Tercium aroma rumah sakit yang asing baginya. Semua tembok yang berwarna putih pucat sanagt kontras dengan pakaian yang dipakai seluruh staff yang ada disana.

Dan sebenarnya lelaki berambut pirang itu tidak pernah peduli dengan semua yang ada disana, namun karena hari ini, ia membenci semuanya yang berbau rumah sakit.

Sangat dibenci olehnya.

.

.

THAT'S HURT

Desclaimer : my bappake Masashi Kishimoto

By : Zoroute

Pair : NaruHina

Genre : Romance, friendship

Warning : Gaje, abal, jelek, AU, dan gampang ditebak

A/N : Wew, aku udah nyampe fic chap 2. Dan aku sempatkan diri untuk berterimakasih untuk para reviewers yang menasihatiku soal tulisan pairing di chap pertama (aku lupa untuk nulis NaruHina disana-_-") dan itu lumayan ngeganggu juga, yaa. Yaokelah, TERIMAKASIH yang sebanyak-banyaknya untuk ketelitian para reviewers dan readers yaa! And HAPPY READING!

.

.

Kali ini ia benar-benar mengetahui hal yang sebenarnya. Ia ternyata memang di vonis menderita ALS, yang pada awalnya hanya dugaan.

Naruto masih saja tidak percaya dengan semakin kuatnya kepastian Tsunade akan penyakit yang diidapnya. Sehingga mencoba untuk memeriksakan keadaanya itu dua minggu kemudiannya lagi. Dan ternyata hasil yang sama yang malah didapatkan oleh Naruto.

"Setelah semua pemeriksaan yang telah kamu jalani, mohon maaf, saya harus mengatakannya lagi. Kamu terkena penyakit tersebut, Naruto." kata Tsunade dengan tegas.

"CK! Pasti ada kesalahan! Pasti ada! Aku akan periksa lagi kesini dua minggu kedepan dan akan kupastikan bahwa diriku benar-benar baik-baik saja!" seru Naruto dengan kesal.

"Tidak bisa, kamu harus menjalani terapi untuk tidak membuat penyakitmu semakin parah"

"TERAPI? TIDAK! Aku tidak terkena penyakit ALS! Itu hanya gurauan belakamu!" teriak Naruto, kali ini amarahnya tidak tertahankan.

"Naruto! Sopanlah sedikit." Kushina yang tampak khawatir itu mulai merasakan atmosfir tegang yang diciptakan oleh orang yang ada didepan dan disampingnya.

"MAU SAMPAI KAPAN KAU MENGELAKNYA?" dokter Tsunade membalas berteriak, yang ini ia tampak marah sambil mennggebrak mejanya. "Kalau kamu mau sembuh, jangan mengelak penyakitmu! Kamu bisa mencegah penyakit itu dengan terapi! Dan mungkin dengan keajaiban kamu akan sembuh tanpa melalui fase berikutnya!"

"..!" Naruto juga sudah ada dibatas maksimumnya hanya bisa menunduk sambil mengepalkan tangannya. "A—Aku ingin menjadi pemain basket pro— ukh!" perkataannya yang lirih itu segera terpotong dengan dirinya sendiri. lidahnya kaku. Ia hanya kaget menyadarinya.

"Gejala itu sudah akan menyebar rupanya?" tanya Tsunade dengan serius. "Sekarang aku membutuhkan keinginanmu dari dirimu sendiri kalau kau ingin sembuh."

"BERISIK! DASAR NENEK TUA!" dengan kesal Naruto mengejek terang-terangan dan tanpa ada rasa bersalah ia langsung keluar ruangan itu.

.

.

Naruto's POV

Setelah aku keluar dari ruangan itu langsung terdengar suara teriakan kaa-san yang hendak mengejarku, namun dicegah oleh dokter itu yang sepertinya tau kalau aku sekarang benar-benar ingin sendiri.

Benar. Aku masih tidak menerima hal ini. Dan siapa orang bego yang bakal menerima penyakit yang ngga jelas timbulnya dan menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian!

Coba kutanya sekali lagi. SIAPA YANG AKAN MENERIMA ITU?

Aku akhirnya bisa keluar dari rumah sakit sialan itu dan memutuskan untuk berlari sekencang-kencangnya. Kapan akan aku berhenti berlari? Entahlah, mungkin sampai kakiku tidak bisa di gerakan.

Aku berlari melewati semua yang ada dipinggiran jalan. Toko, tempat bermain, sekolah dan akhirnya lapangan. Ku sempatkan diri untuk berhenti di lapangan itu untuk mengistirahatkan alat gerakku.

Awalnya aku berjalan dilapangan dan kurasakan angin yang ada dilapangan itu kutabrak dengan pelan. Lalu kulanjutkan dengan berlari ke ujung lapanagn. Kali ini semua angin yang ada disana sangat terasa di semua kulit yang sedang tidak tertutup oleh pakaianku. Aku merasakan kebebasan dengan bantuan angin itu. Tapi sampai kapan akan kurasakan semua ini? Apa aku tidak akan bisa berlari lagi? Berbicara? Dan tidak bisa melemparkan bola kedalam ring? Ck, untuk hal yang terakhir, aku paling tidak bisa membayangkannya.

Tapi saat kakiku yang sudah merasa kelelahan setelah berlarian dengan paksa, tiba-tiba hal yang seperti aku pikirkan tadi akhirnya kejadian juga. Kaki kiri ku mati rasa dan aku terjatuh di tanah.

Bruk.

Cita-citaku sebagai pemain profesional. Apa semua itu sekarang hanya mimpi?

.

Flash back. (Naruto POV)

Disuatu pagi di TK Konoha, ada acara rutin perbulan yang sering diadakan, yaitu acara Openday. Hari dimana Orang tua murid TK konoha akan datang dan bertemu dengan wali kelas anaknya. Walikelas itu akan menjelaskan perkembangan –dan bila ada kemunduran- kepada orang tua, agar bisa membantu anaknya menjadi lebih baik.

Dan lebih tepatnya di ruangan TK-A1, wali kelas sedang memberikan penjelasan seperti wali kelas yang lain. "Ah, maaf bu, anak ibu sepertinya masih kurang paham dengan huruf alphabet yang telah diajarkan." kata Iruka-sensei dengan raut muka sedih.

"Maaf, saya juga akan mencoba mengajarkan," kata Kushina dengan sedikit sedih, anaknya yang ada disebelahnya itu masih belum mengerti materi yang dijelaskan oleh senseinya saat belajar. "Dan kalau boleh tau, apa ada temannya yang masih juga belum mengerti alphabet?"

Dengan terpaksa Iruka menggeleng, ia harus jujur bila ada orang tua yang bertanya bukan?

"..." Kushina menghela nafas, dan mengelus rambut jabrik anaknya yang tak akan bisa turun. Ya, anak itu adalah Aku. Naruto.

Dan aku sangat yakin kalau dia sedang kecewa berat. Maafkan aku, maafkan ke bodohanku ini.

"Tapi, anda harus mengetahui satu hal dan harus bangga dengan hal itu!" kata Iruka yang memecah keheningan, dengan cepat aku dan Kaa-san langsung kembali menatapnya. "Naruto sangat hebat dalam melempar bola! Tidak ada satupun bola yang tidak masuk kedalam ring. Bahkan tidak ada yang bisa mengalahkan kepandaian Naruto dalam membidik sasaran!" jelas Iruka dengan panjang lebar.

Tersirat dari pandangannya yang sekarang, itu bukanlah pandangan seorang sensei yang akan mengatakan hal itu dengan maksud menghibur bila ada yang kecewaan orangtua murid. Dia hanya memberi tau dengan muka yang penuh bangga. Seakan itulah memang kelebihan salah satu murid kebanggaannya.

"Benarkah?" tanya Kushina dengan mata kembali cerah, dan dengan senyum ia membelai lagi rambutku. "Boleh kamu tunjukan kepada Kaa-san, Naruto?" pintanya.

"Ya!" dengan mengangguk senang aku langsung berlari menuju sampah kertas yang sudah di uwel- uwel oleh seseorang. Dan tanpa pikir panjang aku langsung melemparkan gumpalan kertas itu ke tong sampah yang berada sangat jauh dengan mereka.

Plung. Tanpa menyentuh apa-apa lagi, kertas itu dengan mulus masuk kedalam tong.

Jujur, Kushina yang baru pertamakali melihat anaknya mempunyai prestasi seperti langsung bangga dan memeluknya."Berarti kamu akan menjadi pemain basket profesional, Naruto!" katanya dengan bangga.

"Heheh" dengan malu-malu aku tersenyum.

Pasti kaa-san. Aku akan menjadi pemain profesional!

End of flash back.

.

Naruto's POV

Saat mengingat kenangan itu, rasanya mataku langsung berair deras dan tidak bisa berhenti. Aku tidak bisa menahan perasaan ini. Bagiku ini sangat sakit.

"Apa kaa-san tau? Perkataan kaa-san beberapa tahun yang lalu itu sangat menempel padaku?"

"Apa kaa-san tau perasaanku saat aku akan kehilangan bakatku satu-satunya itu kalau tanganku sudah lumpuh?"

"Apa kaa-san tau aku ini benar-benar ingin menjadi pemain profesional untukmu!"

"AKU INGIN MENJADI PEMAIN BASKET PROFESIONAL!" dengan tenaga yang masih tersisa aku memukuli rumput yang beralas tanah itu "SIALAN!"

Setelah tanganku sedikit sakit dan kembali mati rasa, aku membalikan posisi tubuhku menjadi terlentang agar aku bisa sedikit melihat matahari yang saat itu sudah akan terbenam.

"Uhk," Aku menghapus airmataku yang masih terus terjatuh dari sumbernya dan menutupnya dengan punggung tanganku. Lalu setelah kedua air bening itu puas keluar, aku langsung menutup mata. Aku.. sangat lelah.

.

.

Hinata's POV

Sore hari ini giliran aku, Hinata Hyuuga yang pergi berbelanja. aku dengan menaiki sepeda unguku membelah jalanan pertokoan yang setiap harinya akan selalu buka sampai malam menjelang. Dan sudah menjadi kebiasaanku untuk berbelanja di awal bulan.

Semua bungkusan belanja ku taruh di keranjang sepeda. Hari ini aku lumayan berbelanja lebih, karena aku ingin sengaja memberikan hadiah untuk Akamaru, anjing peliharaan sahabatku yang bernama Kiba.

Tapi saat aku melewati polisi tidur, salah satu makanan kaleng untuk peliharaan anjing itu terpental dari keranjang sepeda, dan menggelinding sampai ujung jalan dan jatuh ke lapangan rumput yang terbuka.

Dengan cepat, aku langsung memberhentikan sepedaku dan memarkirkannya di pinggir jalan. Kulihat dari atas pemandangan lapangan yang hijau itu. Dan ternyata aku menemukan dua hal disana.

Pertama, disana ada makanan anjing yang akankuberikan kepada akamaru besok.

Dan yang kedua, entah kenapa disana ada— Naruto Uzumaki. Seseorang yang sangat aku sukai.

Saat aku memikirkan lima kata itu, tiba-tiba aku merasakan wajahku menajdi panas dan kuyakin saat ini pasti sedang memerah. Dia, Naruto Uzumaki.

Entah mengapa aku sangat menyukai cowok itu. Padahal banyak sekali yang kesal dengannya hanya dengan alasan ia menyebalkan dan berisik. Tapi, menurutku ia adalah cowok yang spesial dalam hatiku. Dia yang telah membuat rasa senang dihatiku menjadi rasa yang bercampur-campur.

Dan tepat sebulan yang lalu. Aku masih ingat. Di meminta aku menggambarnya.

Tapi, sepertinya aku masih belum sanggup menggambar wajahnya. Saat aku akan menggoreskan pensil ke kertas, pikiranku melayang ke wajahnya yang tersenyum lebar dan menampakan sinarnya seperti matahari. Dan akibat hal itu aku menjadi malu dan belum sanggup untuk menggambarnya.

Tapi apakah ia masih mengingat hal itu? Aku hanya teman sekelasnya yang tidak pernah ia perhatikan. Aku jarang keluar kelas dan tidak pernah mengeluarkan suara. Hanya pada waktu itu saja dengan menerobos kesanggupanku, aku meminjam penghapusnya. Mungkin dengan hal itu, ia baru sadar kalau ada aku dikelas. Atau mungkin ia akan cepat kembali melupakan kalau aku berada dikelas yang sama dengannya? Entahlah.

Aku meneruskan jalanku dengan berat dan pelan, dengan maksud tidak menimbulkan suara agar aku bisa mengambil makanan kaleng itu yang tergeletak beberapa meter disebelahnya.

Tapi, saat aku hendak mengambil makanan itu, suaranya menganggetkanku. "AH! HINATA!" panggilnya dengan berteriak membuat aku sedikit terlopat.

"I—Iya?" jawabku gagap. Sekarang jantungku sudah melompat karenanya.

"Kamu sedang apa disini?" tanyanya. Ia hanya memiringkan kepalanya kearahku tanpa membenarkan posisi terlentangnya.

Naruto yang terlihat memakai baju bebas berupa kaos abu dan jaket hitam serta jeans panjang itu membuat muka ku semakin panas. Kalau boleh jujur langsung didepannya dan kalau aku punya keberanian, aku pasti akan memujinya. Tapi sayangnya aku cuma bisa memendamnya dihati. Naruto tampak keren dengan pakaian bebas.

"Ano.. ma—makanan kaleng milikku terjatuh kelapangan." Jawabku malu-malu. Aku harus meredakan detakan jantungku yang membuatku susah berbicara ini.

"Kamu baru selesai belanja, ya? Kamu rajin sekali, Hinata-chan!" puji Naruto sambil membetulkan posisinya menjadi terduduk. "Kamu kelak pasti akan menjadi istri yang baik! hehee"

Aku hanya bisa menundukan kepala. Hatiku dari awal melihatnya sudah bahagia menjadi tidak tahan dengan semua ini. rasanya aku ingin pulang dari sini dan ingin pingsan cepat-cepat di tempat tidur, tapi diriku yang lain menolak dan ingin lebih lama bersama dengan Naruto.

"Kalau ada waktu, boleh kamu menemaniku disini sebentar?" pinta Naruto sambil menepuk rumput yang ada disebelahnya. Aku merasa Naruto yang memanggilku itu dengan pandangan yang entah kenapa dari tadi berbeda. Ia sangat berbeda dari Naruto yang suka kulihat di sekolah. Pandangan yang sepertinya sedang bersedih.

Dengan otomatis aku langsung mengangguk dan berjalan kearahnya, masih kaleng makanan yang ku pegang dan dengan blushing berat khas ku. "A—Ada apa Naruto-kun? Apa kamu sedang terkena masalah?" tanyaku setelah duduk disebelahnya.

"Ya, dan asal kamu tau. Ini masalah paling menyakitkan dari seluruh hidupku." jelasnya terlebih dahulu sambil kembali menatap lurus kearah matahari yang sedang akan Sunset.

"..." lalu dengan sepenuh keberanian, aku kembali bertanya dengan suara yang diusahakan tidak terdengar gugup. "Kamu bisa cerita padaku.."

Naruto tersenyum dan mengangguk pelan, "Benar. Karena itu sepertinya aku sangat membutuhkanmu untuk mendengarkan ceritaku."

Saat Naruto mengatakan kalimat terakhirnya, ia tidak merasakan panas lagi diwajahnya, melainkan hawa ketenangan yang ia dapat saat duduk disebelah Naruto. Memandang matahari yang akan digantikan oleh bulan.

"Ini tentang cita-citaku," katanya. "Aku ingin menjadi pemain basket profesional!" katanya dengan berteriak bangga bercampur semangat. "Aku benar—Benar BENAR ingin meraih cita-citaku itu! tapi.." lalu Nada bicara Naruto berubah, "Sepertinya aku tidak akan bisa lagi berharap seperti itu. Dan hal itu akan menjadi mimpi saja bagiku." katanya dengan lirih.

"Tidak. Kamu pasti bisa Naruto-kun" bantahku, "Kamu sangat-sangat hebat dalam permainan basket!"

"Ya, tapi bagaimana kalau kedua tanganku yang kugunakan untuk melempar dan membidik ini menjadi sudah tidak berfungsi?" tanya Naruto sambil melihat kedua tangannya yang sudah terkepal di depannya itu.

Jelas aku langsung bungung dengan apa yang dikatakan Naruto. Aku merasa ada yang belum ia ceritakan. "Naruto, aku tidak mengerti kenapa kamu sampai berkata seperti itu." kataku.

Lalu ia tiba-tiba langsung terlihat frustasi dan akhirnya hanya bisa menjambak rambut pirangnya sendiri dengan kedua tangannya. "Ahk, sial."

Aku yang melihat kerapuhannya jadi membuatku merasa sedih. Lalu menatap kesamping, kepada Naruto sampai ia melihatku. "Aku tidak tau masalah apa yang sedang dialami oleh Naruto-kun. Tapi aku yakin, cita-citamu akan tetap tercapai. Pasti. Tidak ada kata tidak mungkin, bukan? Asal Naruto-kun yakin kepada diri sendiri."

Aku berdoa untukmu, Naruto.

Pelan-pelan kulihat Naruto yang mulai tersenyum lembut dengan menatap kedua mata indigoku. Lalu dengan cepat ia melakukan sesuatu yang benar-benar membuatku speechless.

Dia memelukku.

"Terimakasih banyak! Hinata!" katanya dengan semangat. Suara yang sama dengan suara Naruto yang kudengar disekolah. Begitu semangat dan ceria. "Gara-gara kamu, banyak bebanku yang terangkat. Arigato. Hehe" katanya cengengesan.

Sedangkan aku cuma bisa diam, lalu merasakan kalau mukaku sudah memerah lagi dan pandangan mataku menjadi berputar-putar, seakan dunia kebalik.

"Terimakasih, sepertinya saat ini aku ingin pulang kerumah," saat ia melepaskan pelukkan terima kasihnya, Naruto langsung berdiri dan dengan cengiran khasnya ia menatap matahari, "Ah, sudah sore. Ohiya, Hinata-chan apa nanti kamu tidak di khawatirkan oleh keluargamu karena kamu menyita waktumu disini?"

Dengan muka yang masih merah aku menjawab, "Tidak. Tidak sama sekali."

"Baiklah. Kalau begitu, sampai jumpa besok ya? Jaa!" teriak Naruto saat ia melangkah terlebih dahulu daripadaku.

Dan saat Naruto sudah tidak terlihat lagi, aku yang tadinya sudah berdiri langsung merasakan kakiku melemas . aku terjatuh dengan berlutut. Aku menggengam makananb kaleng itu dengan keras sekali.

"Kami-sama. Terimakasih untuk hari yang mengejutkan ini."

.

.

Naruto's POV.

Wah, tenyata rasanya sangat puas, ya kalau menceritakan uneg-uneg ke orang lain. Rasanya plong. Mungkin rasanya, perkataan Hinata tadi ada benarnya. Aku harus yakin kepada diri sendiri kalau aku yang tervonis penyakit ALS ini masih bisa ada harapan sembuh bila mengikuti terapi sejak sekarang.

Kupandangi langit yang sudah menggelap itu. Rasanya aku semakin bersalah dengan Kaa-san yang ku tinggalkan dirumah sakit. Mungkin dia merasa sangat malu karena sifatku terhadap si Dokter yang sangat bisa dibilang tidak sopan.

Aku akan meminta maaf padanya pada saat pulang nanti. Dan aku akan mengatakan kalau aku akan mengikuti terapi apapun yang akan di berikan oleh dokter Tsunade.

DUK!

Saat aku sedang berjalan lurus menuju rumah dengan memandangi langit, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang tadi kutendang saat berjalan. Dan saat kulihat, itu adalah benda yang mirip dengan sebuah guci coklat yang tidak berarti.

"Hm? Ini dari mana asalnya?" tanyaku sendiri, dan melihat kesekitar. Saat aku melihat kearah kiri, aku melihat sebuah tangga yang tinggi dan berujung dengan sebuah kuil kecil diatasnya. "Apakah benda ini berasal dari kuil diatas? Kok bisa jatuh, ya?" Aku yang hanya heran, akhirnya memutuskan untuk membawa guci itu kembali ke kuil.

KRETEK. Tapi saat guci coklat itu hendak kuangkat, tiba-tiba bagian dari guci itu terpecah menjadi dua.

"Wah! SIAL! Apa nanti aku akan ketiban nasib buruk, ya? Aduuh..!" aku yang merasa sedikit bersalah itu langsung panik. Tapi kan bisa aja guci ini sudah pecah karena gelinding dari tangga atas ke bawah. Yah, semoga aja ini bukan kesalahan ku. Saat aku akan meninggalkan guci itu, tiba-tiba ada sesuatu yang keluar dari guci itu. Karena penasaran, akhirnya aku mencoba melihatnya. Disana ada seekor—kodok!

"Kwebek" kodok itu menatap lurus kepadaku, pandangannya seperti sedang mengucapkan salam.

"Halo" sapaku balik dengan kikuk.

"Kwalo.."

"Kodok ini tadi mengatakan 'Halo', ya? Atau cuma perasaanku?"

"Kwebek.. Hai, Naruto Uzumaki." sapa kodok oranye itu dengan senyum.

"..?" awalnya aku shock sebentar. "A—Ada kodok yang bisa bicara?" pekikku sambi berniat berlari, tapi tiba-tiba kodok itu memeluk kakiku.

"Hei, aku diutus untuk menolongmu!" katanya, tapi semua kalimat yang ia lontarkan itu sangat terdengar buram dikupingku.

"Ah Berisik! Dasar kodok sial!" dengan cepat kutendang kodok itu, "Bukan berarti aku stress dengan penyakit, aku jadi gila dong!" seruku sambil mengambil langkah seribu, meninggalkan kodok stress itu. Tapi lebih anehnya dengan lompatannya yang jauh-jauh dia mencoba mengejarku.

Saat aku akan menaikkan kecepatan lariku, aku kembali melupakan fungsi tangan, kaki dan lidahku yang akan berhenti bila berperkerjakan secara paksa seperti ini.

BRUK!

Dan akhirnya aku terjatuh lagi di aspal. Kali ini sakitnya terasa perih karena kulitku yang terbaret aspal yang keras. Lebih hebatnya lagi, sekarang kodok itu sudah ada didepan mukaku.

"Kau tau sendiri akibat kamu berlari, kenapa malah kamu teruskan, bodoh?" ejeknya.

"Kau mau apa, hah?" kuputuskan untuk menyerah.

"Wah, kau akhirnya tidak takut lagi padaku, ya?"

"Dari tadi aku tidak takut padamu." tolakku langsung, "Tapi aku udah sadar kalo aku udah gila akibat penyakitu ALS. Sekarang katakan apa maumu?"

"Ya, baiklah. Namaku adalah Gamakichi! Utusan dari alam kodok agar membantumu meringankan bebanmu." jelasnya terlebih dahulu.

"Utusan dari alam sana? Kenapa harus kodok? Kenapa tidak ibu peri yang cantik seperti yang ada didalam dongeng?"

"Itukan hanya didongeng. Kalau cerita aslinya, semua peri berwujudkan kodok." katanya dengan muka kesal.

Akupun jauh lebih dongkol lagi. Membayangkan kalau ada cerita dongeng dengan kodok yang diberikan peran peri. "Oke, terserah. Apa yang bisa membuatku percaya kalau kau adalah peringan bebanku?" aku yang sudah bisa duduk itu menepuk-nepuk debu dari aspal yang tadi sudah di transfer ke kulitku.

"Aku bisa menghilangkan penyakitmu" kata Gamakichi dengan senyuman bangga.

DEG!

Dengan cepat aku langsung melihat ke kodok jelek yang ada dihadapanku itu. "..Bagaimana aku bisa percaya?" tanyaku serius. Jujur, walaupun pikiranku sekarang sedang sinting, aku SANGAT berharap kodok ini tidak bercanda denganku pada saat ini.

"Aku akan membuktikannya padamu bila kamu percaya padaku." katanya, "Jadi.. percaya? Atau tidak?" tawarnya sekali lagi.

.

.

To Be Continue

.

.

A/N : Aw aw, si peri kodok sudah dateeng! Bagi yang ngira malaikatnya adalah Hinata, aku minta maaf sebesar-besarnya karena yang jadi malaikat itu si kodok *jauh banget, ya?^.^a*

Ohiya, aku ingin bertanya kalau ada reviewer yang ingin menjawab. Apa fic ini terlalu panjang ceritanya yang jadinya agak membosankan? Kalau itu benar *:'/ hiks* aku akan memendekkan chapter 3 selanjutnya. Terimakasih..! keep reading yaaa.

.

.

In next chapter :

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Naruto benar-benar akan sembuh? Dan apa masalah yang akan datang setelah Naruto sembuh? Akankah menjadi lebih baik atau sebaliknya?

Dialog in next chapter :

"Hanya setelah kau sembuh. Kau akan menghadapi sesuatu yang mungkin akan lebih berat daripada sekarang."

"AKU SEMBUUUUH!"

"Yaampun, tuhan memang adil, ya? Setelah orangtuamu melahirkan Neji-senpai yang sifatnya sangat sok memerintah dan menyebalkan itu, lahirlah kamu Hinata-chan, yang lembut bagaikan peri. Pasti orangtuamu memandangmu sebagai seorang malaikat, ya?"

.

.

And one more! REVIEW yaaa! (ah, ada satu lagi pertanyaan amatir dariku: kalau ada review di fic kita, lebih baik kita balas di chap fic selanjutnya, balas pakai message atau dua-duanya? Tolong yaa :'( )

Pojok 'ayo balas review!' THANKS A LOT untuk para readers yang sudah mereview fic kuu! dan special thanks to Ray Ichioza yang menjadi first reviewer di fic ini! XD

Ray Ichioza : Seratus buat Ray ichioza! Ceritanya emang bakal kayak gitu kok Terlalu gampang ditebak, yaa? Terus, kalo pindahin penyakitnya ke ayam itu lain cerita dong. HAHA. Thank for first reviewnya! Mugiwara Piratez : Iyaa terimakasih atas reviewnya, ini update-annyaa. Baca terus, yaa! Senju Miru05: Salam kenal juga dan terimakasih reviewnya. Ini update-annya ya! Rhyme A. Black : Terimakasih atas perhatian dan ketelitiannya di fic -ku ini update-annya. Kartika Candra : iya nih, aku sempet kelupaan nulis NaruHina-nya. soal fantasy.. aku sendiri ngga yakin kalau fic ini ada fantasynya. Tapi pokoknya ada di chap sini, deh. Dan soal 'semena-mena' itu aku jadi paham walopun sedikit *lemot mode:on*terimakasih atas ketelitiannya! rie tsubaki gak login : Iya nih lupa nulis NaruHina di pairingnya, hehe. Tapi tenang aja kok, tetap NaruHina! ZephyrAmfoter : ini NaruHina kok, tenang aja. yang kemarin hanya ada kesalah teknis. Hehe -.-; OraRi HinaRa : mohon maaf bagi OraRi HinaRa yang pastinya sangat kecewa dengan malaikat penyakit yang baru muncul di chap ini.. maaf, pikiranku hanya mentoknya ke si kodok -_-.

.

.

THANK YOU FOR READIINGG!

Dan jangan lupa REVIEWnya, yaa! XD