Ten Thousand Love

.

Another KyuMin Story with Genderswitch Fanfiction

.

Remake Of The Novel "Selaksa Cinta Manda" By RK. Tirta

.

a.n: seluruh isi cerita berdasarkan novel aslinya, saya hanya mengganti cast-nya saja serta penambahan dan pengurangan untuk menyesuaikan.

.

Sorry for typo(s)

.

.

.


.

Pukul tujuh malam, setelah security terlebih duhulu membukakan pintu pagar, Kyuhyun memarkir mobil di garasi dengan wajah lelah. Rumahnya berada di salah satu kawasan elite di Mokpo, areal strategis yang telah lama menjadi incaran dirinya sejak dulu. Bangunan itu tidak terlalu besar, namun Kyuhyun cukup berpuas diri pada salah satu aset berharganya ini. Dengan enam kamar tidur, lengkap dengan sebuah kolam mungil di belakang rumah.

Sebuah mobil sport mewah warna putih, yang tentu saja berkali lipat lebih mahal dari Hyundai NF Sonata miliknya, tampak telah terparkir di salah satu sisi kosong garasi minim yang tersisa di lahan depan rumah Kyuhyun.

Diam-diam Kyuhyun menghela napas, mempersiapkan dirinya mungkin saja ia akan berpapasan dengan Ryeowook di dalam rumah nanti. Lalu tersenyum sinis menertawai ekspresi kecut wajahnya yang sempat tertangkap oleh matanya sendiri di spion mobil. Benda mahal itu milik Ryeowook, ibu dari anaknya yang hingga kini masih berstatus istri sahnya diatas kertas, tapi tidak dalam berbagai aspek rumah tangga normal lainnya.

Ryeowook tinggal di Busan semenjak dua tahun lalu demi tuntutan kariernya. Dengan rutinitas pulang seminggu sekali pada awalnya, namun kini berubah menjadi dua minggu sekali, bahkan pernah sampai satu bulan. Walau sesering mungkin Ryeowook menelepon putrinya, tetap saja Yoobi butuh sosok ibunya berada di sisinya.

Ryeowook adalah seorang konsultan Managemen Bisnis sekaligus Public Trainer di bidang itu. Kariernya cemerlang, namanya cukup dikenal melalui seminar-seminar bisnis yang dibawakannya. Menyandang gelar MBA di belakang namanya, dan wajahnya yang juga rupawan adalah salah satu modal Ryeowook dalam menggapai apa yang ia impikan. Bagi Kyuhyun, Ryeowook adalah figur kesempurnaan yang tak membutuhkan seorang Cho Kyuhyun untuk bersinar sesuai kehendaknya. Kyuhyun mendengus sedih mengingat kepahitan itu. Merasa dirinya kecil dan tak berarti apa-apa di banding Ryeowook. Ryeowook si wanita cantik, istri idaman yang telah kedua orang tua angkatnya pilihkan untuk Kyuhyun.

"Baru pulang?" suara Ryeowook di belakangnya membuatnya sontak menoleh ke arah pintu kamar, di mana wanita itu berdiri saat ini.

"Eoh, Yoobi mana?" tanya Kyuhyun, melihat ke sekeliling Ryeowook.

"Tidur, sepertinya kelelahan setelah berenang seharian." Jawab Ryeowook datar. Mengamati seisi kamar Kyuhyun yang dulu pernah menjadi kamarnya juga sebelum terjadi pertengkaran mereka satu setengah tahun yang lalu.

"Sudah makan?" tanya Kyuhyun lagi berbasa-basi, seolah mereka bukan sepasang suami istri melainkan dua orang asing yang terlibat dalam percakapan canggung.

"Aku ada janji dengan teman-temanku, sekalian makan malam. Aku pergi dulu ne." Pamitnya seraya berbalik meninggalkan Kyuhyun.

"Ne, hati-hati." Pesan Kyuhyun.

Ryeowook tak menoleh, hanya mengirim jempol sekilas ke arah Kyuhyun di belakangnya.

Bahu Kyuhyun merosot, merasa lelah dengan keadaan ini. Apakah semuanya salah sejak awal? Ia dan Ryeowook hanya berangkat dengan keyakinan bahwa tanpa proses panjang penjajakan atau sejenisnya, mereka akan mampu mendayung mahligai rumah tangga bersama-sama. Bagi Kyuhyun sendiri, menikahi Ryeowook adalah salah satu tanggung jawab dan kepatuhannya kepada orang terkasih. Dua malaikat baik hati yang telah memberinya kesempatan untuk menjadi berharga dalam hidup. Tak ada yang lebih penting dari semua itu. Bahkan di awal pernikahannya, Kyuhyun optimis untuk bahagia. Berusaha mencintai istrinya dengan segala sifat keras kepala dan manja yang melekat kuat pada kepribadian Ryeowook.

Tahun pertama semua baik-baik saja, masing-masing sibuk mengejar karier dan bertemu di rumah dalam keadaan lelah bahkan untuk sekadar mengobrol. Tapi Tuhan punya rencana lain saat Ryeowook mengandung Yoobi. Jarangnya aktifitas hubungan suami istri di antara mereka adalah alasan mengapa Ryeowook memilih mengabaikan mengikuti program pencegah kehamilan. Dan bukannya senang layaknya pasangan muda lain yang dikaruniai momongan, Ryeowook justru uring-uringan karena merasa belum siap memiliki bayi, namun akhirnya ia menyerah dan menjalani kehamilannya tanpa banyak mengeluh. Kyuhyun berharap kehadiran Yoobi akan melembutkan sisi keras dan obsesi Ryeowook untuk lebih dan lebih tinggi lagi dalam kariernya. Tapi Kyuhyun salah, Ryeowook bahkan melompat lebih tinggi dengan mengambil resiko tinggal berjauhan dari suami dan putrinya saat kesempatan itu datang kepadanya dua tahun lalu. Walaupun Kyuhyun mencegahnya Ryeowook tetap pergi dengan alasan karena kesempatan tak datang dua kali.

Untuk pertama kalinya mereka bersitegang saling menjauh, sampai akhirnya Kyuhyun mengalah karena tak berdaya. Toh pada akhirnya Ryeowook tetap pergi juga. Ryeowook tetap pada keputusannya dan membuktikan semua usahanya dengan menjadi semakin sukses. Dari saat itu Kyuhyun menyerah pada setiap kehendak Ryeowook. Hingga harmonisasi itu lambat namun pasti semakin menghilang dari rumah tangga mereka. Kyuhyun kehilangan rasa pada istrinya dan rumah tangganya tak lebih dari sebuah topeng kamuflase, demi menjaga nama baik keduanya serta perkembangan mental Yoobi.

Kyuhyun menghembuskan napas keras, mengakhiri lamunan panjang tentang kekacauan yang terjadi dalam bahtera rumah tangganya. Matanya nyalang menatap langit-langit kamar. Tak ada hal yang bisa ia temukan di sana, hanya kehampaan luar biasa yang semakin merasuk ke dalam jiwa, kebisuan yang kian menusuk tanpa kasat mata. Dan semua itu kosong.

.

.

.

Lamat-lamat didengarnya ringtone khusus yang berasal dari ponsel, Sungmin tahu siapa yang sedang berusaha menghubunginya. Sejurus kemudian ia mulai kelabakan panik, mencari-cari di mana sebenarnya ia meletakkan benda itu. Yang jelas masih di dalam kamarnya, tapi bukan di meja, bawah bantal, ataupun di balik selimut. Apalagi di tempat bedak.

Hufft... Tak ada di manapun.

Sungmin menyerah, menghentak-hentakkan kaki penuh kesal. Dan kabar baiknya suara jeritan frustrasi ponselnya tak lagi terdengar, tanpa pikir panjang ia keluar kamar meminjam senter ayahnya. Setelah kembali ia memulai pencariannya. Kali ini ia beruntung, apa yang ia cari ternyata berada pada seonggok pakaian kerja kotor di dalam keranjang sudut kamar. Ponselnya terselip pasrah di saku blazer kerja yang ia kenakan sepanjang hari tadi.

Perasaannya semakin cemas kalau-kalau Kyuhyun membutuhkannya, Sungmin menelepon balik sahabat sekaligus atasannya tersebut. Pada dering kesekian kalinya baru terdengar suara bass Kyuhyun.

"Waeyo Ming?" tanya Kyuhyun.

"Ya... bukankah kau yang meneleponku tadi? Siapa tahu penting, jadi aku meneleponmu balik, kenapa kau yang tanya ada apa?" gerutu Sungmin.

Kyuhyun tersadar, kemudian membenarkan kata-kata gadis itu seraya terkekeh. "Eoh, aku yang menelepon tadi, hanya tak tahu kenapa tiba-tiba saja meneleponmu." Aku Kyuhyun tanpa sadar.

"Hah?" Sungmin terdiam, merasa aneh. "Kukira sesuatu yang penting, atau urusan kantor. Ya sudah kalau begitu kututup, buang-buang pulsaku saja!" Omel Sungmin, bersiap menutup sambungan.

"Eh...eh tunggu dulu!" Cegah Kyuhyun. "Ish yeoja satu ini perhitungan sekali, pulsanya juga dapat gratisan!" protes Kyuhyun mengingatkan.

Tawa keras Sungmin terdengar, bukti bahwa gadis itu mengingat kelakuan tengilnya selama ini. Sungmin adalah gadis sederhana yang ulet, sekecil apa pun peluang berbisnis selalu ia manfaatkan sebaik mungkin. Termasuk berdagang online segala kebutuhan wanita, bahkan melayani isi ulang pulsa bagi rekan-rekannya. Tapi anehnya Sungmin selalu menarget pembayaran pulsa saat ia mengisi ulang pulsa ponselnya kepada Kyuhyun.

Bukankah ia yang menjual? Ia juga mengisinya sendiri, lalu kenapa Kyuhyun yang membayar? Kebingungan Kyuhyun pernah juga ia sampaikan pada gadis itu, lalu jawaban Sungmin? Karena pulsa Sungmin lebih banyak terpakai untuk menelepon Kyuhyun, atau mengurus keperluan Kyuhyun. Tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Lagi-lagi hanya karena ia waras maka ia mengalah.

"Hanya ingin mengobrol." Aku Kyuhyun, linglung.

"Mengobrol? Oh, silahkan, tapi perlu diingat Sajangnim, tarif berlaku!"

Sungmin terbahak saat mendengar Kyuhyun menyumpah samar.

Sungmin mulai lagi dengan guyonannya. Kyuhyun hanya mampu menggeram kesal, namun itu jauh lebih baik dari perasaan hampanya beberapa saat lalu. Setidaknya sikap riang dan optimis Sungmin selalu dapat menular dengan cepat pada Kyuhyun. Membuatnya teralihkan dari kebuntuan masalah rumah tangga ataupun kerumitan urusan pekerjaan.

.

.

.

Sungmin tak kuasa menolak ketika percakapan tak tentu arah Kyuhyun berakhir dengan ajakan keluar untuk menemani Kyuhyun makan di tempat langganan mereka. Daripada harus menghabiskan pulsa, pikirnya.

Kyuhyun tak perlu menunggu lama ketika ia memarkir mobilnya di depan rumah dengan gerbang kecil berwarna merah namun telah pudar karena sering terkena sinar matahari tersebut, Sungmin bahkan telah siap di depan rumahnya. Satu hal positif dari Sungmin, simpel dan tidak suka membuat orang lain menunggu hanya karena ia seorang wanita yang merasa wajib terlihat cantik di segala kesempatan. Kyuhyun turun sebentar untuk meminta ijin pada Lee Youngwoon, Ayah Sungmin, dan seperti biasa pria itu mengiyakan dan berpesan agar jangan pulang terlalu larut.

Mereka tiba di Dokcheon dua puluh menit kemudian, Resto yang juga merangkap Cafe tersebut selalu saja ramai di malam hari, terutama saat weekend.

"Ramai sekali..." Keluh Sungmin lirih.

Kyuhyun sependapat, namun pria itu hanya terlihat mengedik bahu pasrah. "Aku akan mencari tempat." Putusnya.

"Aku juga akan mencari." Usul Sungmin melangkah ke arah berlawanan dengan Kyuhyun. Baru dua langkah Sungmin melihat sepasang kekasih tampak bersiap meninggalkan meja mereka.

"Di sana Kyu," Sungmin meraih lengan Kyuhyun yang belum terlalu jauh darinya.

"Tidak bilang kalau mau kesini juga, dengan siapa?" terdengar suara seseorang dari balik tubuh Kyuhyun, yang kemudian diikuti beberapa kepala cantik yang menyembul melalui bahu sahabatnya itu. Wanita-wanita cantik yang seketika menatap Sungmin dengan pandangan bertanya-tanya, terlebih pada jari Sungmin yang tengah menarik lengan Kyuhyun.

Buru-buru Sungmin menjauhkan tangannya, saat mengenali salah satu dari sederet wanita cantik dan modis itu yang kini seakan berjajar membuat pagar betis di hadapan Kyuhyun. "Ryeowook eonni?" sapa Sungmin terkejut.

"Sungmin, ya?" tanya Ryeowook memastikan, sekaligus mengingat-ingat. Seraya menelusuri tubuh mungil berbalut jeans dan t-shirt merah muda lengan panjang dengan garis leher lebar, lengkap dengan seutas syal motif print yang melilit leher gadis itu sebagai pemanis. Ryeowook mengingat gadis mungil itu sebagai sahabat Kyuhyun sejak kecil, yang kabarnya kini bekerja sebagai asisten Kyuhyun. Hanya sedikit terkejut pada penampilan kasual Sungmin saat ini. Enam tahun lalu pertama kali Kyuhyun memperkenalkan Sungmin padanya, bahkan Ryeowook ingat cenderamata yang Sungmin kirimkan di hari pernikahan mereka hingga kini masih menghuni meja kerja suaminya itu. Ryeowook menyimpulkan Sungmin memiliki arti penting di hati Kyuhyun.

Baru kali ini ia melihat Sungmin dengan seksama. Gadis mungil ini memiliki daya tarik yang tak bisa diabaikan. Memang bukan jenis cantik luar biasa, namun terkesan manis dan menggemaskan serta tentunya enak dipandang. Bahkan Ryeowook tak mengingat bila Sungmin berambut lebat, panjang dan hitam lurus alami yang indah. Sedikit banyak Ryeowook merasakan kedutan tak nyaman di sudut hatinya, terlebih melihat kedekatan Sungmin dan suaminya itu. Lalu Ryeowook tersadar pada kenyataan yang tengah terjadi pada dirinya, juga rumah tangganya. Buru-buru diulurkannya telapak tangannya yang segera disambut gadis itu dengan senyum sopan serta anggukan kepala. Ada rona kecanggungan yang hadir di antara mereka, walau hanya sesaat.

"Aku lupa kalau ini tempat favorit kalian, Kyuhyun pernah bercerita tentang itu. Makanannya lumayan enak, jadi aku mengajak teman- temanku kesini. Oh iya, ini Sungmin sahabat sekaligus asisten Kyuhyun di kantornya, Cingudeul!" Ucap Ryeowook memperkenalkan Sungmin pada tiga orang temannya yang berdiri di sisi kiri dan kanan. Bergantian mereka berjabat tangan dengan Sungmin tanpa menyebut nama. Tersenyum wajar, walaupun masih terlihat canggung penuh keingintahuan.

"Bergabung saja kalau cukup, kalian di meja mana? Aku dan Sungmin masih bingung mencari tempat." sela Kyuhyun, memutus kecanggungan. Tak sedikitpun menunjukkan adanya ketidakberesan dalam suasana pertemuan tak sengaja itu, yang terbukti mampu mengurai ekspresi ketegangan di wajah-wajah teman Ryeowook juga.

"Kami sudah mau pergi, Kyu." Jawab salah satu teman Ryeowook yang juga mengenal Kyuhyun.

"Iya, ini mau keluar. Ya sudah kita duluan ne, Kyu! Sungmin , sampai bertemu lagi, having fun... titip Kyuhyun ya..." Bisik Ryeowook pada Sungmin. Lalu mengedipkan sebelah mata, menggoda Kyuhyun.

Sungmin membalas sikap santai Ryeowook dengan sikap santun dan hormat. Bahkan masih berdiri di dekat pintu masuk dan balas melambai, saat wanita itu berbalik sedikit dan melambai ringan kepada mereka. Dengan cekatan Ryeowook masuk ke belakang kemudi mobil sport putih miliknya, salah satu teman mendampingi, sementara dua lainnya menuju mobil yang lain.

Diam-diam Sungmin memandang sosok Ryeowook penuh kekaguman. Bukan hanya berparas cantik, sexy, berkelas dan sukses, Ryeowook adalah wanita sempurna yang selalu membuat wanita manapun merasa minder ketika berdiri di dekatnya. Dan nilai lebihnya Ryeowook juga baik, menurutnya. Terlepas dari apa pun gosip yang berhembus tentang wanita itu di luar sana. Inilah salah satu alasannya patut berbahagia untuk Kyuhyun, ketika pada akhirnya ia tahu Kyuhyun telah memilih wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya enam tahun lalu.

Kyuhyun adalah seseorang yang ia anggap sebagai kakak laki-laki, sahabat, sekaligus sosok idola yang ia puja-puja. Selain itu Kyuhyun adalah sosok pangeran impiannya sejak kecil. Rasa kagum yang perlahan berubah menjadi cinta yang hanya bisa Sungmin pendam, bahkan ia kubur relung hati terdalam, karena ia tahu Kyuhyun bahkan tak pernah menganggapnya lebih dari seorang adik kecil nan badung. Bahkan ketika mereka beranjak remaja dan dewasa, saat mereka tak lagi bertetangga, mereka masih bertemu dan saling berkunjung. Komunikasi mereka tak pernah putus, namun sikap Kyuhyun kepadanya masih sama. Hanya sekedar kasih sayang dan perhatian antara dua sahabat. Tapi, Sungmin patut bersyukur akan kenangan dan kebahagiaan itu.

Dan kini Sungmin memilih jalannya sendiri untuk tetap berjalan disisi Kyuhyun, dengan cara berbeda. Asalkan dapat melihat senyum Kyuhyun setiap hari, menghapus kelelahan di wajah Kyuhyun dengan senyuman, itu sesuatu yang teramat berarti untuknya.

"Ming? Yaaa!" Kyuhyun melambai-lambaikan tangan di depan wajah Sungmin, membuyarkan lamunan panjang Sungmin yang masih terpaku pada bayangan mobil Ryeowook dan kawan-kawannya yang bahkan kini telah menghilang.

Kabut suram di wajah Sungmin yang biasanya ceria itu sempat tertangkap oleh mata Kyuhyun. Walaupun hanya sekejap dan segera berganti dengan seringai konyol dan gerakannya menekuk lutut dengan kepala terkulai, lengkap dengan lidah menjulur, seolah Sungmin tercekik dan mati. Kyuhyun merasa bersalah atas ketidaknyamanan yang Sungmin rasakan.

"Tak usah dipikirkan, salahku dan Ryeowook juga tidak membuat janji ingin hangout ke mana. Ia hanya pamit akan bertemu teman-temannya, mana mungkin aku bergabung dengan mereka." terang Kyuhyun, bermaksud meringankan hati Sungmin dari rasa bersalah dan tak nyaman.

"Tapi, jadi terkesan aneh kalau akhirnya kau kepergok pergi dengan yeoja lain, kau tidak memberitahuku kalau Ryeowook eonni sudah pulang." Protes Sungmin, menghindar dari tatapan menyelidik Kyuhyun atas reaksinya.

"Aku juga baru tahu waktu pulang dari kantor tadi, tenang saja Ryeowook tahu siapa kau dan bagaimana hubungan kita selama ini, dia tak akan marah. Stop bahas Ryeowook oke? Ayo pesan makanan!" Putus Kyuhyun, mendorong bahu Sungmin ke salah satu meja kosong.

Sungmin pasrah, walaupun benaknya masih tak dapat mengenyahkan bayangan Ryeowook dan gerombolannya barusan. Ia mengikuti permintaan Kyuhyun untuk berhenti membahas masalah itu, menghibur diri dengan berbagai percakapan ringan seputar kantor juga keseharian sampai malam itu berakhir. Dan Kyuhyun mengantarnya pulang kembali ke rumah.

.

.

.

"Gomawo sudah menemaniku makan. Salam untuk Appa, mian tidak bisa mampir dulu karena sudah malam, cepat tidur dan jangan lupa menyikat gigi!" Pesan Kyuhyun beruntun, salah satu bentuk keisengannya pada Sungmin.

Sungmin hanya menoleh sedikit sambil tetap menggerakkan handel pintu mobil, lalu membawa tubuhnya keluar mengabaikan olok-olok sahabatnya itu. "Aku yang seharusnya berterimakasih, berangkat lapar, pulang kenyang." Jawab Sungmin singkat. "Hati-hati, sepertinya mau hujan. Eh... salam untuk Ryeowook eonni juga ya!" Pesan dan balasan Sungmin setelah berada di luar, kemudian berjalan memutar menuju gerbang kecil rumahnya.

Kyuhyun mengenal Sungmin sebaik dia mengenal dirinya sendiri, ia tahu perasaan Sungmin kurang nyaman pada peristiwa di Dokcheon tadi. Haruskah ia membuka rahasia kehancuran rumah tangganya pada Sungmin? Rasanya terlalu lama ia menyimpan ini sendiri, ia butuh tempat untuk berbagi masalah. Dua orang yang paling ia percaya di muka bumi ini adalah Donghae dan Sungmin, haruskah ia menitipkan rahasia ini pada salah satu dari mereka?

"Ming." Panggil Kyuhyun, ragu.

Sungmin menahan langkah, tangannya urung menjangkau gerbang kecil rumahnya. Berbalik dan berjalan mendekat ke arah sisi Kyuhyun yang justru terpekur di balik kemudi, menatap sorot cahaya lampu mobilnya ke arah jalan di depan rumah Sungmin. Pria itu sedang bergelut dengan pemikirannya, lebih tepatnya menimbang-nimbang.

Itu pasti sesuatu yang penting. Apakah tentang Ryeowook? Batin Sungmin. Sesuatu tentang kebenaran gosip dan desas-desus yang menguar di luar sana bahwa rumah tangga sahabatnya itu sedang dalam masalah. Sungmin tak berani berspekulasi, baginya semua itu hanya pepesan kosong yang sengaja dihembuskan pihak-pihak lain untuk menyingkirkan sahabatnya dari kandidat pencalonan Direksi mendatang. Sejauh ini, sahabatnya terlihat baik-baik saja. Sedangkan Sungmin dengan segala sifat positive thinking-nya lebih memilih mempercayai kebenaran itu langsung dari sumbernya.

"Mungkin lain kali, Kyu." Usul Sungmin bijak, seraya menepuk lengan Kyuhyun lembut, tersenyum maklum dan menghibur pria itu seperti kebiasaannya.

Kyuhyun menoleh, kali ini benar-benar memandang lekat wajah sahabatnya itu. Terutama pada senyum khas Sungmin, lengkap dengan foxy jernihnya yang menyempit ketika pipi chubby Sungmin bergerak membentuk gelombang di kedua sisi. Tak ayal Kyuhyun merasa kesedihannya berkurang, dan tanpa diminta pria itu tersenyum membalas senyuman Sungmin.

"Kau benar, mungkin tidak sekarang. Jaljayo Bunny, gomawo untuk semuanya." Kata Kyuhyun.

Sungmin melangkah mundur, tersenyum dan melambai memberi kesempatan Kyuhyun untuk mempersiapkan diri melepas semua panel mobilnya sebelum bergerak pelan meninggalkan dirinya setelah melambai sekali lagi kepadanya.

Sungmin masih menatap kepergian Kyuhyun untuk beberapa saat lamanya. Ada sesuatu yang tak beres dengan rumah tangga pria itu, ia hampir merasa yakin sekarang. Tapi jika Kyuhyun lebih memilih untuk merahasiakan masalah itu dari orang lain, pria itu pasti punya alasan tersendiri dalam memutuskan langkah yang dipilihnya. Kyuhyun memang selalu matang dan berhati-hati dalam bertindak.

"Semoga kau bisa menyelesaikan semua masalahmu, Kyu. Dan menemukan jalan keluar yang terbaik, apapun itu." Gumamnya seorang diri.

.

.

.

Sesaat perhatian Kyuhyun teralihkan ke sumber suara yang cukup keras di luar jendela ruang kerjanya. Tawa ceria Yoobi yang sedang bermain bersama ibunya, sungguh kegiatan itu mampu menciptakan denyut senang sekaligus sakit di dadanya. Ryeowook dan putrinya itu tengah berlomba siapa tercepat mencapai tepian kolam renang, dan sepertinya Ryeowook hanya berpura-pura menjadi lamban agar Yoobi mendahuluinya.

Kyuhyun tersenyum bangga untuk putrinya, betapa di usianya yang belum genap lima tahun Yoobi terlihat mahir menggerakkan tubuhnya di air, walaupun masih dibantu pelampung lengan. Hanya demi keamanan, mengingat kolam renang di belakang rumahnya memang dirancang dengan kedalaman orang dewasa.

Ryeowook dan Yoobi masih tertawa-tawa di luar sana. Ia tahu Yoobi sangat merindukan ibunya, walaupun jarang sekali gadis kecilnya itu merengek untuk masalah apapun. Kondisi membuat Yoobi terbiasa dengan kemandirian. Hari-harinya tetap dipenuhi keceriaan walau hanya berteman pengasuh, pembantu rumah tangga, dan tukang kebun. Di luar rumah pun ada guru-guru dan juga teman-teman di sekolah yang tak pernah absen Yoobi kisahkan kepada Kyuhyun ketika ada kesempatan. Dan melihat Ryeowook terlihat begitu menikmati waktu liburnya bersama Yoobi seperti itu, Kyuhyun sungguh merasa luluh. Seegois apapun Ryeowook, ia tetaplah sosok seorang ibu yang mencintai putrinya. Andai saja waktu dapat diputar kembali, Kyuhyun ingin melakukan yang terbaik untuk membuat Ryeowook merasa cukup dan bangga kepadanya.

Kyuhyun berpaling ketika Ryeowook sedikit mendongak menatap ke arah jendela ruang kerja tempatnya mengintai saat ini. Ia kembali memusatkan perhatiannya ke layar monitor di hadapannya, membaca serangkaian informasi beserta foto-foto dengan angle yang cukup baik dan jelas. Beberapa foto kehidupan Ryeowook di Busan, empat bulan belakangan ini. Yang terbaru adalah tiga hari yang lalu, dimana Ryeowook tampak tengah menikmati makan malam bersama teman prianya. Masih pria yang sama dalam empat bulan belakangan ini, seorang executive muda mapan dan cukup tampan menurutnya. Pasangan yang serasi, batin Kyuhyun miris. Pria lain bersama istrinya.

Kyuhyun menggeser panah kanan pada keyboard, masih foto-foto di suasana elegan sebuah restoran mewah. Mereka tampak intim layaknya dua pasangan yang sedang berkencan, pria itu mencium tangan Ryeowook dengan tatapan memuja. Foto berikutnya, pasangan itu tengah berciuman mesra di area parkir, saat Ryeowook bersiap masuk ke dalam mobilnya. Mereka bahkan tak merasa malu menunjukkan keromantisan di tempat umum. Sesuatu yang mungkin tak pernah Kyuhyun lakukan terhadap istrinya. Kyuhyun adalah seorang yang pemalu dan selalu merasa tabu melakukan hal-hal intim di luar kamar tidur.

Kyuhyun menarik kepalanya ke belakang, bersandar pada punggung kursi. Mungkin selama ini Ryeowook memang tak bahagia bersamanya, ia bukan jenis pria romantis yang pandai menyenangkan wanita. Kendati sangat ingin memperlakukan Ryeowook seperti itu sejak dulu, namun rasa rendah diri selalu menjadi penghalang baginya. Kyuhyun tak pernah merasa cukup pantas untuk Ryeowook, ia tahu sebagian masalah itu datang dari dirinya sendiri. Untuk itulah Kyuhyun bahkan tak sepenuhnya menyalahkan istrinya ketika akhirnya Ryeowook tergoda untuk berpaling darinya.

Kyuhyun telah menduga hal itu, walaupun masih merasakan sakit oleh pengkhianatan Ryeowook, Kyuhyun memilih diam untuk menyimpan rasa malu karena tak dapat mengenggam cinta wanita sempurna itu. Ia tahu Ryeowook tak pernah merasa cukup dengan kesederhanaan Kyuhyun, sementara ia merasa tak cukup layak berada di sisi Ryeowook, itulah masalahnya.

Jadi, sebenarnya apa yang ia harapkan dari dua tahun terakhir hubungan mereka yang sebenarnya telah kandas ini? pikirnya. Ia mungkin belum melihat ke sisi yang lain karena ia tak bisa, tapi Ryeowook dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya adalah idaman banyak pria di luar sana.

.

.

.

Ke mana lagi Kyuhyun menyandarkan kegelisahan jiwanya pada saat seperti ini?

Lagi-lagi Sungmin, seolah hanya Sungmin yang ia punya. Rasanya memang seperti itu selama bertahun-tahun. Seperti saat ini, ketika Kyuhyun lebih memilih berdiam diri di ruang kerjanya, setelah banyak termenung melihat bukti-bukti yang dikirimkan oleh seseorang yang ia bayar untuk menyelidiki kehidupan pribadi Ryeowook di belakang punggungnya. Kyuhyun terlihat larut dalam percakapannya dengan Sungmin melalui media online. Sebenarnya bisa saja Donghae, tapi pada Donghae rasa empati dan kenyamanan yang timbul ketika ia berbagi masalah itu terasa berbeda, karena Sungmin lebih bisa mengerti dirinya. Adik perempuan yang tak pernah dimiliki. Mereka hanya terpisah jarak, saat Kyuhyun menempuh pendidikan terbaik di ibukota. Lalu saat kembali ke kota ini mereka bersama lagi, bahkan saat kewajiban untuk menikah itu disodorkan kepadanya, Sungmin juga yang menjadi penentu nasibnya.

"Ryeowook eonni perempuan yang baik Kyu, ia juga cantik, aku yakin kau akan menemukan kebahagiaanmu dengannya." Ucap Sungmin saat Kyuhyun memperkenalkan Ryeowook pertama kali kepadanya. Yang seketika membuat Kyuhyun memantapkan hati pada pilihan orang tuanya tersebut. Waktu-waktu berikutnya adalah Kyuhyun mulai sibuk dalam meniti jembatan kehidupannya sendiri, dan intensitas komunikasi mereka menjadi semakin berkurang, bahkan benar-benar berhenti hampir tiga tahun lamanya.

Lalu prahara rumah tangga mulai menerpanya, saat itulah Kyuhyun mulai tersadar ia butuh Sungmin untuk menguatkannya. Dan Sungmin berdiri di sisinya lagi hingga saat ini, bahkan bersedia menjalani serangkaian ujian agar lolos dan diterima di perusahaan tempat Kyuhyun bekerja. Waaupun memang ada campur tangan rahasia dari Kyuhyun untuk mempercepat proses Sungmin sampai di posisinya sekarang, tapi itu terkesan wajar karena Sungmin memiliki kredibilitas yang perusahaan butuhkan. Cerdas, menarik, pekerja keras dan loyalitas tinggi yang telah menjadi ciri khas dari seorang Lee Sungmin.

Kadangkala Kyuhyun menjadi teramat egois dalam hubungan persahabatan mereka, seolah ialah yang lebih banyak memanfaatkan Sungmin. Apakah itu juga alasan Sungmin belum pernah terlihat serius dalam memikirkan kehidupan berumah tangga? Kyuhyun berpikir, dan mulai menuliskan apa yang sedang ia pikirkan saat ini di dalam pesannya kepada sahabatnya itu.

Kyuhyun: Hari Minggu tidak ada acara ke mana-mana? Aku penasaran sebenarnya siapa yang akan kau pilih untuk serius? yang kudengar kau sempat berkencan dengan rekan-rekan kita di perusahaan. Bahkan ada yang taruhan akan traktir seluruh staf engineering kalau kau siap serius dengannya. Itu bukan gosip, aku dengar sendiri. Hahaha ...

Kyuhyun mengirimkan pesannya.

Sungmin: Maksudmu Changmin oppa? Gosip basi, Changmin oppa sekarang sedang berkencan dengan Luna eonni, yeoja dari devisi kita juga. Dasar pria! Mulut saja besar, giliran diajak komitmen plin plan. Sebentar hijau tidak lama merah... Bunglon saja kalah.

Rencanaku sore nanti akan menonton dengan Kibum, masih ingat tidak? Teman sekolahku saat Junior High School, rumahnya di Blok B. Sekarang bekerja di pabrik gula SC.

Kyuhyun: Kejam sekali persepsimu tentang pria, tidak semua pria seperti itu... Termasuk aku *Tepuk dada*

Kibum? Yang dulu sering menginap di rumahmu kalau sedang marah dengan Eomma-nya?

Sungmin: Ahahahaha ...90% pria memang seperti itu, sisanya masih belum jelas. Kalau tidak Gay, biasanya sudah jadi punya orang. Oops...! Pokoknya nyaris punah... mimpi saja dapat pria yang benar-benar baik.

Eoh, Kibum yang itu, sampai sekarang masih, tapi bukan saat marah dengan Eomma-nya, tapi kalau ingin sekali curhat. Memanfaatkanku sekali ya? *Nasib* :-D

Kyuhyun: Opinimu sudah seperti janda korban kekerasan dalam rumah tangga saja! Sudahlah tidak usah dibahas.

Eh Kibum masih belum menikah?

Sungmin: Belum, memangnya kenapa kalau belum menikah? Aroma pertanyaan anda agak tidak enak di dengar Sajangnim! Kebetulan telinga saya sensitif sekali ditanya masalah nikah-menikah, mentang-mentang saya belum laku? Huh!

Kyuhyun: Itu juga yang sedang aku pikirkan, kenapa sampai sekarang kau tidak pernah serius memikirkan tentang yang satu itu, tidak kasihan pada Appa-mu? Atau aku banyak merepotkanmu, sehingga kau tidak sempat memikirkan dirimu sendiri?

Sungmin: Bicara apa kau ini, Kyu? Memang kau sedang membuat pesta? Kenapa repot sekali? Tidak, belum menemukan yang cocok saja, doakan selalu sahabatmu ini... :/

Kyuhyun: Yang cocok itu yang seperti apa? Jangan terlalu memilih, tidak ada orang yang benar-benar sempurna. Sempurna itu hanya standar manusia saja, kenyataannya setiap manusia pasti punya kekurangan, tidak mungkin tidak punya, benar kan? Atau sebenarnya kau sudah menjatuhkan pilihan hanya tidak mau menceritakannya padaku dulu, takut aku merecokimu, ya?

Selidik Kyuhyun, kali ini bertekad akan mengorek jauh rahasia Sungmin. Setelah terpisah kesenjangan hubungan selama kurun waktu tiga tahun, kemudian bersama lagi selama hampir tiga tahun ini di perusahaan, Kyuhyun merasa ia benar-benar buta dengan kehidupan pribadi Sungmin. Yang ia tahu Sungmin banyak didekati rekan-rekan pria di perusahaan, mereka mencoba memperebutkkan hati sahabatnya itu, tapi sepertinya tak ada yang benar-benar berhasil mendapat tempat di sisi Sungmin. Satu dua kali berkencan, kemudian tak berlanjut ke mana-mana. Sungmin sendiri tak pernah membagi kisah asmaranya pada Kyuhyun, kalaupun Kyuhyun bertanya, semua hanya berakhir pada serangkai kalimat candaan yang tak pernah ada habisnya.

Sementara Sungmin di seberang sana justru termangu diam. Tak biasanya Kyuhyun mengulik kehidupan pribadinya, khususnya masalah asmara. Pertanyaan ini sebenarnya terlalu mudah untuk ia jawab. Ia hanya perlu berteriak lantang kepada Kyuhyun, "Kau Kyuhyun! aku berharap kaulah yang menjadi pilihanku dan aku tak akan memilih-milih yang lain lagi. Karena bertahun-tahun hanya kau yang aku harapkan," batin Sungmin pilu, karena hanya dapat meneriakkan kata itu di dalam hatinya, pada dirinya sendiri. Setelah menimbang-nimbang Sungmin memilih untuk menuliskan sedikit rasa di hatinya, sesuatu yang tak akan Kyuhyun sadari, namun dapat menghibur kekeringan hatinya.

Kyuhyun menunggu-nunggu balasan Sungmin yang tak kunjung masuk, dan mulai berpikir Sungmin mungkin saja tertidur. Setelah cukup lama dua pesan balasan masuk beruntun yang segera membuat Kyuhyun terhenyak atas kalimat balasan Sungmin, terlebih ketika Sungmin pamit tanpa banyak basa-basi. Hanya sebaris kalimat "Aku Off dulu." Kemudian menghilang. Sementara Kyuhyun terus membaca kalimat Sungmin berulang-ulang.

Sungmin: Sebenarnya aku sudah memilih seseorang dan menggantungkan terlalu banyak harapanku padanya, tapi sayangnya ia tak tercipta untuk takdirku. Kurasa aku hanya perlu waktu sedikit lebih panjang untuk menyembuhkan lukaku. Please... jangan bertanya lagi untuk masalahku yang satu itu.

Rasanya benar-benar ada yang aneh, kalimat itu seolah sarat makna. Ada luka yang coba Sungmin sampaikan bahwa ternyata selama ini Kyuhyun tak mengetahui jika Sungmin menyimpan sebuah rahasia darinya. Apakah itu terjadi di tiga tahun mereka yang terpenggal? Lalu siapa pria itu?

.

.

.

.

.

TBC


.

terimakasih untuk sambutan yg tak terkira ini, saya tidak menyangka jika kalian akan suka cerita ini meski hanya remake, saya akan usahakan untuk selalu update cepat jika ada waktu luang

terimakasih juga untuk yg mengingatkan typo, oya maaf sungmin disini agak sedikit menyedihkan tapi berkat keceriaannya dia ngga akan terlalu menderita sampai terlihat mengenaskan. dan untuk yg menganggap cerita ini sangat terasa khas novelnya saya udah kasi sedikit penjelasan di a.n ya~

Thanks to: TiffyTiffanyLee ; MinnieMinnieMing ; Cho MeiHwa ; dewi. k. tubagus ; abilhikmah ; caandu ; Baby niz 137 ; kyukyu27 ; PumpkinEvil13 ; hanna; WineKyuMin137 ; melsparkyu ; PaboGirl ; orange girls ; Kim Jihae ; parkhyun ; qmin ; kris ; chaerashin.

.

see you next chap!^^