KAU YANG DISANA
.
Perang, misi, dan Cinta adalah tiga hal yang saling berkaitan. Karena perang maka misi akan diberikan. Karena misi maka jalan cerita cinta antar manusia akan berubah sehingga takdir mereka akan ditentukan saat misi itu diambil untuk maju kemedan perang. -SasuHina-
Disclamer : Naruto milik yang ngarang Komiknya.
Pairing : SasuHina
Happy reading ;
.
Konoha, adalah yang nyaman dan tenang bahkan bisa dibilang sangat-sangatlah tenang. Ditempat itu bahkan tidak ada tanda-tanda sesuatu yang akan terjadi. Entah itu perkelahian, kerusuhan, duel, atau apalah yang berbau kekerasan, tidak ada sama sekali sehingga hal ini membuat Naruto bosan dibalik meja kerjanya.
Naruto merupakan salah satu anggota kepolisian Konoha yang menjaga ketertipan lingkungkungan sekitar. Awalnya Naruto menganggap pekerjaan itu menantang karena berhubungan secara langsung dengan masalah. Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Desa Konoha ini sangat damai sehingga sepertinya profesi sebagai Polisi tidaklah diperlukan.
Memang kedamaian itu tidalah salah, tapi hal ini benar-benar membuat Naruto bosan.
"Hoam!" Naruto menguap saat rasa bosan menyerangnya. Dia kemudian memutuskan untuk berdiri dari kursi yang ia duduki dan mulai berjalan keluar dari kantor polisi.
"Naruto kau mau kemana!" salah satu petugas yang berada disana menanyakan akan tujuan dari Naruto yang pergi meninggalkan posnya. Panggil saja anak itu dengan sebutan Kiba. Teman seperjuangan Naruto dalam menghadapi situasi bosan.
Kiba merupakan anak yang hiper aktif seperti Naruto. Alasannya pun dalam memilih pekerjaan Polisi kurang lebih juga hampir mirip seperi Naruto.
"Patroli." sambil melambaikan tangan Naruto meninggalkan Kiba yang tidak dapat ikut pergi seperti Naruto karena hari ini adalah hari dimana Kiba harus menjadi resepsionis. Menerima seluruh keluhan dari penduduk yang datang berkunjung.
"Kau kejam meninggalkanku Naruto!"
Sebenarnya patroli di desa Konoha jugalah tidaklah berguna sama sekali. Tapi untuk mengisi waktu luang, Naruto tentu saja dengan senang hati melakukannya. Dari pada ia harus mati bosan di kantor bersama Kiba.
...
...
Didalam langkahnya Naruto terlihat melamun. Pandangan matanya kosong dan tujuannyapun tidak pasti. Ini semua karena Sasuke. Sasuke Uchiha yang hebat itu.
Entah apa yang dilakukan Sasuke sekarang menjadi pertanyaan yang selalu Naruto pikirkan. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia mendapatkan kesulitan? Itulah yang selalu Naruto pikirkan.
"T-terima kasih, jaga kesehatan."
Ternyata langkah kaki membawanya kesuatu tempat yang tak terduga bagi Naruto. Terlebih lagi dengan siapa yang ia temui dan ia lihat. Hyuuga Hinata, kekasih dari sahabat baiknya.
Entah sudah berapa lama sejak Naruto bertemu Hinata. Mungkin sudah sekitar dua bulan sejak acara prome night tempo hari.
"N-Naruto-san,"
"O-oi." Naruto entah kenapa tiba-tiba saja tampak gugup menjawab sapaan dari Hinata.
Hinata melangkah mendekati Naruto "A-Apa kabar?"
"Ah itu... Baik." Naruto menggaruk belakang kepalannya yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa canggung yang ia rasakan "Kau sendiri bagaimana?"
"A-Aku juga baik Naruto-san."
"Ah begitu rupanya," otak Naruto seras buntu. Tak seperti biasanya dia seperti ini dengan orang lain. Tidak ada ide sama sekali untuk membawanya keperbincangan berikutnya.
"K-Kau mau kemana?"
"Ah iya itu, aku mau ke..."
"Hem?"
"Tidak kemana-mana." Lama membuat Hinata menunggu, ternyata kata-kata itulah yang eluar dari mulutnya. Sungguh payah.
Tapi semua berjalan dengan sendirinya. Sedikit perbincangan diantara mereka meskipun canggung namun akhirnya berakhir dengan berjalannya waktu. Hinata harus kembali kedalam gedung Rumah Sakit untuk kembali bekerja, sedang Naruto melanjutkan perjalananya dalam berpatroli.
.
Diwaktu yang sama
.
Misi kali ini benar-benar memakan banyak korban. Seharusnya tugas dari kelompok Sasuke kali ini hanyalah mengawasi pergerakan musuh yang mengancam kelompok utama. Tapi secara tidak terduga pasukan musuh memasang perangkap dimana Sasuke berada.
Kelompok pengintai hanyalah terdiri dari kumpulan Chuunin-Chuunin yang tak berpengalaman. Tanpa bantuan kelompok penyerang yang sebagian besar adalah senior-senior mereka yang lebih berpengalaman, pasti kelompok ini akan disapu bersih oleh perangkap musuh ini.
"A-Aku tidak mau mati!"
.
SASUKE POV
.
Salah seorang dari anggota kami ketakutan. Bukan hanya seorang, tapi mereka semua terlihat ketakutan. Ini membuat musuh yang ada didepan kami terlihat percaya diri untuk mengalahkan kami jika seperti ini.
Tapi mau apa lagi, rasa ketakutan memang tidak bisa dikendalikan. Kekuatan serta jumlah kami juga kalah dibanding mereka.
Situasi kami sangatlah buruk karena pasukan musuh sedang mengelilingi kami semua. Jumlah kami hanya tinggal delapan orang setelah yang lainnya sudah pasti dipastikan tewas.
Kenapa?
Kenapa menjadi seperti ini?
Disaat kami akan pulang!
Tubuhku ikut bergetar karena ketakutan sambil memegang kunaiku. Bukan karena musuh yang ada didepanku ataupun kematian yang akan mendatangiku. Tapi aku ketakutan, ketakutan karena tak mampu kembali kepada Hinata seperti janji yang aku ucapkan.
FLASH BACK
Seperti biasanya aku menulis sebuah surat untuk Hinata. Kata Shikhamaru kami diperkenankan menulis surat kepada keluarga atau kerabat dekat kami menggunakan burung pengantar pesan.
Tentu saja burung pengantar pesan itu bukanlah burung pengantar pesan biasa. Burung yang kami gunakan haruslah hanya sekali jalan. Masksud dari sekali jalan adalah burung itu akan menghilang saat surat yang diantarkannya berhasil sampai ketujuan.
Entah sudah berapakali aku mengirim surat kepada Hinata. Meskipun aku sadar jika tidak terlalu banyak karena aku disini bukanlah sedang berlibur. Tapi yang penting kali ini surat yang aku kirim pasti akan membuat Hinata senang sekali.
Aku akan pulang. Itulah yang aku tulis untuknya.
Ini bukanlah omong kosong. Soalnya kabar ini langsung Shikamaru dapatkan dari Kakashi sensei yang mengatakan masalah untuk Konoha tinggal satu. Masalah itu adalah tugas terakhir kami semua yang tentu saja membuat kami semangat.
"Kau menulis surat untuk Hinata?" Shikamaru duduk di sebelahku.
Dengan diterangi api unggun yang berfungsi sebagai penghangat tubuh kami semua, aku menutup gulungan surat yang telah selesai aku tulis "Iya. Surat terakir untuknya."
"Kau dan kesetiaanmu. Aku jadi tidak sabar kau kenalkan dengan Hinata yang sering kau ceritakan itu."
"Tentu saja. Tapi awas saja jika kau jatuh cinta padanya."
"Haha... entahlah, siapa yang tau."
"Kau ini." terlihat sekali Shikamaru sedang dalam mood yang sangat baik. Pasti ini ada hubungannya dengan misi terakhir ini yang akan membawa pulang kami.
"Oh iya, besok kau yang akan memimpin pasukan."
"Aku? Kenapa?"
"Misi untuk kali ini membutuhkan kemampuanku sebagai seorang Nara. Kenapa? Kau tidak yakin dengan kemampuanmu Uchiha-san?"
"Cih merepotkan."
.
FLASH BACK end
.
Sial! Aku tidak akan mati di tempat ini!
Mereka melemparkan kunai ke arah kami dengan serempak seperti tadi diawal kami disergap sehingga kami kehilangan separuh dari anggota kelompok.
Aku tidak akan menyerah!
Jika bisa menerobos keluar dan kabur mungkin kami semua akan tertolong. Celah, hanya itu yang kami butuhkan sekarang.
"Choji!"
"Aku mengerti!"
Dengan kemampuan yang dimilikinya, Choji merubah tangannya menjadi raksasa. Dia menghantam pada orang-orang yang ada didepan kami sehingga muncul celah untuk kabur.
Dengan tetap menghindari kunai yang mengarah pada kami, kami berhasil keluar dan lari.
Meskipun begitu kami masih tetap di kejar habis-habisan. Tidak akan lolos. Kami semua akan mati jika seperti ini terus.
Aku berhenti dari lariku.
"Sasuke ada apa!" anggota kelompokku ikut berhenti saat menyadari aku berhenti.
"Kita tidak akan lolos dari mereka semua. Aku akan menahan mereka semua sendirian."
"Itu perbuatan bodoh!" Choji membentakku.
"Aku menahan mereka untuk membuat jarak, bukannya mengorbankan diri. Cepat kalian pergi mencari bantuan! Dan..." aku mengalihkan pandanganku kearah mereka yang ada dibelakangku, "Tolong, selamatkan aku." Lirihku.
"Ayo Choji!"
"S-Sasuke!" Choji ditarik paksa oleh yang lainnya dengan air mata yang berlinang.
Kenapa dia menangis?
Dasar bodoh.
Tes Tes Tes
"Apa ini?" aku merasakan air mataku mengalir membasahi pipiku.
Aku memegang pipiku. Memang benar ada air yang membasahi pipiku. Bukan hanya sebelah saja, tapi kedua pipiku basah karena air, air mata.
Aku hanya bisa tersenyum sambil menghapus jejak air mata ini.
"Ternyata aku juga menangis. Dasar bodoh."
end SASUKE POV
.
.
Aroma obat yang menyengat adalah aroma yang sering kali Hinata cium setiap hari. Sebenarnya Hinata tidak suka dengan aroma aneh seperti itu, tapi mau apa lagi karena profesinya sebagai ninja medislah ia harus terbiasa dan mulai suka dengan aroma yang ia cium. Terlebih lagi aroma itu adalah aroma obat-obatan yang mampu membuat orang sakit menjadi sehat kembali, jadi mana mungkin Hinata akan membenci aroma ini terus-terusan.
Tugas hari ini untuk Hinata adalah hanya mencatat perkembangan kesehatan para pasien di Rumah Sakit. Meskipun terlihat ringan tapi mengingat banyaknya pasien tentu saja hal itu juga bisa cukup melelahkan untuk Hinata. Butuh waktu sekitar setengah jam lebih untuk Hinata menyelesaikan tugas-tugasnya kali ini.
Di tempat jaga para petugas medis, Hinata dapat menyaksikan teman-temannya yang tidak melakukan pekerjaan sedang bercerita-cerita entah soal apa. Hinata tentu saja ingin ikut bergabung dengan mereka, tapi yang terlebih dahulu ingin ia kerjakan adalah membasahi tenggorokannya yang telah mengering.
Segelas air putih untuk sementara waktu dapat menghilangkan rasa kering di tenggorokannya. Dan setelah itu langkah berikutnya adalah bergabung dengan teman-temannya. Terlihat sekali jika Hinata senang melakukan kegiatan itu. Mulai dari bercerita, tertawa, dan berbagi tentang kejadian-kejadian hari inilah yang ia alami.
Tak dipungkiri jika di tempat kerja lebih menyenangkan dibanding waktu dirinya masih di akademi yang selalu sendirian sebelum Sasuke datang kekehidupannya.
"Kalian semua bersiaplah, pasien gawat darurat sedang menuju kemari!"
Suara Ino yang baru datang memberi kabar akan kedatangan pasien gawat darurat membuyarkan seluruh pembicaraan yang sedang terjadi. Semua orang menjadi siap siaga di tempat mereka masing-masing.
Sebenarnya tanpa ada penjelasan lebih dari Ino barusan membuat semua orang yang ada disana penasaran. Tak terkecuali Hinata.
Meskipun pemalu Hinata tentu saja memiliki perasaan penasaran yang sama dengan orang-orang lainnya.
"Datang."
Yang memasuki pintu masuk adalah para shinobi-shinobi yang baru saa kembali dari misi. Bagi Hinata melihat mereka yang kembali dari misi mengalami luka dan akhirnya harus dirawat di Rumah Sakit adalah hal yang biasa. Oleh karena itu Hinata tidak akan panik ataupun tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya karena hal ini sudah sering terjadi.
Tapi shinobi-shinobi ini terlihat berbeda di mata Hinata. Biasanya dalam sebuah misi orang yang menjalankannya biasanya terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang maksimal anggotanya hanya empat orang. Tapi yang memasuki Rumah Sakit ini bahkan lebih dari itu. Misi apakah gerangan yang membuat banyak orang terluka dan membutuhkan orang sebanyak ini, itulah yang ada dipikiran Hinata.
Orang-orang ini terlihat seperti bukan sedang menjalankan misi, tapi melainkan mereka semua baru saja kembali dari berperang.
.
.
Berat, sungguh berat hari ini bagi Hinata. Menangani pasien yang bergitu banyak dalam waktu bersamaan merupakan kegiatan yang membutuhkan tenaga ekstra. Bukan hanya shinobi yang mengalami luka yang membahayakan jiwa saja yang ditangani Hinata, tapi shinobi-shinobi yang mengalami luka-luka kecilpun harus Hinata bantu sebab ditempat itu dirinya dan tiga orang lainnya yaitu Ino, Karin, dan Tenten hanyalah ninja medis pemula.
Tak terkira hari mulai menjadi larut saat Hinata keluar dari Rumah Sakit. Udara diluarpun juga mulai menjadi dingin. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Terlebih lagi awan mendung telah menyelimuti sebagian desa.
Harus cepat dan bergegas pulanglah yang dipikirkan oleh Hinata sekarang. Kondisinya sekarang tidaklah terlalu fit sehingga apabila kehujanan mungkin dirinya akan sakit dan menyusahkan orang lain. Hinata tidak mau itu terjadi apalagi menyusahkan orang-orang yang ada disekitarnya lagi.
.
.
Meskipun membutuhkan waktu yang lumayan, Hinata akhirnya hampir sampai didepan rumahnya. Hujanpun untungnya belum sepenuhnya turun sehingga dia tidak akan khawatir soal kehujanan. Hanya rintik-rintik kecil sajalah yang dapat dirasakan kulit Hinata.
Namun saat melihat siapa yang sedang menunggunya didepan rumahnya, langkah Hinata terhenti. Meskipun hujan akan segera mengguyur seluruh permukaan bumi, Hinata tetap tidak akan mengacuhkan orang ini.
Naruto Uzumaki.
Tidak seperti biasanya Naruto mampir dan menunggu didepan rumahnya. Apakah ada sesuatu yang penting sehingga Naruto berbuat seperti itu.
"N-Naruto-san?"
.
.
Air yang entah berapa lama di tahan oleh gumpalan-gumpalan awan mendung akhirnya jatuh menghujani seluruh tempat untuk memberikan kehidupan baru yang membutuhkannya. Rerumputan yang awalnya layu kekurangan air akhirnya dapat tumbuh segar kembali. Bunga-bunga dipadang rerumputan semakin berwarna saat mendapat air dari Tuhan sang pencipta. Ikan maupun hewan-hewan liar yang membutuhkan air segar untuk hidup sekarang tidak perlu khawatir lagi karena tempat penampungan air mereka telah terisi kembali. Mereka semua kembali hidup disaat harapan mereka hampir sirna karena musim yang tidak memberikan air pada mereka untuk hidup. Namun bagi Hinata meskipun hari ini hujan, kemarau panjang dihidupnya baru saja dimulai.
Dengan air mata yang mengalir yang disamarkan oleh air hujan, ia memeluk Naruto dengan sangat erat. Kesedihan yang amat sangat yang ia rasakan sekarang tidak lagi memperdulikan air hujan yang akan membuatnya sakit.
Hinata tidak peduli dengan sakit. Hinata tidak peduli jika menyusahkan orang lagi. Hinata tidak peduli menangis ditengah jalan. Hinata tidak peduli dengan apapun yang ada disekitarnya. Hinata tidak peduli dengan apapun. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah satu.
"Sa-su-ke"
A/N :
Judul kali ini aku ganti karena aku pikir tidak cocok.
Untuk yang Riview terima kasih banyak. keirasuke, Guest, n.
tanks all
