BERTEMU LAGI DENGAN SAYA... SEBELUMNYA MAAF, KARENA CHAPTER 1 TIDAK MEMUASKAN DAN MASIH BANYAK YANG TYPO, TETAPI SEKARANG INSYA ALLAH SAYA AKAN MEMBUAT CHAPTER 2

saya akan membalas review dulu ^_^

Yukori kazaqi : iya, eydnya saya rapihin maklum baru bikin, selain itu percakapannya juga saya pisahin koq :)

Mushi Kara-chan: iya, saya lupa waktu buat chapter 1, tapi di chapter 2 ada disclaimernya koq

: udah di update nih

Laila Angel Sapphire blue: iya, penjelasannya terlalu minim ya, sorry abisnya buru-buru..

.

.

.

.

Oke, mendingan langsung aja ya,,,,,,

Disclaimer: Masashi Kishimoto (tulisannya bener gak ya?)

Pairing: NaruHina

Warning: OOC, TYPO, dan lain2

.

.

.

Ting…tong, suara bel di depan pintu apartementnya membuyarkan lamunan Hinata.

"Siapa ya?", Tanya hinata, sambil segera membukakan pintunya.

"Ini aku Hanabi, neechan lama sekali sih membuka pintunya, eh, Hinata-neechan habis nangis ya?", Tanya Hanabi, yang melihat bekas air mata yang telah diusap.

"e-eh, ti-tida kok, tadi nee-chan habis memakai obat tetes mata, soalnya tadi mata neechan terkena debu..", belum selesai Hinata bicara, Hanabi langsung memotongnya.

"Oh…ya sudah aku masuk dulu, ngomong-ngomong Hanabi boleh tidak menginap disini seminggu saja?, soalnya asrama Hanabi sedang dalam rangka renovasi….", rengek Hanabi

"ya sudah tak apa-apa, tapi kau harus belajar ya, sebab, dua bulan lagi kan ujian kelulusan di asramamu untuk melanjutkan ke sekolah menengah keatas!", Hinata berbicara dengan semangat yang dibuat-buat.

Tanpa basa-basi lagi Hanabi masuk ke kamar Hinata, sekalian menaruh baju-bajunya di lemari kakaknya itu. Saat membuka lemari dia melihat sebuah kalung, "nee-chan, kalung pemberian Naruto -niisan kau masih menyimpannya ya?", Tanya Hanabi.

"eh i-iya, soalnya sayang, itukan bagus kalungnya….he..he..he…", jawab Hinata dengan bercucuran keringat di pipinya.

"huuh neechan ini, orang seperti dia harusnya dilupakan saja, dia kan sudah memberi harapan palsu pada neechan, cowok ga jelas gitu, apa-apan dia seleranya masa sama cewek berambut pink yang sok berkuasa di sekolah neechan! Andai Neji-niisan masih hidup, dia pasti sudah membuat cowok pirang itu babak belur!", Hanabi berbicara dengan nada ketus.

"hush, sudah, kita tidak boleh membicarakan orang di belakang, er.. kau sudah makan Hanabi lebih baik kau makan dulu..", Hinata mecoba mengalihkan pembicaraan, dan akhirnya Hanabi pun makan.

KEESOKKAN HARINYA

"Hanabi, aku pergi sekolah dulu ya, aku pulang jam 3 sore, kau jaga apartement ya!", kata Hinata saat sarapan bersama adiknya itu.

"iya aku tahu, tapi nanti kau tak bekerja sampingan?', Tanya Hanabi.

"tidak, aku bekerja setip akhir pekan, aku berangkat ya!", jab Hinata santai.

Di sekolah

Di pagar sekolahnya Hinata tampak kelelahan karena harus buru-buru, ia takut terlambat karena jarak partementnya ke sekolahnya jauh. Saat sedang berjalan di lorong sekolahnya ia bertemu Naruto, dan Naruto menyapanya dengan hangat, "halo Hinata-chan, apa kabar?"

Tapi tak ada jawaban yang diterimanya, yang ada hanya sebuah tatapan sinis, naruto dengan sabarnya tetap tersenyum pada Hinata, dan lagi, keadaan itu diperparah dengan datangnya Sakura.

"hei naruto ayo kita ke kelas, sedang apa kau jalan berdua dengan dia?", Tanya Sakura.

"eh,, Hinata maksudmu?, aku hanya menyapanya kok…", Naruto menjelaskan dengan lugunya.

"hei wanita jalang, jangan berani-berani kau mendekati Naruto lagi!,", maki Sakura kepada Hinata, dengan kasarnya dia mendorong tubuh Hinata. Hinata yang mendapatkan perlakun seperti ini hanya diam saja sambil menahan sakitnya, Naruto yang tak tinggal diam pun melerai mereka berdua.

"SAKURAAA!, APA-APAN KAU INI, KENAPA BERSIKAP KASAR PADA HINATA?, KITA KAN SUDAH BERTEMAN SEJAK SEKOLAH DASAR!", teriak Naruto pada Sakura.

Sakura yang tidak terima pada perlakuan Naruto pun membalas perkataannya, "NARUTO KENAPA KAU MALAH MEBELANYA HAAAH?, SEBENARNYA PACARMU ITU AKU ATAU DIA?, DASAR BODOOOOOH!", ucap Sakura sambil berlari ke kelasnya.

Hinata yang melihat Naruto membelanya hanya bias terdiam tanpa suara, untuk memecahakan suasana, Naruto mendatangi Hinata dan bertanya padanya, "hei Hinata-chan, kau tidak apa-apa?, apa ada bagian yang terluka?".

" ti-tidak ada, le-lebih baik kau menyusulnya, cepat!", jawab Hinata berbohong, padahal tangannya terasa sakit, tetapi dia tak berani berkata jujur.

"jangan berbohong padaku, tanganmu itu lecet aku melihatnya, ayo aku bantu ke UKS agar aku dapat mengobatimu!", Naruto langsung memegang tangan Hinata, Hinata yang tangannya dipegang Naruto hanya bias meringis kesakitan.

"ke-kenapa Hinata-chan?, apa aku terlalu kencang memegang tanganmu?", Tanya Naruto dengan panic.

"ti-tidak, hanya saja bagian sikuku, terasa sangat ngilu bila tanganku digerakkan..", jawab Hinata dengan muka merah merona.

"baiklah, nanti sekalian diperiksa di UKS", Naruto langsung membawa Hinata ke UKS.

Beberapa saat kemudian….

Setelah selesai diobati Hinata duduk di ranjang UKS, dia masih merasa sakit karena lukanya di tetesi obat merah tadi, sementara naruto sedang mengambil air untuknya.

'GREEEET', suara pintu digeser, Hinata yang kaget langsung melihat ke asal suara tersebut, ternyata Naruto yang membawakan air untuknya.

"jangan kau gerakkan dulu tanganmu Hinata, tanganmu itu terkilir!", Naruto mencegah Hinata menggerakkan tangannya.

"emm,,, ngomong-ngomong soal tadi, tolong maafkan Sakura ya, dia memang begitu orangnya, tidak usah di bawa kedalam hati", ucap Naruto.

"sudah ku maafkan kok,tenang saja!"ucap Hinata ambil tersenyum tipis.

"wajahmu memerah, apa kau demam?", Tanya Naruto yang melihat pipi merah Hinata.

Hinata memundukkan mukanya tanpa menjawab pertanyaan Naruto dia sangat malu sekali.

HINATA POV

'Ohh… Kami-sama, kenapa kau membuatnya dekat padaku, disaat kuingin melupakannya'ucapku dalam hati, aku jadi tak dapat melupakan Naruto, senyum Naruto, tawa Naruto…. Tak bias kulupakan.

"hei Hinata-chan bagaimana jika nanti aku antar kau pulang?", dia bertanya kepadaku.

"ti-tidak usah Na-naruto-kun, aku bi-bisa pulang sendiri", aku menjawabnya, bukannya aku tak mau, tetapi aku sadar Naruto sudah punya Sakura, aku tak mau jika dicap sebagai perusak hubungan orang.

"tidak usah, biar aku antar!"

Aku yang tak punya pilihan lain pun hanya mangut-mangut saja, tak lama kemudian kami sampai di apartement ku,"masuk Naruto-kun, maaf kalau berantakan….."

"tak apa, emm, eh, itu siapa yang sedang menonton tv?"

"dia Hanabi adikku, asramanya sedang direnovasi, jadi untuk sementara waktu di tinggal denganku", sementara aku bicara, Hanabi tak menghiraukan.

"EHEM!"

"a-ada apa Hanabi-chan?",

"kalau pulang bilang-bilang dong!", jawab Hanabi. Adikku memang sedikit galak mungkin turunan dari tou-san, tapi, biasanya dia baik kalau bicara denganku.

"e-eh, aku lupa, tadaima!", ucapku mencairkan Susana.

"hnn, okaeri!", jawabnya dingin, aku tak mengerti, kenapa anak ini?.

"Hanabi-chan, lama tak bertemu, waaah, kau sudah besar ya!, oh… kau mau masuk sekolah menengah atas ya?, apakah kau sudah menstruasi?".

JDUAAAAAAK

Aku tak sempat menyelamatkan Naruto dari pukulan telak Hanabi, alhasil naruto pipi Naruto bengkak..

"neechan, kenapa membawa bajingan ini, mulutnya benar-benar tak bias dijaga, apalagi diakan yang menyebabkan orang tua kita beserta Neji-niisan meninggal!".

"EEH!"

'oh tidak, kami-sama, tolong aku!', ucapku dalam hati.

HINATA POV END

Bersambung…

Review please..