GOMAWOOOOOO...!
Hyun ucapkan terimakasih yang sebesar besarnya untuk reader sekalian!,
Apalagi buat yang udah review! Makasih banyak atas masukan kalian sekalian! Saran 'n pesan kalian benar benar membuat ku makin semangat melanjutkan fic ini! MAKASIIIIIHHHH...!
Ow ya, maaf sekali kalau banyak kata kata yang salah and hilang. Aku juga gak tau kenapa bisa hilang. Padahal aku sudah mengeditnya di komputerku. Tapi entah kenapa saat aku upload, jadi ada beberapa yang hilang. Maaaafffff sekali. karena membuat readers jadi sulit dan bingung saat membacanya. Hehehehe...
Untuk reviewnya akan aku balas lewat PM.
Aku juga senang sekali fic pertamaku dapat diterima dengan baik.^^
Untuk selanjutnya aku masih mengharapkan saran dan bimbingan readers and eonie sekalian...Mohon bantuannya yaaa?
Okey, akhir kata, terimakasih..and ...Cek this Out!
.
.
.
Suasana danau di pinggir kota Karakura yang jauh dari kebisingan memang sangat Rukia butuhkan saat ini. Ia ingin menyendiri. Ingin meluapkan segala emosi yang hinggap di hatinya. Hari pertama kerja yang ia bayangkan akan sangat menyenangkan, malah sangat menyakitkan untuknya. Ya, bagaimana tidak, ia bertemu lagi dengan Ichigo. Orang yang paling tidak ingin Ia temui. Meskipun sebenarnya, awalnya ia sangat merindukannya. Namun apa yang dilihatnya tadi siang membuyarkan rasa rindunya,Ichigo bersama seorangg wanita yang levelnya jauh di atas dari pada dirinya. Berciuman dengan mesra. Kemudian setelah mencium wanita itu, Ichigo mencium dirinya dengan kasar. Oh,ayolah.. !Betapa brengseknya laki – laki yang mencium dua orang wanita berbeda di hari yang sama. Memangnya dia pikir kau hanya sebuah mainan? Namun tindakan tepat bagi Rukia dengan tetap besikap dingin dan datar pada Ichigo. Setidaknya itu sedikit menyiksa Ichigo. Meskipun dalam hatinya, Ia tidak tega melakukannya.
Rukia mencoba melepaskan kekesalannya dengan berteriak sekencang kencangnya dan menangis dengan keras. Sekalipun ia terlihat tegar di mata orang orang, tapi tetap saja dia hanya seorang wanita yang mudah rapuh. Beruntung, saat itu danau tengah sepi pengunjung, jadi tak akan ada orang yang melihatnya dan menganggap dia gila.
.
.
Rukia menggeliat di atas kasur empuknya yang nyaman. Ia ingin bermalas malasan lebih lama sampai sebuah suara cempreng khas anak laki laki memekakan telinganya memaksanya bangun.
" Ibuuuuuuuuu...! Apa ibu tidak kerja? Ini sudah siaaang!Ibu mau terlambat kerja dan terlambat juga mengantarku ke sekolah? " Teriak Ichiru dari balik pintu kamar Rukia
" Iaa..iaa...ibu bangun sekarang.."jawab Rukia malas.
" huh..,dasar orang dewasa!anak kecil saja bisa bangun pagi. Masa orang dewasa masih harus dibangunkan?" gerutu Ichiru saat menghabiskan sarapannya yang ia buat sendiri berupa roti tawar yang ia bakar dengan mesin pemanggang roti dan segelas susu hangat.
" Sudahlah..,cepat habiskan sarapanmu. Kali ini, biar bibi Hisana saja yang mengantarmu ke sekolah ya Ichiru. Ibu masih ada urusan." Jelas Rukia.
" Ia..baiklah.." Jawab Ichiru mengerti.
Dering Ponsel Rukia terdengar saat ia hendak masuk kamar mandi. Rukia segera menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur.
" ya..,hallo?" jawab Rukia.
" Bisa bicara dengan Nyonya Shiba Rukia?" tanya suara dari seberang telephone.
" Ia..dengan saya sendiri."
" Jadi begini Nyonya Rukia. Kami dari agen penyalur jasa tempat nyonya kemarin melamar. Saya dengar Anda baru ditempatkan di sebuah perusahaan sebagai Office Girl, benar?"
" Ia, benar."
" Dan pagi ini, kami mendapat laporan bahwa Anda telah memundurkan diri secara sepihak? Apakah Anda tidak membaca isi surat perjanjian kami kemarin? Disana tertulis, ' Bagi anggota yang ingin mundur secara sepihak saat telah di tempatkan di suatu perusahaan tanpa ada persetujuan dari perusahaan bersangkutan, maka wajib membayar denda sebesar 10x lipat dari jumlah gaji yang ditawarkan perusahaan tersebut sebagai gantu rugi atas pemutusan secara sepihak. Namun denda tidak berlaku jika Anda dipecat oleh perusahaan bersangkutan. Jadi apakah Anda sudah siapkan uangnya Nyonya Rukia Shiba?" Jelas suara dari balik telephone.
" APAAA...!" teriak Rukia kaget." Bukankah sebelumnya tidak ada perjanjian seperti itu? Sejak kapan itu dibuat?" tanya Rukia heran.
" Perjanjian ini sudah ada sejak lama. Namun mungkin ada kurang teliti membacanya. Jadi apakah sudah Anda siapkan uangnya? "
" Maaf pak, saat ini saya sedang tidak memiliki uang sebanyak itu. Apa bisa dicicil?"
" Tentu saja tidak. Jika Anda tidak bisa membayar uang dendanya maka Anda akan dituntut. Kecuali Anda mau kembali bekerja di perusahaan tersebut." Jelas pria tersebut.
" Apa?" Teriak Rukia.
" Baiklah Nyonya Shiba, sekian penjelasan dari saya. Saya menunggu keputusan Anda."
Piiiiiiiiiipppppp
Telephone itu pun di tutup oleh pria tersebut tanpa memberikan kesempatan untuk Rukia protes lebih lanjut.
' Sial! Ini pasti ulah si Jeruk sialan itu!' gerutu Rukia dalam hati. Perasaannya sangat jengkel saat ini. 'Apa yang sebenarnya diinginkan Ichigo? Apa dia berusaha mempermainkanku? Okey, tunggu saja apa yang bisa kulakukan!'
Rukia berjalan dengkan perasaan dongkol menuju Ruang kerja Presidir. Tanpa permisi ia menerobos masuk dan segera menuju meja kerja Ichigo. Namun orang yang dicarinya tidak terlihat disana. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari sosok yang dicarinya.' Kemana si jeruk sialan itu?'
Terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi di dalam ruangan tersebut. Rukia langsung tau orang yang dicarinya sedang berada di sana. Ia segera menuju arah toilet tersebut dan menggedor pintunya.
" Hai Kuroshaki!cepat keluar! Kita perlu bicara!" Teriaknya dari luar. Tanpa menunggu lama, pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan sosok berambut orange nya yang nyentrik dengan kerutan permanen yang semakin terlihat jelas di dahinya. Sepertinya ia juga sedang marah.
" Apa mau mu sih Rukia? Apa kau tidak tau aku sedang di toilet. Tidak bisakah kau menunggu sebentar saja sampai aku selesai?" bentaknya
" Akhh..." Rukia memekik kaget. Ia segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk menghindari matanya agar tak melihat hal memalukan di hadapannya.
" Ada apa, heh? Apa kau malu melihat wajah tampanku? " goda Ichigo.
" Apa yang kau katakan Jeruk?Enak saja! Apa kau tidak sadar jika kau itu tidak memakai celana?" Jelas Rukia jengkel. Ichigo segera tersadar jika dirinya lupa memakai celana dan hanya mengenakan bokser. Wajah Ichigo kini bak kepiting rebus menahan malu. Tentu saja ini sangat memalukan apalagi di depan Rukia. Ichigo segera berbalik dan menutup pintu toilet dengan kikuk untuk memakai celananya. Rukia berusaha menahan tawanya melihat tingkah konyol Ichigo. Ia tertawa cekikikan.
' akh..apa apaan ini? Kenapa aku bisa lupa memakai celana sih? AARRGGGGHHH...' gerutu Ichigo dalam hati.
Setelah ia selesai memakai celana, Ichigo keluar dari toilet dengan wajah yang masih memerah menahan malu. Rukia yang tadinya tertaw cekikikan, buru buru mengembalikan ekspresi datarnya dan mulai bersikap biasa.
" Kau tau, ini sangat memalukan. Ini gara gara kau yang menggedor pintu dan menyuruhku cepat cepat keluar hingga aku lupa mengenakan celanaku kembali, Midget!" protes Ichigo dengan raut muka yang dibuat kesal.
" Apa? Enak saja kau bilang itu gara gara aku! Itu karena kebodohanmu sendiri tau, dasar Tawake!" ledek Rukia sinis." Heh...sudahlah..!Aku kemari bukan untuk membahas kebodohanmu, Tuan Kurosaki!" lanjut Rukia.
" Haahh...tidak bisakah kau bersikap biasa seperti dulu? Setidaknya saat kita sedang berdua seperti ini." Pinta Ichigo. Sorot memancarkan kerinduan. Namun sebelum Rukia tenggelam dalam tatapan hangat kedua hazel itu, Ia memalingkan wajahnya dan tersenyum angkuh.
" Maaf sekali. Aku hanya pegawai rendahan disini. Dan lagi, kita sudah tak punya hubungan apa apa. Jadi saat ini, kita hanya sebatas rekan kerja. Hanya antara atasan dan bawahan." Jelas Rukia dingin." Jadi bisakah kau pecat aku sekarang? Karena aku sama sekali tak berminat kerja disini. Dan lagi aku tidak punya cukup uang untuk membayar denda pelanggaran kontrak secara sepihak yang kau susun mendadak itu. " Tanya Rukia to the poin.
" Ternyata kau masih cukup pintar ya Rukia untuk tau kalau itu semua adalah ulahku. Hahaha..." Tawa Ichigo. " Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
Rukia mendengus kesal. " Terserah kau saja. Tapi yang pasti aku akan melakukan banyak hal untuk membuat kekacauan dan memperkuat alasan untuk bisa dipecat. " ancam Rukia.
" Hahaha...kau lucu sekali tau, banyak orang mengantri dan berusaha keras di luar sana untuk mendapatkan pekerjaan di sini. Tapi apa yang kau lakukan justru sebaliknya." Ichigo berjalan mendekat. " Jangan coba coba melecehkan saya kembali tuan Kurosaki yang terhormat! " Peringat Rukia.
" Begitukah? Jika aku mencoba kembali, bagaimana?" Ichigo mendekatkan bibirnya di telinga Rukia dan menghembuskan nafasnya hingga membuat sensasi menggelitik untuk Rukia. Ia bergerak mundur dan membuat jarak di antara mereka. " Aku akan sangat membencimu." Ancam Rukia dengan tatapan tajam.
Ichigo terlonjak kaget dalam hati. Ada apa sebenarnya dengan gadis mungilnya ini? Kenapa Rukia menjadi sangat membencinya? Dan berusaha menjauh?Padahal Ia ingin sekali mendekap kembali tubuh Rukia. Namun ia mengurungkan niatnya karena ancaman Rukia cukup menakutinya. Ia tak ingin Rukia jadi semakin membencinya. Ichigo berusaha berfikir dingin. Masih ada banyak waktu untuk mengetahui jawabannya. Selama Rukia masih berada dekat dengannya sudah cukup untuk saat ini.
" Baiklah.." Ichigo beranjak menuju kursinya dan duduk manis disana. " Asal kau tau saja, aku tak akan pernah memecatmu. Sekalipun kau membuat kantor ini sekacau apapun. Jadi percuma saja usahamu." Ichigo menghela nafas sesaat." Maka sebaiknya kau bekerja saja sebagaimana mestinya. Aku akan membayar gajimu sesuai dengan seberapa keras kau bekerja. Kurasa itu cukup adil dan menguntungkan untukmu." Jelas Ichigo.
Rukia menimbang nimbang. Sepertinya tawaran yang diberikan Ichigo cukup menggiurkan. Meskipun ia harus bertemu Ichigo setiap hari. Tapi sepertinya hal itu bisa diatasi dengan tetap bersikap cuek dan dingin. Ia masih bisa menghindar ketika bertemu Ichigo.
" Baiklah. Aku terima. Tapi dengan satu syarat. Aku tak ingin kau berada dekat dekat denganku! Setidaknya sampai radius 3 meter." Jelas Rukia.
" Okey. Tak masalah." Jawab Ichigo menyanggupi.
Rukia mengangguk dan beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Ia bergegas memakai kembali seragam kerjanya dan mulai bekerja.
Selama beberapa harinya bekerja di perusahaan Ichigo, Rukia merasa sangat jengkel. Ichigo selalu meminta yang aneh aneh padanya dan menyuruh Rukia melayaninya setiap saat. Mulai dari meminta air putih tiap jam, membawakan kopi, membeli makanan, bahkan hanya untuk mengambilkan koran yang terletak di pojok ruangan saja, Ichigo akan memanggil Rukia untuk mengambilkannya, dan masih banyak lagi yang hal lain yang Ichigo lakukan untuk membuat Rukia selalu berada disisinya. Rukia menyadari usaha Ichigo yang mencoba kembali mendekatinya. Tapi Ia menyadari posisinya. Apalagi, kini Ichigo sudah bertunangan dengan si wanita 'perfect' yang belakangan Rukia tau bernama Orihime. Jadi sekeras apapun Ichigo berusaha mendekatinya, sekeras itu pula Rukia berusaha menjauh.
Tok tok tok
"Masuk!" perintah Ichigo saat mendengar suara ketukan dari arah pintu. Rukia muncul sambil membawa nampan yang berisi secangkir kopi.
"Ini kopi anda Tuan Kurosaki." Ucap Rukia. Ichigo sepertinya masih sibuk dengan pekerjaannya dan tidak memperdulikan Rukia. Rukia menatap sejenak aktivitas yang dilakukan Ichigo. Violetnya mulai melirik wajah yang terlihat serius itu. Tampak sebuah kaca mata bertengger manis di depan mata Ichigo. Membuatnya terkesan dewasa dan elegan. Rukia sedikit terpesona melihat tampang serius Ichigo saat ini. Hatinya terasa mulai menghangat. Namun tanpa ia sadiri, Ichigo juga sedang mengawasinya dengan sesekali melirik ke arah Rukia dengan ekor matanya. Ichigo sedikit menyeringai ketika melihat Rukia yang tengah memperhatikannya.
"Tak ku sangka kau masih suka memperhatikanku juga, Rukia." Goda Ichigo dan menoleh manatap Rukia. Rukia terkejut dan semburat merah mulai mewarnai pipinya. Ichigo tertawa geli manatap ekspresi keterkejutan Rukia. Ia melangkah mendekati Rukia. Rukia mendengus kesal dan mulai mundur, menjaga jarak dengan Ichigo. Ia menjadikan nampan sebagai tameng untuk menghindari Ichigo agar tak berbuat macam macam dengannya." Cih...jangan harap aku memperhatikanmu karena hal bodoh yang kau fikirkan itu jeruk! Kau kira aku tak tahu apa yang sedang ada di otakmu!" jengkel Rukia. Ichigo menghentikan langkahnya. Ia menyandarkan pinggulnya di ujung meja kerjanya. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan salah satunya meraih kaca mata yang menggantung di depan matanya dan melepaskannya. Ichigo tersenyum simpul. Ia manatap Rukia dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Bukankah menurutmu aku tampan jika sedang serius seperti tadi?" goda Ichigo.
Rukia tersenyum angkuh, Ia memasang wajah bosan. "Percaya diri sekali kau!" sinisnya. Ichigo hanya menanggapi dengan senyum simpul."Ayolah! Kau kira aku tidak melihat semburat merah di wajahmu saat menatapku tadi?" telak Ichigo. Rukia merasa jengkel sekaligus malu. Ternyata Si jeruk ini cukup peka juga.
"Benarkah? Aku sama sekali tidak merasakan hal seperti itu." Rukia memasang wajah datarnya kembali untuk menutupi rasa malunya."Ku rasa tugasku sudah selesai, aku permisi dulu." Pamit Rukia dan berbalik menuju pintu."Silakan menikmati kopi anda Tuan Kurosaki~." Rukia berbalik sejenak dan tersenyum singkat.
Ichigo terkejut dengan tingkah Rukia yang tiba – tiba tersenyum. Tapi yah, ternyata Dia bisa juga bersikap manis. Ichigo tersenyum sendiri. Ia meraih kopinya dan menyeruputnya.
BRRUUUUSSSSSS!
Ichigo segera menyemburkan kopi yang baru saja diminumnya . Rasa kopi yang mengenai indra pengecapnya saat itu seketika membuatnya merasa seakan sedang meminum air laut. Ichigo terbatuk batuk karena sedikit tersedak.
'Sial!'
"Apa kau mau membuatku terkena darah tinggi, Midget!" teriaknya ke arah pintu yang baru saja tertutup. Ichigo mendengus kesal. Ini sudah yang ke tiga kalinya Rukia mengerjainya dengan memberikan kopi asin. Rukia hanya tersenyum menyeringai mendengar suara teriakan ichigo dari balik pintu. Ia berusaha menahan tawanya. Hatinya terasa sangat bahagia bisa membuat si jeruk itu jengkel. 'Memangnya dia saja yang bisa membuat orang jengkel? Kau terambat seratus tahun jeruk!' Rukia tersenyum puas dan segera berlalu menuju ruang Office Girl.
.
.
BRUUUSSSSSSSSS!
Lagi – lagi Ichigo menyemburkan kopi yang baru saja diminumnya. Namun sekarang, bukan karena indra perasanya, tapi karena indra penglihatannya menangkap pemandangan yang ganjil. Ia terkejut saat melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Rukia tengah bergelantungan di luar kaca jendelanya. Dengan beberapa tali yang terkait di tubuhnya dan seat belt yang mengait erat di pinggangnya. Ia tengah sibuk mengelap kaca jendela tanpa memperdulikan seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut dengan keterkejutan setengah mati. Ichigo segera menghampiri jendela tersebut. Ia menggeser paksa jendela itu untuk segera memperingati Rukia.
" Hei..!Apa yang kau lakukan disana Rukia? " teriak Ichigo panik.
" Apa kau tidak lihat?" Rukia balik bertanya.
" Ya.., aku lihat. Tapi apa kau sudah gila?Ini lantai 15! Dan kau malah bergelantungan disana dengan santainya! Sekarang juga cepat turun!" bentak Ichigo panik.
" Tidak mau." Jawab Rukia ketus. Ia masih asik mengelap kaca jendela dan menghilangkan debu debu yang menempel tanpa sekalipun melirik Ichigo yang tengah ketakutan setengah mati melihat tindakan ekstrimnya itu.
" Ini perintah atasan!"
" Lalu?"
" Apa kau mau dipecat?"
" Pecat saja.."
" A,..apaa?" Ia baru sadar jika Rukia memang ingin agar dirinya dipecat.
Aaarrrrrrggghhhhhh! Kesabarannya benar benar diuji oleh wanita mungil di depannya ini.
" Sudahlah...kau diam saja. Aku sedang bekerja." Perintah Rukia ketus dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Ichigo merasa sangat ngeri. Membayangkan apa yang akan terjadi jika saja tali tali itu putus. Ichigo tidak bisa berbuat apa apa. Ia hanya mengawasi Rukia dengan seksama. Khawatir apa yang ditakutkannya benar terjadi.
Kriiieeettt...
Terdengar suara aneh dari tuas yang menyangga tubuh Rukia di atas sana. Rukia sempat terkejut. Namun ia kira itu cuma perasaannya saja dan ia kembali cuek dan melanjutkan aktivitasnya. Mata Ichigo tak henti - hentinya mengawasi gerak gerik Rukia.
Namun tiba - tiba keseimbangan Rukia goyah. Salah satu tali yang mengait tubuhnya putus karena bergesekan dengan sudut tembok. Rukia panik. Namun ia masih berusaha tenang. Ichigo yang melihat keanehan dari gerak gerik Rukia mulai cemas.
Rukia berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang hampir jatuh. Namun sia - sia karena tali lainnya pun mulai terlepas. " Aakkh..!" Rukia memekik panik. Ichigo segera bereaksi.
" Rukia!Kau baik baik saja?" teriaknya cemas. Ia segera beranjak keluar jendela menuju balkon kecil untuk melihat kondisi Rukia lebih jelas. Saat ini Rukia terlihat sangat panik. Hanya tersisa dua tali yang menyangga tubuhnya. Wajahnya mulai pucat. Ichigo panik dan mulai mencari cara untuk menyelamatkan Rukia, namun tak ada seorangpun yang peduli dengan kondisi di luar kantor. Semua pegawai tampak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka. Rukia mulai menangis. Ia sangat takut.
" Rukia, coba kau tarik sedikit demi sedikit talinya agar aku bisa menjangkaumu." Teriak Ichigo dari balkon lantai 15.
" Ichigoo...aku takut..hiks..." " Sudahlah..lakukan saja apa yang ku katakan tadi! Cepat!" Perintah Ichigo. Rukia mulai menuruti. Ia mengulur sedikit demi sedikit tali hingga mencapai lantai 15. Ichigo telah bersiap disana untuk menangkapnya. Dengan segera, Ichigo menangkap tubuh Rukia yang hampir jatuh terperosok. Sedikit saja terlambat, maka mungkin saja Rukia sudah tewas mengenaskan di bawah sana.
Ichigo segera menghempaskan tubuh mereka ke dalam ruang kerjanya memalui jendela kaca yang menyerupai pintu. Keduanya terjatuh dengaan bunyi debaman keras. Ichigo memeluk Rukia dengan begitu erat. Ia sangat takut dengan apa yang baru saja terjadi. Rukia memejamkan matanya saat Ichigo menghempaskan tubuh mereka ke lantai ruangan tersebut. Ia membuka matanya saat dirasa mereka telah mendarat selamat. Rukia menindih tubuh bidang Ichigo di bawahnya. Mata mereka saling bertemu. Tersirat kekhawatiran di hazel indah tersebut. Violet Rukia terlihat sangat takut. Pelukan Ichigo memberi rasa aman untuknya. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Semakin menyelami makna dari tatapan mereka masing masing.
" Maafkan saya tuan Kurosaki." Rukia bergegas bangkit, namun Ichigo menariknya dan menenggelamkan Rukia kembali dalam pelukannya. " Sebentar saja..." Ichigo menghela nafas, Rukia hanya diam menuruti. " Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar terhanyut dengan suasana .
" Apa kau baik baik saja? " tanya Ichigo memulai. " Yah..hanya sedikit memar di bagian lengan karena terjerat tali." Jawab Rukia yang masih menenggelamkan kepalanya di dada bidang Ichigo." Sudah cukup lama. Bisakah kau lepaskan aku?" tanya Rukia kemudian.
Ichigo melonggarkan pelukannya dan membiarkan Rukia terlepas dari pelukannya. Mereka pun segera berdiri. " Maaf sudah merepotkan Anda Tuan Kurosaki." Rukia membungkuk meminta maaf." Terimakasih" akhirnya dan berjalan meninggalkan ruangan Ichigo. Ichigo hanya terpaku menatap punggung kecil yang mulai menjauh dari pandangannya.
Rukia melamun di ruang Office boy saat tak ada lagi pesanan kopi. Hari sudah sore. Kantor juga sudah mulai sepi. Rukia masih tenggelam dalam lamunannya. Kejadian tadi pagi masih membayangi fikirannya. Ia tak bisa melepaskan sedikitpun ingatan saat moment moment romantis antara dia dan Ichigo. Hal itu seakan membuatnya bernostalgia ke masa lalu. Namun, cepat cepat Ia menghapus ingatan itu. Rukia kembali menyibukan dirinya. Ia membereskan meja sebelum mengakhiri pekerjaannya untuk hari, setelah semua beres, ia bergegas pulang.
Seperti biasa, Rukia pulang dengan berjalan kaki menuju halte bis yang terletak tak jauh dari kantor. Bis yang akan dinaikinya pun tiba. Ia duduk di deretan bangku sebelah kiri. Sepertinya semua orang sudah tiba di rumah mereka masing masing karena dilihatnya bis ini terlihat sepi. Hanya ada dia dan beberapa penumpang . Rukia turun di persimpangan jalan. Ia berjalan kaki untuk menuju rumahnya yang terletak di ujung gang. Tanpa disadarinya, sebuah mobil sedan hitam mengikutinya dari tadi.
Mata hazel pria yang berada di dalam sedan tersebut tak pernah lepas dari Rukia. Ia membuntuti kemanapun Rukia berjalan. Hingga akhirnya Rukia masuk ke sebuah rumah kecil bergaya khas Jepang. Terlihat seorang bocah laki laki dengan rambut jabrik hitamnya membukakan pintu untuk Rukia. Rukia menggendong bocah tersebut dengan bahagianya dan mereka-pun menghilang dari pandangannya saat pintu itu di tutup.
' Jadi di sini kau tinggal. Dan itu... anakmu... ' tersirat sedikit kekecewan diraut mukanya. 'Dia memamng mirip Shiba Kaien...'
Ichigo tetap diam di mobilnya. Ia masih menatap rumah kecil itu. Entah kenapa hatinya menjadi semakin sakit. Haruskah ia merelakan Rukia?
TBC
.
.
.
Mohon masukannya readers sekalian jika berkenan
: )
