Harry Potter's Journey in Japan Chapter 2

Ron dan Hermione akhirnya memilih untuk menuju ke Taman yang berada disebelah Rumah nomor 17, tidak terlalu jauh dari tempat mereka berpijak barusan. Melangkah menuju ke rerumputan yang segar, dan duduk disuatu kursi panjang yang pinggirannya ditumbuhi lumut.

"Bagaimana cara kita untuk membuat Harry tidak keras kepala lagi?" tanya Ron.

"Hmmm… Aku juga bingung, Ron. Apakah sebaiknya kita minum butter beer dulu, ya? Ah, itu tidak berhubungan dengan pokok masalah kita," ujar Hermione.

"Betul juga. Atau, kita yang seharusnya memberikan butter beer kepada Harry? Mungkin itu bisa menenangkannya," kata Ron bersemangat.

"Mungkin… Aku sebenarnya tidak terlalu yakin—," tutur Hermione.

Tiba-tiba, seekor ular menghampirinya. Hermione memundurkan badannya. Karena Ron sudah bisa parseltongue, dia berbicara dengan ular itu. Dia mengeluarkan desis mengerikan dan ular itu pergi. Hermione mengelus-elus dadanya dan mendesah, 'fuh'.

"Ular apa itu?" tanyanya.

"Kalau tidak salah, hanya anak sanca. Aku saja tidak terlalu yakin," jawab Ron sambil mengamati ular yang bergerak menjauh.

"Huh, untung bukan cobra. Nah, kita melupakan soal Harry," sergah Hermione.

"Oh, iya. Kalau begitu, apakah kita harus menyuruh Ginny makan malam bersamanya di salah satu Restaurant padahal dia belum bisa bahasa Jepang?" ujar Ron.

"Tapi Ginny pintar, kan? Itu adalah ide terbaik kita! Sebaiknya kita hubungi Ginny," kata Hermione. Dia pernah diberikan nomor Ginny di Jepang oleh Mrs. Weasley.

"Halo? Apa ini Ginny?" tanya Hermione.

"Yeah, ini aku. Apa kabar, Hermione? Ron lupa menceritakan kabarmu lewat surat," balas Ginny.

"Aku baik-baik saja. Eh, Ginny, apa malam ini ku ada waktu luang?"

"Tentu saja. Malam Sabtu aku libur. Maksudnya, tidak ada kerjaan."

"Bagus, aku mau kau bertemu Harry di suatu tempat. Dia sedang kurang mood. Dia merasa kesepian. Padahal, aku dan Ron berusaha menemaninya, tetapi dia benar-benar keras kepala."

"Oh, Harry yang malang. Ya, aku akan datang. Aku akan menunggu di Caffe Buono, di sebelah Tokyo Mall. Kalau kalian tidak ber-dissaparate, kalian naik bus dari depan Hotel kalian, dan turun didepan Kantor Pos Tegami. Dan lanjutkan dengan bus yang berwarna hijau dan bertuliskan Tokyo Mall. Kalian naik itu dan sampai."

"Terimakasih, Ginny," Hermione menutup telepon. Ron bertanya.

"Bagaimana?"

"Ginny menunggunya di Café Buono. Dia sudah memberiku jalan kesana. Atau, kita ber-apparate," ujar Hermione.

"Oh, baguslah kalau begitu. Ayo kita pulang," kata Ron sambil menepuk pundak Hermione. Mereka memilih ber-apparate ke sekitar Halte, supaya cepat. Lagi-lagi ber-apparate didekat sebuah tempat sampah.

"Harry! Kami punya kejutan untukmu!" seru Hermione dan Ron bersamaan.

"Apa?" tanya Harry bersemangat.

"Kau akan bertemu dengan Ginny!" seru Ron.

"Kau bercanda?" kata Harry tak percaya sekaligus bahagia.

"Tentu tidak, Harry! Kami tadi menghubungi Ginny! Kita ke Café Buono nanti malam. Tenang, aku sudah tahu rutenya," ujar Hermione.

"Bagus. Aku suka itu. Aku minta maaf, tadi aku terlalu menyerah untuk berjalan. Bagaimana les pertama kalian?" tanya Harry.

"Kami belajar kata-kata dasar, Harry. Oh, iya, ini bukumu, kau juga harus belajar Bahasa Jepang. Untuk les selanjutnya, kau harus ikut," ujar Hermione.

"Terimakasih," ucap Harry. Dan dia membuka-buka buku Bahasa Jepangnya.

Malam datang dan mereka menggunakan baju yang cocok dipakai keluar tapi tidak mewah. Harry menggunakan baju dengan jas hitam dan kaus putih didalamnya. Ron menggunakan jas biru tua. Hermione menggunakan gaun pendek dengan stocking ungu. Mereka pun siap pergi!

Mereka memilih untuk ber-dissaparate saja. Dan dalam sekejap, mereka sampai di belakang Tokyo Mall, dan berjalan menuju Café Buono.

Di dalam, Ginny sudah tampak menunggu di meja paling pojok. Dua piring makanan dan dua gelas berada dihadapannya. Harry berjalan ke arahnya. Ron dan Hermione memilih duduk lima kursi jaraknya dari mereka.

"Hi, Harry!" sapa Ginny. "Bagaimana, apa kau menikmati liburan ke Jepang dengan kedua sahabatmu?"

"Eh, menyenangkan," bohong Harry. Dia meneguk jus jeruk dengan sodanya.

"Tapi, Hermione bilang, kau bosan," kata Ginny.

Harry melempar pandangan sebal kearah meja tempat Ron dan Hermione berada. Terlihat disana, Hermione sedang minum sedangkan Ron mencela-cela minuman itu.

"Eh, aku hanya sedikit bosan, karena—maaf, Ginny. Tapi sejujurnya aku tidak terlalu suka Jepang," ujar Harry.

Ginny tersenyum kecil. "Tak apalah, Harry. Ayo, sekarang, makan."

Harry menengok makanannya. "Apa ini?"

"Itu Ramen. Rasanya enak," kata Ginny. Dan ginny mulai memakan makanannya. Harry memulai makan dengan terbata-bata. Dia kembali menengok kearah Ron dan Hermione. Mereka sedang makan sup udon, tampak sangat menikmatinya. Ron tampak menikmati makanan itu, tidak seperti biasanya.

"Ginny, bagaimana kau bisa berbaur dengan lingkungan di Jepang?" tanya Harry tiba-tiba. Ginny nyaris tersedak.

"Berbaur dengan lingkungan?" ulang Ginny. "Itu adalah hal paling gampang, kau tahu? Kau hanya tinggal melihat-lihat dan sedikit mempraktekan hal yang kau lihat, asalkan hal itu positif," ujar Ginny.

"Oh, begitukah?" tanya Harry.

"Iya, Harry," jawab Ginny pelan, dan dia melanjutkan makannya.

Harry makan sambil melihat kedua sahabatnya yang sedang bercanda-canda. Tawa Ron mungkin akan memekakan teling orang-orang disekitarnya. Tetapi Hermione, pasti menikmatinya. Mereka bercanda tentang sesuatu.

"Sebenarnya, aku sering membuka-buka kamar Ginny. Aku melihatnya, dia tampak mencoba-coba melukis wajah Harry dengan cat tembok di kertas. Aku tahu dia kreatif, tapi aku sangat kasihan ketika melihat dia seperti itu," ujar Ron. Hermione terkikik. Dan tiba-tiba, seseorang yaitu Sara datang dimeja sebelah mereka dengan Kakaknya.

"Hei, kalian murid-muridku, kan?" tanyanya.

Keasyikan Ron dan Hermione serasa hanyut di sungai yang alirannya deras saat Guru mereka datang. Rasanya, perut Hermione seperti kemasukan snitch yang mengamuk, sedangkan Ron merasa seperti baru saja menendang bola kedalam gawang Slytherin.

"Ya, ini kami. Granger dan Weasley," kata Hermione.

"Maksudnmu, Weasley dan Weasley?" kata Sara sambil mengelurkan sebuah daftar huruf-huruf Katakana.

"Maksud anda, Sensei?" tanya Ron bingung.

"Oh, aku mengira kalian paca—," kata Sara dan langsung dipotong oleh Kakaknya, Ciel.

"Kau sebaiknya makan. Jangan mengganggu mereka. Maaf, ya. Dia memang suka mengganggu," kata Ciel.

Wajah Hermione menyemburkan warna merah padam, tampak kesal sekaligus malu. Rasanya ingin pindah tempat, jauh-jauh dari Sensei mereka. Ron juga seperti dia. Mereka mulai mengucapkan 'Sayonara' dan pergi meninggalkan Kakak Beradik Kururugi.

Harry melihat kedua Sahabatnya pergi meninggalkannya lebih dulu. Kedua Sahabatnya ber-dissaparate tanpa ketahuan siapa pun kecuali Ginny dan Harry yang mengintip dari jendela.

"Sepertinya, mereka sudah lelah, apa kau juga begitu?" tanya Ginny.

"Ya, aku, eh, lumayan lelah. Kalau begitu, aku pergi," kata Harry.

"Konbanwa, Harry. Sayonara," kata Ginny sambil membugkukan badannya 90 derajat kearah Harry. Harry hanya membalas 80 derajat. Dan dia ber-dissaparate.

Dia sampai dikamarnya. Ron dan Hermione sedang membaca serius buku Bahasa Jepang mereka.

"Jadi, kita benar-benar harus belajar Bahasa Jepang?" tanya Harry.

"Konbanwa!" sapa Ron.

"Yeah, Ginny juga berkata seperti itu kepadaku tadi. Apa artinya?' tanya Harry.

"Selamat malam," jawab Hermione. Di seperti sedang mencoba-coba menulis namanya dengan huruf-huruf Katakana dan Hiragana dihalaman belakang buku.

"Kalau namaku ditulis, jadinya, Ronarudo Biriutsu Uīzurī. Aneh juga, ya," kata Ron.

"Tapi kau membacanya cukup dengan nama panggilanmu yang biasanya, kan? Kalau aku, ya, ampun, jelek sekali! Hāmaionī Jīn Gurenjā," ujar Hermione.

"Harry, namamu menjadi, Harī Jeimusu Pottā," kata Ron.

"Cukup! Aku mau tidur" kata Harry. Dia melepas jasnya dan berbaring di atas kasur empuknya.

"Oh, iya. Besok, kita check out. Dan kita pindah ke Hotel yang tak jauh dari kost Ginny," ujar Hermione.

"Baguslah. Tempat yang baru tidak terlalu jauh dengan tempat les kita, kan?"tanya Ron.

"Tentu saja. Malah lebih dekat. Dan di sekitar sana, ada beberapa tempat yang mengasyikan. Aku dan Ginny sudah berjanji mau ikut Pelatihan Mangaka. Ginny menyarankan, kau dan Harry mengkuti—,"

"Pelatihan Mangaka juga? Tidak mau!" sergah Ron.

"Bukan! Kalian ikut pelatihan karate!" seru Hermione.

"Apa itu karate?" tanya Ron.

"Seni bela diri dari Jepang. Kau ini banyak tidak tahunya!" bentak Hermione.

"Tapi, kau tidak perlu marah-marah begitu!" balas Ron.

Mereka pun memilih untuk tidur setelah pembicaraan itu. Dan terbangun dengan segar dipagi harinya.

"Harry! Kita mau check out! Kau jangan tidur-tiduran!" seru Hermione.

Harry terbangun dan segera menuju ke kamar mandi. Dia mandi cukup lama sehingga Ron membentaknya dari luar. "Harry! Kau jangan lama-lama!". Dan Harry keluar beberapa saat kemudian. Mereka langsung turun dan check out. Mereka ber-dissaparate ke Hotel baru yang disarankan Ginny.

Disana, Ginny sudah menanti. Dan dia menyapa. "Ohayou!".

"Ohayou, Ginny!" balas Ron dan Hermione lancar. Harry hanya ikut-ikut.

"Aku sudah pesankan kamar untuk kalian. Kalian tinggal bayar" kata Ginny. Hermione menampung uang yang diberikan Ron dan Harry dan mengeluarkan uangnya sendiri.

"Nah, sekarang dimana kamar kami?" tanya Ron.

"Di samping kanan sana. Di bagian Pondok Ryuku. Kamar kalian nomor 49" ujar Ginny.

"Empat puluh Sembilan lagi" desah Harry.

"Tidak apa-apa kan, Harry? Kau tampak masih kesal. Kalau kau mau, kau boleh datang sebentar saja ke kost. Di kost, anak laki-laki boleh datang asal mengobrol diruangan khusus" ujar Ginny.

Harry tersenyum kecil. Dia tampak sangat bahagia mendengar ucapan Ginny. Dan dia, Ron dan Hermione memasuki Kamar mereka. bentuk kamar-kamar di Hotel yang bernama Koteji ini seperti rumah-rumah kecil. Terlihat didalam, Kamar mereka cukup luas. Tetapi, hanya ada dua bed. Satu bed pendek dan dua bed sedang

"Siapa yang mau tidur berdua?" tanya Harry. Namun tidak ada yang mengangkat tangan. "Ron, Hermione, apa kalian mau?".

"KAU GILA, HARRY!" seru Ron dan Hermione bersamaan.

"Maaf. Aku tahu, itu akan sangat tidak bagus. Kalau begitu, hei! Itu tiga bed!" kata Harry mendadak.

Hermione bersorak senang dan Ron menarik bed ketiga yang tersembunyi. Tak disangka, bed cover diantara dua bed itu hanya satu. Harry sudah keburu mengambil tempat dibawah. Hermione menggerutu, begitu pula Ron.

"Aku tidak mau bermaksud tidak sopan kepada orang yang lebih tua, maka, aku tidak mau tidur diatas, tapi di bed kecil dibawah sini saja" kata Harry. "Lagipula, diantara bed kalian, masih ada jarak".

"Tapi nanti kami saat tidur tidak sengaja berebut bed cover" bentak Ron.

"Dan kami bisa terjatuh diperbatasan bed kami!" bentak Hermione.

"Berdoalah, jangan sampai hal itu terjadi" jawab Harry singkat. Dan dia tertidur. Ron dan Hermione mencari makan siang diluar. (udah keburu siang gara-gara Harry bangun kesiangan).

Mereka menuju kost Ginny, dan Ginny ikut untuk membeli makan siang (tempat kostnya lagi krisis makanan). Mereka menuju kedalam Tsubaki Mall, tempat yang tidak jauh dari Jalan Kichi.

"Ini pesanan kami, yang paling terakhir dibungkus, ya" kata Ginny yang baru saja memesan makanan untuk bertiga. "Jadi, bagaimana tanggapan Harry dengan keadaan di sekitarnnya?" tanya Ginny.

"Buruk," singkat Hermione.

"Harry menganggap aku dan Hermione terlalu mencuekinya. Padahal, Harry sendiri yang cuek," gerutu Ron.

"Tampaknya, kau harus sering-sering bertemu dengan Harry, Ginny," tutur Hermione.

"Lalu? Kalau aku sering menemaninya, dia akan lebih baik? Sebaiknya, nanti sore, ajak dia ke tempat Pelatihan kecil-kecilan di dekat Hotel kalian. Itu sebenarnya sebuah Festival. Kau dan aku akan ikut pelatihan Mangaka. Sedangkan kau, Ron, kau harus mengajak Harry. Bilang saja ke Harry kalau dia tidak mau ikut, aku akan membencinya," jelas Ginny.

"Wah, ide yang cukup bagus, Ginny," kata Ron sambil menepuk pundak Adiknya itu.

"Haha, bukannya kau juga banyak ide, Ron?" balas Ginny. Mereka tertawa-tawa. Hermione mulai ikut berbicara kembali.

"Jadi, kau masih les Bahasa Jepang ke Sara-Sensei?" tanya Ginny.

"Sudah lama keluar. Makanya, orang yang baru belajar dengan dia disebut murid pertama, padahal bukan, hahaha!" ujar Ginny, dan pesanan mereka datang. "Oh, iya. Sekadar bertanya, bagaimana hubungan kalian?"

Ron dan Hermione berdiskusi sejenak, dan menjawab. "Baik, aneh, penuh sihir, seperti dulu sewaktu masih kelas 6 ataupun kelas 7 di Hogwarts," jawab mereka.

"Wah, bagus-bagus," kata Ginny sambil menyapit sushi dengan sumpitnya.

Sebelum festival…

"Harry! Ayo kita ke Festival! Ginny yang menyuruhmu, lho! Kalau kau tidak ikut, tamatlah hubunganmu dengan Ginny," seru Ron. Harry terbangun setelah makan siang dan tidur siang. Dia mandi dan mengikuti kedua Sahabatnya keluar.

Mereka saling berpisah di Festival itu. Pergi ke tempat Karate dan Mangaka.

Di tempat Mangaka…

"Selamat sore semuanya. Nama saya Furiko Ria. Saya senior Mangaka disini. Disini, saya tidak sendirian, ada kedua teman saya," jelas si Senior.

"Namaku Kagami Shifua," kata teman pertamanya.

"Dan saya Natsuko Azen," kata teman keduanya.

"Nah, kami akan mengajar kalian dasar-dasar menjadi Mangaka. Sebelumnya, silahkan pakai seragam kalian" seru mereka bertiga.

Hermione dan Ginny menggunakan baju semacam seragam sekolah anak perempuan Jepang. Dengan pita biru kecil pada bagian kerah kemejanya dan rok biru dengan garis-garis hijau pendek.

"Nah, mari kita menggambar wajah," kata si Senior. Kedua temannya mengamati para murid.

"Nona, kau membuat matanya terlalu kecil," kata Shifua kepada Hermione.

"Oh, maaf," jawa Hermione sambil menghapus gambarnya.

"Kau membuatnya sempurna, Nona," kata Azen kepada Ginny. Ginny tersenyum kecil kepadanya.

Di bagian Karate…

"Baiklah, kita mulai pelatihan dasar hari ini. Saya pelatih kalian, nama saya Takuma Furuka. Saya bersama-sama dengan kedua teman saya," kata si Pembuka.

"Naoya Fuaizu."

"Dan Ayaka Jira," kata pelatih perempuan satu-satunya.

"Kalau begitu, kita mulai Pelatihan hari ini. Naoya, Ayaka, bagikan baju-bajunya!" perintah Furuka.

"Siap, Sensei!" balas kedua asistennya itu. Pelajaran-pelajaran di setiap stand Festival terus berlangsung sampai selesai, pukul 7 malam.

Hermione dan Ginny keluar dari tempat mereka latihan, membawa hasil gambar mereka. Ginny dengan hasil gambar yang sempurna, dan hasil dari Hermione yang masih sedikit berantakan. Dan mereka bertemu Ron.

"Kau cantik!" kata Ron pada Hermione.

"Kau tampak semakin, eh, semakin jangkung dengan baju karate itu," balas Hermione yang tadinya susah mencari kata-kata.

"Dimana, Harry?" tanya Ginny yang baru sadar tidak ada Harry.

"Oh, tadi dia mendapat tendangan cukup keras dariku. Dan ditendang lagi oleh seseorang dengan lebih keras, benar-benar keras," ujar Ron.

"Maksudmu, kau juga tururt menyebabkan dia kesakitan, Ron?" tanya Hermione.

"Eh, kurasa begitu. Tapi, Harry sudah memaafkanku," jawab Ron muram. "Kalau begitu, kita ke sana!" kata Ron sambil menunjuk ke suatu tenda yang menjadi Rumah Sakit. Hermione dan Ginny mengikutinya.

Di dalam, Harry terkapar tak berdaya. Dia mengelus-elus perutnya. Pasti terasa sangat sakit, aw! Di dalam, Harry dirawat oleh seorang dokter bernama Tomoko Camiria dan paramedis Junko Arifua.

"Harry, kau tidak apa-apa?" tanya Ginny.

"Er, ugh, perutku…" erang Harry.

"Baik, baik. Sebaiknya aku menemani Harry di Hotel," kata Ron.

"Kurasa, Ginny lebih baik. Takutnya, kau tidak sengaja menendang perutnya lagi," ujar Hermione.

"Betul juga. Ya sudahlah. Aku dan Hermione cari makanan untuk makan malam," kata Ron yang langsung pergi bersama Hermione.

Ginny membopong Harry kedalam Hotel. Dia membuka pintu, dan membanting Harry ke atas bed kecil.

"Kau terlalu stress, Harry! Kenapa kau selalu begitu?" kata Ginny setengah marah.

"Ginny aku benar-benar ingin menyesuaikan diri, tapi aku tidak bisa!" bentak Harry yang masih mengelus-elus perutnya.

"Tapi kau masih harus empat hari lagi disini!" kata Ginny. "Kau jangan terlalu keras kepala! Ron dan Hermione sudah banyak mengeluh kepadaku! Aku bosan, Harry!"

"Tapi, ugh," ucap Harry yang memegang perutnya terus. "Aku sudah tak sabar untuk empat hari lagi, ugh. Accio!" dan segelas the hangat meluncur ke arahnya.

"Harry, yang terpenting adalah kau harus bisa beradaptasi! Aku tidak ingin kau seperti ini terus, Harry!" bentak Ginny, tetapi emosinya sudah mereda.

"Baiklah, aku menurutimu!" kata Harry.

Di Tokyo Mall…

"Hermione, kita sebaiknya beli apa? Aku tak suka berlama-lama disini," kata Ron.

"Pastilles pemuntah! Tentu saja makanan, Ron! Kita harus cari makanan karena Harry sangat kesakitan, dan itu salah kau, Ronald Weasley!" seru Hermione.

"Tapi kenapa kau terus menyalahkanku, Hermione Granger? Apa kau tidak pernah berfikir kalau kau ikut karate? Kau akan membuat perut Harry berlubang! Dia tidak punya semangat tadi!" balas Ron.

"Kau jangan membuatku menyiksamu, Ron," Hermione menariknya ke tempat sepi dan mengeluarkan tongkatnya. "Aquamenti!".

Ron basah kuyup. "Hermione! Kau! Jangan bermain-main dengan mantra! Expelliarmus!" seru Ron. Tongkat Hermione melayang jauh. Mereka saling kejar, mencoba menangkap tongkat Hermione (tampaknya melupakan pekerjaan mencari coklat kodok, eh, maksudnya makan malam). Tongkat Hermione berhasil didapatkan oleh Ron. Hermione memberontak keras. Memukul Ron, menjitaknya, merobohkan badannya, dan merebut kembali tongkatnya.

"Tarantallegra!" seru Hermione. Kaki Ron bergerak-gerak tak tekendali. Dia memberontak, dan Hermione tersandung kakinya. Terjungkal tak berdaya. Dia menghentikan mantranya. Ron terjerembab jatuh dan menimpa telepon seluler Hermione. Hermione menjerit! Dia melemparkan seekor kodok yang ternyata coklat kodok, dan itu berbunyi, kwebek kwebek di telinga Ron keras-keras. Ron memekik keras! Hermione tak sengaja menelan kodok itu. Dia tersedak. Ron tampak kurang peduli.

"Lihat, akhirnya kau yang kena batunya, Hermione!" kata Ron.

"Kau, kau menyiksaku! Aku menyesal memilihmu sebagai…" kata Hermione.

"Sebagai apa, Hermione?" tanya Ron yang mengelus-elus kepalanya yang tadi dijitak Hermione.

"Sebagai—ah, tahu, ah!" Hermione tidak bisa membangunkan badannya. Apalagi, stocking yang dipakainya licin. Ron akhirnya membantunya bangun. Dan mereka membeli makanan.

Di Hotel…

"Kami pulang…" kata Hermione lesu.

"Kenapa? Kok kalian baru datang? Dan kalian tampak babak belur!" jerit Ginny.

"Dia yang mulai!" sergah Ron.

"Dia yang melakukan sebuah kesalahan besar terlebih dahulu! Aku sangat kesal denganmu, RON!" bentak Hermione.

"STOP! Jangan bertengkar disini. Harry butuh makan! Kalian terlalu lama diluar! Tampaknya, kalian juga menjadi cikal bakal stress Harry!" bentak Ginny.

"Tapi Ginny…" kata Ron dan Hermione.

"Sudahlah! Beri Harry makanan yang kalian bawa! Aku akan bayar untuk bagianku!" ujar Ginny. Dia mengambil nasinya kedalam mangkuk kecilnya dan ditambah lauk yang ada. "Kau bisa makan sendiri sekarang, kan, Harry?"

"Eh, ya. Bisa," balas Harry. Dia mulai menikmati makan malamnya yang sengaja dibelikan oleh Ron dan Hermione berupa soup cream.

"Bagaimana kalian bisa bertengkar seperti itu?" tanya Ginny.

"Ron tidak mau mengakui kesalahannya," mulai Hermione. Ron memberontak. Mereka mulai adu mulut! Saling mencela-cela. Ginny hanya menikmati makan malamnya dengan Harry.

To be continued…