Cinta 4 Hati
by
d-She ryuusei Hakuryuu
Pairing(s):
Main: Ichi x Fem!Hitsu
Slight: Masih himitsu~!
.
Genre(s):
Romance/ Drama/ Hurt/Comfort
.
Warning(s): AU (Alternate Universe), OOC (Out of Character), Gender bended, Miss typo bertebaran di mana-mana, GaJe, Alur kecepetan dan terlalu maksa, deskripsi kurang, dan masih banyak lagi. Juga, tidak menerima flames untuk pairing dan pengubahan gender, tapi kalau mengenai EYD dan sejenisnya saiia terima dengan senang hati.
.
Disclaimer(s):
BLEACH © Tite Kubo
Cinta 2 Hati © Benni Setiawan/Wanna Be Pictures
Cinta 4 Hati © d-She ryuusei Hakuryuu
.
Enjoy, please~!
CHAPTER #2
SOMEONE WHO LOVES HER
"Aku berangkat!" seru Toushiro sebelum membanting pintu rumahnya keras-keras. Masih dengan menggerutu kecil atas perkataan 'terlalu jujur' Hinamori, Toushiro melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah yang selama ini telah lama menjadi tempat tinggalnya itu.
Baru tiga langkah ia menjalankan kakinya, tubuhnya mendadak kaku seketika, melihat siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah duduk di atas motor sport-nya lengkap dengan seragam sekolah dan tas punggung yang tersampir di pundak kirinya. Rambut orange-nya mencuat acak-acakan seolah sengaja tak disisir, tapi justru itulah yang menambah kesan keren.
Kurosaki Ichigo. Kekasihnya.
"Kuro... saki...?" ucapnya tak percaya.
Mendengar namanya disebut sang pujaan hati, Ichigo memalingkan wajahnya ke arah Toushiro yang masih berdiri kaku. "Yo! Toushiro!" Dan seperti biasanya, cengiran lebar terpasang di wajah tampannya.
"Sedang apa kau di situ?" Sudah bisa menguasai keterkejutannya, gadis mungil itu kembali melangkahkan kakinya ke arah Ichigo yang duduk di atas motor hitam miliknya di depan kediaman Toushiro.
Ichigo terkekeh pelan mendengar pertanyaan gadis yang seminggu ini telah resmi menjadi pacarnya itu. "Tentu saja menjemputmu, Toushiro. Memangnya apa lagi kalau bukan itu?"
Toushiro menaikkan sebelah alisnya, heran. "Kau tak pernah melakukannya sebelumnya," gumamnya pelan. "Kau tak perlu mengantar-jemputku seperti ini, Kurosaki. Aku bisa berangkat sekolah sendiri."
Ichigo memutar bola matanya, terkadang ia masih belum terbiasa dengan sikap pacarnya yang terlewat cuek itu. "Oh, ayolah, Toushiro." Ichigo mencoba menjelaskan. "Kau, kan, pacarku. Tak ada salahnya kalau aku mengantar-jemputmu ke sekolah."
Toushiro tampak sedang berpikir ketika sebuah helm berwarna senada dengan warna matanya disodorkan tepat di depan wajahnya.
"Sudahlah. Tak usah banyak berpikir. Cepat naik!" pinta Ichigo setelah menyodorkan sebuah helm pada Toushiro. "Aku jadi mengerti kenapa rambutmu berwarna putih. Kau terlalu banyak berpikir."
Penuturan Ichigo tadi dengan sukses langsung menjadikan kepala orange-nya sasaran empuk helm Toushiro, dan untungnya Ichigo sudah mengenakan helmnya semenit sebelum insiden tadi terjadi, karena jika tidak, entah bagaimana bentuk kepalanya saat ini. Tapi, tampaknya tetap saja terasa sakit, terbukti dengan erangan kesakitan Ichigo beberapa detik setelah helm Toushiro mendarat mulus di helm hitam yang membungkus kepalanya.
Setelah puas mengerang kesakitan, Ichigo memandang wajah pacarnya lekat-lekat, seolah jika ia alihkan pandangannya dari sosok mungil di depannya sekali saja, sosok yang paling dicintainya itu akan menghilang dalam sekejap.
"A-ada apa?" Sadar dirinya tengah dipandangi dalam-dalam begitu, tak urung membuat Toushiro salah tingkah.
"Kau yang marah tetap saja manis, ya, Toushiro," ujar Ichigo sambil tersenyum lembut.
Aaah... ini dia yang paling tidak bisa membuatnya marah pada Ichigo. Senyumannya itu...
Semburat merah menghiasi kedua belah pipi Toushiro, dengan cepat dipalingkannya wajahnya dari pandangan Ichigo, guna menyembunyikan gurat kemerahan di wajah manisnya. "U-urusai!"
Dengan cepat, Toushiro naik ke motor sport milik Ichigo yang entah sudah berapa lama terparkir di depan rumahnya. Tak lupa dipakainya pula helm yang disodorkan padanya tadi.
"Pegangan yang kuat!" suruh Ichigo lembut. "Karena aku tak ingin pacarku yang manis ini sampai jatuh. Oke?"
Toushiro kembali merasakan wajahnya memanas, beruntung Ichigo yang duduk di depannya tak dapat melihatnya memerah. "S-sudahlah! Berhenti menggodaku, Kurosaki! Ayo cepat jalan!" Ditenggelamkannya wajahnya di punggung lebar Ichigo, tangannya perlahan mulai melingkari pinggang Ichigo. "Nanti kita bisa terlambat."
Senyuman geli terpampang jelas di wajah Ichigo, bisa dirasakannya kekasihnya yang biasanya kasar dan temperamen itu wajahnya memerah karena malu. "Baiklah, Tuan Putri," ucapnya sambil menyalakan mesin motor. "Kita berangkat."
Motor Ichigo mulai melesat meninggalkan kompleks perumahan Toushiro menuju Karakura High School, tempat mereka bersekolah.
Kedatangan Toushiro bersama Ichigo pagi ini kontan membuat seluruh isi sekolah ribut membicarakannya. Pemuda paling tampan dan kaya satu sekolah tiba di sekolah dengan seorang gadis paling galak satu sekolah di boncengan motornya! Mereka memang sudah mendengar rumor tentang status hubungan mereka sejak satu minggu yang lalu, tapi tetap saja... sulit dipercaya.
Kedekatan mereka berdua memang sudah jadi the hottest news sejak jauh-jauh hari. Tapi, tak satu pun di antara Toushiro maupun Ichigo yang mempermasalahkannya.
"Oi, Toushiro," panggil Ichigo di tengah perjalanan mereka menuju kelas Toushiro. Ichigo memang sengaja berniat untuk mengantarkan Toushiro sampai ke depan pintu kelasnya. "Kau sadar tidak, kalau dari tadi kita diawasi?"
Toushiro memutar kedua bola matanya cuek. "Itu urusan mereka. Tak ada hubungannya denganku."
"Ya... ya... Terserah kau saja, Hime."
Tepat ketika mereka sampai di depan pintu kelas Toushiro, Ichigo mengecup pelan pipi sebelah kanan kekasih mungilnya itu, kemudian berbisik pelan, "Aku ke kelasku dulu. Sampai nanti."
Ichigo segera beranjak dari tempat itu—meninggalkan Toushiro—sesaat setelah menyunggingkan cengiran jahilnya.
Kejadian tadi berlangsung begitu cepat. Dan apa yang baru saja dilakukan Ichigo jelas saja membuat Toushiro membeku seketika. Kedua bola mata emerald-nya membesar ketika bibir Ichigo mengecup lembut pipi kanannya. Masih terasa di lehernya, deru napas Ichigo ketika berbisik di telinganya. Dan semua itu sudah cukup untuk membuat wajahnya—untuk kesekian kalinya—kembali memanas. Tangan kanannya terangkat untuk menyentuh pipi yang baru saja dengan beruntungnya telah merasakan kehangatan bibir Ichigo.
Tindakan Ichigo untuk mencium pipi Toushiro di depan umum tak hanya menuai reaksi dari pihak yang bersangkutan a.k.a Toushiro, tetapi juga dengan sejumlah 'saksi mata' yang kebetulan sedang berada di 'tempat kejadian perkara' saat itu. Dan reaksi yang bermunculan beraneka ragam, mulai dari mata terbelalak kaget, bengong, mulut menganga dengan 'indah'-nya, mencium tembok karena jalan jadi tidak fokus, nosebleed(?), menggeram marah, menjerit histeris ala fangirl, dan masih banyak lagi sehingga tak mungkin untuk dituliskan di sini satu per satu.
Ok! Kembali ke Ichigo dan Toushiro.
Baru beberapa langkah berjalan, Ichigo berbalik. "Oh ya, Toushiro." Membuat Toushiro kembali dari alam indahnya, menatap Ichigo heran. "Istirahat nanti, kutunggu kau di atap."
Seusai berkata seperti itu, Ichigo kembali menghadiahinya senyuman terbaiknya. Demi Tuhan, bagaimana bisa Kami-sama menciptakan manusia sesempurna itu?
Begitu punggung Ichigo sudah tak terlihat lagi, Toushiro hanya bisa tersenyum sendiri mengingat apa yang baru saja dilakukan Ichigo. Eh, tunggu! Tersenyum? Seorang Hitsugaya Toushiro yang bahkan terkadang hanya tersenyum satu kali dalam setahun itu, kini tersenyum karena seorang Kurosaki Ichigo?
Baiklah, aku akui yang tadi itu memang berlebihan. Dan, ternyata kehangatan cinta Ichigo telah berhasil membuat badai musim dingin di dalam hati Toushiro berganti menjadi musim semi yang indah.
"Taichou~!"
Seruan bernada tinggi itu dengan sukses berhasil membuyarkan semua romantika yang ditinggalkan oleh sepasang kekasih kesayangan kita tadi. Kemunculannya yang mendadak disusul dengan pelukan maut dari sesosok gadis ber-'itu' besar terhadap gadis mungil yang nampaknya kini sedang meregang nyawa kehabisan asupan oksigen.
"Ma...t...su...mot...o..."
Baru sadar akan apa akibat dari hal yang baru saja dikerjakannya, gadis yang baru saja hampir membunuh tokoh utama cerita ini dengan sadisnya itu segera melepaskan pelukan mautnya terhadap gadis yang tadi dipanggilnya 'taichou'. "Ah, maaf."
'Maaf'? Hanya 'maaf' yang diucapkannya! Kalau memang satu kata yang terdiri dari empat huruf itu bisa berguna, untuk apa ada polisi?
Sementara sang 'pelaku' sibuk nyengir bersalah, sang 'korban' malah sibuk memenuhi kebutuhan biologisnya akan oksigen. Tanpa mempedulikan permintaan maaf Matsumoto, Toushiro meraup oksigen di sekelilingnya dengan rakus. Setelah dirasa cukup, "Kau berniat membunuhku, ya?" semprotnya sepenuh hati.
"Ne~ Taichou, aku, kan, sudah minta maaf." Meski sedang me-lafadz-kan kata 'maaf', air muka Matsumoto sama sekali tak terlihat seperti orang yang sedang meminta maaf.
Toushiro hanya bisa menghela napas lelah. Ya, gadis di depannya ini telah dengan suksesnya berhasil merusak mood-nya yang sempat membaik berkat Ichigo. Hebat! Dalam sehari, sudah ada dua orang gadis menyebalkan yang telah membuatnya naik darah, padahal hari masih pagi. 'Baiklah, siapa lagi selanjutnya?' tanyanya sarkastik, dalam hati.
Tanpa merasa perlu menghiraukan keberadaan Matsumoto di depannya, Toushiro melangkah malas memasuki kelasnya, diiringi tatapan ingin tahu teman sekelasnya yang juga melihat scene Ichigo-mencium-Toushiro. Akan tetapi, melihat aura-aura seram yang senantiasa mengiringi langkah gadis itu membuat seluruh isi kelas X-2—kelas Toushiro—terpaksa menelan kembali rasa penasaran mereka bulat-bulat.
"Taichou~," rengek Matsumoto untuk yang kedua kalinya, mengekori setiap langkah yang diambil Toushiro.
Matsumoto Rangiku. Gadis berambut orange kekuningan bergelombang ini memang sudah terbiasa memanggil gadis mungil itu dengan sebutan 'taichou', entah karena dia sudah menganggap gadis yang jauh lebih pendek dibanding dirinya itu sebagai seorang pemimpin baginya, atau karena alasan lain.
Matsumoto dan Toushiro adalah dua gadis dengan dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Matsumoto feminin, Toushiro tomboi. Matsumoto manja dan sering merajuk, Toushiro keras kepala dan mudah naik darah. Matsumoto terlewat perhatian, Toushiro terlalu cuek. Matsumoto mengenakan rok, Toushiro lebih nyaman dengan celana selututnya. Matsumoto stylish dan sangat peduli pada mode, Toushiro membutakan diri tentang penampilan. Tapi, justru dari perbedaan-perbedaan itulah mereka bisa awet berteman selama bertahun-tahun, di mana mereka bisa saling mengisi kekurangan satu sama lain dengan kelebihan yang mereka miliki.
Meski wajahnya yang terlihat lebih dewasa dari usianya yang sesungguhnya, sikap Matsumoto masih terbilang 'agak' kekanak-kanakan dan kerjanya hanya membuat Toushiro yang mudah marah menjadi semakin marah. Namun, pada hakikatnya Matsumoto adalah teman yang baik dan perhatian terhadap keadaan Toushiro. Berteman selama hampir sepuluh tahun, sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengenal seorang Hitsugaya Toushiro luar-dalam.
Setelah berhasil mencapai bangkunya yang terletak nomor dua dari depan dan berada tepat di samping jendela, Toushiro menatap tajam Matsumoto. "Apa lagi maumu, hah?"
Matsumoto yang memang sudah bebal pada segala macam teriakan serta umpatan Toushiro hanya melemparkan senyum lebarnya, senang karena kembali mendapat perhatian 'taichou'-nya. "Bagaimana kabar hubunganmu dengan Kurosaki-senpai?" tanyanya penasaran.
Pertanyaan Matsumoto yang memang lumayan keras sempat tertangkap oleh beberapa pasang telinga, beberapa di antaranya langsung siaga, berniat menguping dari awal hingga akhir pembicaraan dua sahabat berbeda kepribadian itu.
Menggeser kursinya—bermaksud untuk duduk—Toushiro masih belum berniat untuk berkomentar apa-apa mengenai pertanyaan teman sekelas sekaligus sahabat baiknya sejak kecil itu. Pandangannya dialihkan ke arah halaman sekolah yang terlihat dari jendela di sampingnya.
"Taichou, kau belum menjawab pertanyaanku." Lagi-lagi, rengekan Matsumoto membawa Toushiro kembali dari alam lamunnya.
Toushiro kembali menghela napas panjang. Entah kenapa, setiap ia berdekatan dengan Matsumoto ia jadi lebih sering menghela napas dibanding biasanya. "Bukan urusanmu."
"Ah~ ayolah, Taichou," desak Matsumoto. "Beritahu aku~!"
Toushiro masih keukeuh pada pendiriannya untuk tidak menceritakan apa pun mengenai dirinya dan Ichigo pada sahabatnya yang satu itu.
"Taichou?"
"..."
"Taichou?"
"..."
"Taichou?"
"..."
"Ta—"
"URUSAI!" potong Toushiro cepat. "Berhentilah berkicau, Matsumoto!"
"Tidak, sebelum kau menceritakan semuanya padaku, Taichou." Matsumoto kembali nyengir innocent.
"AAAARGHH!" teriak Toushiro, frustasi. Kakinya dengan bebas menendang meja di hadapannya keras.
Glekkk.
Matsumoto menelan paksa ludahnya, ia tahu betul bahwa jika Toushiro sudah mencapai pada level seperti sekarang ini—dengan amarah yang sudah meletup-letup seperti itu, dan jika ia terus melanjutkan aksinya untuk membuat gadis mungil itu semakin murka, Toushiro bisa saja menghancurkan seluruh isi sekolah dalam satu hari. Benar-benar bahaya!
Seluruh penghuni kelas Toushiro pun sudah merasakan firasat buruk. Bahkan terlihat beberapa di antara mereka sudah mulai berdoa menurut keyakinan masing-masing.
Beruntung, bel masuk menyelamatkan mereka semua. Oh, Kami-sama! Engkau memang Maha Penyayang.
"Oi, Ichigo!"
Seruan di balik punggungnya sontak membuat Ichigo berhenti melangkah menuju kelasnya. Ia kenal betul siapa pemilik suara itu.
"Renji..." Sebuah nama terlontar dari mulut Ichigo ketika ia berbalik untuk menghadap 'makhluk' yang memanggilnya tadi.
Di hadapan Ichigo, kini terpampang sosok Abarai Renji. Tubuh tegap dengan tinggi yang hampir sama dengan Ichigo, rambut merah panjang yang diikat mencuat keatas menyerupai nanas, tato dengan variasi bentuk dan ukuran tersebar di hampir seluruh permukaan kulitnya, ikat kepala berupa handuk putih kecil hingga membuatnya seperti seorang penjual takoyaki(?), juga tak lupa dengan sebuah pisang kuning mentereng—telah termakan setengah—yang tergenggam erat di tangan kanannya.
Nyentrik. Mungkin itulah kesan pertamamu saat bertemu dengan 'makhluk' seperti Renji.
"Wah... wah... wah... Benar-benar hebat, temanku yang satu ini," ujar Renji sambil bergerak untuk merangkul pundak sobat masa kecilnya itu. "Pagi-pagi, sudah rajin membuat sensasi."
Ichigo memutar bola matanya sebal. Dilanjutkannya kembali langkahnya yang sempat diinterupsi oleh kehadiran Renji. "Apa maksudmu, hah?"
Renji ikut bergerak di samping Ichigo—menuju kelas mereka yang kebetulan sama. "Oh, ayolah, Ichigo. Jangan berlagak tak tahu begitu." Tangan kanannya mengambil posisi untuk menyikut pinggang pemuda di sebelahnya. "Aku sudah melihat semuanya tadi pagi. Semuanya—dari awal sampai akhir. Kau... dan gadis putih pendek itu."
Sebuah seringaian tampak di wajah tampan Ichigo. "Berani taruhan, jika sampai 'dia' mendengarnya—kau menyebut 'dia' pendek tepatnya—kau akan dihajarnya sampai koma."
Kini giliran Renji yang memutar kedua bola matanya. "Ya... ya... aku tahu itu."
Langkah kaki mereka kini telah sampai di kelas XI IPA 2—tempat tujuan mereka.
"Aku sendiri bingung, kenapa orang sepertimu bisa-bisanya mencintai gadis galak macam 'dia'?" Masih dengan gumamannya, Renji bergerak menuju bangkunya.
"'Dia' istimewa, Bro." Sebuah seringaian tampan kembali menghiasi wajah Ichigo. "Dan, keistimewaannya itulah yang berhasil membuatku mencintainya."
Satu alis Renji terangkat, tak mengerti.
"Bahkan aku sempat berpikir, mungkin jika Toushiro tak galak dan tak ada kejadian di koridor tempo itu aku tak akan pernah mengenalnya—apalagi mencintainya." Ichigo tersenyum sendiri bila mengingat kejadian Toushiro hampir menghancurkan masa depan Aizen Sousuke—teman seangkatan Ichigo—yang telah berani-beraninya menggoda gadis itu.
"Tapi, dia terlalu liar, Man," sanggah Renji yang masih belum mengerti alasan Ichigo begitu mencintai adik kelas mereka yang satu itu. Sesekali, terlihat Renji menggigit pisang yang dibawanya.
"Siapa peduli?" Ichigo mengangkat bahunya enteng, dilemparkannya pandangannya ke arah langit yang terhampar luas di balik jendela kelasnya yang terletak di lantai tiga. "Aku mencintainya..."
Renji mengangguk, paham. Kembali melanjutkan ritual-makan-pisang-nya.
"... dengan tulus," lanjut Ichigo.
Bel istirahat berbunyi memekakkan telinga. Suaranya cukup keras untuk membangunkan Matsumoto yang tertidur pulas di atas buku paket kimianya. Semua anak bersorak bahagia, seolah yang baru saja mereka dengar adalah alunan suara seruling surga.
Sebenarnya, tak satu pun dari mereka peduli seberapa indah bunyi bel istirahat sekolah mereka. Bagi mereka, bel berbunyi, ya waktunya makan.
Di saat hampir seluruh isi kelas sudah tumpah ruah keluar dan membuat koridor depan kelas mereka makin terasa sempit saja, seorang Hitsugaya Toushiro masih bergeming di tempat duduknya. Buku-buku dan semua alat-alat tulis yang tadinya berserakan di atas meja sudah dirapikannya sejak semenit yang lalu.
Masih belum berniat untuk ikut berpartisipasi dalam ajang berdesak-desakan-menuju-kantin, Toushiro mengalihkan pandangannya ke arah jendela di sampingnya, menerawang jauh menembus lapisan-lapisan awan putih yang berarak pelan tertiup angin.
Dia masih ingat betul apa yang dikatakan Ichigo pagi tadi. Pemuda itu menunggunya di atap, entah untuk keperluan apa—Toushiro tak tahu. Meski penasaran, dia masih belum bermaksud untuk menemui pacarnya itu di atap.
Terkadang, Toushiro merasa aneh pada dirinya sendiri jika sudah berdekatan dengan Ichigo. Ia seolah menjadi orang-yang-bukan-dirinya, ia bisa dengan mudahnya tersipu malu di depan pemuda tampan yang satu itu, padahal jika digoda oleh pemuda lain—selain Ichigo—Toushiro tak akan segan-segan untuk menonjoknya sampai hidungnya patah. Entah kenapa, jika bersama Ichigo, sisi kewanitaannya yang—kata Hinamori—sudah menguap itu mendadak terkumpul kembali menjadi satu, membuatnya benar-benar seperti seorang perempuan.
Di antara beberapa anak yang masih menetap di kelas, tak ada satu pun yang berniat—atau lebih tepatnya tak ada yang berani—mengganggu kedamaian Toushiro. Karena mereka tahu, nyawa mereka bisa lenyap mendadak jika mereka berani mengganggu gadis mungil yang satu itu. Tak seorang pun mau, kecuali satu orang yang nampaknya sudah tak sayang nyawa—dan kalian pasti sudah tahu siapa.
"Taichou~," panggil Matsumoto yang duduk tepat di sebelah Toushiro. "Ke kantin, yuk?"
Tanpa mengalihkan pandangannya dari arakan awan yang sedari tadi menjadi objek visualnya, "Aku tak lapar," sahut Toushiro enteng. "Pergilah sendiri."
Matsumoto mengerucutkan bibirnya kesal.
"..."
"Ah, iya!" celetuknya tiba-tiba, sepertinya sedang teringat akan sesuatu yang penting. "Kurosaki-senpai menunggumu di atap!"
Melihat tak ada respon dari 'taichou'-nya, Matsumoto melanjutkan perkatannya, "Kau tak menemuinya di sana, Taichou?"
"Entahlah."
"Ayolah, Taichou~!" Matsumoto kembali berusaha merebut perhatian Toushiro. "Kau tidak kasihan pada Kurosaki-senpai? Dia menunggumu di atap, ingat?"
Bukannya menjawab pertanyaan Matsumoto, Toushiro justru memejamkan kedua matanya, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sejenak, tabir keheningan menyelimuti mereka berdua. Tak satu pun di antara mereka yang membuka suara, tidak juga dengan teman-teman mereka yang kini tengah memandangi mereka berdua dalam diam.
"Ne~ Taichou~." Akhirnya Matsumoto kembali membuka suaranya. "Kau ada masalah, ya, dengan... Kurosaki-senpai?"
Kali ini, respon Toushiro hanya berupa gelengan lemah. Jujur, dia sendiri masih bingung akan dirinya sendiri.
"Kalau memang tidak, cepat sana! Temui pangeranmu yang sudah menunggu dari tadi di atap, Taichou!" Kini Matsumoto sudah bangkit dari bangkunya, berniat untuk menarik paksa Toushiro agar segera menemui senpai mereka di atap sana.
Tanpa menunggu dirinya diseret oleh sahabat masa kecilnya yang terkadang terlalu pengertian itu, Toushiro memutuskan untuk segera menuju ke atap, takut bel masuk segera berbunyi.
"Ckckck..." Matsumoto hanya menggeleng-geleng pasrah, melihat sikap Toushiro yang kadang-kadang terlalu susah untuk dimengerti olehnya yang memang tak sepintar 'taichou'-nya.
"Kurosaki!" seru Toushiro sambil membuka pintu yang tersambung langsung dengan atap sekolah dengan kasar—hingga engselnya nyaris lepas.
Setelah terlibat perbincangan dengan Matsumoto di kelasnya tadi, Toushiro segera berlari dari kelasnya yang terletak di lantai dua ke atap gedung Karakura High School—yang notabene terdiri atas lima lantai. Dan dampaknya bisa dilihat sekarang. Napasnya tersengal-sengal, layaknya orang yang habis menempuh perlombaan lari marathon.
"Toushiro?" Ichigo membalikkan tubuhnya yang dari tadi disandarkannya pada pagar pembatas. Melihat pacarnya yang ngos-ngosan seperti itu kontan membuatnya khawatir juga. Ia melangkah mendekati sang pujaan hati. "Kenapa tersengal-sengal begitu? Kau berlari dari kelasmu sampai ke mari?"
Sambil berusaha mengatur napasnya, Toushiro mengangguk pelan. "Maaf...," ucapnya lirih ketika dirasa napasnya sudah mulai membaik. Kepalanya yang tertunduk dalam itu melukiskan rasa penyesalan yang besar. "Maaf, aku terlambat..."
Ichigo tersenyum tipis, tangannya bergerak untuk mengusap lembut pipi yang telah dikecupnya tadi pagi. "Tak apa... aku belum lama menunggu," ujarnya menenangkan.
Ichigo mengelus lembut rambut putih panjang Toushiro yang diikat. Toushiro mengangkat kepalanya. Mata emerald Toushiro bertubrukan dengan mata musim gugur Ichigo. Dengan gerakan yang tiba-tiba, gadis mungil itu memeluk Ichigo erat, menenggelamkan wajahnya ke dalam hangatnya dada bidang Ichigo.
Kaget dengan apa yang baru saja dilakukan Toushiro, Ichigo hanya terdiam membeku—belum membalas pelukan pacar mungilnya itu. Keadaan masih terus saja begitu sampai akhirnya Ichigo perlahan mulai mengangkat tangannya. Bisa Toushiro rasakan, tangan Ichigo terulur melingkari pinggangnya. Membalas pelukannya. Membawanya semakin dekat ke dalam dekapan pemuda itu.
Toushiro bisa mencium dengan jelas wangi tubuh Ichigo, pemuda yang berhasil merebut hati dan pikirannya. Tenang, damai, dan membuatnya nyaman. Hangat. Makin dieratkannya pelukannya, seolah tak ingin momen-momen bahagia seperti saat ini berakhir.
Keheningan menyelimuti mereka berdua. Tak satu pun di antara mereka yang berniat untuk merusak kedamaian yang telah mereka bangun. Hanya satu yang mereka lakukan, memejamkan mata sambil saling berbagi dan merasakan kehangatan masing-masing.
Perlahan, Toushiro mendongakkan wajahnya. "Kurosaki," ucapnya lirih. Mata emerald-nya kembali menatap dalam mata hazel Ichigo, berusaha mencari kejujuran di dalamnya. "Kau mencintaiku, kan?"
Dihadapkan pada pertanyaan seperti itu, tak ayal membuat Ichigo terkekeh geli. "Tentu saja. Memangnya apa yang kau pikirkan?"
Toushiro menggeleng pelan, lalu kembali menyurukkan wajahnya ke dalam pelukan Ichigo. "Aku juga mencintaimu, Kurosaki."
Dikecupnya lembut puncak kepala Toushiro. "Aku tahu... Memang karena itulah kau menerimaku. Iya, kan?"
Toushiro tersenyum di dekapannya. Ichigo yakin itu. Ichigo bisa merasakannya.
"Ah!" Tiba-tiba Toushiro teringat sesuatu. "Kau tadi yang menyuruhku untuk datang ke mari. Ada perlu apa? Ada yang mau kau katakan, Kurosaki?"
Baru Ichigo hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, bel masuk berbunyi—menandakan bahwa waktu istirahat telah usai.
Melihat Ichigo yang tak kunjung juga mengutarakan maksud dan tujuannya menyuruh Toushiro datang ke atap—padahal bel sudah berbunyi dari tadi, tak urung membuat gadis itu bingung. "Kurosaki?"
"Ah, err~ tidak." Ichigo menggeleng cepat. "Tidak jadi. Lupakan saja."
"Oh, oke." Toushiro mengangguk patuh.
"Ayo! Kuantar kau ke kelasmu," ajak Ichigo disertai senyum lembut di wajahnya. Tangan kanannya diulurkan pada Toushiro.
Tanpa mengangguk atau pun meng-"iya"-kan ajakan Ichigo, Toushiro menyambut uluran tangan Ichigo dan menggenggamnya erat. Dan mereka berdua pun beranjak meninggalkan atap sekolah, yang telah menjadi saksi bisu dalamnya rasa cinta mereka terhadap satu sama lain.
Continued on Chapter #3
(a/n):
Update kilat~!
Nggak nyangka saiia, ternyata respon yang muncul positif semua... jadi, ya, sudah~ segera saiia update secepatnya XDD
Terima kasih untuk:
BlackGrayWhite, Aletha-rizu09, Cha-13elieveSuJuELF, Dina Shuuya Hitsugaya, Hitsugaya Yuki Phantomhive, Hanabi Kaori, dan Megami Mayuki.
Terima kasih telah me-review bahkan mem-fave fic ini... saiia benar-benar ucapkan terima kasih untuk kalian semua X3 m(_ _)m
Balasan review ada di inbox masing-masing XP
.
Mengenai chapter ini... aneh, nggak?
Maaf, ya~ saiia agak kesulitan untuk membuat adegan romance-nya Ichi sama Hitsu... memang pada dasarnya saiia ini orangnya melankolis, jadi agak susah untuk membuat scene yang romantis *pundung di pojokan*
Tapi, yang penting saiia sudah berusaha~! XD Hhohoho *dijitak*
Wokeh, sekian dulu...
Sampai jumpa di chapter depan~
Jaa~
Mohon tinggalkan kritik, kesan, dan saran Anda sebelum menekan tombol 'back'
m(_ _)m
Review, please XD
