Dapatkah aku mencintaimu walau pisau itu tertodong tajam ke arahku?

Hinata Hyuuga

LOVE THE ENEMY

By Icha Ren

NARUTO BY MASASHI KISHIMOTO-SENPAI

Warning: Typo(s), Aneh, Gajeness, Kacau Balau, Gore, Dan Lain-Lain

Rate: T+

Genre: Romance, Crime, Drama

Pair: Naruto-Hinata dalam selimut kebencian

Summary:

Siapa bilang kalau orang yang kau cintai adalah orang yang kau sukai. Naruto dan Hinata, dua latar berbeda yang mempunyai tujuan kelam. Naruto sang pemburu yang merasa buruannya selesai dikejutkan dengan buruannya, Hinata, yang berhasil lolos dari misi Genosidanya. Saling mencari tahu dan saling mengincar nyawa, keduanya berada dalam permainan cinta yang mempertaruhkan nyawa!

.

.

.

Enjoy it!

Chapter2: Lollipop

"Yawarakai-san, anda akan duduk di kursi kosong yang berada di kiri Namikaze-san. Naruto! Tolong angkat tanganmu supaya Yawarakai-san tahu dimana tempat duduknya berada!"

Terdiam. Yang disebutkan Anko, yakni Namikaze Naruto masih tetap bergeming dalam posisi duduknya. Ino yang sudah kembali ke tempat duduknya menatap kebingungan ke arah Naruto. Anko menaikkan alisnya perlahan-lahan. Tidak pernah dia melihat Naruto memasang ekspresi wajah seperti itu.

"HEY MINNAAA! TAMPAKNYA NARUTO SEDANG TERPANA AKAN KECANTIKAN YAWARAKAI-SAN YANG BEGITU BERCAHAYA! APAKAH KALIAN TERIMA JIKA NARUTO AKAN MELAKUKAN HAREM SETELAH DIA MENDAPATKAN INO-CHAN YANG SANGAT CANTIK?!" teriak Lee dengan hidung berapi-api. Para cowok melompat dari meja dan mengibarkan bendera bertuliskan 'STOP HAREM NARUTO! DASAR PRIA BEROTAK DANGKAL!'

Hinata mengedip-ngedipkan matanya melihat suasana kelas 2-A yang nampak kacau. Lavendernya menatap Anko dengan pancaran kebingungan. Anko tersenyum kikuk dengan bibir yang bergetar.

"Sudahlah kalian. Yawarakai-san sampai bingung kenapa tingkah kalian seperti kera,"

"ITU KARENA NARUTO, ANKO-SENSEEEEEEI!" teriak para cowok sambil menunjuk wajah Naruto dengan beringas. Anko menepuk keningnya perlahan. Hinata memiringkan kepalanya dan suaranya yang lembut menerpa setiap telinga para siswa-siswi di situ.

"A-ano, yang namanya Namikaze Naruto itu yang mana?"

Hening. Semuanya secara dramatis menoleh ke arah Naruto.

Naruto perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya dengan pancaran safir yang begitu tajam. Sebelah matanya tertutupi oleh helaian-helaian surai pirangnya. Mata Hinata perlahan-lahan terbuka setelah tahu di mana dia akan duduk. Ternyata orang yang bernama Namikaze Naruto itu adalah si cowok bersurai pirang yang kini memandangnya tajam.

"A-Anko-sensei. Bi-bisa aku duduk di bangku kosong yang berada di belakang si gigi runcing itu," kata Hinata sambil menunjuk ke arah Suigetsu.

"Ou yeaah!" kata Suigetsu senang sambil memasang pose sombong di depan teman-temannya. Lee dan cowok-cowok iri lainnya langsung menggebuk Suigetsu tanpa ampun. Anko benar-benar sweatdrop melihatnya.

"Ba-baik-"

"Tidak boleh!"

DEG. Semuanya menoleh ke arah Naruto dengan pandangan nanar. Lee dan yang lainnya menatap Naruto penuh kebingungan.

"Jangan serakah, Naruto.." gumam Lee dengan nada sedikit serak. Naruto tidak memperdulikan kata-kata Lee dan menatap tajam ke arah Hinata.

"Kau duduk di sini. Sesuai perintah Anko-sensei.."

"Tidak mau!"

"Harus mau!"

"Ke-kenapa aku harus mau?!"

"HAH HAH HAH?! KENAPA CALON HAREM SIALAN?!" teriak para cowok yang dikomandani Lee dengan mata berapi-api. Jika bukan teman sekelasnya, Naruto berjanji akan menebas seluruh kepala cowok di kelas 2-A ini tanpa sisa.

"Karena," Naruto menahan napasnya "Aku ingin berkenalan denganmu!"

Hyuushh..hening. Semua menatap nanar ke arah Naruto. Hinata tersentak kaget. Entah kenapa jantungnya sedikit berdetak mendengar kata-kata Naruto.

"Ja-jangan bercanda! Pokoknya aku tidak mau!"

"Kenapa kau tidak mau?!"

"Kenapa aku harus mau?!"

"Karena aku ingin berkenalan denganmu!"

"Kau sudah mengenalku tadi. Na-namaku Yawaraki Hinata. Aku pindahan Oto," Hinata memasang wajah kesal "Sudah kan?!"

Naruto menopang dagunya dengan tangan kanannya. Senyuman menawan nan maut Naruto pun keluar, namun matanya tetap tajam seperti biasa.

"Aku ingin lebih dekat.." kata Naruto enteng.

"EEEEEH?! APAAAAAA?!" teriak seluruh siswa dan siswi sambil memandang horror ke arah Naruto. Ino hanya melirik sekilas putra Minato itu dengan pandangan kebingungan. Dia tidak tahu isi pikiran si rambut pirang tersebut.

Hinata menggigit bibirnya. Entah kenapa remaja berambut kuning itu benar-benar menyebalkan. Hinata menundukkan kepalanya dan terus memasukkan asumsi kalau remaja laki-laki di depannya adalah si pembunuh yang memiliki warna rambut yang sama. Hinata mengangkat kepalanya dan memandang tajam ke arah Naruto.

"Baiklah," kata Hinata dengan nada sedikit bergetar "Aku juga ingin berkenalan denganmu,"

Naruto tersenyum tipis.

Perang mencari tahu dimulai!


Jika dia Hyuuga. Kenapa dia masih hidup.

Pertanyaan itulah yang terus menghantui pikiran Naruto. Safirnya kini tidak fokus memperhatikan Anko-sensei dalam menjelaskan pelajaran dan iris matanya itu terus menatap setiap inci pergerakan Hinata. Gadis bersurai indigo itu nampaknya tidak terlalu canggung berada di sampingnya, menurut pendapat Naruto.

Naruto memandang pensilnya dan memutarkan benda untuk menulis itu di tangan kanannya (seperti style Light di Death Note). Segala macam hipotesis terus berputar di otak Naruto. Segala macam kemungkinan yang bisa dia masukkan ke dalam seluruh kesimpulannya dan terus dia layangkan ke dalam saraf-saraf otak serta memorinya. Naruto berusaha mencari bagian puzzle yang hilang, atau bagian yang dia lupakan hingga dia melakukan kesalahan terbesarnya.

Membiarkan seorang Hyuuga hidup. Parahnya lagi jika gadis sebaya dengan dirinya ini melihat adegan pembunuhan yang dia lakukan dan sedang mencari cara untuk melaporkannya ke pihak berwajib. Jika dia ketahuan maka akan berdampak sangat besar kepada perusahaan mereka. Naruto sedikit menggeram kesal.

'Pertama-tama, bagaimana dia bisa hidup,' Naruto membuat dua garis yang sedikit bengkok di buku catatannya. Naruto menatap garis itu sebentar lalu kemudian menaruh ujung pensilnya di bawah bibirnya.

'Satu, ada tempat bersembunyi rahasia Hyuuga yang tidak kutemukan dan gadis itu bersembunyi di sana. Dua, gadis itu tidak berdomisili di Konoha. Tiga, gadis itu memang bukan seorang Hyuuga dan mata sialan itu hanya kebetulan saja. Empat, itu mungkin arwah para Hyuuga yang berusaha menakutiku karena dendam mereka yang begitu besar.' Naruto terkekeh pelan saat membayangkan kesimpulan keempatnya. Naruto pun mengetuk-ngetuk pelan ujung pensilnya di atas buku catatannya.

'Jika hipotesis keduaku benar maka aku harus memeriksa Kota Oto untuk memastikan kalau gadis ini adalah seorang Hyuuga. Mungkin setelah dia mendengar kematian keluarganya dia menyimpulkan kalau memakai marga Hyuuga di Kota Konoha merupakan suatu ancaman besar. Dengan memakai nama marga yang dia buat sendiri, dia yakin bahwa dirinya tidak akan terancam,' Naruto kembali melirik sekilas ke arah Hinata. Hinata nampak serius mendengarkan apa yang dikatakan Anko di depan. Naruto kembali menatap tajam pensil yang diputar di tangan kanannya.

'Jika Hipotesis pertama berhasil, heh..agak susah untuk membuktikannya,' Naruto menelan ludahnya 'Kediaman Hyuuga kini sedang dijaga ketat kesatuan Interpol. Aku tidak mungkin ke sana. Aku harap hipotesis ketigaku benar dan mata gadis itu adalah suatu kebetulan,' Naruto menghela napasnya. Rasanya dia ingin merobek buku filosofi Kajimaru Keita yang pertama kali membuatnya kesal. Naruto menopang dagunya perlahan dan kembali memfokuskan pandangannya ke pelajaran.

Sementara Hinata yang sepertinya serius mendengarkan kata-kata yang terlontar dari Anko tampaknya juga sibuk berperang argumen dalam pikirannya. Hinata terus berkata kalau remaja itu adalah pembunuh seluruh keluarganya. Namun di sisi lain ada yang mengatakan kalau remaja itu sepertinya baik, menarik, dan juga tampan.

Wajah Hinata sedikit memerah. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tanpa sengaja lengan kanannya menyenggol penghapusnya dan jatuh tepat di samping kaki Naruto. Mata Hinata melebar. Dia pun membungkukkan badannya dan menjulurkan tangan kanannya untuk mengambil karet penghapus tersebut. Tiba-tiba sebuah tangan meraih penghapus tersebut dan tangan Hinata pun tanpa sengaja menyentuhnya. Otak Hinata terkoneksi dengan cepat.

Hinata mengangkat kepalanya dan menatap nanar ke arah Naruto. Naruto yang merasa dipandangi seperti itu hanya menatap datar ke arah Hinata.

"Apa?" tanya Naruto dengan nada biasa.

PLAALK! Hinata pun spontan menampar pipi Naruto dan langsung menarik tangannya dari tangan Naruto.

Jujur saja..baru kali ini Naruto digampar oleh seorang wanita tanpa alasan yang jelas. Naruto naik pitam dan langsung menggeram marah.

"APA YANG KAU LAKUKAN GADIS BODOH!"

"KE-KENAPA KAU MEMEGANG TANGANKU.." Hinata terdiam sejenak "..HENTAI!". Ino yang mendengar sang putra kejam Namikaze Minato dipanggil seperti itu langsung jatuh sweatdrop. Semua kelas menganga tidak percaya. Saraf di otak Naruto langsung berlistrik penuh kemarahan.

"APA YANG KAU KATAKAN GADIS DADA BESAR!" teriak Naruto spontan dengan nada kesal setengah mati. Para siswa-siswi memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.

'Eh? Dada besar?' batin semuanya shock.

'Dada besar?' Hinata menundukkan kepalanya dan memperhatikan dadanya. Beneran sih..

'Benar kataku?!' wajah Hinata memerah dan tangan kanannya langsung melayang cepat ke wajah Naruto.

PLAAAK!

Mau Hyuuga atau tidak. Pagi itu Naruto rasanya ingin membunuh perempuan tersebut!


"Keparat!"

Ino hanya menautkan alisnya memandangi Naruto yang tampak menggenggam gelas minumannya dengan cengkramannya yang begitu berbahaya. Dapat Ino lihat urat-urat di sekitar tangan Naruto bermunculan bahkan gelas yang dipegang sang Namikaze nampak retak. Ino maklumi kekuatan 'monster' Naruto pasti dia dapatkan dari DNA ibunya, Nyonya Namikaze Kushina.

Mereka berdua sekarang sedang duduk di kantin sekolah. Ino dan Naruto paling suka duduk di kursi paling pojok yang menghadap taman sekolah. Hal ini juga salah satu faktor yang membuat gosip kalau mereka berdua pacaran semakin gencar.

"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Ino dengan nada prihatin. Naruto yang sedang mengacak rambutnya terdiam sejenak. Perlahan-lahan putra Namikaze Minato itu menopang dagunya dengan tangan kanannya. Matanya kembali tenang seperti biasa.

"Buruk," gumam Naruto pelan "Aku melakukan kesalahan terbesarku selama 1. 875 misi yang telah aku lakukan,"

"Tapi itu adalah misi C-9,"

"Ya, aku memang sering melakukan C-9, Ino. Tetapi dibantu tim yang terdiri minimal 10 anggota.."

"Kenapa kau tidak mengatakan kepada ayahmu kalau kau membutuhkan sebuah tim. Setidaknya ada tiga orang yang menemanimu malam itu untuk memastikan kondisi berada dalam keadaan prima,"

Naruto menyeruput jus jeruknya perlahan-lahan. Saat dia menelan minuman favoritnya itu, Naruto menoleh ke arah Ino dan wajah rupawan dengan tatapan tajam itu memandang Ino penuh keyakinan.

"Harga diriku Ino. Kami para Namikaze punya harga diri.."

Ino menaikkan alisnya. Dia langsung memalingkan wajahnya "Baka!"

Naruto menaikkan alisnya. Dia kemudian menaruh kedua tangannya di belakang kepala.

"Ino, apa kau pikir dia benar-benar Hyuuga?"

Ino melirik sekilas ke arah Naruto. Gadis bersurai pirang itu sedikit merapikan helaian-helaian sutra rambutnya.

"Mungkin. Bisa ya.."

"Bisa tidak," sambung Naruto datar. "Anak kecil ingusan pun bisa menjawab seperti itu,"

Ino menggembungkan pipinya. Dia sangat kesal dengan perkataan remaja laki-laki di sampingnya ini. Naruto membuka sebuah lollipop rasa strawberry dan memberikannya kepada Ino. Mata Ino sedikit melebar.

"Apa?"

"Hn, kau lempar ke kepala Orochi-sensei. Ya untuk dimakan,"

Ino menghela napasnya. Dia segera mengambil lollipop berwarna merah muda itu dari tangan Naruto dan mengemutnya dengan wajah yang lucu dan imut. Naruto membuka lollipop rasa jeruk dan langsung mengulumnya dengan wajah tenang.

Untuk beberapa saat mereka terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Naruto terus memikirkan apakah gadis berdada besar yang bernama Hinata itu Hyuuga atau tidak. Naruto terus mengingat setiap inchi pembunuhan yang dia lakukan. Dia terus mengingat bagaimana dia membunuh, ruangan apa yang telah dia masuki, ataupun mungkin kemungkinan-kemungkinan seorang Hyuuga yang masih hidup walaupun dia melukainya.

Tidak mungkin. Naruto menghela napasnya.

'Semuanya sudah kumutilasi dengan benar,' batin Naruto. Terdengar enteng baginya. Mutilasi hanyalah permainan potong-memotong bagi seorang Naruto.

"Ino,"

Ino menoleh ke arah Naruto dengan alis yang sedikit terangkat. Naruto melepaskan loliipop rasa jeruk dari mulutnya dan safirnya menatap tajam ke depan. Ke Taman Konoha High School.

"Jangan katakan kepada Tou-sama ataupun keluarga besar Namikaze lainnya soal berita ini,"

"Tapi Anko-sensei,"

"Anko tidak tahu menahu tentang ciri-ciri Hyuuga yang spesifik. Begitu pula Orochi dan Tsunade. Mereka hanya anjing-anjing Tou-sama yang menduduki peran rendah.." Naruto kembali mengemut lollipop rasa jeruknya dengan tatapan yang kembali tenang "Kau beruntung masuk ke dalam keluarga inti dan menjadi penasihatku,"

Ino menyandarkan tubuhnya ke kursi kantin "Ya, aku juga-"

"Aku senang kau selalu memberikan saran-saran yang terbaik," Naruto menoleh ke arah Ino dan wajah yang sedang mengemut lollipop itu tersenyum tipis. Wajah Naruto benar-benar menawan dan lucu. Tidak ada kesan bahwa dia adalah seorang pembunuh darah dingin saat itu "Kuharap perdebatan kita tadi tidak merusak hubungan pertemanan ini.."

Mata Aquamarine Ino sedikit melebar. Dia kemudian menolehkan kepalanya ke depan dan pipinya tampak sedikit kemerahan.

"Arigatou," terdengar suara lembut nan merdu di samping belakang Naruto. Naruto spontan menoleh ketika tahu siapa pemilik suara manis menggemaskan itu. Hinata berdiri di belakang Naruto sambil menyeruput segelas minuman dengan sebuah sedotan. Kedua pasang mata itu saling bertemu dan api-api pertikaian langsung berkobar di otak mereka.

"Memmai (Hentai)," kata Hinata di sela-sela hisapan airnya. Pelipis Naruto berdecit kesal. Mata safirnya menatap nyalang gadis bersurai indigo tersebut.

"Dada besar," gumam Naruto pelan.

"Hentai.." kini Hinata sudah tidak menyedot minumannya. "..Dan kudengar kau seorang playboy,"

"HAAAAAHH?!" semua orang di kantin langsung shock begitu mendengar perkataan Hinata. Para cowok memandang Naruto penuh iri. Naruto bangkit dan berdiri tegak di hadapan Hinata. Ino meneguk ludahnya dan dia tahu perang akan segera dimulai.

"Dari mana mulut kurang ajarmu mendapatkan fitnah seperti itu, gadis sialan!"

Hinata menggenggam erat gelasnya. Lavendernya menatap Naruto penuh kebencian.

"Fit-fitnah..apa yang fitnah jika kau mengatakan tentang ukuran da-dadaku!"

"APAAAAAAA?!" teriak para cowok di kantin dengan hidung berdarah. Naruto menggelemetukkan gigi-giginya hingga batang lollipopnya patah. Ino sedikit bergidik ketakutan ketika aura membunuh Naruto muncul.

"Jangan sembarangan, kau yang memukul wajahku duluan!"

"Ka-karena kau Hentai!"

"ALASAN YAWARAKAI-SAN BENAAAAAAR!" teriak para cowok di kantin dengan mata berapi-api. Beberapa siswi saling berbisik dengan wajah ketakutan ke arah Naruto. Namikaze Naruto benar-benar tidak terima.

"Kau..rasanya aku ingin mematahkan lehermu!" Naruto maju selangkah. Hinata mundur perlahan. Entah kenapa rasanya pemuda di depannya ini adalah sesosok pemuda bersurai kuning yang dia lihat di bailk celah lemari hiasnya. Hinata merasa aura ini sama dengan aura yang pernah dia rasakan. Tangan Naruto terkepal erat.

"AKU AKAN-"

"J-JANGAAAN!"

Naruto mendengus pelan. Tangannya dengan cepat maju ke arah leher Hinata, tetapi Hinata lebih cepat menahan tangan kanan Naruto sehingga gelas yang dipegangnya tumpah dan mengenai rok hitam pendeknya. Semuanya melotot tidak percaya.

"Yawarakai-san," gumam Ino tidak enak. Hinata menundukkan kepalanya. Tetesan-tetesan air terjatuh perlahan-lahan dari ujung roknya menuju ke lantai. Hinata langsung berlari keluar kantin dan saat sang gadis bermata Lavender melewati tubuh Naruto, putra Namikaze Minato itu mendengar kalau Hinata mengatakannya..

"Kau pembunuh!"

Mata Naruto bergetar. Apa Hinata tahu perbuatannya. Naruto menoleh ke arah Ino dan Ino membuat isyarat supaya meminta maaf. Naruto menghela napasnya perlahan-lahan. Dia menatap seekor nyamuk yang tampaknya melayang sedikit limbung akibat kenyang menghisap darah di leher Hinata. Naruto meninju mahluk kecil tersebut hingga tertempel di tembok dan langsung mati.

'Padahal aku ingin membunuh mahluk ini yang hinggap di lehernya,' Naruto menatap datar ke Taman Konoha. Giginya perlahan-lahan menghancurkan permen lollipop yang telah lepas dari batangnya tadi.

'Tapi kenapa dia mengatakan aku pembunuh? Apa dia benar-benar Hyuuga,'

Hipotesis terus berputar di otak Naruto..


Setelah meninggalkan keributan di kantin. Hinata langsung membasuh rok pendek hitamnya sekaligus membasuh wajahnya yang begitu pucat. Jantungnya sangat berdebar ketika melihat tangan Naruto melesat cepat menuju lehernya. Entah kenapa, Hinata merasakan tangan itu adalah tangan yang sama. Tangan yang pernah menebas kepala ayahnya tanpa berperikemanusiaan.

Hinata kini duduk bersandar di tembok toilet sekolah dengan hembusan napas tidak teratur. Jantungnya masih berdebar kencang dan sang Hyuuga berusaha menormalkannya senormal mungkin. Hinata berdiri perlahan-lahan dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke kelasnya. Saat di dalam kelas dia langsung duduk dan menelungkupkan kepalanya dengan tatapan sendu.

'Neji-nii, hari pertama aku sekolah aku bertemu seorang laki-laki yang memiliki rambut sama dengan pembunuhmu dan pembunuh keluarga kita. Apakah memang dia si pembunuh itu,' Hinata mengingat masa-masa sebelum dia pindah ke Oto. Saat itu dia masih kelas 1 SMP dan Neji sering melatihnya teknik gerakan pertarungan khas keluarga Hyuuga. Neji merupakan sosok Hyuuga yang tangguh dan kuat. Meskipun begitu, Neji merupakan sosok kakak penyayang yang sering memberikan Hinata petuah dan juga semangat hidup. Hinata mengangkat perlahan wajahnya dan tanpa terasa, setetes air mata jatuh di sudut mata kanannya. Hinata mengelapnya dengan cepat dan pandangannya langsung memandang pemandangan di jendela luar KHS. Hinata dapat melihat kemegahan Kota Konoha yang begitu mewah.

Tuk! Hinata merasakan kepalanya dipukul pelan oleh seseorang. Gadis Hyuuga itu menoleh ke samping kanannya dan mendapatkan Naruto berdiri di sampingnya (dengan posisi agak membungkuk) sambil meletakkan sebuah lollipop di atas surai indigonya. Mata Hinata melirik ke atas lalu ber gerak ke samping kanan. Alisnya membentuk suatu ekspresi kesal.

"A-apa maumu?!"

"Bisakah kau berbicara tanpa awalan yang gagap?" tanya Naruto dengan nada datar. Hinata menggembungkan pipinya. Orang ini benar-benar menyebalkan!

"Ini," Naruto melempar lollipop berwarna ungu itu ke meja Hinata "Lollipop rasa anggur. Tadi minuman yang kau minum adalah rasa anggur-"

"Kau menjilat bekas minuman yang tumpah tadi?!"

"Bodoh," Naruto membuka lollipop rasa jeruknya "Aku menanyakannya ke ibu kantin. Tidak mungkin aku melakukan hal rendah tersebut hanya karena minta maaf kepadamu.." mata Naruto memandang datar ke depan. Wajah sang Namikaze begitu tenang "..Yah, memang saat ini aku meminta maaf karena kejadian tadi. Saat itu aku ingin memukul nyamuk yang sedang mengambil darahmu tanpa izin-"

"Nyamuk?!" mata Hinata melebar. Dia menggosok perlahan leher kanannya dan mendapatkan sebuah bentolan di sana. Naruto memandang sekilas ke arah Hinata.

"Kuharap kau memaafkanku,"

Lavender Hinata melebar. Entah kenapa saat melihat sikap Naruto yang sekarang ini membuat dirinya mengatakan kalau Naruto bukanlah si pembunuh itu. Hinata merasakan dadanya terasa hangat dan entah kenapa dia merasa sedikit lebih tenang. Hinata membuka lollipop rasa anggur itu dan mengemutnya perlahan. Naruto melirik sekilas ke arah Hinata dan tiba-tiba mendengus pelan.

"Kenapa?!" tanya Hinata dengan nada kebingungan. Naruto tersenyum dengan loliipop yang masih tertempel di bibirnya.

"Wajahmu lucu ya saat mengulum sebuah lollipop," kata Naruto dengan nada sedikit memuji.

Blush..wajah Hinata perlahan-lahan memerah dan dia langsung memalingkan wajahnya dengan tatapan kesal. Hinata menepuk-nepuk kedua pipinya dengan kedua tangannya namun panas di pori-pori wajahnya tetap tidak menghilang. Gadis bersurai indigo itu langsung menghantamkan keningnya ke meja secara brutal dan berkali-kali tanpa henti. Naruto yang melihat sikap Hinata hanya memasang poker face dengan alis yang bertautan kebingungan.

"Kau kenapa Yawarakai-san?"

Hinata menghentikan kegiatannya dan menatap Naruto penuh arti. Hinata melepaskan lollipopnya dan memandang permen batangan itu dengan tatapan yang begitu sendu.

"Ada apa?" tanya Naruto kembali. Hinata menghela napasnya perlahan-lahan.

"Aku juga minta maaf Namikaze-san. Maaf karena.." Hinata memandang sedih lollipop tersebut "..Karena mengatakan kau adalah pembunuh,"

Naruto menaikkan alisnya perlahan-lahan. Sang Namikaze kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi dan menaruh kedua tangannya di belakang kepala.

"Oh. Aku tidak apa-apa tentang hal tersebut. Mungkin beberapa orang yang baru kenal akan mempersepsikan diriku seperti pembunuh,"

Hinata mengerling sekilas ke arah Naruto dan matanya kembali menatap lollipop rasa anggur tersebut. Dia kemudian mengulumnya kembali.

"Yawarakai-san,"

"Hm?"

"Apa matamu memang seperti itu?"

Jantung Hinata sedikit melebar. Dia memandang ke arah Naruto dengan tatapan yang sedikit lebih tajam. Ekspresi remaja bersurai kuning itu tampak tenang dan datar. Naruto masih menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kedua tangan yang berada di belakang kepala.

'Apa yang harus kujawab. Apa aku harus mengatakan kalau mata ini memang mata asliku sejak lahir. Matte, jika dia pembunuh itu maka dia tahu aku pasti Hyuuga. Aku yakin beberapa orang memang tahu soal ciri khas keluarga Hyuuga, namun pertanyaannya..' Hinata terus mengawasi Naruto yang tetap tampak menunggu '..Kenapa dia mempertanyakan hal ini kepadaku? Jika dia tidak tahu mata ini kenapa jenis pertanyaannya seperti,' Hinata meremas kedua tangannya yang tampak sedikit berkeringat. Napasnya mulai sedikit tidak teratur.

'Apa yang harus kujawab?!' Hinata menundukkan kepalanya. Pikirannya melayang mencari jawaban yang terbaik dan paling terbaik, agar laki-laki bersurai kuning yang dia curigai sebagai sang pembunuh tidak akan mengasumsikan dirinya sebagai Hyuuga.

"Kalau kau tidak mau menjawab, tidak apa-apa. Mungkin aku-"

"Mata ini adalah transpalasi dari temanku yang seorang Hyuuga!"

Naruto menaikkan alisnya perlahan-lahan. Bola birunya melirik sekilas ke arah Hinata.

"Transpalasi? Berarti.."

"Ya, aku dulu buta dari kecil. Tetapi pada saat umur 10 tahun, teman dekatku yang bermarga Hyuuga sedang berada dalam kondisi kritis karena dia terkena kanker otak. D-dia, sebelum mati dia.." Hinata menutup wajahnya. Naruto memandang datar ke arah Hinata. Tampak iris safir itu tidak bersimpati sedikitpun.

'Maafkan aku Kami-sama karena telah berbohong,' batin Hinata yang kini wajahnya berada di bawah meja. Jantung Hinata masih berdebar. Apakah Namikaze Naruto mempercayai ceritanya. Hinata yang tidak pernah berbohong dan baru kali ini berbohong merasakan ceritanya seperti jalanan di dekat pantai. Datar dan tidak menguras emosi. Hinata menahan napasnya. Apakah Naruto akan memotong ceritanya dan melakukan suatu pertanyaan lain namun masih bersangkut paut dengan pertanyaan pertamanya.

"Oh, gomen menanyakan soal matamu itu."

Hanya itu. Hanya sebuah respon datar dari remaja bersurai kuning tersebut. Hinata mengangkat kepalanya perlahan. Naruto mencabut batang lollipop rasa jeruk dari mulutnya. Kini lollipop itu hanya menyisakan batangnya saja. Naruto melemparkan lollipop itu ke luar jendela dan Hinata dapat melihat batang lollipop lemparan Naruto sejajar dengan tower Namikaze corp. yang berdiri jauh dari Konoha High School.

Naruto tersenyum tipis "Permen lolli-ku sudah habis. Aku pergi keluar sebentar Yawarakai-san,"

"Matte!"

Naruto yang sudah berdiri dan berjalan dua langkah di depan Hinata hanya menoleh ke belakang perlahan-lahan. Sang Namikaze memandang datar ke arah gadis bersurai indigo tersebut.

"Ada apa?"

Hinata menunjuk lollipop rasa anggur di mulutnya dengan gaya lucu.

"Lollipop-ku belum habis"

Naruto menaikkan alisnya "Lalu?"

"A-aku punya satu pertanyaan untukmu," Hinata merobek secarik kertas dari bukunya dan menggambar sesuatu di kertas tersebut menggunakan pensilnya. Gadis bermata lavender itu mengangkat sobekan kertas tersebut dan menunjukkannya ke arah Naruto dengan gerakan sedikit gugup.

"A-apa kau tahu lambang ini Namikaze-san?"

Mata Naruto sedikit melebar. Dia langsung membalikkan kepalanya dan seluruh tubuhnya kini membelakangi Hinata. Safir Naruto sedikit bergetar.

'Bagaimana. Bagaimana. BAGAIMANA DIA TAHU TENTANG LAMBANG KELUARGA KAA-SAN?! BAGAIMANA DIA TAHU TENTANG LAMBANG KELUARGA UZUMAKI?!' Naruto memejamkan matanya 'Keluarga Kaa-san memang tidak seterkenal keluarga Tou-san. Tetapi mungkin ada beberapa orang yang tahu tentang lambang keluarga Uzumaki karena mereka bergerak di bidang kelas menengah perdagangan. Tapi,' Naruto melirik sekilas ke arah Hinata 'Apa maksud dia menanyakan lambang spiral itu kepadaku? Aku saja memakai marga Tou-san di belakang nama. Apa dia tahu kalau marga Kaa-san adalah..ah tidak mungkin! Kenapa dia menanyakan hal tersebut kepadaku! Bukan ke si bodoh Lee atau si tolol Bee,' Naruto membalikkan badannya ke arah Hinata dan tersenyum tipis. Hinata menurunkan kertas tadi dan memandang sedikit tajam ke arah Naruto. Dua mata itu saling bertemu dan nampak perang dingin mulai keluar. Perasaan hangat yang baru saja terjadi kini hilang. Keduanya nampak menunggu dan saling waspada.

"Itu," Naruto menggaruk pipi kanannya perlahan "Adalah lambang keluarga Uzumaki," Naruto terdiam sejenak. Hinata benar-benar menunggu kelanjutan perkataan Naruto.

"Aku hanya tahu itu lambang Uzumaki. Yah..mereka pernah memasangnya di kargo kapal milik keluarga mereka dan di bawah lambang itu ada nama keluarga mereka. Me-memangnya ada apa Yawarakai-san?" Naruto tersenyum tipis. Berusaha memasang senyuman terbaiknya.

"Tidak apa-apa," Hinata mencabut batang lollipop rasa anggurnya yang kini menyisakan batangannya saja. Mata lavendernya menatap sendu batang lollipop tersebut lalu beralih ke arah sosok Namikaze Naruto.

"Hanya saja teman Hyuuga-ku yang mentranspalasi mata ini ke mataku mengatakan kalau," Hinata membuang lollipop itu ke jendela. Naruto melirik sekilas ke arah lollipop tersebut dan safirnya nampak sedikit bergetar. Batangan lollipop Hinata sejajar dengan tower perusahaan ayahnya dari kejauhan.

"Lambang spiral ini adalah kesukaannya dan orang-orang Konoha pasti tahu arti lambang ini yang sebenarnya.."

Naruto menundukkan kepalanya.

"Oh," gumam Naruto singkat. Hinata juga menundukkan kepalanya. Hatinya terus meminta maaf kepada Kami-sama karena terus menerus berbohong.

Naruto mengangkat kepalanya dan berdehem pelan. Hinata pun mengangkat kepalanya perlahan-lahan.

"Jadi lollipop kita berdua sudah habis kan?" tanya Naruto sambil tersenyum tipis. Hinata menganggukkan kepalanya dengan sikap sedikit kikuk. Naruto membalikkan badannya dan langsung berjalan keluar dengan langkah cepat.

"Na-Namikaze-san!"

Naruto berhenti sejenak 'Apa lagi?!' batin sang Namikaze sedikit geram. Naruto menoleh dan berusaha tersenyum.

"Ada apa Yawarakai-san?"

"Sudah hampir jam masuk kelas," kata Hinata sambil telunjuk kanannya menunjuk dinding jam. Beberapa siswa-siswi juga berjalan dengan cepat memasuki kelas 2-A. Naruto yang berdiri di depan pintu menghela napasnya.

"Yah, aku ada.." Naruto membalik badannya dan tanpa menoleh dia langsung menyambung kalimat pembicaraannya "..Urusan sebentar!"

Naruto pun keluar dengan langkah kesal. Ino yang baru saja mau masuk ke kelas langsung menaikkan alisnya begitu melihat wajah sang Namikaze berkerut penuh kekesalan dan sedikit amarah.

"Mau ke mana Naruto? Ini sudah hampir jam masuk kelas," kata Ino dengan nada lembut.

"AKAN KUSURUH TSUNADE MEMANJANGKAN JAM ISITIRAHAT! AKU MAU MENENANGKAN DIRIKU!" Naruto melewati Ino tanpa menoleh sedikitpun. Ino menahan napasnya. Tampak Yamanaka itu sedikit merasakan ketakuta ketika aura membunuh Naruto keluar dengan pekat.

Di dalam kelas Hinata kembali menelungkupkan wajahnya. Otaknya terus berputar untuk mencari kebenaran dalam setiap perkataan Naruto. Hinata terus mengingat bagaimana sikap Naruto ketika dirinya langsung 'menyerang' remaja bersurai kuning itu dengan lambang yang mungkin sedikit krusial. Hinata menahan napasnya. Dia dan Naruto tampaknya sedikit melakukan 'gerakan' saling serang-menyerang. Entah kenapa Naruto menanyakan tentang mata kepadanya. Hinata mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah tower Namikaze corp. yang begitu megah.

'Aku masih mencurigaimu, Namikaze-san..' batin gadis bersurai indigo tersebut.

Sementara Naruto yang bersandar di atap sekolah dengan dasi yang berkibar ditiup angin hanya mengangkat kepalanya ke atas. Safirnya yang sewarna dengan langit biru hanya memandang tajam ke atas. Dia menolehkan kepalanya sedikit ke belakang dan menatap tajam tower Namikaze corp. yang tampak superior di tengah-tengah kota megah Konoha. Naruto membetulkan sedikit letak poni kuningnya yang nampak menutupi sebagian wajahnya akibat tiupan angin.

'Aku masih mencurigaimu, Yawarakai-san..' mata Naruto menyipit tajam '..Atau Hyuuga-san!'

'Perang' saling mencari tahu baru dimulai! Hanya Tuhan yang tahu takdir mereka, siapa yang akan memenangkan permainan ini dengan berdiri di atas genangan darah lawannya!

TBC

Author Note:

AHAAAI! Akhirnya up chap 2. Arigatou ne atas semua respon positif serta kritiknya yang berkualitas minna..

Tentang sejajar dari lollipop NaruHina dengan tower Namikaze corp. mengerti kan? Yah kenapa sejajar karena tower perusahaan Minato berada di kejauhan jadi batang lollipop Naruto maupun Hinata saat dilempar keluar jadi terlihat menutupi tower tersebut.

Dan Readers-san sudah mengetahui tambahan tentang keluarga Namikaze yang lainnya. Hohoho, para Namikaze ternyata memiliki banyak mata-mata dan anjing ya *ditabok Anko, Tsunade dan dilambai Orochi*

So, Icha akan terus membuat mereka berdua saling beradu mencari tahu dan juga, kehidupan sekolah akan Icha coba iringi di tengah perang dingin keduanya. Mudah-mudahan Romancenya dapat dan jujur saja, Icha gak bisa lepas dari Genre Humor^_^

Yang akun Icha balas lewat PM, Icha akan balas yang tidak login ya..

Rrrr: Waaa! Gomen-gomen ne kalau feelnya gak dapet. HuuT_T, Icha memang tidak bisa lepas dari genre 'ngelawak' itu. Arigatou ne..

Mitsu rui: Yippa, arigatou ya Mistu-san. Haha, semoga NH langgeng di sana *di sana apa Cha?* arigatou ne..

Gue: Hahaha, gak apa-apa kok. Nanti Icha akan berusaha yang terbaik untuk fic ini. Arigatou atas saran dan reviewnya ya^_^

amexki chan gak log: Arigatou ne. Nanti akan dilihat kenapa Namikaze family menjadi seperti ini. Dan soal Naruto, hehe..Naruto dan Hinata masih adu dalam pikiran dan saling menebak siapa mereka berdua yang sebenarnya.

Soputan: Wohoho..yaha, ibu tiri memang angker ya^_^ arigatou ne..

Gunbai No Madara: Berperang dalam arti yang lain Gunbai-san. Mereka berdua kini sedang berperang dingin dan siap mencari tahu kebenaran yang sebenarnya. Arigatou ne.

Guest: Hehehe, ini memang tuntuan fic Guest-san. Oke, Icha akan usahain membuat New Fic dengan pair lain. Tapi yah, Icha juga NH Lovers tapi tidak garis keras^_^ arigatou ne

MORPH: Hehehe, gomen kalau kesan Crime-nya hilang. Icha memang tidak ahli soal membuat crime. Arigatou ya.

Hqhqhq: Haha, arigatou karena telah menjadi yang pertama mereview. Soal persiapan Hinata, hihi..kita lihat saja apa yang akan dilakukannya. Dan soal Naruto, uwooo..sabar ya Hqhqhq-san^_^ arigatou ne..

Yap, untuk yang berakun akan Icha balas lewat PM ya. Sekali lagi terima kasih dan..

Jaa ne! arigatou atas reviewnya dan mohon review chap ini, Icha akan terbuka atas semua saran, kritik, dan lainnya^_^

Tertanda. Icha Ren