. Drap Drap Drap

Sakura berlari di sepanjang koridor kampus untuk sampai kelasnya. Tapi,...

BRUUK

"Aduh! Kalau ja-eh?" ketus Sakura sambil menyentuh hidungnya yang tampak memerah, namun kata-katanya terhenti dan kaget.

"Tak kusangka kita bertemu bertemu lagi, dengan cara yang sama," suara datar keluar dari mulut pemuda berambut raven, Sasuke.

"Kyaaa! Pemuda mesum! Kenapa bisa di si-"

"Tidak perlu seheboh itu," Sasuke membekap mulut Sakura dengan tangannya.

"Hmpp, Hmmpp!" Sakura berusaha melepaskan bekapan Sasuke, tapi gagal.

"Sst, tenanglah..." bisik Sasuke di telinga Sakura. Itu membuat Sakura merinding, dan ditutup matanya rapat-rapat.

'Aku harus membawanya keluar dari sini," batin Sasuke menengok ke kanan ke kiri.

DUUK

Sakura membulatkan matanya, namun kemudian tertutup kembali. Akibat pukulan di tengkuknya, karena ulah Sasuke. Alhasil Sakura pingsan, dan Sasuke mengangkatnya ala bridal style.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kenapa bisa kamu berpikir kalau Sakura di culik?" ujar Sai.

"Jadi, begini..." ujar Ino.

Flash back On

Ino berjalan menuju Lab. Komputer, mata Aquamarine-nya melihat sosok bersurai pink berbelok ke kanan. Dan...

"Kyaaa! Pemuda mesum! Kenapa bisa ada di si-Hmpp!"

DEG

'Sakura bertemu siapa? Kenapa berteriak heboh, eh? Hah! Jangan-jangan...' batin Ino berlari ke arah di mana Sakura berada.

Flash back Off

"Aku yakin sekali. Begitu aku sampai di tempat Sakura, orang itu dan Sakura sudah pergi," terang Ino.

"Baiklah, kita coba mencari Sakura."

"Ya."

Sai dan Ino berjalan menuju mobil Ferrari milik Sai, yang terpakir di sebelah pintu masuk taman.

.

.

.

.

..Beralih di Hotel...

Sakura terdiam (sebenarnya terpesona) menatap Sasuke yang kini bertelanjang dada, setelah melepas kemeja biru tuanya.

"Kamu terpesona?" tanya Sasuke.

"Tidak! " sela Sakura memalingkan muka.

"Aku tak menyangka, kita dua kali bertemu. Bahkan kita belum sempat berkenalan, jadi namamu siapa, Nona?" ujar Sasuke sambil mengulurkan tangan ke arah Sakura.

"Cih! Aku tidak sudi berkenalan denganmu. Kau tidak perlu tahu namaku!" ketus Sakura menatap sinis ke arah Sasuke.

"Sok sekali! Jangan sok jual mahal, Nona. Nanti tak ada yang mau denganmu, kecuali aku. Karena aku ingin mengenalmu dirimu, Nona," timpal Sasuke seraya mengejek.

"Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau membawaku ke sini, HAH!" bentak Sakura.

1 detik

.

.

.

2 detik

.

.

.

3 detik

.

.

.

"Arghh! Dasar menyebalkan!" geram Sakura, karena Sasuke tak menjawab pertanyaannya.

Lalu Sakura beranjak pergi menuju pintu.

GREEP

"Kau tak akan bisa kabur!" tegas Sasuke sambil mencengkram tangan kanan Sakura.

Hanya dengan satu tangan saja, Sakura terpelanting ke ranjang.

BRUUK

"Kyaaa!" pekik Sakura.

.

.

.

Sasuke berjalan menuju meja kaca dan mengambil segelas air putih. Sakura menatap heran ke arah Sasuke yang memunggunginya. Sasuke berbalik badan, lalu melangkah ke arah Sakura yang duduk di ranjang. Kemudian meletakkan gelas berisi air putih itu, di meja di samping ranjang.

"Ka-kamu mau apa! Apa yang mau kau laku-" belum selesai Sakura bicara, Sasuke tiba-tiba mencengkram rahang dagu Sakura.

GREET

"Ukh! Ap-" pekik Sakura terpotong, Karena Sasuke memasukan kapsul ke dalam mulut Sakura yang terbuka. Sasuke dengan cepat meminumkan segelas air putih itu, guna memudahkan kapsul itu tertelan dan larut di tenggorokan Sakura.

"Ukh!" Sakura berontak, namun Sasuke bersikeras memaksa Sakura untuk menelan kapsul itu.

GLUK

'Akhirnya, tertelan juga," batin Sasuke menyeringai.

'Beberapa saat lagi, kapsul itu akan bereaksi.' Sasuke kemudian duduk di sofa panjang tadi menghadap ke arah Sakura.

.

.

.

.

2 menit kemudian...

"Ugh~ emgh aah~ ssh~" Sakura mendesah dan tubuhnya menggeliat berkali-kali. Dicengkramnya kuat-kuat sprei ranjang itu, peluh menetes di dahi Sakura.

"Waw, merdu sekali," gumam Sasuke sambil menyaksikan aksi Sakura.

"Uh~ emgh aghh~" Sakura tampak sudah tidak kuat dengan keadaan ini.

'Tampaknya dia sudah tidak kuat! Baiklah kumulai saja," batin Sasuke beranjak dari duduknya, lalu melangkah ke arah Sakura. Lalu naik ke ranjang dan mendekati Sakura dengan posisi merangkak.

"Ayo kita mulai saja."

"Ti...Ugh~ tidak akan..." tolak Sakura dengan susah payah.

"Tidak perlu sungkan," bujuk Sasuke menyeringai sambil melepas kancing baju Sakura.

DEG

"Jangan! Kamu tidak boleh mem-Kyaaa!" Sakura akhirnya berteriak karena Sasuke membuka paksa baju Sakura sampai terlepas semua.

"Jelas-jelas kau mau klimaks kenapa harus di tahan, Huh!" ejek Sasuke.

"Terserah aku! Kau ti-Hmpp"

DEG

Sakura membulatkan mata, karena Sasuke melumat bibir Sakura. Tak ada respon dari Sakura, mau tak mau Sasuke menggigit bibir bawah Sakura. Sehingga Sakura membuka mulutnya. Sasuke menyeringai, dengan sigap lidah Sasuke menerobos masuk ke rongga mulut Sakura.

"Hmppp!" Sakura kelagapan, namun tak disangka Sakura terbawa dengan kegiatan ini.

.

.

.

.

. .

.

.

Berapa saat kemudian...

Sakura tampak terengah-engah karena ciuman panas itu, begitu juga Sasuke. Dada Sakura yang masih berbalut bra hitam tampak naik turun begitu jelas, karena bajunya yang sudah terlepas semua kancingnya.

"Kamu terlihat menikmatinya, Nona," ucap Sasuke duduk di tepi ranjang.

"Ukh! Itu karena ulahmu, Tuan menyeb-"

"Sasuke, Uchiha Sasuke. Dan kamu, Nona?"

"Hah~ , baiklah. Aku Sakura, Haruno Sakura. Kau puas!" Sakura hanya pasrah.

"Wah, sesuai dengan rambut pink-mu," puji Sasuke.

"Dan kau, sangat tidak cocok dengan rambut pantat ayam seperti itu," ejek Sakura.

"..." Sasuke terdiam, lalu berdiri dan melepas celana jeans-nya.

"Hei! Apa yang kau lakukan di depan seorang gadis!" seru Sakura sambil menutup mata.

"Tidak usah tutup mata, toh kamu juga akan lihat," ujar Sasuke sambil menyingkirkan tangan Sakura.

DEG

"Kyaaa!" jerit Sakura, karena melihat benda punya Sasuke dengan mata kepalanya sendiri.

"Bagaimana, mau merasakannya?" bujuk Sasuke.

"Tidak mau! Dasar pemuda tidak ta-Ukh!" pekik Sakura, karena jari tengah Sasuke menyelinap masuk di lorong kewanitaan Sakura. Dengan bersamaan itu, Sasuke melumat buah dada Sakura sebelah kanan.

"Ngh~" Sakura melenguh, Sasuke menyeringai.

.

.

Di jalanan yang ramai oleh mobil-mobil, truk dan kendaraan umum lainnya yang masih berlalulalang di jalan raya. Tepatnya di dalam Ferarri silver yaitu Ino dan Sai.

"Jadi kita harus mencari Sakura ke mana lagi? Sekarang hampir petang," ujar Sai sambil menyetir.

"Uhm, ke mana ya? Ah, kita coba ke kantor polisi dulu. Kamu setuju?" saran Ino.

"Baiklah, kita ke sana," lanjut Sai setuju, lalu mobil Sai melaju berbelok ke arah kiri.

.

.

.

.

"Akh!" Sakura menjerit keras, karena Sasuke menggigit buah dada Sakura dan rupanya Sasuke memberi kiss mark di dada Sakura.

"Kita mulai ke intinya," ujar Sasuke.

"Tidak! Tidak mau!" tolak Sakura bergerak menjauh dari Sasuke.

"Hei, kemarilah. Ini akan nikmat, kamu tak akan rugi," bujuk Sasuke merangkak mendekati Sakura yang sudah di sudut ranjang.

"Jangan mendekat!" larang Sakura yang menjulurkan tangan kanan ke depan.

PLAK

Sasuke menepis tangan Sakura, dan langsung merebahkan Sakura ke tengah ranjang. Kemudian menaikkan rok jeans Sakura sampai perut. Tidak lupa menurunkan celana dalam Sakura.

"Tahan, ya. Ini akan sakit," ucap Sasuke lembut seraya membuka lebar paha Sakura.

"Kumohon, jangan Sasuke..." Sakura tampak pucat dan ketakutan.

"Siap, 1..." Sasuke memberi aba-aba.

.

.

"Tidak!" Sakura panik.

.

.

"2..."

.

.

"Kumohon jangan Sasu-"

.

.

"3..."

.

.

.

"AAAAAKKH!" jerit Sakura keras.

. "Argh! He-hentikan, ini sangat sakit! Ukh!" Sakura memekik.

"Sudah, jangan banyak protes. Cepat keluarkan suara indahmu itu," gumam Sasuke sambil melakukan gerakan In Out-nya di lorong kewanitaan Sakura.

"Emgh~" Sakura menggigit bibir bawahnya, untuk menahan desahan dari mulut Sakura.

"..." Sasuke terdiam, namun malah gerakan in-out makin cepat sambil tangannya meremas dada Sakura sebelah kanan.

"Oough, he-ugh hentikan argh~" Sakura akhirnya mendesah. Sasuke menyeringai.

.

.

.

Hampir 1 jam, Sasuke masih melakukannya. Sedang Sakura tampak mendesah tidak karuan.

"Oouh, a-aku ngh aghh~ mau k-keluar~ough."

"Aku, ugh~ juga ma-mau keluar..." ujar Sasuke masih melakukan gerakan In-out nya.

"J-jangan, kau ke~ough luar di..."

"Aaaaakhh!" tak disangka keduanya mengeluarkan secara bersamaan.

.

.

.

Di lain tempat...

Di dalam mobil Ferarri Sai, yang melaju di jalan yang masih ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.

"Ino, sekarang sudah malam. Apa tidak kita coba mengecek Sakura di apartemen saja?" bujuk Sai sambil menyetir.

"Benar juga, baiklah kita ke sana sekarang," sahut Ino.

"Kenapa tidak dari awal saja. Baiklah!" lanjut Sai.

"Ahahaha, gomen," kekeh Ino seraya minta maaf.

.
Setelah mereka bercinta, keduanya tertidur karena kelelahan. Namun Sakura terbangun dari tidurnya, sedang Sasuke tampak tertidur pulas. Dengan perlahan Sakura turun dari ranjang dan memunguti bajunya yang berserakan di karpet. Kemudian Sakura memakai jaket merah yang ada di dalam tasnya. Karena baju luarnya, kancingnya terlepas semua. Dia berjalan gontai menuju pintu, masih terasa sakit dan perih di kewanitaanya. Cairan bening keluar dari pelupuk matanya.

.

.
Terlihat gadis memakai jaket berwarna merah berjalan dengan langkah gontai di kawasan apartemen di Kota Konoha. Keadaan sekitar tampak sepi, padahal saat ini masih pukul 20.25 malam. Dari jarak 5 meter terlihat dua orang berlainan jenis, duduk di bangku kayu di samping mobil Ferarri silver. Salah satunya gadis berambut pirang duduk bersandar pada bahu sebelah kanan pemuda berambut hitam klimis. Gadis berjaket merah itu menghentikan langkahnya pada jarak 3 meter dari kedua orang itu. Mata emerald-nya tampak redup dan sembab oleh bekas air mata. Tak disangka gadis berambut pirang menyadari keberadaan gadis berjaket merah, dan berambut pink sebahu.

"Sakura."

Gadis berambut pirang itu, Ino berlari ke arah gadis berambut pink yang dipanggil Sakura.

"Kau dari mana saja? Kami khawatir tahu, eh?" Ino terkejut melihat Sakura terisak. Ino langsung memeluk Sakura, dan pemuda berambut klimis, Sai berjalan ke arah kedua gadis itu yang saling berpelukan.

"Sai, terima kasih sudah membantu dan menemaniku mencari Sakura. Malam ini aku menginap di sini," ucap Ino sambil melepas pelukannya.

"Ya, aku mengerti. Kalau begitu sampai jumpa besok di kampus," pamit Sai berjalan menuju mobilnya.

"Hati-hati di jalan!"

.

.

Sakura dan Ino sudah berada di dalam kamar bernuansa pink. Ino duduk di kursi sedang Sakura duduk di tepi tempat tidur yang bersprei pink juga. Lebih tepatnya mereka berhadapan. Sakura tampak menundukkan kepala, Ino lalu bertanya, " Apa yang terjadi? Apa kau diculik? Bisa kau ceritakan padaku mungkn aku bisa membantumu."

Bukannya menjawab Sakura malah menangis keras, lalu berhambur memeluk Ino. Dan membuat Ino juga menitikan air mata.

.

.

.Keesokan harinya... Sasuke yang berada di dalam kamar hotel, tampak meraba-raba ranjang sebelah kiri. Kosong. Sasuke kemudian bangun dan duduk di tepi ranjang.

'Sudah pulang, ya,' batin Sasuke pada diri sendiri.

"Apa dia baik-baik saja? Apa dia akan membenciku," ucap Sasuke dan terbayang wajah Sakura yang tersenyum menyindir. "Uh, menyebalkan!" keluh Sasuke menundukkan kepala.

.

Di apartemen Sakura, bagian ruang tamu terdapat 4 sofa yang berbeda bentuk. Dua berbentuk persegi saling berhadapan dan dua sofa lagi berbentuk persegi panjang yang sama posisinya berhadapan berwarna merah bata, serta ditengahnya terdapat meja kaca berbentuk oval. Di salah satu sofa yang berbentuk persegi, rupanya Sakura duduk di lantai bersandar badan sofa sebelah kanan. Kepalanya tertunduk dan rambut pink-nya tampak kusut tak terurus menutupi wajah cantiknya. Mata emerald-nya tampak sembab oleh air mata. Tak diduga tangan kanannya memegang pisau yang berfungsi untuk memotong buah.

.