Happy reading~

.

.

.

.

"Ha..Haowen, kau bicara apa nak?" tanya Sehun menatap Haowen kaget dan beralih ke Luhan dengan tatapan tidak enak.

"Appa, Haowen mau Mama. Benarkan hyung!" ucap Haowen dengan mode manjanya.

Hanse menatap adiknya dengan alis bertaut. Setelahnya dia menatap Luhan yang kini membeku tidak tau harus bicara apa. Kalau dipikir-pikir, Luhan sangat manis, dan berhasil menarik perhatian adiknya dalam sekejap. Itu rekor yang bagus, karena Haowen termasuk golongan yang susah bergaul dengan orang baru. Tapi dengan Luhan? Well, Hanse mulai tertarik dengan wanita dewasa satu ini. Dasar Hanse.

"Lulu maukan jadi Mama Hanse dan Haowen?"

Sehun terperangah menatap Hanse, sejak kapan anak ini pandai ber-aegyo? Woah! Lihatlah matanya yang berbinar itu. Setaunya Hanse paling susah bertingkah imut seperti itu, apalagi didepan orang baru? pria kecil itu hanya akan bertingkah imut kalau sang adik meminta. Tapi sekarang?

Luhan menghilangkan wajah melongonya dan tersenyum gemas melihat ekspresi yang diberi oleh Hanse.

"Aiiih, lucunyaaaa" dengan gemas Luhan mencubit pipi Hanse. Tidak kuat, hanya meletakkan jarinya dipipi mulus itu saja.

Wanita itu sedikit kaget melihat ekspresi yang diberikan Hanse untuknya. Karena sedari tadi yang ekspresif padanya hanya Haowen saja, sedangkan Hanse hanya menampilkan wajah datarnya. Cuman kadang-kadang saja dia terlihat bingung.

Dan sekarang, dengan ajaibnya anak kecil itu menampilkan wajah imutnya didepan Luhan? Wow! Bahkan tidak kalah imut dengan Haowen.

"Besok Mama Lulu harus jadi Mama kita!"

Kening Luhan menyerit. Kemudian dia tersenyum lebar, "Baiklah, besok Lulu akan jadi Mama kalian" ucapnya girang.

Berhasil membuat tiga pria didepannya terpesona melihat kecantikkan yang ditampilkan oleh Luhan.

"Besok kita menikah" tutur Sehun tiba-tiba.

"WHAT?!"

.

.

.

.

"Maaf Tuan Oh Sehun, saya tidak bisa menerima lamaran anda begitu saja. Kita bahkan tidak mengenal satu sama lain"

Ini sudah ke-7 kalinya Luhan menolak lamaran Sehun, itu artinya sudah 7 hari Sehun keapartemennya hanya untuk melamarnya. Dan berakhir dengan penolakan.

Well, Luhan tidak salahkan kalau dia menolak lamaran Sehun?

Bayangkan saja, mereka baru mengenal 7 hari yang lalu dan Luhan tidak bisa menikah dengan pria yang tidak dia kenal apalagi tidak dia cintai. Minimal, mereka harus saling mencintai. Kalau masalah Haowen dan Hanse yang menginginkan dia untuk menjadi Mama mereka, mereka bisa saja memanggilnya Mama tanpa harus menikah dengan Sehun. Sungguh! Luhan tidak keberatan sama sekali.

"Kenapa, Lu? Kenapa kau menolak lamaranku?"

"Karna aku tidak mengenalmu. Hal terpenting, aku tidak mencintaimu Oh Sehun" jawabnya menekan nama Sehun.

"Jadi bagian mananya aku harus menerima lamaranmu?" lanjut Luhan dengan pertanyaan.

"Kita bisa saling mengenal satu sama lain setelah menikah, Lu. Dan tentang cinta.. cinta bisa tumbuh karna terbiasa kan. Aku bisa membuatmu mencintaiku"

"Lalu bagaimana denganmu? Kau membuatku mencintaimu, lalu bagaimana denganmu? Membiarkanku hanya mencintaimu secara sepihak begitu? No, thanks!"

Setelah itu Luhan bersiap menutup pintu apartemennya, kalau saja Sehun tidak menjadikan kakinya sebagai korban terjepit pintu.

Sehun memekik kesakitan, membuat Luhan kembali membuka pintu dan menatap tidak percaya pria didepannya.

"Are you crazy?!"

Sehun tidak membalas pekikan Luhan, dia hanya berjongkok didepan Luhan sambil memegang kakinya yang terjepit.

Demi apapun, ini sakit sekali! Jerit Sehun dalam hati.

"Kau bisa jalan? Ayo masuk, aku akan mengobatimu, sepertinya kakimu membiru didalam sana"

Luhan dengan pelan mengangkat tubuh Sehun dan merangkulnya masuk kedalam.

Luhan mendudukan Sehun di sofa setelah itu dia ke kamarnya mengambil kotak P3K miliknya. Kembali ke sofa dan duduk didepan Sehun, tepatnya diatas meja.

"Aku buka ya" izin Luhan, diangguki Sehun yang masih meringis.

Dengan pelan Luhan mengangkat kaki Sehun ke paha nya yang tidak tertutupi kain apapun.

Perlahan dia membuka sepatu mengkilat Sehun beserta kaos kaki hitamnya, dan langsung meringis.

Warna kebiruan di sisi-sisi kaki Sehun berhasil membuat Luhan meringis sedih. Pasti sakit.

"Kenapa kau bodoh sekali? Bagaimana kalau tulangmu retak? Bagaimana kalau tulangmu patah? Bagaimana kalau kakaimu rusak parah? Bagaimana kalau kau tidak kuat menggendong Haowen dan Han.. hhmmppt!"

Mata Luhan terbelak dengan serangan mendadak Sehun. Belum selesai dia berbicara atau mungkin bisa dibilang bertanya, Sehun sudah membungkam bibir Luhan dengan bibirnya yang panas.

Luhan menggerakkan tangannya mendorong dada Sehun yang keras, tapi percuma. Kekuatannya dengan pria ini tidak sebanding.

"Seh... hhmmptt!"

Sehun menahan tengkuk Luhan dengan tangan kanannya, dan tangan satunya berada dipinggang mungil Luhan. Semakin merapatkan tubuh mereka dan tidak membiarkan Luhan bebas dari kukungannya.

Sialnya Luhan terbuai dengan lumatan lembut yang diberikan Sehun padanya. Bahkan lidah pria itu mulai menyerangnya. Memberikannya jilatan-jilatan, berharap dia membuka bibirnya. Dan Luhan berikan hal itu.

Luhan membuka bibirnya, memberikan luang untuk Sehun masuk kedalam mulutnya.

Sehun tidak menyia-nyiakan keadaan, dia memasukkan lidahnya kedalam mulut Luhan dan mengakses didalam sana. Mengabsen gigi Luhan dan berperang dengan lidah wanita itu.

Melayang, itu yang dirasakan Luhan ketika lidah Sehun masuk kedalam mulutnya. Lenguhan demi lenguhan dia keluarkan saking menikmati.

Bunyi decakan bibir mereka memenuhi ruangan yang menjadi saksi gulatan panas bibir mereka.

Tangan Sehun berpindah dari pinggang ke punggung Luhan dan merabanya lembut.

"eunggh"

Bibir Sehun berpindah ke leher Luhan dan memberi tanda banyak disana.

Tangan kanannya turun keperut dan masuk kedalam baju Luhan. Mengelus perut halus.

"Sehunnhh"

"Ya, begitu Lu, panggil namaku"

Baru saja Sehun akan menaikkan tangannya menuju dada Luhan, kalau saja suara berat tidak mengganggu mereka.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

.

.

.

.

hohoho, comeback homeeeee.

Nih yang nungguin, tak kasih sekarang.

Berita buruk, kayaknya nih cerita gak jadi Twoshoot deh. Aku orangnya susah mau buat cerita pendek Dan yang paling susah itu tamatin nya. Beh, rasanya tuh sayang banget mau di tamatin

Tapi mudah-mudahan dua chapter lagi tamat, gak janji loh yaaaa

Jangan lupa reviewww...