A/N:
Terima kasih buat yang sudah review, kalian keren sekali, kawan! saya terima dengan senang hati semua masukannya. Dan ada yang bertanya tadi ya? ini pairnya apa? Naomi-san, karena tidak login maka saya cuma bisa jawab jawab di sini
Possibly pairingnya EreMika, maaf mengecewakan *ojigi 270 derajat* saya masih terlalu "lugu" bikin hal - hal yaoi maupun sho-ai. kalo hint, saya masih berani lah...
Syukurlah, ini saya bisa cepat update, kebetulan sekalian di warnet daftar SBMPTN...
So, Happy Reading Minnaa...
Chapter 2: Hunger
.
.
.
.
"Aku pulang!"
"Selamat datang, Mikasa!"
seorang wanita dengan paras yang serupa Eren menyapanya dari dapur.
"Bu, apa Eren sudah pulang?"
"Setahuku belum..."
'BRAKKK...'
ranselnya seketika dibanting ke kursi meja makan membuat mrs. Jaeger kaget.
"Bu, aku pamit dulu mau cari Eren!"
"Kenapa harus dicari? Paling lagi main dia... Hei Mikasa! Paling tidak bantulah ibu mencuci piring!"
"Maaf bu, perasaanku tidak enak soalnya."
Dan pintu rumah pun kembali dibanting menutup
.
.
.
"Hoi, Erwin! Apa kau ada di dalam?"
Sir Smith dalam ruangannya berjalan untuk membukakan pintu bagi sang tamu. Namun begitu dibuka, ia tak bisa melihat siapapun berdiri di depannya.
"Aku di bawah sini!" geram si pengetuk pintu.
Sir Smith menunduk. Tentu saja ia harus menunduk untuk melihat lawan bicaran yang tingginya kurang 28 cm darinya. Kepada rekan seprofesinya ia angkat senyum damainya.
"Ada apa, Levi?"
"Ada yang aku ingin bicarakan."
"Baiklah, silakan masuk!"
Lantas sir Smith menggeser badannya dan membiarkan Levi masuk. Tak tinggal diam, ia menyeduhkan secangkir teh untuk Levi.
"Langsung ke pokok bahasannya, Kau bilang rekanmu yang ada di Luxor sudah mengirimkan objek penelitianku?"
"Oh ya, itu adalah kupu - kupu merah yang sangat langka. Benda itu benar - benar membuat wabah mengerikan di Luxor. Mereka bersyukur kau mau mengambilnya."
"Menurut kabar yang beredar, kupu - kupu itu menginfeksi orang dengan virus aneh?"
"Ya..." kini di meja tamu sir Smith telah meletakkan kardus besar seukuran microwave. "...virus itu menyebabkan manusia yang diinfeksi ia akan menderita kelaparan yang tidak wajar sampai harus memangsa manusia lain tetapi di sisi lain ia jadi memiliki kemampuan regenerasi sel yang luar biasa cepat."
Tampaknya Levi hanya setengah perhatian mendengarkan sir Smith. Persis bibirnya membentuk huruf O, ketika memandangi kotak kardus di depannya.
"Sejak kapan lubang ini muncul?" tanya Levi horror.
Tepat pada sisi permukaan yang dihadapi Levi, ada lubang yang cukup besar dilalui serangga bersayap lebar. Sir Smith terdorong untuk menyobek pengbungkusnya dan membongkar isi kardus.
Ternyata di dalamnya hanya ada onggokan stoples yang pecah dan seekor kupu - kupu yang mati.
"Berapa yang mereka kirimkan?"
"Sebenarnya dua."
Levi dan sir Smith hanya saling berpandangan ngeri.
"GAWAT!"
.
.
.
Burung gagak seharusnya tahu kalau tempat itu adalah sarang makanan- bukankah mereka hanya mencari makanan bekas alias bangkai? Tapi ada suatu sinyal yang memberi tahu mereka bahwa hutan ini adalah teritori monster lain. Seakan kalau sayap - sayap itu membawa mereka sejengkal saja ke dalamnya. Maka monster itu takkan segan menghancurkan setiap inci tulang dan dagingnya.
"Apa ini benar - benar aku?"
Eren sadar betul ini adalah tubuhnya sendiri, ini tangan, adalah tangannya sendiri. Mulut, mulutnya sendiri. Tapi ia sulit percaya bahwa ia dengan kesadaran penuh melakukan semua hal mengerikan ini.
Darah anyir terciprat ke mana - mana, ke tanah juga ke permukaan pohon dan potongan - potongan mayat berserak di bawah kakinya. Eren mengambil salah satu potongan yang bentuknya seperti kepala manusia kemudian menggerogotinya.
"Kenapa aku makan mereka? Tapi... ini enak!" gumamnya dalam hati.
Kini tuntaslah cuilan daging dalam genggamannya. Dan pandangannya beralih kepada satu orang yang terduduk gentar di bawah sebuah pohon. Orang itu terisak dalam diam dan ketakutan.
"Aku masih lapar!" Eren merangsek maju.
"K-ku-kumohon, j-jangan bunuh aku..."
ia sangat gentar sampai ia lupa bahwa sebenarnya sejak tadi ia punya kesempatan untuk lari. Sialnya bahwa ia baru menyadarinya ketika tubuhnya sudah dicengkeram kuat oleh cakar monster di depannya.
"Hentikan..."
monster itu melebarkan rahangnya yang terdiri dari deret puluhan tulang runcing.
"TIDAAAAAAAAKKK!"
.
.
.
.
Wanita dengan seragam dinas kepolisian itu sedang jengkel - jengkelnya karena banyak telepon yang harus ia terima dan ia salurkan ke divisi lain-Benar - benar malam yang sibuk. Belum lagi ditambah dengan kegilaan seorang siswi SMA yang tiba - tiba datang dan melaporkan tentang saudaranya yang hilang.
"EREN HILANG! EREN HILANG! EREN HILAAAANG!"
"Nona, Tenanglah dulu! Ceritakan bagaimana kejadiannya." ujar sang polisi ber-tagname I. Langnar kesal
Mikasa kembali duduk di tempatnya.
"Begini, Eren itu adalah saudaraku dan tadi sepulang sekolah kami baru bertengkar terus... Terus..."
Mrs. Langnar mendengarnya dengan seksama.
"...Kukira tadinya dia sudah pulang duluan ke rumah tapi setelah aku sampai di rumah, ia belum pulang, lalu aku mencarinya sampai malam hampir ke seluruh kota tapi aku tidak menemukannya, bagaimana ini? BAGAIMANAAAA?"
'kriing kriing...'
telepon di meja mrs. Langnar lagi - lagi berdering. Ia memberi isyarat kepada Mikasa untuk menunggu sebentar
"Halo..."
...
"Apa? Pembunuhan di hutan?"
...
"Baik, akan kusambungkan!"
...
"SIAPA YANG DIBUNUH?" Mikasa kalap.
"Nona! Astaga... Demi Tuhan, ini hanya sekelompok hiker yang tewas di hutan!" mrs. Langnar mulai tersulut emosinya.
"Kusarankan sebaiknya nona pulanglah, mungkin saudara anda... Tadi siapa namanya..?"
"Eren."
"Oh ya, Eren pasti sudah pulang. Alasan mengapa nona tidak menemukannya di manapun di kota ini tentu saja karena selama itu ia sudah berada di rumah. Coba pikirkan itu nona!"
"Eh, iya juga sih..."
"Dari pada begitu, malah nona nanti yang akan disangka hilang." Mrs. Langnar menambahi.
"Baiklah, maaf mengganggu opsir Langnar."
"Ya, tidak apa - apa! Kuharap memang benar Eren sudah pulang. Sebagai tambahan sebenarnya pelaporan orang hilang berlaku hanya jika sudah lewat 24 jam."
Wajah Mikasa merah pias mendengar uraian yang barusan. Benar - benar tingkahnya sudah berlebihan dan merepotkan. Pasti sedari tadi Mrs. Langnar sudah mendongkol padanya.
Tetapi opsir muda berkulit tan itu adalah wanita yang pemaaf dan baik hati. Tanpa segan dia mengantarkan Mikasa sampai ke depan pintu keluar kantor polisi.
"Nona pulang berjalan kaki?" tanyanya
"Iya." jawab Mikasa.
Langsung sang opsir merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar euro.
"Naiklah taksi! Berbahaya kalau malam begini seorang gadis berjalan sendirian." titah Mrs. Langnar sambil menyelipkan lembar euro itu pada Mikasa.
"Terima kasih banyak, maaf sudah merepotkan!" Mikasa membungkuk dalam kemudian berlalu.
.
.
.
Lampu jalanan remang menyinari jalan yang ditapakinya. Levi, pria tiga puluhan itu berjalan pulang ke kediamannya sambil sesekali menerima pesan dari rekan kerjanya, Erwin Smith.
To: L. Ackerman
Bagaimana, sudah ketemu belum?
E. Smith
Levi menekan tombol untuk membalas.
To: E. Smith
Seluruh petugas cleaning service juga ikut membantu tapi nihil. Kepala sekolah Zacklay sangat marah tadi. Mungkinkah kupu - kupu itu berada di suatu tempat bukan di sekolah?"
L. Ackerman.
Kemudian ia tekan send
Sejenak ada yang mengusik perhatiannya saat ia berdiri di persimpangan dekat taman. Sosok tinggi yang sepertinya ia pernah lihat dan ia memakai seragam SMA Shingansina.
"Jaeger!" panggilnya
sosok itu menoleh, ia memang seorang Eren Jaeger, murid dari kelas 3-2, yang kebetulan ia menjadi wali kelasnya.
"Kenapa kamu belum pulang?" selidik Levi.
"Eh... Itu, aku sedang mencari angin... Sir Ackerman sendiri?"
Levi mendengus pelan
"Itu tidak penting, sebaiknya kamu cepat - cepat pulang! Jangan buat orang tuamu resah!"
"B-baik, sir!"
Levi kembali melangkah, melewati Eren. Namun belum beberapa meter terlampau, mendadak pundaknya dicengkeram dengan tangan yang berlumuran darah.
"Jaeger, sekarang apa lagi?" geramnya dalam.
"Maaf, sir! Bukan apa - apa." Eren menarik kembali tangannya.
Semula Levi agak berjengit melihat noda darah pekat di kemeja abunya yang tadi kena tangan Eren. Bocah menjijikkan! Pikir Levi.
"Tanganmu itu kenapa, Jaeger?"
"Oh... Tadi aku habis tertabrak mobil, sir!" kilah Eren
"Hmph... Cukup aneh untuk orang yang masih bisa berjalan mencari angin sehabis tertabrak mobil."
Eren cuma nyengir bloon di belakangnya.
"Cepatlah pulang!"
pesan Levi terakhir sebelum ia benar - benar pergi, tanpa ada yang menghentikan lajunya lagi.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Mikasa segera menghambur ke ruang makan di mana ibu dan ayahnya yang baru pulang kerja berkumpul untuk makan malam.
"Aku pulang... Ibu, ayah, apa Eren sudah datang?"
"Belum, ibu kira kalian akan pulang bersamaan?" nyonya Jaeger menjawabnya.
"APAAA? Padahal tadi aku cari ke mana - mana Eren nggak ada juga. Gimana kalau Eren Hilang?" Mikasa mulai lagi kalap tingkat kolosal.
"APA? EREN HILANG?" pak Jaeger ikutan kalap.
"Maaf bu, ayah. Aku pergi lagi! Mau cari Eren..."
'BRUKKK'
Kira Mikasa awalnya ia menabrak pilar yang sangat kokoh. Tapi ternyata...
"Itu Eren sudah pulang?!" ujar Mrs. Jaeger kalem.
"Eren!" segera Mikasa memeluk erat kakaknya itu.
"Eren, kenapa kamu kotor dan berdarah gitu?" tanya ibunya keheranan.
"Eh, ini... Tertabrak mobil..."
"APA?" Sekarang satu keluarganya kalap semua.
Eren entah kenapa jadi kesal sendiri, ia pun melepas pelukan Mikasa dengan kasar dan pergi ke lantai dua.
"Sudahlah, aku mau mandi dulu!"
Setelah ruang makan ditinggal Eren, semuanya menjadi senyap sejenak.
"Dari pada tertabrak mobil, lebih mirip pelaku pembunuhan sadis." mrs. Jaeger terkikik kecil dan sukses mendapat tatapan tajam puteri dan suaminya
"Ibu!"
"Carla!"
Eren menyalakan keran shower dengan debit besar untuk membasuh seluruh tubuh kotornya. Dan juga berharap bisa melunturkan pikiran kotornya tentang kejadian tadi sore.
Tentang orang - orang di hutan yang tadi ia habisi dalam makna denotasi. Darah dan daging mereka benar - benar lezat. Sebenarnya apa yang terjadi dalam dirinya, Eren sama sekali tidak mengerti. Kenapa sekarang ketika ia melihat manusia lain, seperti ia melihat makanan.
Bahkan tadi saat Eren berpapasan dengan guru Biologinya, hampir saja ia kelepasan akan memakannya. Lalu saat Mikasa memeluknya, lebih parah lagi. Seperti ia bisa mencium aroma darah dan daging yang sangat pekat.
"Aargh sial!"
"Eren!"
Mikasa mengetuk kamar mandinya pelan.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Eren sinis.
"eh... Maaf, aku cuma ingin bilang... Kalau sudah selesai, aku akan mengobati lukamu."
"Aku tidak terluka!"
"Hah?"
Eren lupa kalau tadi dia bilang baru saja kecelakaan.
"Baiklah, terserah!"
"Aku akan menunggumu..."
"Mikasa..."
'GREP'
Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Tangan Eren terselip menggenggam pergelangan Mikasa.
"Eren?"
"Aku lapar..."
"Kalau kamu mau, aku akan mengantarkan makan malammu ke mari."
"Tidak perlu!"
Ruangan yang dipijaknya terasa berputar cepat. Mikasa mendadak ditarik masuk ke dalam kamar mandi. Tahu - tahu kepalanya sudah terantuk dinding basah dan hal terakhir yang ia bisa rasakan adalah seperti seluruh tubuhnya yang terkoyak.
Perih sekejap
Tetapi kemudian ia tidak bisa merasakan apapun
"Mikasa..."
To Be Continued
