A/N : Ini dia chapter 2. Selamat membaca...

Chapter 2

Disclaimer : Harry Potter punyanya JK Rowling.

Summary : Voldemort masih hidup, Harry dkk bergerilya menghindari Pelahap Maut. Ketika Hermione menyusup ke markas Pelahap Maut, apa yang akan terjadi padanya? Lalu apa hubungannya dengan Draco?

Timeline : Post HP-7, Harry dan anggota Orde gagal mengalahkan Voldemort. Meskipun Voldemort masih hidup, Voldemort tidak memiliki wujud fisik yang sempurna akibat musnahnya semua Horcrux. Harry dan anggota Orde yang lain bergerilya dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menghindari kejaran para Pelahap Maut.

oOOo oOOo oOOo

Hermione terbangun di ruangan sempit yang hanya di terangi dengan cahaya lilin. Ia tahu bahwa ia tertangkap oleh para Pelahap Maut, dan ia juga tahu mereka tak akan membunuhnya –untuk saat ini- . Sepertinya rumor itu memang benar, Voldemort sedang mencari wanita-wanita penyihir Muggleborn untuk dijadikan pelayannya.

'Apa dengan ini misiku berhasil?'Pikir Hermione.'aku kira belum. Aku masih belum tahu aku akan diterima atau tidak.'

Saat Hermione sibuk dengan pikirannya, seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Orang menyentuh bahu Hermione untuk mendapatkan perhatiannya. Hermione menoleh dan mendapati orang itu adalah Luna.

"Hermione."Sapa Luna.

"Luna,"Jawab Hermione dengan tatapan dingin.

"Apa yang kau lakukan di sini, Hermione? Bagaimana dengan yang lain? Apa mereka baik-baik saja?"Tanya Luna dengan nada suara khawatir.

"Diam, Luna!"Sergah Hermione."kau sudah dengar apa yang ingin aku lakukan di sini. Aku tak perlu mengulanginya lagi."

Luna tertunduk mendengar jawaban Hermione yang ketus.

"Maaf, aku tak bermaksud untuk meninggalkan kalian saat itu. Aku..."Ucap Luna dengan suara tercekat.

"Luna-dear..."Sapa seseorang yang tiba-tiba ada di pintu masuk.

"Madam Malfoy."

Hermione tercekat saat melihat Narcissa Malfoy berjalan menghampirinya. Narcissa Malfoy terlihat masih sama dengan waktu itu di Hogwarts.*saat pertarungan terakhir yang ada di buku 7*. Wajahnya yang pucat dan rambut warna gadingnya terlihat menakutkan di bawah cahaya lilin.

"Luna, bisa kau tinggalkan kami sejenak?"Pinta Narcissa.

"Tentu, Madam."Jawab Luna seraya meninggalkan ruangan itu.

Setelah yakin pintu tertutup dengan rapat dan tak ada orang yang menguping, Narcissa Malfoy mengucapkan mantra anti menguping dan memulai pembicaraannya.

"Halo, aku Narcissa Malfoy."Ucapnya, "Kau salah satu sahabat Harry Potter kan?"

"Aku Hermione Granger."

"Kurasa aku tak perlu menanyakan alasanmu datang kemari. Kau pasti sudah mendengar rumor yang beredar di luar sana."Ucap Narcissa sambil duduk di samping Hermione.

Hermione sedikit kaget dengan kedekatan Narcissa dan menjawab"Ya, aku sudah mendengarnya. Pangeran Kegelapan mengumpulkan penyihir wanita Muggleborn untuk dijadikan pelayannya."

Narcissa tersenyum mendengarnya, "Ya, memang benar. Tapi bukan untuk dijadikan pelayannya, mereka akan dijadikan sebagai istri-istri penyihir Darah Murni agar dapat menghasilkan penyihir-penyihir Darah Campuran yang hebat."

Mata Hermione terbelalak mendengarnya. 'Istri? Menghasilkan anak? Oh, tidak mungkin. Ini benar-benar misi bunuh diri.'

"Hermione-dear, Draco adalah salah satu penyihir Darah Murni yang dipersiapkan Pangeran Kegelapan untuk menjadi salah satu kandidatnya. Dan aku ingin kau yang akan menjadi mempelainya."Ucap Narcissa.

"Tunggu... Maksudmu aku akan menjadi istri anakmu itu?"Seru Hermione tak percaya. Lebih baik ia mati daripada harus disentuh oleh Malfoy, musuh abadinya di Hogwarts.

"Hermione-dear, kalau kau mau menjadi istri Draco aku akan membantumu mengumpulkan informasi tentang Pangeran Kegelapan dan akan menutupi apa yang menjadi tujuanmu kemari. Aku akan menjadi tamengmu kalau kau mau membantu Draco." Ucap Narcissa memohon.

"Tunggu! Darimana kau tahu...? Uups..."Hermione segera menghentikan ucapannya karena secara tak sadar ia mengakui informasi yang dikatakan Narcissa sebelumnya.

"Aku tahu kau tidak akan mungkin mengkhianati sahabat-sahabatmu." Ucap Narcissa dengan senyuman kecil.

Hermione menatap Narcissa tak percaya. Ia telah ketahuan oleh Narcissa Malfoy. "Ok. Apa saja yang harus aku lakukan?"Ucap Hermione pada akhirnya.

oOOo oOOo oOOo

Draco masih tak percaya ketika melihat Granger di depannya. Bagaimana bisa Pelahap Maut melewatkan Muggleborn yang ada di hadapan mereka ini. Bukankah seharusnya Muggleborn harus langsung dibunuh jika Pelahap Maut bertemu dengan mereka.

Granger sama sekali tidak terlihat takut dikelilingi puluhan Pelahap Maut dan berdiri disamping makhluk aneh bernama Voldemort ini. Matanya menatap lurus ke Draco yang saat ini juga tengah menatapnya. Tak ada sedikitpun keraguan di matanya.

"Tuanku."Ucap Narcissa memecah keheningan.

"Cissa-dear, kau sudah berbicara dengan calon menantumu? Bagaimana? Apa dia pantas menjadi menantu keluarga Malfoy yang terhormat?"Tanya Voldemort.

"Iya, Tuanku. Hamba rasa Hermione adalah orang yang tepat. Dia adalah penyihir Muggleborn terbaik di Hogwarts dan hamba rasa Draco juga akan mudah beradaptasi dengan Hermione karena mereka sudah saling kenal."Ucap Narcissa panjang lebar.

"Dan apa kau sudah memastikan kesetiaannya?"

"Ya, Tuanku. Hamba sudah menggunakan Veritaserum untuk memastikan tujuannya kemari dan hamba sudah mengkristalkan hasilnya. Silakan Tuanku lihat."Ucap Narcissa sambil menyerahkan botol kecil berisi memorinya.

"Wormtail."Panggil Voldemort pada pelayan setianya."Ambilkan pensieve!"

"Baik,Tuan." Jawab Wormtail sambil membungkuk dan menghilang di balik tirai.

"So, namamu Hermione Granger?" Tanya Voldemort pada Hermione.

"Ya, Tuanku. Nama hamba Hermione Jean Granger."Jawab Hermione sambil membungkuk.

"Kau sudah mengenal Draco, eh? Kau satu angkatan dengannya?"

"Benar, Tuanku. Hamba kenal dengan Tuan Malfoy Junior. Kami satu angkatan, hamba di Gryffindor, Tuanku."Jawab Hermione.

"Satu asrama dengan Potter?"

Sebelum Hermione sempat menjawab. Wormtail sudah kembali dengan pensieve.

"So, mari kita lihat hasil Veritaserum Cissa kepada Nona ini."Ucap Voldemort.

...

"Hermione, aku harus menggunakan ramuan Veritaserum kepadamu, jadi..."Ucap Narcissa sedikit ragu

"Tenang saja, Mrs Malfoy. Sebelum kemari aku sudah menggunakan ramuan yang dapat sedikit menetralisir efek ramuan Veritaserum, jadi aku dapat sedikit berbohong."Jawab Hermione dengan senyuman kecil.

"Hahh, baiklah." Sahut Narcissa. "Luna-dear, masuklah! Ajak juga orang sedang berbicara denganmu."

Terdengar sahutan dari luar pintu. Dan masuklah Luna dan juga Blaise Zabini, salah satu teman Si Ferret Malfoy.

*Memory yang dilihat Volemort mulai dari sini.*

"Nah, Hermione minumlah ramuan ini sekali teguk."

Hermione langsung meminum ramuan itu segera setelah menerimanya. Ramuan itu terasa manis dan segar, khas rasa dari Veritaserum. Setelah mengerjapkan mata berulangkali, Hermione membuka matanya dengan pandangan sedikit kosong.

"Namamu Hermione Granger?"Tanya Narcissa

"Benar, aku Hermione Granger." Jawab Hermione jujur.

"Kenapa kau kemari?"

"Aku mendengar rumor tentang Pangeran Kegelapan yang mencari penyihir wanita Muggleborn untuk dijadikan pelayan. Aku sudah bosan menjadi pelarian, jadi aku kemari. Kalau rumor itu benar aku akan hidup kalau salah aku akan mati dan terbebas dari pelarian." Jawab Hermione dengan sedikit variasi kebohongan.

"Apa yang terjadi dengan Potter dan Weasly?"

"Aku tinggalkan mereka di hutan terlarang, itu tempat persembunyian terakhir kami."Jawaban Hermione kali ini jujur. Karena memang itu yang terjadi.

"Lalu dimana tempat persembunyian berikutnya?"

"Entahlah."Ucapnya seraya mengangkat bahu. "Kami bertiga selalu memutuskan tempat persembunyian berikutnya saat sudah memulai perjalanan berikutnya."Jawabnya jujur.

"Dimana anggota Orde yang lain? Anggota Keluarga Weasly yang lain?"

"Aku tidak tahu saat ini. Kami terakhir berkumpul enam bulan lalu di sekitar The Burrow."Lagi-lagi jawaban yang jujur.

"Baiklah, pelayan yang dimaksud rumor itu apa kau tahu pelayan apa yang dimaksud?"

"Ehmm, menjadi pelayan pembuat makanan atau pencuci piring bersama para Peri Rumah?"Jawab Hermione."Tentu penyihir Darah Murni tak akan mau berdekatan dengan kami apalagi bersentuhan dengan kami."

"Sayangnya bukan itu. Lord Voldemort mengumpulkan penyihir wanita Muggleborn terbaik untuk melahirkan penyihir berdarah campuran yang kuat."Ucap Narcissa.

"Hell, no!" Seru Hermione.

"Hermione Jean Granger kau akan menjadi mempelai anakku, Draco Lucius Malfoy dan kau harus mengiyakannya. Jika tidak kau harus mati."

"Baik." Jawab Hermione dengan sedikit terpaksa.

...

"Welldone!" Seru Voldemort senang." Jadi Draco Lucius Malfoy, maukah kau menikahi Hermione Jane Granger?"

"Baik, Tuanku."Jawab Draco sambil menundukkan badan.

"Hermione-dear, tanganmu."Suruh Voldemort seraya mengangkat tangan kecil anehnya."Draco, terima uluran tangan calon istrimu."

Draco mematuhi perintah Voldemort dengan menerima uluran tangan Hermione. Sebenarnya Draco sedikit enggan dengan pernikahan ini. Ia masih muda, sama sekali belum ingin menikah.

Draco memperhatikan wajah Hermione yang masih sedikit tersembunyi di balik tudung. Penasaran dengan ekspresi Hermione saat ini, Draco menyingkap tudung itu. Hermione tersenyum kecil dan matanya mengungkapkan bahwa ia senang dengan keputusan pernikahan ini.

'Demi Merlin, tidak mungkin ia serta merta menyetujui pernikahan ini. Apalagi ia menikah dengan aku, musuh besarnya di Hogwarts.'Protes Draco dalam hati.

Seraya mengerti apa yang dipikirkan Draco, Hermione tersenyum semakin lebar dan berkata, "Senang bertemu denganmu lagi, Draco."

TBC

A/N : So, bagaimana chapter ini? Let me know what you think.

Kurarin