Draco menatap pantulan wajahnya di cermin. Lukanya belum sembuh—sial. Menyentuh lukanya dan dia meringis pelan. Brengsek—harusnya aku tak menolong Wanita itu. Melangkahkan kakinya menuju Pintu kamar dan membukanya dengan perlahan. Berharap dalam hati kedua Orangtuanya tidak ada dirumah—pergi seperti biasanya.
Langkahnya berhenti ketika mendengar suara pisau dan garpu dari arah ruang makan. Ugh. Orangtuanya ada. Dia harus melakukan apa? Wajahnya masih penuh luka. Dia menunduk dan berbalik. Menaiki satu pe-satu anak tangga lagi dengan malas.
"Draco? Kau tidak ingin sarapan, Nak?"
Draco menghentikan langkahnya. Mendesah pelan dan berbalik. Ibunya—Narcissa memandangnya kaget. "Wajahmu—"
"Aku terjatuh." Balas Draco sambil menyembunyikan lukanya dengan menunduk. Narcissa menghampiri Anaknya itu dan mengangkat kepala sang Anak. "Jatuh? Tapi ini terlihat seperti kau di pukul oleh seseorang."
"Aku—"
TOK TOK TOK
"Apa—Mum ada tamu?"
"Tidak—"
TOK TOK TOK
"Aku saja." Kata Draco sambil berjalan ke arah Pintu. Menghela nafas sepelan mungkin dan membuka pintu secara perlahan. Draco tersentak kaget saat melihat ada dua Orang yang tidak asing di depan pintu. Laki-laki berambut acak-acakan dengan kacamatanya, serta Kekasihnya yang mempunyai rambut merah. "Potter? Weasley? Sedang apa disini?"
"Kami ingin bertanya sesuatu, Malfoy. Bolehkah kami masuk?" tanya Harry tidak sabar yang membuat Ginny diam-diam menggelengkan kepalanya. Draco menggeser tubuhnya. "Silahkan."
Tentang Rasa © Aura Huang
Draco Malfoy x Hermione Granger
Disclaimer : Harry Potter milik J. K. Rowling
Rating M karena umpat-umpatan jelek. Sorry.
SORRY FOR TYPO(S)
CHAPTER TWO
"Jadi—kau mengira aku menculik Granger? Lucu sekali, Potter. Aku memiliki selera tinggi untuk seorang Wanita dan lagipula aku tidak tertarik dengannya." Kata Draco sinis setelah mendengar semua penjelasan Harry dari hilangnya Hermione sampai foto dirinya yang sedang bersama Wanita asing di desa Tellaro dan memaksa dirinya untuk menceritakan perjalanannya disana.
"Oh—aku lupa, Malfoy. Kau hanya tertarik dengan Jalang di pinggir jalan." Balas Harry santai sambil menyesap teh hangatnya.
"Jadi, kau benar-benar tidak tahu siapa Wania itu, Malfoy?" tanya Ginny mengalihkan topik. Draco menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tapi—"
"Tapi?" potong Harry dan Ginny bersamaan yang membuat Draco terkekeh mendengarnya. "Kalian penasaran?"
"Malfoy—ini masalah penting. Jangan bercanda!" balas Ginny tidak sabar. Harry menatap Draco malas. "Cepat katakan atau ku kutuk kau."
"Baiklah," kata Draco mengalah. Dia tidak mau merasakan kutukan yang akan di beri Harry jika tidak mengatakannya. "Suaranya mirip dengan Granger."
Draco memijat keningnya pelan. Harry dan Ginny belum berkomentar dan hanya menatap satu sama lain. Draco menghela nafas dan memegang lukanya. "Bahkan, aku masih ingat dengan suaranya. Ah—gara-gara Wanita itu wajah tampan ku begini."
"Kau masih ingat, Malfoy? Tak ku sangka kau sangat mengingat suara Hermione."
"Hei," balas Draco sebal. "Dia selalu meneriakki ku, jadi aku mengingatnya."
"Alasan basi." Sambung Ginny sambil menyesap tehnya. Draco melotot mendengar perkataan Ginny. "Ck—terserah kalian."
"Tapi, kau benar-benar tidak tahu siapa Wanita itu, Malfoy?" tanya Harry lagi yang membuat Draco mati kebosanan mendengarnya. Menghela nafas pelan dan menatap Mantan Musuhnya itu. "Aku tidak kenal, Potter. Sebenarnya aku bingung—apa alasan Granger pergi? Bosan hidup?"
"Jaga ucapan mu, Malfoy."
"Sorry."
"Malfoy," sambung Ginny yang diam-diam sudah gemas dengan tingkah laku kedua Pemuda tersebut. "Kami tidak tahu alasan dia pergi. Jadi, bisakah kami meminta tolong?"
"Apa? Jangan bilang kau meminta ku untuk membantu mencari Granger itu." Balas Draco yang membuat Ginny menghela nafas setelah mendengarnya. "Aku ingin kau membantu kami."
"Gin," kata Harry tidak percaya dengan setiap ucapan Kekasihnya itu. "Kenapa kau memohon kepadanya seperti itu? Dia tidak akan mau."
"Hermione pasti menghindari kami semua." Kata Ginny, tidak mempedulikan ucapan Harry sama sekali. Kedua matanya menatap penuh harap ke Draco. "Kalau kau yang mencari, aku yakin dia tidak akan menghindar."
"Kenapa dia tidak akan menghindar? Itu tidak mungkin." Balas Draco heran yang membuat Harry mengangguk setuju. "Itu betul, Gin. Dia pasti menghindar."
"Malfoy, kau itu musuhnya. Dia pasti tidak akan menaruh curiga kepada mu. Aku yakin itu."
Draco tertawa mendengar penjelasan dari Ginny. "Jadi, kalau aku menerima, kalian akan memberi ku apa?"
Harry menatapnya sinis. "Dasar—"
"Bercanda." Potong Draco cepat. "Tapi tetap saja, aku tidak mau membantu kalian. Aku sibuk."
"Ck. Sebaiknya kita pergi sekarang, Gin. Terimakasih untuk tehnya." Kata Harry sambil menarik tangan Ginny ke dalam genggamannya. Ginny tersenyum kecil ke Draco. "Kalau kau menemuinya, tolong hubungi kami."
"Well, aku tidak berjanji."
Harry dan Ginny langsung pergi ke luar Malfoy Manor dan ber-apparate. Sekarang Draco tidak tahu harus berbuat apa. Apa aku harus ke Desa itu lagi? Tidak.Bukankah tadi ia sudah bilang kalau dia sama sekali tidak mau ikut campur dengan urusan Granger yang menghilang?
Penasaran. Itulah yang ia pikirkan sekarang. Di hatinya—ia ingin langsung ber-apparate ke Desa Tellaro, tapi di pikirannya—ia harus menahan diri untuk tidak ikut campur dengan urusan Granger. Mengacak-acak rambut pirangnya frustasi dan dia memejamkan kedua matanya.
Tapi, pada akhirnya, Draco pergi ke desa Tellaro, Italia. Kakinya berjalan menelusuri jalan panjang yang kanan-kirinya terdapat sungai dan juga perahu-perahu kecil. Matanya mencari-cari sosok yang ia cari, Granger.
Mengeluarkan sebatang rokok dalam kantungnya dan mulai menyalakannya, lalu menghisapnya pelan. Dia mulai berpikir untuk berkeliling lagi, tapi—
—ah, nanti tenaga ku terkuras.
Dia mulai berpikir lagi. Ah. Dia memutuskan untuk pergi ke tempat dimana dia bertemu dengan Wanita tersebut. Di dekat lorong kecil dan gelap. Lalu dia berlari-lari kecil dan tidak mempedulikan tatapan kagum dari Wanita asli penduduk desa Tellaro. Dia berbelok dan tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa belanjaan.
"Sial." Umpat Draco pelan sambil membantu memunguti belajaan yang terjatuh tersebut. Melirik ke arah seseorang atau lebih tepatnya Wanita yang sedang memungutinya juga. Mulut Draco terbuka kecil dan bola matanya nyaris saja keluar dari matanya. "Granger?"
Wanita itu menatap sampingnya—mengenakan kaos lengan panjang dan celana jins, lalu rambut coklatnya ia pakaikan topi. Hermione mengernyitkan dahinya. "Malfoy? Apa yang kau lakukan disini?"
Draco mencoba untuk mengatur nafasnya senormal mungkin agar Hermione tidak menaruh curiga kepadanya. Benar apa kata Ginny, Hermione tidak kabur atau menghindarinya sama sekali. Bahkan, dia berani mengeluarkan beberapa kata dari mulutnya. Draco tertawa canggung. "Aku—aku kesini karena ingin berjalan-jalan. Kau sendiri, Granger?"
"Aku menemui Sepupu ku disini." Balasnya santai yang membuat Draco mengernyitkan dahinya. Tidak mungkin. Harry sudah menjelaskan tentang kepergian Hermione dengan lengkap. Ck, kau tak bisa berbohong. Draco menyerahkan buat apel terakhir ke Hermione yang langsung di sambar olehnya. "Thanks."
"Aku tidak ingin kau hanya mengucapkan terima kasih."
Hermione mengernyitkan dahinya. "Lalu?"
Draco membuang putung rokok sembarangan dan menginjaknya. "Bagaimana kalau secangkir kopi dan roti? Aku belum sarapan."
Hermione membuka kantung belanjaannya dan mengeluarkan sandwich isi tuna dan juga sebotol air putih. "Maaf, aku sibuk. Dan hanya ini yang bisa ku berikan untukmu."
Draco mengambil lemparan makanan dan minuman itu dengan ahli. Draco tertawa sinis melihat Hermione yang semakin lama semakin menjauh. "Mau mencoba untuk kabur, Granger?"
Membuka bungkusan sandwich isi tuna tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut. Melirik ke kanan-kiri dan dia mulai mengikuti setiap langkah Hermione yang sudah tidak terlalu melihat. Draco berjinjit dan menemukan Hermione yang sedang berjalan di antara penduduk desa. Lalu ia mulai mengejarnya lagi. Sekali-kali dia bersembunyi di balik dinding rumah dan juga pohon. Draco benar-benar mengikuti langkah panjang Hermione dari berbelok lalu lurus dan juga berbelok lagi dan melewati lorong-lorong. Lalu langkahnya berhenti ketika menemukan Hermione yang memasuki rumah kecil berwarna putih biru terang. Menghela nafas dan dia mulai meminum air mineralnya dan pergi dari desa Tellaro dengan ber-apparate.
Draco mengetuk pintu The Burrow dengan tidak sabar. Sebenarnya dia juga sedikit bingung—kasih tahu atau tidak? Tapi, pada akhirnya ia akan memberi tahu juga. Draco masih mengetuk pintu dengan tidak sabar. Tidak peduli dengan omelan pedas Percy dari dalam rumah dan juga gerutuan Harry. Lalu pintu terbuka dan menampakkan Ginny seorang diri. "Ada apa, Malfoy?"
"Seharusnya kau persilahkan dulu tamu untuk masuk, lalu bertanya, Manis." Balas Draco yang membuat Ginny memutar kedua bola matanya dengan malas dan mempersilahkan Draco untuk masuk ke dalam The Burrow. Menatap sekitarnya dan dia hanya menatap takjub. Rumanya biasa saja, tapi orang-orang di dalamnya terlalu banyak.
"Nah,"
Draco membalikkan badannya dan menemukan Harry yang sedang menatap malas dirinya. "Apa yang kau lakukan disini, Malfoy?"
"Aku menemukan Granger di desa Tellaro."
Semua Orang di dalam The Burrow yang sedang mengerjakan aktivitasnya langsung berhenti dan langsung ke ruang Tamu—dimana ada Draco di sana. Percy mendekati Draco dengan tatapan curiga ke Draco. "Kau serius?"
"Aku tidak bohong. Aku menemukannya di desa Tellaro tadi pagi." Jelas Draco yang membuat semuanya menghela nafas lega. Harry memegang pundak Draco sambil tersenyum. "Thanks. Kita kira kau tidak mau memberitahu kami jika kau menemukannya."
Draco menyingkirkan tangan Harry yang menempel di pundaknya dengan geli. "Oh—oke. Aku harus pergi sekarang."
"Tunggu," kata Molly yang membuat Draco berhenti berbalik. "Bagaimana dengan keadaannya?"
"Dia baik-baik saja."
Ginny tersenyum lega mendengarnya. "Bagus lah, dan Malfoy, kenapa kau pergi ke desa itu lagi?"
"Hm—tersesat mungkin?" balas Draco sambil memberikan cengirannya. Harry terkekeh melihatnya. "Iya, tersesat dalam hati Hermione."
Cengiran di wajah Draco langsung luntur begitu saja. Menatap malas Harry yang sedang tersenyum polos ke arahnya. "Kau—kalau aku menemukannya lagi, aku tidak akan memberitahu."
"Hanya bercanda."
"Malfoy, apa tidak ada lagi? Seperti dia sedang apa atau tinggal dimana. Agar kami bisa langsung menemuinya." Kata Percy yang membuat Draco meliriknya. Rumah—kasih tahu tidak? Sepertinya sudah cukup aku memberitahu info tentang Granger. "Tidak ada."
"Sekali lagi, terimakasih."
Draco mengangguk. "Aku pamit. Sampai jumpa."
Membuka pintu The Burrow dan Draco langsung ber-apparate. Pergi ke Malfoy Manor untuk ber-istirahat setelah perjalanan panjangnya.
"Hermione—"
Gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Mengeratkan pelukannya ke guling kesayangannya. Menghembuskan setiap nafasnya dengan teratur—normal.
"—jagalah dia—"
Kedua matanya yang tadi tertutup rapat—menjadi terbuka. Bangun dari tidurnya dan menatap sekitar kamarnya. Dia mendengar suaranya—suara yang paling ia rindukan selama ini. Ron—
"—sayangi dia, Mione. Cintai dia seperti kau mencintai ku."
—"Ron?"
Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah kesunyian yang tercipta di kamar Hermione. Bangun dari kasurnya dan berdiri. Berjalan ke arah luar jendela dan membukanya. Kepalanya keluar dari jendela, mencari-cari dia ke kanan-kiri. Tapi, usahanya sia-sia. Karena tidak ada siapapun di situ.
Hermione terisak pelan. Dia masih belum terbiasa dengan keadaan sekarang—keadaan dimana Ron tidak ada. Ron meninggalkannya sendirian di dunia yang luas ini. Setiap bangun tidur pasti ia langsung mencari Ron—pasti. Walaupun pada akhirnya ia harus menelan pahit kehidupan seperti yang ia rasakan sekarang ini.
Melirik ke arah bawah kasurnya. Ada ransel yang ber-isikan uang, pakaian dan makanan ringan. Menghapus airmatanya dan dia berjalan ke bawah kasur. Menarik ranselnya dan menaruhnya di atas kasur. Dia berlari lagi ke arah lemari—mengambil jaket hitam dan memakainya, mengambil syal dan topi. Dia sudah merencanakan ini matang-matang, bahkan dia sudah memikirkan tentang NEWT nya—ini hanya untuk sementara. Sekarang Dia bisa pergi dengan tenang karena dia sudah menyelesaikan tugasnya; mencari Orangtuanya, mengembalikan ingatan Orangtuanya dan membawa mereka pulang dengan selamat. Dia sudah melakukan itu.
Memakai ranselnya dan melirik ke arah jam dinding. 12:30 malam—bagus. Membuka pintu kamarnya dengan hati-hati agar tidak tercipta bunyi dan mengintip. Tidak ada siapa-siapa. Lalu ia keluar dan menutup pintunya kembali. Menghela nafas sepelan mungkin dan dia menuruni setiap anak tangga. Melirik ke arah pintu kamar Orangtuanya dan menaruh secarik kertas di depannya. Berharap dalam hati Orangtuanya itu melihatnya dan membacanya. Aku menyayangi mu, Dad, Mum.
Membuka pintu rumah yang sudah ia bukakan kuncinya, dia melangkah keluar rumah dengan tergesa-gesa. Dia tidak ingin terlihat—tidak boleh terlihat. Dia tetap berjalan dengan tergesa-gesa, tidak peduli dengan ransel beratnya yang ia bawa sekarang ini. Lalu dia bersembunyi di belakang pohon, memastikan tidak ada siapapun dan dia ber-apparate.
Hermione menghela nafasnya saat melihat makam di depannya. Makam Ron—makam Pemuda yang sangat ia cintai. Memberikan serangkaian bunga untuk Ron dan menaruhnya di makamnya. "Aku mencintaimu, Ron."
Angin menyapu wajah Hermione. Hermione mencoba tersenyum di depan Makam Ron—tapi gagal, ia malah terisak pelan. "A—aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku mencoba untuk tegar, tapi—"
Hermione menghapus airmatanya kasar. "—tidak bisa, Ron. Aku tidak tahu apakah aku akan kuat ke depannya."
Hermione memainkan jari-jarinya yang bergetar pelan. Mengigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangannya ke Makam lainnya. "Tadinya aku tidak mengerti maksud mu itu apa. Kau selalu mendatangi ku dalam mimpi, membisikkan kata-kata saat aku tertidur dan selalu mengatakan hal yang sama."
Mengambil ransel nya dan mengeluarkan foto kenangannya bersama Ron. Foto bergerak yang menampakkan dirinya bersama Ron yang sedang duduk di halaman The Burrow. Hermione dalam foto itu melambaikan tangannya senang, lalu Ron mencium pipinya yang membuat Hermione merona. Hermione tersenyum melihat foto itu. "Seandainya kau disini—"
"—menemani ku dan hidup bahagia bersama ku dan anak mu, Ron." Kata Hermione sambil mencoba untuk tersenyum tegar. "Bahkan kau yang paling pertama menyadarinya."
Mengangkat ranselnya dan mulai bangun dari duduknya. Membersihkan bajunya yang kotor karena tanah yang di dudukinya dan tersenyum manis ke Makam Ron. "Aku akan menjaga dia, Ron. Tapi, aku harus pergi. Aku belum mau semuanya tahu kalau aku sedang mengandung bayi. Kau tak bisa bayangkan bagaimana reaksi Mum saat mengetahui anak Perempuannya yang berusia 18 tahun sudah berbadan dua. "
Berjalan menjauhi Makam Ron dengan sedih dan dia melirik ke belakang—menatap Makam sang pujaan hati dan mengelus perutnya pelan. "Aku mencintai mu, Ron. Akan ku jaga dia, ku sayangi dia, ku rawat dia dengan sepenuh hati ku."
Lalu ia ber-apparate, pergi ke tempat yang masih berada di London, pasti akan ketahuan. Jadi, dia memutuskan untuk pergi ke luar Negeri. Pergi meninggalkan Orangtuanya, Sahabatnya, dan orang-orang yang ia sayangi. Dia hanya pergi untuk sementara. Dan ada waktunya nanti dia akan kembali.
Italia. Dia bersembunyi di sana. Tapi, dia tidak mau tinggal di kota—dia lebih memilih desa, dan pada akhirnya dia memilih desa Tellaro. Langit sudah gelap karena malam sudah tiba. Angin dingin pun terus menyapu dirinya yang membuatnya sedikit mengigil. Mengeratkan jaket dan syalnya lalu ia melihat ke arah brosur yang ia pegang.
Ada rumah kecil yang dijual disini. Harganya pun terjangkau yang membuatnya tertarik ke sana. Berjalan melewati lorong gelap yang tidak ada cahaya sama sekali dan langkahnya terhenti. Ada empat Pria yang sedang merokok di sana. Menutup hidungnya dengan syal karena asap rokok tidak bagus untuk janinnya, lalu ia melangkah melewati mereka.
Sial. Lengannya di tahan oleh salah satu dari mereka ber-empat. Tangannya meronta untuk di lepaskan, tapi dia ditahan. Ck, berani sekali mereka menyentuhku. "Mau kemana, Manis?"
"Bukan urusan mu."
"Hei, tenanglah." Kata Pemuda satunya lagi sambil memegang lengan kirinya. Hermione meronta dan langsung menampar Pria itu. Pria itu menggeram marah. "Pegang dia."
"Pergi atau ku bunuh kau!" teriak Hermione. Suaranya menjadi serak karena belum minum sedari tadi.
"Oh—kau berani membunuh kami, Sayang?" Sindir salah satu Pria bertubuh besar yang membuat ketiga kawan nya tertawa. "Sebelum kau membunuh kami, kami sudah lebih dulu membunuh mu."
Salah satu Pria melirik ke ujung lorong saat melihat ada seorang Pria yang menghampiri mereka dan tertawa. "Wah—tamu tak di undang!"
"Enyalah kalian semua!"
Siapa? Batin Hermione bertanya-tanya. Tangannya mencari-cari tongkat yang berada di saku jaketnya. Dia menemukannya dan mengenggamnya erat.
"Oh—maaf, Pak. Kami sedang ada urusan dengan nya." Kata Pria bertubuh kurus sambil menunjuk Hermione yang ditengah-tengah mereka. "Sebaiknya Anda pergi sekarang juga."
Pria menatap mereka sinis. "Pergi atau kalian akan tahu—"
Hermione menahan teriaknya ketika salah satu dari empat Pria itu menghajar Pria yang berteriak—sepertinya dia mencoba untuk membantu Hermione. Pria lainnya mulai mengikuti menghajar Pria yang tadi di pukul. Hermione melangkah mundur dan menyenderkan tubuhnya ke dinding ujung lorong.
Perkelahian disana-disini dan Hermione tidak bisa berbuat apa-apa. Mengelus perutnya pelan dan berbisik. "Tidak apa-apa, Sayang. Kau aman bersama Mama."
Ron—tolong aku. Hermione berdoa dalam hati, berdoa agar ia dan Pria yang menolongnya itu selamat. Ia tidak ingin mencari ribut—ia butuh ketenangan. Bisa ia lihat empat Pria yang mencegatnya tadi berlari—menjauhi dirinya dan juga Pria yang menolongnya. Lalu Pria yang menolongnya itu berteriak. "Enyalah, kalian!"
Hermione menghela nafas lega, Pria yang menolongnya itu menghampirinya. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa." Balas Hermione dengan suara serak. "Terimakasih."
Hermione berjalan melewatinya. Lorong masih gelap dan dia tidak bisa melihat wajah Pria itu dengan jelas. Lalu langkah Pria itu terdengar di telinganya. "Rumah mu dimana? Aku bisa mengantar mu. Untuk jaga-jaga."
Rumah saja tidak punya, batin Hermione dongkol. "Aku tidak apa-apa. Sebaiknya Anda pergi sekarang."
"Bagaimana kalau ada Pria jahat seperti tadi?" Hermione menghela nafas mendengarnya. Bisa ku kutuk mereka nanti. Hermione memutar kedua bola matanya malas. "Aku bisa menjaga diri ku sendiri, Tuan."
"Kalau kau bisa menjaga dirimu—kenapa kau tidak menghajar Pria-pria tadi?"
"Aku ingin menghajarnya. Tapi kau mendahului ku. Sebaiknya kau pergi sekarang." Balas Hermione geram. Dia mulai melangkah—menjauhi Pria itu seperti tadi. Tapi langkahnya terhenti ketika lengannya di tahan oleh Pria itu. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Hermione menggeleng. "Tidak. Kita tidak pernah bertemu sebelum nya."
Hermione berdoa dalam hati; semoga Dia tidak mengikuti lagi. Berjalan dengan tergesa-gesa sambil mengikuti arah peta dari brosur. Dia berjalan lurus dan berbelok ke kanan. Jalan kecil lagi, Sial. Dia berjalan dengan hati-hati. Lalu, setelah perjalanan panjang yang membuatnya lelah, ia menemukan rumah kecil berwarna putih biru. Lalu ia berjalan ke sebelah rumahnya dan mengetuknya pelan.
"Siapa?" tanya seseorang dari dalam. Hermione menghela nafas lega. "Aku ingin menyewa rumah kecil disebelah."
Pintu terbuka dan menampakkan Wanita gendut berkulit gelap. Ia tersenyum ramah ke Hermione. "Kau berasal dari mana, Miss?"
"London."
"Nama ku Elle. Dan nama mu?"
"Hermione." Balas Hermione singkat. Dia tidak mau menutupi identitasnya ke Pemilik rumah ini. Dia yakin Wanita di depannya ini bisa di percaya.
"Ah, nama yang cantik. Jadi kau ingin menyewa rumah itu? Sebulan 61.28 Euro dan sudah termasuk dengan perlengkapannya."
"Oh," balas Hermione sambil mengeluarkan beberapa lembar Euro dan memberinya ke Elle. "Ini. Dan Nona Elle, bisakah kau merahasiakan Nama ku ketika ada yang bertanya?"
"Tentu saja," balasnya ramah sambil menghitung uangnya. "Tapi, kenapa? Kau bukan teroris bukan?"
Hermione tertawa mendengarnya. "Tentu saja bukan. Mungkin aku bisa bercerita nanti."
Elle menutup pintu rumahnya dan menyuruh Hermione untuk mengikutinya ke rumah yang ia sewa. Memasukkan kunci pintu dan membukanya, lalu menyuruh Hermione masuk. "Tempat ini sudah ku bersihkan. Maaf kalau terlalu kecil."
"Tidak apa-apa. Aku hanya sendiri dan rumah ini sudah sangat cukup." Balas Hermione sambil melihat-lihat rumah barunya. Dapur yang kecil, kamar yang kecil, kamar mandi dan ruang tamu yang terbilang tidak terlalu luas. Tidak apa-apa. Selama tempat ini nyaman dan ia tidak di ketahui oleh Orang-orang yang mencarinya. Ia akan membesarkan anaknya disini.
"Kuncinya," kata Elle sambil menyerahkan kuncinya ke Hermione yang langsung di ambil olehnya. "Kalau kau mau, besok aku bisa menemani mu berkeliling."
"Tentu saja." Balas Hermione sambil tersenyum ramah.
BERSAMBUNG
Bagaimana dengan chapter ini? Aku harap kalian puas. Dan Aku sama sekali tidak menyangka banyak yang ingin fanfiction ini di lanjut. Terimakasih.
THANKS TO :
Esposa Malfoy, BlckPearl, Chacha Cyrus (Makasih buat koreksiannya), Luluk Minam Cullen, selvinakusuma1, Petite Veela, Nisa Malfoy, Lilyan florence, Mata48, Mefennyy, Nong (Banyak kok, hehe), Guest (Siapa namamu, Nak), Adellia Malfoy, VicaJoy1, rafaelayis, Valaria Cullen dan kalian semua.
Maaf banget balasnya disini. Akun aku lagi error gitu. Cuman bisa publish dan errrr—itu menyebalkan.
