Sequel: The First Date

Pairing: RayJun/JunRay

Rating: T

Disclaimer: c-clown belongs to yedang ent, their parents, and God.

Warning: sho-ai, ooc, typo(s), NO BASH OR FLAME!

DLDR!

.

.

.

Hyunil sibuk menggigiti bibirnya gugup. Untuk kesekian kalinya ia mengecek penampilannya. Kaus putih polos dengan garis-garis kuning di bagian bawahnya, kemeja bahan lengan panjang berawarna biru muda, celana jeans biru gelap, sneakers merah. Lumayan. Dia mengecek jam tangannya, 8.52.

"Huff, Kangjun lama." gerutunya.

Tunggu, untuk apa Hyunil menumggu Kangjun? Sepertinya kita harus merewind kejadian kemarin.

Flashback

'Besok kau free?'

"Kangjun?" Hyunil buru-buru memasukkan kertas tisu itu ke sakunya. Junghwan menyeringai melihat reaksi Hyunil.

"Tunggu, bagaimana kau tahu?!" tanya Hyunil. Junghwan menaruh jari telunjuknya di bibirnya dan mengerutkan alisnya, pura-pura berpikir.

"Hmmm, dari mana ya?" Hyunil sudah bersiap melayangkan tinjunya.

"Dari aku." jawab Kino yang lewat di belakang Junghwan. Ia meletakkan pesanan terlebuh dahulu sebelum menggabungkan diri dengan Junghwan dan Hyunil. "Dan tidak usah memasang pose sok berpikir seperti itu, hyung. Mengesalkan."

"Mehrong." Junghwan menjulurkan lidahnya ke arah Kino. "Sunwoo tidak pernah mempermasalahkannya, toh."

"Dia namjachingumu, hyung babbo."

"Ya betul, hoobae jelek."

"Tunggu, Kino hyung. Darimana kau tahu kalau namanya Kangjun?" tanya Hyunil. Ia penasaran sekaligus ingin mencegah pertengkaran antara Junghwan dan Kino. Percayalah, kalian tidak akan mau mendengarnya.

"Hehe, semalam aku dan Sanghoon menguping kalian berdua." ucap Kino, menyengir tanpa dosa. Oh, Hyunil ingin menonjok keduanya sekarang.

PLAK

"Awh!" Kino meringis saat Hyunil menggeplak belakang kepalanya.

"Itu karena sudah menguping."

PLAK

"Ouch! Ya, Hyunil-ah! Aku tidak melakukan apa-apa!" gerutu Junghwan saat Hyunil juga menggeplak belakang kepalanya.

"Itu karena hyung ingin memulai pertengkaran." jawab Hyunil.

"Mehrong!" ucap Kino dan Junghwan terkekeh mendengarnya.

"Kadang aku heran kenapa kalian sering bertengkar." Hyunil menulis sesuatu di kertas tisu dan meletakkannya dibawah gelas frappuccino. "Salah satu di antara kalian, tolong bawakan frappuccino ini ke meja Kangjun."

Kino meletakkan frappuccino dan tisu itu di nampan dan meletskkan semuanya di meja Kangjun. Hyunil melihat Kangjun membaca tisu itu setelah Kino pergi. Ia mengedipkan matanya ke arah Kangjun yang menatapnya puas.

'Besok, jam 9, di depan café. Jangan telat.'

Flashback End

"Huff." Hyunil meniup-niup poninya. 'Sepertinya sebentar lagi aku harus memotong poniku.' pikirnya. Ia bermain dengan ipodnya, menunggu Kangjun.

"Hyunil!" Kangjun memghentikan larinya tepat di depan Hyunil. Ia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum berbicara. "Mianhae, ibuku memintaku membantunya mengurus kebun aku sudah bilang aku ada janji tapi dia tetap memaksa seharusnya aku langsung kabur saja baru selesai pukul 8.21 sialnya hyungku dan appa sedang menggunakan kedua kamar mandi yang ada jadinya aku harus menunggu aku langsung buru-buru pergi ke halte bus tapi-"

"Jun-ah, bernafaslah." ucap Hyunil, memegang kedua pundak Kangjun.

"Fuuhh, baiklah. Intinya aku harus membantu eomma, kamar mandi di rumahku tadi pagi dipakai appa dan hyungku, aku ketinggalan bus, sehingga aku harus lari ke sini."

"Haahh, kupikir kenapa. Baiklah, gwaenchanayo." ucap Hyunil.

"Ah, gomawo." Kangjun tersenyum padanya. "Jadi hari ini kita akan ke mana?"

"Eh? Kupikir kau sudah tahu?"

"Ehe, aku tidak kepikiran itu kemarin." jawaban Kangjun membuat Hyunil merengut. "Kita cari sarapan, bagaimana? Aku belum makan."

"Ah, nde. Sayang café tidak buka hari ini."

"Aku tahu tempat lain yang enak. Kajja!" Dengan itu, Kangjun menarik tangan Hyunil pergi.

.

.

.

"Hoaa! Kau betul, ini enak!" Hyunil menggigit croissant itu lagi. Kangjun di depannya tersenyum senang, dan menyuapkan waffle ke dalam mulutnya.

Kangjun tadi mengajaknya ke café yang menyediakan menu breakfast. Café itu terletak tidak jauh dari café tempat Hyunik bekerja. Kangjun menyarankannya untuk memesan butter croissant di situ, sementara dirinya memesan Blueberry Cheesecake Waffle.

"Sudah kuduga, kau akan menyukainya." ucap Kangjun. Hyunil mengangguk dan kembali fokus dengan croissantnya. Kangjun mendorong piringnya yang sudah kosong. Hahh~, perutnya kenyang sekarang. "Aku dulu sering ke sini dengan hyungku."

"Hhinhhaayo? (Jinjjayo?)"

"Hei, tidak sopan. Telan dulu makananmu."

"*glup* Jinjjayo?"

"Eum, eomma sering bangun kesiangan sehingga tidak sempat membuat sarapan dan bekal. Aku dan hyung sering ke sini untuk membeli sarapan dan bekal, kadang kami juga sarapan di sini. Toh, café ini searah dengan SMA kami dulu."

"Tapi?"

"Hyung dan aku masuk ke universitas yang berbeda, jadi kami sudah jarang pergi ke sini. Dan lagi, di dekat universitas hyung itu, ada Starbucks." Kangjun melihati Hyunil sedari tadi. Ia memajukan badannya dan menjulurkan tangan kanannya, ibu jarinya mengusap remah-remah croissant di bibir Hyunil. Ia lalu kembali duduk di kursinya, dan memakan remah-remah itu. "Ah betul, memang enak!"

"Ya,babbo. Barusan itu apa, eoh?" gerutu Hyunil, mendeath glare Kangjun.

"Mencoba romantis."

"Cheesy sekali, seperti di drama saja."

"Aku tertular teman hyungku. Dia jauh lebih cheesy." ucap Kangjun.

"Dan lagi, kita sepasang kekasih kan? Jadi tidak salah melakukan sesuatu yang cheesy dan romantis-" Kangjun memajukan tubuhnya lagi lalu mengecup pipi Hyunil. "-kan?"

Hyunil merasa aneh, rasanya sesak dan panas. Jantungnya berdetak cepat, seperti tengah lari marathon. Tapi dia mengabaikannya dan meminum vanilla lattenya.

"Habis ini kita mau ke mana? Kau yang pilih." ucap Kangjun, menenggak english breakfast teanya. Hyunil mengangkat bahu, tanda tidak tahu. "Sekarang giliranmu, tadi aku yang memilih."

"Toko buku bagaimana? Aku ingin membeli komik."

"Ok, kajja!"

"Ya! Jangan comot croissantku!"

.

.

.

"Eum, ini, lalu ini dan ini. Ah! Ada ini juga! Eh, aku belum beli yang ini!" Hyunil terus mengambil komik-komik dari rak dan memberikannya pada Kangjun yang kewalahan. Memang komik-komik itu tidak berat, tapi ini terlalu banyak! Tangannya tidak bisa membawa barang sebanyak ini! Dan lagi, ia tidak melihat tas untuk membawa barang-barang ini.

"Hey, Hyunil-ah! Kau mau beli berapa lagi?!" gerutu Kangjun. Hyunil yang dari tadi fokus dengan komik menoleh ke arah Kangjun, dan tertawa melihat Kangjun yang kewalahan.

"Kenapa kau tidak bilang kalau kau kawalahan, eoh? Aku pasti akan membantu, kok." Hyunil mengambil beberapa komik itu dari tangan Kangjun, membuat jari keduanya tidak sengaja bersentuhan. Kangjun tahu bahwa wajahnya sendiri memerah karena sentuhan itu. Hyunil? Dia kembali fokus dengan komiknya.

"Hyunil, kau yakin ingin membeli komik sebanyak ini?"

"Eum, aku belum sempat membeli komik sejak 3 bulan yang lalu." Hyunil mengambil satu komik lagi, lalu berjalan ke kasir. Ia melambaikan tangannya, menyuruh Kangjun menyusul.

'Oh, god.' dengan tersenyum-terpaksa-, Kangjun berlari ke samping Hyunil. Beruntung saat itu sepi, sehingga tidak mengantri. Setelah meletakkan semua buku itu di kasir, Kangjun melingkarkan lengannya di pinggang Hyunil, dagunya ia tumpukan di bahu Hyunil.

"Setelah ini mau kemana? Kau yang pilih." ucap Hyunil.

"Ke bioskop?"

"Boleh." Hyunil mengambil kembalian dan barangnya lalu mengucapkan terima kasih. Kangjun menggengam tangan Hyunil lalu berlari menuju bioskop. "Ya! Kenapa dari tadi kita buru-buru terus?!"

"Kalau tidak cepat, tidak keburu!"

"Apanya yang tidak-Ya! Hei! Kangjun-ah!"

.

.

.

"Untung kita dapat tiket yang jam 12." Kangjun mendudukkan dirinya di kursi bioskop. Di sebelahnya, Hyunil masih merajuk. "Hyunil-ah, waeyo?"

"Kau tidak memberitahuku apanya yang tidak akan keburu." Kangjun tertawa kecil mendengar jawaban Hyunil.

"Nanti juga kau akan tahu."

"Tapi-"

"Bersabarkah, ok hyung?" Hyunil, tersanjung karena belum pernah dipanggil hyung, mengangguk. Padahal ia dan Kangjun hanya beda beberapa bulan. Kangjun melakukannya, juga hanya untuk membujuknya.

"Ah, filmnya sudah mau mulai."

Pada awal film, Hyunil masih fokus menonton. Tapi di pertengahan film, dia tertidur. Dia memang bukan tipe yang suka menonton. Kangjun menyandarkan kepala Hyunil ke pundaknya lalu kembali fokus menonton.

Mereka selesai menonton sekitar pukul setengah tiga. Kangjun melirik jam tangannya.

"Hyunil-ah, masih ada waktu. Kau mau ke mana?"

"Eh? Tidak ada sih, terserah kau saja."

"Kau mau crepes?" Kangjun menunjuk ke stand crepes di dekat mereka. Memang ramai, tapi mereka bisa menghabiskan waktu dengan mengantri. "Toh, kita juga bisa sekalian menghabiskan waktu?"

Hyunil mengangguk. Mereka berjalan menuju antrian paling belakang. Sambil menunggu, mereka memilih bermain truth or dare.

"Kangjun, giliranmu. Truth or dare?"

"Truth."

"Kenapa kau mengajakku pergi hari ini? Kita saja baru saling mengenal kemarin lusa."

"Ehe, aku terlalu senang saat kau bilang mau menjalin hubungan denganku. Jadi, aku mengajakmu kencan-bukan pergi-untuk berterima kasih." ucap Kangjun, wajahnya mulai memerah sekarang. Hyunil terkikik geli melihat Kangjun, dan mengusap rambutnya. "Sekarang kau Hyunil. Truth or dare?"

"Dare."

"Panggil aku 'hyung'." Kangjun tertawa evil setelahnya. Hyunil hanya merengut.

"Baiklah, Kangjun hyung." ucap Hyunil dengan penekanan di kata 'hyung'. "Truth or dare?"

"Truth."

"Tidak adil, kau memilih truth terus!" Kangjun menjulurkan lidahnya menanggapi gerutuan Hyunil. "Arraseo. First kissmu, dengan siapa, kapan, dan di mana?"

Kangjun memikirkannya untuk beberapa saat, sebelum sebuah ide terlintas di otaknya. "Boleh kujawab itu nanti? Aku janji tidak akan berbohong."

"Yaksokhae?"

"Yaksok!"

"Arraseo, kau boleh menjawab itu nanti. Sekarang giliranku." Mereka terus bermain hingga kurang lebih 25 menit. Antrian di stan crepes itu memang sangat panjang, sampai beberapa meter.

"Hah, tidak kusangka. Kita sudah bermain, tapi antriannya masih lama, ya kan Hyunil-ah?" Kangjun menunggu jawaban dari Hyunil. "Hyunil-ah, gwaenchana?"

Hyunil menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di dada Kangjun. Jujur, Kangjun senang, tapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Di depan kita..." bisik Hyunil. Kangjun mendongakkan kepalanya. Memang, dari tadi ia menatap Hyunil terus, tidak melihat sekelilingnya. Sekarang, ia mengerti apa yang dimaksud Hyunil. Di depan mereka, ada pasangan yang juga tengah mengantri, hanya saja mereka terlihat seperti ingin memakan wajah satu sama lain (ifyouknowwhatimean).

"Memang apa yang salah?"

"Aku tidak berani melihat, dan malu." ucap Hyunil. Kangjun mengerti, dan ia tertawa.

"Jangan bilang kau belum pernah melakukan first kissmu?"

"Ani..."

"Memang kau belum pernah melihat adegan ciuman di film, atau mungkin melihat temanmu dengan pasangannya?"

"Aku selalu tutup mata."

"Di komik?"

"Ani, aku tidak pernah membeli komik romance. Kalaupun di komik shonen ada romancenya, selalu kulewati." Kangjun tertawa lagi. Ia mengusap rambut Hyunil. Hyunil makin mengeratkan genggamannya pada cardigan Kangjun.

"Dasar alim. Lihat ke belakangku saja." usul Kangjun. Hyunil mengintip dari pundak Kangjun, hanya untuk melihat hal yang sama. Ia menyembunyikan wjahnya di dada Kangjun lagi.

"Sama saja, babbo." desis Hyunil. Kangjun menoleh ke belakang dan sweatdrop saat melihat pasangan yang tengah bermesraan juga.

"Aku lupa ini malam libur." ucap Kangjun. "Kau mau pergi saja dari sini?"

"Ani, gwaenchana."

"Jinjja?"

"Eum."

"Kalau begitu tetap seperti ini." Kangjun mengeratkan lengannya di pinggang Hyunil. Dan mereka menunggu antrian dengan posisi seperti itu.

'Badan Kangjun dingin.'

.

.

.

"Hahh, tadi benar-benar menginjak ranjau."keluh Hyunil, mereka sudah selesai memesan crepes mereka. Dan oh wow! Mereka menunggu selama 45 menit. Ia menggigit crepes custard almondnya.

"Eum, ayo habiskan crepesnya. Kita tidak bisa naik bus sambil makan." Kangjun buru-buru menghabiskan crepesnya, membuat cream custard itu belepotan di mulutnya. Hyunil mengusap cream di mulut Kangjun dengan ibu jarinya lalu menjilatnya.

"Mashita!" puji Hyunil. Wajah Kangjun memerah.

"Hyunil?"

"Eum?" Hyunil menoleh ke Kangjun. Kangjun menyunggingkan smirknya dan menggigit crepes Hyunil. Crepesnya sendiri sudah habis dari tadi. "Ya!"

"Kena kau." ejek Kangjun. Hyunil menjulurkan lidahnya dan buru-buru menghabiskan crepesnya. "Ayo! Busnya sudah sampai!"

Mereka naik ke bus dan mendapat tempat duduk di tengah. Hyunil mengeluarkan ipod dan earphonenya. Sudah kebiasaannya untuk mendengarkan lagu di waktu luang. Ia melirik ke arah Kangjun yang mengetuk-ngetukkan jarinya di lututnya. Ia menjulurkan salah satu earphonenya.

"Kau kelihatan bosan." jawab Hyunil saat Kangjun bertanya. Kangjun mengucapkan 'gomawo' dan memasangnya di telinganya. Hyunil melihat daftar lagunya dan memilih salah satu lagu.

'Now Playing

Noria - 瞳のこたえ (Hitomi no Kotae)'

"Aku suka melodinya." ucap Hyunil. Mereka mendengarkan lagu itu hingga akhir, sesekali mengobrol dan bercanda. Hyunil memberikan ipodnya pada Kangjun, menyuruhnya untuk memilih satu lagu. Kangjun tersenyum saat menemukan lagu yang cocok dengan suasana hatinya.

'Now Playing

VIXX - 오늘부터 내 여자 (From Now On, You're Mine)'

"Ah, aku jarang mendengarkan lagu ini. Kau menyukainya?" tanya Hyunil, yang dijawab dengan anggukkan oleh Kangjun.

"Lagu ini sesuai dengan perasaanku saat ini."

"Huh?"

"Ganjeolhi baraewatdeon jigeum i sungan (I've waited so long for this moment)
Nega nareul badajun sungan (The moment you accept me)
Igeo hanamaneun naege yaksokhae (I'll promise you this one thing) Oneulbuteo neon nae yeojanikka (Because you're my girl from today) Na anin namjaneun chyeodado boji ma (Don't even look at other guys who are not me) Jigeumbuteo ne yeppeun useumdo naman bollae (From now on, I wanna be the only one who sees your pretty smile) Neon nae pumane kkok angyeoisseo naekkeonikka (Stay tightly in my arms, because you're mine)
" Wajah Hyunil memerah saat Kangjun menyanyikan bagian itu. Hey! Ia tidak bodoh, ia mengerti artinya! Kangjun yang melihat wajah Hyunil yang memerah, menggaruk belakang tengkuknya. "Ah, seharusnya bagian yeoja itu kuganti dengan namja ya?"

"Bukan itu, babbo." gerutu Hyunil.

"Eh?"

"Kau membuatku malu." Kangjun tertawa geli dan kembali mendengarkan lagu.

.

.

.

Setelah memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan, mereka sampai. Mereka menoleh ke pemandangan di belakang mereka, pantai. Kangjun menarik tangan Hyunil turun ke pasir. Kantung plastik komiknya ia letakkan di meja kayu dekat situ.

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat sunset. Tetapi sepertinya terlalu pagi." ucap Kangjun. "Mau bermain air dulu?"

Mereka melepas sepatu dan berlari ke laut. Saling menyiram dan mencipratkan. Tubuh mereka basah semua karena air. Mereka saling menertawakan penampilan mereka. Tidak terasa sudah pukul 05.30, mereka duduk di pasir.

"Hey, kau bawa jam tidak?"

"Sepertinya kurang kurang lebih 15 menit lagi."

"Aish, lama."

"Yayaya! Itu mulai!"

Mereka menonton dengan fokusnya, melihat matahari itu tenggelam sepenuhnya. Hanya sebentar, tidak lama kemudian malam sudah berganti.

"Ah, sudah selesai." keluh Hyunil.

"Eum."

"Berarti sekarang saatnya pulang?"

"Yap, kecuali kau mau pergi ke suatu tempat."

"Butik."

"Eh?"

"Baju kita basah, mana bisa kita pulang. Kalau naik kendaraan umum, pasti diusir." ucap Hyunil.

"Haha, sepertinya hanya kau saja."

"Ya! Kau mendorongku sampai jatuh! Untung dompet dan handphoneku kutaruh di kantung plastik." omel Hyunil. Kangjun hanya menyengir dan menarik tangan Hyunil untuk bangun. Hyunil mengambil kantung plastik komiknya yang diletakkan di meja.

"Aku tahu butik yang bagus dekat sini." ucap Kangjun. Mereka berjalan menuju butik dalam diam. Well, mereka tidak tahu harus bicara apa. Sesekali bahu atau punggung tangan mereka bersentuhan. Akhirnya Hyunil mengambil inisiatif dan menggengam tangan Kangjun

"Kangjun, gomawo."

"Eh? Untuk?"

"Semua, hari ini." Hyunil mengecup pipi Kangjun tiba-tiba. Setelahnya, wajah keduanya memerah. Hyunil karena malu, Kangjun karena bahagia. "Ayo jalan."

"Ah ne."

.

.

.

"Kau tinggal di apartment? Lantai berapa?" Mereka kini sudah di apartment Hyunil. Mereka pulang menggunakan bus, dan Hyunil sudah berganti baju. Sekarang ia mengenakan kaus merah dan jaket putih dan celana jeans.

"Lantai 8." Hyunil dan Kangjun masuk ke dalam lift dan memencet tombol angka 8. Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di depan kamar Hyunil.

"Jadi, sampai ketemu lusa di café?" tanya Hyunil, menundukkan kepalanya.

"Ah, entahlah. Aku harus mengurus kuliahku." jawab Kangjun.

"Makanya cepat lulus." ejek Hyunil. Dia memang lebih tua dari Kangjun dan sudah lulus.

Keheningan menyelimuti mereka. Mereka berpikiran yang sama. Tidak mau berpisah. Tapi bagaimanapun juga itu tidak mungkin.

Hyunil yang memulai duluan. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Kangjun, hanya mengecup. Lalu, Kangjun menekan tengkuk Hyunil membuat ciuman mereka makin dalam.

"Truth darimu, tadi aku belum jawab." ucap Kangjun saat mereka sudah melepaskan ciuman mereka. "First kissku memang bukan denganmu. Tapi, first kissku yang tulus dan membuat jantungku berdebar-debar ialah dengan Kim Hyunil, 17 Mei 20xx, di depan pintu kamar apartment Hyunil."

"Ya! Jangan berkata cheesy seperti itu!" gerutu Hyunil, meskipun sebenarnya ia senang. Hyunil mengecup bibir Kangjun sekali lagi sebelum masuk ke kamarnya. "Jaljayo."

"Jaljayo."

Fin

Akhirnya selesai juga! Minggu lalu lagi pergi soalnya, jadi gak sempet update.

Dan ini kenapa aku milih 'hitomi no kotae', gara gara virus 07-ghost kambuh dan tuh lagu memang enak.

RnR, annyeong!