Minnaaa… ff ini Amaya jadikan dua chapter hehehe… maafkan author yang tak jelas ini. habisnya Amaya ga bisa baca ff yang sebelumnya sih –". Takutnya ada yang bernasib sama seperti amaya.

Well, semoga bisa kebaca

Chapter 2

" Jadi, kurasa kalian yang menyuruhku kemari. Untuk apa ekspresi itu?" Kuroro bertanya. Heran dengan ekspresi terkejut yang ditampakkan Gon dan Killua.

" Betsuni.. kau hanya hadir dari arah yang tidak seharusnya." Killua mengkritik. Kuroro memang datang-entah bagaimana caranya- dari arah jendela.

" Kau belum menjawab pertanyaanku." Kuroro mengingatkan. Killua menatapnya sejenak. Kemudian ia mengangguk.

" Sou… jadi, apa yang dia gunakan sehingga ia bisa menyamar sesempurna itu?" Tanya Kuroro. Killua menatap Kuroro tajam. Cerita Kurapika, ekspresi Kurapika saat menceritakannya, surat terakhir ibu Kurapika.. Killua mengepalkan tangannya.

" Tahan dirimu, Killua!" Killua mencoba mengingatkan dirinya sendiri.

" Itu semua karena kau!" Killua menoleh. Gon mengepalkan tangannya. Alisnya bertaut. Menunjukkan kemarahannya. Kuroro mengangkat alisnya.

" Kalau saja… kalau saja kalian tidak membunuh mereka! Kurapika… Kurapika tidak perlu… mengubah jati dirinya.. Kurapika.." Gon menggertakkan giginya. Tidak bisa. Ia tidak bisa melanjutkannya. Kuroro menatap Gon datar. Ia baru saja akan membuka mulutnya saat ia mendengar pintu kamar Kurapika terbuka. Semua menoleh kearah Kurapika. Leorio dan Senritsu terperangah melihat sosok Kurapika yang kini berambut panjang. Kuroro nampak terpaku beberapa saat.

" Gon.." Suara lembut Kurapika entah kenapa membuat Gon kehilangan emosinya. Ia menoleh dan mendapati wajah pucat Kurapika tengah tersenyum kearahnya.

" Kurapika… ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Gon khawatir.

" Iie.. aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing." Jawab Kurapika. Killua mendekat dan menempelkan telapak tangannya kedahi Kurapika.

" Kau demam, Kurapika." Ujar Killua " Pasti karena tubuhnya masih terkejut dengan perubahannya." Imbuhnya dalam hati.

" Tidak apa-apa.. " Kurapika tersenyum menenangkan. Kemudian matanya beralih kearah Kuroro.

" Kau… " Killua sudah bersiap untuk mencegah hal buruk terjadi. Namun Killua menangkap hal yang aneh. Tatapan Kurapika.. bukanlah tatapan penuh dendam yang biasanya diberikan untuk Kuroro. Tapi.. tatapan itu.. sedih?

" Bisakah kita bicara?" Tanya Kurapika. Kuroro mengangkat alisnya.

" Kukira kau lebih suka bertarung melawanku." Jawab Kuroro. Kurapika menghela nafas.

" Jadi?" Kuroro berfikir sejenak. Kemudian ia mengangguk.

" Baiklah." Kurapika membuka pintu kamarnya. Kuroro melangkah santai diikuti tatapan ' kalau- kau-macam-macam-dengan-Kurapika-kau-akan-menyesal!' yang diberikan oleh setiap kepala diruangan itu. Kemudian pintu itu tertutup.

" Daijobu ka, Kurapika?" Gon menatap pintu kamar Kurapika cemas.

" Tenang saja. Dia akan baik-baik saja."

" Bukan itu sebenarnya yang harus kalian khawatirkan!" Seru Leorio. Killua dan Gon menoleh. Begitu juga Senritsu.

" Kurapika sekarang seorang gadis. Dan ia sedang bersama seorang pria didalam sebuah kamar. Hanya berdua! Apa yang ia pikirkan!" Ujar Leorio. Killua dan Gon mengerjapkan matanya beberapa kali.

" Ee? Memangnya kenapa?" Tanya Gon bingung. Killua hanya menundukkan kepalanya.

" Jadi, ada apa nona Kuruta?" Kurapika terus berjalan dan duduk dipinggir kasurnya. Kemudian ia mendongak menatap iris hitam Kuroro. Beberapa detik ia terdiam. Kuroro hanya menatapnya datar. Kemudian Kurapika menunduk. Kuroro bisa mendengarnya menghela nafas.

" Yappari…" Gumam Kurapika. Kuroro mengerutkan keningnya. Kemudian Kurapika kembali mendongak.

" Yappari.. aku.. kehilangan rasa dendamku." Ujar Kurapika sambil tersenyum. Kuroro nampak terkejut sekilas.

" Maksudmu?" Tanya Kuroro tak mengerti.

" Kau sudah mendengar tentang anting ini bukan?" Tanya Kurapika. Kuroro mengangguk.

" Saat perlindungan di anting ini habis, aku akan kembali kewujud asalku."

" Menjadi wanita."

" Tepat. Tapi, aku merasakan hal aneh. Biasanya saat aku mengingat ryodan, aku akan merasa muak. Tapi.. beberapa hari ini, aku tak bisa. Aku.. tidak bisa membenci kalian." Kurapika tersenyum lemah.

" Benarkah? Hmm..jadi?" Tanya Kuroro. Ia menebak-nebak dalam benaknya arah pembicaraan Kurapika.

" Kau tau.. entah kenapa aku bersyukur rasa itu hilang. Memburu kalian karena dendam, itu benar-benar melelahkan. Meskipun rasa dendam itu juga karena kalian. Tapi.." Kurapika menunduk, menggenggam anting ditangannya erat. " Tidak memburu kalian juga hal yang salah untukku. Disatu sisi, aku harus memburu kalian demi sukuku. Disisi lain, aku tidak bisa memaksa diriku memburu sesuatu yang tidak kubenci." Suara Kurapika melemah. Sejenak, keheningan menyergap dalam kegelapan. Kemudian Kurapika menatap Kuroro. Matanya berubah scarlet. Bibir tipis merahnya tersenyum. Dan Sesuatu yang belum pernah dilihat Kuroro mengalir dari sudut matanya. Membuat air itu nampak seperti darah karena cahaya scarlet matanya.

" Jadi.. kumohon.. bunuh aku." Ucap Kurapika lirih. Kuroro terhenyak mendengar permintaan Kurapika. Membunuh Kurapika? Tentu saja itu hal yang dinantikan oleh semua anggota Ryodan. Tapi ini salah. Membunuh Kurapika saat ia sama sekali enggan melawan adalah hal yang salah. Dan tatapan Kurapika… entah ia kenapa, tapi tatapan itu terasa sangat berpengaruh pada hati batu Kuroro.

" Kenapa?" Tanya Kuroro serak. Hei, sejak kapan ia jadi sulit berbicara? Kuroro mengernyit heran. Bukan karena tingkah Kurapika. Lebih pada dirinya sendiri.

" Kenapa? Karena.. tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku sudah tidak bisa memburu kalian. Dan itu tandanya aku tak bisa membalaskan dendam sukuku. Untuk apa aku hidup? Aku tidak menyesal karena kehilangan rasa benciku pada kalian. Tapi aku tetap merasa berdosa pada sukuku. Aku.. bukan orang baik.. jadi, sebaiknya aku bergegas menyusul mereka." Jawab Kurapika. Kuroro menatap Kurapika tajam. Kurapika merasa jengah. Kemudian perlahan ia bangkit.

" Ah,, sou.. kurasa aku harus membuat teman-temanku mau memaklumi keinginanku. Agar mereka.. tidak marah padamu dan pada Ryodan." Kurapika sudah akan melangkah menuju pintu saat Kuroro menarik tangan Kurapika dan membenturkan punggung Kurapika ke dadanya. Ia melingkarkan tangannya dan memeluk Kurapika dari belakang. Kenapa? Jangan tanyakan. Kuroro hanya tau ia ingin memeluk gadis itu.

" Kau belum mengatakan semuanya, nona Kuruta. Alasanmu belum semua kau ungkapkan." Bisik Kuroro. Kurapika terhenyak. Perlahan tubuhnya bergetar. Kuroro bisa mendengar isak tertahan dari gadis dihadapannya. Perlahan aroma bunga lili dari rambut gadis itu menggelitik hidung Kuroro.

" Kau… kau tau… aku mengatakan yang sebenarnya." Kurapika melepaskan tangan Kuroro. Kuroro tidak menolak. Ia menatap punggung Kurapika.

" Aku.. sudah jujur padamu.. aku tidak bisa hidup seperti ini.. mereka.. sukuku.. mempercayakan semua padaku. Dan.. aku sudah gagal.. aku.. tidak bisa lagi membunuhmu.. itu.. dosa besar bukan?" Kurapika mencoba tertawa kecil. Kuroro menatap tajam sosok gadis itu. Meskipun ia tahu Gadis itu tak akan bisa melihat tatapannya.

" Kau hanya gagal membunuhku. Itu bukan masalah besar. Mereka pasti memaafkanmu." Ujar Kuroro. " Bagaimanapun, berharap pada satu orang untuk membalas dendam kepada sekelompok orang yang sudah membantai ratusan orang benar-benar keterlaluan." Pikir Kuroro.

" Ya.. mungkin kegagalan itu bukan masalah besar. Masalah yang sebenarnya.. aku.." Kurapika menggantung kalimatnya. Kemudian ia menoleh. Masih menangis ia menatap mata hitam Kuroro. Ia menelan ludah dan memejamkan matanya. Kemudian kembali menatap Kuroro.

" Dosa besarku yang sebenarnya adalah.. Keinginanku…" Kurapika menggigit bibirnya ragu. " Keinginanku agar kau.. baik-baik saja. Agar kau tetap hi..dup." ujar Kurapika getir. Kuroro melebarkan matanya.

" Kurapika.. kau.." Kuroro kehabisan kata-kata. Ini pertama kalinya ia tak bisa berkata-kata. Kurapika mencoba tertawa.

" Kau mengerti? Tragis bukan? Karena itu.. aku mohon bunuh aku. Kau.. kau boleh mengambil mataku setelah itu. Ini, transaksi yang menarik bukan?" Kurapika menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Kuroro menatap gadis dihadapannya.

" Aku menolak." Jawab Kuroro. Kurapika terdiam sejenak kemudian ia tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangannya dan mengeluarkan chain jailnya.

" Kalau begitu, aku akan melakukannya sendiri. Setelah itu, kau boleh mengambil mataku." Ujar Kurapika pelan. Kuroro mengernyitkan matanya. Kuroro tau apa yang akan Kurapika lakukan. Ia akan menggunakan Chain jail kepada teman-temannya. Chain jail itu tidak akan melukai mereka. Namun jelas akan membunuh Kurapika.

" Kenapa?" Tanya Kuroro.

" Kau yang memulai, Kuroro. Kau juga yang harus mengakhiri bukan?" Ujar Kurapika. Kuroro hanya terdiam.

" Sayona..-" Kurapika merasa tubuhnya tertarik dan detik berikutnya ia sudah mencium aroma maskulin yang khas.

" Kuroro..le..-"

" Kau pikir dengan kematianmu semua akan selesai?" Suara Kuroro terdengar sedikit gemetar. Ya. Kuroro tengah mencoba meredam amarahnya sendiri.

" Tentu saja.. itu.. yang paling pantas untukku, Kuroro. Kalau aku memiliki rasa benci saat ini, itu hanya rasa benci untuk diriku sendiri. Aku membenci diriku..-"

" Kau tak..-"

" KARENA AKU MENCINTAIMU!" Kurapika tak bisa lagi menahan emosinya. Ia tergugu dalam pelukan Kuroro. Kuroro hanya tertegun. Ia tau. Kurapika sudah menjelaskan semua perasaanya lewat percakapannya sedari tadi. Ia tau bagaimana perasaannya. Mencintai orang yang harusnya dibenci bukan hal yang menyenangkan jika posisinya seperti Kurapika. Kuroro menatap rambut emas gadis itu yang bergetar karena isakannya.

" Aku.. aku melakukan kesalah terbesar dalam hidupku.. aku… aku tidak seharusnya mencintaimu.. aku tidak boleh mencintaimu… tapi aku tidak bisa menghapusnya! Karena itu.. karena itu.."

" Dan kau memilih mati sebagai jalan keluarmu? Kurapika… mencintai seseorang bukanlah kesalahan! Lagi pula, apa kau fikir dengan mati, sukumu akan bahagia? Aku ingin bertanya padamu. Apa mereka pernah memintamu untuk membalaskan dendam? Apa mereka pernah mengatakan padamu bahwa kau harus membalas kami? Apa mereka pernah melarangmu untuk.. mencintaiku?" Kuroro menatap tajam manik scarlet yang berkilat dibawah sinar bulan. Kurapika terdiam.. diingatnya kembali isi pesan terakhir dari ibunya..

carilah sahabat yang baik. Tentu saja laki-laki yang kau cintai. Ne?

kami semua ingin kau tetap hidup..dengan bahagia..

Kuroro merapatkan pelukannya.

" Kau tidak pernah tau takdirmu, Kuruta. Jangan lari dari takdirmu. Memiliki rasa itu bukanlah kesalahan. Karena kita tak pernah merencanakan untuk itu. Aku… aku tak ingin kau menyesali keputusanmu. Karena jika itu terjadi, akupun akan menyesal karena tak menghalangimu." Ujar Kuroro. Kurapika mendongak. Menatap Kuroro tidak mengerti.

" Seperti kataku… Tuhan selalu membuat kita terkejut bukan… beberapa jam yang lalu aku sangat berniat membunuhmu. Namun detik ini aku sangat ingin melindungimu. Kau tau apa artinya bukan?" Kurapika melebarkan matanya. Kuroro tersenyum. Untuk pertama kalinya dihadapan Kurapika. Kemudian ia dengan cepat menempelkan bibirnya di bibir mungil Kurapika. Kurapika tersentak. Kemudian Kuroro melepaskan ciumannya dan beralih pada dahi Kurapika.

" Izinkan aku bertanggung jawab dengan membahagiakanmu. Karena itu.. maafkan aku.. dan maafkan dirimu sendiri.." Bisik Kuroro. Kurapika menatap Kuroro tidak percaya. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya didada Kuroro. Ia tidak lagi peduli siapa orang dihadapannya. Ia hanya ingin menumpahkan perasaaannya dalam tangisan pilu lainnya. Kuroro tau Kurapika belum bisa sepenuhnya membuang rasa bersalahnya. Namun, setidaknya Kuroro yakin ia sudah membuang niat 'bunuh diri'nya. Cahaya bulan yang menyeruak lembut didalam kegelapan kamar itu, menyinari rambut emas Kurapika. Membuat rambutnya nampak berkilau. Seakan memberitahu Kuroro.. bahwa gadis dihadapannya adalah masa depannya. Ya. Dan tanpa ia sadari, ia memahat dalam hatinya untuk selalu melindunginya.

" Killua!" teriak Gon. Killua tersentak.

" Eh? Nani?" Killua mencopot sebelah headsetnya.

" Kalau kau tidak meminum coklatmu, aku akan menghabiskannya! Lagipula kenapa kau tersenyum seperti itu?" Tanya Gon penasaran. Killua hanya menyeringai dan mengambil cangkir coklatnya. Matanya menatap pintu kamar Kurapika yang tertutup rapat.

" Daijoubu ka, Kurapika?" gumam Gon. Killua melirik sahabatnya dan tersenyum.

" Tenang saja.. selama Kuroro bersamanya-dan kita tentu saja- Kurapika pasti akan baik-baik saja." Jawab Killua.

" Eh? Nande? Bukankah Kuroro itu musuhnya?" Tanya Gon. Killua hanya tersenyum misterius. Beberapa saat kemudian ia menatap Gon. Gon menoleh.

" Nani?" Tanya Gon.

" Ne, Gon.. katakan. Jika.. jika Kurapika memilih untuk menyudahi dendamnya dan ternyata ia menyukai musuhnya, apa kau akan tetap mendukungnya?"

Di tempat lain….

Feitan menghembuskan nafas untuk yang kesekian kalinya. Machi sibuk menarik benang nennya. Kemudian ia menoleh kearah anggota ryodan yang nampak Shock.

" Sudahlah. Bukankah dengan begini masalah selesai? Kita aman." Ujar Machi.

" Tapi… dia… Kusari aru!" Teriak Nobunaga tak terima. " dia.."

" Wanita yang Danchou cintai." Sambung Machi. Nobunaga terdiam ditempat.

" Sudahlah.. kita membunuh sukunya yang berjumlah ratusan. Impas bukan?" Kali ini Shalnark angkat bicara. Sepertinya ia bisa menerima.

" Mungkin sebaiknya tadi kita tak melanjutkan mendengar percakapan mereka." Lirik Feitan. Machi menoleh dan menatap Feitan sengit.

" Kenapa kau melirikku seperti itu? Ini kan tugas dari Danchou. Kalau-kalau Danchou kesulitan, kita bisa langsung datang bukan?" Ucap Machi.

" Hhh.. sudahlah… yang penting Danchou baik-baik saja." Ujar Franklin. Semua mengangguk setuju.

Kuroro masih memeluk Kurapika yang tertidur dalam dekapannya. Tangannya meraih sebuah kotak kecil. Diambilnya kertas kusut didalamnya. Ia membukanya dan membaca isi surat tersebut. Tak lama ia tersenyum.

" Maafkan aku.. meskipun kalian tidak bisa mendengar Kurapika bercerita tentangku, kalian sudah bertemu denganku. Mungkin kalian akan menghujatku. Tapi kumohon maafkan Kurapika. Ia hanya menjalankan harapan kalian untuk hidup bahagia bersama sahabat yang baik dan.. laki-laki yang dicintai." Kuroro berpaling kearah Kurapika.

" Nah.. sekarang… Hhh.. pasti mereka sudah mendengar semuanya.." Kuroro melepaskan jarum di mantelnya dan menghancurkannya. Jarum yang digunakan Machi dan Feitan untuk melacaknya dan 'menguping' pembicaraannya dengan 'Kusari Aru'. Kuroro meraih saku jubahnya dan menarik keluar sebuah benda berbentuk lingkaran. Kuroro tersenyum dan mendekatkan benda itu di bibirnya.

" Sudah cukup, bocah. Cukup sampai disini kau menguping kami. Karena sebentar lagi, kau hanya akan mendengar sesuatu yang belum boleh kau dengar. Kau belum cukup umur." Setelah mengatakan hal itu, Kuroro menghancurkan benda tipis tersebut. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana reaksi orang yang baru saja 'dikerjai' olehnya. Kuroro menarik selimut dan menutupi tubuhnya dan tubuh Kurapika.

" Kurasa… beristirahat disini dari kekacauan di markas lebih baik." Kuroro mengecup puncak kepala Kurapika dan mulai memejamkan matanya.

Diluar ruangan…

Killua terdiam mendengar suara Kuroro di telinganya. Sedetik kemudian wajahnya memerah.

" Killua? Ne, Killua? Kau kenapa?" Tanya Gon. Killua dengan cepat menoleh kearah pintu kamar Kurapika.

" KURORO KUSSSOOOO! JANGAN BERANI MACAM-MACAM DENGAN KURAPIKA!"

-END-

Bagaimana? Apakah anda terhibur? Huahahahaha*plak

Gomennasai… Amaya sedang tak beres hehehehe…

Review please ^^ jangan lupa di read.. kali aja menghibur :3