Yang pertama adalah Kyou~~ *yahelah orang Cuma dua* '==
Agak gak nyambung sih, tapi mohon~mohon banget ya review-saran pendapat dan kritikna~
Makasiiih~ X3
Oh ya, Disclaimer~! CLANNAD and the chara bukan punya Arasa-chan lho! Aaa, tapi cerita ini sih punya Arasa-chan! HOHOHO (Wahai arasa-chan no baka, hentikan bersikap kayak begitu~) '==
Oke, dari pada basa-basi melulu, kita mulai saja. :3
|Kyou's Herself|
"Selamat siang, Kyou dan Ryou! Apa kabar?"
"Baik, Bibi."
Kami menjawab bersamaan, lalu menyeruput teh yang bibi sediakan. Bibi adalah adik ayahku, kami sekeluarga sedang berkunjung ke rumahnya. Kebetulan sedang liburan. Botan juga sedang pulang kampung (?).
"Nah.., bagaimana suasananya disini, tenang 'kan? Kalau rumah kalian di kota, jadi pasti tidak setenang disini." Bibi berucap sambil duduk di depan kami. Kami mengangguk.
"Hm..." Bibi menatap kami sambil tersenyum.
"Ada apa, Bi?" Tanya Ryou.
"Tak apa. Bibi baru sempat memerhatikan, ternyata kalian memang seperti pinang dibelah dua." Ujar Bibi.
Nyut! Ah, hatiku serasa berdenyut. Itu kata yang cukup sensitif untukku.
Kenapa?
Kenapa aku tak suka dibilang seperti itu?
Aku 'kan sangat sayang pada Ryou.
Dia adik kembarku yang paling manis.
Kami selalu rukun.
Tapi...
"Ada apa, kak?"
Hah! Aku terbangun dari lamunan.
"Tak apa-apa, Ryou. Perutku cuma sedikit sakit!" Ujarku beralasan.
"Perutmu sakit? Mau minum obat?" Tanya Bibi.
"Tidak, Bibi, terima kasih. Cuma sebentar, kok, sakitnya," Balasku.
"Benar nih, tidak apa-apa?"
"Ya," Jawabku.
Setelah berbincang-bincang sebentar, kami pamit pulang. Kami memang kesini bersama Ayah dan Ibu, dan urusan mereka sepertinya sudah selesai.
Kami pulang menaiki mobil. Karena melewati pedesaan yang suasananya sejuk, aku membuka jendela. Lega sekali rasanya, menghirup wangi angin yang damai.
Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan diri di kasur.
"Aduh, Kak, bantu bereskan oleh-oleh dulu, dong..." Ujar Ryou. Aku membalikkan tubuhku membelakanginya dan berusaha memejamkan mata. Aku ingin sekali melupakan kata-kata "seperti pinang dibelah dua" itu... Entah kenapa aku merasa muak!
Apa, ya? Apa yang membuatku merasa muak begini? Aku bukannya tidak mau dibilang mirip atau kembar dengan Ryou, kurasa itu memang kenyataannya. Tapi...
"Kyou, Ada Nagisa, tuh! Katanya dia ingin menanyakan tugas!" Seru Ibu, sepertinya dari dapur.
"Ya, Ya, Ya," Aku bangun dan berlari menuju pintu melewati Ryou. Nagisa sudah berdiri di depan pintu. Aku berteriak menyuruhnya masuk.
"Ayo, ke kamarku saja," Ajakku sambil menariknya ke kamar.
Sesampainya di kamar, aku langsung mengunci pintu dan menyuruhnya duduk.
"A,Anu, Kyou-chan..."
"Tugas yang mana? Biar kubantu! Tugasku sudah selesai semua." Ujarku.
"I,Ini, yang Bahasa Indonesia.. Bu guru bilang ini pelajaran semester yang lalu, sedangkan pada semester itu aku sering tidak masuk.., banyak ketinggalan pelajaran..."
Aku melihat buku Nagisa. Benar, Lagipula soal ini memang sedikit sulit.
Aku membantu Nagisa mengerjakan tugasnya sampai selesai, Ia tampak senang sekali. Ah, enak sekali, ya... Menjadi gadis santai sepertinya. Nagisa itu anaknya polos dan manis. Sedangkan aku? Orang-orang terdekatku bilang, aku ini galak dan suka marah-marah... '=_=
Aku sih tidak marah dibilang begitu, toh itu kenyataan (menurutku.) Tapi...
...Ah, itu dia! Aku tahu mengapa aku tidak suka dibilang kembar dengan Ryou.
Itu karena... Kami yang sesungguhnya sama sekali berbeda...
Ryou anak yang manis. Ia cengeng, kadang terlihat manja tetapi baik hati. Kalau aku, semua orang yang mengetahui diriku yang sebenarnya, bilang kalau aku ini–yah, seperti yang sudah kukatakan tadi–galak, suka marah-marah, mengomel dan sebangsanya.
..Diriku yang sebenarnya?
"...Kyou-chan?"
"Eh? Ah, A-Apa, Nagisa? Maaf, aku melamun."
Nagisa menghembuskan nafas.
"Ada apa, Kyou-chan? Hari ini kamu lesu sekali," Ujar Nagisa.
Aku diam saja sambil menunduk, sampai Nagisa menepuk-nepuk punggungku dengan lembut, dan menyanyikan lagu kesukaannya;
Dango Dango Dango Dango
Dango daikazoku
Yancha Na Yaki Dango
Yasashii An Dango
Minna-minna awasete hyakunin kazoku
Aku mendangak melihat wajahnya. Ia tersenyum.
"Salam dari keluarga besar dango," Katanya,
"Mereka bilang jangan bersedih."
Aku tak kuasa menahan tangis. Nagisa, barusan terlihat sangat dewasa. Aku menitikkan air mata.
Nagisa buru-buru mengambil tisu dari tas kecilnya, dan memberikannya padaku.
"Ada apa, Kyou-chan?"
Aku mengelap air mataku dengan tisu yang Nagisa berikan. Aku membuka mulutku.
"A-Aku tak tahu apa aku kakak yang baik. Aku selalu merasa kesal tiap ada yang bilang kami sangat mirip. Aku.. sangat sayang pada Ryou. Tapi kurasa.., kami yang sebetulnya berbeda. Dia manis, baik hati dan selalu tersenyum. Sedangkan aku selalu marah-marah dan bisanya menyakiti orang lain. Ta-tapi, kalau di depan semua orang, kami seolah sama. Tak ada yang paham bagaimana aku yang sebenarnya. Mungkin aku tak tahan terus berpura-pura..." ceritaku, dengan agak sengau. Kupikir, Nagisa yang agak lemot ini bakal lama mengerti maksudku, Tapi...
Nagisa mengangguk. "Aku mengerti, Kyou-chan!" Ujarnya. Eh? Apa? Dia mengerti?
"Tapi..., Kyou-chan bilang kalian seolah sama di depan semua orang. Tapi kurasa, di depanku, Okazaki-san, dan yang lainnya tidak begitu. Kyou-chan di depan kami memang Kyou-chan yang biasanya. Ngng, tunggu.. Kyou-chan yang biasanya itu yang mana, ya?" Gumam Nagisa.
Aku menggeleng. "Kalau aku manis, itu artinya aku berpura-pura. Mengerti?" Seruku sambil menggosok mataku.
"Kyou-chan selalu manis, kok?" Ujar Nagisa, masih terlihat bingung. Haaaah... sudah kuduga... Nagisa mana mungkin semudah itu mengerti. Iya juga, ya... kalau cepat mengerti itu seperti bukan Nagisa...
...Seperti bukan Nagisa...?
Aku terdiam.
"Benar juga!" Seruku, lalu berdiri.
Nagisa tampak bingung melihatku yang tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju loker.
"K-Kyou-chan?"
"Aku sudah mengerti! Ini, nih! Ini cara termudah buatmu memahaminya."
Aku menunjukkan dua buah foto. Yang satu, fotoku bersama Tomoya, Nagisa, Sunohara, Ichinose, dan yang lainnya. Yang satu lagi, fotoku, Ryou, Ayah, dan Ibu, di depan kerabat yang sedang menyelenggarakan pesta pernikahan.
Nagisa mengamati kedua foto itu dengan tampang serius, lalu ia tampak menyadari sesuatu.
Ia menunjuk wajahku di kedua foto itu dengan telunjuk kiri dan kanannya.
"Ini," Ujarnya,
"Ini yang berbeda. Senyum Kyou-chan, di dua foto ini terlihat sangat berbeda."
Aku menghembuskan nafas, lalu mengangguk.
"Ya, benar. Sekarang sudah mengerti?" Tanyaku.
Nagisa tampak mengamati foto-foto itu sekali lagi.
"Ya," Ucapnya. Aku tersenyum tipis.
"..Jadi?" Tanyaku.
"Kyou-chan di foto ini sangat alami.. Sangat khas Kyou-chan. Kalau yang ini..."
Nagisa berhenti pada saat ia menunjuk fotoku yang bersama kerabatku.
"...Yang ini... Eh... Siapa?"
Dheg! Aku terhenyak. Aku tak mampu berkata-kata. "Siapa"... "siapa"?
"...I-Ini... Bukan Kyou-chan." Bisiknya pelan.
Aku terpaku. Ah, Nagisa tahu. Nagisa saja bisa memahaminya...
"I.., Iya. I-Itu aku yang berpura-pura. Sekarang sudah mengerti!" Seruku sambil mengambil foto itu dari tangan Nagisa dan merobek foto yang bersama kerabatku, lalu tanpa sadar aku menangis keras.
Itu bukan aku... Katanya ini bukan aku.
Ya, memang... Itu adalah Kyou yang berpura-pura.
Bukan diriku yang sebenarnya.
Nagisa mendekatiku, dan mengelus kepalaku. Ah, Nagisa. Ia merasa sedang menghadapi seorang anak kecil yang menangis, ya?
"...Kyou-chan," Bisiknya.
"...Kyou-chan yang sebenarnya sangat baik. Kyou-chan yang sebenarnya sangat kami sukai. A-Aku... Tidak menyukai Kyou-chan yang berpura-pura. Di sana, Di foto itu, tidak ada Kyou-chan. Tapi saat bersama kami.., Kyou-chan ada, kok. Aku juga tidak terlalu mengerti, tapi perasaanku bilang, di foto yang Kyou-chan barusan robek itu, tidak ada Kyou-chan..." Lanjutnya. Dari bahasanya yang memutar-mutar, sepertinya Ia memang bingung. Entah bingung antara Kyou-chan yang ada tapi tak ada, atau belum mengerti maksudnya. Tapi, dia sudah menyadari kalau di dua foto itu adalah aku yang berbeda. Ah., Kenapa aku segini bencinya berpura-pura? Padahal hal itu sudah biasa kulakukan...
"Aku tahu Kyou-chan benci berpura-pura. Jangan menangis, Kyou-chan... Kyou-chan bisa kok mengubahnya sendiri," Nagisa berbicara lagi.
Aku mengangkat wajahku yang sebelumnya kututupi dengan kedua belah tanganku.
"Mengubahnya sendiri? Ba-Bagaimana caranya? Semua orang pasti takkan menerima diriku yang sebenarnya. Untuk keluarga terpandang, sikapku ini pasti kelewat liar!" Seruku.
"Tidak masalah," Ujar Nagisa.
"Terima atau tidak, itulah Kyou-chan yang sebenarnya. Mereka 'kan tidak bisa protes!"
Aku terus terdiam dan Nagisa terus berbicara menghiburku.
Nagisa ternyata bisa jadi pendengar yang baik. Ia tak selemot pikiranku–yah, setidaknya sampai saat ini. Ia banyak mengatakan hal tak masuk akal, tapi anehnya itu memang benar, seperti saat ia bilang; Di sini tak ada Kyou-chan.
Setelah itu Nagisa pulang karena tak terasa sudah berjam-jam berlalu. Aku melambai padanya. Aku tak mengucapkan terima kasih meski kedatangan Nagisa sebenarnya betul-betul membuatku merasa lebih baik. Hm, mungkin aku gengsi, ya? Habis, biasanya aku selalu menganggap Nagisa itu anak yang lemot. Tapi, kupikir berterima kasih tak ada salahnya juga...
Baiklah, besok aku akan berterima kasih padanya!
Aku masuk ke kamar, dan merebahkan diri lagi di sana. Tidak, aku tidak menangis lagi. Aku justru merasa lega sekali.
Tok Tok Tok
"Masuk," Seruku.
Seseorang membuka pintu. Ah, itu Ryou.
"Kak, Ibu bilang besok ada pesta peresmian di kantor Ayah. Kakak mau ikut tidak?" Tanyanya.
Aku terkejut. Secepat inikah?
Aku tak perlu lama-lama berfikir. Inilah saatnya menunjukkan diriku yang sebenarnya... Tak akan ada lagi kesempatan kalau aku tak mencoba... Baiklah!
"...Aku ikut!"
