentu itu adalah objek abstrak yang sangat sulit ditentukan. Apalagi dengan jalan pikiran Rukia yang sangat sulit dimengerti. Kalau mau menentang, Ichigo bisa saja langsung menjawab "Ah! Rukia! Aku sudah menemukan keanehan itu! Yaitu otakmu!" tapi sayang sekali Ichigo tidak dapat melakukan hal yang hanya akan membuat dirinya malah balik dicaci maki oleh Rukia.
Observasi yang sia-sia itu dilanjutkan dengan kegiatan mencari kerang yang lebih sia-sia. Setidaknya bagi Ichigo. Hitsugaya juga menunjukkan wajah tidak suka dan Sado dengan ekspresinya yang biasa. Sepertinya hanya para perempuan yang menikmati acara itu.
"Kurosaki, apa kau lihat Kuchiki-san? Ia sekarang tidak ada, padahal tadi dia ada di sampingku" tanya Orihime dengan wajah khawatir, mungkin karena hari sudah mulai gelap.
"Kalian tetap disini, aku akan mencari Rukia!" jawab Ichigo dengan segera. Dan ia pun berlari cepat ke arah vila.
"Aku heran pada si bodoh itu, padahal mereka selalu bertengkar, tapi kenapa wajahnya seperti itu?" ucap Hitsugaya setelah Ichigo berlalu.
"Toushiro-kun... sebuah hubungan itu terjalin tidak hanya dalam bentuk keakraban atau kemesraan loh... hubungan antara Kuchiki-san dan Kurosaki-san adalah contoh lainnya" jawab Orihime sambil tersenyum lembut membuat Hitsugaya terdiam dan berpikir.
Sedangkan itu, Hinamori menatap khawatir ke arah Ichigo berlari. Dalam hatinya ia berdoa semoga hal yang paling buruk itu tidak diketahui oleh Ichigo. Hinamori pun bergumam kecil... "Rukia-san..."
Hitsugaya yang tidak sengaja melihat ke arah Hinamori itu pun menatapnya cemas...
.
.
.
Ichigo berlari sekuat tenaga mengelilingi sekitar vila, tapi sosok yang dicarinya tak juga ia temukan. Ia pun memutuskan untuk mencarinya di vila sebelah, siapa tahu Rukia ada disana.
Harapan Ichigo tidak sia-sia. Dari kejauhan ia melihat sosok Rukia sedang berdiri di pekarangan vila bergaya jepang kuno itu. Tapi ada yang aneh. Rukia menundukkan kepalanya ke bawah. Karena penasaran, Ichigo pun mendekat dan begitu kagetnya Ichigo saat melihat seseorang yang tak dikenal sedang berdiri di hadapan Rukia.
Ia seorang pria. Ia mengenakan kimono berwarna hitam kelam. Wajahnya dingin dan pandangan matanya tajam menatap ke arah Rukia. Ichigo pun bersembunyi di balik pohon agar dapat mendengarkan percakapan mereka lebih jelas.
"Kenapa kau tidak izin padaku jika ingin pergi bersama teman-temanmu? Semua orang di rumah sibuk mencarimu"
"Maafkan aku nii-sama" jawab Rukia dengan suara yang amat lembut. Belum pernah selama ini Ichigo melihat Rukia berbicara selembut dan sesopan itu kepada orang lain. Di sekolah pun, baik pada guru maupun pada anak-anak yang lain, ia selalu saja berteriak-teriak dan bertindak sesuka hatinya. Dan lagi... nii-sama...? kakak...? Rukia punya seorang kakak...?
"Merepotkan saja, kau tahu kan kalau tindakanmu sangat mengganggu? Disini sedang diadakan pertemuan para petinggi keluarga Kuchiki, cepat segera pergi dari sini bersama teman-temanmu itu" ucap laki-laki berkimono itu sambil berbalik dan berlalu meninggalkan Rukia.
"Baik" jawab Rukia dengan suara tercekat. Apa benar itu kakaknya Rukia? Sama sekali tidak ada tampang seorang kakak!, pikir Ichigo geram saat melihat orang itu meninggalkan Rukia begitu saja.
Rukia pun segera berlari ke arah vila Hitsugaya, melewati begitu saja Ichigo yang sedang bersembunyi di belakang pohon.
"Rukia tunggu!" panggil Ichigo sehingga Rukia menoleh ke arahnya. Ichigo dapat melihat wajah Rukia yang begitu kaget saat melihatnya.
"Ke... kenapa kau bisa ada disini...?"
"Kata Orihime kau tiba-tiba menghilang, karena hari sudah mulai gelap aku khawatir kalau terjadi sesuatu denganmu, makanya aku mencarimu" jawab Ichigo asal sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Rukia. Entah kenapa sekarang ia tidak bisa menatap Rukia. Ekspresi wajah Rukia yang berbeda dari biasanya membuat Ichigo merasakan perasaan yang aneh sedang bergejolak di dalam dirinya.
"Oh... begitu" jawab Rukia singkat dengan wajah sedikit tertunduk. Ichigo memaksakan dirinya untuk menatap Rukia. Cahaya mentari senja menyinari tubuh Rukia yang mungil. Rambutnya yang hitam kelam itu menutupi wajahnya, sehingga Ichigo tidak dapat melihat ekspresi Rukia saat itu. Tapi, Ichigo dapat melihat dengan jelas tubuh mungil Rukia yang sedang gemetaran.
"Rukia... kau tidak apa-apa?"
Rukia yang menunduk, diam-diam kemudian tersenyum.
"Tentu saja bodoh!! Aku tidak apa-apa!! mari kita segera pulang untuk melakukan persiapan kimodameshi!!" jawab Rukia tiba-tiba dengan suara yang amat lantang, membuat Ichigo yang benar-benar mengkhawatirkan dirinya terlonjak kaget. Melihat Rukia yang biasanya sudah kembali, membuat hati Ichigo lega.
"Ya, ayo kita pulang, yang lain pasti sedang menunggu" jawab Ichigo sambil menghela napas yang kemudian disusul dengan seulas senyuman tipis. Rukia yang kaget akan ekspresi Ichigo itu kemudian ikut tersenyum dan tanpa ragu menggenggam tangan Ichigo. Dengan perasaan masing-masing yang belum dapat diungkapkan dengan kata-kata mereka berjalan menuju vila.
.
.
.
-tsuzuku-
Yup, selesai juga Part 2. hontou ni arigatou untuk kalian yang telah membaca lanjutan fic ini... huhuhuhu... T.T semoga kalian suka dengan perbaikan ini...
Apa ada yang janggal? Atau terasa aneh? Silahkan ditunggu kritikan, saran, pujian bahkan hinaan... hehhe... jangan lupa review yaaa...
Jaa mata neee... (/--_--)/
