Part 2: Berteman dengannya
Length: Chaptered
Rating: PG13
Genre: Romance, Angst, Friendship
Main Cast:
Uzumaki Naruto
Hyuuga Hinata
Inuzuka Kiba
Hela napas yang panjang meluncur dengan mulus dari bibir Hinata seraya ia menyandarkan dirinya ke sofa. "Siapa yang memberi itu padamu?" tanya ayahnya, bermaksud pada pot yang bertanamkan bunga matahari di jendela, seulas senyum jahil tampak pada wajahnya. "Seorang anak laki-laki yang memberikan bunga itu padanya." jawab ibu Hinata seraya memosisikan dirinya untuk duduk di samping Hinata. Ayah Hinata tampak agak terkejut, namun hanya menertawakan anak gadisnya, yang kini sedang memasang wajah keheranan.
"Putri kecil kita Hinata ternyata sudah punya penggemar walaupun baru saja seminggu pindah di Jepang?" ayah si gadis hanya terkekeh, diikuti tawa kecil istrinya. "Otousan, jangan begitu. Lagipula aku bukan anak kecil lagi." Hinata merajuk, seraya menenggelamkan wajahnya di lututnya. Ayahnya lalu memosisikan dirinya untuk duduk diantara putrinya dan istrinya.
"Iya-iya, sudah bukan anak kecil lagi." ledek ayahnya sekali lagi, matanya terpaku pada layar TV. "Ssh, otousan. Filmnya sudah mau mulai nih!" rajuk Hinata lagi, matanya juga terpaku pada layar televisi.
Di waktu yang sama, di rumah yang lain, Naruto tampak sedang merajuk di ruang keluarga. "Otousan, Okaasan, kalian benar-benar jahat." protesnya sambil menggembungkan pipinya. "Ayolah, Naruto. Story of Evil itu adalah film yang benar-benar bagus. Itu ratusan kali lebih bagus daripada acara "Discover The New World" yang biasa kau tonton." ujar Minato, Naruto hanya mendengus.
Naruto tidak suka menonton film bersama orangtuanya – semua itu karena orangtuanya suka menonton film yang aneh-aneh. Naruto suka menonton acara "Discover The New World" yang membahas tanaman, dan segalanya yang berkaitan. Bagaimanapun juga, orangtuanya berpikir bahwa semua dokumentasi itu membosankan – Yah, Naruto berpikir bahwa mereka juga punya alasannya. "Aku mau jalan-jalan." ujar Naruto saat filmnya baru saja berputar selama 20 menit – dan seluruhnya membosankan.
Naruto meraih sebuah cardigan tipis dari keranjang cucian yang sudah ia lipat, kemudian berjalan ke beranda. Dia melihat cahaya lampu samar dari lantai pertama rumah keluarga Inuzuka. Orangtua Kiba pasti sudah pulang, dan Naruto tidak mau mengganggunya dan waktu spesial dengan keluarganya.
Naruto lalu keluar dari rumah dan berdiam disana, melihat rumah-rumah yang ada di pinggir jalan. Hidup di wilayah yang kecil seperti ini, jumlah orang tua lebih banyak daripada yang muda. Dulunya hanya ada Kiba dan Naruto, dan tentu saja sekarang ditambah Hinata. Naruto tersenyum sedikit saat Hinata melintas di pikirannya – senyuman lembutnya, suaranya yang halus, dan pemandangannya dari belakang.
Naruto lalu memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Ia melangkah perlahan-lahan, dan berakhir di depan sebuah rumah kecil yang cantik – rumah Hinata. Cahaya samar lampu berwarna kuning bercahaya dibalik tirai putih yang tembus pandang. Naruto lalu berjalan lebih dekat, mendekati rumah itu.
Ia tersenyum pada dirinya sendiri saat ia melihat sebuah pot berwarna pink yang familiar, terpajang di beranda, dekat dengan pintu. Disebelahnya ada tangki siram kecil – dan ia tahu bahwa si bunga matahari telah menemukan rumah baru yang tepat.
"Namikaze-san?" suara yang lembut, familiar yang telah terjebak di pikiran Naruto berputar. Naruto berpikir bahwa itu hanyalah imajinasi belaka – tapi ternyata bukan. Hinata tiba-tiba muncul dari pintu depan. Naruto tampak terkejut melihatnya. Hinata tersenyum malu-malu padanya dan berjalan keluar. Ia melangkah pelan-pelan dan membuka pagar putih yang kecil itu, melangkah keluar sebelum menutupnya lagi.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Hinata, suaranya terdengar bak nyanyian burung bulbul di malam yang indah. "Aku bosan." jawab Naruto singkat seraya menatap Hinata dari ujung rambut ke ujung kaki. Hinata sedang memakai kaus sederhana berwarna putih, dengan rok sependek lutut – itu juga berwarna putih dengan tambahan motif bunga-bunga kecil berwarna lavender. Seperti matanya.
"Kau benar-benar menyukai warna putih." ujar Naruto saat mereka berjalan beriringan dengan kikuknya. "Aku suka putih. Sebenarnya sangat suka." aku Hinata, menundukkan kepalanya dan memandangi jalanan semenjak ia keluar dari rumah. Ia tak ingin Naruto melihat wajahnya yang semerah tomat – entah kenapa ia merasa malu tanpa alasan.
"Berapa umurmu, Hyuuga-san?" Naruto bertanya lagi, tak ingin perjalanan mereka menjadi semakin canggung. "Tahun ini aku 17 tahun." jawab Hinata, dan Naruto kembali berpikir bahwa bahasa Jepangnya benar-benar aneh dan lucu. Nada dan logatnya sungguh berantakan. "Apa kau tidak pergi ke sekolah?" Naruto bertanya lagi saat ia berputar karena mencapai jalan buntu.
"Tentu saja. Tapi sekolah baru akan dimulai minggu depan, bukan begitu?"
"Iya. Dimana kau bersekolah, Hyuuga-san?"
"Konoha Gakuen."
"Aku juga bersekolah disana."
Dan kemudian kesunyian mengambil alih. Keduanya terdiam hingga mereka sampai di depan gerbang rumah Hinata. "Kurasa, aku akan berjumpa denganmu di sekolah, minggu depan?" Naruto bertanya pada si gadis pemalu. Hinata mengangguk malu-malu pada Naruto dan memasuki gerbang. "Hyuuga-san." panggil Naruto, Hinata menoleh dan mendapati Naruto sedang nyengir.
"Tolong jaga bunga matahari itu. Lakukan itu dan aku akan memberimu bunga yang lain." ujar Naruto sebelum berbalik. "Jaa matta, Hyuuga-san." Naruto berbisik seraya berbalik arah. Hinata ingin mengucapkan sampai jumpa, namun si bocah sudah terburu-buru berjalan cepat ke rumahnya. Hinata menatapnya hingga menghilang dari penglihatannya, sebelum menoleh ke pot bunga mataharinya dengan malu-malu.
"Tumbuhlah dengan baik, ya? Jika kau tumbuh dengan baik, Namikaze-kun akan memberimu teman." ia berbisik pada si bunga matahari, seolah-olah bunga itu mengerti apa yang dikatakannya. Ia mengambil tangki penyiram kecilnya dan menyiram pot itu sedikit sebelum memasuki rumah.
"Hinata, kau kembali dengan sangat cepat." panggil ayahnya. Orangtuanya kini tampak sedang memeluk satu sama lain di sofa. "Iya. Kupikir filmnya tidak menarik. Sebaiknya aku tidur saja." kata Hinata sebelum ia pergi ke kamarnya. Ia menutup pintu lalu menyandarkan punggungnya di pintu. Dalam gelap, ia tak bisa melihat apapun.
Kemudian ia berpikir tentang Naruto . Bagaimana senyumannya mengambil alih pikirannya selama seminggu setelah pertemuan pertama mereka. Bagaimana namanya terdengar sangat indah ketika itu meluncur dari lidahnya. Bagaimana bunga matahari darinya itu tampak sangat menerima perhatian yang ia curahkan. Bagaimana ia bisa menjadi sesuatu yang Hinata suka tentang Tokyo.
Mungkin saja itu hanyalah sebuah penantian, atau mungkin saja itu adalah pesona yang ia pancarkan. Hinata tidak yakin, namun paling tidak ia punya sesuatu untuk dinanti di masa depan.
"Demi Tuhan, Naruto, apa-apaan kau?" Kiba memaki seraya melepas rantai yang mengikat sepedanya. "Tak ada yang salah dengan datang awal di hari pertama sekolah, bukan?" jawab Naruto berseri-seri pada sahabatnya, yang kini sudah selesai melepas rantai sepedanya. "Sekolah mulai pukul 8 dan sekarang masih pukul 7 demi Tuhan." protes Kiba seraya mengacak-acak rambutnya dan menaiki sepedanya.
"Berhenti protes, Kiba! Jika kau ingin kursi yang terbaik, maka kau harus datang lebih awal," ujar Naruto saat keduanya mulai bersepeda beriringan. Seminggu berlalu begitu cepat, dan sekarang waktunya untuk masuk sekolah. Kiba dan Naruto sudah menginjak tahun terakhir, dan mereka sangat menanti waktu kelulusan.
Naruto belum bertemu Hinata sama sekali seminggu ini. Hanya sekali, saat Naruto mampir ke rumah Hinata. Walaupun mereka hanya saling memandang dan tersenyum, tak berbicara sama sekali. Naruto merindukannya tanpa alasan – mungkin itu hanya dia yang berharap supaya Hinata jadi temannya atau sesuatu yang mirip dengan itu. Mungkin karena bunga matahari itu juga.
Saat mereka berdua bersepeda melewati rumah Hinata, tiba-tiba mereka mendengar suara seorang pria memanggil mereka. "Hoi! Kau yang berambut pirang dan satunya yang berambut coklat! Kemari!" suara si pria yang berat dan keras memanggil mereka, membuat Naruto dan Kiba mengerem mendadak sepeda mereka dan menoleh ke samping. Pria tinggi dan kurus itu berteriak dari beranda rumah Hinata.
"Maukah kalian mengantar Hinata ke sekolah? Kalian memakai seragam yang sama buruknya dengan putriku!" si pria berteriak, senyum yang lebar tampak di wajahnya. "Kalian pasti putra dari Namikaze dan Inuzuka, bukan? Aku mendengar tentang kalian dari tetangga sebelah," lanjut si pria.
Kiba dan Naruto tahu kalau pria itu adalah ayah Hinata. Mereka tak pernah berpikir bahwa ayahnya adalah orang yang blakblakan. Terutama Naruto. Terutama kalau dilihat dari kepribadian putri dari pria ini yang merupakan gadis paling sopan, lembut, dan manis yang pernah ditemui Naruto – di samping ibunya sendiri tentu saja.
Hinata yang tampak sangat malu muncul dari belakang ayahnya, berseragam musim panas yang manis, rambutnya dibiarkan tergerai. Naruto dan Kiba tampak terpesona selama sesaat, dan tentu saja, Kiba jelas-jelas ternganga melihat si gadis yang begitu cantik.
"Pergilah, putriku! Otousan akan menjemputmu nanti!" si pria, ayah Hinata berkata dalam bahasa Korea dan mencium dahi putrinya sebelum mengantarnya keluar gerbang. "Kalian berdua, jaga putriku." ujarnya sambil menatap mereka dengan tatapan kejam sebelum tertawa keras-keras. Dengan malu-malu Hinata berjalan menuju dua laki-laki itu.
"Ohayou, Namikaze-san, Inuzuka-san." sapa gadis itu seraya membungkuk kecil. "Ohayou, Hyuuga!" jawab Kiba dengan penuh semangat, tersenyum dengan sangat lebar. "Jangan dekat-dekat Kiba, Hyuuga-san. Naik saja ke sepedaku," ujar Naruto kepada si gadis saat Hinata berjalan ke sepeda Naruto dan naik ke sepedanya.
"Tch, tidak adil," gerutu Kiba pada Naruto, seraya menatapnya dengan muram. "Kau lihat? Dia berbahaya." Naruto terkekeh sambil menunjuk Kiba. Hinata tertawa kecil saat mereka berdua saling bercanda. "Baiklah, ayo pergi! Pegangan yang erat, Hyuuga-san." Naruto memberitahu si gadis, yang dengan malu-malu menggenggam erat kemeja musim panas Naruto.
Mereka bertiga mulai menuju ke sekolah, dan itu merupakan perjalanan tak terlupakan untuk mereka bertiga. Perasaan gembira Naruto, debar yang tidak pernah dirasakan Hinata sebelumnya, dan api cemburu yang menyala di dada Kiba. Tiga remaja itu akhirnya sampai di sekolah. Mereka memarkirkan sepeda mereka sebelum berjalan menuju gedung sekolah.
"Apa kau tahu dimana kelasmu?" Kiba bertanya pada Hinata, sebagian dari dirinya berharap gadis itu akan berkata tidak. Namun si gadis mengangguk dan menggenggam tasnya erat-erat. "Aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa, Inuzuka-san, Namikaze-san. Terima kasih atas tumpangannya." Hinata kembali membungkuk seraya pipinya berubah warna menjadi merah muda. Naruto dan Kiba melambaikan tangan padanya sebelum menuju arah yang berbeda – pergi ke arah yang lain.
Tiba-tiba Naruto merasakan pundaknya ditepuk. Ia lalu berbalik dan melihat Hinata menatapnya lurus. "Aku lupa memberitahumu. Bunga mataharinya tumbuh dengan baik." Hinata menunduk, tak ingin bertemu dengan mata Naruto. Ia lalu memaksakan diri untuk mendongak dan wajahnya berubah menjadi pink saat menatap mata biru safir Naruto. Ia lalu berlari sekencang-kencangnya dari kedua bocah itu.
"Apa itu, Naruto?" tanya Kiba, jelas-jelas cemburu.
"Tidak ada." ujar Naruto sambil tersenyum.
