Author's Note :

Uaah! Maaf semuanya... Untuk Prolog-nya, tertulis 'SMP Nakayama' seharusnya 'SMA Nakayama'.

Aduh.. Kenapa salah begini ya?? Tapi dengan ini, kesalahan sudah diperbaiki, oke??


Chapter 1 : Introduction the Action!!

Sakura melempar tas selempangnya di kasur. Itu bukan kasurnya. Dan di situ bukanlah rumahnya. Sakura sedang berada di apartemen milik Shikamaru. Dia tidak sendiri. Ada Sasuke, Kiba, dan Neji di situ. Shikamaru sedang mengambil botol minuman di kulkas.

"Hei, bantu aku membawa gelas-gelas ini! Kalian tidak mau kukasih minum?" teriak Shikamaru dari arah dapur. Neji langsung bergegas menuju dapur membantu Shikamaru. Sementara yang lain terlihat tidak peduli dengan Shikamaru. Sakura dengan gemas mengocek tasnya. Lalu menarik selembar kertas dari dalam tasnya. Dia membaca kertas dengan enggan lalu mendengus keras sekali.

"Aku muak melihat tulisan di kertas ini! Maksudku, hanya balapan. Kita tidak mencuri atau apa, kan? Kenapa pasangan bodoh Myujin dan Riiko tidak dikasih surat seperti ini? Padahal mereka selalu berpacaran sewaktu malam. Itu lebih parah, kan? Dangkal sekali pikiran mereka," keluh Sakura dengan tempo yang cepat. Kiba juga sepertinya menyetujui kata-kata Sakura karena dia mengangguk cepat sambil melipat dengan cepat kertas yang sedari tadi dipegangnya. Kertas yang sama dengan milik Sakura.

"Lupakan saja," sambung Sasuke sambil memainkan kertas itu. "Setidaknya kita bisa istirahat di rumah dan..." Sasuke menatap lamat-lamat kertas di tangannya, "otak kita akan bekerja lebih keras dari biasanya."

"Itu bukan hiburan, Sasuke," keluh Sakura kecewa karena temannya yang satu itu payah sekali dalam mengambil sisi positif. "Dan lagi, kita diawasi oleh pengamat―apa itu? Bagaimana kita akan bersenang-senang kalau begitu?"

"Mungkin itu hanya gertakan. Kau tau sendiri, guru sering melebih-lebihkan," kata Kiba sambil mengambil sebatang rokok dari bungkusannya.

"Lalu, siapa orang yang ada di luar itu?" tanya Shikamaru yang baru datang sambil membawa botol minuman bersama Neji yang membawa 5 gelas. Sasuke, Sakura dan Kiba langsung berlari ke arah jendela dan menyibak tirai perlahan. Benar saja, ada seorang pria yang berdiri dekat tiang telepon di depan pagar gedung apartemen. "Dia sudah mengikuti kita sejak keluar dari sekolah, menurut Neji," tambah Shikamaru. Sayangnya informasi Shikamaru bukan membuat mereka senang malah bertambah frustasi.

"Ah, aku merasa ingin marah!" pekik Sakura kesal. Dia memukul dinding sekali lalu limbung di kasur. Kiba juga ingin limbung ke kasur tapi diurungkan karena Sakura sudah duluan.

"Yah, paling tidak kita harus absen balapan hari ini," kata Shikamaru sambil mengambil rokok dari bungkusan rokok milik Kiba. "Kita bisa beristirahat."

"Kau benar, Sasuke. Istirahat dan bekerja lebih keras, kita lihat saja nanti," sambung Neji yang juga mengambil rokok dari bungkusan yang sama.

"Kalian! Mau merokok di sini? Aku tidak suka bau rokok!" keluh Sakura sambil menunjuk batangan rokok teman-temannya.

"Ini apartemenku, tau. Kau seharusnya pergi kalau tidak suka pada rokok," sanggah Shikamaru lalu menyulut rokoknya dengan korek api milik Neji.

"Kita tidak punya janji apapun kepada geng-geng balapan. Kita bisa bersantai sebentar," kata Neji menenangkan. Tapi muka Kiba yang cemas membuat Neji harus menjilat kata-katanya sendiri. "Kiba, kau kenapa?"

"Yah, kau tau. Geng Horucahfu, mereka―hmm, menantang kita."

"Apa maksudmu?" tanya Shikamaru tidak mengerti.

"Mereka menantang bertanding atau tidak―hmm..."

"Jangan berkata sepotong-sepotong begitu! Kau membuat kami bingung!" sambung Sakura gemas karena Kiba berkata setengah-setengah.

"Mereka menantang kita untuk bertanding dan aku bertaruh motor milik Neji dan Sasuke kalau kita kalah atau tidak datang dalam pertandingan!" kata Kiba dengan suara hampir seperti berteriak. Setelah itu terdengar desah kesal Shikamaru dan disambut gelengan kepala Sasuke. Neji menopang kepalanya di dahinya dan mulut Sakura menganga.

"Kau! Kau bodoh ya?! Apa kamu mulai tertular Naruto?!" tanya Shikamaru histeris sambil mengacungkan rokoknya ke arah wajah Kiba. Kiba ingin bicara tapi Sakura memotong.

"Tidak usah berkata apa-apa lagi! Kau tau kalau kamu sudah menjatuhkan kita saat kita juga sedang jatuh?" ujar Sakura sambil menunjuk muka Kiba. Sakura sadar kalau kata-katanya tidak dimengerti teman-temannya karena mereka hanya melongo. "Maksudku, jatuh di saat kita sedang jatuh. Menjatuhkan nama kita saat kita sedang... dijatuhkan oleh para guru! Mengerti?"

Masih ada jeda lama di antara mereka.

"Ng, tidak," jawab Kiba akhirnya. Namun jawaban Kiba membuat mood Sakura tidak membaik. Neji akhirnya menengahi.

"Sudahlah. Lebih baik kita pikirkan cara untuk membatalkan balapan itu."

"Tidak bisa," potong Kiba. "Kita akan dianggap kalah karena kita tidak datang ke pertandingan. Apalagi membatalkan."

"Kalau begitu kita bisa mengundurkan hari pertandingan," usul Sasuke.

"Tidak bisa. Mereka pasti mengambil motormu secara paksa," jelas Kiba.

"Kau benar-benar pembawa sial," cetus Sakura sambil menggebrak meja.

"Cih. Maaf," kata Kiba. Shikamaru sudah berpikir jernih sekarang dan ikut menengahi.

"Sekarang kita akan memikirkan cara agar kita bisa keluar balapan... secara diam-diam. Aku tidak tau tentang pria di luar itu, ada yang punya informasi?" Semuanya menoleh ke arah Sasuke. Yang dilihat hanya kebingungan.

"Ada apa?" tanya Sasuke akhirnya.

"Informasi, kami butuh itu sekarang," kata Shikamaru tegas.

"Apa?"

"Tentang pengamat pria itu," ujar Neji menambahi.

"Kenapa?" Sasuke selalu bertanya singkat. Tapi anehnya teman-temannya yang empat orang itu selalu mengerti apa yang dimaksud Sasuke.

"Yah, karena kau selalu punya banyak informasi penting daripada kami," jawab Sakura tak sabaran. "Pokoknya kau punya banyak teman karena itu kamu selalu punya banyak informasi." Sakura buru-buru menambahkan takut kalau teman-temannya tidak mengerti lagi.

"Maaf, tapi tidak ada informasi tentang pria itu dari siapapun. Dan mereka bukan temanku," kata Sasuke lalu mengeluarkan asap rokok yang tadi diisapnya. Sakura yang melihat itu langsung naik darah.

"Hentikan kegiatan tak berguna yang sedang kalian lakukan sekarang! Kita sedang memikirkan cara-kabur-dari-pria-aneh-karena-Kiba-mengacau, mengerti?!"

"Hei, apa katamu tadi?!" Kiba berteriak kencang sekali. Sasuke memasang mimik bosan, begitu pula Shikamaru yang memang biangnya malas.

"Baiklah kalau begitu. Kita bergerak sesuai rencanaku." Shikamaru terlihat serius. Kalau ini terjadi, berarti mereka harus benar-benar mendengar apa yang dikatakan Shikamaru. Dia memang ahlinya strategi. Shikamaru yang seumur dengan Sakura, Sasuke dan Kiba malah sekelas dengan Neji yang satu tingkat dengan mereka. Karena sewaktu kelas 5 SD, Shikamaru mengikuti program akselerasi dan berhasil lompat kelas langsung ke kelas 1 SMP. Shikamaru memang terkenal jenius. Yah, jenius yang menyebalkan sebenarnya.

"Bagus, si pemikir segala mulai beraksi," desis Kiba bangga, seolah Shikamaru adalah anak didiknya. Sakura dan Neji risih mendengar itu. Tapi Sakura yang bertindak menyikut lengan Kiba sampai Kiba mengaduh kesakitan.

"Dengar, kalian harus bersiap-siap ketika mulai jam 7. Kita akan keluar saat itu dan beraksi..."


Pria itu mengamati Sakura yang baru keluar dari apartemennya. Dia membawa tas besar dan ransel di punggungnya. Dilihat dari penampilannya yang biasa, pria itu menyimpulkan kalau Sakura pasti tidak akan pergi ke arena balapan. Tapi ini adalah tugas. Maka dia tetap mengikuti gadis itu.

Ternyata Sakura memasuki sebuah market di ujung kota. Jauh sekali, pikir pria itu. Kenapa dia jauh-jauh datang ke tempat itu? Maka pria itu ikut masuk saking penasarannya. Saat akan membuka pintu market, pria itu tidak sengaja menabrak pria bermantel hitam.

"Maaf," ucap pria itu lalu terkejut karena orang yang ditabraknya juga memakai masker dan kacamata hitam juga kupluk hitam, sehingga pria itu tidak tau siapa orang yang tadi ditabraknya. Orang tadi diam saja tapi pria itu dapat mendengar kalau orang tadi mendengus. Akhirnya pria itu membiarkan orang itu berjalan mendahuluinya. Pria itu memasuki market itu dan matanya mulai mencari-cari sosok gadis berambut pink. Tapi belum ketemu juga.

"Di mana gadis Haruno itu?" desis pria itu gemas sambil menggenggam foto close up seorang gadis berambut pink sebahu dengan mata hijau emerald. Di foto itu terdapat tulisan 'Haruno Sakura, balap liar' dengan tinta hitam. Sepertinya pria itu selalu membawa foto siswa yang diincarnya agar tidak tertukar dengan yang lain (saking banyaknya siswa yang diintainya). Akhirnya pria itu menemukan Sakura di court makanan ringan. Sakura sedang menatap bungkusan makanan yang ada di depannya. Pria itu mengamati Sakura kalau wajahnya terlihat cemas. Namun dia tidak terlalu memusingkan masalah itu.

Sakura mulai mengambil beberapa bungkus snack dan beberapa kaleng minuman ringan. Pria itu mengikuti diam-diam sambil tetap menjaga jarak. Sakura segera membayar apa yang dibelinya dan cepat-cepat keluar dari market. Pria itu juga mengikutinya dan yang membuatnya terkejut adalah orang serba hitam yang tadi ditabraknya juga mengikuti gadis Haruno itu.

Sakura melewati gang sempit yang sangat sepi. Dia menoleh ke kanan-kiri. Pria itu menyangka kalau Sakura sudah mengetahui kalau ada orang yang menguntitnya. Dan Sakura memang menyadarinya. Bukan pria itu yang disadarinya. Tapi pria lain yang mengenakan baju hitam. Pria pengamat itu kaget melihat orang berbaju hitam itu mendekati Sakura.

"A… aku membawa makanan ini untuk nii-san," ujar Sakura tergagap. Dia menyerahkan bungkusan yang digenggamnya kepada orang berbaju hitam di depannya. Tapi orang berbaju hitam itu menerimanya dengan kasar.

"Sebaiknya kau ikut aku," ujar orang berbaju hitam itu. Pria pengamat itu tidak bisa mendengar apa yang dikatakan orang berbaju hitam. Tiba-tiba Sakura berteriak dan orang berbaju hitam itu sudah menarik paksa Sakura ke gang sempit yang gelap. Pria pengamat itu segera mengejar Sakura dan orang aneh itu. Dia berbelok ke arah gang. Gang itu hanya punya satu jalur dan tidak memiliki belokan lagi. Jadi sudah pasti mereka melalui jalan yang sama.

Namun saat sudah sampai di jalan buntu, yang dilihat pria pengamat itu bukan Sakura maupun orang berbaju hitam. Tapi dua pasangan lelaki dan perempuan yang melakukan sesuatu yang bisa dibilang dewasa. Kedua pasangan itu terkejut melihat kedatangan pria itu.

"Kalian dari SMA Nakayama itu kan? Apa kalian melihat Haruno lewat sini?" tanya pria itu. Kedua pasangan itu masih dalam diam. Mereka masih shock.

"Jangan pikirkan. Lagipula ada yang harus kuselesaikan di sini."


"Bagus Shikamaru! Kita berhasil."

Shikamaru membuka baju hitamnya dan memakai kaus yang dibawa Sakura. Mereka bersembunyi di tong sampah besar di gang itu. Dan saat pria itu menghilang, mereka langsung keluar. Shikamaru menatap Sakura jengkel.

"Tapi memakai baju itu menyiksa. Jangan paksa aku memakai baju itu lagi," protes Shikamaru. Sakura hanya meringis.

"Bagaimana dengan yang lain? Mereka lolos dari para pengamat?"

"Yah, Kiba sudah sampai di tempat balap. Tinggal menunggu Sasuke dan Neji saja," jawab Shikamaru sambil mengutak-atik handphone-nya.

"Kalau begitu, ayo cepat!" Sakura dan Shikamaru langsung berlari ke tempat balap, jalan besar di prefektur dekat Tokyo. Saat mereka hamper sampai di tempat, hp Shikamaru berbunyi.

"Moshi-moshi." Dan saat orang di seberang mengatakan sesuatu, mata Shikamaru melebar. "Yang benar saja! Lalu bagaimana?!"

"Ada apa, Shika?" tanya Sakura penasaran.

"Sasuke dan Neji tidak bisa ke arena balapan. Mereka dihadang sekelompok orang."

"Apa? Sekelompok orang? Siapa?"

Shikamaru menatap ke jalan. Mereka masih berlari.

"Entahlah. Menurut Sasuke, mereka dari Horucahfu," kata Shikamaru.

"Apa? Curang sekali! Mereka memang berniat mengambil motor Neji dan Sasuke!" teriak Sakura kesal. "Lalu siapa yang balapan sekarang? Motor yang ada hanya motor Sasuke dan Neji, kan?"

"Aku tidak tau," jawab Shikamaru cemas.