CH 2 : INGATAN
YA-HA!Kembali lagi dengan Elfeyra!Tibalah kalian di Chapter 2,berjudul INGATAN!Akan dimulai membalas Review dari kalian semua. Maaf kalo review ny nggak dibales,nanti bakal dibales pada chapter selanjutnya. Saperti biasa,Gajeness dan Typo akan tersebar. Ini full Hiruma's Pov!
*Hiruma's Pov*
*Pagi kepindahan Kitami...
Pagi ini adalah pagi biasa olehku. Semua orang tetap takut padaku. Memang,aku terkenal sebagai Iblis di SMA Deimon. Tak lain tak bukan adalah Yoichi Hiruma.
Ya,itulah namaku. Sebenarnya,ku ingin ngomong pakai gue-lo. Tapi karena authorny maksa gue,terpaksa pake aku-kamu.
Elfeyra (Author) : Ya deh,gue ijinin lo pake gue-elo. Biar sangarnya kraza
Hiruma : Bagus,author sialan. Ngapain ngancem-ngancem gue pake *sensor*?(Sensor itu apa ayo?)
Elfeyra : Pengen ngeliat elo sopan sedikit,hahahaha! *senyum Pak Jaya*. Baiklah,mulai ke cerita...
Gue suka ngancem orang. Itulah yang gue pakai untuk memenuhi kehidupan gue. Dengan berbekal ide iblis dan buku ancaman,hidup gue seperti di istana megah. Tapi,yang mengganggu pikiran gue adalah perkataannya sekitar sebelas tahun yang lalu...
"Ancaman tidak membuatmu bahagia!"
Kalimat itu selalu mendengung di otak gue. Dan entah mengapa tak bisa menghilang. Memang gadis yang kuingat bernama Eri Dewaningrat. Dia benar-benar membuat otakku kacau saat mengancam orang. Tapi,ini hidup gue. Jadi ini masalah gue. Nggak ada hubungannya dengan gadis kecil pembuat otak kacau itu.
Tak sengaja,gue melihat seorang gadis yang sepertinya due kenal. Gue pernah mengenalinya saat mencari data murid. Dia termasuk murid pindahan dari Indonesia. Nama adalah Eri Kitami. Mukanya familiar,tapi gue benar-benar seperti tidak tahu apa-apa.
Tiba-tiba saja,ia menoleh padaku dan tersenyum!Dia tidak takut padaku. Padahal tampilanku mirip seperti iblis. Senyumannya seperti pernah gue lihat(Authorny kagak konsisten nih!Tadi gue lalu aku,gue,aku.).
"Ancaman tidak membuatmu bahagia!"
Mengapa gue inget hal itu?!Memang itu bikin gue kacau. Daripada gue makin kacau,mending cari informasi soal Eri Kitami itu lebih dalam. Gue bakal nyari itu di kelas.
Di kelas,gue mencari informasi soal dia. Guru kelas gue memperbolehkan untuk bermain laptop dan mengurusi soal klub di dalam kelas. Hanya dengan satu ancaman,guru itu mau mengizinkan gue untuk memperbolehkan gue melakukan hal ini. Seperti hak khusus yang diberikan.
'Hngh,inilah datanya. Lebih lengkap dari yang kemarin gue cari.'kata gue dalam hati. Gue lihat teliti.
Namanya Eri Kitami. Kalau ngikutin marga ibunya,ia menjadi Eri Dewaningrat. Ia lahir di Tangerang. Ulang tahunnya pada tanggal 16 Agustus. Sepertinya gue kenal dia,tapi kapan pernah ketemu?Lebih baik,gue inget-inget daripada belajar.
"Youchi-niichan?Apa yang terjadi dengan anak-anak nakal tadi?"
"Aku mengancamnya untuk tak melukai kau. Memang kenapa?"
"Kenapa diancam?"
"Eri,ini adalah jalanku untuk hidup."
"Youchi-niichan... Ancaman tidak membuatmu bahagia!"
"Jangan sok kayak tahu kehidupanku!"
Apaan tadi?!Siapa Youchi-niichan?!Siapa Eri-chan?!Dan apa yang terjadi?!Ini pasti ingetan gue saat kecil!Gue sempat lupa ingatan gue saat dibawah sepuluh tahun. Apakah tadi?!Daripada mikirin hal tadi,mending belajar. Gue lanjutin mencari datanya saat kegiatan klub Amefuto. Entah kenapa otak gue lagi aneh hari ini.
Sepulang sekolah,gue datang ke klub pertama kali. Manajer sialan dan bocah-bocah sialan pasti sedang sibuk. Biasanya gue lah yang terlambat. Tapi kini,gue lah yang pertama datang. Gue duduk di salah satu bangku dan membuka laptop. Seperti niat gue sebelumnya,mencari data Eri Kitami dan asal usul ayahnya. Yang entah kenapa gue amat penasaran dengan identitas ayahnya.
Ayahnya bernama Hitsuga Kitami. Keluarganya terkenal sebagai pemain catur internasional yang memperatakan defensif sehingga yang melawannya cukup membuat bingung musuhnya dan diam-diam Hitsuga menyerang tanpa terlihat gerak-geriknya. Salah satu temannya adalah Yuya Hiruma. Ia adalah murid Hitsuga. Lama-lama,mereka menjadi sahabat yang terkenal.
Yuya Hiruma?Itu ayah gue!Gue benar-benar tau mengapa Kitami itu pernah bertemu denganku!Mungkin ayahnya pernah bertemu denga ayah gue sambil membawa Eri.
Gue sadar,ternyata Manajer sialan sedang melihatiku sambil berpura-pura mengambil gelas. Kedatangannya cukup membuatku tak tersadar. Gue tahu,pasti dia penasaran sama keanehan gue hari ini. Tapi,gue tetaplah gue. Gue nggak mau ada yang ikut campur dengan pencarian data ini.
"Hei,manajer sialan!Mengapa kau melihat laptopku?Apa kau sangat ingin tahu apa yang kucari?!"sentak gue amat keras. Gue benar-benar nggak mau ada yang tahu apa yang sedang gue lakukan.
"Tidak,bukannya aku ingin tahu. Tapi tumben sekali kau datang cepat. Apa yang terjadi?"seru Mamori menghindari tuduhan gue. Gue tahu,dia pasti penasaran.
"Cari bahan ancaman. Sudah puas?!"seru gue agak kesal. Dia benar-benar mengganggu!Manajer sialan pun keluar ruang klub. Benar-benar,gara-gara ingatan gue!
*Waktu latihan...
Gue benar-benar nggak konsentrasi!Gara-gara ingatan lama yang nggak kembali,gue nggak konsentrasi. Sebagai quarterback sekaligus ketua Devil Bats,inilah yang bakal mengganggu gue.
Gue melempar bola. Dan tiba-tiba saja ada teriakkan monyet sialan.
"Kak Hiruma salah lempar!" seru monyet sialan. Gue pun sadar. Mataku mengarah ke arah laju bola. Bola itu mengarah ke arah seorang gadis yang sedang duduk di bawah pohon. Kepalanya terkena bola,melukiskan sebuah luka di jidatnya. Buku yang menghalangi mukanya terlempar dan menampangkan mukanya. Ada luka terlukis di jidatnya...
Itu Eri...
...
...
...
Dua belas tahun yang lalu...
Ayahku datang bersama temannya. Hitsuga Kitami dan Zahra Dewaningrat. Hitsuga sudah menikah dengan Zahra dan melahirkan seorang gadis bernama Eri. Saat itu,Hitsuga datang dengan membawa anaknya yang berumur empat tahun itu...
"Youichi,ini anak teman ayah. Namanya Eri. Ia menginap di sini selama beberapa minggu karena ayahnya sedang olimpiade di Amerika."kata Ayah. Muka sang gadis sangat ramah dan tidak takut padaku. Semua teman TK ku takut padaku. Tampilanku yang mirip dengan iblis. Dari fisik maupun batin.
"Nama Kakak siapa?"tanyanya. Aku pun menatap mukanya. Ketakutan tak terukir di mukanya. Terurat senyuman polos di mulutnya. Hatiku yang masih lemah pun sedikit meleleh dengan senyumannya.
"Youchi Hiruma,gadis sialan."jawabku yang masih membubuhi kata sialan dan panggilan tak sopan.
"Youchi-niichan,salam kenal!"serunya senang. Senyumnya amat polos. Seperti krim plain yang belum tersentuh. Mukaku agak memerah. Baru kali ini ada yang memanggilku Youchi selain ayah.
"Kenapa kau panggil aku dengan imbuhan –niichan?"tanyaku dengan kasar. Dia tidak tahu malu. Aku tidak pantas dipanggil dengan imbuhan niichan. Itu sangat tidak cocok.
"Habis,kau kan lebih tua dari pada aku!"seru Eri yang di otakku sudah menjadi gadis sialan. Dia benar-benar nggak punya otak. Tetapi,rasanya ia sangat nyaman untuk diajak ngobrol. Beberapa lama,ayahnya berpamitan untuk berangkat ke Amerika. Eri menangis kencang. Ibunya sedang ada keperluan di Prancis dan sangat sibuk. Maka ayahnya yang menjaganya. Dan kini ayahnya pun akan meninggalkannya untuk bertanding. Aku tahu semua itu dari ayahku.
"Ayah... Ayah mau meninggal...meninggalkanku... lagi?"tanya Eri dengan bahasa Indonesia setelah keberangkatan ayahnya ke bandara. Aku mempelajarinya sedikit dari Ayahnya. Aku mencari sapu tanganku yang berada di dalam saku,lalu kutemplokkan ke mukanya. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Udah,jangan nangis. Anak Cengeng Sialan."kataku agak kasar yang mengubah julukan Eri dari "Gadis Sialan" hingga "Anak Cengeng Sialan" . Tapi ia tak menunjukkan rasa kesal atau sedih karena perkatanmku. Air mata kesedihannya berhenti mengalir,lalu setetes air mata kebahagian terjatuh saat ia tersenyum.
"Terima kasih,Youchi-niichan.". Senyumnya terukir hatiku meleleh ,anak cengeng sialan. Buat hatiku kacau saja.
Tiga minggu kemudian...
Eri masuk ke TK yang sama denganku. Namun,kami berbeda kelas. Jelas,dia lebih muda setahun dari pada aku.
Di kelas,aku ditakuti oleh orang,dan aku adalah murid yang pintar. Ingatan fotografisku sangatlah kuat. Lebih kuat dari logam terkuat.
Kulihat Eri,yang satu level dijambaki dan dipukul saat hampir seminggu ia diperlakukan seperti itu. Bisa dibilang,Eri sedang ditindas.
Banyak yang mengatakan bahwa Eri itu tidak mengasyikkan. Kadang-kadang juga bertindak aneh. Mungkin karena culture orang Indonesianya masih ada. Orang Indonesia memang jauh berbeda dengan Orang Jepang. Itulah yang ada dibenakku pada umurku yang masih kategori anak kecil.
Ada luka yang berada dijidatnya. Mengeluarkan sedikit darah,namun bagi anak kecil normal pasti menyakitkan. Ada sedikit kemarahan di hatiku. Memang,harusnya kalau marah bisa dari kemarin. Tapi,rasanya ada yang beda.
"Hey,Gadis-gadis sialan!"seruku sambil menghampiri gadis-gadis yang menindas Eri.
"Ada apa,Youichi?Apa kau mau mengganggu kami?!"bentak gadis belagu sok kaya yang sudah mengerti cara menindas.
"Kekekeke,misalkan saja kalau kuberitahu kejadian hari minggu kemarin ketika kalian membeli majalah porno yang dijual balik ke murid laki-laki dengan harga mahal. Pasti ini akan menjadi sebuah tornado bila kuberitahu orang tua kalian. Jadi,jangan ganggu anak cengeng sialan ini atau kuberitahu orang tua kalian!". Gadis-gadis tengil itu mengangguk berkeringat dan langsung meninggalkanku.
Sisipan author
Hiruma itu udah kejam banget ya?Dari kecil udah mikir ancaman.
Back to the story...
Eri masih menangis. Dasar anak cengeng sialan,tangisannya terlalu kencang. Entah kenapa,nggak ada guru yang dengar. Aku pun menemplokkan sapu tangan pada mukanya yang penuh air mata.
"Udah,jangan nangis,Anak cengeng sialan."kataku sambil memasang muka biasaku. Seolah-olah aku tak tahu apa-apa.
"Youchi-niichan?Apa yang terjadi dengan anak-anak nakal tadi?"tanya Eri sambil menatap tanah.
"Aku mengancamnya untuk tak melukai kau. Memang kenapa?"jawabku biasa saja.
"Kenapa diancam?"tanya Eri kembali. Kali ini mukanya kusut.
"Eri-chan,ini adalah jalanku untuk hidup untuk mendapatkan apapun yang ku mau."
"Youchi-niichan... Ancaman tidak membuatmu bahagia!"
"Jangan sok kayak tahu kehidupanku!"
Itu membuatku agak terkaget. Pasalnya,muka Eri langsung kusut. Ia lari menghindariku,menuju rumahku,tempat ayahnya menitipkannya selama beberapa bulan.
Apa salahku hingga hatiku seperti ingin hancur?
Gue tersadar. Apa tadi ingatan masa lalu?!Saat melihat sekitar,Musashi dan Mamori membantu mengangkat Eri yang tak sadarkan diri oleh lemparan gue yang cepat banget. Gue gak mau membantu,pasti langsung dicurigain sama orang-orang kalo gue kenal sama dia.
Saat ini...
Di UKS...
Gue nggak menyangka dia adalah ERI di INGATAN gue. Jelas-jelas ia memanggilku Youchi-niichan. Cara bicaranya sama,tapi nggak cengeng lagi. Biasanya dia langsung nangis saat terluka. Namun sekerang,berbeda...
"Hiruma,apa benar ini teman kecilmu?"tanya manajer sialan sambil memandang gue dan Eri agak bingung.
"Iya,manajer sialan. Emang kenapa?"jawab gue santai.
"Ini jarang sekali. Anak yang manis berteman sama Hiruma."prediksi manajer sialan. Dia bilang anak manis?Aduh...
"Kak Mamori panggil aja aku Eri. Aku nggak semanis Kak Mamori pikirkan kok."kata Eri sambil tersenyum.
"Eri,kau benar-benar teman kecil Hiruma?"tanya manajer sialan ke Eri.
"Bukan teman kecil,tapi Sahabat!"seru Eri. Itu memalukan!
GREEK. Pintu UKS terbuka. Telihat,cebol sialan,monyet sialan,dan beberapa pemain menghampiri UKS.
"Kak Mamori,apa yang terjadi?Tadi ada yang berteriak."tanya Cebol Sialan,Sena Kobayakawa.
"Anu,tadi Eri-san memisahkan perkelahian antara kami. Lalu Hiruma berteriak mengatai Eri dengan 'Anak Sholeh Sialan'."kata manajer sialan.
"Lha,bukannya Kak You baru kenal sama Eri?"tanya Cheer sialan penasaran.
"Udah kenal dari lama kok!Aku sahabat lamanya Youchi-niichan!"seru Eri sambil tersenyum. Senyumnya terhenti sedikit ketika melihat death glare-nya gue.
"APA?!". Dan serentak,anggota amefuto selesai di UKS pun Panduan Teriak(?)
Selesai pada Jumat, 26 Oktober 2012
Huya!Selesai juga!Maaf ada kegajean dalam masa lalu dan perilaku dan cara bicara Hiruma. Diiringi dengan typo dan OOC,cerita ini semakin absurd(?). Terima kasih buat yang udah baca dan review. Elfeyra merasa ada yang perhatian(abaikan ini). Elfeyra sempat ngakak baca ulang ini cerita,banyak kesalahan!Sebenarnya,Elfeyra udah mentok ide. Apa boleh buat,ini untuk readers...
Hiruma Yuuzu : Aduh,Elfeyra juga sempet inget pas baca Review kamu. Dan ngakak sampai loncat-loncat. Makasih sudah ingetin ya!
Luchia Hiruma : Iya,Eri itu islam. Dia ngikutin jejak ibunya. Nah,ini udah di CH 2. Semoga nggak mengecewakan ya!Dan makasih buat semangatnya!
SAMPAI JUMPA DI CHAPTER SELANJUTNYA!
