Hai minna. Terima kasih yang sudah mau nunggu dan ngikutin fic ku #emangada? Ini apdet yang kedua ^^
Yosh. Semoga tidak mengecewakan kalian semua.
Warning : Typo(s), Semi-canon, dan (berharap untuk tidak) OOC
Disclaimer : Detective Conan belongs to Aoyama Gosho. Never be me! *yaiyalah*
Takdir Bisa Dirubah
Chapter 2 : Aneh
.
.
.
(Third Person's POV)
"Shiho-chan, Shiho-chan! Lihat pria itu! Tampan sekali…" ucap seorang gadis berambut pirang pendek menyenggol lengan gadis di sebelahnya. Sedangkan gadis yang disenggol itu hanya memutar bola matanya.
"Kau mudah jatuh cinta," ucap Shiho dengan datar.
"Ahh, bukan begitu! Aku hanya mengatakan fakta! Dia memang tampan kan? Hehehe," jawab Sonoko cengengesan. Shiho hanya menghela napas panjang.
"Apa kau selalu seperti ini jika dengan Ran-san?" tanya Shiho tanpa memandang Sonoko. Sonoko hanya manggut-manggut semangat.
"Baiklah. Setelah ke stand itu kau pulang ya, Sonoko. Aku ada kerja part-time."
"Hee? Kau kerja sampingan?"
"Kau kira siapa yang membiayaiku untuk membeli barang-barang fashion ini?"
~ Shinichi Shiho ~
"Terima kasih atas kerja samanya, Miyano-san. Kau benar-benar jenius untuk anak seumuranmu," ucap seorang dokter.
"Iie, ini biasa saja," jawab Shiho tersenyum ramah.
"Biasa saja, katamu? Kau baru saja menemukan satu antibiotik baru untuk penyakit ini dan kau bilang itu biasa saja?" bantah dokter itu sambil menepuk-nepuk bahu Shiho. Blondie itu hanya tersenyum.
"Aku harap kau dapat terus bekerja di laboratorium ini, Miyano-san," ucap seorang dokter lainnya.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi untuk pulang. Terima kasih atas hari ini."
~ Shinichi Shiho ~
Malam sudah semakin pekat. Langit hitam merembet dengan kelamnya tanpa memberi kesempatan satu bintang untuk bersinar. Bahkan bulan pun tidak mau menampakkan dirinya secara utuh ataupun sedikit. Memang malam yang benar-benar hitam.
Seorang gadis blondie strawberry berjalan santai pada jalan yang sepi. Dingin menyeruak ke dalam tubuh gadis itu. Maklumlah, dia hanya memakai seragam berbalut jas dan rok biru—dia tidak pulang ke rumah sejak tadi.
Takut tidak dijadikan alasan kenapa Shiho merasa ada yang mengikutinya. Shiho—sebagai mantan anggota BO sudah terlalu mahir dan sensitif jika soal seperti ini.
Orang itu semakin mendekat, batin Shiho was-was. Shiho dengan sengaja menghentikan gerak kakinya dan diam di tempat. Orang itu semakin mendekat dan menepuk bahu Shiho. Tapi setelah Shiho mendengar suaranya—
"Maaf, Nona. Bolehkah saya tanya sesuatu?"
—sepertinya bukan orang yang jahat.
Shiho berbalik dan mendapati sosok asing di depannya. Rambut pirang, sama sepertinya. Kulit putih, sama sepertinya. Yang membedakan hanyalah gendernya saja.
"Dare wa?" tanya Shiho datar. Sedangkan orang itu hanya tersenyum sombong—sama persis dengan tetangganya itu.
"Nona tidak tahu siapa aku? Aku pikir aku cukup terkenal di Jepang," ucap orang itu dengan senyum sombongnya yang tidak pernah dia lepaskan.
Shiho yang sudah bosan menghadapi tipe laki-laki seperti ini—seperti Shinichi, tetap pada muka datarnya. Sesaat kemudian dia berbalik dan berjalan menjauhi pemuda yang cukup—benar-benar tampan itu.
Ditinggal seperti itu membuat pemuda itu menautkan kedua alisnya—tidak habis mengerti kenapa dia ditinggalkan. Dengan segera dia menarik lengan blondie strawberry itu kembali.
"Shiho Miyano. Mantan anggota Black Organization, right?" ucap orang itu dengan tampang percaya diri.
Mendengar perkataan pemuda itu Shiho langsung tersentak dan berbalik kembali.
"Kau begitu terkenal di luar negeri—di Inggris sebagai ilmuwan jenius, kau tahu?" tambahnya. Tapi itu tidak membuat Shiho melepaskan topeng datarnya. Yah, bayangkan saja. Dipuji oleh seorang pemuda ganteng membuat semua gadis melted 'kan?
"Siapa kau?" tanya Shiho ogah-ogahan.
"Baiklah, aku Saguru Hakuba, 18 tahun. Tantei-san," ucap orang itu dengan tampang biasanya—penuh percaya diri.
"Urusan denganku?"
"Aku lihat kau memakai seragam sekolah Teitan. Apa kau bersekolah di sana?" tanya Saguru.
"Memang apa hubungannya denganmu?" tanya Shiho dingin. Sedangkan Saguru hanya mengembangkan senyuman sombong biasanya.
"Aku yakin kau bahkan sudah mempelajari pelajaran kedokteran di Universitas. Tinggalkan sekolah Teitan itu, tidak penting dan hanya membuang waktu, Shiho-san," ucap Saguru.
"Itu terserah aku."
"To the point, aku ingin merekrutmu sebagai asisten pribadiku. Aku rasa kau orang yang tepat, semenjak aku terus berganti asisten di Jepang ini. Jadi, berhentilah dari sekolahmu," ucap Saguru melepaskan genggaman di lengan Shiho dan melipat tangannya.
"Kenapa harus aku? Kenapa aku harus berhenti dari sekolah?"
"Sudah kubilang kau orang yang tepat. Kau jenius, kau mengerti mayat, kau bisa menemukan hal-hal detail seperti identifikasi racun dan sebagainya. Aku sudah menelitimu sejak tiga hari lalu," jawab Saguru.
"Wah, aku tersanjung. Tapi aku tidak tertarik untuk keluar dari sekolah. Lagipula aku juga sudah mempunyai pekerjaan sampingan sendiri yang kusukai," ucap Shiho sambil tersenyum manis—menurutnya.
"Soal itu, aku sudah menelpon managermu dan kau resmi keluar dari laboratorium itu," ucap Saguru sambil mengeluarkan handphonenya.
Shiho pun melebarkan matanya. Bagaimana bisa dia berbuat semena-mena terhadapnya padahal dia sekalipun belum pernah bertemu dengannya? Sungguh sangat tidak sopan.
"Aku tahu aku lancang. Tapi aku sangat ingin kau bekerja padaku. Dan ini…" ucap Saguru sambil memegang dan melihat-lihat tas karton yang dibawa Shiho—hasil belanja shopping dengan Sonoko tadi.
"…Kau bisa membeli lima produk Gucci dengan bayaran sebulanmu."
"…"
"Bagaimana? Tertarik? Sekarang aku tinggal menelpon sekolah Teitan agar—"
"Jangan."
"Kenapa? Bukankah kau tertarik?" tanya Saguru dengan nada protes. Shiho hanya sedikit sweatdropped. Sejak kapan aku mengatakan aku tertarik? ucap Shiho dalam hati.
"Aku sudah berkomitmen untuk mendapatkan ijazah kelulusan dari sekolah Teitan—meskipun aku sudah mendapatkannya dari luar dua tahun lalu. Dan siapa kau? Berani-beraninya mengeluarkan aku dari pekerjaanku, dan sekarang mengeluarkan aku dari sekolah hanya karenamu? Orang yang bahkan aku tidak kenal," ucap Shiho dingin.
"Aww, jahat sekali. Bukankah kita sudah berkenalan tadi?" jawab Saguru dengan nada menggoda.
"Sekali lagi, jangan keluarkan aku dari sekolah. Jika sampai itu terjadi, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu," ucap Shiho dengan kadar dingin yang mencapai tingkat dewa. Saguru hanya diam saja.
Hening beberapa saat. Sesaat kemudian Shiho berbalik dan menjauhi pemuda tampan itu.
"Tidakkah kau bersekolah?"
Saguru menyeringai—yang tentu saja tidak dilihat oleh Shiho.
~ Shinichi Shiho ~
Mata biru itu terbelalak, lagi.
Seniat itukah kau ingin merekrutku? Batin Shiho dengan kesal. Dia memang masih kesal dengan sikap orang itu yang tiba-tiba mengeluarkannya dari pekerjaan sampingannya. Menurut Shiho, pekerjaan sampingannya itu sudah cukup nyaman dan tenang. Kenapa dia merusak semuanya? Dan bahkan dia sekarang ada di sini.
"Baiklah, Hakuba, silahkan duduk di bangku kosong yang terletak di belakang Miyano. Miyano, angkat tanganmu agar Hakuba bisa mengetahuinya," ucap seorang guru yang ada di depan. Sedangkan Shiho hanya memandang Saguru dengan tatapan yang sulit diartikan—dia tidak mengangkat tangannya.
"Tidak perlu mengangkat tangan, saya sudah tahu Miyano itu yang mana," ucap Saguru dengan percaya diri dan turun menuju bangku barunya.
Tepat setelah Saguru mendudukkan dirinya di bangku barunya, bel istirahat berbunyi.
"Hai Hakuba-san, Sonoko Suzuki desu. Boleh panggil apa saja," ucap Sonoko dengan nada kagum. Lihat, matanya sampai berbinar-binar begitu. Tipikal gadis yang mudah jatuh cinta. Saguru hanya menanggapinya dengan senyuman biasanya.
Shiho hanya memutar bola matanya. Dia tahu pasti apa tujuan detektif sombong ini bersekolah di sekolah Teitan ini. Dia pun tidak menyangka bakal sejauh ini pemuda itu mengejarnya. Sepertinya dia benar-benar serius, batin Shiho. Dan gajinya pun sepertinya lumayan; beberapa kali lipat daripada pekerjaan sampingannya dulu.
Saguru tiba-tiba berdiri dan menghampiri bangku Shiho. Dengan menampilkan senyumnya yang menawan—yang sombong, dia menarik tangan Shiho untuk keluar bersamanya. Dan seperti perkiraan, Shiho tidak menanggapinya dan tetap duduk.
"Bolehkah aku meminta tolong padamu untuk menjelaskan bangunan-bangunan di sini?" ucap Saguru.
"Oh, maaf. Aku baru beberapa minggu berada di sini dan belum begitu tahu tentang struktur-struktur bangunan yang ada di sini. Jadi maaf aku tidak bisa membantumu," jawab Shiho dengan tersenyum dingin.
Sedikit terlihat bahwa perempatan urat muncul di dahi pemuda tampan yang sedang tersenyum itu. Dengan paksa Saguru menarik Shiho untuk keluar dari bangku dan akhirnya berhasil. Dan jangan lupa dengan tatapan anak-anak kelas yang melihat tingkah mereka berdua. Tidak sedikit yang merasa iri—sahabat dekatnya pun begitu.
Orang ini egois sekali sih, batin Shiho kesal. Dia abaikan tatapan tanda tanya dari kelas yang berusaha menginterogasi mereka.
Sesaat sebelum mereka berdua keluar dari kelas, Shiho menoleh pada sosok orang yang berada di sebelah bangkunya. Didapatinya Shinichi sedang memandang ke arah mereka berdua dengan kesal. Dan itu otomatis membuat Shiho ingat apa rencana awal dia mau bersekolah di sini.
Tapi yang Shiho tidak mengerti adalah, kenapa Shinichi merasa kesal?
"Jadi, mau bicara apa?" tanya Shiho setelah mereka berdua berada di atap sekolah.
"Kau pasti tahu tujuanku untuk bersekolah di sini," ucap Saguru. Shiho tidak menjawab dan hanya memutar matanya bosan.
"Aku akan bersekolah di sini bersamamu. Dan kutarik syaratku yang mengatakan bahwa kau harus keluar dari sekolah ini. Kau masih bisa sekolah. Tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi, kau resmi menjadi asistenku."
"Kenapa kau begitu egois?"
"Kalau aku tidak egois terhadapmu, aku tidak akan pernah mendapatkanmu sebagai asisten pribadiku. Aku cukup mengerti bagaimana cara menghadapi orang sepertimu," ucap Saguru dengan senyum percaya dirinya.
Oke, sekarang Shiho mulai berpikir. Sepertinya dia akan menggunakan Saguru dalam rencananya. Rencana untuk melupakan Shinichi, tentu saja. Tapi dia sama sekali belum terpesona oleh pemuda yang ada di depannya ini. Lalu bagaimana?
"Shiho-san?"
"Iya iya, aku mengerti, Meitantei-san."
~ Shinichi Shiho ~
"Maaf, Suzuki-san. Shiho-san ada perlu denganku jadi mohon maaf Shiho-san tidak bisa menemanimu pulang."
"Ba-baiklah Hakuba-san," ucap Sonoko dengan dahi berkerut. Dia memberikan tatapan bingung pada Shiho yang dalam mode setengah kesal.
Setelah berkata begitu, Saguru pun mengajak Shiho untuk keluar sekolah dan berjalan bersama.
"Tidakkah kau memberiku kesempatan untuk pulang bersama sahabatku dan berganti baju dahulu?" tanya Shiho dengan kesal.
"Ya ya ya, aku akan memberimu kesempatan. Kau 'kan mulai bekerja besok."
"Eh? Lalu kenapa kau menahanku sekarang?" tanya Shiho agak bingung. Sedangkan Saguru hanya mengembangkan senyumnya.
"Entahlah. Aku ingin… Mengenal lebih dekat?" ucap Saguru melihat mata biru keabu-abuan itu.
Shiho yang mendengar jawaban Saguru hanya bisa sedikit kaget. Jadi, dia sekarang berjalan tanpa arah bersama pemuda ini?
"Lalu, kau mau mengajakku kemana?"
"Hmm, tidak tahu. Tropical Land?" ucap Saguru menawari.
"…"
"Otakku perlu istirahat, kau tahu."
Dan jadilah, mereka berdua pergi ke Tropical Land. Tidak seperti gadis yang lainnya, Shiho tidak berteriak di dalam rumah hantu, dia juga tidak berteriak ketika menaiki jet coaster, dia sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Saguru pun sepertinya tidak mempunyai masalah soal itu.
"Ini colamu," ucap Saguru sambil memberi Shiho sebuah minuman kaleng.
"Hn."
Mereka berdua duduk di sebuah bangku sambil menyesap minuman mereka masing-masing, diam. Tanpa ada yang memulai pembicaraan. Mungkin mereka sudah merasa capek setelah menaiki beberapa—banyak wahana di Tropical Land ini.
"Shiho! Kenapa bisa kau ada di sini?" sapa seseorang yang sedang bersama gadisnya. Shiho pun menoleh dan mendapati Shinichi dan Ran dalam berpakaian casual mereka.
Shinichi yang awalnya nyengir seperti biasa, setelah melihat siapa yang ada di samping Shiho, ekspresinya langsung berubah 180 derajat dari cengiran tadi. Berubah menjadi wajah kesal.
"Kenapa kau ada di sini bersama Hakuba?" tanya Shinichi kesal.
"Memangnya ada larangan?" tanya Shiho dengan nada sarkatis.
"Benar. Memangnya kau siapa melarang Shiho-san untuk pergi bersamaku?" ucap Saguru menimpali perkataan Shiho.
Shinichi bertambah kesal dan melengos. Dia pun menarik tangan Ran dan segera pergi dari bangku itu. Sedangkan Ran hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau kesal melihat Miyano-chan dengan Hakuba-san? Biarkan sajalah mereka," ucap Ran dengan nada bingung.
"Entahlah, Ran. Aku merasa kesal saja jika ada yang mendekati Shiho. Aku tidak tahu kenapa."
"Shinichi…"
~ Shinichi Shiho ~
Sudah sebulan ini Shinichi merasa dirinya aneh. Setiap kali Shiho dekat dengan Saguru, entah kenapa dia merasa kesal. Apalagi saat dia tahu kalau Shiho teryata bekerja sebagai asisten pribadi Saguru saat menjadi detetktif.
Dia memang selalu menampakkan wajah kesal, tapi itu selalu ditahannya. Bagaimana tidak, ketika dia merasa kesal dan menggerutu tidak jelas, Ran berekspresi sedih. Shinichi tidak tahu apa yang salah, tapi dia mencoba untuk tidak menggerutu lagi—di depan Ran.
"Shiho, untuk file kasus nanti kau sudah siapkan?" tanya Saguru saat mereka berdua berjalan di sebuah koridor yang sepi—karena semua sudah pulang.
"Sudah siap, Meitantei Saguruuu," jawab Shiho setengah kesal.
"Kau bawa sekarang?"
"Bawa."
"Coba kulihat," ucap Saguru sambil menyambar tas Shiho. Dengan refleks Shiho menjauhkan tasnya dari pemuda detektif itu.
"Tidak. Sudah berapa kali kubilang kalau aku hanya akan membicarakan pekerjaan saat di kantor saja?" ucap Shiho dengan tegas.
"Oh, ayolah Shiho… Kau asistenku yang paling cantik," goda Saguru sambil nyengir. Shiho tidak terhanyut oleh godaan Saguru—tentu saja.
"Memang hanya aku 'kan asistenmu? Dasar bodoh," jawab Shiho kesal.
Saguru tidak pantang menyerah. Dia tetap berusaha mengambil tas Shiho yang berisi file kasusnya itu. Dan begitupun juga Shiho. Dia tetap menjauhkan tasnya dari jangkakuan Saguru.
Merasa punya ide Saguru pun memeluk Shiho dari belakang dan mengurung Shiho dalam pelukannya—sehingga dia bisa mengambil tas Shiho. Shiho pun kaget karena dipeluk dari belakang. Dan dengan refleks juga Shiho melemparkan tasnya—jatuh.
Saguru yang tidak habis pikir bahwa Shiho akan melemparnya segera melepaskan pelukannya dari Shiho. Hampir, karena Shiho menahan tangannya.
"Lepaskan tidak," ucap Saguru.
"Tidak sebelum kau berjanji bahwa kau akan membacanya setelah kita tiba di kantor detektif," jawab Shiho tersenyum kemenangan.
Saguru tetap berusaha untuk melepaskan tangannya ketika Shiho juga berusaha untuk menahan tangannnya. Setelah beberapa saat 'bergulat' akhirnya Saguru dapat melepaskan tangannya dan tanpa sengaja itu mendorong punggung Shiho menuju salah satu loker.
Karena tangan Shiho yang masih memegang erat tangan Saguru, otomatis Saguru ikut dengannya—berada di depannya menubruknya.
Dan mereka pun berubah posisi. Punggung Shiho yang menempel dengan loker dan Saguru berada di depannya—sangat dekat. Setelah beberapa saat keduanya sadar bahwa mereka sedang dalam posisi yang agak aneh.
Mata mereka saling memandang. Saguru pun mengeluarkan seringaian kecil—Shiho tidak tahu apa maksudnya. Dengan lambat tangan Saguru memegang dagu Shiho sehingga wajah Shiho makin terangkat.
Makin dekat dan—
*PUK*
—sebuah tangan menepuk tangan Saguru yang sedang dalam perjalanan mendekatkan bibir Shiho ke bibirnya.
"Shinichi!" ucap Shiho kaget.
"Beraninya kau mencium Shiho! Memangnya Shiho itu apa bagimu? Seenaknya saja kau main cium dengan Shiho!" ucap Shinichi penuh emosi.
Saguru hanya dalam mode tenang dan melipat tangannya.
"Bagaimana kalau aku tanyakan pertanyaan yang sama denganmu? Memangnya Shiho itu apa bagimu? Kenapa kau mengatur dengan siapa saja Shiho berciuman?" ucap Saguru dengan tenang dan senyum sombong.
Shinichi hanya bisa kaget dan diam. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia seperti ini. Dia yang hanya kebetulan lewat dan melihat dua insan ini tiba-tiba merasa kesal, itu saja. Shinichi memandang bawah dan menautkan kedua alisnya.
"…Aku juga… Tidak tahu."
*PLAK*
"Aku membencimu, Shinichi."
.
.
.
~ To Be Continued ~
Yooosh! akhirnyaa selesai juga \^o^/
Maaf kalo di sini kebanyakan SaguShi, ShinShi nya lom keliatan ehehehehh XDDa
Mau bales review~
Misyel : Rencananya sih gitu, tapi tenang aja endingnya pasti ShinShi kok Xd makasih udah review.
Nee chan : Salam kenal juga ^^ terima kasih udah review.
conan ai forever : iya ini dilanjutin :D pasti happy ending buat ShinShi! :D terima kasih udah review.
Natsu D. Zero : Yah memang, bunuh saja Shinichi itu XDD makasiih udah review.
Ann Kei : Saguru, bukan Subaru Xd oke oke, waduuh fic fandom laen kenapa dibawa-bawa ke sini? Wkkwkw XDD udah apdet kok yang sana. Terima kasih udah review.
Enji86 : Enji-saaaaan! Dimanakah dirimu selama iniii? #hug #digampar XDD Orang-orang nggak banyak yang lihat kok kalo ShinRan mesra-mesraan, kan mereka di tempat yg sepi #ngeles Iya emang rencananya Shiho itu moving on :3 kalo dia terus mengurung diri kan dia hanya tau Shinichi aja, padahal di luar bejibun yg lebih baik dari Shinichi Xd
Oke, last, terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah membaca fic ini.
Dimohon reviewnya~
V
V
V
V
V
