Title : Keep the Pain

Rated : M

Cast : VMin JinKook JiKook JinMin

Sedutan Chapter 1

"Bisa kalian semua keluar sebentar?"

Tanpa menjawab,mereka keluar,menyerahkan semua pada dokter.

"Dokter.." Lirih Jimin dengan air mata yang meleleh di sudut matanya.

********** Chap 2 Permainan baru saja dimulai, sayang.

.

.

.

"Kami sudah menjahit luka di belakang kepalanya yang terbuka beberapa memori di otaknya yang hilang. Sentiasa berada di dekatnya akan membantu pemulihan memorinya. Tetapi jangan terlalu dipaksa kerana dia mungkin merasa sakit dan lukanya mungkin bisa terbuka kembali." Doktor itu melakukan beberapa pemeriksaan terakhir dan kemudian keluar dari kamar itu untuk memberi ruang pada mereka. Sebelum keluar, Doktor itu sempat memberitahu yang Jimin mungkin akan sedar dalam masa 1 jam lagi.

"Hyung, bagaimana dengan orangtua Jimin? Adakah mereka telah diberitahu tentang hal ini?" Tanya Namjoon kepada Sejin -manager BTS-

"Sudah tapi mereka bilang kalau mereka percayakan kita semua untuk menjaga Jimin. Mereka berada di Australia atas urusan penting." Sejin duduk di sofa sambil memicit kepalanya yang merasa pusing. "Ahhh, aku terlupa. Aku harus mengurus pengeluaran Jimin dari hospital" Sejin sudah berdiri dan berjalan keluar sebelum ditahan J-Hope. "Keluar? Bukankah Jimin masih sakit?"

"Pihak entertaiment sudah berusaha untuk meminimakan jadual untuk memberi masa kepada Jimin untuk pulih. Akan menjadi masalah yang besar jika media mengetahui kalau salah satu member BTS hilang ingatan. Cukup kalau mereka tau yang Jimin tercedera dan mereka akan percaya kalau kita bilang kecederaannya tidak serius memandangkan Jimin tidak tinggal di hospital. Mengerti?" Penerangan dari Sejin cukup untuk menghapus soalan-soalan yang ada di otak anak jagaanya itu. Setelah mengucapkan selamat tinggal, Sejin keluar dari kamar itu.

Hening ...

Taehyung tersenyum sinis. "Puas hati kalian,eoh?"

Jin yang awalnya tertunduk mengangkat kepalanya dengan ekpresi terkejut. "Apa maksud mu, ha ?!

Reaksi Jin malah membuat Taehyung tertawa. "Hahahaha. Kenapa marah hmmm. Aku tidak menyebut nama mu JIN HYUNG~"

"KAU ! DASAR DONGSAENG KURANG AJAR !"

"Cukup ! Jimin sedang sakit sekarang dan kalian malah bergaduh? Taehyung, jaga ucapanmu. Hyung,kawal emosi mu. Bisakah kalian mengerti keadaan? Berhenti bersikap keanakan !" Kesabaran Namjoon kini sampai pada batasnya.

Semuanya terdiam.

.

.

Enghhh. Aku ada dimana. Gelap sekali. Tolong ! Sesiapapun. Aku mohon, keluarkan aku dari sini. Aku takut. Ini gelap sekali.

Arghhhhh... Panas! Panas! Badanku terasa terbakar. Pedihnya tubuhku seperti kulit ku dicabik-cabik. Air. Aku butuh air. Tenggorokkan ku rasanya kering, perih. Seperti dibakar. AKu terduduk. Rasa sakit ini kapan hilangnya.

.

.

15 menit kemudian,suster itu mengisyaratkan mereka semua masuk ruangan Jimin.

Mereka berdiri di sisi ranjang sang dokter duduk di pinggiran ranjang Jimin.

"Kalau kalian mendengar jawaban yang salah dari Jimin mohon beritahu saya." Ucap sang dokter.

Meski tak paham dengan maksud dokter itu,mereka semua mengangguk.

Dokter muda itu menarik nafas dan menatap Jimin.

"Siapa namamu?"

"Jimin."

"Nama lengkapmu?"

"Park JiMin"

"Tempat dan tanggal lahir?"

"Busan. 13 okt 1995."

"Tinggi? Golongan darah?"

"Emm 175? A."

Berbagai pertanyaan di ajukan sang dokter,semua pertanyaan bersifat pribadi seorang Jimin semua di jawab dengan benar oleh namja itu.

"Lalu,siapa mereka?"

Jimin mengernyitkan dahinya menatap orang-orang yang setia memandanginya.

"Tentu saja aku kenal. Jin,Jungkook,Taehyung,Suga,Namjoon dan J-hope. Ahh, Sejin hyung."

"Sekarang tanggal berapa?"

"Tanggal 1 Januari 2015."

Mereka semua menatap Jimin. Tentu saja mereka heran,pasalnya sekarang adalah tanggal 11 oct 2015.

"Hei..ada apa dengan mata kalian? Menyebalkan! Apa salah satu dari kalian mengharapkan aku mati?"

Ucapan Jimin benar-benar membuat mereka terkejut. Jimin berbicara dengan nada yang dingin dan kata-kata yang kasar.

"Jimin..kau bicara apa?" Ucap J-Hope dan mengelus rambut Jimin.

"Jangan sentuh rambutku!" Teriak Jimin.

J-Hope hanya terdiam. Ini adalah pertama kalinya Jimin membentaknya.

"Jadi..saya harus membicarakan beberapa hal. Siapa yang akan ikut dengan saya,satu orang saja." Ucap sang dokter.

"Saya saja." Tawar manajer hyung itu.

"Tunggu! Kookie-ah,kau kan namjachingu-ku,kenapa tidak kau saja?" Jimin menatap tajam ke arah Jungkook yang tampak berdiri di samping Jin.

"Apa ada sesuatu yang menahanmu,?" Tanya Jimin sambil menatap Jungkook tajam.

"A-ni. Baiklah. Aku pergi dulu." Jungkook tersenyum dan mengikuti dokter keluar kamar rawat Jimin.

Jin terus terisak. Dia meraih tangan Jimin dan menangis.

"Ada apa dengannya? Kenapa dia menangis?" Tanya Jimin.

"Kau benar-benar tak ingat Min?" Tanya Namjoon

"Ingat apa? Apa ada hal penting yang harus kuingat?"

"Mianhae Jimin..jeongmal mianhae.." Isak Jin.

"Tapi…"

Semua menatap Jimin dengan was-was..

"Kenapa saat aku melihat wajah Kookie dan Jin ,kenapa…"

Jin menatap Jimin ,"Di sini…" Jimin menyentuh dadanya,"Terasa sakit. Ada yang kalian sembunyikan?"

Semua diam. Tak ada yang berani bersuara.

"Ehmm..Kalian sebaiknya kembali ke dorm. Bereskan semua. Kalian mengerti?" Ucap Namjoon.

"Aku tinggal di sini." Ucap Jin.

"Mau apa lagi?" Ucap Suga.

"Hey..kau tak dengar..hatiku sakit setiap melihat wajahmu. Jadi,bisa kalian semua pergi? Toh di sini masih ada namjachingu-ku."

Jin kembali meneteskan buliran bening dari matanya. Taehyung membuka pintu kamar Jimin dan keluar terlebih dahulu.

"Mianhae Jimin-ah.." Lirih Jin.

"Ck..berisik." Jimin membalik bandannya dan memunggungi Jin.

"Kajja. Biarkan dia istrirahat."Ucap j-hope.

"Nanti kami kembali lagi,Jimin-ah!" Taehyung yang berbicara kali ini.

"…"

.

.

"Maksud dokter?"

"Dia melupakan kejadian selama 10 bulan belakangan ini,jadi saya harap kalian bisa membantu dia memulihkan ingatannya. Dia hanya ingat sekarang ini tanggal 1 Januari 2015."

"Apa akan ada perubahan padanya dokter?"

"Entahlah. Kemungkinan bisa saja."

"Kapan dia boleh pulang,dok?"

"Lusa. Dan ini resep yang harus kalian tebus."

Jungkook meraihnya dan berdiri," Terima kasih,dokter. Kalau begitu saya permisi."

Sepanjang koridor rumah sakit,Jungkook terus saja memikirkan keadaan Jimin. Rasa penyesalan itu teramat besar. Tapi,di satu sisi,dia juga mencintai Jin. Jungkook menghela nafas dan mempercepat langkahnya.

TBC..

Mianhae kalau ada yang salah. Maklumlah khilaf.

Maaf kalau chapter ini pendek. Aku masih belum bisa menulis panjang-panjang.

Balesan Review:

Jimingotyesjam - 50 chap? /pingsan/

Chyu - Aduh,maap banget. Ntar aku bikinin ff baru ya

Gummysmiled - Terima kasih atas dukunganya. Yah aku akan tetap berusaha jadi diri sendiri tapi aku tetap akan mencoba something new.

ParkMItsuki - Jimin ini seme/uke.

Jimined - JiKook emang gak punya muka *ditabok

Riska971 - ini udah dilanjutin.

Aichan - Jimin emang sedih.

Esazame - gomawo.

ChimminCHIm - hak usah khawatir. JIMIN PASTI BAHAGIA.

Anieartha - maap kalo pendek. Chap ini udah aku usahain panjang.

Jchimchimo - udah baca ff secret pain sebelum ini?

Makasih bagi yang udah nge-review. *bow

pokoknya fify jnji bakal ngasih yang terbaik. Annyeong~