"Tunggu, siapa namamu?"

Tanya pria berwajah stoic itu.

"Hah? Kenapa tuan mau tau?"

"Hanya ingin tahu saja.. Siapa Tahu nanti kita akan bertemu lagi."

Kata pria itu walau ucapannya nyaris seperti pernyataan.

"Naruto!"

Tiba-tiba dari arah belakang, suara yang tak asing bagi Naruto terdengar memanggilnya.

"Shisou?"

Entah mengapa raut wajah Kakashi langsung berubah.

Begitupun dengan orang asing yang ada di hadapannya.

"Hey, Kakashi.. Lama tak berjumpa."

Kata laki-laki itu seraya menyeringai pada Kakashi.

Kakashi menghampiri Naruto dan melepas tangan Naruto yang masih digenggam lengannya oleh pria bermata onyx.

"Shi-Shisou?"

Naruto bingung mengapa Kakashi mendadak seperti bad mood, dan.. Sorot matanya dipenuhi kebencian saat melihat orang asing yang menanyakan namanya tadi.

"Sasuke Uchiha.. Buat apa kau kesini?"

Tanya Kakashi sedikit membentak, membuat Naruto menjadi segan untuk menyela-nya.

"Buat apa? Memang ada larangan aku tidak boleh menapakkan kaki disini?"

Jawab laki-laki yang ternyata bernama Sasuke itu.

Kakashi mengerutkan dahinya.

"Naruto. Lebih baik kita pergi!"

"I-iya.."

Kakashi langsung menarik Naruto pergi.

"Itu kekasih baru mu Kakashi? Hmm.. Boleh juga.."

Kakashi yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya.

"Shi-shisou?"

Naruto sedikit merona saat dibilang 'kekasih' oleh Sasuke.

Kakashi melanjutkan langkahnya dan menarik Naruto menjauh.

'Sialan! Kakashi.. Jangan pedulikan omongannya.' Geram Kakashi dalam hati.

..

"Hmm.. Naruto, ya? Sepertinya.. Anak itu menarik juga.."

Onegai Shisou © eLmao Incester

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: M

Pair: KAKANARU slight ItaDei

Warning: OOC dikit.. Yaoi, BL, dan ada sedikit miss typ(o)

Omake= Italic──berarti flash back

Just click the review button if you like, and click 'back' if you dislike!

Okey, enjoying for read this fict

*xxx*

──sementara itu, Kakashi masih terus berjalan dengan langkah cepat sambil memegang tangan Naruto erat. Entah mengapa, sekarang ia merasa sangat marah dan kesal. Hingga tidak sadar bahwa murid kesayangannya merintih sakit.

"Shisou! Sakit! Berhenti Shisou!" Ucap Naruto yang merasa pergelangan tangannya terlalu dipegang dengan erat. Kakashi tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan tentu saja membuat Naruto menubruk punggung Kakashi.

Kakashi melepas gandengan tangannya dari tangan mungil Naruto, tanpa menengok ke arah Naruto, ia berucap dengan nada seakan menginterupsi.

"Jangan pernah kau temui laki-laki tadi, Naru!" Naruto sedikit tersentak dengan ucapan Kakashi barusan, ia memandang punggung Kakashi yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri.

Naruto memandang kebawah, menatap jalanan aspal yang entah mengapa lebih menenangkan hatinya saat jantungnya berdebar keras seperti ini.

Kakashi berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Naruto yang terdiam di tengah jalan. Tidak. Naruto bukannya sedih, tetapi perasaannya mengatakan, bahwa sebagai orang yang bertahun-tahun tinggal dirumah Shisou-nya, ia bahkan tidak tahu apa-apa tentang Shisou-nya.

*xxx*

─Malam hari, terasa hawa dingin menusuk kulit, tentu saja, sekarang Naruto dan Kakashi sedang berada di sebuah villa di pegunungan. Saat yang lainnya sedang berpesta di halaman depan─membuat barbeque atau menyanyikan lagu bersama dengan gitar, Naruto hanya diam duduk di depan perapian di ruang tengah. Ia melipat tangan kanannya di lutut, dan dan tangan kirinya ia sodorkan ke dekat api─mencoba mencari kehangatan. Dia diam, lebih tepatnya berfikir.

─Naruto Pov

Kenapa tadi siang Shisou terlihat marah seperti itu? Sebenarnya apa yang dipikirkan Shisou? Aku sama sekali tidak tahu. Selama aku tinggal dengannya, Shisou selalu bersikap ramah padaku, aku jadi enggan menanyakan tentang kehidupan Shisou yang sebenarnya. Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya anak yang dipungut oleh Shisou, jadi.. kenapa aku harus mencampuri urusannya? Tapi.. kenapa hatiku enggan melihat wajah Shisou yang seperti itu? Seakan-akan, Shisou mempunyai sesuatu yang ia pendam. Aku sadar, Shisou mempunyai beban yang ia tanggung sendiri. Ia mempunyai rahasia yang tak mau orang lain ketahui.

Begitu juga aku

─Normal Pov

Naruto tersadar dari lamunannya saat terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Ia enggan menengok, ia tahu siapa yang menghampirinya, dan sekarang duduk disampingnya. Wangi tubuh itu sudah Naruto hafal luar kepala, wangi tubuh yang selalu membuat Naruto nyaman.

"Kenapa kau sendirian disini Naru?" Tanya Kakashi sambil mengusap lembut rambut blonde Naruto. Naruto mendongakkan kepalanya menghadap wajah Kakashi yang masih tertutup masker. Mata Naruto terlihat sembab, apa dia habis menangis?

"Ada apa Naru?" Tanya Kakashi lembut sambil mengelus pipi mulus Naruto, membuat bocah pirang itu sedikit bersemu.

Naruto menundukkan kembali wajahnya, namun kali ini dihadapan Kakashi. Keadaan diam sejenak sampai Naruto yang mulai berbicara.

"Shi-shisou.. mm.. apa Naru boleh tanya sesuatu?"

Kakashi terdiam, ia tahu apa yang ingin Naruto tanyakan. Ia memang sudah yakin penyebab murungnya anak didik kesayangannya ini adalah ucapannya tadi siang.

"Hmm, tentu. Apa?" Tanya Kakashi sembari memakaikan jaket kepada Naruto. Walaupun mereka ada didepan perapian, udara dingin adalah salah satu kelemahan Naruto, ia cepat sekali jatuh sakit kalau terkena udara dingin.

"Hmm, Shisou.. Siapa sebenarnya Shisou?" Tanya Naruto sambil menatap wajah Kakashi dengan sorot mata yang tegas. Ia ingin tahu, ingin tahu! Rasa penasaran terhadap Shisou-nya itu membuatnya ingin tahu apa saja tentang lelaki dihadapannya.

Kakashi diam sejenak dan kembali menatap api di perapian. Sampai akhirnya ia berkata,

"Aku akan menjawabnya, sesudah kau beritahu aku, siapa kau sebenarnya Naru."

Naruto tercekak, matanya sedikit melebar dan cepat-cepat ia alihkan pandangannya ke arah lain. Ia memang tidak pernah menceritakan darimana ia berasal kepada Kakashi. Ia selalu berbohong jika Kakashi bertanya, dan itu membuat hati Naruto sakit saat ia melontarkan kata-kata kebohongan.

Tangan kecil itu memegang erat jaket yang tadi diberikan Kakashi. Lidahnya terasa kelu, ia ingin mengatakannya, tapi ia tak sanggup membeberkan masa lalunya pada Kakashi.

Kakashi melirik ke arah Naruto, ia melihat anak itu ragu untuk membicarakan masalah ini. Tapi bagaimanapun, Kakashi juga penasaran dengan jati diri bocah tanggung dihadapannya sekarang.

"Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahu, aku─"

"Naru sedang melarikan diri." Jawab Naruto, memotong ucapan Kakashi.

Kakashi mulai menengadahkan wajahnya ke arah Naruto yang menyembunyikan seperempat wajahnya di lekukan tangan yang sedang memeluk kaki mungilnya.

"Melarikan diri? Dari siapa?" Tanya Kakashi menatap serius wajah Naruto.

Naruto diam sejenak, ia menimbang-nimbang kembali, apa ia akan membicarakan ini dengan Kakashi atau tidak. Tapi, kalau ia mau tahu tentang Kakashi, ia juga harus memberitahu siapa sebenarnya dia. Dia bukanlah seorang anak gembel yang tiba-tiba saja hilang ingatan 'kan? Tentu tidak. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, dan akan ia ceritakan ke seseorang yang sangat ia percayai. Ya, dia Kakashi.

..

"Naru.. melarikan diri dari keluarga Uchiha."

Ucapan Naruto barusan membuat tubuh Kakashi tersentak, ia kaget, sungguh kaget. Kakashi berfikir, jangan-jangan Naruto adalah─

Adik Deidara?

Ya, perseteruan dua keluarga itu, dimulai dari sini.. Dari takdir dua orang pemuda yang tak seharusnya mengemban cinta.

xx(/T_T)/ ᵠᵠ\(T_T\)xx

Chapter 2: Remember me?

xx(/T_T)/ ᵠᵠ\(T_T\)xx

"He─hentikan! Ita-nii!" cegahnya dengan nafas yang memburu. Kakinya lemas, ciuman itu membuat tubuhnya seakan tak kuat bergerak.

Itachi menunduk, terdiam untuk beberapa saat. Hingga akhirnya ia mengeluarkan suara.

"Maafkan aku Dei-chan, tapi aku sudah tidak tahan lagi!"

Deidara membelalakkan matanya, sekejap, Itachi sudah menggendongnya dan melemparkannya ke atas kasur.

"Ya-yamette─" belum selesai berbicara, bibirnya sudah dibungkam kembali dengan ciuman. Kini ciuman itu lebih kasar dan lebih menuntut dari yang sebelumnya.

Tangan Itachi dengan cepat merayap kedalam baju Deidara. Kali ini, dorongan sekuat apapun yang dilakukan Deidara, tidak membuat posisi itu berubah. Itachi menghentikan ciuman mautnya dan menatap Deidara dengan mata berkabut nafsu.

"Maafkan aku Dei, kalau aku tidak melakukan ini, aku tidak akan bisa lagi menghilangkan perasaan ini." Itachi berucap lirih. Deidara hanya diam dengan mimik wajah sedikit takut.

"Aishiteru.. Deidara!"

*xxx*

-ditempat lain-

London

"HENTIKAN!"

Nafasnya memburu, keringat sudah dari tadi mengalir menelusuri lekuk rupanya. Rambut blonde panjangnya yang tergerai indah, berkilau terkena cahaya senja yang masuk ke celah-celah jendela.

'Ternyata mimpi..' Tubuh yang tadinya tegang, rileks kembali, mengembalikan raut wajahnya yang semula ketakutan, menjadi tenang kembali.

"Ada apa Dei?"

Ia tersadar, di atas ranjang itu, bukan hanya dia sendiri yang menempati. Ia cepat-cepat menutup tubuh indahnya yang tidak terbalut apapun, dengan selimut tebal yang jatuh saat ia histeris tadi.

Ia menengok kepada 'pemuda' disampingnya. Seorang pemuda yang merupakan 'client' tetap-nya untuk melakukan 'ritual' kenikmatan.

"Tidak ada apa-apa,"

Ucapnya dingin pada sosok pemuda berambut merah dsampingnya.

"Sasori, aku mau pulang!" Katanya tegas dengan ekspresi dingin yang melekat diwajahnya. Ya, sejak 'peristiwa itu', jangankan tersenyum, bicara-pun, pemuda cantik dengan nama 'Deidara' ini sangat sangat jarang jika tidak ada hal yang penting.

"Kok cepat sekali? Punggungmu tidak apa-apa? Bisa berjalan?" Tanya Sasori pada 'partner' bercinta-nya.

"Tidak usah banyak tanya! Antar saja aku pulang,"

Jawabnya sambil berusaha berdiri dari tempat tidur, dan menahan sakit yang tiba-tiba menjalar akibat pekerjaan malam-nya. Sasori hanya menggaruk-garuk kepalanya─yang sebenarnya tidak gatal, lalu beridiri dan mengambil pakaian miliknya dan Deidara yang tergeletak dibawah.

"Ya,ya, baiklah nona!" Ucapan Sasori dibalas dengan death glare oleh Deidara.

Sebenarnya.. apa yang terjadi hingga senyuman itu tak pernah tampak lagi?

*xxx*

Partitude─8 tahun yang lalu.

"Dei-chan, hari ini kita ada pertemuan dengan keluarga Uchiha. Kau jangan nakal ya!" Seru seorang wanita berambut merah panjang dengan tatapannya yang lembut. Ia adalah istri dari Namikaze Minato─kepala keluarga Namikaze sang pengusaha yang sudah terkenal dimana-mana. Nama wanita itu adalah Uzumaki Kushina.

Ia sedang menatap lembut anak lak-lakinya yang berumur 12 tahun, sambil mengusap-usap kepala anak sulungnya.

"Baik Kaa-san!" Ucap riang sang Namikaze kecil. Perawakannya benar-benar sama dengan ayahnya. Bahkan ciri fisiknya-pun hampir sama dengan ayahnya. Rambutnya yang berwarna kuning dan matanya yang sebiru batu safir. Walau dia adalah anak laki-laki, tak jarang orang salah mengiranya sebagai anak perempuan, karena selain wajahnya yang imut, sifat riang dan 'cengengnya' menambah kesan bahwa ia adalah 'gadis yang manis'. Nama anak itu adalah Deidara Namikaze.

"Dimana Naru-chan?" Tanya Kushina pada Deidara yang sibuk membenahi kemejanya.

"Naruto sedang dimandikan kaa-san!" Jawabnya riang sambil tersenyum lebar.

"Kaa-san, umm.. Apa Ita-nii dan Sasuke nanti juga datang?" Tanya Deidara dengan wajah yang serius, sampai-sampai Kushina berfikir 'anak ini manis sekali kalau beraut serius begitu'.

"Tentu saja datang. Pertemuannya kan di rumah Baa-san."

Deidara mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada.

Kushina sedikit tertawa melihat reaksi anak kebanggaannya ini.

"Kau kenapa Dei-chan? Kok jadi cemberut gitu?" Tanya Kushina sambil mencubit lembut wajah anak imutnya.

"Sasuke menyebalkan! Dia tidak akan bicara kalau bukan aku yang bicara duluan."

Kushina sedikit berjongkok membuat tingginya sejajar dengan Deidara yang pipinya menggembung kesal. Tangannya yang selalu lembut membelai halus kilauan rambut anak-nya.

"Kalau begitu, main dengan Ita-nii saja."

Wajah Deidara langsung berubah merah saat mendengar ajakan Kaa-sannya.

"Eh? Wajahmu merah lho Dei-chan, ada apa nih~?"

Tanya Kushina membuat Deidara melirik ibunya dengan tatapan sebal dengan warna apel di pipinya.

"Uhh! Kaa-san!" Kushina buru-buru memeluk anaknya yang terlihat sangat imut sekarang ini. Dan terkikik kecil karena malaikat kecilnya mudah sekali ditebak perasaannya.

"Ahahaha, Dei-chan sangat suka Ita-nii ya? Kalau begitu, baik-baik dengan Ita-nii ya.."

Deidara hanya diam dengan semburat peach yang masih bersemayam di pipi mulusnya.

*xxx*

"Ita-nii, aku boleh ke apartmen Ita-nii?" Tanya Deidara saat acara keluarga itu sedang berlangsung. Deidara yang notabene-nya tidak suka yang ramai-ramai, menemukan Itachi yang sedang membaca buku di halaman megah milik keluarga Namikaze.

Itachi menengok ke arah anak berumur tanggung itu. Dengan senyumannya, ia mengusap rambut Deidara dengan lembut.

"Tentu boleh, kau bilang dulu deh dengan Kaa-san mu,"

Jawab Itachi membuat wajah Deidara sedikit merona merah.

Deidara mengangguk dan duduk di samping Itachi. Malam itu begitu indah dengan banyak rasi bintang bertengger di langit malam. Deidara menatap langit-langit itu dengan senyuman manis yang membuat seseorang disampingnya terdiam─mungkin itu yang dinamakan 'terpesona'.

Sudah lama, sudah sejak ayah Itachi, Uchiha Fugaku, memperkenalkannya dengan Deidara, ia sudah jatuh hati melihat anak manis berambut blonde itu. Tiga tahun yang lalu, saat umurnya masih 15 tahun, dan Deidara berumur 9 tahun, ia sudah melewati batas larangan. Jatuh cinta dengan sesama jenis? Bukankah itu sudah biasa? Namun beda halnya kalau kau seorang Uchiha. Yang harus memiliki sebuah keturunan. Apa laki-laki bisa memberi keturunan? Tentu saja tidak. Karena itu, Itachi harus membuang perasaan itu jauh-jauh.

Itachi terus memperhatikan Deidara, sampai tak sadar bahwa wajah elok yang sedari tadi ia tatap telah menengok menatap wajahnya.

"I-ita-nii, apa ada yang aneh di wajahku?" Tanya Deidara yang entah kenapa langsung blushing dan memalingkan wajahnya.

Itachi terbangun dari lamunannya dan menjawab sekenanya, "Tidak, maaf.."

Suasana diam sejenak sampai Itachi memanggil nama Deidara.

"Deidara.."

Deidara menengok menatap wajah Itachi yang dengan cepat berjarak kurang dari 10 centi dari wajahnya. Melihat wajah tampan Itachi dari jarak sedekat itu, membuat Dei entah kenapa tak bisa memalingkan wajahnya. Seakan telah terhipnotis dengan mata onyx milik laki-laki berambut dark ocean di hadapannya.

Itachi memajukan wajahnya, menatap Deidara dengan perasaan, hatinya berteriak 'ingin! Ingin sekali aku memilikinya!'. Hembusan nafas Dei terasa di bibir Itachi. Membuat kepalanya semakin mendekat, seakan tertarik oleh gelombang magnet. Ingin bersatu, saling mengerat, dan saling berbagi.

Oh sial! Andaikan jantung ini tidak seberisik ini! Mungkin kata-kata itu yang sedang Deidara pikirkan. Jantungnya sudah berdetak kencang sedari tadi.

Hingga bibir mereka hanya berjarak 5 centi, Itachi menghentikan gerakannya. Ia ragu, apa boleh ia bersikap begini? Bagaimana kalau setelah ini Deidara malah membencinya?

Tanpa ia sadari, tiba-tiba bibirnya merasakan sebuah tekanan lembut yang manis, membuatnya tersentak dan tak percaya. Deidara..menciumnya.

Akhirnya Itachi yang tadinya terkejut, mulai menikmati bibir ranum milik pemuda kecil dihadapannya. Digerakan bibirnya untuk melumat dan menghisap bibir bawah Deidara. Ia hisap perlahan dan dengan hisapan yang menggoda. Kedua belah bibirnya terus melumat bergantian bibir Deidara sampai Deidara mendesah "nggh.." di sela-sela kecupan mesra mereka.

Gairah Itachi semakin meningkat, ia gunakan tangannya untuk menekan kepala Deidara, membuat ciuman itu semakin dalam. Deidara menutup matanya dengan tangan yang memberi jarak antara dirinya dengan tubuh kekar Itachi.

Sampai akhirnya Deidara membuka matanya karena merasa ciuman Itachi sudah mulai berbahaya. Itachi menghisap kuat bibir bawah Deidara dan menjilatnya untuk memberi izin lidahnya bergulat dengan lidah kecil Deidara.

"Nggh! Mmh!" Deidara mengerang, mencoba menghentikan perlakuan Itachi yang mulai mengarah ke arah yang tak seharusnya. Saat tangan Itachi memasuki kemeja Deidara, kedua tangan mungil itu mendorong kuat pemuda yang membuat bibirnya membengkak kemerahan akibat lumatan dan hisapan dashat. Akhirnya ciuman itu terhenti dengan dua tali saliva yang saling terhubung.

Itachi menatap sosok dihadapannya yang sedang terengah-engah dengan tatapan menyesal. Deidara mengusap saliva yang mengalir di sudut bibirnya dengan lengan memerah, entah karena sesak nafas, atau karena malu.

"Maafkan aku, Dei-chan." Ucap Itachi lirih sambil menundukkan kepalanya. Deidara yang melihatnya hanya dapat memegang bibirnya yang masih terasa berkedut akibat ciuman panas itu. Tangan mungil itu menggapai tubuh pemuda yang berbeda umur 5 tahun dihadapannya, dan memeluknya.

Itachi membelalakkan matanya, ia kira, ia akan dibenci oleh Deidara. Tak ia sangka, pemuda kecil dihadapannya itu merengkuh dirinya dengan tangan bergetar.

"Ita..nii.." Ucap lirih Deidara yang memendamkan wajahnya di kemeja milik Itachi yang berbau mint.

"Ya, Dei-chan?" Tanya Itachi lembut sambil mengusap rambut blonde anak laki-laki yang ia cintai.

Deidara mengangkat wajahnya dan menatap lurus Itachi dengan semburat merah yang terlihat jelas di pipinya. Itachi berdegup melihat wajah manis malaikatnya.

"Tadi itu first kiss-ku.." Ucapnya lirih dengan blushing yang semakin terlihat diwajahnya. Itachi sedikit tersentak dan setelahnya tersenyum lembut, kali ini senyumannya benar-benar tulus, sangat tulus hingga membuat jantung Deidara terasa mau keluar karena degupan yang cepat.

Itachi menarik kembali Deidara kedalam rengkuhannya. Kali ini ia peluk erat pemuda kecil itu, benar-benar erat sampai Deidara protes "Ita-nii, kalau kau.. memelukku begini.. aku bisa mati..". Itachi terkekeh kecil tanpa melonggarkan pelukannya.

"Dei-chan, kau manis sekali sih.."

Dan selanjutnya, wajah Deidara dipenuhi oleh semburat merah yang melebihi tadi.

*xxx*

"Apa? Perjodohan?" Tanya Itachi dengan menatap lurus ke arah ayahnya yang sedang menikmati the hijau di ruang keluarga Uchiha.

"Hn, kau akan bertunangan dengan putri di desa suna."

Itachi hendak membantah, tapi.. melihat watak ayahnya yang kalau sudah memerintah tidak bisa ditolak, ia urungkan niatnya.

"Besok, saat makan malam, akan ayah kenalkan dengannya."

Itachi menunduk, menatap lantai kayu dengan pandangan hampa. Ia tahu, cepat atau lambat, dirinya pasti akan menemui takdir seperti ini. Seorang Uchiha, harus memiliki keturunan.

*xxx*

Itachi melihat dinding-dinding kamarnya dengan tatapan kosong. Ia merebahkan tubuhnya di kasur sambil mengingat kembali peristiwa tadi siang.

Tiba-tiba lamunannya terhenti saat ia dengan seseorang memencet bel apartmennya. Dengan malas ia menuju pintu apartmennya, dan membukanya dengan tampang malas.

"Ada a─" kata-katanya berhenti saat melihat siapa tamu yang tadinya ia anggap 'mengganggu'.

"Ita-nii!" Deidara telah berdiri di depan apartmennya sambil memegang dua plastik yang lumayan besar. Senyum lebar bertengger di wajah manisnya─membuat Itachi terpesona untuk kesekian kalinya.

Tanpa sadar, Itachi tersenyum. Ia mengusap rambut Deidara yang dikuncir kuda itu dengan lembut. Deidara menunduk untuk menutupi rona merah di pipinya.

"Aku habis pulang les, dan tadi ada yang menjual takoyaki di jalan, jadi.. aku mampir kesini sekalian makan bareng dengan Ita-nii. Apa aku mengganggu?" Tanya Deidara dengan melirik wajah Itachi yang tngginya jauh di atasnya.

Itachi tersenyum dengan lembut, saat ini, Itachi memang sangat membutuhkan keberadaan Deidara di sampingnya. Untuk terakhir kalinya, mengharapkan cinta dari malaikat kecilnya. Karena besok, ia sudah tidak bisa lagi mengharap cinta darinya.

"Tidak, masuklah.." Ucap Itachi dengan senyum yang masih terkembang di wajahnya.

*xxx*

"Mmmmh! Enak sekali ya, Ita-nii!" Ucap Deidara setelah menghabiskan takoyaki-nya yang terakhir. Itachi hanya menjawab dengan senyum dan mengusap rambut Dei.

"Hmm, ada saus di pipimu," Tanpa peringatan, Itachi menjilat pipi Deidara yang terkena bekas saus. Bagaimana reaksi Deidara? Tentu saja memerah habis-habisan.

"Ukh~ Ita-niiiii!" Deidara melempari Itachi dengan bantal yang berada di belakangnya. Itachi hanya tertawa, dan menangkap bantal yang tadi dilempar Deidara dengan satu tangan. Deidara mengerucutkan kedua bibirnya pertanda kesal.

"Dei-chan, kau imut sekali," Itachi memeluk Deidara dengan tiba-tiba. Membuat Deidara tersentak dan meronta didalam rengkuhan Itachi.

"I-Ita-nii! Lepas! Sesak nih!" Deidara mendorong tubuh Itachi dengan kedua tangannya yang kecil, tentu saja itu tidak merubah keadaan.

"Sebentar, biarkan aku begini sebentar lagi." Ucap Itachi lirih, sedikit saja ia terlepas dari Deidara, ia merasa hampa dan tidak lagi mempunyai kesempatan.

Deidara diam, hangatnya tubuh Itachi, dan bau tubuh Itachi yang ia rasakan seakan membuatnya ingin memeluk balik laki-laki yang lebih tua 5 tahun darinya ini.

lima menit mereka diam, sampai akhirnya Itachi melepaskan pelukannya.

Matanya menatap lurus ke arah bola mata seindah lautan dihadapannya. Itachi memajukan kepalanya, ia ingin sekali merasakan kembali bibir ranum itu, bibir yang hanya pernah terjamah olehnya, bibir yang membuatnya merasakan 'candu' untuk terus menyicipi nikmatnya sebuah 'ciuman'.

Deidara tahu, dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Ia ingin menolak, tapi tak sanggup melihat wajah terluka Itachi saat ia melakukan perlawanan. Sesungguhnya, ada bagian dari dirinya yang ingin Itachi menyentuhnya. Menyentuhnya, dan memanjakannya dengan gaya yang sensual.

Tak ada kuasa untuk menolak, kini kedua bibir itu telah saling menyentuh. Lewat ciuman itu, mereka saling berbagi cinta, perasaan mereka seakan tertuang didalam sebuah kecupan manis.

Kini Itachi mulai menggerakan bibirnya untuk mengapit bibir Dei, dengan gerakan sensual, tangannya merayap menekan kepala Deidara untuk merasakan apa yang dinamakan ciuman sesungguhnya. Itachi menghisap kedua belah bibir itu dengan perlahan, menimbulkan sedikit desahan dari Deidara. Kedua bibir Itachi melumat bibir anak laki-laki yang masih tergolong dibawah umur itu dengan sensasi yang hebat. Kali ini, Itachi benar-benar sudah tak kuat, ia menghisap kuat bibir Deidara hingga mulutnya terbuka.

"Ngh─" erang Deidara membuat Itachi semakin bergairah.

Akhirnya lidah Itachi dapat masuk kedalam mulut Deidara. Lidah yang lebih terlatih itu menjilat lidah Dei naik turun, membuat Deidara merasakan sensasi yang aneh. Itachi menghisap lidah kecil malaikat kecil yang terasuk nafsu saat ini. Deidara tidak tahu mengapa, tapi sensasi aneh ini baru pertama kalinya ia rasakan, membuat dirinya ingin merasa lebih.

Melihat Deidara yang sepertinya sudah terlena dengan ciuman panasnya, perlahan ia memasukkan tangannya yang dingin kedalam baju Deidara. Tangannya terus merayap dengan sentuhan eksotis, dan saat sampai di kedua putting yang merekah, ia menyentuh salah satu putting itu dan menekan serta memutarnya.

"Ngh~ hh~" Deidara mengerang didalam ciumannya, saliva mengalir mengikuti lekuk wajah─hingga lehernya. Ia sadar bahwa kalau ini diteruskan, akan berakibat buruk. Karena itu, ia mendorong tubuh tachi.

"He─hentikan! Ita-nii!" cegahnya dengan nafas yang memburu. Kakinya lemas, ciuman itu membuat tubuhnya seakan tak kuat bergerak.

Itachi menunduk, terdiam untuk beberapa saat. Hingga akhirnya ia mengeluarkan suara.

"Maafkan aku Dei-chan, tapi aku sudah tidak tahan lagi!"

Deidara membelalakkan matanya, sekejap, Itachi sudah menggendongnya dan melemparkannya ke atas kasur.

"Ya-yamette─" belum selesai berbicara, bibirnya sudah dibungkam kembali dengan ciuman. Kini ciuman itu lebih kasar dan lebih menuntut dari yang sebelumnya.

Tangan Itachi dengan cepat merayap kedalam baju Deidara. Kali ini, dorongan sekuat apapun yang dilakukan Deidara, tidak membuat posisi itu berubah. Itachi menghentikan ciuman mautnya dan menatap Deidara dengan mata berkabut nafsu.

"Maafkan aku Dei, kalau aku tidak melakukan ini, aku tidak akan bisa lagi menghilangkan perasaan ini." Itachi berucap lirih. Deidara hanya diam dengan mimik wajah sedikit takut.

"Aishiteru.. Deidara!"

*To Be Continued*

Yahaaa~ lama ga apdet, sekali apdet ceritanya aneh begini(?) haha..

Yaa~ namanya juga penyakit writer block (='=)a

Hmm, saya pengen sedikit menjelaskan tentang chapter──yang entah mengapa GJ ini──

Deidara sama Naruto itu beda umurnya 5 tahun. Jadi, Deidara umur 12, Naruto umur 7 tahun.

Di chapter depan, masih berisi Flashback, dan tentu saja ada… LEMON-nya~ nyahahaha x'D *kicked*

Maaf belum bisa balas review~ (\-_-)\

Yak! Sekarang saatnya bagi yang sudah baca untuk me-REVIEW~

Say yes to Review~ (/^O^)/

Say no to flame~ (\-=-)\