Because of Your Pheromone!
Chapter II : Who The Hell Is He?
by killinheaven
Disclaimer: Kuroshitsuji (c) Yana Toboso
Warning: Shounen Ai | OOC | AU
Rating: T
Pairing: Sebastian X Ciel | Claude X Alois| Sebastian X Grell
Rachel Phantomhive menghela nafas gusar tepat ketika dentingan piring terakhir terdengar dan beberapa piring lain serta peralatan makan lainnya sudah tertata apik di atas meja makan, bola matanya berputar dan melirik suaminya yang masih membaca beberapa lembaran-lembaran tugas kerja kantornya yang ia sempatkan bawa ke meja makan. Berulang kali pula pandangannya bergeser pada satu kamar di lantai atas yang tertutup rapat, seperti jelas sekali bahwa si daun pintu sudah lama tidak bergeser dari tempatnya. Melihatnya, sekali lagi nafas gusar dari wanita itu pun terhela.
"Vincent." Wanita itu memanggil lembut.
"Hm?" meskipun kelihatannya masih tampak sibuk, namun suaminya itu masih tetap menyempatkan diri untuk menatap pada sepasang mata biru gelap milik Rachel, "Ada apa?"
"Ciel. Tidakkah kau merasa bahwa akhir-akhir ini dia jarang keluar dari kamar? Aku khawatir dia sedang ada masalah." Rachel berujar, tatapannya sedikit berubah mendung. "Kadang aku juga mendengar dia mengeluarkan suara-suara aneh, kadang seperti teriakan tertahan."
Vincent hanya bisa mengangkat alis, namun sedetik kemudian dua sisi bibirnya perlahan terbuka untuk melontarkan satu terkaan, "Masalah remaja, mungkin?"
"Kau laki-laki, mungkin bisa lebih tahu."
Kening sang kepala keluarga hanya bisa mengerut, sejentik jari kemudian Rachel pun hanya menghela nafas akan kekecewaan atas sikap suaminya itu.
.
.
.
.
"Menit keberapa, Ciel? Ha? Menit tiga, detik ke sembilan? AHAHHAA! AKU JUGA SUKA GERAKAN YANG ITU!"
Suara heboh di seberang telepon itu pun mendapat sambutan tawaan kecil dari sang penerima telepon, "Gerakan mereka yang seperti melayang itu, Alois. William lucu sekali, mukanya tetap datar tidak berubah." Bagaimanapun juga ia masih bisa menjaga image dirinya untuk tidak turut heboh seperti teman abnormalnya satu itu, untungnya.
Entah sejak kapan, kira-kira sudah sejak seminggu ada aktivitas tambahan baru untuk mereka jika sedang tidak bersama-sama. Menelepon sambil menghadap laptop yang layarnya sedang menampilkan empat makhluk dengan wajah rupawan.
"DAN ITU SOLO PART CLAUUDE~" Alois kembali berteriak heboh, bisa dibayangkan apa yang sedang remaja pirang itu lakukan di seberang telepon itu.
Ciel berdecak, "Ada suara Sebastian juga jadi suara dua, tahu. Cuma ketutupan suara Claude yang lebih besar."
"Eh? Ada suara Sebastian juga? Aku saja tidak tahu, ahahhaa. Kau lebih banyak wawasannya daripada aku ternyata sekarang, Ciel!"
Mendengar itu hanya bisa membuat Phantomhive muda itu berjengit, menyadari apa yang baru saja terucap. Namun segera saia ditutupi perasaannya itu dengan satu lengosan, "Yang ada di otakmu terus kan hanya Claude."
"Oh iya ya. Haha."
Guratan wajah lega.
"Berarti yang di otakmu hanya Sebastan terus dong, hahaha."
Mendadak garis-garis wajah yang baru saja rileks itu berganti dengan guratan wajahnya yang kembali mengeras. Bukannya itu hal yang tidak benar, separuhnya benar sih, malah sebenarnya kalau si bocah bermata biru itu mau jujur tentu saja itu hal yang.. well, sepenuhnya benar. Tapi Ciel tetap Ciel, dirinya sendiri pun saja masih tidak mau menerima bahwa ia sebenarnya sudah menjadi satu spesies dengan Alois Trancy.
"Oi, Ciel?"
"Hm."
"Kukira kau sudah mati mimisan gara-gara terlalu lama melihat video-video mereka." Tawaan kecil lagi, spontan membuat Ciel berdecak. "Jangan marah dong, nanti Sebastian nggak suka loh."
"Apaan sih kau?"
Alois hanya terkikik di ujung telepon, merasa geli juga mendengar tingkah temannya satu ini. Ciel sendiri yang bilang beberapa hari yang lalu bahwa tidak menutup kemungkinan temannya itu bisexual juga, dan sudah suka diajak menonton video-video Kill In Heaven juga kadang-kadang suka kelepasan berteriak kalau-kalau ada scene yang memang menggoda iman. Dan lucunya, sampai sekarang Ciel masih saja menampik kalau suka digoda. Memang sudah karakter, mau diapakan?
"Ciel, besok siang waktu istirahat aku mau memperlihatkan satu lagu padamu. Lagu solo Sebastian, kau belum dengar pasti, kan?"
"Sepertinya belum. Apa judulnya?"
"Tidak seru kalau kukasih tahu, nanti kau sudah keburu download. Aku ingin liat ekspresimu langsung. Hehe. Sudah ya, aku ngantuk. Selamat tidur, Ciel~ mimpi indah dengan Sebastian~"
"Heh!—"
Cklik
Dan hela nafas kesal terdengar selang beberapa detik kemudian.
~000~
"Rain of The Moon?"
Siang itu akhirnya datang dengan sangat singkat, bagi Alois. Tapi bagi Ciel, entah kenapa rasanya amat sangat lama. Kendati demikian pun Ciel masih saja bersikeras di dalam hatinya bahwa perasaan siang itu datang lama bukan karena ia menanti-nantikan satu lagu yang akan Alois janjikan itu. Lagu solo Sebastian saja kok yang akan dijanjikan Alois, apa sih menariknya toh Ciel juga sudah sering mendengar suara Sebastian sebelum-sebelumnya bersama tiga orang personel lainnya. Paling-paling cuma suara merdu dan berat Sebastian yang menggugah hati itu. Iya, kan?
"Iya, judulnya Rain of The Moon. Sini lihat, pakai earphone-nya satu."
Ciel menerima satu earphone sebelah kanan dan memasangkannya di satu daun telinganya, kemudian matanya berpindah pada handphone milik Alois yang bisa cukup memuaskan hati untuk keadaan emergency saat ini.
"Dengarkan, Ciel. Hayati ya, bahkan mulai dari intro!"
Dan intro yang ternyata hanya beberapa detik itu disusul dengan suara berat khas milik Sebastian pun sudah mengalir melewati gendang telinganya. Remaja berambut kelabu itu pun hanya bisa terkesiap seketika, organ yang bekerja selama beberapa detik selanjutnya hanyalah hati sekaligus pendengarannya. Kesan pertama yang Ciel dapatkan adalah mendadak hatinya menjadi damai, lagu ini menenangkan. Kata-kata yang membentuk liriknya pun juga terdengar dan merasuk ke dalam dirinya dengan sangat indah.
Aa, if this warm time stops,
I'll put it into a memory and continue to gaze only at you.
Sialnya, entah kenapa otak si remaja ini mendadak sudah berkelana entah ke mana. Dengan tidak wajarnya membayangkan bahwa sepertinya akan sangat menyenangkan kalau Sebastian bisa menemaninya ketika tidur sembari mendendangkan lagu ini—
Aa, if this finger is touching your hair
Like a spider's thread, just… sweetly, yet painfully.
Sepertinya semua darahnya langsung menaik ke wajah begitu otaknya mulai memutar cinematic imaginer untuk membayangkannya, semakin nada suara berat Sebastian yang amat sangat membawa feromon akut itu pun semakin merasuki gendang telinganya sampai akhirnya ke hatinya—semakin liar pula juga lah imajinasinya.
"CIEL!"
Belum sempat remaja itu membuka dua sisi bibirnya ataupun menolehkan kepala, satu tissue mendadak sudah menempel di hidungnya, membuat dua bola mata Ciel mendadak melebar. Ia hendak melakukan aksi protes namun mendadak ia menyadari bahwa sedaritadi ada satu cairan merah yang mengalir dari hidungnya—darah?
Tangannya sontak ganti untuk memegangi tissue itu sementara ia hanya menahan geram atas Alois yang nyaris sudah mulai tertawa terpingkal-pingkal melihat temannya yang tahu-tahu sudah mimisan hanya karena satu buah lagu solo Sebastian Michaelis. Ciel Phantomhive—mimisan.
"Pfft, oke oke, aku tidak akan mempermalukanmu, Ciel! Pfft—tapi... BWAHAHAHHAHAA!"
Ciel masih tidak bergerak dari posisinya, hanya dua bola matanya yang masih menunjukkan kegeraman yang ditahannya untuk tidak membara. Lagipula apa yang dipikirkan Alois tidak salah, ia juga jadi tidak bisa protes. Mengeluarkan decakan sebal, remaja itu kemudian bangkit dari kursinya sebelum melayangkan pandangan kesal pada Alois.
"Hoi, Ciel! Mau ke mana?"
"Kamar mandi. Membersihkan hal nista ini. Ergh." Ia tidak menunggu waktu lama untuk mendengar kembali susulan tawaan tertahan dari Alois, kakinya sudah langsung bergerak dengan cepat dalam beberapa detik.
Satu tangannya yang masih memegang tissue itu masih berusaha untuk mengusap darah itu dari bawah hidungnya masih dengan perasaan jengkel, namun mendadak dua kakinya berhenti bergerak ketika dua matanya menangkap pemandangan seseorang yang membuatnya menjadi seperti ini. Di depan gerbang sekolah, Sebastian itu, bersama dengan seseorang dengan atribut mencolok yang berwarna merah dan rambut panjang lengkap dengan satu kacamata yang bertengger di depan matanya. Entah siapa orang itu namun Ciel merasa tidak nyaman melihatnya. Tatapan orang itu seperti sangat bernafsu ingin menerkam Sebastian, senyumannya untuk Sebastian juga luar biasa amat sangat menjengkelkan di mata Ciel.
Terlebih lagi ketika tangan orang itu sudah mulai bermain-main pada bahu, lengan, dan leher Sebastian. Apa-apaan sih orang itu? Ini di sekolah, tahu.
Orang itu terlihat agresif, namun Sebastian hanya melepas dan menanggapi datar meskipun sesekali tersenyum juga meskipun kentara sekali agak-agak dipaksakan. Ah, sebegitu baikkah senior Michaelis? Tapi meskipun begitu, dilihat sudut pandang mana saja, pemandangan yang ada di hadapannya ini sungguh mengesalkan.
Sepertinya pertemuan mereka agak sedikit menyingkat ketika suara dentang bel tergema di seluruh sekolah. Seharusnya remaja itu juga mengangkat kakinya, cepat-cepat menuju kamar mandi seperti yang ia rencanakan dan kembali ke kelasnya. Tapi herannya seperti ada tangan imaji yang mencengkram dua pergelangan kakinya sehingga ia hanya bisa berdiri di posisinya bahkan setelah seniornya itu berbalik dan berjalan—menuju ke arahnya.
Amit-amit, Ciel tidak mau lagi terserang mimisan yang lebih parah, ini saja belum dibersihkan.
Tapi tangan imaji itu masih tidak melepas cengkramannya. Feromon orang itu—ARRRRGH.
Dan tanpa ia sadari raut wajahnya sudah berubah memucat seiring dengan derap langkah seniornya itu yang setiap detiknya semakin terdengar jelas. Tidak tidak, jangan menatap ke sini, tidak... JANGAN!
"Kau tidak apa-apa?"
Terlambat. Malah senior itu sudah membungkukkan badannya dan menatap langsung ke dalam dua bola mata Ciel yang seperti laut itu, membuat Ciel ingin kabur sejauh-jauhnya karena ia rasa jantungnya bisa meledak kapan saja. Atau kepalanya yang sewaktu-waktu bisa pecah karena ia bisa merasakan aliran darahnya kembali mengalir semua ke kepala.
"Adik, kau tidak apa-apa?"
J—jangan sedekat itu, turunkan kepalamu, senior!
Guratan wajah yang sempurna itu kembali mendekat, meminimkan jarak di antara mereka. Sumpah, maunya apa sih si Sebastian ini? Mungkin karena posisinya yang masih memegang tissue di hidungnya, dan wajahnya yang masih pucat, serta gerakan tubuhnya yang kaku. Ck. Nista, kasihan sekali sih dia.
"T.. tidak apa-ap—"
Dan tahu-tahu dua telapak tangan hangat sudah menempel di dua pipi Ciel, membuat dua bola mata remaja itu membesar dalam keterkejutan. Desir hela nafas hangat milik seniornya itu sontak terasa di wajahnya dan itu membuat tubuhnya semakin mengejang, ditambah dengan tatapannya yang semakin menambah rasa aneh ini yang bertambah setiap detiknya.
"Pipimu merah sekali, panas. Ada apa—"
Kenistaannya bertambah pada detik itu seketika. Ciel pingsan.
~00~
Benda langit yang biasa kita kenal atau kita sebut dengan nama bulan itu nyaris sudah memasuki setengah masa kerjanya untuk menerangi langit malam London saat ini. Tampak terlihat beberapa orang di dekat satu bangunan London yang sedang berjalan keluar dari salah satu gedung, masih terdengar suara-suara candaan dari beberapa diantara mereka namun ada pula yang hanya berjalan dalam diam.
"Fans-nya hebat-hebat sekali tadi ya?" Ronald Knox menyunggingkan cengirannya, masih berjalan santai sembari menaruh dua lengannya yang bersilang di belakang kepalanya.
Seseorang dengan atribut serta merahnya yang tentu saja mencolok mata itu turut menolehkan kepala, "Aah, tentu saja. Kalian semakin hot setiap harinya, awawwwww. Bukankah begitu, Sebby?" Grell Sutcliffe, yang kebetulan mendapat posisi manager mereka dan kebetulan pula satu kampus dengan William.
Yang namanya baru saja disebut oleh Grell tadi itu hanya memasang senyuman tipis sebagai satu respon.
"Ada masalah di rumah lagi, Sebastian?" William yang kebetulan berposisi di samping Sebastian sepertinya sudah mengenali jenis-jenis senyuman sekaligus artinya milik temannya satu itu.
Sebastian hanya mengedikkan bahunya. "Hanya masalah biasa seperti yang sudah-sudah. Aku hanya agak mengantuk malam ini."
"Jadinya kau di apartemen malam ini? Tidak di rumah?" Ronald ikut nimbrung, melambatkan langkahnya agar bisa sejajar dengan tiga orang di belakangnya.
Yang ditanya hanya menganggukkan kepala.
"Kau tadi sempat minum banyak di backstage, Sebastian." Claude berujar, bola mata kuning emasnya menatap datar ke arah pemuda itu. "Pulanglah duluan, jangan jalan."
"Aku akan mengantarmu, Sebby~" Grell sudah melompat dan mengambil posisi di samping lelaki jangkung tersebut yang tidak membalas gerakan apapun. "Aaah, pas sekali. Taksi~"
"Hei, Grell. Kita temani—" Ronald mulai berujar namun sepertinya sudah terlambat.
Satu buah taksi berhenti dalam waktu singkat, Grell langsung membuka pintu belakang mobil dan mendorong tubuh jangkung Sebastian masuk ke dalamnya. Tiga orang lain di belakang hanya bisa termenung sembari sedikit ber-sweatdrop melihatnya, seperti ada harimau yang sedang menyiapkan buruannya. Tapi hal seperti ini sudah biasa dilakukan, melihat mereka yang pulang bersama. Masalahnya, malam ini.. Sebastian agak-agak dalam kondisi mabuk dan itu cukup mengkhawatirkan—dan terbongkarlah bahwa otak-otak mereka memang ternyata pervert.
Dan resmilah, setengah menit kemudian taksi pun melaju.
"Sebas-chan." Grell memanggil perlahan, tingkahnya pun mendadak agak sedikit diam. Bagaimanapun ia masih manusia yang tahu diri, tingkah-tingkah abnormalnya itu hanya ia tunjukkan di hadapan orang lain namun sebenarnya ia sama sekali tidak pernah berniat macam-macam. "Kau bisa menceritakannya padaku, Sebas-chan."
Dan sebenarnya Sebastian pun sudah tahu watak dari manager-nya yang juga merangkap sebagai teman dari kecilnya ini. "Besok aku keluar dari rumah, apartemen itu mungkin akan jadi tempat tinggal permanenku."
"Kau sudah jengah ya? Paman masih sering membawa wanita-wanita tidak jelas ke rumah?"
Masalah keluarga yang dihadapi Sebastian memang hanya masalah yang pernah dialami orang-orang broken home kebanyakan. Sang ayah yang masih sering membawa wanita-wanita tidak jelas sejak mereka bercerai, hal yang sedikit klise namun menjengahkan sebenarnya. Sebastian berusaha untuk tidak peduli, awalnya. Namun dia juga punya mata dan hati yang seringkali terasa terganggu oleh aktivitas-aktivitas tidak diinginkan yang dilakukan di rumahnya. Faktor itu juga yang membuat ia menerima tawaran bergabung berasama tiga temannya yang juga menyukai musik untuk membentuk satu kumpulan laki-laki tampan yang senang bernyanyi serta menari—boyband.
Grell sendiri yang merancangnya, melihat empat orang dengan karakter-karakter dan garis wajah yang cukup menjual. Dengan aliran musik yang unik, dan ditambah dengan gerakan dance yang bisa menggoda dan malah terkadang sensual. Karena tujuan mereka memang untuk terkenal, tidak munafik. Terlebih untuk Sebastian, dia hanya butuh uang untuk bisa hidup mandiri sebelum bisa menginjak bangku kuliah dan akhirnya bekerja secara normal. Hasilnya toh tidak mengecewakan, ia bisa membeli apartemen sendiri di usianya yang masih menduduki bangku terakhir Senior High School. Apartemen yang bisa ia gunakan ketika ia sedang jengah di rumah, sangat berguna.
"Hanya kesal." Sebastian menjawab pendek. "Itu saja."
Grell hanya tertawa kecil, "Tapi Sebas-chan sebenarnya ingin keluarga normal yang bahagia, kan? Pasti di dalam sini.." jemari lentik pemuda berambut merah itu mendarat pada dada Sebastian, menelusurinya dengan lembut, ".. Sebas-chan merasa sakit juga."
Sebastian hanya menggulirkan bola mata merahnya itu Grell dengan datar.
"Ya, kan, Sebas-chan?"
Tanpa diduga, jemari Grell tertungkup oleh telapak tangan Sebastian. Dan dalam waktu singkat dagunya terasa terangkat dan satu ciuman lembut membawanya dalam satu keterkejutan.
"Sebas-chan."
Sebastian hanya balas menatap, jarinya menelusuri lekuk wajah pemuda itu dan mengulas satu senyuman yang bahkan sama sekali tidak pernah Grell lihat seumur hidup ia bersamanya. "Aku benci wanita."
"Kau.. mabuk, Sebas-chan."
~00~
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Setidaknya teriakan macam itu yang pertama kali tercelat dari dua sisi bibir Ciel ketika kelopak matanya kembali terbuka. Otaknya tidak bisa bekerja dengan sinkron karena kedua matanya menangkap pemandangan asing di sekitarnya. Menghela nafas dan menghembuskannya perlahan sebagai pe-rileks, remaja itu kemudian berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan dirinya dan berpikir positif. Kepalanya menoleh ke segala penjuru arah dan hanya bisa sedikit melongo menyadari kamar yang di tempatinya ini mempunyai luas tiga kali lebih dari luas kamarnya.
Bangkit dari posisi tidurnya, ia berjalan menuju jendela, lagi-lagi berjengit ketika menyadari bahwa lantai yang saat ini ia pijak ternyata amat jauh dari tanah. Ada di lantai apartemen entah di lantai keberapa.
Pandangannya bergeser pada sesuatu yang tergeletak apik pada meja yang terletak di samping jendela, secarik kertas putih dengan tulisan tangan yang penuh seni tergores di atasnya.
Kuharap kau tidak menjerit ketika terbangun nanti.
Tadi ruang kesehatan sedang tidak buka, makanya aku membawamu ke apartemenku. Tolong diingat aku juga tidak tahu rumahmu, bahkan namamu saja aku tidak tahu.
Dan tolong jangan kabur dulu, apartemen ini jauh dari pusat kota. Aku yang akan mengantarmu pulang kalau aku sudah kembali malam nanti.
-Sebastian Michaelis-
p.s.: aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sampai pingsan begitu, tapi kabar baik, kata dokter kau baik-baik saja.
"..."
Jujur, mendadak ia tidak tahu apa yang harus dirasakan. Perasaannya campur aduk antara malu, senang, namun juga khawatir. Malu, tidak perlu deskripsi yang lebih panjang lagi untuk menunjukkan betapa nistanya Ciel tadi siang, dan untung saja Sebastian sama sekali tidak menyadarinya hal absurd apa yang membuatnya seperti ini. Senang, well, ia sedang berada di kamar seorang artis yang seluruh wanita sejagad pun memimpikannya untuk ada di posisi Ciel saat ini. Tidakkah hal itu hebat?
Ia menggerakkan kembali kakinya dan segera mengambil ponselnya di dalam tas, menyadari hal yang sepertinya sedang terjadi di luar sana.
Benar saja, berpuluh-puluh pesan dan panggilan yang tidak terjawab memenuhi layar ponselnya saat itu juga. Jemarinya segera bergerak aktif untuk membalas pesan itu sebelum orang tuanya memanggil polisi dan mencemarkan nama baik Sebastian Michaelis dalam kasus penculikan. Tentu saja ia hanya mengatakan ia ada di rumah teman, dan menyuruh kedua orang tuanya untuk tenang. Sementara pesan balasan untuk Alois—
—belum satu menit pesan balasan tersebut terkirim, dering ponselnya sudah berbunyi.
"CIEEEEEEEEL! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN BERSAMANYA?"
Tangannya menarik sejenak kembali ponselnya dari daun telinganya untuk menyelamatkan fungsi kerja indra pendengarannya itu.
"Tidak melakukan apa-apa. Dia pergi ketika aku bangun." Ciel menjawab, datar.
"Siapa tahu dia melakukannya saat kau tidur loh."
"Idiot, tidak mungkin!" remaja itu menggerutu kesal, meskipun ia menyempatkan diri untuk melihat pakaian seragamnya yang untungnya masih terpasang rapi.
Terdengar helaan nafas kekecewaan di ujung sana.
"Jangan sia-siakan kesempatan ini, Ciel!"
"Aku bukan kau!"
"AAAH. Ciel payah!"
"Ck."
Satu suara yang cukup keras tiba-tiba mengalihkan perhatian Ciel, ia berdiri dan menggeser langkahnya pada pintu kamar dan ia baru menyadari bahwa Sebastian sudah pulang. Namun yang menganggu pemandangan matanya adalah ada seseorang yang ia lihat di pagar sekolah tadi, kenapa dia juga ada di sini? Segera saja ia menyembunyikan diri di balik pintu kamar, meskipun matanya masih anteng memerhatikan mereka.
"Ciel?"
Lidahnya mendadak terasa kaku untuk menanggapi Alois, ketika melihat Sebastian yang mendadak berubah agresif dan kembali menarik leher orang itu—
"Sebastian sudah pulang." Dua sisi bibirnya bergerak kecil, nada suaranya pelan sekali seperti melemas. "Dan aku melihat Sebastian sedang mencium laki-laki."
"APA?"
"Mungkin dia lupa aku ada di sini."
Ciel hanya menahan degup jantungnya yang mendadak terasa keras dan sialnya terasa sakit juga. Namun ia juga tidak tahu apa yang menyebabkannya tidak bisa menarik penglihatannya untuk menghindari pemandangan mengesalkan di hadapannya.
"Itu bagus dong, Ciel."
"Eh?"
"Ia suka laki-laki."
"..."
Adegan panas di hadapannya mendadak terhenti ketika Sebastian sudah mulai melemas dan perlahan orang itu membantu membawanya ke kamar. Segera saja otak Ciel bekerja dengan cepat, dengan gerakan kilat ia menyembunyikan barang-barang kecilnya dan termasuk dirinya sendiri ke dalam lemari sebelum dirinya tertangkap basah dan masalahnya akan menjadi rumit. Daun pintu lemarinya ia biarkan terbuka sedikit untuk melihat apa yang terjadi—tapi ia akan menutup kembali pintunya jika orang itu berani melanjutkan hal yang terhenti tadi.
Tapi ternyata tidak, orang itu hanya menidurkan Sebastian dan mengelus lembut dahinya sebelum memberikan senyuman tipis.
Pemandangan yang cukup membuat Ciel mencelos, sebenarnya.
Siapa sebenarnya dia?
Tidak menunggu waktu lama, orang itu pun beranjak meninggalkan ruangan sekaligus apartemen ini. Setelah memastikan keadaan cukup aman, ia keluar dari tempat persembunyian singkatnya. Berjalan beberapa langkah dan melihat garis tidur Sebastian yang—jujur saja, Ciel menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang aneh saat ini meskipun kesempatan terbuka lebar—menyiratkan kelelahan, entah kelelahan fisik atau mental pun Ciel tidak tahu.
Namun ada satu aroma yang tercium dari tubuh Sebastian yang sepertinya Ciel ketahui .
"Ciel? Hoi, Ciel? Apa yang terjadi?"
"Kukira ia mabuk, Alois. Dia sudah tertidur sekarang."
".. oh."
"Alois, tolong jemput aku. Sepertinya.. dia akan lupa mengantarkanku."
TBC
Rating oh rating =_=
I just can't resist it that I secretly ship Sebastian X Grell, soowwwy *bows* Btw lagu solo Sebastian saya ngambil dari Tsuki no Ame atau Rain of The Moon yang dinyanyikan oleh Sebastian sendiri *plak* maksudnya seiyuu-nya Sebastian alias Daisuke Ono-ITU SUARANYA SEBASTIAN ADSAJKDSAKJDSKJDSA *toyor2 otak yang udah mikir macem**
Kurousa Hime: Sebernya itu prolog tapi lupa diedit, jadi emang pendek. Hehe. Maaf ya xDIya, makasih. Nanti pasti ikut pollingnya xP makasih banyak udah baca :)
-vent: Sebastian kira-kira 18 taun, anak kelas 3 SMA gitu. Hehe. Grell muncul tuh, saingan Ciel pula hahaha. Makasih banyak udah baca :)
Keikoku Yuki: Karakter Alois kalo di AU susah dibawa melow-melow, hehe. Pasti ujung2nya begini :D Iya saya memang cari aneh masukin Will ke boyband, biarin lah sekali-kali. Haha. Makasih banyak udah baca :)
Kojima Michiyo: Ehehe, sekali-kali mereka jadi boyband xP Iya, ceritanya ringan kok, semoga. Saya juga nggak tahu alurnya mau dibawa ke mana soalnya ini =_= Makasih banyak udah baca :)
Review, please?
