..

..

I receive some critic. But I don't receive any plagiarism.

The story line belong to coffebreakespresso©

..

[Chapter 2] – The Memories about us.

Senin pagi kembali datang seakan tak memberinya ruang lebih untuk sekedar meluruskan punggungnya. Ia pergi kuliah dengan wajah yang kembali muram dan hati yang terus saja berdo'a agar tak bertemu Jongin dijalan.

Sampai dikampus ia segera melesat ke kelasnya tanpa mau menolehkan kepalanya kebelakang ataupun menyapa beberapa sunbae yang memanggilnya. Ia terlalu takut.

Kelas kalkulus selesai tepat pukul tiga sore. Otaknya cukup lelah karena terus melihat deretan angka dan rumus selama lebih dari empat jam. Ini kelas terakhir dan memang ia hanya punya satu jadual di hari Senin.

Ia sedikit bersyukur akan itu. Itu berarti, ia tak perlu berjalan di antara koridor dengan rasa cemas dihatinya.

Ia berjalan ketempat kerjanya. Didepan pintu belakang terlihat sebuah mobil pick up yang biasanya digunakan untuk mengantarkan bahan.

"Hai Sehun. Apa lagi sekarang?"ujarnya saat matanya melihat sosok jangkung berkulit putih yang keluar dari pintu belakang seraya menghela nafasnya.

Sehun menggeleng sambil membalik topinya. "Strawberrynya tak memenuhi pesanan. Ada badai kecil didesa kemarin"jawabnya.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya lalu menepuk bahu Sehun. "Baiklah. Bekerjalah dengan keras dah Sehun. Semangat!"pekiknya dan mau tak mau membuat Sehun menyunggingkan sebuah senyum lucu.

Kyungsoo berjalan melewati lorong sempit dan pengap lalu mengganti bajunya diruang ganti. Kamar mandinya cukup bersih dengan sebuah bak air sedang dan kloset.

"Kyungsoo-sshi"seorang memanggilnya dari pintu dapur. Kyungsoo tersenyum kecil kala melihat tubuh kecil bosnya diambang pintu.

"Ada apa bos?"tanyanya sambil berjalan mendekat ke bosnya. Bosnya tersenyum kecil sambil mengeluarkan sebuah amplop coklat dari balik punggungnya. Mata Kyungsoo berbinar menatap amplop itu.

"Bukankah hari ini masih tanggal 27?"tanyanya seraya mengambil amplop dari tangan bosnya. Bosnya menghela nafas, "Keuntungan kita naik pesat akhir-akhir ini. Jadi aku memutuskan untuk memajukan tanggalnya"

"Oh, baiklah. Terimakasih"

XXXXXX

Sebuah mobil sedan hitam berhenti didepan halte bis kala Kyungsoo duduk menunggu malam ini. Kyungsoo berusaha tak memperdulikan bagaimana mewahnya mobil itu juga dengan seorang pria yang duduk dibelakang ban setirnya.

Mesin mobil mati dan pintu mobil terbuka, menampakkan seorang pria berkulit eksotis dengan sebuah jaket kulit putih. Kyungsoo merasakan kalau jalan nafasnya terasa seperti terhimpit. Tiba-tiba keringat dingin keluar dari keningnya.

Sosok itu mendekat dan Kyungsoo bisa merasakan hal yang tak baik akan terjadi dalam kurun waktu limabelas menit kedepan. Sosoknya berhenti dalam radius lima meter didepannya. Kyungsoo menundukkan kepalanya menatap sepatu bututnya dengan pandangan takut dan hati yang memukul-mukul.

"Kyungsoo"bisiknya. Jongin berjalan kembali mendekati Kyungsoo dan membawanya kedalam dekapannya. Airmata Kyungsoo seketika menetes dan membasahi bahu Jongin. Akal sehatnya menghilang dan rasa rindu yang telah ia kubur muncul seketika.

Tangannya mengalung dileher kokoh Jongin, dan ia juga dapat merasakan lehernya basah karena ciuman. Pelukan mereka tak terlepas dan sekarang tangan kokoh Jongin telah melingkar manis dipinggangnya dan membawa tubuh mungil Kyungsoo kedalam dekapannya.

"Ahn… Jong-ah… akhh.."rancaunya kala bibir terlatih Jongin kembali mencium tengkuknya dan membuat sebuah tanda merah keunguan dibeberapa spot.

Ciuman Jongin terlepas dan ia bisa mendengar suara nafas Kyungsoo yang terengah-engah didalam dekapannya.

"Jangan pergi lagi"bisiknya pelan. Kyungsoo tersentak dan tiba-tiba rasa gugup menjalar ketubuhnya. Jongin semakin mengeratkan pelukannya dengan kedua lengan Kyungsoo yang berada di sisi-sisi tubuhnya.

Brukk

"Sehun-ah! Apa yang kau lakukan, Ya Tuhan! Hentikan!"pekik Kyungsoo kala sosok Sehun melemparkan Jongin ke trotoar dan memukulinya dengan membabi-buta.

Kyungsoo berusaha melepaskan Sehun yang duduk diatas perut Jongin dan melayangkan belasan bogem mentah dipipi pria berkulit kecoklatan itu. Air matanya sudah mengalir dan juga bibirnya yang tak henti-hentinya berteriak agar Sehun berhenti.

Menit terbunuh. Sosok Jongin sudah terkapar dengan luka yang cukup besar disudut bibirnya, juga pipi dan sudut matanya yang membiru.

"Hentikan Sehun-ah"lirih Kyungsoo kala Sehun telah berdiri dari atas perut Jongin dan membawa Kyungsoo kedalam pelukannya. Suara Kyungsoo hampir teredam oleh angin malam yang berhembus cukup kencang.

"Apa yang dia lakukan padamu noona? Apa kau tak apa-apa?"tanya Sehun sambil mengelus punggung sempit Kyungsoo dan sesekali mencium puncak kepalanya.

Kyungsoo mengangguk kecil didalam pelukannya dan bergumam, "Nan gwaenchana"

XXXXXX

Selepas dari kejadian mukul-memukul ditepi jalan, Sehun langsung membawa Kyungsoo pulang dengan pick up hitamnya dengan lidah api merah dikedua sisinya.

Kyungsoo kembali dari dapur dengan dua gelas kopi panas. Ia hanya punya itu dikulkas, dan juga berbotol-botol air mineral. Hujan mengguyur sejak lima menit lalu dan Sehun dengan berat hati harus tinggal lebih lama didalam apartemen mungil Kyungsoo.

"Maaf aku hanya punya ini"ucap Kyungsoo seraya meletakkan dua gelas kopi diatas meja kayu. Sehun tersenyum kecil dan mengangguk, "Tidak apa-apa. Ini bagus untuk kita yang kedinginan"

Kyungsoo tersenyum kecil lalu mengambil duduk disamping Sehun. Ia menatap cangkir kopi dengan tatapan kosong.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi?"tanyanya dengan suara yang lirih. Sehun menatapnya dengan pandangan teduh, "Apa menurutmu yang tadi kulakukan?"

Kyungsoo menatapnya dengan pandangan tanya. Sehun tersenyum sambil mengusak rambutnya, "Apa aku harus diam saat melihatmu sedang dicabuli oleh orang yang tidak kau kenal"

Kyungsoo tersenyum segaris lalu menundukkan kepalanya, "Aku mengenalnya. Sangat"

XXXXXX

Flashback

Senin pagi adalah hari yang paling dibenci oleh semua anak sekolah. Pasalnya, mereka harus berangkat lebih pagi dan menggunakan pakaian lengkap, atau kau akan berakhir dihalaman belakang dengan gunting rumput.

Kyungsoo berjalan kedalam gedung sekolah dengan kemeja putih, jas abu, dan celana abu. Ia juga memakai rompi senada. Rambutnya hitam legam dengan sebuah tas punggung. Imut.

"Annyeong, Kyungsoo-ya"kata seorang pria dengan rambut coklat tua seraya melingkarkan lengannya dilingkar bahu Kyungsoo.

"Baekhyun-hyung. Aku kira tingkat tiga tak masuk hari ini"ujar Kyungsoo seraya melanjutkan langkahnya.

Baekhyun terkekeh lalu mencubit gemas pipi Kyungsoo. "Ini memang tahun terakhirku tapi, kelulusan masih lima bulan lagi"jawabnya.

Kyungsoo mengelus pipinya dengan bibirnya yang mengerucut. "Baiklah oppa. Aku harus pergi, kelas Miss Kwon menungguku. Dah"ucapnya sambil berjalan dan melambai pada Baekhyun.

XXXXXX

Pagi itu kelas Kyungsoo mendapat jadual olahraga bersama dengan sunbae tingkat tiga. Lapangan depan sekolah sudah hampir penuh dengan tujuh puluh siswa. Kyungsoo salah satunya, berdiri disudut lapangan dengan seragam olahraga merah longgar tak berlengan.

Sekumpulan anak lelaki tingkat tiga terlihat memperhatikannya dari kejauhan. Tubuhnya menjadi kikuk dan ia hanya bisa menggaruk belakang lehernya.

"Dia boleh juga"bisik salah seorang pemuda dengan rambut blonde dan tubuh jangkung. Salah seorang pria dengan tubuh cukup tinggi dan kulit tan terlihat memperhatikan Kyungsoo dengan tatapan tertarik. Jatuh cinta eoh?

"Kyungsoo-ya!"pekik seorang pria, Park Baekhyun.

Kyungsoo membalikkan tubuhnya, menatap Baekhyun dengan mata bulatnya. "Baekhyun-hyung? Aku tak tahu kalau kau ada jadual olahraga"tanya Kyungsoo.

Baekhyun tersenyum kecil, "Hanya menjaga seekor anak anjing dari segerombol serigala lapar"ucapnya seraya melirik sekilas segerombol pemuda itu.

XXXXXX

Suasana pulang memang selalu mencekam layaknya rumah hantu yang ada di Lotte World. Kyungsoo selalu pulang paling akhir dengan alasan pergi ke perpustakaan. Belajar.

Kaki-kaki mungilnya berjalan menyusuri koridor sepi sekolah. Lembayung senja sudah mulai menggelap dan tangannya yang menggenggam erat tasnya.

Seorang pria tinggi berdiri didepannya. Menghentikan langkahnya. Rambutnya blonde, matanya tajam bak elang, tubuhnya jangkung, dan seringaian tak pernah luput dari bibirnya.

"Hai manis"ucapnya dengan suara rendah yang menyebabkan bulu Kyungsoo serentak meremang.

Kyungsoo tergagap dengan instingnya bahwa ada hal buruk yang akan terjadi. "S-sun-sunbaenim"ucapnya dengan suara tergagap dan rasa takut yang menyelimuti tubuhnya.

Namanya Kris, siswa tingkat tiga. Ia memojokkan Kyungsoo di dinding lorong dan mendekatkan wajah mereka. Jaraknya tidak lebih dari lima senti. Kyungsoo memejamkan matanya dan menahan nafasnya. Ia tahu kalau tiga detik lagi kejadian buruk tak dapat terelakkan. Namun…

Bukk…

Kris tersungkur dilantai abu lorong dengan mata yang menatap tak percaya pada sosok pria yang berdiri disamping Kyungsoo dengan sebuah tas selempang dan seragam serupa.

"Kai? Apa yang kau lakukan?"tanyanya dengan nada tak percaya. Salah satu serigala menghianati kawanan.

Kai mengangkat satu sudut bibirnya, lalu terkekeh. "Menolong anak anjing mungil dari serigala lapar"ucapnya lalu menarik tangan Kyungsoo untuk meninggalkan tempat itu.

..

Mereka berhenti didepan sebuah taman kota yang ada disamping sekolah. Kai melepaskan tautan tangan mereka, lalu menatap kearah Kyungsoo. Memberi pria mungil itu sebuah senyuman manis.

"Apa kau tidak apa-apa?"tanyanya dengan suaranya yang berat. Kyungsoo menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah kemerahannya.

"Nan gwaenchanayo. Kamsahamnida sunbaenim"ujarnya sambil membungkukkan badannya. Kai terkekeh geli, "Panggil Jongin-Hyung aja. Nama Kai terlalu 'buas' untukku"

XXXXXX

Sampai didepan rumah keluarga Park. Kyungsoo membuka pintu besi dan menimbulkan suara deritan besi tua yang telah berkarat. Ia menguncinya kembali lalu berjalan melewati jalan setapak pendek menuju rumah utama.

Rumahnya memang tak terlalu besar. Namun cukup indah untuk ukuran Gyeonggi. Kyungsoo memutar kenop lalu mendorong pintunya agar terbuka.

"Aku pulang!"teriaknya. Ia menutup kembali pintu dan berjalan keatas menuju kamarnya. Matanya menangkap sosok Baekhyun yang tengah menyenderkan punggungnya dipintu kamarnya.

Kyungsoo mengerutkan dahinya, "Baekhyun-Hyung? Apa yang hyung lakukan disini?"tanyanya seraya berjalan mendekat.

Baekhyun menatap Kyungsoo dengan tatapan tajam. Mau tak mau membuat sosok Kyungsoo menciut. Ia mendorong Kyungsoo masuk kedalam kamarnya. Mengunci pintu dan menatap Kyungsoo dengan kilatan berbahaya.

Kyungsoo menatap Baekhyun dengan tatapan waspada. Ia tak yakin kalau ia bisa lolos dari serigala lapar yang satu ini. Keluarga Park dan Park Chanyeol tengah berlibur di Hawaii. Tuan dan Nyonya Park mendapat Trip ke Hawaii selama seminggu. Ditambah dengan semua maid yang diliburkan kecuali seorang penjaga rumah.

"Aku tak tahu sudah berapa lama aku tak menyentuhmu. Kyungsoo sayangku"ucapnya dengan penuh penekanan. Kyungsoo menelan ludahnya, "Hyung, kau tak akan melakukan yang aneh-aneh bukan?"tanyanya dengan tergagap.

Baekhyun tersenyum licik, "Kenapa tidak? Ayah dan Ibu tak ada begitu juga dengan si idiot Chanyeol"

XXXXXX

Beruntung hari ini Minggu. Jadi Kyungsoo tak perlu membuat sebuah bualan pada semua teman dan gurunya. Dan juga ia tak harus seharian penuh terbaring diatas ranjang keras UKS. Ia benci itu.

Mereka tidur dengan satu lengan Baekhyun yang melingkar diperut Kyungsoo. Satu lengannya lagi ia gunakan untuk bantalan tidur Kyungsoo.

Mereka masih tenggelam dalam mimpi sampai sosok malaikat bangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali. Kemudian tersadar saar rasa ngilu pantatnya menusuknya.

Ia menatap sayang sebuah lengan yang ada dipinggangnya. Dengan gerakan superpelan, ia membalikkan badannya, menatap wajah pangerannya dengan senyum segaris. Tampan.

Flashback OFF

"Kyungsoo! Kyungsoo!"pekikan seorang teman membuatnya tersadar dari lamunanya. Matanya menatap Baekhyun yang menatapnya khawatir.

"Apa yang kau lakukan hyung?"tanyanya seraya menyeruput jusnya. Baekhyun menghela nafasnya, "Harusnya aku yang bertanya padamu sayang. Apa yang kau pikirkan, hem?"tanyanya seraya mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum dalam, "Hanya mengingat-ingat saat aku masih senior high school. Kau begitu overprotective padaku waktu itu"ucapnya.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Bukannya aku overprotective. Hanya saja, kalau kau tak kujaga seperti itu, kujamin salah satu dari geng Wolf itu telah membobolmu"sangkalnya. Kyungsoo memasang wajah menahan tawanya seraya menatap Baekhyun.

"Kau cemburu hyung"

To be continue…

Alohaaa…

Chapter 2 has been updated. How abt the chapter 1? Any typo? I'm sorry if there are so many typos in this chapter. Coz I don't spent so much time to do this chapter. Exam is waiting for me already. So, I must spend much of my time to read a science book or calculate a mathematics. I know if this ff is not enough good than other.

Last, mind to review?

Coffebreakespresso.