Stronger than yesterday.
Now it's nothing but my way.
Ya.
Kami terlalu lemah.
Kami terlalu menganggap hidup itu mudah,menyenangkan.
Tak akan ada aral yang melintang.
Meski masalah muncul ,pasti itu bukanlah hal yang sulit.
Kami merasa semuanya ringan. Tapi itu membuat kami menjadi lemah.
Terlalu rapuh, mudah untuk dihancurkan.
Tapi.. tidak lagi.
Kami sudah menjadi lebih kuat dari hari kemarin.
Kami akan menjadi lebih kuat, dan tak akan membiarkan satu dari kami tersakiti.
Atau bahkan menghilang.
Tak akan lagi.
Sekarang tidak ada yang bisa menghalangi kami. Ini jalan yang kami tempuh.
My loneliness ain't killing me no more.
I am stronger.
Ya,kami kesepian.
Rasa kesepian itu membunuh kami pelan-pelan.
kami semakin merasa bahwa hidup itu memang seperti ini.
Sendiri?
Ya
Walau kami selalu bersama, walau kami tak bisa dibilang 'sendirian'
Tetapi tetap saja ada perasaan yang janggal diantara kami.
Ya,
Rasa Kesepian.
Tapi, untuk apa merasa kesepian kalau tujuan kami sama?
Untuk apa membiarkan perasaan kecil ini membunuh kami tanpa alasan?
Kita sudah menjadi lebih kuat.
Kami tidak akan terbunuh oleh rasa kesepian.
Here I go, on my own.
I don't need nobody, better off alone.
Here I go, on my own, now.
I don't need nobody, not anybody.
Kami bisa berjalan dengan keinginan kami sendiri.
Kami tak membutuhkan orang yang lemah.
Yang tak bisa melakukan apa-apa.
Kami tak butuh siapapun.
Lebih baik melakukan segala sesuatu sendirian,daripada bersama orang yang lemah.
Now I am stronger than yesterday.
Now it's nothing but my way.
My loneliness ain't killing me no more.
I am stronger.
"A-aku bukannya takut!" jawab Shikamaru meluluh, nada suaranya terdengar sangat pelan. Dia menunduk.
"Lalu apa?" Sasuke berjalan mendekati Shikamaru, mereka beradu pandang. Sasuke menunggu jawaban dari Shikamaru.
"Hhh.. APA KALIAN PIKIR HINATA AKAN SENANG JIKA KALIAN MELUMURKAN DARAH KALIAN DENGAN DARAH, HAH???" ungkap Shikamaru.
Mereka tertunduk, ucapan Shikamaru memang masuk akal. Walau begitu rasanya ada yang salah kalau mereka membiarkan begitu saja. Mereka sendiri merasakannya.
"Tentu saja, Hinata kita, Tuan Putri kita… tidak mungkin dia merasa senang jika kita melakukan itu." Jawaban sama seperti yang ada dalam pikiran mereka. Sasuke tidak bereaksi.
"Tapi… Hinata 'kan…" Naruto tampak gelisah.
"Kau benar" Sasuke mulai bicara.
"Hinata mungkin tak akan setuju, sebab dia tak ingin kita mengalami hal yg sama, mengambil resiko dengan mencari pembunuh itu. Tapi kita lakukan ini karna kita tak ingin Hinata mati sia sia. Tanpa penyebab yang jelas dan karena kita adalah sahabatnya, kita menyayanginya, dan kita harus berbuat sesuatu demi dia!" Sasuke memunggungi Hinata, lalu berjalan ke arah jasad Hinata.
"Hinata… mungkin tidak akan senang. Tapi dia akan memaafkan kita."
"Aku setuju dengan Sasuke. Biar bagaimanapun, ini juga untuk Hinata!!" selaTemari.
Sakura mengangguk setuju. Shikamaru menutup matanya, lalu menghela napas. Sebuah pernyataan terbalik dari Sasuke membuat pikiran mereka kembali menyatu.
"Hhh, sudahlah. Aku tidak mau menimbulkan ketegangan baru, ini sudah terlalu merepotkan, kau tahu." Shikamaru mengalah.
Sasuke menyeringai pada Shikamaru. "Tunggu apa lagi, ayo! Segera susun rencana!"
=..=v.
"Eeh, t-tunggu, Sasuke!" kata Sakura.
"Ada apa hm?" tanya Sasuke.
"Sebuah ucapan untuk Hinata, um yea kau tahu maksudku. Jika kalian mau duluan boleh saja." Sakura memandang Sasuke dengan tatapan memohon.
"Tidak.. tidak. Kami akan menunggumu! Kalau begitu cepatlah!" Sasuke mengizinkan.
"Trims, Sas." Sakura segera beranjak dan menuju ke arah jasad Hinata.
Gaara yang sejak tadi berada di sebelahnya berdiri, waspada jika ada kejadian yang tidak diinginkan pada Sakura. Ketika sampai pada sosok gadis yang berlumuran darah tersebut dia mengalihkan pandangannya. Mencoba menahan bau amis tersebut.
Sakura berlutut di hadapan Hinata. Tangan kanannya bergerak menuju pipi Hinata yang mulus. Tatapan Sakura menyiratkan kesedihan yang amat dalam. Dia memegang pipi Hinata. Ingin rasanya Sakura menangis saat itu juga. Tetapi dia berusaha tegar dengan menggigit bibir bawahnya.
"CUKUP!!!!" Temari menarik tangan Naruto— yang berada di sebelahnya.
Sontak, semua menoleh pada asal suara. Naruto yang ditarik hanya menatap Temari kebingungan.
"H-hey! Tema! Kau mau kemana?" Lee berteriak.
Temari yang sudah mencapai pintu menoleh ke arah Lee. "Aku hanya tidak kuat dengan bau darah di dalam! Aku akan menunggu di luar!" Temari membuka kenop pintu depan.
"Teman-teman.. Aku mau menyusul Tema, jadi kalian nanti langsung keluar saja ya! Aku khawatir jika Tema hanya dengan Naruto, oke?"
"Baiklah, nanti kami menyusul, Lee." jawab Sasuke.
Sementara Sakura, dia masih berada di hapan Hinata. Tangan kirinya membelai rambut indigo Hinata. Gaara mengernyitkan dahinya heran dengan tingkah Sakura.
Ino yang sejak tadi terdiam, masih dalam keadaan shock. Shino heran, dia mengguncang bahu Ino.
"…" tidak ada reaksi dari Ino.
"Ino! Ino! Hey!" Shino masih emngguncang bahu gadis di depannya ini.
"Dia masih shock Shino, dia masih butuh ketenangan. Jangan paksa dia untuk berbicara." Kankurou memberitahu.
"T-tapi.." Shino mencoba mengelak.
"Apa yang dikatakan Kankurou itu benar. Dia shock, Shino. Tenanglah." Sasuke setuju dengan kata-kata Kankurou.
Tenten tersenyum nanar. Tak menyangka hari special ini akan jadi seburuk ini.
Kembali pada Sakura, dia memajukan wajahnya pada Hinata. Bibirnya menuju telinga Hinata. Dia mengucapkan sesuatu, berbisik..
"Aku janji, akan membunuh siapa yang membunuhmu. Dengan tanganku."
bisik Sakura.
Setelah itu, Sakura berdiri. Menatap mata teman-temannya. "Aku, sudah selesai.. Ayo!" ucap Sakura.
"Baiklah! Ayo kita segera pergi dari sini, pastikan tidak ada yang tertinggal!" Sasuke segera mengambil tas nya.
Salju di luar sudah berhenti, namun hawa dingin tetap terasa menyengat di malam itu.
Suasana yang benar-benar tidak mereka inginkan, benar benar terpukul, Hinata sahabat mereka telah meninggalkan mereka tepat di hari yg seharusnya jadi hari kebahagiaannya.
Perasaan sedih, marah, dan shock bercampur melayangkan pikiran mereka masing-masing seakan memaksa untuk mengambil tindakan di luar jangkauanmereka.
Hingga keputusan balas dendam itupun muncul, terutama Sasuke yang sepertinya paling keras keinginannya untuk menghabisi sendiri pelaku yang telah merenggut hidup Hinata.
Setelah sampai di halaman depan rumah Hinata, ketiga orang tersebut; Naruto, Temari dan Lee muncul.
Mereka segera berkumpul dan siap mendiskusikan apa tindakan selanjutnya untuk semua ini.
"Sekarang bagaimana cara kita mencari pembunuhnya?" tanya Temari tidak sabar.
"Kita kan tidak punya petunjuk." Jawab Naruto
"Ada dua kemungkinan," Sasuke berusaha menebak.
"Bisa saja rumah ini dirampok dan Hinata menjadi korbannya, atau mungkin ada seseorang yang memang sengaja membunuhnya." lanjut Sasuke
"Tapi kemungkinan pertama itu akan hilang kalau benda-benda berharga di rumah ini masih berada di tempatnya" jelas Sasuke.
"Sebaiknya kita periksa dulu rumah ini." usul Shino.
"Ma-maksudmu, kita harus masuk lagi ke rumah ini, begitu?" tanya Tenten.
"Ya, kau ingin pembunuhnya terungkap kan, Tenten?" Sasuke meyakinkan.
Tenten mengangguk, dan tampaknya mereka semua memang setuju dengan usul tersebut.
"Baiklah, kita berpencar, Lee kau bersamaku periksa kamar Hinata." ucap Sasuke
"Shikamaru, Kankurou, Tenten, dan Ino tolong kalian periksa halaman belakang." Sasuke mengarahkan jari telunjuknya ke arah halaman.
"Sakura, nanti kamu periksa ruang tengah." kata Sasuke.
"Aku akan menemani Sakura." Gaara langsung menawarkan diri.
"Oke, itu bagus." Sasuke mengangguk.
"Dan kau, Kiba, Naruto, tolong kalian jaga jasad Hinata!" perintah Sasuke.
"K-kenapa harus aku?" Naruto agak menciut mendapat bagian menjaga mayat Hinata.
"Hey bodoh! Tenang ada aku!" Kiba menepuk bahu Naruto. Naruto hanya bisa tersenyum kecut.
"Maaf aku menolak. " tiba-tiba Lee angkat bicara.
"Lee?" Sasuke terkejut. "Kenapa? Apa kau berubah pikiran?" tanya Sasuke.
Yang lain hanya memandangi Lee dengan perasaan heran.
"Eh, a-aa.. maksudku sebaiknya aku dengan Temari saja." Lee menarik tangan Temari dan langsung pergi mendahului yang lain.
Temari hanya bingung tapi akhirnya dia memilih ikut saja. Setelah Lee dan Temari pergi, mereka masih bertatapan bingung.
"Kenapa dia?" Kankurou heran dengan tindakan Lee barusan.
Sasuke hanya mengangkat bahunya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan bergabung dengan Gaara juga Sakura." ucap Sasuke.
"Oh iya, sebaiknya kita berhati-hati, siapa tau pembunuhnya masih ada di sekitar sini." Shikamaru mengingatkan dan segera menuju belakang rumah bersama Tenten, Kankurou, dan Ino.
Mereka semua mengangguk paham. "Ingat, jika ada apa-apa pergi ke halaman luar oke, dan jangan sampai berpisah dengan tim!" ucap Sasuke. Dia masih melirik kesana kemari, berwaspada.
"Baiklah, kita semua berpencar!" Sasuke segera bergabung dengan Sakura dan Gaara.
"YOSH!" teriak mereka dan segera pergi bersama timnya.
TBC
Naruto © Masashi Kishmoto
Sign © Nacchan Sakura, Dhara Cintya Shinra, Risya Arina Ulfah, dan Mamoru Imamo.
Huehehehehehe halo holaws~ Btw makasih ya eceu eceu ripiunya muahmuah.
HAHAHA ini dia chapter2. Belum ada misteri misterian -_-
Anyways, ada yang fitnah saya nih di kotak review :-o
Lady Emerald Sakura
2010-03-16 . chapter 1
Cuih!
Dasar plagiat!!
. Apa perlu saya sebutkan satu persatu? Hah?
Saya gerah melihat author sekarang nih banyak yg nyontek, ya seperti anda inilah!!
Saya harap jangan publish lagi fic plagiat seperti ini, atau kalau anda tidak bisa membuat fic asli, Saya sarankan anda pergi saja dari fandom naruto ini.
Enyahkanlah fic2 anda kotor bin plagiat ini dari hadapan kami!
.
Sign
Lady Emerald Sakura
Aduh Mbak Lady Emerald Sakura,
"Saya tau bahwa semua fic2 anda adalah hasil nyontek semua"
Maaf ya Mbak, sejauh ini saya paling benci dengan PLAGIAT. Dan saya berani bersumpah DEMI TUHAN kalau karya atau fic fic saya ini asli. Buatan saya sendiri 100%. Ini semua murni ide saya dan teman-teman saya. Jangan asal menuduh, itu dosa loh. Kenapa Anda bisa berasumsi seperti begitu? Apa ada bukti?
". Apa perlu saya sebutkan satu persatu? Hah?"
OKE! Saya butuh penjelasan Anda! Dan bandingkan dengan cerita manakah BAHWA SEMUA FIC SAYA IT PLAGIAT. Silahkan! Saya tidak takut, karena saya yakin tidak akan yang mempunyai fic sama seperti saya. Jika Anda bukan omong besar, tentu Anda bisa menjelaskannya dengan rinci kan? Coba bandingkan! Tidak bisa kah? ANDA HANYA PENGECUT KELAS KAKAP! Tidak suka fic saya tidak usah memfitnah, Anda tahu? Benci katakana saja oke!
"Saya harap jangan publish lagi fic plagiat seperti ini, atau kalau anda tidak bisa membuat fic asli, Saya sarankan anda pergi saja dari fandom naruto ini.
Enyahkanlah fic2 anda kotor bin plagiat ini dari hadapan kami!"
Saya akan tetap mempublish fic dan saya tidak akan enyah dari fandom yang memang saya suka sejak setahun lalu ini. Karena saya tidak mempublish fic plagiat, tidak kan? Ahaha saya tidak takut kok :p
Satu lagi Anda kalau bukan pengecut kenapa tidak login saja? Berani anonym ya? So pathetic :p
tapi gapapa sih :D makasih reviewnya dan fitnahnya hehe :D
Oke bales review :
Ryuku S. A. J
Waow :-ss gelap gelapan? Huahaha Yoi ini dah dilanjut! Review lagi ya!
Aka' no 'Shika'
Ma-maaf! Itu Shika! Hehehe udah diedit lagi kok
Awan Hitam
Salam kenal juga Oke ga ada romens kok hihi. Tetep review ya :-*
Aozora
Hoho iya author nya sarap sih -_- Hehe review again~~~~
Namikaze Lin-chan
Hoho maafkan! Itu salah saya *bungkuk* Hehe udah diedit kok. Kalo masih ada typo kasih tau ya 0_0 makasih review lagi yepppsss
Mugiwara Piratez
Okeh! Hehehe tunggu aja ya pasti ada kok unyu~ review again hoho
Arialieur
tengkyuuuuu ^^ iya tapi kayanya ga bakal ada romens hehe ^^;
Mega Pikachu Nyo
Hehe makasih pike ;3 udah aku cantumin kok di bawah ripiu egen
Sekali lagi kasih saran dan kritik di chapter ini. Maklum Cuma bikin bentar =="
Hehehe review, flame, silahkan
Odium of Thanatos
