Disclaimer

Naruto by Masashi Kishimoto

The Forgotten by Channaka

Pairing; NarutoxSasuke


Uchiha Sasuke terbangun dari tidur di tempat serba putih.

Sesaat sebelumnya, ia tiba-tiba bermimpi akan mati. Padahal usianya sekarang masih duapuluh dua. Ia adalah seorang pekerja paruh waktu di sebuah minimarket yang ada di pusat kota. Jam kerjanya di tempat itu hanya memakan waktu lima jam, kebetulan Sasuke mendapat shift kerja malam karena siang harinya ia masih melanjutkan kuliah pada semester ke enam.

Dalam seberkas ingatannya saat ini Sasuke ingat bahwa ada seorang pria blonde yang menyerangnya di malam sepulangnya kerja malam itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia tidak punya musuh. Namun seseorang tiba-tiba saja menyerang dan menusuk perutnya bertubi-tubi.

Seharusnya ia sudah mati, mengingat seberapa parah luka yang didapatkannya. Tapi, ia justru merasa masih hidup. Bahkan rasa sakit itu masih ada ketika ia bangun.

Sasuke mencoba untuk meraba perutnya yang nyeri, tapi tangannya terlalu lemah untuk menjangkau. Ia terus-terusan mencium bau desinfektan yang membuatnya mual. Kepalanya juga pusing.

Apa yang terjadi?

Sasuke mencoba menggali ingatan tentang seseorang yang menusuknya berkali-kali dalam gelap. Orang asing. Ciri-cirinya terpatri kuat dalam ingatannya; rambut pirang seperti orang asing dan tiga garis di pipi kanan-kiri.

Siapa?

"Oh, kau sudah sadar?"

Kesiap, Sasuke refleks bangun dari posisi hanya untuk kembali jatuh terbaring.

Pria itu mendekat cepat-cepat. "Jangan terburu-buru. Kau baru saja sadar."

Sebuah tangan tan terjulur padanya, Sasuke sekuat tenaga berusaha untuk menjauh dari sentuhan pria itu. Sasuke masih ingat. Ciri-ciri pria yang menyerangnya sama persis dengan sosok yang kini ada di hadapannya.

Rambut pirang. Tiga garis di kedua pipi.

"J-Jangan mendekat!" Sasuke menyalak, yang terdengar seperti rintihan hewan terluka karena ia terlalu lemah.

Pria blonde itu langsung mengangkat kedua tangan di atas. Pose menyerah.

"Baiklah. Aku tidak akan menyakitimu, jadi tenanglah," katanya. Tubuh Sasuke mengendur sesaat. Pria itu melanjutkan, "Aku menemukanmu pingsan di jalanan pagi ini dan langsung membawamu kemari."

Sasuke mengerutkan dahi. Pingsan? Tangannya langsung meraba perutnya, tidak ada perban ataupun luka. Bersih. Hanya tinggal nyeri yang tersisa.

Apa maksudnya ini?

"Kau lapar?"

Sasuke menatap pria itu sambil berpikir. Apakah mungkin yang dialaminya tidak nyata? Tapi ciri-ciri pria ini sama persis seperti di mimpinya.

Lelah, ia mendesah. "Siapa kau?"

Gantian pria blonde itu yang kebingungan. "Kau tidak mengingatku?" tanyanya, suaranya berubah cemas.

"Apa maksudmu?"

Lalu Sasuke ingat akan malam di mana ia diserang, yang sempat dianggapnya sebagai mimpi. Apa sebenarnya hal itu nyata? Tidak! Siapa pria ini?

"Tidak, tidak apa-apa," jawab si pria. "Aku akan memberitahu dokter bahwa kau sudah siuman."

Sasuke diam saja.

Si pria blonde tersenyum kecil. "Kata dokter kau sudah diperbolehkan pulang sore ini," katanya, menyentuh dahi Sasuke. "Setidaknya saat demammu sudah turun."

"Namamu?" Sasuke mencicit ragu.

Ada raut terkejut yang kentara saat Sasuke mengajukan tanya itu, dan tiba-tiba saja rambut Sasuke digusak oleh pria itu.

"Panggil saja aku Naruto."

Setelahnya, si blonde meninggalkannya di kamar rawat itu sendirian dengan tanda tanya yang menggunung.

.

Dalam diam, Sasuke membiarkan pria asing bernama Naruto itu membantunya berganti pakaian. Saat itu, Sasuke sekali lagi memperhatikan perutnya yang terekspos. Benar-benar bersih, tidak ada goresan ataupun memar.

Padahal Sasuke masih bisa mengingat jelas rasa sakitnya. Juga sentuhan kenyal di bibir.

"Ada apa? Kau merasa sakit?" tanya Naruto saat melihatnya melamun sambil memikirkan sesuatu.

Sasuke membasahi bibirnya sebentar sebelum berkata, "Aku merasa sangat sakit di bagian perut."

Reaksi pria itu berubah tegang, Sasuke terus-terusan meliriknya sambil bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya.

"Aku akan memanggil dokter," kata Naruto, berniat beranjak, tapi Sasuke menahan.

"Ada yang menusuk perutku bertubi-tubi semalam."

"Maksudmu?"

"Dia menggunakan pisau."

"Tapi perutmu baik-baik saja." Naruto sampai mengangkat kembali kaus yang dipakai Sasuke memperlihatkan perutnya yang bersih. "Kau tidak terluka karena benda tajam."

"Di mana baju yang kupakai semalam?" tanya Sasuke tak menyerah. Benda itu pasti sobek karena goresan pisau.

"Maaf, baju itu harus kubuang karena sobek."

Tepat!

"Jadi benar ada seseorang yang menusukku, 'kan?"

Naruto diam. Tampak bingung.

"Aku diserang tadi malam!" Sasuke mengguncang bahu Naruto. "Aku tidak bermimpi! Aku benar-benar diserang. Dia menusuk perutku bertubi-tubi dengan pisau. Pria itu! Pria itu kau! Kau yang menyerangku!"

"Hei, tenanglah!" Ganti Naruto yang memegang bahunya. "Kau hanya bermimpi. Kau baik-baik saja, Sasuke. Lihat! Kau tidak terluka?!"

Sasuke?

"Kau tahu namaku? Darimana kau tahu namaku? Aku tidak mengenalmu. Kau sama sekali bukan kerabat atau temanku!"

Kali ini Sasuke terus memberontak dalam cengkeraman Naruto. Ia bahkan ikut berdiri sehingga menyulitkan Naruto untuk menahannya. Tenaganya pulih, kemarahannya timbul. Pria di hadapan Sasuke jelas orang yang jahat. Pria ini ingin membunuhnya!

Sasuke tidak bermimpi.

"Pergi! Menjauh dariku! Pergi!"

"S-Sasuke, tenanglah!"

Sasuke lepas dari pegangan Naruto, beralih pada meja nakas dan melemparinya dengan gelas kaca berisi air. Gelas itu mengenai kepala Naruto hingga berdarah.

Belum cukup sampai di situ, Sasuke juga melemparinya dengan barang-barang apa saja yang dijangkaunya. Saat pria itu jatuh ke lantai, barulah Sasuke berhenti.

Naruto memegangi kepalanya yang nyeri, ia berdarah.

Serta merta beberapa perawat menyongsong masuk mendengar keributan itu, tapi Sasuke berhasil lari dari mereka. Naruto langsung mengejar. Beberapa orang melihat mereka berlarian di koridor rumah sakit, beberapa mencoba menghentikan, tapi mereka tetap berlari.

"Sasuke!"

Panggilan itu begitu nyaring, Sasuke terus berlari.

"Sasuke, dengarkan aku!"

Sasuke berhenti, bukan karena panggilan itu, tetapi tiba-tiba saja kepalanya berdenyut keras. Pandangan buram seketika dan ia limbung.

Naruto menangkapnya yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri.

.

Saat terbangun untuk kedua kalinya, Sasuke berada di atas ranjang yang empuk.

Mata mengitar sekeliling, ia melihat ruangan di mana ia berada adalah kamar tidur luas dengan interior yang apik. Temboknya berwarna hitam dengan mix warna putih. Perabot seperti ranjang, televisi, lemari dan meja kursi punya warna campuran yang sama.

Hitam. Putih.

Kamar ini tampak begitu asing, berbeda sekali dengan kamarnya di apartemen sempit yang ia sewa di pinggir kota.

Kali ini Sasuke mencoba bangun, kepalanya tidak lagi terasa pusing seperti sebelumnya. Ia ingat semuanya. Ia ingat saat tiba-tiba mengamuk dan menyerang pria blonde yang mengaku menyelamatkannya.

Sasuke sendiri masih bingung, dalam kejadian malam itu, ia ingat bahwa ia diserang dan hampir mati.

Tapi di mana luka itu?

Seharusnya ia memilikinya, sedangkan perutnya bersih tanpa goresan sedikit pun. Ini aneh.

Pintu kayu bercat putih berderit pelan. Seorang gadis muncul dengan pakaian layaknya pelayan kafe.

"Sasuke-sama, anda sudah sadar?" katanya agak terkejut. Di tangan gadis itu terdapat nampan yang berisi baskom kecil dan dan handuk biru muda. "Aku akan membasuh tubuh anda."

Sasuke tak menjawab. Lekas berdiri. Ia beranjak menuju pintu dengan tubuh sempoyongan. Berdiri tiba-tiba membuat kepalanya sedikit berputar.

"Sasuke-sama, anda masih belum pulih." Gadis itu mencegah. "Tolong beristirahatlah, Naruto-sama akan memarahiku jika tahu aku lalai menjagamu."

Akhirnya Sasuke berbalik ketika gadis itu memegangi lengannya. Ekspresi gadis itu nampak sangat panik dan ketakutan.

"Siapa namamu?" tanya Sasuke.

Gadis itu nampak terkejut. "H-Hinata," cicitnya. "Anda tidak mengingat namaku?"

Entah kenapa raut gadis itu nampak sedih. Ia melepas pegangannya pada Sasuke.

"Kenapa kau berpakaian seperti itu?"

Hinata tergagap, ia menunduk. "A-Aku adalah pelayan di rumah ini," katanya.

"Pelayan?"

"Tepatnya pelayan anda."

"Omong kosong!"

Sasuke menggeram marah karena situasi yang tak masuk akal ini. Ia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu dan menemukan lorong panjang di lantai dua. Sasuke melongok ke bawah sambil berpegangan di kayu. Ia melihat Naruto di bawah sedang berbicara dengan beberapa pria berjas hitam.

"S-Sasuke-sama." Hinata panik karena ia juga melihat Naruto.

"Naruto!" Sasuke berteriak. Aktivitas Naruto terhenti sesaat. Mata birunya menatap Sasuke dengan sorot lembut dan saat beralih melihat gadis di sampingnya, mata biru itu berubah tajam.

Mendapat kesempatan, Sasuke segera turun dari tangga terburu-buru. Naruto juga menuju ke arahnya setelah meminta orang-orang berjas hitam itu pergi. Saat itu Sasuke hampir tergelincir dari tangga, tapi Naruto buru-buru menahan tubuhnya.

"Kenapa kau biarkan dia keluar kamar?" tanya Naruto dengan suara yang berat pada Hinata. Gadis itu menunduk.

"Maafkan aku, Naruto-sama, aku sudah-"

"Kenapa kau membawaku ke sini?!" Sasuke mendorong bahu Naruto, ucapan Hinata terputus.

"Ini rumahmu, Sasuke."

"Jangan membohongiku!" Sasuke menyalak. "Aku tidak tinggal di rumah semewah ini."

Ngomong-ngomong, Sasuke diam-diam memindai dekor ruangan yang dapat dijangkau matanya. Tembok di lantai dua memiliki corak bunga-bungaan mekar dengan warna hitam bercampur dengan putih. Lampu besar kristal menggantung di langit-langit tepat di tengah ruangan. Selain itu setiap pintu terdapat gorden warna keemasan dengan motif bunga yang sama. Belum lagi perabot lain yang belum Sasuke lihat. Rumah ini benar-benar mewah.

"Sasuke, apa maksudmu? Ini rumahmu. Dan aku adalah bodyguard di sini."

Sasuke memegangi kepalanya. "Tidak! Bukan!"

"Sasuke?"

Tak menjawab, Sasuke terus memegangi kepalanya. Tiba-tiba bagian itu sangat sakit menusuk.

"Oi! S-Sasuke? Kau baik-baik saja? Jawab aku!" Naruto mulai panik. "Hinata, ambilkan air minum. Cepat!"

Naruto lantas membimbing Sasuke duduk di sofa hitam yang berada di lantai satu. Ruangan ini jauh lebih dingin dari lantai dua. Sasuke diam-diam menggigil.

"Kau kedinginan?" Naruto menggosok-gosok penggung tangan Sasuke. Ia mengambil remot, menurunkan suhu pendingin ruangan. "Sasuke, lihat aku."

Sasuke menatapnya tak fokus. Kepalanya benar-benar sakit. Ia tidak mengerti situasi apa yang tengah dihadapinya.

"A-Aku tidak mengenalmu," racaunya.

Naruto mendorong tubuh Sasuke hingga bersandar ke sofa, bersamaan dengan itu Hinata datang dengan membawa segelas air. Naruto meraihnya dan membantu Sasuke untuk minum.

"Aku akan menghubungi dokter."

"Tidak perlu." Sasuke menahan. "Tetaplah di sini."

"Kau ingat aku?"

Sasuke tidak ingat. Ia ingin menjawab pertanyaan itu, namun lidahnya sangat kelu. Ia juga tak tahu kenapa harus menahan Naruto di sisinya. Ia merasa sedikit tenang setelah disentuh oleh pria itu.

"Aku ... tidak tahu."

Dan ia hanya merasa seperti ada ingatan yang hilang dari kepalanya.

.

Kali ini Sasuke lebih tenang daripada sebelumnya.

Ia betah mendekam di kamar setelah Naruto terus berada di sisinya. Tetapi kini pria blonde itu sudah pamit pergi sehabis membantunya meminum obat yang didapat dari dokter. Sasuke merasa mengantuk. Ia berusaha keras menahan matanya, tetapi hal itu mustahil.

Gadis bernama Hinata yang merupakan 'pelayannya', kini tengah berada di kamar itu juga. Bebersih lemari pakaian yang berada paling sudut dekat jendela. Lemari itu besar, tampak seperti menelan tubuh gadis itu.

"Hei, kau!" panggil Sasuke.

Hinata langsung menoleh dan menyahut dengan sopan. Sasuke juga punya seorang kekasih yang mungkin seumuran dengan gadis itu, namanya Sakura. Kekasihnya memiliki rambut berwarna merah muda. Walaupun begitu, ia tidak terlihat imut sama sekali, melainkan sangat cerewet.

Sasuke tertawa mengingatnya.

Sakura pasti sangat khawatir padanya sekarang. Gadis itu sangat cerewet jika Sasuke sekali saja tak mengabarinya atau tak membalas pesannya.

"Anda butuh sesuatu?" tegur Hinata saat Sasuke hanya diam.

"Kau tahu di mana si bodoh itu menaruh ponselku?"

Sial. Suaranya terdengar sangat lemah dan matanya mulai tak tahan untuk membuka.

"Maaf, aku tidak tahu." Hinata menunduk. "Seluruh keperluan anda biasanya diatur oleh Naruto-sama. Kami para pelayan tak wajib mengetahuinya."

Sasuke berdecih. "Kau pasti tahu."

Saat itu Sasuke mendengar Hinata menjawab ucapannya, akan tetapi matanya tak bisa diajak bekerja sama lagi. Ia terpaksa ditarik ke alam mimpi. Suara Hinata terdengar, namun sangat jauh.

"Sasuke?"

Ia bahkan sesamar mendengar namanya dipanggil.

Ranjang tidurnya bergerak karena tindihan sesuatu. Ada sentuhan yang mendarat di kepalanya. Namanya dibisik berkali-kali. Insting, Sasuke menggeser dan merasakan kepalanya mendarat ke tempat lain yang lebih nyaman. Usapan di rambutnya makin seduktif. Ia nyaman.

"Naruto," gumamnya tanpa sadar, "kembalikan ponselku."

Saat itu Sasuke tak tahu bahwa Naruto memasang ekspresi getir.

Ia benar-benar terlelap sekarang. Dalam tidur itu ia bermimpi yang mungkin akan dialaminya terus menerus ke depan.

Tbc...

.

plis review, karna review kalian sangat berharga ^^