"Bagaimana mungkin anda bisa berkata seperti itu setelah apa yang dialami oleh ibuku. Anda adalah orang yang membuatku merasa bersalah telah terlahir dari rahim ibuku," Naruto memejamkan matanya sejenak, "Dan jika anda bertanya apakah aku mau ikut dengan anda maka jawabannya adalah, tidak. Aku akan terus bersama ibu sampai ia mau memaafkanku atas dosa-dosa yang anda perbuat. Saya harus pergi, permisi"

.

'Ayah tak akan menyerah, Naruto' ujar Minato dalam hati.

.


Naruto by Masashi Kishimoto

Pairing : Mikoto (ibu) and Naruto (anak), etc

Genre : Family, Angsty, love family

Rated : K+ or T

…..


-Lembaran kedua-

- Kakak – Kakakku-

"Tadaimaa" ujar seorang pemuda pirang kepada siapapun yang ada dirumahnya.

"Okaeri" jawab seorang lelaki yang ada disana, singkat.

"Eh, kenapa sepi sekali? Dimana yang lain?" Tanya Naruto kepada sang Kakak. Ia pun mengganti sepatu sekolahnya dengan sandal dan kemudian mendekat kearah Sasuke.

"Entahlah, rumah sudah sepi ketika aku datang" ujar Sasuke sembari menyeruput kopi panas yang sedari tadi dipegangnya.

Naruto memandang sang kakak sejenak dengan pandangan ragu, dan itu membuat Sasuke mengangkat alisnya. "Um, ibu dirumah kan?" Tanya Naruto sedikit ragu kepada sang kakak, dan Sasuke pun hanya membalas dengan anggukan singkat.

Sasuke memandang sang adik sejenak, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Naruto. Sudah jelas sang ibu sangat tidak menyukai kehadiran si pirang, bahkan sebaliknya, sang ibu sering mengatakan hal-hal yang selalu menyakitkan untuknya. Namun tanpa ragu ataupun sungkan sang adik selalu mendekati sang ibu, seakan hal itu tak pernah terjadi.

"sepertinya didapur, aku akan mandi dulu" pamit Sasuke kepada Naruto yang kemudian langsung melengang pergi.

Naruto pun yang mengerti langsung melangkahkan kakinya menuju kearah dapur, hendak menemui sang ibu. Ia intip sejenak sang ibu dari belakang tembok pemisah antara dapur dan ruang makan. Terlihat siluet seorang wanita cantik berambut panjang tengah bergelut dengan peralatan dapur dan sayuran yang ada disana. Dia terlihat terampil dan tak ragu ketika ia harus memotong ikan dan membersihkan sisiknya dengan pisau ditangannya. Naruto kemudian menghampiri sang ibu yang tengah mencicipi sup yang mengepul dari atas kompor. Ia berdiri tepat di belakang sang ibu yang dua puluh senti lebih tinggi darinya, Mikoto yang mengetahui bila sang anak tengah memperhatikannya hanya diam. Menghiraukan kehadiran Naruto dengan tetap sibuk dengan kegiatannya mempersiapkan makan malam. Naruto yang merasa dihiraukan berinisiatif untuk memulai pembicaraan, namun sebelum itu ia mengambil sesuatu di dalam tas ransel miliknya.

"Selamat ulang tahun ibu!" ia menyodorkan sebuah kotak berwarna orange kehadapan sang ibu sembari tersenyum lebar. Dan senyum itu perlahan pudar ketika sang ibu tidak merespon sama sekali, bahkan untuk sekedar menerima pemberian sang anak. Ia hanya berlalu lalang di depan Naruto, seolah anak itu tidak pernah ada sejak sepuluh menit yang lalu. "Maaf kemarin aku lupa kalau ibu ulang tahun, sebagai permintaan maafku aku memberikan ini" masih dalam posisi yang sama, yaitu dengan satu tangan terangkat kedepan dengan sebuah kotak berukuran sedang ditangannya. Masih tidak mendapat respon membuat Naruto perlahan menurunkan tangannya dan meletakan kotak tersebut di meja makan yang berada tepat di belakangnya. Tak terasa semua makanan kini telah siap di meja makan, Mikoto yang melihat sebuah kotak berwarna orange di meja makan itu mengambilnya. Membuat Naruto kembali mengembangkan senyum, berpikir bahwa sang ibu akan membukanya. Namun sayang, senyum Naruto kembali pudar ketika sang ibu membuang kotak itu ke lantai tepat dihadapannya tanpa membukanya terlebih dahulu. Bibir terkatup rapat-rapat, sorot matanya terlihat terluka. Dengan kesusahan dia pun bersimpuh di atas lantai, mengambil kotak tadi dan membukanya. Air matanya menetes ketika ia melihat cangkir dengan lukisan wajah sang ibu pecah menjadi dua bagian. Namun dengan cepat ia hapus air mata yang mengalir dari safir miliknya itu dengan cepat. Mikoto hanya duduk diam dikursi sembari menatap Naruto dengan pandangan datar dengan tangan terlipat di depan dada, seolah-olah pemuda pirang itu pantas diperlakukan seperti itu.

Naruto mendongak menatap sang ibu dengan pandangan sendu, matanya memerah karena menahan air mata yang terus memaksa keluar dari safir indahnya.

"I-ibu jangan seperti ini, aku tidak suka…" ujar Naruto lirih kepada sang ibu.

Mikoto mendekat kearah sang anak dan memandangnya dengan lurus.

"Kau pikir aku peduli kau suka atau tidak?" bisik Mikoto tepat di hadapan Naruto, membuat si pirang tak kuasa mengalirkan air matanya yang sedari tadi ia tahan. Naruto menundukan kepala, menatap lantai di bawahnya.

"A-aku juga anak ibu, apa salah jika aku ingin ibu menyayangiku seperti halnya kak Sasuke dan Kak Itachi?" ujar Naruto di sela-sela isakannya.

"Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku, hah?" nada bicara sang ibu naik satu oktaf, membuat Naruto tersentak kaget. "sini!" Mikoto menarik salah satu lengan Naruto dengan kasar dan menyeretnya ke kamar mandi.

"I-ibuu, sakit bu, lepas…" Naruto meronta, mencoba melepaskan tangan sang ibu yang mencengkram erat dilengannya, namun gagal. Keadaan tubuh Naruto tidak mendukung sama sekali.

.

.

.

"Kumohohon, berhen-uhuk-uhuk"

Sasuke menghentikan aktivitasnya, wajahnya mengeras ketika ia mendengar suara memohon dari orang yang sangat familiar baginya. 'Naruto!' Sasuke pun langsung berlari menuju ke lantai bawah, tempat dimana Naruto dan sang ibu berada. Jantung Sasuke berdetak dua kali lebih cepat, berharap bahwa sang ibu tidak sedang melakukan hal gila terhadap sang adik.

"Ibu! Apa yang ibu lakukan!" pekik Sasuke saat ia melihat sang ibu tengah menyiram Naruto dengan air di kamar mandi, sungguh, pemandangan yang mengerikan.

Sasuke pun mendekat kearah dua orang itu dan dengan sigap membantu Naruto berdiri, ia memandang sang ibu dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Tak habis pikir dengan apa yang sang ibu lakukan terhadap Naruto. Dan Mikoto sendiri hanya memalingkan mukanya kearah lain, tidak mau menatap wajah sang anak tengah, sasuke.

"Ibu sungguh tidak punya hati, ibu-"

"S-sudah kak…" perkataan Sasuke terpotong, ia pun menatap sang adik yang tampak terisak dan kedinginan. Naruto mencengkram lengan Sasuke erat.

Sasuke menatap Naruto sesaat, lalu menghela nafas kasar. Ia pun kemudian merangkul sang adik dan menggiringnya menjauhi sang ibu, merasa jika berlama-lama dengannya hanya akan semakin memperburuk keadaan.

.

.

.

"Sasuke-san?"

Seorang lelaki dengan masker diwajahnya menatap sang atasan dengan pandangan malas, sudah setengah jam yang lalu sejak ia menghadiri rapat yang saat ini masih terus berjalan. Namun ia sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari sang atasan, mungkin pikirannya sedang melayang entah kemana. Dan itu membuat lelaki bernama Kakashi menghela nafas panjang.

"Apa yang sedang anda pikirkan saat ini Sasuke—san, asal kau tahu saja, saat ini semua mata sedang tertuju kepadamu" bisik lelaki itu tepat ditelinga sang atasan yang duduk tepat disampingnya.

Sasuke melirik sekilas kearah Kakashi, dan kemudian menatap satu persatu relasi bisnisnya yang kini tengah menatapnya dengan pandangan menuntut. Sasuke pun menghentikan kegiatannya mengetuk-ngetukan pulpen diatas meja sejak rapat itu dimulai dan mulai fokus terhadap sekelilingnya. Ia pun membereskan berkas-berkasnya diatas meja dan berdiri.

"Sebaiknya kita lanjutkan rapat ini besok, aku ada urusan penting. Permisi" dengan cepat ia pun pergi meninggalkan ruang rapat itu, dan juga berpasang-pasang mata yang memandangnya dengan pandangan bingung.

Sasuke berjalan melewati koridor panjang perusahaan tempatnya bekerja. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat sekedar untuk menyapa, sedangkan yang disapa sendiri tidak terlalu mengurusi. Ia kemudian duduk disalah satu ruangan ia bekerja, dan kemudian mendudukan diri disana. Sasuke mengurut pelipisnya perlahan, mencoba menghilangkan sakit kepala yang menderanya sejak semalam. Matanya terpejam, namun sedetik kemudian terbuka. Ia sandarkan tubuhnya disandaran kursi kerja yang ia duduki sekarang. Ia kembali mengingat kejadian semalam, kejadian yang menjadi penyebab sakit kepalanya sekarang ini.

.

.

-Flashback-

.

"Janji ya kak?" Naruto memandang sang kakak, Sasuke, dengan memohon. Sasuke hanya diam, tidak berniat untuk menanggapi. "Kak? Janji, jangan ceritakan ini kepada kak Itachi dan ayah" Naruto menggenggam telapak tangan sasuke yang dingin, berharap bahwa sang kakak mau mengerti. "Aku tidak ingin ada pertengkaran dikeluarga kita" Naruto memandang wajah Sasuke dengan lekat, "apa lagi karena aku" Naruto menunduk.

Sasuke tidak yakin, sebenarnya ia tidak mau menuruti keinginan sang adik. Kejadian ini harus ia ceritakan kepada sang ayah dan Itachi, ia tak ingin kejadian ini terulang. Namun ia juga tidak ingin Naruto menyalahkan dirinya sendiri atas pertengkaran yang terjadi antara kedua orang tuanya, ia tak ingin kembali membebani sang adik. Ia tatap Naruto yang kini tengah terbaring di ranjang.

"Janji ya kak?" Naruto kembali menatap Sasuke, nafasnya semakin memburu. Mungkin karena demam yang menjadi tamu baru baginya.

Sasuke mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Naruto. Pemuda pirang itu tersenyum lebar, Sasuke yang melihatnya membalasnya dengan senyuman tak kentara. Sasuke mengelus helaian pirang milik Naruto dan kemudian merapikan selimut sang adik. Tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk lepas dari dunia nyata dan memasuki dunia mimpi, meskipun begitu Sasuke masih belum beranjak dari tempatnya. Lama ia tatap wajah Naruto yang terlihat damai, hatinya sakit ketika kembali memikirkan janji yang mereka buat tak kurang dari tiga puluh menit yang lalu. Namun ia telah berjanji kepada sang adik, dan ia akan menepati janji itu. Semoga.

.

-End of Flashback-

.

.

Terhanyut dalam kejadian semalam membuatnya lupa bahwa jam sudah menunjukan pukul enam lebih. Sasuke menghela nafas, ia pun memutuskan untuk meninggalkan ruang kerjanya. Ia bereskan semua lembaran kertas dan map-map yang ada diatas meja kerjanya, ia putuskan untuk membawa pulang beberapa pekerjaannya yang belum sempat selesai. Belum sempat ia berdiri ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya, membuatnya mengerang kesal karena keinginannya untuk pulang menjadi tertunda.

"Masuk" ujar Sasuke, berharap bahwa orang yang ia temui sedang tidak akan membicarakan hal penting.

"Permisi, apa anda Uchiha Sasuke?" ujar seorang pria diseberang sana.

Pria itu kemudian sepenuhnya memasuki ruangan sang Uchiha, setelah sebelumnya hanya berdiri diambang pintu. Sasuke sendiri tidak memperhatikan tamunya, dan malah asik dengan berkas-berkas yang ada diatas meja kerjanya. Sibuk membereskan pekerjaannya yang menuntut untuk diselesaikan.

"Hn" jawab Sasuke singkat, "sebaiknya cepat katakan apa perlumu, aku tidak punya banyak waktu" sambung sang Uchiha tanpa melihat sang tamu yang kini mulai mengerutkan keningnya.

"Aku ingin membicarakan tentang adikmu, Naruto" pria itu mendudukan diri tepat di depan meja kerja Sasuke tanpa permisi, seolah-olah apa yang ingin ia bicarakan lebih penting daripada tata karma kepada seorang Uchiha.

Sasuke merespon dengan cepat ketika pendengarannya menangkap nama sang adik terucap dari pria yang terdengar asing baginya. Ia pun langsung menatap pria yang sedari tadi memulai pembicaraan dengannya.

"Kau?" Sasuke menatap pria yang ada di depannya bingung.

"Perkenalkan, aku Minato Namikaze. Ayah biologis Naruto"

Sasuke diam. Dengan cepat ia cerna perkataan orang yang ada dihadapannya kini. Dua bola mata safir, rambut pirang mencolok, ia seperti melihat bayangan Naruto di masa depan. Tidak salah jika orang bernama Minato itu mengaku sebagai ayah biologis dari Naruto, orang-orang pun akan mengatakan hal yang sama ketika kedua orang berambut pirang itu bersama. Dan apa maksud orang itu mengatakan bahwa ia adalah ayah biologis dari Naruto?.

"Apa maksudmu?" Sasuke menatap Minato dengan tajam.

"yah, mungkin kau sudah mengerti kemana arah pembicaraan kita" Minato melipat kedua tangannya di dada, ia tatap sang Uchiha tengah dengan ramah. Berbanding terbalik dengan sang Uchiha. "Aku ingin Naruto tinggal bersamaku dan menjadi anak sah ku", pernyataan Minato tadi membuat Sasuke mendengus geli yang mungkin lebih terdengar seperti meremehkan.

"Atas dasar apa kau berbicara seperti itu?" sang Uchiha bungsu berdiri dari singgasananya, ia langkahkan kakinya kearah jendela besar yang berada di belakang meja kerjanya. Jendela yang tepat menghadap ke pusat kota Konoha.

"Aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan beberapa tahun silam. Memberikan kehidupan baru, semua fasilitas pendukung untuk kelangsungan masa depannya, kebahagiaan dengan keluarga baru yang mencintainya..." Ujar Minato dengan tatapan menerawang.

"kau tidak perlu memberikan itu, Naruto sudah memiliki semuanya" Sasuke masih menatap pemandangan indah Konoha lewat jendela kerjanya.

Dan…" Sasuke melirik kearah Minato, menanti apa yang akan dia katakan selanjutnya. "Aku ingin memberinya ibu baru yang benar-benar menyayanginya".

Sasuke terdiam, tidak tahu lagi apa yang harus akan dia katakan. Entah mengapa separuh dari hatinya menyetujui perkataan Minato. 'Ibu baru yang benar-benar menyayangi Naruto' kalimat itu terus terngiang di kepala sang Uchiha. Sasuke kemudian kembali mendudukan di singgasananya, sedikit terkejut karena lelaki pirang itu meletakan amplop besar berwarna cokelat di meja kerjanya.

"Kau hanya perlu menandatangani ini" ujar Minato sembari meletakan pulpen miliknya ke atas amplop cokelat pemberiannya tadi. Sasuke kembali dibuat bingung ketika Minato berdiri, hendak pergi dari kantornya. Mengingat bahwa apa yang mereka sedang bicarakan belum berakhir. "Aku beri kau waktu satu minggu untuk memikirkanya…" dan Minato pun pergi, meninggalkan beban lain kepada Sasuke.

.

.

.

"J-jangan bu.." ujar Naruto sembari mencoba meraih kartu peserta lomba pementasan piano yang kini berada di genggaman Mikoto, sedangkan sang ibu sendiri hanya menatap sang anak tanpa perasaan.

Bukannya Naruto tidak memperbolehkan sang ibu untuk sekedar melihat kartu peserta miliknya, tentu dia akan meminjamkannya dengan senang hati jika sang ibu tidak memegang pemantik api disebelah tangannya yang kosong dan mengancam akan membakarnya. Ya, dengan senang hati Naruto akan pinjamkan kartu itu. Namun kenyataannya sang ibu kini tengah memegang pemantik api, bersiap untuk membakar kartu peserta milik sang anak.

"Dengan begini kau tidak akan bisa mengikuti lomba konyol itu, dan mempermalukanku di depan umum" Mikoto mulai menyalakan pemantik api miliknya dan meletakannya tepat di bawah kartu peserta yang tergantung bebas disalah satu tangannya yang lain.

"J-jangan…" Naruto memandang sang ibu penuh harap.

Naruto mencoba meraih, namun sekeras apapun usahanya tetap saja ia tidak bisa meraih kartu tersebut. Berusaha menghindari sang anak, Mikoto pun mendorong Naruto, dan tentu saja hal itu membuat si pirang terjatuh ke lantai.

"Baiklah" Mikoto pun memadamkan pemantik api tersebut, dan memandang Naruto penuh arti. Dan Naruto sendiri pun menghela nafas lega. "Tapi silahkan kau ambil sendiri", dan tanpa rasa kasihan sama sekali, Mikoto kemudian melemparkan kartu tersebut ke luar jendela. Naruto memandang sang ibu dengan tatapan tidak percaya, Mokoto sendiri hanya menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Naruto kemudian menuju ke arah jendela tempat sang ibu tadi membuang kartu peserta miliknya, dan seperti yang ia duga, kartu itu telah mengapung dengan indah di atas kolam renang milik keluarga Uchiha. "Selamat mencoba," Mikoto pun pergi meninggalkan Naruto yang masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan sang ibu kepada dirinya.

Air mata Naruto mulai mengalir disalah satu safir miliknya, namun dengan cepat ia menghapusnya. Ia tak ingin terlihat lemah, ia harus kuat. Dia sudah bertahun-tahun diperlakukan seperti itu oleh sang ibu, dan seharusnya hal itu akan membuatnya menjadi kuat. Naruto kemudian tersenyum, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia adalah anak lelaki yang kuat. Ya, sebagai lelaki ia tidak boleh terlalu mudah untuk menangis, menangis hanya untuk anak yang lemah. Dan dia bukanlah orang yang lemah. Ia pun perlahan melangkahkan kakinya menuju ke taman belakang, menuju ke kolam renang dibelakang rumah. Perlahan ia menuruni tangga dengan tongkat miliknya hingga kini ia telah sepenuhnya berada dilantai dasar kediaman Uchiha. Rumah sangat sepi, tentu, hanya ada sang ibu dan dirinya yang ada di rumah tersebut. hari ini hari jumat, ia pulang lebih awal. Tapi tidak demikian dengan ayah dan kedua ayahnya, seperti pekerja yang lain mereka akan pulang pada pukul empat sore, bahkan bisa lebih jika keadaan tidak memungkinkan.

Naruto kemudian berjalan mendekati kolam renang yang berada di belakang kediamannya, memang kolam itu tidak terlalu luas, namun kedalaman kolam renang itu bahkan bisa menenggelamkan tubuh Naruto sepenuhnya. Kolam renang sedalam dua meter terlihat kecil di mata sang kakak, Itachi, yang merupakan mantan atlet renang semasanya. Dengan bantuan tongkatnya ia pun kini sudah terduduk di pinggir kolam renang tersebut, perlahan ia acungkan tongkatnya kearah kartu yang tengah mengambang tepat di tengah-tengah kolam. Namun sayang, antara Naruto dengan tengah kolam terlalu jauh, ia pun kemudian memajukan dirinya hingga kini separuh tubuhnya berada diatas kolam. Hanya butuh sentuhan kecil saja maka pemuda blonde itu akan terjatuh ke kolam, Naruto sudah tahu hal itu, dan ia sangat berhati-hati.

'dapat!'

Naruto tersenyum lebar tatkala tali kartu peserta lomba itu sudah menggantung rapuh di tongkatnya. Pelan, pelan,...

Dan, yup. Kartu itu kini telah aman di tangan sang pemilik. Naruto kemudian berdiri menggunakan tongkat bantu miliknya.

"Untunglah, jika tidak a-AAAA!"

BYURR!

.

.

.

Itachi memandang pemuda yang ada dihadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara marah, kecewa, sedih, semuanya menjadi satu. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda yang kini duduk dihadapannya. Ya, pemuda itu adalah Sasuke, adik kandungnya sendiri. Itachi menatap sebuah amplop besar berwarna cokelat yang Sasuke sodorkan kepadanya, dan si sulung sendiri sama sekali tidak berminat dengan hal tersebut. lama, tidak mendapat respon Sasuke pun meletakkan amplop tersebut di depan sang kakak, Itachi. Itachi melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian menghela nafas dengan kasar.

"Apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan, Sasuke!" kerasnya suara Itachi membuat beberapa orang yang ada di restoran tempat mereka duduk itu kini memandang mereka dengan pandangan risih. "Aku tidak akan menyerahkan Naruto kepada orang lain begitu saja, dia itu adik kita Sasuke. Naruto adik kita!" Itachi kemudian meraih gelas yang ada di depannya dengan kasar dan meminum isinya dengan cepat. Sasuke sendiri hanya menatap dengan datar.

"Aku tahu, bahkan aku lebih mengetahui dirinya daripada kau, Itachi!" Sasuke memandang sang kakak dengan tajam, "aku hanya ingin dia bahagia, aku hanya ingin dia bisa tumbuh di lingkungan yang normal. Dengan ibu dan ayah yang menyayanginya! Apa aku salah?" nafas Sasuke memburu, mulai terbawa emosi. "Aku sudah menandatangani surat itu, tinggal kau dan ayah. Kini masa depan Naruto ada ditangan kalian" ujar Sasuke lirih, yang dipikirkannya saat ini hanya Naruto, tidak ada yang lain.

"Bukankah selalu ada jalan lain, kenapa harus menyerahkan Naruto?" Itachi memandang Sasuke dalam, "Aku ingin kita selalu bersama, menjadi keluarga yang utuh." Itachi menatap sang adik dengan pandangan sendu, "apa kau tidak ingin seperti itu, Sasuke?" Tanya Itachi kepada Sasuke, namun yang ditanya hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa.

Sasuke menatap gelas ditangannya dengan pandangan menerawang, dan kemudian menghela nafas kasar. "Terkadang kita harus mengorbankan kebahagian untuk sebuah kebaikan," Sasuke kemudian beranjak dari kursinya, hendak meninggalkan sang kakak. "Sebaiknya kita singkirkan ego kita masing-masing dan mulai berpikir rasional" dan Sasuke pun pergi meninggalkan sang Kakak yang masih memandang amplop pemberian Sasuke dengan hati tak menentu. Hatinya kacau saat ini, ia ingin keluarganya, namun disisi lain ia juga menginginkan kebahagiaan Naruto. Apapun akan ia lakukan jika itu demi kebaikan Naruto. Namun, ia tidak yakin dengan hal ini.

Itachi memandang amplop di depannya, masa depan Naruto ada ditangannya dan sang ayah sekarang. Ia lalu membuka amplop tersebut, benar, tanda tangan sang adik sudah terpampang manis disana. Disana juga ada nama sang ayah, Fugaku, dan ia sendiri tentunya. Dan tentu saja belum ada tanda persetujuan dari yang bersangkutan.

Ia mulai membaca baris demi baris kalimat yang ada disana, dan kemudian mengambil pulpen yang ada di saku kemeja miliknya. Sekali gores saja maka sang Uchiha sulung telah resmi menyetujui sang adik untuk diserahkan kepada Minato, ayah biologis Naruto. 'Ya, ini demi kebaikan Naruto', ujar Itachi dalam hati, berharap bahwa hal yang ia lakukan kali ini adalah benar.

Pulpen sudah tertancap di atas kertas, dan…

'Jangan!'

Tiba-tiba saja suara sang adik, Naruto, terdengar, membuat Itachi menoleh kearah sekitar. Namun tidak ada orang yang dimaksud disana. Kembali ia fokus dengan kertas yang ada dihadapannya, jantungnya kini berdebar-debar. Sedikit bingung karena tiba-tiba saja suara Naruto terbesit di dalam pikirannya, dan itu membuatnya bimbang.

Trrt…trrt..trtt

Getaran handphone dari dalam saku Itachi membuat sang Uchiha bungsu kembali membatalkan niatnya untuk menandatangani kertas pemberian sang adik sulung. Ia pun lalu mengambil handphone miliknya dan menerima panggilan tersebut.

"Ya, ayah ada ap-" tiba-tiba Itachi terdiam, pertanyaan sang Uchiha bungsu kepada sang ayah tadi terhenti. Entah mengapa jantungnya kali ini terasa berhenti, terlalu sulit mencerna perkataan dari sang ayah. Dengan cepat ia masukan kertas yang tadi Sasuke berikan padanya kedalam amplop dan melengang pergi. Hanya satu yang ia pikirkan saat ini…

'Naruto!'

Bersambung…..


Author's note :

Terima kasih untuk para readers yang masih sudi untuk membaca fanfictku ini, maaf kalo update-an nya kelamaan. Aku biasa bikin fanfict dalam keadaan mood, jadi kalo lagi ngga mood ya ngga bikin #digampar. Ini udah mau sampai inti ceritanya kok, prospek kedepannya fanfict ini ngga sampai lebih dari lima chapter bakalan tamat. Tapi ngga janji hlo! Yang jelas saya bakalan namatin fanfict ini, dan lanjut ke fanfict-fanfict selanjutnya. Sekali lagi sankyuu. Akhir kata.

Wassalam.

Seperti biasa, silahkan isi daftar hadir di kolom

Review!

~\Ciao/~